Bagan 03. Sketsa Komunikasi
D. Program Kegiatan Organisasi ACT 1. GHR (Global Humanity Response)
3. Fase Pasca-Bencana
Pasca-bencana atau lebih dikenal dengan massa pemulihan adalah pengaturan upaya penanggulangan bencana dengan penekanan pada faktor-faktor yang dapat mengembalikan kondisi masyarakat dan lingkungan hidup yang terkena bencana dengan memfungsikan kembali kelembagaan, prasarana, dan sarana secara
25
Wawancara pribadi dengan Pak Totok AP Ketua Induk Posko Daerah MRI Bojonegoro ACT, Kediri Jawa Timur, 23 Febuari 2014.
terencana, terkoordinasi, terpadu dan menyeluruh setelah terjadinya bencana dengan fase-fasenya.
Salah satunya dengan mengadakan tahapan rekonstruksi. Rekonstruksi adalah perbaikan kembali fasilitas dan rumah yang rusak akibat letusan Kelud. Rekonstruksi ini termasuk bagian dalam tahapan recovery, yakni tahapan pemulihan pasca bencana menuju kepada kembalinya kemandirian para korban selamat dalam melanjutkan kehidupan diri dan keluarganya.26
Dalam fase pasca-bencana ACT melakukan tahapan recovery dengan mengembalikan warga ke rumah masing-masing. “Sekarang sudah recovery warga sudah kembali ke rumah masing-masing.”27 Masalah yang dihadapi dalam pasca-bencana sangat beragam, terutama genteng, “ada program lagi yang kita survey banyak genteng yang bocor, jadi kita buat donasi paket bantuan 10.000 genteng buat satu rumah. Targetnya 5000 rumah. Mungkin itu juga yang baru terlaksana.”28
Fase pasca-bencana di atas menunjukkan sebuah pola komunikasi, yaitu tentang renteran aliran informasi yang mengalir dari setiap pelaku organisasi ACT. Komunikasi bisa terjadi secara formal ataupun non-formal tergantung dari kondisinya. Bentuk koordinasi masih sama, “yakni briefing pagi dan malam. Namun dalam tahapan recovery, koordinasi bisa dilaksanakan juga di lapangan
26
Wawancara pribadi dengan Pak Totok AP Ketua Induk Posko Daerah MRI Bojonegoro ACT, Kediri Jawa Timur, 23 Febuari 2014.
27
Wawancara pribadi dengan Erlid Setiawan, Relawan ACT, Kediri Jawa Timur, 23 Febuari 2014.
28
Wawancara pribadi dengan Erlid Setiawan, Relawan ACT, Kediri Jawa Timur, 23 Febuari 2014.
pada waktu kapan saja selama perlu dan ada sesuatu yang mendesak dikoordinasikan.”29
Peneliti melihat pola komunikasi ACT dalam menangani bencana letusan gunung Kelud pada fase pasca bencana menggunakan pola lingkaran, karena setiap anggota dapat berkomunikasi dengan adanya briefing yang dilakukan di posko dan hasil diskusi tersebut dilaporkan ke atasan untuk di proses, bisa lewat form maupun datang langsung. Hal ini relevan dengan pengertian pola lingkaran dapat berkomunikasi dengan semua anggota organisasi. Pada fase ini, briefing dilakukan untuk membahas apa kebutuhan yang sangat di perlukan oleh warga. Kebutuhan warga pada fase ini adalah genteng, karena banyak rumah warga yang rusak akibat terkena dampak letusan. Briefing dilakukan pagi dan sore agar tidak menggagu aktivitas pada siang hari dan membantu warga membangun kembali semua fasilitas yang ada.
B. Interpretasi
Berdasarkan hasil di atas, penulis berusaha menganalisi pola komunikasi ACT dalam penanganan bencana di gunung Kelud. Pada dasarnya ACT telah mempunyai pola tersendiri dalam berkomunikasi yakni pola manajemen terpadu. Hal ini terlihat dengan adanya tim dalam penanganan bencana yang ACT bentuk dan sudah professional yakni tim emergency, tim rescue, rehabilitasion, dan recavry. Pola ini yang digunakan ACT dalam penangangan bencana-bencana di Indonesia.
Akan tetapi bila dilihat dari pola komunikasi yang digunakan di dalam organisasi ACT, serta merujuk pada teori pola komunikasi Joseph A. DeVito, dari lima pola komunikasi yang ada, ACT termasuk menggunakan pola komunikasi
29
Wawancara pribadi dengan Pak Totok AP Ketua Induk Posko Daerah MRI Bojonegoro ACT, Kediri Jawa Timur, 23 Febuari 2014.
lingkaran. Pola lingkaran adalah semua anggota organisasi dapat berkomunikasi dengan yang lainnya, mereka tidak mempunyai pemimpin serta setiap anggota bisa berkomunikasi dengan dua anggota lain di sisinya.30 Berdasarkan hasil pengamatan peneliti, komunikasi yang dilakukan ACT sangat terbuka, dimana setiap anggota dapat berkomunikasi dengan yang lainnya secara langsung maupun tidak langsung. Dimana setiap anggota dapat berkomunikasi dengan anggota dari departemen lain tanpa adanya batasan. Hal ini karenakan setiap anggota ACT sudah mengetahui tanggung jawab dan peranan masing-masing di ACT. Komunikasi ke atas dan ke bawah di ACT dilakukan dengan rapat berjenjang, dari mulai rapat manajemen, rapat direktorat, maupun rapat yang lainnya.
Dalam hal ini sangat relevan dengan penjelasan pola lingkaran, dimana dengan pola komunikasi lingkaran berdasarkan teori Joseph A. DeVito, semua anggota dapat berkomunikasi dengan anggota lainnya dan tidak mempunyai pemimpin, meskipun dalam struktur organisasi ACT mempunyai pemimpin. Tetapi pemimpin ACT bila dalam rapat masuk kedalam rapat-rapat manajemen sehingga sama dengan para pegawai ACT yang berposisi sebagai manager di ACT. serta setiap anggota dapat berkomunikasi dengan dua anggota disisinya, yakni para karyawan ACT dapat berkomunikasi dengan dua anggota lain di sisinya yakni dengan departemen lain maupun dengan direktorat lainnya.
Setiap anggota berkomunikasi mengenai koordinasi, penyelesaian tugas, motivasi maupun yang lainnya. Komunikasi yang terjalin sangat lancar, semua lini bisa membicarakan apa saja seperti; ide, saran dan masukannya, jika tidak langsung menghadap bisa menggunakan media seperti email, telp, WA.
30
Joseph A. DeVito, Komunikasi Antarmanusia, Penerjemah Agus Maulana (Pamulang: KARISMA Publising Grup, 2011), edisi ke-lima, h. 383
Bila dilihat dari kasus penanganan bencana yang dihadapi, ACT tetap menggunakan pola lingkaran
Dalam kasus penanganan bencana di gunung Kelud, ACT membuat beberapa struktur sesuai dengan SOP yang ada di ACT. pada situasi penangangan bencana struktur dan proses komunikasi menggunakan sistem komando, yang terbagi dalam tingkatan, Komandan Besar (misi-visi strategis), Komandan Area (terjemah strategis dan taktis) wilayah, Komandan Lapangan (teknis), Komandan Posko (teknis aplikatif), Relawan Lapangan (aplikatif realisasi). Hal ini sangat berkaitan dengan pola rantai, akan tetapi meskipun struktur penanganan bencana yang ACT buat dalam penanganan bencana gunung Kelud sistem komando, dalam aktifitas komunikasinya tetap menggunakan briefing yang dilakukan setiap pagi dan malam hari untuk mengadakan evaluasi dan memberikan intruksi sebelum kelapangan.
Dalam penanganan bencana ACT menggunakan tiga tahapan, yakni pra-bencana, saat pra-bencana, dan pasca bencana. Dalam setiap tahapan tersebut ACT tetep menggunakan pola lingkaran yang sudah terbentuk di oraganisai ACT. Dimana setiap anggota bebas berkomunikasi dengan anggota lainnya dan anggota yang lain dapat berkomunikasi dengan dua anggota di sisinya serta dengan mengadakan briefing yang menjadi agenda rutin tiap struktur yang ada untuk di evalusi di kantor ACT maupun di tempat kejadian.
65 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa Pola komunikasi organisasi yang digunakan di Aksi Cepat Tanggap (ACT) dalam penanganan bencana gunung Kelud di kecamatan Pare kabupaten Kediri adalah pola lingkaran. Pola lingkaran adalah semua anggota organisasi dapat berkomunikasi dengan yang lainnya, mereka tidak mempunyai pemimpin serta setiap anggota bisa berkomunikasi dengan dua anggota lain disisinya.
1. Pola komunikasi yang digunakan pada pra-bencana yakni pola lingkaran Pola lingkaran digunakan pada saat melalui rapat-rapat manajemen sebelum adanya bencana untuk menyiapkan SOP yang akan dilakukan di sana serta melakukan mitigasi bencana.
2. Pola komunikasi yang digunakan saat bencana pola lingkaran. Dimana setiap anggota yang diterjukan ke lokasi bencana dapat berkomunikasi dengan siapa saja tetapi tetap pada struktur yang ada. Dan setiap anggota yang ada dapat berkomunikasi dengan dua anggota di sisinya baik secara langsung maupun tidak langsung. Serta melakukanbriefing sebagai pola komunikasi yang biasa dilakukan di ACT untuk mengevalusi tentang kebutuhan logistik, kebutuhan kesehatan.
3. Pola komunikasi yang digunakan pasca-bencana adalah pola lingkaran. Dimana setiap anggota dapat berkomunikasi dengan siapa saja tetapi tetap pada struktur yang ada. Dan anggota yang ada dapat berkomunikasi dengan dua anggota di sisinya baik secara langsung maupun tidak
langsung. Serta adanya briefing yang biasa dilakukan pagi dan sore untuk mengevaluasi prasana dan saran apa saja yang akan di bangun.
Media komunikasi yang digunakan dalam menyampaikan informasi adalah briefing, grup facebook, e-mail, bbm, sms, dantelepon. Selain itu, komunikasi secara langsung tatap muka maupun langsung juga dilakukan bila keadaan dilapangan memungkinkan, halini bertujuan untuk mempermudah koordinasi antar sesama karyawaan.
B. Saran
Dari uraian yang dikemukakandanfakta yang ditemukan.Maka saran-saran penulis sebagai berikut:
1. Penulis berharap ACT diharapkan lebih banyak melakukan aksi-aksi bantuan kemanuasiaan baik dalam maupun luar Negeri.
2. Dalam tahapan pra bencana peneliti berharap ACT melakukan aksi-kasinyata terutama memberikan bimbingan atau pelatihan kepada msayarakat maupun kesekolah-sekolah yang tinggal di daerah rawan bencana, sehingga pada saat bencana masyarakat telah memahami apa yang akan dilakukan. Serta peyampaikan informasi tentang ACT atau pun pekerjaan kepada seluruh karyawannya sebaiknya dilakukan melalui media tulisan juga, karena jika hanya menggunakan media online dan tidak semua karyawan selalu update membuka jejaring sosial yang digunakan, serta terkendalanya tempat maupun jaringan sinyal yang ada. 3. Dalam tahapan saat bencana sebaiknya ACT pusat menyediakan
perlengkapan yang lebih baik lagi kepada para relawan saat berada di tempat kejadian, sehingga keselamatan relawaan lebih diutamakan. Serta
komunikasi dengan pimpinan di lapangan harus selalu terjaga dengan baik dan nyaman, karena pimpinan berkepentingan dalam segala hal. Sehingga terbentuklah rasa persaudaraan, dan pekerjaan dapat lebih efektif dan effesien.Serta lebih banya lagi para relawan atau pegawai ACT yang terlibat, sehingga mempermudah saat melakukan evakuasi maupun yang lainnya.
4. Pada tahapan pasca bencana, peneliti berharap ACT menyediakan bantuan yang lebih banyak, dengan mengajak atau mengadakan kerjasama dengan instansi atau perusahan lain, dan membantu secara terus-menerus tanpa batas, demi menjaga persaudaraan dan terbentuknya rasa kekeluargaan.
68
Agama. Kementrian RI.Al-Qur’an dan Terjemahnya.Jakarta: PT. Tehazed, 2010.
Bungin, Burhan. Penelitian Kualitatif, Jakarta: Kencana, 2010.
Bungin, Burhan.Sosiologi Komunikasi.Jakarta: Kencana, 2007.
Departemen Pendidikan Nasional.Kamus Besar Bahasa Indonesia.Edisi ke-tiga, Jakarta: Balai Pustaka, 2005.
DeVito, Joseph A.Komunikasi Antarmanusia, Penerjemah Agus Maulana. Edisi ke-lima. Pamulang: KARISMA Publising Grup, 2011.
Hadi, Sutrisno.Metodologi Research. Yogjakarta: Andi Offset, 1983.
Jumroni. Metode-Metode Penelitian Komunikasi. Jakarta: UIN Jakarta Press, 2006.
Kodoatie, Robert J. dan Roestam Sjarief.Pengelolaan Bencana Terpadu.Jakarta: Yarsif Watampone, 2006.
Littlejohn, Stephen W. Littlejohn dan Karen A. Foss.Teori Komunikasi (Theories of Human Communication). terjemahan Mohammad Yusuf Hamdan, Jakarta: Penerbit Salemba Humanika, 2009.
Masmuh, Abdullah.Komunikasi Organisasi dalam Perspektif Teori dan Praktek. Malang: UMMPress, 2008.
Meissner, dkk, Andreas. “Design Challenges for an Integrated Disaster Management Communication and Information System.” The First IEEE Workshop on Disaster Recovery Network, Juni 2002.
Muhammad, Arni.Komunikasi Organisasi. Jakarta: Bumi Aksara, 2011.
Mulyana, Deddy. Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2007.
Nurrachman, Nani. ed. Pemulihan Trauma: Pandan Praktis Pemulihan Trauma Akibat Bencana Alam.Jakarta, LPSP3 Fakultas Psikologi UI, 2007.
Pace R. Wayne, dan Doon F. Faules.Komunikasi Organisasi Strategi Meningkatkan Kinerja Perusahaan.Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2006.
P. Robbins, Stephen. Organization Behaviour. New Jersey: Pearson Prentice Hall, 2009.
Rivai, Veithzal.Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi.Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2003.
Sembiring,Sentosa.Himpunanan Peraturan Perundang-undangan RI; Penanggulangan Bencana.Bandung: Nuansa Aulia, 2009.
Soyomukti, Nurani.Pengantar Ilmu Komunikasi.Yogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2010.
Siagian, Sondang P.Peranan Staf dan Manajemen.Jakarta: Gunung Agung, cet. ke-satu, 1976.
Sugiyono.Metode Penelitian Kombinasi Mixed Methods.Bandung: Alfabeta,2011.
Susanto, A.B. Sebuah Pendekatan Strategi Manajemen: disaster Manangement di Negeri Rawan Bencana. Jakarta: PT Aksara Grafika Pratama, 2006.
Uchjana Effendi, Onong.Dinamika Komunikasi.Bandung: PT Remaja Rosdakarya, cet. ke-empat, 2000.
Uchjana Effendi,Onong.Spektrum Komunikasi. Bandung: Bandar Maju, 1992.
Warto dkk.UjiCoba Pola Manajemen Penanggulangan Korban Bencana Alam pada Era Otonomi Daerah. Yogyakarta: Departemen Sosial RI, 2003.
Jurnal
Arifin, Saru. “Model Kebijakan Mitigasi Bencana Alam Bagi Difabel: Studi Kasus di Kabupaten Bantul”, Yogyakarta,” Jurnal FenomenaVol. 6 No.1. Maret 2008.
Dhuafa, Dompet. “Situasi Respon Erupsi Gunung Kelud,” Disaster Manangement Dompet
Dhuafa. 14-17 Februari 2014.
Maarif, Syamsul. “Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nomor Enam Tahun 2008: Penggunaan Dana Siap Pakai,”Perka BNPB. Desember 2008.
Zaennuddin, Akhmad. “Prakiraan Bahaya Erupsi Gunung Kelud.” Bulletin Vulkanologi dan Bencana Geologi.Vol. 4 No. 2. Agustus 2009.
Web.
Annisa Auliani, Palupi “Gunung Kelud; Sejarah Panjang dan Anomali Letusan.” kompas.com, diakses pada hari Sabtu 1 Maret 2014
www.act.or.id, di akses tanggal 22 Desember 2013 pukul 11.00 WIB.
“Letusan Gunung,” diakses pada hari Sabtu 1 Maret 2014 dari www.Wikipedia.org.id.
Pusat Data dan Informasi dan Humas, “Definisi dan Jenis Bencana,” diakses pada hari Sabtu 1 Maret 2014 dari www.bnpb.go.id.
Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat, Modul Khusus Fasilisator, Pengolahan Penanganan Bencana. Modul Khusus Fasilisator, Pengolahan Penanganan
Bencana. diakses pada hari Minggu, 09 Maret 2014 dari http://www.p2kp.org/
Rikito, Abdillah. “Pengertian Gunung Meletus,” diakses pada hari Sabtu 1 Maret 2014 dari http://alampenuhbencana.blogspot.com/p/gunung-meletus.html.
Wildan, Faiz “Sejarah Letusan Gunung Kelud,” diakses pada hari Sabtu 1 Maret 2014 dari
http://guswildancenter.blogspot.com/2014/02/sejarah-letusan-gunung-kelud.html.
Skripsi
Novianti, Dini. “Pola Komunikasi Organisasi Di Balai Besar Meteorologi dan Geofisika Wilayah II Kampung Utan Tangerang.” Skripsi S1 Fakultas Ilmukomunikasi dan Dakwah, Universitas Islam Negeri Jakarta, 2009.
Soleha, Ika “Pola Komunikasi Organisasi Di PT. Arga Bangun Bangsa ESQ Leadership Center.”Skripsi S1 Fakultas Ilmu komunikasi dan Dakwah, Universitas Islam Negeri Jakarta, tahun 2013.
Suderajat, Maulisa, “Pola Komunikasi Organisasi Di Lembaga Kemanusiaan Nasional Pos Keadilan Peduli Umat (PKPU).” Skripsi S1 Fakultas Ilmukomunikasi dan Dakwah, Universitas Islam Negeri Jakarta, tahun 2014.
Hari, Tanggal : 23 Febuari 2014
Lokasi : Kecamatan Pare, Kediri Bertugas : Relawan Posko Logistik
Assalamualaikum
Nama saya Muhammad Rifiki. Saya mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah yang sedang mengerjakan tugas akhir skripsi. Izinkan saya untuk mewawancarai bapak untuk keperluan akademis saya. Atas kerjasamanya saya ucapkan terima kasih. Penelitian saya berkenaan dengan program bantuan yang ACT lakukan di wilayah bencana gunung Kelud. Saya ingin mengetahui bagaimana pola komunikasi dan organisasi ACT dalam menangani bantuan yang diberikan kepada warga korban bencana gunung Kelud. Mohon kerjasama bapak/ibu/saudara membantu saya menyelesaikan keperluan akademis saya.
1. Apa yang dimaksud dengan tahapan emergency dalam penanganan bencana di Kelud?
Tahap emergency adalah tahap tanggap-darurat penanggulangan korban bencana pada saat terjadi bencana dan berlanjut setelahnya hingga batas waktu yang ditentukan kemudian. Untuk di Kelud ini ACT/MRI membatasi masa emergency selama sepekan atau seminggu pasca bencana, 14-20 Februari 2014.
Selain itu juga mengikuti batas waktu tanggap darurat yang ditetapkan pemerintah, baik kabupaten, provinsi ataupun pusat, yakni sebulan pasca bencana dari 14 Februari 2014 hingga 14 Maret 2014.
2. Apa saja kegiatan yang dilakukan pada tahapan emergency dalam penanganan bencana di Kelud?
b. Membuat dapur umum untuk pengungsi di halaman Kantor Kecamatan Pare c. Suplai logistik kepada pengungsi untuk kebutuhan pangan, sandang, dan
papan
d. Pelayanan kesehatan keliling
e. Trauma healing di posko pengungsian
3. Berapa personil/relawan yang diterjunkan pada tahapan emergency dalam penanganan bencana di Kelud?
Personil yang diterjunkan lebih dari 100 orang relawan plus 200 relawan lokal desa
4. Apa saja tugas masing-masing tiap personil pada tahapan emergency dalam penanganan bencana di Kelud?
Para relawan terbagi dalam 7 tim, yakni: a. Tim rescue (15 relawan)
b. Tim dapur umum (10 relawan) c. Tim logistik (15 relawan) d. Tim kesehatan (15 relawan) e. Tim trauma healing (10 relawan)
f. Tim administrasi dan dokumentasi (10 relawan) g. Tim assesmen dan mapping (30 relawan)
5. Bagaimana proses komunikasi keatas dan kebawah pada tahapan emergency dalam penanganan bencana di Kelud?
Pada situasi penangangan bencana tahap emergency struktur dan proses komunikasi menggunakan sistim komando, yang terbagi dalam tingkatan:
- Komandan Besar (misi-visi strategis)
- Relawan lapangan (aplikatif realisasi)
Proses komunikasi dari atas dan bawah dilakukan bertahap menurut jenjang struktur komando. Jadi misalnya komandan besar tidak perlu memerintah langsung komandan posko atau relawan lapangan. Begitu juga sebaliknya.
6. Bagaimana bentuk koordinasi sesama personil pada tahapan emergency dalam penanganan bencana di Kelud?
Pada fase emergency, koordinasi antar komandan dan posko rutin dilakukan pada pagi dan malam hari. Bentuknya briefing pagi sebelum ke lapangan, biasanya jam 05.30-06.30 Wib, berisi pemantapan agenda kerja hari itu, lengkap dengan pembagian tugas personil dan teknis pelaksanaannya. Kemudian, briefing malam, biasanya jam 20.00-22.00 Wib, berisi evaluasi tugas hari bersangkutan dan rencana tugas hari esoknya.
Sementara untuk koordinasi saat tugas di lapangan, siang harinya, biasanya para relawan dan komandan berkoordinasi lewat telepon dan HT.
7. Apa yang dimaksud dengan tahapan rescue dalam penanganan bencana di Kelud? Bagaimana jawabnya ya? sebenarnya tidak dikenal istilah tahapan rescue, yang ada tim rescue, yang masuk tahapan emergency. Secara bahasa rescue itu artinya ya penyelamatan jiwa warga, bahkan ternak, di wilayah terdampak erupsi Kelud. Menghindarkan warga dan ternak dari ancaman bahaya material erupsi Kelud, seperti batu, pasir, abu vulkanis, awan panas dan lahar dingin.
8. Apa saja kegiatan yang dilakukan pada tahapan rescue dalam penanganan bencana di Kelud?
Paling inti ya mengevakuasi warga, juga hewan ternak, daerah terdampak, keluar dari ring 1 dan ring 2 daerah bencana, yakni diluar jarak 20 kilometer dari puncak Kelud.
bencana di Kelud? Sekira 15 relawan
10.Apa saja tugas masing-masing tiap personil pada tahapan rescue dalam penanganan bencana di Kelud?
Pembagian tugas ini biasanya otomatis terjadi saat beraksi di lapangan. Misalnya yang pasti ada ya sopir mobil rescue, yang lain itu menyesuaikan kondisi lapangan dan korban. Yang pasti tugas pokonya adalah penyelamatan jiwa.
11.Bagaimana proses komunikasi keatas dan kebawah pada tahapan rescue dalam penanganan bencana di Kelud?
Proses komunikasi ke atas dan ke bawah harus tetap mematuhi jenjang strata komando. Kalau di lapangan ya cukup lewat HT dan telepon.
12.Bagaimana bentuk koordinasi sesama personil pada tahapan rescue dalam penanganan bencana di Kelud?
Kalau tim rescue itu tidak boleh banyak koordinasi he...he...he...mereka harus cepat dan tepat, serta tanggap bertindak. Biasanya kalau relawan rescue itu “insting” penolongnya akan bereaksi otomatis. Koordinasi dilakukan pada pagi, sebelum beraksi, dan malam hari saja.
13.Apa yang dimaksud tahapan medis dalam penanganan bencana di Kelud?
Juga tidak dikenal tahapan medis, yang ada tim medis, yang masuk tahapan emergency. Tim medis ini melayani pemeriksaan kesehatan dan pengobatan jika ada korban Kelud yang sakit.
Kegiatan intinya, ya pemeriksaan kesehatan dan pengobatan kepada warga terdampak erupsi Kelud di posko-posko pengungsian. Kadang diselipi juga penyuluhan-penyuluhan hidup sehat.
15.Berapa personil/relawan yang diterjunkan pada tahapan medis dalam penanganan bencana di Kelud?
Sekira 15 relawan
16.Apa saja tugas masing-masing tiap personil pada tahapan medis dalam penanganan bencana di Kelud?
Terbagi dua tim medis, masing-masing 7 atau 8 relawan. Tiap tim terdiri 1 atau 2 dokter, 2 perawat/apoteker dan sisanya relawan pembantu umum.
17.Bagaimana proses komunikasi keatas dan kebawah pada tahapan medis dalam penanganan bencana di Kelud?
Proses komuniksi ke atas dan ke bawah harus tetap mematuhi jenjang strata komando. Kalau di lapangan ya cukup lewat HT dan telepon.
18.Bagaimana bentuk koordinasi sesame personil pada tahapan medis dalam penanganan bencana di Kelud?
Koordinasi dilakukan pada pagi, sebelum beraksi, dan malam hari saja
19.Apa yang dimaksud relief dalam penanganan bencana di Kelud?
Relief itu penanganan pengungsi bencana erupsi Kelud, terutama yang ditampung di posko-posko pengungsian.
Kegiatannya adalah pemenuhan kebutuhan pokok warga pengungsi, seperti air bersih, air minum, pangan, sandang, papan yang nyaman. Termasuk juga bimbingan psikologis dan trauma healing, serta kesehatan.
21.Berapa personil/relawan yang diterjunkan pada tahapan relief dalam penanganan bencana di Kelud?
Sekira 50 relawan
22.Apa saja tugas masing-masing tiap personil pada tahapan relief dalam penanganan bencana di Kelud?
Personil terbagi dalam; tim dapur umum, tim logistik, tim trauma healing dan tim medis.
23.Bagaimana proses komunikasi keatas dan kebawah pada tahapan relief dalam penanganan bencana di Kelud?
Proses komunikasi ke atas dan ke bawah harus tetap mematuhi jenjang strata komando. Kalau di lapangan ya cukup lewat HT dan telepon.
24.Bagaimana bentuk koordinasi sesame personil pada tahapan relief dalam penanganan bencana di Kelud?
Koordinasi dilakukan pada pagi, sebelum beraksi, dan malam hari saja
25.Apa yang dimaksud rekontruksi dan recovery dalam penanganan bencana di Kelud? Rekonstruksi adalah perbaikan kembali fasilitas dan rumah yang rusak akibat erupsi Kelud. Rekonstruksi ini termasuk bagian dalam tahapan recovery, yakni tahapan pemulihan pasca bencana menuju kepada kembalinya kemandirian para korban selamat dalam melanjutkan kehidupan diri dan keluarganya.
penanganan bencana di Kelud?
Kegiatan rekonstruksi yang dilakukan adalah memperbaiki dan mengganti atap genteng rumah warga dan fasilitas umum dan ibadah yang pecah akibat tertimpa material vulkanis Kelud. Saat ini ACT sudah menyerahkan 200 ribu biji genteng baru