Bagan 03. Sketsa Komunikasi
D. Program Kegiatan Organisasi ACT 1. GHR (Global Humanity Response)
2. Fase Saat Bencana
Dalam fase darurat bencana atau lebih dikenal dengan tanggap darurat bencana adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan dengan segera pada saat kejadian bencana untuk menangani dampak buruk yang ditimbulkan, yang meliputi kegiatan penyelamatan dan evakuasi korban, harta benda, pemenuhan kebutuhan dasar, perlindungan, pengurusan pengungsi, penyelamatan, serta pemulihan prasarana dan sarana.17
Dalam fase ini, ACT melakukan empat tindakan yakni: emergency, rescue, medis dan relief. Dari masing-masing tindakan tersebut mempunyai kegiatan-kegiatan tersendiri dalam menangani bencana yakni “evakuasi dan mendirikan posko, dan memberikan bantuan dasar, mendirikan posko kesehatan, dan suplai makanan.”18 Dalam tahapan ini pula komunikasi dilakukan dengan sistem komando, akan tetapi koordinasi yang dilakukan lebih luas, yakni dengan melibatkan pemerintah maupun instansi lainnya. “Kita semua koordinasi dengan pak camat, pak lurah dan instasi lainnya, termasuk melakukan evakuasi, medis, trauma healing, dan relief bantuan untuk pengunggsi dan dapur umum.”19 Serta adanya ketua posko untuk mengontrol dan mengawasi kinerja para tim relawan.
Pada saat bencana, koordinasi di lapangan hanya menggunakan radio HT maupun HP. Hal ini dikarnakan pada fase ini membutuhkan kecepatan dan ketepatan dalam bertindak. Dalam melakukan segala kegiatan di lapangan, relawan bekerja berdasarkan SOP yang ada, sehingga lebih mudah dalam
17
Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat, modul khusus Fasilisator, Pengolahan Penanganan Bencana, diakses pada hari Minggu, 09 Maret 2014 dari http://www.p2kp.org/.
18
Wawancara pribadi dengan Pak Totok AP Ketua Induk Posko Daerah MRI Bojonegoro ACT, Kediri Jawa Timur, 23 Febuari 2014.
19
Wawancara pribadi dengan Pak Insan Nurrahman, Vice Presiden ACT, Kediri Jawa Timur, 23 Febuari 2014.
menjalankan tugas. Biasanya para relawan pada fase ini dilengkapi peralatan untuk mempermudah dan menjadi pelindung para relawan. Alat yang disediakan biasanya “senter, HT, masker untuk evakuasi,kaca mata, mobile, HP, kendaraan, topi, jaket.”20
Pertama-tama ACT melakukan tindakan Emergency atau tanggap darurat bencana. Emergency atau tanggap darurat adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan dengan segera pada saat kejadian bencana untuk menangani dampak buruk yang ditimbulkan, yang meliputi kegiatan penyelamatan dan evakuasi korban, harta benda, pemenuhan kebutuhan dasar, perlindungan, pengurusan pengungsi, penyelamatan, serta pemulihan prasarana dan sarana.21
Pada tahapan ini, tim ACT di Kelud ini ACT/MRI membatasi masa emergency selama sepekan atau seminggu pasca bencana, 14-20 Februari 2014. Selain itu juga mengikuti batas waktu tanggap darurat yang ditetapkan pemerintah, baik kabupaten, provinsi ataupun pusat, yakni sebulan pasca bencana dari 14 Februari 2014 hingga 14 Maret 2014. Pada tahapan ini, tim ACT melakukan beberapa kegiatan yakni:
1. Evakuasi pengungsi ke tempat pengungsian di Kecamatan Pare (Masjid Agung Annur dan Gedung Serba Guna).
2. Membuat dapur umum untuk pengungsi di halaman Kantor Kecamatan Pare.
20
Wawancara pribadi dengan Erlid Setiawan, Relawan ACT, di Kediri Jawa Timur, 23 Febuari 2014.
21
Awi Mulyadi Wijaya, “Pentingnya Tanggap Darurat Bencana Pada Kejadian Bencana,” diakses pada tanggal 18 Maret 2014 dari
http://www.infodokterku.com/component/content/article/13-macam-macam-info/yang-
3. Suplai logistik kepada pengungsi untuk kebutuhan pangan, sandang, dan papan.
4. Pelayanan kesehatan keliling.
5. Trauma healing di posko pengungsian.
Pada tahapan ini ACT menurunkan dari 100 orang relawan plus 200 relawan lokal desa, untuk melakukan tugasnya masing-masing maka para relawan terbagi dalam tujuh tim, yakni: “Tim rescue (15 relawan), Tim dapur umum (10 relawan), Tim logistik (15 relawan), Tim kesehatan (15 relawan), Tim trauma healing (10 relawan), Tim administrasi dan dokumentasi (10 relawan), Tim assesment dan mapping (30 relawan).”22
Selain itu pada tahapan ini juga dilakukan penyelamatan (rescue) yang bertugas menyelamatkan warga maupun ternak atau harta benda warga ke daerah aman dari bencana. Seperti yang dikatakan mas Toto sebagai berikut:
“Sebenarnya tidak dikenal istilah tahapan rescue, yang ada tim rescue, yang masuk tahapan emergency. Secara bahasa rescue itu artinya penyelamatan jiwa warga, bahkan ternak, di wilayah terdampak erupsi Kelud. Menghindarkan warga dan ternak dari ancaman bahaya material erupsi Kelud, seperti batu, pasir, abu vulkanik, awan panas dan lahar dingin.”23
Biasanya tim rescue tidak diperbolehkan berkoordinasi secara berlebihan, karenan sistem pekerjaannya otomatis dengan apa yang terjadi di lapangan. Oleh sebab itu tugas penting tim rescue adalah menyelamatkan warga ke tempat yang aman, sehingga di perlukan kerja yang cepat dan tepat serta tanggap bertindak. Adapun koordinasi yang biasa dilakukan yakni brefing pagi maupun sore sebelum
22
Wawancara pribadi dengan Pak Totok AP Ketua Induk Posko Daerah MRI Bojonegoro ACT, Kediri Jawa Timur, 23 Febuari 2014.
23
Wawancara pribadi dengan Pak Totok AP Ketua Induk Posko Daerah MRI Bojonegoro ACT, Kediri Jawa Timur, 23 Febuari 2014.
turun ke lapangan. Alat komunikasi yang digunakan berupa HP, SMS, Holky Tollki (HT), BBM, maupun Form.
Selain itu, pada tahapan ini pula dilakukan kegiatan medis, yang masuk tahapan emergency. Tim medis ini melayani pemeriksaan kesehatan dan pengobatan jika ada korban Kelud yang sakit. Kegiatan yang dilakukan pada tim ini biasanya pemeriksaan kesehatan dan pengobatan kepada warga terdampak letusan Kelud di posko-posko pengungsian. Kadang diselingi juga penyuluhan-penyuluhan hidup sehat. Untuk mengurangi dampak buruk yang diterima oleh warga. Pada tim medis ini jumlah personil yang terlibat terbagi dalam dua tim medis, masing-masing tujuh atau delapan relawan. Tiap tim terdiri satu atau dua dokter, dua perawat/apoteker dan sisanya relawan pembantu umum.
Pada tahapan ini biasanya masalah yang dihadapi oleh relawan yakni makanan, tempat tinggal yang layak, tikar, masker, MCK, listrik, maupun yang lainnya. Hal ini seperti yang di ungkapkan oleh salah satu relawan “karena saya tim pertama yang turun ke sana, yakni pada awal datang ke posko pengungsian. Paling umum itu makan, tempat tidur yang layak, matras ini kita bagikan, meskipun mereka sudah bawa tikar, dan masker, dan air.”24 Meskipun begitu, ada pun kendala yang paling penting, yakni memberikan setidaknya 1.500 nasi bungkus tiap harinya untuk kebutuhan para pengunggsi.
Serta pada tahapan ini pula dilakukan tindakan relief, yakni penanganan pengungsi bencana letusan gunung Kelud, terutama yang ditampung di posko-posko pengungsian, pada tahapan ini kegiatan yang dilakukan adalah pemenuhan kebutuhan pokok warga pengungsi, seperti air bersih, air minum, pangan,
24
Wawancara pribadi dengan Erlid Setiawan, Relawan ACT, Kediri Jawa Timur, 23 Febuari 2014.
sandang, papan yang nyaman. Termasuk juga bimbingan psikologis dan trauma healing, serta kesehatan. Personil yang diturukan pada tahapan ini sekitar 50 orang yang terbagi dalam; tim dapur umum, tim logistik, tim trauma healing dan tim medis.25
Penjelasan di atas menunjukkan pola komunikasi yang saat-bencana di atas menunjukkan sebuah pola komunikasi, yaitu tentang rentetan aliran informasi yang mengalir dari setiap pelaku organisasi ACT. Komunikasi bisa terjadi secara formal ataupun non-formal tergantung dari kondisinya. Peneliti melihat bahwa pola komunikasi ACT dalam menangani bencana letusan gunung Kelud pada fase saat bencana menggunakan pola lingkaran. Dimana komunikasi yang dilakukan dengan berkoordinasi dengan pak camat, pak lurah dan instasi lainnya, tetapi tetap dilakukan dengan briefing yang dilakukan pagi dan malam untuk mengevaluasi serta koordinasi satu sama lain, baik secara tatap muka maupun menggunakan HP dan HT. hal ini relevan dengan pola lingkaran dimana setiap anggota komunikasi dapat berkomunikasi dengan dua anggota lainnya. Dalam briefing yang dilakukan ini untuk menentukan bantuan berupa suplai logistik kepada pengungsi, bantuan kesehatan dan tenda” darurat.