• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

DESKRIPSI DATA Tabel 4. Gambaran Umum Subjek Penelitian

A. HASIL 1. SUBJEK I

1) Latar Belakang Subjek

Alya merupakan seorang wanita berusia 25 tahun yang lahir dan besar di kota Indramayu, Jawa Barat. Anak pertama dari empat bersaudara ini memiliki impian untuk bisa berkuliah di salah satu Universitas favorit di pulau Jawa yaitu Universitas Gajah Mada (UGM). Alya mengikuti seleksi penerimaan mahasiswa baru UGM pada tahun 2011, namun saat itu dirinya dinyatakan tidak lulus seleksi. Tetapi walaupun begitu, ia tetap lulus di sebuah Universitas yang ada di seberang pulau. Pada tahun pertama, Alya lulus seleksi hingga masuk ke jurusan teknik kimia di Universitas Sumatera Utara. Selang setahun, ia kembali mencoba peruntungannya untuk masuk ke fakultas kedokteran di Universitas yang sama. Takdir baik berpihak padanya, Alya lulus di jurusan kedokteran dengan program beasiswa etos pada tahun 2012. Hal itu membuat Alya harus tinggal di sebuah asrama beasiswa yang menerimanya tersebut.

Sebuah beasiswa tentu saja memiliki berbagai program dalam rangka membina, memberdayakan dan mengembangkan pesertanya untuk menjadi SDM sesuai dengan visi-misi yang ada. Hal demikian juga berlaku pada beastudi etos yang memiliki berbagai program di dalamnya. Salah satu program yang menarik adalah program pembinaan yang mengharuskan

pesertanya untuk menghafalkan Al-Qur‟an. Kebijakan ini berlaku di beberapa daerah, termasuk daerah Medan. Nantinya, setiap satu minggu sekali seluruh etoser harus menyetorkan hafalan Qur‟annya sebanyak satu halaman.

Awalnya, lingkungan tempat tinggal yang mengharuskan Alya menghafal Al-Qur‟an membuatnya berkeinginan untuk menjadi seorang hafidz Qur‟an (menghafal 30 juz), tetapi hal itu masih sekedar sebagai keinginan semata. Hingga saat Alya sudah menginjak semester dua di fakultas kedokteran, keinginannya tersebut baru dapat terealisasi dengan konsisten saat ia mengikuti sebuah program mukhoyam Al-Qur‟an yang diadakan oleh Komunitas Sahabat Qur‟an (KSQ). Setelah mengikuti mukhoyam Al-Qur‟an tersebut, ia kemudian mendapatkan ilmu mengenai cara menghafal, menjaga semangat dalam menghafal, serta agar dapat istiqomah dalam menghafal Al-Qur‟an.

“Awalnya, eee.. kepengen. Tapi belum dilaksanakan. Maksudnya, cuma pengen aja gitu kan.”

(W1.S1.AF.090319.B90.a)

“Sama emang kan, di lingkungan kakak tu, kakak di lingkungan yang emang kek gitu. Kakak, kakak kan tinggal waktu itu tinggal tu masih di etos ya, semester dua masih di etos. Ee disitu juga ada program ngafal kan. Terus.. eee, tapi kalau di etos kan targetannya nggak banyak.”

(W1.S1.AF.090319.B74.a-c)

“Terus, ada.. waktu itu kakak masih belum pengurus KSQ. Jadi, KSQ tu ngadain mukhoyam Al-Qur‟an. Eh, abis tu kakak ikut mukhoyam Al-Qur‟an.. itu masih mukhoyam Al-Qur‟an kedua. KSQ tu sekarang mukhoyam Al-Qur‟an keberapa, sembilan atau berapa gitu. Waktu itu masih mukhoyam Al-Qur‟an kedua, kakak ikut kan.. sama kak R, sama siapa siapa la gitu. Eh setelah dari situ lah baru kakak mulai e istiqomah ngafalnya hehe.”

“E‟eh. Dari situlah tau, gimana caranya ngafal.. gimana caranya.. ee jaga semangat. Terus gimana caranya.. ya gitulah..”

(W1.S1.AF.090319.B94.a)

Alya merupakan mahasiwa yang aktif berorganisasi baik di dalam kampus maupun di luar kampus. Mulai dari semester tiga, Alya sudah mengikuti organisasi di Lembaga Dakwah Fakultas Kedokteran yang pada saat itu bernama PHBI sebelum akhirnya berganti menjadi UKMI Ar-Rahmah kemudian berganti kembali menjadi FOSKAMI. Tak hanya itu, wanita ini juga rutin mengikuti kegiatan-kegiatan di luar kampus yang menurutnya bermanfaat. Ia mengikuti kajian-kajian, kegiatan sosial, dan juga mendaftarkan diri untuk menjadi pengurus di Komunitas Sahabat Qur‟an (KSQ).

Bergabungnya Alya di Komunitas Sahabat Qur‟an (KSQ) tentu saja semakin memudahkan prosesnya dalam menghafal Qur‟an. Dari salah satu agenda yang diadakan oleh KSQ pula Alya dapat berkenalan dengan seorang ustadzah yang akhirnya menjadi gurunya dalam menyetorkan hafalan secara rutin. Pertemuan tersebut berawal saat Alya menghadiri agenda belajar tahsin di kediaman ustad Alwi yang menjadi pemateri di agenda tersebut. Disana lah, ia bertemu dan bercengkrama dengan istri ustad Alwi, yang akrab dipanggil dengan sebutan kak Lira.

Mengetahui bahwa salah seorang seniornya juga menyetorkan hafalan kepada kak Lira, Alya pun segera mencari informasi untuk mengetahui bagaimana cara agar dapat menyetorkan hafalan kepada ustadzah tersebut.

Nyatanya tidaklah sulit dan tidak pula membutuhkan persyaratan apa-apa.

Alya yang sudah memiliki ilmu tahsin yang baik, hanya perlu langsung datang saja dan mengutarakan niatnya kepada kak Lira. Mengingat bahwa hafalan yang harus di setor kepada pihak etos tidak begitu banyak (hanya satu halaman per-minggu) maka tidak hanya Alya, beberapa temannya yang lain pun menjadi rutin menyetorkan hafalan dengan target satu hari satu halaman kepada ustadzah Lira.

“Awalnya.. jadi, panjang kali ceritanya ni haha. Kenalnya yang waktu agenda KSQ tu ada tahsin KSQ. Itu sama ustad A, di rumahnya ustad A. Kan istrinya ada di dalam kan.. jadi ustad A nya di balik tembok sebenernya, kami nggak berhadapan. Jadi, di dalamnya kan ada istri ustad itu.. yaudah selama, jadi tahsin itu kan satu satu, di situlah kakak pertama kali jumpa sama istrinya.. istrinya kan ada disitu yaudah ngobrol-ngobrol segala macem, abis tu ada senior kakak di FK, dia itu setoran sama istrinya ustad A. Terus kakak tanya mau setoran gimana? Yaudah nanti datang aja.. dan akhirnya setor.

(W2.S1.AF.120319.B146.a)

“E‟eh. Sama kakak ada tu, waktu ngafal itu, ee kakak ngafal nyetor ke kak L itu nggak sendiri. Kami ber-berapa ya. Kami sebenernya banyak, ber-lapan atau ber-tujuh.. setor ke kak L, cuman enggak enggak kami ngumpul terus setor, enggak.”

(W1.S1.AF.090319.B80.a)

Ketika menginjak tahun ketiga tinggal di asrama etos, Alya harus pindah tempat tinggal sesuai dengan aturan yang berlaku. Kebutuhan akan lingkungan yang mendukungnya dalam proses menghafal Al-Qur‟an menjadikan Alya membuat keputusan untuk tinggal di asrama Komunitas Sahabat Qur‟an (KSQ). Asrama tersebut ialah rumah tahfidz yang di dirikan oleh pihak KSQ dengan separuh biaya sewa di tanggung oleh pihak

disana. Suasana di lingkungan asrama baru yang Alya dapatkan tidak jauh berbeda dengan asrama sebelumnya, dan tentunya sesuai dengan keinginan wanita tersebut. Bahkan, lingkungan positif di asrama KSQ jauh lebih mendukung Alya dalam menjaga interaksinya dengan Al-Qur‟an.

Setiap waktu, asrama tersebut tidak pernah sepi akan interaksi dengan Al-Qur‟an. Misalnya saja, meskipun terkadang Alya tidak sempat untuk menghafal di pagi hari, tetapi akan selalu ada temannya yang menghafal di waktu tersebut. Asrama yang tidak pernah sepi akan interaksi dengan Al- Qur‟an ini selalu di isi oleh orang-orang yang menyempatkan diri untuk menghafal dan muroja‟ah, ber-tilawah, maupun memutar murottal Al- Qur‟an. Keuntungan lain yang Alya dapatkan selama tinggal di asrama KSQ ialah semakin mudah dalam berkoordinasi atau mengadakan rapat mengenai kegiatan-kegiatan di komunitasnya. Sebab, seluruh anggota yang ada di asrama tersebut merupakan pengurus KSQ pula.

“Nah, kakak itu setelah dari etos kakak kan pindah ke asrama tahfidz.”

(W2.S1.AF.120319.B188.a)

“Hehehe.. itu mendukung.”

(W2.S1.AF.120319.B202.a)

“Iya misalnya ada aja nanti yang dengerin murottal kek gitu, kan kedengeran dari kamar kita gitu. Ya nggak akan pernah sepi. Nanti ada yang menghafal.. pagi-pagi.. mungkin kakak nggak sempat ngafal ada yang ngafal. Ya pokoknya ee apa ya, ee rumahnya tu pasti ada aja yang interaksi nya dengan Al-Qur‟an. Mau itu tilawah, denger murottal, atau lagi ngafal hehehe.”

(W2.S1.AF.120319.B204.a)

Meskipun begitu, Alya juga tidak jarang dapat terhindar dari futur dalam menghafal. Jenuh maupun bosan bisa saja menghampiri. Di saat-saat seperti itu, ia tidak memaksakan diri dan lebih memilih untuk beristirahat sejenak dalam menghafal. Alya akan melihat-lihat video menghafal di youtube, serta membaca artikel mengenai hafidzah yang dapat bertilawah hanya dengan mengandalkan hafalannya. Hal itu ia lakukan agar dapat membangkitkan semangat. Meski terkadang mengistirahatkan diri untuk tidak menghafal, tetapi Alya tetap menjalankan kewajiban ber-tilawah. Dengan begitu, kejenuhan menghafal tidak akan berlanjut dan berlarut-larut. Semua keinginan untuk menghafal tentu akan kembali seperti sedia kala.

Selama menghafal Al-Qur‟an, Alya mengaku mendapatkan ketenangan pada hati dan dirinya. Selain itu, keutamaan yang juga ia dapat ialah merasakan manfaat bahwa segala urusan-urusan yang harus dilaluinya menjadi lebih mudah dijalani, termasuk urusan sulit sekalipun.

“Kalau kakak ya pas ngafal ehehee, pas ngafal tenang kan.. abis itu jadi kakak tu kalau misalnya lagi galau.. maksudnya bukan galau karna apa- apa, misalnya lagi sedih atau apa ee ngafal terus abis tu tenang.”

(W2.S1.AF.120319.B130.a)

“Jadi kek yang misalnya yang mood nya lagi kek gini terus ngafal enak buat ngafal, tenang hatinya. Terus.. selama ngafal Alhamdulillah tu dimudahin urusan-urusannya. Ya misalnya ada lah.. kan rizqi itu nggak dalam bentuk uang kan.. segala kemudahan-kemudahan urusan yang Allah kasih tu kan termasuk rizqi juga. Jadi, kayak semua urusan yang sulit sulit tu keknya lebih mudah.”

(W2.S1.AF.120319.B134.a)

Akhirnya setelah menjalani dunia perkuliahan selama kurang lebih tiga

segala organisasi yang ia ikuti juga ikut berakhir masa kepengurusannya.

Sebagaimana seorang sarjana kedokteran setelah mendapat gelar, Alya pun harus melanjutkan kewajiban studinya dalam menjalani coas. Selama kurang lebih dua bulan coas, Alya menikah dan harus cuti selama dua tahun karena melahirkan anak pertama dan anak keduanya. Kini, setelah anak-anak tersebut sudah dapat di tinggal di rumah dan di asuh oleh tantenya, Alya pun kembali menjalani coas nya yang sudah mencapai stase sepuluh. Nantinya jika sudah mencapai stase ke sembilan belas, ia akan menjalani ujian kompetensi dokter setelah itu menyusul untuk menjalankan program internship selama satu tahun agar dapat menjalankan praktek sebagai dokter umum.

2) Proses Pemilihan Pasangan

Kehidupan kampus tentu saja memberikan warna yang berbeda dalam hidup seseorang, tidak terkecuali pada Alya. Sama seperti kebanyakan mahasiswa lainnya, sebagai seorang wanita yang normal Alya juga memiliki perasaan suka terhadap laki-laki meskipun pada saat itu ia sedang dalam proses menghafalkan Al-Qur‟an. Alya memendam perasaan sukanya dan tidak memilih jalan untuk berpacaran mengingat bahwa dirinya adalah seorang aktivis dakwah, penghafal Qur‟an, sekaligus ia juga sudah paham mengenai ajaran agamanya untuk menjauhi zina yaitu dengan tidak berpacaran.

Alya menyukai seorang lelaki yang ternyata sudah lebih dahulu menyukainya. Meskipun harusnya berbalas, namun keduanya hanya saling memendam perasaan. Teman-teman sepermainan mereka lah yang menjadi saksi akan perasaan tersebut. Alya benar-benar berusaha keras untuk menjaga hatinya dari hal-hal yang dapat merusak hafalan. Ia mencoba untuk tidak banyak berinteraksi dengan lelaki itu meskipun mereka berada dalam satu organisasi yang sama. Ketika berkomunikasi di sosial media pun hanya saat ada hal penting terkait organisasi yang akan di bicarakan saja. Tidak hanya itu, bahkan Alya beberapa kali meng-unfollow instagram dan meng-unfriend facebook lelaki tersebut. Semuanya Alya lakukan untuk menjaga hatinya, sebab ia merasa bahwa jika semakin sering melihat dan berinteraksi dengan lelaki itu maka ia akan lebih sering kepikiran pula.

“Hahaha. Jadi kan.. emm kakak kan emang nggak pacaran kan. Nah jadi, kan kakak sebagai wanita normal (tertawa) kakak juga pernah suka sama ikhwan. Ee tapi, kakak ee.. Alhamdulillah kakak nggak pernah, kek mana ya.. Kakak.. kata orang sih, ikhwan itu juga suka sama kakak, dan katanya ikhwan itu duluan yang suka sama kakak, tapi kakak ya namanya juga.. tau kan gosip-gosip antara ikhwan dan akhwat juga ada kan, kakak denger emang kek gitu. Eee, tapi kakak, emang kakak juga kalau misalnya ini, kalaupun misalnya pada saat itu dia datang ke orangtua kakak, kakak menerima. Tapi kan, ee kakak cuma diem aja. Walaupun kakak suka, kakak diem aja.”

(W1.S1.AF.090319.B152.a)

“Kalau misalnya nge-chat juga ya chat nya tentang organisasi sih.

Nggak pernah nge-chat tentang yang lain ehehe. Kakak juga gitu, kadang balasnya singkat-singkat aja, dan nggak pernah yang dibawa yang kayak.. emm..”

(W1.S1.AF.090319.B156.a)

“Iya. Kakak tu, kakak takut itu merusak hafalan kakak. Jadi, waktu itu kalau nggak salah ya ee instagramnya itu kakak unfollow.. hehe.”

“E‟eh.. itu kan nanti kebawa pikiran, jadi kakak unfollow. Terus facebook nya juga kakak unfriend.. jadi nggak ada, jadi.. semakin jarang kita nampak kan semakin berkurang kita kepikiran kan..”

(W1.S1.AF.090319.B162.a)

Alya yang sudah menyukai lelaki itu sejak awal sebenarnya dengan senang hati mau menerima, jika saja lelaki itu memberanikan diri untuk melamar. Tetapi nyatanya, lelaki itu tidak kunjung datang untuk meneruskan niat baik. Alya pun memantapkan hati untuk menghilangkan pikiran mengenai lelaki tersebut, dan berdo‟a kepada Allah untuk memberikan kemudahan jika saja lelaki itu adalah pilihan yang terbaik. Namun jika tidak, maka ia berharap Allah akan menggantikan dengan seseorang yang jauh lebih baik. Setelah itu, Alya menjalani hari-harinya seperti biasa dan tidak menurutkan hawa nafsunya.

“Yaudah, terus kakak tinggal berdo‟a aja sama Allah. Kakak do‟a, “ya Allah.. eee hamba ingin menjaga hafalan..” ee abis itu, “kalau misalnya itu yang terbaik maka mudahkanlah jalannya.. Tapi, jika bukan dia yang terbaik maka gantilah dengan yang lebih baik menurut-Mu.” Gitu. Udah kakak do‟a gitu aja.”

(W1.S1.AF.090319.B168.a)

Sejak awal perkuliahan, Alya memilih untuk mengisi waktunya dengan mengikuti kegiatan yang bermanfaat, salah satunya ialah mengikuti organisasi Lembaga Dakwah Kampus di Fakultasnya. Sejak semester tiga Alya sudah mulai bergabung disana, dan ia pun baru menyelesaikan organisasi tersebut setelah mendapat gelar S.Ked. Biasanya, dalam sebuah Lembaga Dakwah Kampus terdapat sebuah program pembinaan rutin untuk

kader-kadernya dengan membentuk sebuah kelompok mentoring, yang mana dalam lingkaran majelis ilmu tersebut berisikan kurang lebih sepuluh binaan dan satu orang pembina/pementor. Para kader yang ada dalam lingkup ini pun disebut dengan kader Tarbiyah.

Setelah menjalani proses mentoring beberapa tahun, Alya memiliki pemahaman yang semakin baik sehingga ia harus mengikuti tahap pembinaan yang bertingkat. Akhirnya seperti senior-senior yang lain, Alya pun masuk dalam sebuah lingkaran yang sama seperti mentoring, tetapi memiliki materi kajian yang berbeda dengan mentoring biasanya. Kelompok/halaqah ini pun disebut dengan liqo‟. Setiap satu minggu sekali yaitu di hari Kamis, Alya harus mengisi ruhiyah nya dengan mengikuti liqo‟. Disana, ia bertemu dengan seorang pembina liqo‟ nya (biasa disebut dengan murabbi/murabbiyah), yaitu kak Ratna.

Alya sebagai pribadi yang mudah akrab dengan seseorang begitu dekat dengan kak Ratna, sehingga ia pun di percayakan untuk mengajari les tahsin dan mata pelajaran lain pada anak murabbinya tersebut. Hingga suatu ketika, beberapa minggu setelah Alya menyelesaikan sidang skripsi dan sedang sibuk mempersiapkan diri untuk mengikuti lomba cerdas cermat kedokteran di Thailand, ia pun dihubungi oleh kak Ratna untuk datang ke rumahnya.

Awalnya Alya merasa biasa saja, karna pergi ke rumah kak Ratna memang sudah menjadi rutinitasnya untuk mengajar. Tetapi ternyata ada yang berbeda.

Ketika sampai di tujuan, kak Ratna memperlihatkan perlakuan yang aneh.

Murabbi nya tersebut melihat-lihat sekitar untuk memastikan Alya datang

sendirian. Setelah bertemu dan berbincang sambil berbisik-bisik, ternyata kak Ratna bertanya mengenai kesiapan menikah pada Alya.

“Jadi, awalnya waktu itu kan kakak udah selesai sidang. Udah selesai sidang, kakak tu lagi persiapan lomba ke Thailand waktu itu.”

(W2.S1.AF.120319.B298.a)

“Nah jadi kakak itu ee ngajar, ngajar anaknya MR kakak. Itu tahsin, atau mata pelajaran, tergantung dia maunya apa kek gitu.”

(W2.S1.AF.120319.B302.a)

“Iyaa. Jadi kakak tu ngajar kan. Jadi kakak lumayan dekat sama MR kakak itu. Jadi pas waktu itu kakak di suruh datang kan ke rumahnya, eh sambil bisik-bisik sambil liat-liat hahahah.”

(W2.S1.AF.120319.B308.a)

“Baru di tanyanya. “A.. ehh A kalau misalnya ada ikhwan yang datang, untuk.. melamar A untuk menikah kayak gitu, gimana A dan keluarga?” Kek gitu.”

(W2.S1.AF.120319.B310.a)

Alya yang dari awal sudah memiliki niat untuk menikah dalam waktu dekat agar dapat menjaga hati dari hal-hal yang dapat merusak hafalannya, langsung menjawab dengan jujur bahwa dirinya telah siap. Tetapi ia harus bertanya kepada orang tuanya terlebih dahulu, sebab orang tua Alya sebelumnya sudah berpesan kepadanya untuk tidak menikah sebelum ia resmi menjadi dokter. Alya tidak menghiraukan hal tersebut, ia berdo‟a kepada Allah untuk di berikan petunjuk. Ia memohon agar segala proses ini di mudahkan ketika memang hal itu adalah yang terbaik untuknya.

Alya tidak menyangka, orang tuanya yang sebelumnya menyarankan ia untuk tidak menikah dahulu sebelum menjadi dokter justru menerima keputusan anaknya untuk melakukan proses ta‟aruf. Padahal, orang tua Alya

sama sekali belum mengetahui siapa laki-laki yang akan di jodohkan dengan anaknya tersebut. Alya pun begitu, ia sama sekali tidak mengetahui siapa sebenarnya lelaki yang akan di jodohkan dengan dirinya. Merasa terkejut dengan pemberian restu dari orang tua yang membuka jalan dalam memudahkan segala prosesnya, ia menganggap hal tersebut sebagai jawaban dari Allah atas do‟a-do‟anya. Dengan begitu, Alya merasa bahwa proses ta‟aruf ini harus di lanjutkan hingga jenjang pernikahan.

“Yaudah, kakak jawab sejujurnya. “Kalau A ehehe, In syaa Allah A mudahkanlah. Tapi jika tidak, jauhkanlah. Jadi, sebelumnya orang tua kakak tu dah bilang jangan nikah dulu ya sebelum dokter.‟

(W2.S1.AF.120319.B314.a)

“Tapi kakak tetep bilang kek gitu. Pokoknya kakak dah do‟a kalau memang itu yang terbaik di mudahkan. Tapi ternyata emang orang tua kakak tu langsung bilang e.. kakak kan nanya kalau nanti misalnya ada yang dateng melamar gimana?”

(W2.S1.AF.120319.B316.a)

“He‟eh kakak belum kasih tau dia dokter atau bukan. Kakak belum kasih tau. Ayah kakak langsung bilang ee yaudah nggak papa datang aja kayak gitu.”

(W2.S1.AF.120319.B318.a)

“Kayak dimudahin gitu lo jalannya. Jadi kakak merasa oh yaudah mungkin ini udah jalan dari Allah untuk menikah kek gitu, karna ayah kakak biasanya nggak mau.. tapi ini kok mau ya padahal belum tau orangnya, belum ketemu.. kakak juga belum jelasin dia itu siapa karna kakak juga belum tau dia itu siapa.”

(W2.S1.AF.120319.B318.a)

Setelah mendapat restu dari orang tua untuk menjalani proses ta‟aruf, Alya pun segera memberi kabar kepada kak Ratna mengenai keputusan orang tuanya. Mengetahui hal tersebut, kak Ratna segera meminta Alya untuk membuat CV ta‟aruf yang berisikan biodata dan gambaran lengkap mengenai segala sesuatu yang harus di tera-kan. Apapun yang harus di tulis, ia coba tuliskan dengan jelas dan apa adanya. Setelahnya, CV itu di kirim kepada kak Ratna via e-mail untuk kemudian di teruskan kepada laki-laki calon pasangannya tersebut. Proses yang terjadi selanjutnya adalah menunggu kepastian dari pihak laki-laki untuk memberikan jawaban penerimaan atau bahkan penolakan. Alya harus menunggu keputusan tersebut dengan hati yang berdebar-debar selama tiga hari lamanya. Ia khawatir dan berharap segera mendapatkan jawaban meskipun nantinya ia akan di terima atau pun di tolak.

“Nah setelah itu kakak kabarin MR kakak, orang tua kakak oke, abis tu kakak disuruh bikin CV, abis tu dikirim ke MR kakak, abis tu eee yaudah kakak menunggu jawaban ikhwan dulu.. jadi kakak belum tau ikhwan itu siapa. Yang dikasih CV kakak tu siapa..”

(W2.S1.AF.120319.B322.a)

“Jadi kan kakak gini, sebenernya kakak kan tiga hari kek nya, kakak nunggu tiga hari. kakak sebenernya deg degan, “udah ada jawaban belum kak?” “Belum” haha..”

(W2.S1.AF.120319.B330.a)

“E‟eh, kakak tu gini. “Ih maunya tu kak jawab cepat aja. Nggak di terima pun nggak papa (tertawa) biar gak deg degan.””

(W2.S1.AF.120319.B332.a)

Tidak disangka, laki-laki yang menjadi calon pasangan hidupnya

kacamatanya. Bertepatan dengan di adakannya agenda Musyawarah Besar (MUBES) di organisasi Alya, Fadhil seorang senior laki-laki yang sudah menjadi alumni kedokteran sekaligus demisioner di organisasi tersebut pun datang berkunjung. Saat itu, bertepatan pula giliran Alya yang ada di depan untuk mempertanggungjawabkan amanahnya selama berada di organisasi tersebut. Momen ini di manfaatkan Fadhil dengan baik, dan menjadi media

kacamatanya. Bertepatan dengan di adakannya agenda Musyawarah Besar (MUBES) di organisasi Alya, Fadhil seorang senior laki-laki yang sudah menjadi alumni kedokteran sekaligus demisioner di organisasi tersebut pun datang berkunjung. Saat itu, bertepatan pula giliran Alya yang ada di depan untuk mempertanggungjawabkan amanahnya selama berada di organisasi tersebut. Momen ini di manfaatkan Fadhil dengan baik, dan menjadi media