• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

POHON MASALAH SUBJEK II

3. SUBJEK III

Tabel 11. Jadwal Pelaksanaan Wawancara Subjek III

No Hari/Tanggal Pukul Lokasi

1. 04 April 2019 17.05 – 18.10 Rumah Subjek

2. 08 April 2019 19.10 – 20.15 Rumah Subjek

3. 22 April 2019 19.30 – 21.30 Rumah Subjek

a. Hasil Observasi

1) Wawancara I (Kamis, 04 April 2019 pukul 17.05 – 18.10 WIB)

Subjek ketiga dalam penelitian ini yaitu seorang wanita berusia 19 tahun, berkulit putih cerah, dengan tinggi badan kurang lebih 155 cm dan berat badan kurang lebih 40 kg. Wajah subjek berbentuk oval dan kecil, bibirnya juga kecil dan berwarna pink natural, serta memiliki hidung yang sedikit mancung. Mata subjek tidak terlalu kecil, tetapi tampak sipit karena tidak memiliki kelopak mata yang besar. Walaupun subjek berwajah kecil, tetapi pipi subjek terlihat berisi. Sehari-hari, subjek menggunakan kerudung yang menjulur menutupi sebagian tubuhnya (syar‟i), serta menggunakan cadar apabila keluar rumah maupun saat ada tamu di rumah.

Wawancara pertama berlangsung pada sore hari di rumah subjek. Hari sebelumnya, peneliti dan subjek sudah saling bertemu untuk berkenalan. Saat itu, peneliti menjelaskan maksud kedatangan serta meminta persetujuan subjek untuk menjadi subjek dalam penelitian ini. Setelah disepakati, peneliti kemudian membuat janji untuk bertemu secara langsung pula, karena subjek tidak memiliki alat komunikasi untuk dihubungi. Selain itu, jarak antara

rumah subjek dan peneliti juga cukup dekat. Subjek baru saja menikah kurang lebih selama satu bulan, dan juga baru saja pindah rumah kurang lebih satu minggu.

Pada hari itu, subjek awalnya mengenakan baju kaos lengan pendek berwarna merah muda dengan rambut sepinggang yang terurai basah, serta menggunakan kerudung instan berwarna biru dongker hingga sepinggang yang tersingkap-singkap saat ia berjalan cepat. Subjek juga membiarkan cadarnya tergantung sebelah, setelah membukakan pintu untuk peneliti masuk ke dalam rumahnya. Subjek mempersilahkan peneliti untuk duduk, sementara ia kembali ke ruang lain di balik tirai dengan membawa kain pel.

Peneliti duduk di atas karpet tebal berwarna abu-abu tua dan bercorak hitam. Di sekeliling rumah subjek tidak terdapat bingkai fhoto apapun. Di sisi kanan dan kiri rumah, terdapat gorden-gorden yang berwarna biru muda dengan motif bunga berwarna merah muda. Jendela yang sedikit terbuka membuat gorden-gorden tersebut sesekali terbang diterpa angin sore. Di sudut kanan ruang, terdapat stelling kaca besar yang berisikan pernak-pernik berlambangkan tauhid, serta ramuan-ramuan untuk obat ruqyah. Ramuan- ramuan dan pernak-pernik tersebut tersusun rapi, dan diperjual belikan. Usaha ini merupakan usaha kecil-kecilan subjek dan suaminya yang seorang pe- ruqyah muda.

Kurang lebih tujuh menit kemudian, subjek muncul dengan menggunakan gamis berwarna hitam polos dan kerudung segi empat berwarna biru dongker yang menutupi tubuhnya hingga pinggang. Subjek

tidak mengenakan cadarnya di hadapan peneliti. Wajah subjek sangat cerah karena baru saja selesai mandi, dan sudah menggunakan bedak serta celak mata yang sedikit tebal yang membuat matanya bertambah nyala. Subjek duduk dengan posisi tubuh miring ke kanan; kaki kirinya menumpu pada kaki kanan di bawah. Jarak duduk subjek sedikit jauh, sehingga peneliti memintanya untuk mendekat. Subjek pun memperbaiki letak duduknya, mendekat dengan peneliti. Subjek dan peneliti duduk berhadap-hadapan, dengan pembatas handphone di tengah untuk merekam seluruh pembicaraan.

Awalnya, subjek terlihat takut dan berulang mundur untuk menyandarkan badan di dinding dan mengusap-usap wajahnya. Subjek menggeleng-gelengkan kepala saat melihat peneliti membuka lembaran kertas putih yang dibawa. Sampai saat peneliti bertanya mengenai umur saja, subjek langsung menjawab “kayak formulir kakak bikin”. Subjek yang sama sekali tidak mengerti mengenai proses wawancara, terlihat tegang. Hal ini terlihat dari ketidakpercayaan dirinya saat akan menjawab pertanyaan dan beberapa kali mengerutkan dahi. Setelah itu, peneliti pun meyakinkan subjek bahwa wawancara ini hanya akan bercerita-cerita seperti biasa. Akhirnya, subjek pun mulai berani dan lancar dalam menjawab pertanyaan.

Selama proses wawancara berlangsung, subjek menjawab pertanyaan yang diberikan seperti layaknya sedang bercerita dengan teman sepermainan.

Subjek begitu antusias menjelaskan mengenai perjalanannya dalam menghafal Al-Qur‟an serta pengalaman-pengalamannya di pondok pesantren.

Wawancara pertama ini masih lebih banyak membahas mengenai aktivitas

subjek serta pengalamannya sebagai hafidz Qur‟an, sehingga subjek tampak santai dalam bercerita.

Awalnya saat menjawab pertanyaan, subjek lebih banyak menatap ke bawah meskipun wajahnya menghadap ke peneliti. Namun, saat mendengar pertanyaan, mata subjek fokus ke mata peneliti dan mencoba mendengarkan serta memahami pertanyaan yang diberikan. Beberapa menit menjawab pertanyaan, subjek mulai menunjukkan kontak mata yang intens kepada peneliti. Subjek bahkan lebih banyak bercerita kepada peneliti. Saat bercerita, subjek lebih banyak menirukan percakapan-percakapan yang terjadi saat kejadian.

Suasana rumah subjek cukup sepi karena berada di dalam gang, sehingga kendaraan yang berlalu lalang hanya sesekali saja. Hal tersebut membuat proses wawancara tenang dan tidak terganggu. Tetapi, di pertengahan wawancara, saat peneliti membahas mengenai pemilihan pasangan, tiba-tiba suami subjek pulang dari mengajar sehingga subjek tidak ingin melanjutkan pembicaraan mengenai hal tersebut karena takut suaminya mendengar. Peneliti yang juga merasakan hal yang sama pun setuju.

Wawancara pun tetap berlanjut, tetapi suara subjek terdengar lebih kecil.

Hingga saat hari semakin sore, peneliti pun izin pamit. Subjek kemudian menutup sebagian wajahnya menggunakan kerudungnya untuk mengantarkan peneliti ke depan pintu. Setelahnya, subjek pun melepaskan kepulangan peneliti dengan mengintip dari celah pintu.

2) Wawancara II (Senin, 08 April 2019 pukul 19.10 – 20.15 WIB)

Wawancara kedua berlangsung di tempat yang sama, yaitu rumah subjek. Peneliti datang saat selesai maghrib sesuai dengan kesepakatan yang dibuat sebelumnya karena suami subjek seharusnya tidak ada di rumah pada jam tersebut. Tetapi, ternyata suami subjek sedang sakit sehingga tetap berada di rumah. Saat bertemu, subjek mempersilahkan peneliti untuk masuk ke dalam rumah dan menyediakan satu gelas air mineral. Peneliti kemudian bernegosisasi dengan subjek untuk mencari tempat lain, karena suami subjek ada di ruangan sebelah sedang membaca buku sehingga peneliti khawatir subjek tidak akan mau bercerita banyak mengenai pemilihan pasangan seperti pertemuan sebelumnya.

Wawancara akhirnya dilaksanakan di teras rumah subjek. Subjek membentang karpet kecil berwarna abu-abu tua sebagai alas duduk di keramik putih terasnya. Pada hari itu, subjek menggunakan mukena berwarna merah muda dengan motif bunga-bunga berwarna senada. Subjek juga mengenakan cadar berwarna hitam, karena wawancara dilakukan di luar rumah. Pada wawancara kedua, pembahasan lebih difokuskan mengenai topik pemilihan pasangan. Subjek terlihat lebih santai bercerita karena merasa tidak di dengar oleh suaminya. Meskipun mengenakan cadar, suara subjek masih terdengar jelas. Subjek tidak banyak menggerakkan tangannya mengikuti ritme bicara, melainkan hanya meletakkan tangan kirinya di atas punggung kaki dan tangan kanannya di atas lantai. Sesekali subjek menarik cadarnya ke bawah, yang sedikit menutupi mata karena bergerak naik saat ia bercerita.

Subjek tampak sering mengerutkan dahinya saat meminta peneliti untuk mengulangi pertanyaan atau saat subjek tidak paham dengan pertanyaan yang diberikan. Subjek masih tetap lancar bercerita layaknya bercerita dengan teman sebaya. Subjek lebih sering bercerita dengan menirukan percakapan-percakapan yang terjadi saat kejadian.

Pada pertemuan kedua ini, ada banyak gangguan saat proses wawancara; anak-anak datang berkunjung membawa makanan untuk melihat suami subjek yang sakit, seorang tetangga yang membagikan kupon perwiridan, serta subjek yang berulang kali masuk ke dalam rumah untuk melihat keadaan suaminya. Subjek khawatir suaminya meminta bantuan untuk melakukan sesuatu. Proses wawancara berakhir saat peneliti merasa bahwa waktu Isya sudah tertunda selama kurang lebih 30 menit. Subjek pun mengantarkan peneliti dari teras ke tempat peneliti meletakkan sandal. Subjek tersenyum dari balik cadar, terlihat dari matanya yang menyipit hingga tertutup.