Gambar 24 Aksesibilitas dan sirkulasi area Eco-Art Park Sentul City
ASPEK EKONOM
5. Meningkatkan unsur pendidikan pada lanskap
Upaya meningkatkan aspek sosial pada lanskap dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
a. pengenalan koleksi tumbuhan dengan menghadirkan berbagai jenis tumbuhan untuk memberikan pendidikan keanekaragaman hayati bagi masyarakat;
98
b. pengenalan koleksi satwa dengan menyediakan habitat bagi satwa agar pengunjung mendapatkan pendidikan mengenai satwa sebagai keanekaragaman hayati; dan
c. pengenalan seni dan budaya kepada masyarakat mengenai karya seni yang sesuai bagi semua kelompok usia.
Rencana PengelolaanLanskap Eco-Art Park Sentul City Struktur Organisasi Pengelola
Berdasarkan hasil penelitian, belum terdapat struktur organisasi yang mencakup seluruh unit dalam pengelolaan lanskap Eco-Art Park Sentul City. Jumlah sumber daya manusia (SDM) pengelolaan lanskap yang minim mengakibatkan tumpang tindih pekerjaan dan kurangnya pengarahan serta pengawasan pada area pemeliharaan. Perlu adanya penambahan jumlah SDM untuk menjadi pengawas lapang dan meningkatkan kerja sama dengan kontraktor pemelihara. Pada pemeliharaan objek rekreasi juga diperlukan SDM pemelihara sekaligus operator alat peraga fisika. Selain itu, terdapat kekurangan SDM di bagian administrasi untuk mengarsipkan seluruh dokumen terkait lanskap dan kebersihan pada area Eco-Art Park Sentul City serta mengkoordinir complaint dan request dari pengunjung. Perubahan pada struktur organisasi pengelola yang direkomendasikan mencakup penambahan unit pemeliharaan dan penambahan pengawas. Berikut adalah rekomendasi struktur organisasi pengelola Eco-Art Park Sentul City (Gambar 78).
Tenaga Kerja Pengelola
Untuk mengetahui jumlah tenaga kerja pengelola yang dibutuhkan sesuai dengan beban kerjanya, dilakukan penghitungan terhadap jumlah kerja selama satu tahun dengan menggunakan penghitungan hari orang kerja (HOK). Penghitungan ini dilakukan dengan pertimbangan kapasitas kerja per jam, luas area, dan frekuensi kegiatan per tahun (Tabel 24).
Tabel 24 Penghitungan HOK selama satu tahun No Parameter KK (m2/ jam) Vol Luas (m2) Waktu (jam) HOK Frekuensi/ tahun HOK setahun 1 Penyapuan rumput 400 m2 5166.51 12.92 1.61 288 464.99 2 Penyapuan perkerasan 800 m2 4620.75 5.78 0.72 288 207.93 3 Penyiraman rumput dan tanaman penutup tanah dengan selang 150 m2 7638.51 50.92 6.37 48 305.54 4 Penyiraman pohon dengan selang plastik 15 pohon 125 8.33 1.04 48 50.00 5 Pemangkasan rumput dengan mesin gendong 250 m2 5166.51 20.67 2.58 12 31.00 6 Pemangkasan semak dan rumput
99
Tabel 24 Penghitungan HOK selama satu tahun (lanjutan) No Parameter KK (m2/ jam) Vol Luas (m2) Waktu (jam) HOK Frekuensi/ tahun HOK setahun 7 Pemangkasan
tanaman perdu dan pohon kecil dengan gunting pangkas
5 pohon 44 8.80 1.1 6 6.60
8 Penyiangan dan penggemburan pohon dengan cangkul dan kored
7 pohon 125 17.86 2.23 48 107.14
9 Penyiangan dan penggemburan tanaman semak dan penutup tanah dengan kored 40 m2 2472 61.80 7.73 48 370.80 10 Pengendalian hama dan penyakit 500 m2 4797 9.59 1.2 12 14.39 11 Pemupukan pupuk organik pada tanaman penutup tanah 100 m2 2472 24.72 3.09 12 37.08 12 Pemupukan pupuk organik pada pohon
7 pohon 125 17.86 2.23 6 13.39 13 Penyulaman tanaman rumput (lempengan) 10 m2 5166.51 516.65 64.6 1 64.58 14 Penyulaman tanaman penutup tanah dan semak
3 m2 2472 824.00 103 2 206.00
100
101
Setelah didapatkan hasil total HOK yang dibutuhkan selama satu tahun, dapat dilakukan penghitungan jumlah jam kerja yang dibutuhkan dalam satu minggu dengan penghitungan sebagai berikut:
Jam kerja per minggu = HOK 1 tahun x 8 jam/orang/hari 52 jam/minggu
= 2250.25 jam/orang/hari x 8 jam/orang/hari 52 jam/minggu
= 346,19 jam/minggu
Berdasarkan penghitungan tersebut, didapatkan hasil total jam kerja per minggu adalah 625.83 jam. Hasil penghitungan tersebut digunakan untuk menghitung kebutuhan tenaga kerja (KTK) pemeliharaan lapang sesuai beban kerja. Dengan jumlah jam kerja produktif 30 jam per minggu dan efektivitas pekerja sebesar 70%, dilakukan penghitungan kebutuhan tenaga kerja. Hasil penghitungan menunjukkan bahwa kebutuhan tenaga kerja pemeliharaan lapang pada lanskap Eco-Art Park Sentul City adalah sebanyak 17 orang. Dengan demikian, perlu adanya penambahan tenaga kerja sebanyak 6 orang untuk pemelihara lapang untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja tersebut.
KTK = jam kerja/minggu x efektivitas kerja optimum jam kerja produktif/minggu efektivitas kerja lapang = 346,19 jam/minggu x 100
30 jam/minggu 70 = 17 orang
Pengelola Eco-Art Park Sentul City bermitra kerja dengan pihak kontraktor pemelihara CV Gelar Jaya dalam melaksanakan pemeliharaan lanskap. Tenaga kerja pemeliharaan terdiri atas in house dan tenaga kerja dari kontraktor. Tenaga kerja in house ditempatkan sebagai operator alat peraga fisika, tetapi tidak sekaligus memelihara objek rekreasi, dengan jumlah dua orang. Tenaga kerja in house ini diberi upah per bulan berdasarkan UMR. Tenaga kerja dari pihak kontraktor memiliki upah di bawah UMR. Kendala yang dihadapi adalah kurangnya tingkat kedisiplinan dan kesadaran tenaga kerja in house untuk menjalankan tugasnya dengan baik, sedangkan tenaga kerja dari kontraktor telah melaksanakan kegiatan pemeliharaan dengan baik. Untuk mengatasi hal tersebut, perlu dilakukan pengarahan prosedur kerja di lapang bagi operator, pengawasan terhadap tenaga kerja dengan ketat, dan penerapan sistem reward bagi pekerja yang melaksanakan tugasnya dengan baik, serta penerapan sistem punishment bagi tenaga kerja yang melanggar aturan.
Jadwal Pemeliharaan
Dalam menentukan jadwal pemeliharaan, diperlukan klasifikasi tingkat pemeliharaan masing-masing area, daftar tanaman pada area pemeliharaan, dan kegiatan pemeliharaan yang diperlukan pada masing-masing area. Tingkat pemeliharaan yang dilaksanakan pada Eco-Art Park Sentul City ini bersifat intensif, semi intensif, dan ekstensif. Kegiatan pemeliharaan tersebut dapat dilaksanakan sesuai dengan jadwal oleh tenaga kerja pemelihara. Pihak pengelola
102
dan pemelihara belum mempunyai daftar tanaman yang lengkap. Diperlukan adanya daftar nama tanaman pada area Eco-Art Park Sentul City sebagai inventarisasi pengelola sehingga ketika terjadi renovasi atau pergantian tanaman dapat segera dilakukan pembaharuan data.
Pada lanskap Eco-Art Park Sentul City, terdapat 24 kegiatan pemeliharaan yang dinilai penting untuk keberlanjutan lanskap. Berdasarkan standar kegiatan pemeliharaan menurut Arifin dan Arifin (2005), rekomendasi jadwal pemeliharaan lanskap Eco-Art Park Sentul City disusun dengan beberapa penyesuaian (Tabel 25).
Tabel 25 Rekomendasi jadwal pemeliharaan lanskap
No Kegiatan Pemeliharaan Frekuensi Pemeliharaan
1 2 3 4 5 6 7
1 Pembersihan dan penyapuan areal taman * 2 Pembuangan sampah keluar taman *
3 Penyiraman taman *
4 Pembersihan/pemangkasan ranting-ranting kering *
5 Pembersihan drainase taman *
6 Pembersihan kolam taman *
7 Pembersihan bedengan tanaman massal * 8 Penggemburan dan pemberian aerasi tanah *
9 Pendangiran/penyiangan gulma *
10 Pemotongan rumput *
11 Pemangkasan semak dan perdu tanaman pagar *
12 Pemangkasan perdu dan pohon *
13 Pencegahan hama dan penyakit * 14 Pembersihan bangunan taman dan objek rekreasi * 15 Pemupukan tanaman penutup tanah *
16 Pemupukan pohon *
17 Pemangkasan ranting dan dahan pohon *
18 Pengontrolan elemen taman *
19 Peremajaan tanaman penutup tanah *
20 Peremajaan tanaman perdu dan pohon tertentu *
21 Pengecatan ulang elemen taman *
22 Pendataan tanaman dan satwa dalam taman *
23 Evaluasi pekerjaan pemeliharaan *
24 Penyulaman tanaman *
Keterangan: 1 = harian, 2 = mingguan, 3 = bulanan, 4 = triwulan, 5 = semesteran, 6 = tahunan, 7 = insidental
Alat dan Bahan Pemeliharaan
Dengan adanya area Eco-Art Park Sentul City yang masih tergolong baru, peralatan pemeliharaan yang dimiliki oleh pihak kontraktor pemelihara berada pada kualitas yang baik dan kuantitas yang memadai. Apabila terjadi kekurangan bahan pemeliharaan, kontraktor pemelihara dengan sigap segera membeli bahan tersebut di toko terdekat. Apabila terjadi kerusakan alat pemeliharaan lanskap dan
103
kebersihan, pihak kontraktor segera memperbaiki alat tersebut. Namun, apabila terjadi kerusakan objek rekreasi, tenaga kerja pemelihara tidak segera memperbaikinya sehingga objek rekreasi tersebut tidak bekerja dalam waku lama. Hal ini perlu diatasi dengan persediaan pergudangan dari pihak pengelola. Selain itu, perlu dilakukan inventarisasi peralatan dan masa efektif peralatan sekaligus pengecekan pada alat yang digunakan secara intensif. Untuk bahan pemeliharaan, pihak pengelola belum melakukan pengelolaan kompos sehingga untuk kegiatan pemupukan masih menggunakan pupuk kandang dan pupuk urea. Perlu adanya pengelolaan kompos agar dapat meningkatkan hasil pemeliharaan taman.
Anggaran Biaya Pemeliharaan
Berdasarkan hasil penelitian dan penghitungan hari orang kerja (HOK), dilakukan penghitungan harga hari orang kerja (HOK) per tahun. Dengan hasil penghitungan tersebut dihasilkan rekomendasi anggaran dan biaya beban kerja yang dilakukan oleh tenaga kerja pemeliharaan lanskap (Tabel 26). Berdasarkan penghitungan pada Tabel 26, didapatkan hasil bahwa total anggaran biaya sesuai dengan beban tenaga kerja pemeliharaan harian adalah sebesar Rp135 014 832, dibulatkan menjadi Rp135 014 800.
Tabel 26 Penghitungan anggaran biaya beban kerja tahunan
No Parameter HOK
setahun
Harga
HOKa Harga HOK 1 tahun
1 Penyapuan rumput 464.99 Rp 60 000 Rp 27 899 154 2 Penyapuan perkerasan 207.93 Rp 60 000 Rp 12 476 025 3 Penyiraman rumput dan tanaman
penutup tanah dengan selang 305.54 Rp 60 000 Rp 18 332 424 4 Penyiraman pohon dengan selang
plastik 50.00 Rp 60 000 Rp 3 000 000 5 Pemangkasan rumput dengan mesin
gendong 31.00 Rp 60 000 Rp 1 859 944 6 Pemangkasan tanaman semak dan
penutup tanah dengan gunting pangkas 370.80 Rp 60 000 Rp 22 248 000 7 Pemangkasan tanaman perdu dan
pohon kecil dengan gunting pangkas 6.60 Rp 60 000 Rp 396 000 8 Penyiangan dan penggemburan pohon
dengan cangkul dan kored 107.14 Rp 60 000 Rp 6 428 571 9 Penyiangan dan penggemburan
tanaman semak dan penutup tanah dengan kored
370.80 Rp 60 000 Rp 22 248 000
15 Pengendalian hama dan penyakit 14.39 Rp 60 000 Rp 863 460 16 Pemupukan pupuk organik pada
tanaman penutup tanah 37.08 Rp 60 000 Rp 2 224 800 17 Pemupukan pupuk organik pada pohon 13.39 Rp 60 000 Rp 803 571 20 Penyulaman tanaman rumput
(lempengan) 64.58 Rp 60 000 Rp 3 874 883 21 Penyulaman tanaman penutup tanah
dan semak 206.00 Rp 60 000 Rp 12 360 000
TOTAL 2250.25 Rp 135 014 832
a
104
Berdasarkan hasil wawancara, didapatkan hasil bahwa pihak kontraktor CV Gelar Jaya membutuhkan dana untuk pengadaan alat dan bahan pemeliharaan lanskap. Dengan penghitungan sesuai dengan kebutuhan pemeliharaan, didapatkan hasil bahwa anggaran biaya untuk pengadaan alat adalah sebesar Rp7 774 514 selama setahun untuk kegiatan pemeliharaan lanskap (Tabel 27). Selain itu, pihak kontraktor pemelihara juga membutuhkan dana sekitar Rp1 845 000 (Tabel 28). Ini menunjukkan bahwa selama satu tahun diperlukan sebesar kurang lebih Rp9 619 514 untuk pengadaan alat dan bahan pemeliharaan lanskap.
Tabel 27 Alokasi dana pengadaan alat pemeliharaan lanskap per tahun
No. Bahan Jumlah Satuan
Harga satuan (Rp) Harga total (Rp) Masa penyusutan (tahun)a Harga/tahun (Rp) 1 Mesin potong rumput gendong 5 unit 1 000 000 5 000 000 3 1 666 667 2 Gunting pangkas 1 buah 50 000 50 000 0.5 100 000
3 Sapu lidi 5 buah 5 000 25 000 0.83 30 120 4 Kored 4 buah 10 000 40 000 0.5 80 000 5 Cangkul 2 buah 25 000 50 000 0.5 100 000 6 Mesin Gergaji Chainsaw 1 buah 1 675 000 1 675 000 3 558 333 7 Steam 1 buah 1 150 000 1 150 000 3 383 333 8 Selang plastik (100 m) 2 buah 650 000 1 300 000 0.33 3.939 394
9 Mesin diesel 2 unit 1 150 000 2 300 000 3 766 667 10 Tempat
sampah
3 buah 50 000 150 000 1 150 000
TOTAL 7 774 514
a
Masa efektif penggunaan alat pemeliharaan taman (Wulandari 1992) Tabel 28 Alokasi dana pengadaan bahan pemeliharaan lanskap per tahun
No. Barang Jumlah Satuan Harga satuan Harga total
1 Bensin 30 liter Rp 6 500 Rp 195 000 2 Oli 30 liter Rp 30 000 Rp 900 000 3 Pupuk urea 100 kg Rp 2 000 Rp 200 000 4 Pupuk kandang 250 kg Rp 2 000 Rp 500 000 5 Sabun pembersih 50 bungkus Rp 1 000 Rp 50 000
105
SIMPULAN
Simpulan
Analisis terhadap implementasi existing lanskap menunjukkan bahwa lanskap Eco-Art Park Sentul City belum memenuhi kriteria taman ekologis karena masih terdapat beberapa kriteria taman ekologis yang belum diterapkan dalam lanskap tersebut. Berdasarkan evaluasi pembangunan, diketahui bahwa konsep dasar dan pengembangan lanskap belum mengarah pada pembentukan taman ekologis. Dalam pembangunan lanskap, terjadi revisi desain dan pengubahan pemanfaatan ruang terkait penyesuaian tapak dan keinginan pihak direksi. Dalam pelaksanaan pengelolaan maupun pemeliharaan lanskap, secara operasional tidak mengarah pada pembentukan dan pengelolaan taman ekologis. Berdasarkan penyusunan rencana pengelolaan lanskap, perlu dilakukan restrukturisasi pengelola lanskap, penambahan kegiatan pemeliharaan lanskap, peningkatan kapasitas kerja tenaga kerja pengelola lanskap, dan pembuatan rencana anggaran biaya pemeliharaan lanskap Eco-Art Park Sentul City.
Saran
Untuk meningkatkan pengelolaan lanskap Eco-Art Park Sentul City sebagai taman ekologis, perlu dilakukan upaya peningkatan aspek ekologis pada lanskap taman ekologis. Hal ini dapat dilakukan dengan menerapkan prinsip saving land, saving material, dan saving energi pada taman; meningkatkan keanekaragaman hayati dengan mewujudkan pemanfaatan taman sebagai sumber bibit dan benih; menyediakan fasilitas, sarana, dan prasarana untuk pembibitan dan persemaian; dan pemenuhan kriteria ekologis pada lanskap Eco-Art Park Sentul City. Diperlukan upaya pembatasan pengunjung sesuai daya dukung kawasan untuk mencegah penurunan daya dukung kawasan, terutama pada hari libur dan akhir pekan. Selain itu, perlu dilakukan upaya peningkatan pengawasan kegiatan pemeliharaan lanskap dengan menambah tenaga kerja pengawas dan meningkatkan mutu tenaga kerja pengelola dengan pelatihan, pemberian insentif, maupun penerapan sistem reward and punishment.