Gambar 24 Aksesibilitas dan sirkulasi area Eco-Art Park Sentul City
MANAGER OF ECO-ART PARK
7. Fasilitas, Sarana, dan Prasarana a Signage
Pada area Eco-Art Park Sentul City terdapat dua jenis signage, yaitu name sign dan penunjuk arah. Name sign berlafalkan “ECOARTPARK” terdapat di pintu masuk utama Eco-Art Park Sentul City. Name sign ini didesain alami dengan menggunakan kombinasi tanaman penutup tanah dan bebatuan, dan dilengkapi dengan adanya lighting untuk pencahayaan di malam hari. Namun, pada akhir pekan di mana kendaraan memenuhi pintu masuk Eco-Art Park Sentul City, name sign ini menjadi terhalangi oleh kendaraan sehingga tidak terlihat. Penunjuk arah yang terdapat di area ini adalah penunjuk arah yang menunjukkan arah red bridge dan yellow bridge yang menghubungkan Eco-Art Park Sentul City dengan Pasar Apung (Gambar 33).
48
(a) (b)
Gambar 33 Signage yang terdapat di Eco-Art Park Sentul City (a) name sign dan (b) penunjuk arah
b. Pedestrian
Pedestrian pada Eco-Art Park Sentul City disediakan sebagai fasilitas bagi pengunjung yang ingin berjalan-jalan, melakukan terapi, atau berolah raga mengelilingi Eco-Art Park Sentul City. Pedestrian di Eco-Art Park Sentul City terdiri atas pedestrian yang terbuka atau tidak dinaungi dan pedestrian yang ternaungi oleh coverage (Gambar 34). Panjang pedestrian yang tidak ternaungi adalah 319.5 m, sedangkan panjang pedestrian yang ternaungi adalah 183 m.
(a) (b)
Gambar 34 Pedestrian pada Eco-Art Park Sentul City (a) pedestrian tanpa naungandan (b) pedestrian dengan naungan
c. Area Parkir
Area parkir di Eco-Art Park Sentul City adalah seluas 1,00 ha, yang berarti sebesar 6% dari luas area Eco-Art Park Sentul City. Dengan luas area parkir ini, sebanyak 29 dari 50 responden menyatakan bahwa area parkir tidak memadai, sebanyak 16 responden menyatakan bahwa area parkir memadai, dan 5 responden menyatakan tidak mengetahui area parkir. Pada area parkir mobil dan motor, perkerasan berupa aspal dan hanya sedikit penghijauan di area parkir. Pada area parkir sepeda, perkerasan yang digunakan adalah pavement dan dilengkapi dengan penghijauan (Gambar 35).
49
(a)
(a) (c)
Gambar 35 Area parkir (a) mobil, (b) motor, dan (c) sepeda di Eco-Art Park Sentul City pada akhir pekan
d. Shelter dan Bench
Shelter dan bench yang dapat digunakan pengunjung untuk berduduk-duduk dan beristirahat pada taman ini disediakan oleh pihak pengelola Eco-Art Park Sentul City. Pada taman ini, terdapat shelter di area entrance hall untuk memberikan keteduhan. Material yang digunakan adalah besi. Desain unik dari shelter ini menambah keindahan entrance hall (Gambar 36a). Di kawasan Eco-Art Park Sentul City ini disediakan 20 bench berupa batang pohon kayu yang terdapat di area entrance hall, dan 15 bench serupa yang tersebar di sepanjang pedestrian Eco-Art Park Sentul City. Karena material yang digunakan adalah kayu, bench menambah nilai ekologis dari taman ini. Namun, penggunaan material ini juga membuat bench terasa lembab dan basah jika air hujan masuk dan menggenang di permukaan kayu (Gambar 36b).
(a) (b)
Gambar 36 Shelter dan bench pada taman (a) desain shelter pada entrance hall dan (b) bench berupa batang kayu
50
Toilet di area Eco-Art Park Sentul City memiliki luas 135 m2 dan berada di area parkir sepeda yang terletak dekat pintu masuk utama. Di dalamnya terdapat masing-masing 6 bilik pada toilet wanita dan 6 bilik pada toilet pria. Masing- masing toilet dapat digunakan untuk mandi bagi pengunjung yang melakukan aktivitas olah raga air di Sungai Cikeas. Desain bangunan toilet ini berbentuk persegi panjang dan dibangun dengan material batu alam yang sesuai dengan tema bangunan lainnya yang berada di Eco-Art Park Sentul City (Gambar 37).
Gambar 37 Toilet di area Eco-Art Park Sentul City
e. Green House
Bangunan yang direncanakan pada area Eco-Art Park ini adalah green house. Green house ini direncanakan sebagai gedung serba guna yang di dalamnya dapat digunakan untuk pengunjung melakukan kegiatan sosial seperti gathering. Pada bangunan ini juga terdapat kantor pengelola Eco-Art Park. Pemanfaatan gedung ini selain untuk tempat gathering, tempat art and antique gallery, dan solid wood gallery, juga untuk tempat permainan anak memancing ikan (Gambar 38a). Selain itu, gedung ini juga menjadi tempat penutupan Kejuaraan Lomba Balap Sepeda Tingkat Nasional (Kejurnas) Ikatan Sport Sepeda Indonesia (ISSI) 2013 (Gambar 38b).
(a) (b)
Gambar 38 Pemanfaatan green house sebagai (a) tempat permainan anak dan (b) penyelenggaraan acara Kejurnas ISSI 2013
f. Amphitheatre
Dalam taman ini juga direncanakan adanya multi-purposed open area yang diwujudkan dalam bentuk amphitheater. Dengan bentuk lingkaran dan luas 244 m2, amphitheater ini ditujukan bagi para pengunjung untuk melakukan kegiatan
51
sosial dan dapat diharapkan dapat menjadi ruang serba guna. Pada awalnya, amphiteatre ini hanya dimanfaatkan pengunjung untuk duduk dan bersantai (Gambar 39a). Pada awal Juni 2013, amphitheatre ini dimanfaatkan sebagai tempat bermain anak berupa kolam bermain (Gambar 39b).
(a) (b)
Gambar 39 Pemanfaatan amphitheatre sebagai (a) tempat gathering dan (b) tempat bermain anak
g. Alat Peraga Fisika
Eco-Art Park Sentul City menghadirkan alat peraga fisika yang tidak hanya memberikan pengetahuan bagi pengunjung, tetapi juga sebagai objek rekreasi, terutama bagi anak-anak. Alat peraga fisika yang disediakan adalah wetland/archimedian screw, yoyo raksasa, pipa suara, ayunan pendulum, parabola suara, timbangan raksasa, human gyroscope, dan sepeda gantung. Setiap alat peraga dilengkapi dengan papan informasi berisi penjelasan alat peraga dan cara penggunaannya. Pihak pengelola juga memberikan kemudahan pada pengunjung yang ingin menggunakan alat peraga dengan adanya bantuan dari operator.
Archimedian Screw adalah jenis ulir yang telah dikenal sejak zaman kuno dan telah digunakan sebagai pompa untuk pengairan di taman bergantung Babylonia. Alat peraga archimedian screw digunakan untuk memahami sistem pemindahan air dari tempat yang lebih rendah ke tempat yang lebih tinggi dengan prinsip sistem pipa berbentuk ulir spiral besar dengan sudut tertentu. Air akan terangkat ke atas melalui ulir spiral yang diputar dan disalurkan ke kanal atau penampung (Gambar 40). Metoda ini telah digunakan untuk mengangkut air untuk irigasi selama ratusan tahun. Cara kerja alat ini adalah dengan memutar engkol berlawanan arah dengan putaran ulir spiral sehingga air akan naik ke atas secara perlahan dan keluar di bagian atas.
52
Yoyo raksasa adalah sebuah permainan yang mengesankan dan menantang adrenalin dalam bentuk ayunan vertikal. Yoyo raksasa dirancang secara terbalik di mana bagian yoyo berada di atas dan disangga oleh sebuah tiang berbentuk segitiga (Gambar 41). Yoyo sudah dimainkan oleh bangsa Yunani sejak tahun 500 SM. Alat peraga ini menjelaskan bagaimana momentum sudut pada yoyo raksasa bisa mengangkat badan pengunjung untuk dapat terbang. Alat peraga ini juga menjelaskan bagaimana energi potensial dapat berubah menjadi energi kinetik. Cara kerja alat ini adalah dengan menarik pegangan yoyo raksasa ke arah bawah dengan memanfaatkan berat badan sehingga membuat bagian yoyo raksasa berputar dan badan akan terangkat ke atas.
Gambar 41 Alat peraga fisika yoyo raksasa di Eco-Art Park Sentul City Alat peraga pipa suara menunjukkan bahwa gelombang suara merambat secara longitudinal, yaitu dengan merapatkan dan meregangkan jarak partikel udara yang menjadi medium rambatnya. Karena itu, meskipun udara yang terdapat di dalam pipa berbelok-belok, gelombang tetap merapat-regangkan partikel udara tersebut. Dengan demikian, gelombang suara yang dikeluarkan dari mulut tetap dapat merambat ke ujung yang lainnya dan didengarkan oleh telinga teman. Manusia dapat mendengar bunyi saat gelombang bunyi, yaitu getaran di udara atau medium lain, sampai ke gendang telinga manusia. Batas frekuensi bunyi yang dapat didengar oleh telinga manusia kira-kira 20 Hz sampai 20 kHz pada amplitudo umum dengan berbagai variasi dalam kurva responsnya. Cara kerja alat ini adalah dengan berbicara di lubang pipa suara kemudian mintalah teman untuk mendengarkan suara di ujung lubang pipa suara lainnya (Gambar 42).
53
Pendulum atau bandul adalah benda yang terikat pada sebuah tali dan dapat berayun secara bebas dan periodik yang menjadi dasar kerja dari sebuah jam dinding kuno yang mempunyai ayunan (Gambar 43). Dalam bidang fisika, prinsip ini pertama kali ditemukan pada tahun 1602 oleh Galileo Galilei. Perioda (lama gerak osilasi satu ayunan) dipengaruhi oleh panjang tali dan percepatan gravitasi. Alat peraga ayunan pendulum ini menjelaskan bagaimana prinsip kerja pendulum yang digabungkan dengan ayunan sehingga pengunjung dapat merasakan gerak harmonik sederhana, yaitu gerak bolak-balik benda melalui suatu titik keseimbangan tertentu dengan banyaknya getaran benda dalam setiap sekon selalu konstan. Cara kerja alat ini adalah dengan duduk pada ayunan pendulum, kemudian ayunkan badan, maka akan merasakan gerak harmonik sederhana.
Gambar 43 Alat peraga fisika ayunan pendulum di Eco-Art Park Sentul City Parabola adalah sebuah antena berdaya jangkau tinggi yang digunakan untuk komunikasi radio, televisi, data dan juga untuk radiolocation (RADAR). Antena parabola berbentuk seperti piringan (Gambar 44). Antena parabola dapat digunakan untuk mentransmisikan berbagai data, seperti sinyal telepon, sinyal radio, dan sinyal televisi, serta beragam data lain yang dapat ditransmisikan melalui gelombang. Jika ada gelombang suara di titik fokus parabola yang sejajar sumbu utama, gelombang suara tersebut akan dipantulkan ke titik fokus parabola penerima yang berhadapan dan berhimpitan sumbu utamanya sehingga gelombang suara tersebut terdengar dengan jelas. Cara kerja alat ini adalah dengan berbicara tepat di titik fokus parabola, kemudian mintalah teman untuk mendengarkan tepat di titik fokus parabola lainnya dan teman tersebut akan mendengar suara dengan jelas.
54
Timbangan raksasa atau pengungit adalah salah satu pesawat sederhana yang digunakan untuk mengubah efek atau hasil dari suatu gaya. Hal ini dimungkinkan terjadi dengan adanya sebuah batang ungkit dengan titik tumpu (fulcrum), titik gaya (force)¸dan titik beban (load)¸ yang divariasikan letaknya (Gambar 45). Pengungkit sudah ada sejak abad ke-3 SM dan dicetuskan oleh Archimedes. Di zaman Mesir Kuno, para tukang bangunan menggunakan tuas untuk memindahkan dan mengangkat obelisk-obelisk. Cara kerja alat ini adalah duduk di tempat yang disediakan, lalu cobalah mengangkatnya dengan menarik tali yang terhubung dengan tempat duduk. Cobalah di berbagai posisi sehingga dapat diketahui pada posisi mana beban terangkat dengan lebih ringan.
Gambar 45 Alat peraga fisika timbangan raksasa di Eco-Art Park Sentul City Human gyroscope atau giroskop manusia adalah suatu peralatan hiburan yang dikembangkan untuk melatih para pilot. Bentuk alat ini terdiri dari tiga buah ring pipa yang dihubungkan oleh suatu poros yang dapat berotasi 360 derajat yang diputar dengan kecepatan cepat atau lambat (Gambar 46). Dalam permainan ini pengunjung dapat merasakan rotasi tiga dimensi bebas dengan perasaan khusus yang memacu adrenalin yang menyenangkan. Cara kerja alat ini adalah dengan naik ke atas kursi pada giroskop, kemudian pasang sabuk pengaman. Putar poros giroskop dengan bantuan operator atau keluarga sehingga rotasi tiga dimensi seperti yang dirasakan oleh pilot ketika pesawat bermanuver akan dirasakan oleh pengunjung.
55
Gambar 46 Alat peraga fisika human gyroscope di Eco-Art Park Sentul City Sepeda gantung adalah sepeda yang dijalankan dengan digantung pada sebuah tali di bagian atas sepeda (Gambar 47). Dengan demikian, pengunjung dapat menaiki sebuah sepeda yang berjalan di atas tali tanpa jatuh. Terdapat bandul besi dan tali yang direntangkan dengan jarak tertentu yang dipasang di atas sepeda yang menciptakan keseimbangan sepeda dengan pengendara sehingga sepeda dapat dikayuh dengan seimbang tanpa khawatir pengendara akan jatuh. Namun, dengan alasan keselamatan, sepeda gantung ini belum dapat dioperasikan.
Gambar 47 Alat peraga fisika sepeda gantung di Eco-Art Park Sentul City
Pengelolaan Pengunjung Eco-Art Park Sentul City Karakteristik Pengunjung
Untuk mengetahui karakteristik pengunjung Eco-Art Park Sentul City, dilakukan penyebaran kuesioner secara acak. Responden berjumlah 50 orang yang terdiri atas 26 orang perempuan dan 24 orang laki-laki. Hasil menunjukkan bahwa sebagian besar pengunjung Eco-Art Park Sentul City adalah pengunjung berusia
56
25-55 tahun (46%), sebanyak 44% pengguna berusia 15-25 tahun, 6% pengguna berusia lebih dari 55 tahun, dan 4% pengunjung berusia kurang dari 14 tahun (Gambar 48). Hal ini menunjukkan bahwa responden Eco-Art Park Sentul City berada dalam usia produktif, yang sebagian besar (46/50) mengunjungi Eco-Art Park Sentul City bersama keluarganya dalam jumlah 2 hingga 7 orang yang di dalamnya termasuk bayi, balita, dan anak-anak, maupun orang tua. Sebanyak 4 dari 50 responden datang bersama rombongan berjumlah 10-60 orang.
Hasil ini menunjukkan bahwa kemungkinan besar pengunjung yang datang sangat dipengaruhi oleh adanya objek rekreasi berupa alat peraga fisika yang memberikan nilai pendidikan bagi anak-anak, kealamian tapak yang dapat menjadi terapi bagi manula, dan suasana Eco-Art Park yang memberikan kenyamanan sehingga lebih menarik minat pengunjung usia produktif dengan membawa keluarganya, rombongan keluarga dalam jumlah besar, dan rombongan pelajar untuk berkunjung.
Gambar 48 Karakteristik pengunjung Eco-Art Park Sentul City berdasarkan usia Berdasarkan tingkat pendidikan, sebanyak 44% responden merupakan lulusan S1, lulusan SMA sebanyak 34%, lulusan D3 dan SMP masing-masing sebanyak 8%, lulusan SD sebanyak 4%, dan lulusan S2 sebanyak 2% (Gambar 49). Hal ini menunjukkan bahwa pengunjung Eco-Art Park Sentul City merupakan masyarakat dengan tingkat pendidikan yang tinggi, yaitu Sekolah Menengah Atas, Diploma, dan Sarjana. Dengan tingginya tingkat pendidikan pengunjung, diharapkan pengunjung dapat lebih menjaga perilakunya di dalam area ini dan turut menjaga kelestarian taman. Selain itu, diharapkan dengan tingkat pendidikan tersebut pengunjung dapat menjaga sikap dan tindakannya yang akan memberikan kenyamanan bagi pengunjung lain di area Eco-Art Park Sentul City.
Berdasarkan jenis pekerjaan, mahasiswa merupakan persentase jenis pekerjaan responden yang paling besar (30%). Ibu rumah tangga juga merupakan jenis pekerjaan yang banyak ditemukan pada responden (18%). Pegawai swasta juga merupakan jenis pekerjaan yang banyak ditemui pada responden (16%), setara dengan PNS (16%). Kemudian diikuti dengan pelajar sebanyak 10%, wirausahawan sebanyak 6%, dan lainnya (pensiun atau pengangguran) sebanyak 4% (Gambar 50).
57
Gambar 49 Karakteristik pengunjung Eco-Art Park Sentul City berdasarkan tingkat pendidikan
Terlihat bahwa sebagian besar pengunjung Eco-Art Park Sentul City adalah pegawai, mahasiswa, dan ibu rumah tangga. Hal ini menjadi faktor ramainya Eco- Art Park Sentul City oleh orang tua maupun ibu rumah tangga yang membawa anak-anaknya untuk bermain di taman ini. Hal ini juga menjadi faktor yang menyebabkan kepadatan pengunjung Eco-Art Park Sentul City sangat meningkat pada akhir pekan maupun hari libur nasional. Dengan demikian, sangat diperlukan adanya pelayanan dari pihak pengelola pada taman ini, terutama pada hari-hari dengan kepadatan pengunjung yang tinggi. Selain itu, daya dukung kawasan Eco- Art Park Sentul City ini juga perlu untuk diperhitungkan agar kelestarian dan keberlanjutan kawasan ini dapat tetap terjaga.
Gambar 50 Karakteristik pengunjung Eco-Art Park Sentul City berdasarkan jenis pekerjaan
Didapatkan hasil bahwa sebanyak 44% responden tidak berpendapatan, 28% berpendapatan Rp2 000 000-Rp5 000 000, 12% berpendapatan Rp5 000 000-Rp 10 000 000, 10% berpendapatan kurang dari Rp2 000 000, dan 6% berpendapatan lebih dari Rp10 000 000 (Gambar 51). Mayoritas responden yang tidak berpendapatan ini relevan dengan jenis pekerjaan responden yang sebagian besar merupakan ibu rumah tangga, mahasiswa, dan pelajar. Hal ini disebabkan oleh keadaan Eco-Art Park Sentul City yang tidak memungut biaya, baik biaya tiket masuk maupun biaya objek wisata sehingga pengunjung dapat masuk ke dalam area Eco-Art Park Sentul City tanpa perlu mengeluarkan biaya besar.
58
Gambar 51 Karakteristik pengunjung Eco-Art Park Sentul City berdasarkan tingkat pendapatan
Sebanyak 98% responden berasal dari Jabodetabek, yaitu 60% responden berasal dari Bogor, 20% berasal dari Jakarta, 14% berasal dari Depok, dan 4% dari Sentul City, sedangkan 2% dari luar Jabodetabek (Gambar 52). Hal ini menunjukkan bahwa Eco-Art Park Sentul City diminati oleh penduduk di sekitar Sentul yang memiliki aksesibilitas relatif mudah menuju Eco-Art Park dan mendapatkan informasi cukup mengenai area ini, tetapi kurang untuk pengunjung dari luar Jabodetabek. Sebanyak 19 dari 50 responden menyatakan bahwa perlu adanya peningkatan aksesibilitas dan fasilitas transportasi umum, terutama bagi masyarakat dengan tingkat ekonomi golongan rendah yang tidak memiliki kendaraan pribadi. Lebih jauh lagi, sebanyak 31 dari 50 responden menyatakan harapan mereka akan adanya papan informasi dan petunjuk di area Eco-Art Park Sentul City.
Gambar 52 Karakteristik pengunjung berdasarkan daerah asal
Pada survei kendaraan yang digunakan pengunjung, sebanyak 64% responden mengunjungi Eco-Art Park Sentul City dengan menggunakan kendaraan pribadi berupa mobil, dan sebanyak 24% menggunakan motor. Kendaraan umum Transpakuan dengan pemberhentian di shelter Bellanova digunakan oleh 8% dari responden, sedangkan 4% lainnya menggunakan bus rombongan (Gambar 53). Tidak ada responden yang menggunakan sepeda, mobil sewaan, maupun berjalan kaki untuk berkunjung ke Eco-Art Park Sentul City. Sementara Eco-Art Park Sentul City menyediakan area pelayanan berupa area parkir sepeda yang dapat menampung 150 sepeda, pengunjung Eco-Art Park Sentul City justru tidak menggunakan sepeda sebagai moda transportasi. Hal ini
59
mengakibatkan area parkir sepeda tidak optimal dalam penggunaannya oleh pengunjung.
Gambar 53 Karakteristik pengunjung Eco-Art Park Sentul City berdasarkan moda transportasi
Berdasarkan hasil kuesioner, diketahui bahwa sebagian besar responden mendapatkan informasi mengenai Eco-Art Park Sentul City dari teman (54%). Sebanyak 27% responden mengetahuinya dari keluarga, sedangkan 9% responden mengetahuinya sendiri. Sementara media televisi merupakan sumber informasi bagi 8% responden, media koran merupakan sumber informasi hanya bagi sebagian kecil responden (2%) (Gambar 54).
Sebagian besar pengunjung menyatakan bahwa diperlukan adanya penyebaran informasi mengenai Eco-Art Park yang bertujuan agar masyarakat luas mengetahui keberadaan Eco-Art Park, misalnya dengan melalui media televisi, radio, majalah, koran, maupun pamflet. Hal ini dapat menjadi perhatian bagi bagian manajemen pemasaran untuk melakukan promosi yang lebih giat mengenai Eco-Art Park Sentul City.
Gambar 54 Karakteristik pengunjung Eco-Art Park Sentul City berdasarkan sumber informasi
Berdasarkan hasil survei tujuan berkunjung, didapatkan hasil bahwa sebanyak 41 dari 50 responden datang ke Eco-Art Park Sentul City dengan tujuan berekreasi. Sebanyak 29 responden bertujuan wisata kuliner dan 26 responden bertujuan mengisi waktu luang. Sementara responden yang bertujuan mencari inspirasi dan mendapatkan pengalaman baru sebanyak 9 responden, bertujuan
60
bersosialisasi dan menyalurkan hobi sebanyak 7 responden, responden yang bertujuan outdoor learning mengenai tanaman dan seni budaya hanya sebanyak 3 responden (Gambar 55).
Gambar 55 Karakteristik pengunjung Eco-Art Park Sentul City berdasarkan tujuan berkunjung
Sebagian besar responden (68%) berkunjung ke Eco-Art Park Sentul City selama 1-2 jam dalam sehari, sebanyak 26% responden selama 2-4 jam, sebesar 4% yang berkunjung selama kurang dari 1 jam, hanya sebesar 2% responden yang berkunjung selama 4-6 jam, dan tidak ada responden yang berkunjung selama 6-8 jam dalam sehari (Gambar 56). Lamanya kunjungan pengunjung ke Eco-Art Park Sentul City ini kemungkinan besar disebabkan oleh tidak adanya tarif atau tiket masuk area ini sehingga pengunjung tidak berusaha mengoptimalkan kunjungannya untuk menikmati area ini. Selain itu, area seluas 1.57 ha dengan beberapa objek wisata ini membuat pengunjung dapat menikmati lanskap ini hanya dengan menghabiskan waktu sekitar 1-2 jam. Lamanya waktu berkunjung dapat menjadi salah satu indikator kenyamanan yang dirasakan pengunjung di area Eco-Art Park Sentul City.
Gambar 56 Karakteristik pengunjung Eco-Art Park Sentul City berdasarkan lama kunjungan
61
Menurut hasil survei, pendamping pengunjung ketika berkunjung ke Eco- Art Park Sentul City adalah teman (46% responden), diikuti dengan keluarga (32%), sebanyak 10% datang bersama teman dan keluarga, sebanyak 6% bersama rombongan, sebanyak 4% berkunjung sendiri, dan sebanyak 2% bersama rekan kerja (Gambar 57). Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar pengunjung datang ke Eco-Art Park Sentul City beramai-ramai bersama teman dan/atau keluarganya. Dengan demikian, diperlukan pengelolaan yang dapat menawarkan program pendidikan ekosistem maupun rekreasi yang dapat dilakukan secara beramai-ramai agar interaksi antara manusia dengan lingkungan serta interaksi antar keluarga dan teman dapat ditingkatkan, atau hanya sekedar tempat berkumpul bagi pengunjung dengan jumlah rombongan besar.
Gambar 57 Karakteristik pengunjung Eco-Art Park Sentul City berdasarkan pendamping saat berkunjung
Persepsi dan Minat Pengunjung
Pada survei pengunjung terhadap pengetahuan pengunjung mengenai pengertian suatu “ecopark”, didapatkan hasil bahwa sebanyak 16 responden (32%) mengetahui pengertian “ecopark”, sedangkan sebanyak 34 responden (68%) tidak mengetahuinya (Gambar 58). Hal ini menunjukkan bahwa masih banyak pengunjung yang tidak memahami pengertian “ecopark”. Ketidaktahuan pengunjung ini dapat diatasi dengan adanya sosialisasi dari pihak pengelola kepada seluruh pengunjung Eco-Art Park Sentul City.
Gambar 58 Persepsi pengunjung Eco-Art Park Sentul City terhadap pengertian “ecopark”
62
Responden yang pernah mengunjungi kawasan sejenis ecopark pun hanya sebesar 22% (11 dari 50 responden), sementara sebesar 78% lainnya (39 responden) menyatakan belum pernah mengunjungi kawasan sejenis ecopark sebelumnya (Gambar 59). Dengan demikian, Eco-Art Park Sentul City diharapkan dapat memberikan pengalaman pengetahuan ekosistem dan rekreasi yang berbeda