• Tidak ada hasil yang ditemukan

LANDASAN TEORI

D. PEMILIHAN PASANGAN HIDUP 1. Pengertian Pemilihan Pasangan

2. Faktor yang Mempengaruhi Pemilihan Pasangan

Menurut DeGenova (2008), terdapat dua faktor yang mempengaruhi pemilihan pasangan, yaitu :

a. Latar Belakang Keluarga

Latar belakang keluarga mempengaruhi semua hal yang ada pada individu, baik keinginannya atau perilakunya. Tidak ada bagian dari individu yang tidak dipengaruhi oleh latar belakang keluarga, termasuk dalam hal memilih pasangan. Dalam memilih pasangan, latar belakang keluarga turut menjadi faktor yang mempengaruhi pemilihan pasangan sebelum menentukan keputusan. Dengan mengetahui latar belakang keluarga calon pasangan dapat membantu individu untuk mengetahui mengenai calon pasangannya yang tumbuh dan berkembang dalam keluarga tersebut (DeGenova, 2008).

Menurut DeGenova (2008), ada beberapa hal yang turut diperhatikan dalam mempelajari latar belakang keluarga dari calon pasangan, yaitu:

1. Kelas Sosioekonomi

Kesempatan untuk mendapatkan kepuasan pernikahan akan lebih besar jika individu menikah dengan pasangan yang berasal dari kelas sosioekonomi yang setara dengan dirinya. Jika kelas sosioekonomi merupakan faktor utama bagi individu dalam proses pemilihan pasangan, maka individu yang menikah dengan pasangan yang berasal dari kelas sosioekonomi yang lebih rendah akan lebih mengalami stres dibandingkan dengan individu yang menikah dengan pasangan yang berasal dari kelas sosioekonomi yang lebih tinggi.

Dalam banyak penelitian, kebanyakan individu memilih pasangan dengan kondisi sosioekonomi yang setara. Namun, ditemui pula bahwa wanita cenderung lebih memilih pasangan yang memiliki tingkat sosioekonomi lebih tinggi. Apabila seorang individu memilih pasangan dengan tingkat ekonomi yang tinggi, maka tingkat kepuasan pernikahannya jauh lebih baik dibandingkan dengan individu yang memilih pasangan dengan tingkat ekonomi yang rendah. Menikah dengan pasangan yang memiliki status sosial ekonomi sepadan atau lebih tinggi diharapkan dapat memenuhi segala kebutuhan materi dalam berumah tangga dan masa depan yang terjamin (Saraswati, 2011). Sebaliknya,

menikah dengan pasangan yang memiliki tingkat ekonomi rendah bisa saja dapat mengakibatkan stres.

2. Pendidikan dan Inteligensi

Secara umum, terdapat kecenderungan individu memilih pasangan yang memiliki perhatian yang tinggi pada pendidikan. Wanita secara umum lebih ingin menikah dengan status. Wanita yang memiliki tingkat pendidikan tinggi, memilih pasangan yang memiliki pendidikan setara dengannya bahkan memilih yang lebih tinggi pendidikannya daripada dirinya. Namun, pada umumnya pernikahan pada pasangan yang memiliki tingkat pendidikan yang sama atau setara akan lebih cocok dibandingkan dengan pasangan yang memiliki tingkat pendidikan yang berbeda.

Pada umumnya, pernikahan dari pasangan yang memiliki latar belakang pendidikan yang sama lebih harmonis dibandingkan dengan pernikahan dari pasangan yang memiliki latar belakang pendidikan yang berbeda. Pada kenyataannya, resiko ketidakstabilan pernikahan juga lebih tinggi pada pasangan yang memiliki latar belakang pendidikan yang berbeda (Tzeng, dalam DeGenova, 2008).

3. Pernikahan Antar Ras dan Suku

Salah satu permasalahan yang akan muncul dalam pernikahan antar ras atau suku adalah permasalahan sosial. Permasalahan tersebut bukan berasal dari pasangan itu sendiri melainkan dari reaksi keluarga, teman,

dan lingkungan sosial yang ada di sekitar pasangan tersebut (Olofsson, dalam DeGenova, 2008). Tanpa dukungan dari keluarga, teman, dan lingkungan sosial, suatu hubungan akan lebih rentan mengalami masalah.

4. Pernikahan antar agama

Salah satu faktor yang dipertimbangkan dalam memilih pasangan ialah faktor agama. Tingkat religiusitas yang dimiliki oleh individu dan keluarga mendorong untuk memilih pasangan yang memeluk agama yang sama pada individu tersebut. Terdapat asumsi bahwa pernikahan yang dilakukan dengan agama yang sama cenderung lebih stabil dibandingkan dengan pernikahan yang berbeda agama. Pernikahan dengan agama yang sama dapat membantu menumbuhkan anak yang memiliki prinsip agama yang kuat dan moral yang baik dalam kehidupannya.

b. Karakteristik Personal

Ketika seseorang memilih pasangan yang akan dijadikan sebagai pendamping hidup, maka faktor yang paling mempengaruhi individu tersebut dalam memilih pasangan ialah kecocokan. Beberapa karakteristik personal yang berkontribusi pada kecocokan tersebut, yaitu :

1. Sikap dan Perilaku Individu

Penelitian pada trait individu berfokus pada fisik, kepribadian, dan faktor kesehatan mental. Sakit fisik menjadi penyebab munculnya stress dalam hubungan, dan membuat hubungan menjadi kurang memuaskan dan

kurang stabil. Sedangkan, perilaku neurotic dan sakit mental menyebabkan berkurangnya kestabilan dan kualitas pernikahan. Depresi juga memiliki efek negatif terhadap kualitas pernikahan. Self-esteem yang tinggi dan konsep diri yang baik secara positif berkaitan dengan kepuasan pernikahan. Sociable (extraversion) secara positif berkaitan dengan stabilitas dan kualitas pernikahan (J. H. Larson dan Holman, 1994 dalam DeGenova, 2008).

2. Perbedaan Usia

Hal yang menjadi pertimbangan selanjutnya dalam memilih pasangan ialah mengenai perbedaan usia. Secara keseluruhan, rata-rata perbedaan usia diantara pasangan adalah sekitar dua tahun. Menikah dengan pasangan yang berusia lebih tua atau lebih muda akan mempengaruhi kualitas pernikahan. Wanita cenderung memilih pasangan yang berusia lebih tua darinya, sedangkan laki-laki cenderung memilih wanita yang lebih muda. Selain itu, ketika pria dan wanita menikah di usia yang setara maka mereka cenderung akan hidup bersama lebih lama jika telah menikah sejak usia muda (Davidson, 1989; Foster, Klinger- Vartabedian, dan Wispe, 1984 dalam DeGenova, 2008).

3. Memiliki Kesamaan Sikap dan Nilai

Dalam sebuah ikatan pernikahan, kecocokan akan meningkat apabila pasangan memiliki kesamaan sikap dan nilai mengenai hal-hal

yang dianggap penting bagi mereka. Jika memiliki kesamaan sikap dan tidak rentan mengalami konflik. Selain itu, jika pasangan saling berbagi sikap dan nilai, biasanya mereka akan merasa lebih nyaman pula satu sama lain. Kecocokan ini sendiri dinilai sebagai kesetujuan dan ketidaksetujuan mengenai hal-hal seperti, pekerjaan, tempat tinggal, keuangan, hubungan dengan orangtua, kehidupan sosial, agama, sex, kebiasaan dan peran gender (DeGenova, 2008).

4. Peran Gender dan Kebiasaan Personal

Kecocokan tidak hanya didasarkan pada kesamaan nilai dan sikap, tetapi juga melibatkan perilaku. Pasangan akan merasa lebih puas jika pasangan mereka berbagi harapan yang sama mengenai peran gender dan jika mereka dapat saling bertoleransi tentang kebiasaan personal satu sama lain. Salah satu pengukuran kecocokan dalam pernikahan adalah persamaan harapan antara pria dan wanita. Setiap pria memiliki konsep peran sendiri mengenai hal-hal yang harus dilakukan sebagai seorang suami dan memiliki harapan mengenai peran yang seharusnya dilakukan oleh pasangannya. Begitu juga dengan wanita, wanita memiliki konsep peran sendiri sebagai seorang istri dan memiliki harapan mengenai peran yang seharusnya dilakukan oleh pasangannya. Harapan di antara keduanya bisa saja berbeda dengan yang terjadi (DeGenova, 2008).