• Tidak ada hasil yang ditemukan

Wawancara III (Senin, 22 April 2019 pukul 19.30 – 21.30 WIB)

HASIL DAN PEMBAHASAN

POHON MASALAH SUBJEK II

3) Wawancara III (Senin, 22 April 2019 pukul 19.30 – 21.30 WIB)

Wawancara ketiga berlangsung di tempat yang sama, yaitu rumah subjek. Peneliti datang saat menjelang Isya sesuai dengan kesepakatan yang dibuat sebelumnya. Di pertemuan ketiga ini, subjek tampak sudah lebih bersiap-siap menyambut kedatangan peneliti dibanding dengan dua pertemuan sebelumnya yang dengan keadaan masih sibuk beraktivitas. Proses wawancara dilaksanakan di ruang tamu subjek seperti pertemuan pertama,

yang beralaskan karpet tebal berwarna abu-abu tua dan maroon. Subjek juga menyediakan satu gelas air mineral di hadapan peneliti.

Pada hari itu, subjek menggunakan gamis berwarna hitam dengan ujung lengan berwarna putih. Subjek tidak mengenakan cadar. Subjek juga mengenakan kerudung kaos dengan motif bunga-bunga kecil yang berwarna hitam, pink, hijau, dan orange hingga menutupi perutnya. Wajah subjek tampak segar seperti baru selesai mencuci wajah atau mandi. Subjek juga terlihat menggunakan bedak tabur, serta celak mata yang tebal. Bibir subjek tampak sama sekali tidak dipoles apapun, tetapi tetap berwarna alami, serta aroma parfum sangat terasa, bahkan ketika jarak subjek masih berada jauh dengan peneliti.

Proses wawancara berjalan dengan lancar, karena hanya ada peneliti dan subjek di dalam rumah. Subjek menjawab pertanyaan dengan lebih terbuka dan lebih banyak tertawa dibandingkan dengan pertemuan-pertemuan sebelumnya. Subjek beberapa kali mengipas-ngipaskan tangan kirinya ke pipi karena merasa kepanasan. Masih sama seperti pertemuan-pertemuan lalu, subjek bercerita dengan antusias, terlihat dari proses bercerita yang lebih banyak dan panjang. Subjek juga masih tetap bercerita dengan lebih banyak menirukan percakapan-percakapan saat kejadian. Intonasi suara subjek cenderung stabil. Subjek juga lebih banyak tersenyum, tertawa, bahkan bercanda. Saat bercerita mengenai proses berkenalan dengan suaminya saat ta‟aruf, subjek berbicara dengan senyum yang lebar dan kadang menunduk tersenyum simpul.

Saat di pertengahan wawancara, ada tamu yang datang sekaligus pula suami subjek pulang dari mengajar. Wawancara akhirnya diputuskan subjek untuk tetap di lanjutkan di kamar kosong miliknya. Di ruang ini, terdapat sebuah jendela yang menghadap ke pintu masuk kamar. Terdapat pula dua buah lemari. Satu buah lemari pakaian berwarna coklat tua, dan satu lagi berwarna coklat muda dengan ukuran yang lebih kecil. Selain itu, terdapat rak buku kecil dan tempat sajadah serta mukena. Di sisi kanan, terdapat dua buah handuk yang tergantung berwarna merah muda dan coklat.

Wawancara berlanjut dengan lancar dan dengan suara yang sedikit pelan bahkan berbisik agar tidak terdengar. Pertemuan ini pun berakhir saat tamu suami subjek sudah pulang. Di akhir wawancara, subjek dan peneliti sempat bercerita mengenai hal-hal di luar topik. Subjek juga mendo‟akan peneliti agar mudah dan lancar dalam mengerjakan penelitian ini. Setelah berakhir, subjek pun segera mengantarkan peneliti pulang hingga ke depan pintu rumahnya. subjek menutup sebagian wajahnya dengan kerudung, serta mengintip dari balik daun pintu. Subjek juga sempat bercanda dan tertawa dengan peneliti. Suara tawanya pun terdengar lebih lama hingga peneliti berjalan berlalu dan tidak bisa mendengarnya lagi.

Dari ketiga proses wawancara yang dilakukan, subjek tampak selalu bercerita dengan menirukan percakapan-percakapan yang sedang terjadi pada saat kejadian yang ia ceritakan. Subjek juga selalu rapi dan menggunakan bedak dan celak mata saat bertemu dengan peneliti. Selain itu, suara subjek yang lembut terdengar stabil mulai dari awal hingga akhir wawancara. Subjek

juga tidak banyak menggerakkan tangannya mengikuti ritme bicara, melainkan lebih sering meletakkan di paha atau di punggung kaki yang duduk miring. Pandangan mata subjek fokus kepada peneliti, meskipun sesekali melihat ke kanan, kiri, atau bawah. Subjek sering mengerutkan dahi saat tidak paham dengan pertanyaan yang diberikan, sehingga peneliti harus menyesuaikan diri berbicara dengan bahasa yang sederhana.

b. Hasil Wawancara 1) Latar Belakang Subjek

Ririn merupakan seorang wanita berusia 19 tahun yang lahir dan besar di kota Medan, Sumatera Utara. Wanita berdarah Minang ini memiliki tiga orang saudara laki-laki dan satu orang saudara perempuan. Meskipun memiliki seorang abang yang lebih tua dua tahun darinya, tetapi di dalam keluarga Ririn, ia adalah satu-satunya anak yang sudah menikah.

Perjalanan Ririn menjadi seorang hafidz Qur‟an berawal dari keinginan orang tuanya untuk menyekolahkan anak-anak mereka ke pondok pesantren. Sejak kelas tiga Sekolah Dasar (SD), orang tua Ririn sebenarnya telah membicarakan keputusan mereka tersebut. Kemudian, keinginan itu akhirnya terealisasi saat Ririn lulus sekolah dasar. Kepatuhan Ririn terhadap orang tuanya membuat ia harus menyingkirkan rasa takut dan khawatir yang bergejolak di dada. Padahal, Ririn menyatakan secara langsung bahwa ia tidak berani jika harus berpisah dan tinggal jauh dari orang tua. Tetapi, ibu Ririn meyakinkannya bahwa jika Ririn menyayangi ibunya, maka ia harus

bersedia untuk bersekolah di pondok pesantren. Maka dengan hal itu, Ririn pun sepakat dengan keputusan orang tuanya.

“Iya. Itu waktu kelas tiga. Yaudah, dari situ. Tapi di bilang tu, “nanti tamat SD, nanti tamat SD R ini ya, mondok ya.” “kok mondok?

Nggak berani, kan takut.” gitu. “kenapa takut?” “iya, nanti jauh dari mamak.” Nah. “nggak papa, kalau misalnya sayang sama mamak, berarti bisa jauh dari mamak. Sayang kan sama Allah?” “sayang”

gitu.”

(W1.S3.RN.040419.B52.a)

Awalnya, Ririn di tempatkan orang tuanya ke pondok pesantren Darul Arafah selama satu minggu sebagai tahap perkenalan dengan suasana pesantren. Setelah melewati masa-masa itu, Ririn sama sekali tidak merasa keberatan untuk melanjutkan studinya disana. Suasana rumah yang terlalu sepi membuat Ririn merasa senang tinggal di pesantren, karena disana ia dapat menemukan begitu banyak teman. Lalu saat orang tuanya mengunjungi Ririn dan berniat untuk menjemputnya pulang, ia pun segera bertanya kepada ayahnya perihal waktu untuk memasukkannya secara resmi ke dalam pesantren tersebut.

Ayah Ririn menanyakan ulang mengenai kesediannya untuk benar- benar bersekolah di pesantren. Tetapi saat Ririn menyetujuinya, orang tua Ririn ternyata mengambil keputusan lain dan akhirnya menempatkannya ke pesantren yang berbeda. Mereka memilih pondok pesantren An-Nur yang berada di kota Siantar sebagai gantinya, dengan alasan agar Ririn tidak terlalu bebas jika di tempatkan di pesantren modern seperti pesantren Darul Arafah.

Bagi ayahnya, pesantren itu akan terasa sama seperti sekolah umum dan ia tidak ingin Ririn tercemar pergaulannya.

“Yaudah dari situ lah, cerita-cerita di kasih tau. Sebelum kita mondok kita tengok dulu la suasananya. Di kasih ayah seminggu. “Ini kek gini suasana pondok R.” di inapkan dulu.”

(W1.S3.RN.040419.B52.a)

“Awalnya mau ke modern kan kak, belum tau namanya tahfidz. “sini dulu coba ya R.” Cobak di tes disini, yaudah di coba. Oh enaknya gitu kan, banyak kawan. Biasanya kalau di rumah kan nggak ada kawan, sepi, termenung gitu kan.”

(W1.S3.RN.040419.B62.a-b)

“Yaudah kek gitu. Semenjak dari situ, “enak yah, banyak kawan.” gitu kan. “yaudah kalau kek gitu mau?” “mau yah mau.” (....) Mau kapan ayah masukkan?” gitu juga kan. “mau kapan? R maunya kapan?

Tunggu lah persiapannya dulu ya R, kita beli perlengkapannya dulu.”

Kata ayah gitu. Dari situ lah dibilang “betul-betul ini mau mondok kan?” “iya yah”. Rupanya waktu tengok pondok modern, bukan pondok modern, ke tahfidz. Ke An-Nur sana, hafidz alim kan kak. Di situlah “yah kok kek gini mondoknya?”

(W1.S3.RN.040419.B80.a)

Ririn dengan sifat patuhnya tentu saja tetap setuju terhadap keputusan kedua orang tuanya. Ia pun segera berangkat ke pesantren barunya. Tetapi saat tiba disana, Ririn meraskaan suasana yang jauh berbeda dengan yang ia rasakan saat berada di pesantren Darul Arafah. Pesantren An-Nur jauh lebih tertutup, dan dikelilingi oleh seng-seng serta pagar. Berbeda dengan pesantren Darul Arafah yang masih bisa melihat adanya laki-laki, tetapi di pesantren An-Nur hanya ada perempuan saja. Begitu pula dalam hal berpakaian di pesantren An-Nur, Ririn diwajibkan untuk mengenakan penutup wajah (cadar).

Awalnya ada rasa keberatan dalam hati Ririn melihat suasana pesantren An-Nur yang jauh lebih tertutup. Ia mengungkapkan kekecewaannya pada ayahnya, dan merasa bahwa suasana seperti itu akan sama saja baginya seperti berada di rumah. Walaupun demikian, karena rasa patuhnya terhadap orang tua, akhirnya Ririn pun tetap menuruti keinginan ayah dan ibunya.

““kok kek gini yah pondoknya? Kok tertutup seng-seng semua?

Pagar-pagar.” gitu kan kak. Kemaren itu nengok Darul Arafah itu dia campur laki-laki lah ya, gitu kan. Maksudnya bisa nampak suasana, suasananya gitu. “ini kok nggak ada yah, jangan lah gini yah, macam di rumah.” gitu kan. “disini lah tempatnya R, kalau disana nanti bebas kali macam di sekolah.” “yaudah lah kalau gitu ayah ngasi.” gitu kan.”

(W1.S3.RN.040419.B86.a)

Baru saja tinggal di pesantren selama tiga hari, Ririn sudah mulai bisa beradaptasi dengan teman-teman barunya. Ia memulai segala rutinitas dengan mempelajari kitab-kitab sembari menghafalkan Al-Qur‟an. Setiap harinya, seluruh santri diwajibkan untuk menyetorkan hafalan kitab serta hafalan Qur‟an mereka. Ririn sendiri mengambil program sughro dalam menghafal, sehingga tidak ada paksaan hafal di luar kepala sebanyak 30 juz sekaligus.

Jumlah setoran pun tidak ditentukan oleh pihak pesantren, melainkan berdasarkan kesanggupan santri saja. Bagi Ririn, meskipun tidak mengambil program akbar, tetapi proses menghafal Al-Qur‟an tetap terasa lebih berat karena ia juga harus menghafal kitab kuning. Hal demikian membuat Ririn hanya dapat menyetorkan hafalan Al-Qur‟an sebanyak setengah halaman atau bahkan lebih sedikit dari itu setiap harinya.

“Tapi kalau itu memang kalau apa di wajibkan kak. Kita setiap hari nyetor, setiap hari nyetor pagi itu tahfidz.”

(W1.S3.RN.040419.B142.a)

“Kalau awak pas itu setengah.. kalau lagi nggak banyak pelajaran kitabnya setengah, kalau bisa dicari setengah. Pokoknya kalau misalnya.. kita kalau Qur‟an ni cari-cari pande lah. Pande-pande cari, kekmana apa..”

(W1.S3.RN.040419.B146.a)

“Iya karna kitab nya lagi, ngafal..”

(W1.S3.RN.040419.B150.a)

Selama tinggal di pesantren, Ririn hanya disibukkan dengan proses belajar mengajar. Berbeda dengan temannya yang terkadang juga memiliki hubungan dengan lawan jenis, Ririn sama sekali tidak berpikiran akan hal seperti itu. Sejak kecil, orang tua Ririn sangat menjaga pergaulannya dengan begitu ketat. Ia tidak pernah keluar rumah dan bahkan menjadi sangat jarang keluar kamar. Hal demikian membuat Ririn menjadi takut terhadap laki-laki, tidak terkecuali pada abang kandungnya sendiri. Ia menanamkan rasa segan pada dirinya terhadap laki-laki, sehingga ketika dihadapkan pada situasi yang di dalamnya hanya ada dirinya dan abangnya, ia pun segera pergi menjauh atau masuk kembali ke dalam kamar. Maka, tidak sulit baginya menjaga etika dengan lawan jenis sebagai seorang penghafal Qur‟an.

“Ya kalau dekat sama laki-laki enggak sih. Sama adek aja kalau dibilang kekmana bukan juga anak rumahan, anak kamar-an pun kak.

Di kamar.. aja. Nanti kalau kerjaannya itu nulis baca, nulis baca, kalau enggak nyerakin tempat tidur. Sangking bosannya ya kan, kalau di bilang kayak orang gila la ya kan haha.”

(W1.S3.RN.040419.B262.a)

“Iya.. kalau mau nonton tv pun nanti lah nanti, masih ada abang, malas segan gitu kan.”

(W1.S3.RN.040419.B266.a)

Akhirnya, setelah menjalani sekolah di pondok pesantren An-Nur selama kurang lebih lima tahun, Ririn pun lulus dan kembali pulang ke rumahnya. Ia menjalani aktivitas seperti biasa di rumah dan kembali mengalami kebosanan karena tidak ada kegiatan apapun yang dapat dilakukan selain membantu kedua orang tua. Akhirnya, setelah kurang lebih satu tahun tiga bulan lulus dari pesantren An-Nur, Ririn pun kembali melanjutkan studinya ke pondok pesantren Al-Mundziri. Disana, ia mengulang kembali pelajaran kitab-kitab sambil mengulang-ulang kembali hafalannya agar tetap terjaga. Lalu, proses belajar yang ia lakukan itu akhirnya berakhir saat dirinya memutuskan untuk menikah.

2) Proses Pemilihan Pasangan

Selama lima tahun menjalani program belajar mengajar di pondok pesantren An-Nur, akhirnya Ririn pun lulus dari sana dan kembali pulang ke rumahnya. Sejak itu pula, Ririn tidak memiliki kegiatan rutin apapun di rumah. Ia menghabiskan waktu dengan menulis, membaca, dan mengulang- ulang hafalan kitab serta Al-Qur‟an. Tidak berapa lama setelah itu, salah seorang laki-laki berusia 23 tahun yang juga seorang teman dari ayah Ririn (Ahmad) datang berkunjung ke rumahnya. Kunjungan itu bukanlah sebuah

memiliki maksud hendak menjalani proses ta‟aruf dengan Ririn, meskipun ia belum pernah bertemu dengan Ririn sebelumnya.

Saat itu, Ririn baru saja menginjak usia 17 tahun. Ia merasa sangat terkejut dengan kedatangan dan maksud tujuan yang diutarakan oleh Ahmad.

Dirinya merasa masih terlalu muda untuk membangun rumah tangga dan bahkan ia tidak pernah berpikiran sedikitpun akan menikah dalam waktu dekat. Meski begitu, ayah Ririn menilai bahwa proses ini dapat dicoba untuk diteruskan. Sebagai anak perempuan, Ririn tidak bisa berkata apa-apa selain menunjukkan sikap yang canggung dan kaku. Ia mengikuti saja segala proses yang sedang dijalankan dengan wajah yang tertunduk dalam karena adanya rasa malu terhadap laki-laki itu.

Awalnya, proses ta‟aruf ini direncanakan akan diteruskan. Tetapi saat mengetahui usia Ririn yang masih terlalu dini, perlahan mulai timbul keraguan di dalam hati Ahmad. Usia 17 tahun baginya bisa jadi belum memiliki niat yang kuat untuk menikah. Mengetahui adanya alasan seperti itu, Ririn pun merasa bahwa proses ini tidak mengapa untuk tidak dilanjutkan. Ketidakberaniannya untuk menolak pun menjadi hilang karena pihak laki-laki juga memiliki keraguan. Adanya keraguan karena faktor umur bagi Ahmad, serta Ririn yang sama sekali belum siap untuk menikah pun membuat proses ta‟aruf itu dibatalkan melalui perantara ayah Ririn. Ririn menolak dengan halus dan menyatakan alasan bahwa ia ingin melanjutkan studi kembali di pondok pesantren Al-Mundziri.

“Dia mau cari yang dua puluh pas gitu. Tibanya dapat yang paling kecil, aduh kok kayak gini gitu kan jadi bertanya. “tapi kalau jodoh nggak masalah lah mak.” Nggak papa gitu kan, tapi takutnya dia yang ragu karna umur abang segini kan kata dia, umur dua tiga kemaren tu kan. Yaudah awak bilang juga kan, diceritakan juga la sama mamaknya kan.. dia pun mulai ragu juga, bukan karna yang lain, karna umurnya. Karna kan umur segitu takutnya belum itu kali niat kali gitu kan kak.

(W2.S3.RN.080419.B202.a)

“Makanya kemarin dibilang sama guru kan, ustadzah K kan waktu di dekat rumah kan udah apa udah nggak ngajar lagi “K kemarin ta‟arufan ya?” “iya ustadzah. Ustadzah tau darimana?” karna kan takut udah tau itu kan, kan nggak tau kan menolak itu kenapa. “tapi alasannya betul ustadzah. T kan nggak kepikiran nikah, tiba-tiba nikah tekejut.”

(W2.S3.RN.080419.B194.a)

Setelah itu, salah seorang ustadzah Ririn bertanya mengenai proses ta‟aruf yang ia lakukan. Ririn pun menceritakan semuanya dan mengatakan alasannya menolak pula karena tidak siap menikah dan juga akan melanjutkan studi di pondok pesantren kembali. Mengetahui hal tersebut, ustadzah itu juga menyarankan kepada Ririn untuk segera masuk ke pesantren agar tidak terkesan membohongi Ahmad. Maka tidak lama setelah itu, Ririn melaksanakan niatnya untuk kembali belajar disana, begitu pula dengan adik laki-lakinya, Rozi.

“Saya jelaskan juga sama ustadzah itu kan “yaudah kalau emang dirimu menolak karna mondok lagi, mondok lah lagi.” Katanya gitu.

Yaudah mondok gitu.. “jangan kita pula bohong sama dia, kita nggak mondok di rumah aja.” Katanya gitu. “ya emang niatnya mau mondok ustadzah, biar tau gitu pengalaman dari kawan-kawan yang mau nikah ini, kan pasti di pondok tu ada yang mau nikah kan baru-baru nikah kan.”

(W2.S3.RN.080419.B204.a)

Setelah penolakan terhadap proses ta‟aruf pertama tersebut, ayah Ririn kemudian bercerita bahwa sebenarnya dua tahun lalu juga telah ada seorang laki-laki teman ayahnya yang ingin berproses dengan Ririn. Laki-laki tersebut adalah seorang ustad sekaligus hafidz alim lulusan pendidikan di Pakistan beberapa tahun lalu. Laki-laki itu mengatakan bahwa ia sempat bertemu dengan Ririn yang belum mengenakan cadar pada saat menghadiri acara khataman anak didiknya. Oleh karena itu, seperti merasa tertarik ia pun segera menelpon ayah Ririn untuk meminta izin, mengingat bahwa saat itu usia Ririn masih menginjak 15 tahun.

“Pernah pas K apa, khataman dia.. anak muridnya.. jadi dia nampak gitu. Waktu pas itu kan belum bercadar gitu.”

(W2.S3.RN.080419.B70.a)

“Kemaren itu izin dulu, kan waktu umur 15 tahun harus izin dulu.”

(W2.S3.RN.080419.B32.a)

“He‟em. Ini pas sekalian kemaren itu dia izin dulu sama ayah dari telfon kan, “boleh saya ta‟aruf?” “tapi anak masih di pondok.” Ayah bilang gitu kan.”

(W2.S3.RN.080419.B50.a)

Sebenarnya ayah Ririn merasa cocok dengan laki-laki ini, karena sudah saling mengenal serta sedikit banyak tau akan kegiatan dan kualitas dirinya. Apalagi, lelaki ini merupakan seorang ustad yang berasal dari luar negeri, seorang hafidz alim, bahkan memiliki pondok pesantren pribadi pula.

Tetapi sayang, jarak usia antara dirinya yang sudah menginjak 30 tahun lebih dengan Ririn yang masih belasan tahun sangat jauh berbeda. Selain itu, Ririn juga masih berada di pondok dan belum lulus sekolah.

Ibu Ririn merasa risih dan tidak memberikan izinnya akan hal ini.

Baginya Ririn masih terlalu kecil, sehingga ibu Ririn meminta suaminya untuk tidak menyetujui keinginan ustad tersebut. Ayah Ririn pun juga kembali berpikir ulang dan mengatakan kepada temannya bahwa anaknya belum memiliki bekal yang cukup untuk membangun bahtera rumah tangga.

Fisik Ririn yang kecil rasanya tidak pantas jika bersanding dengan ustad yang sudah lebih cocok menjadi bapaknya tersebut. Lagi pula, Ririn juga masih sedang sibuk-sibuknya di pondok pesantren karena mulai mendekati waktu untuk menerima kelulusan sekaligus khatam hafalan Al-Qur‟an.

“Tamatan Pakistan. Udah hafidz alim. Ayah pun suka gitu sama ustad itu, maksudnya bagus gitu. Tapi karna anak itu masih kecil jangan dipaksakan, kata ayah gitu kan. “kayaknya saya tidak bisa menikahkan anak saya di usia segitu, lima belas tahun.” Karna ustad itu pun umur tiga puluh tahun.”

(W2.S3.RN.080419.B62.a)

“Iya. Mau ta‟aruf. “tapi anak saya belum pandai apa-apa. Saya maunya anak saya mondok dulu.” Itu masih di pondok. Mamak bilang

“jangan jangan, nggak usah yah. Jangan dulu.” Yaudah, jangan katanya.”

(W2.S3.RN.080419.B34.a)

“Karna kan kek mana ya kak.. ayah ini menganggap macam nanti...

bapaknya kek gitu hehehe. Macam bapaknya. Kecil gini, itu kan lebih kecil lagi umur lima belas tahun. Ya Allah, si R kecil kek gitu ya kan (tertawa), jadi ayah heran.. kira orang macam bapaknya. “nggak usah dulu la. Orang dia masih perjalanan mau apa kan, udah mau khatam nya.””

(W2.S3.RN.080419.B64.a)

Mendengar cerita ayahnya, Ririn merasa sangat bersyukur pada saat itu orang tuanya tidak menerima tawaran akan menikahkan ia dengan laki-

pun kembali fokus mengulang pelajaran di pondok pesantren Al-Mundziri sebagai santri yang bermukim disana. Orang tua Ririn juga terlebih dahulu sudah memasukkan adik Ririn di pesantren yang sama, sehingga setiap satu minggu sekali jadwal kunjungan rutin selalu terlaksana. Ternyata, masuknya adik Ririn (Rozi) di pesantren itu adalah jalan bagi Ririn dalam menemukan pasangan hidupnya.

Selama kurang lebih dua tahun berada di pondok, Rozi berteman dekat dengan seorang laki-laki berusia lebih tua darinya yang bernama Rifqi.

Meskipun sudah tidak melanjutkan studinya di pondok itu, tetapi Rifqi masih sering berkunjung kesana. Ia bertemu dengan teman-temannya, tidak terkecuali juga pada Rozi. Rifqi, sebagai seorang senior yang sudah belajar kitab lebih banyak dari Rozi membuat Rozi menjadikannya sebagai tempat untuk bertanya. Hal itu membuat mereka semakin lama semakin dekat hingga saling terbuka tentang keluarga masing-masing.

“Dia kawan.. kawan adek. Dia kan kawan adek. Waktu itu kan masih mondok di An-Nur, baru tu udah satu tahun setengah di Al-Mundziri kan. Di Al-Mundziri itu disitu adek udah tiga tahun juga kan.. ntah tiga tahun ntah dua tahun, dua tahun setengah disitu mondok. Udah bekawan kan..”

(W3.S3.RN.220419.B22.a)

“Yaudah, satu pondok sama ustad R. Tapi kan karna awak nggak

“Yaudah, satu pondok sama ustad R. Tapi kan karna awak nggak