RONA LINGKUNGAN AWAL
3. RONA LINGKUNGAN AWAL 3 4Tabel 3-
3.1.3 Fisiografi dan Morfolog
Sistem fisiografi yang berkembang di daerah rencana pembangunan PLTU menjadi bagian dari perkembangan tatanan sistem fisiografi regional Pegunungan Meratus. Secara morfologi kondisi regional sistim fisiografi Pegunungan Meratus mengacu pada pengelompokkan satuan geomorfik Van Zuidam (1979) terletak pada satuan topografi bergelombang. Keberadaan satuan geomorfik topografi
3. RONA LINGKUNGAN AWAL 3- 5
bergelombang terletak di sebelah barat laut dari lajur tinggian pegunungan Meratus.
Morfogenesis topografi bergelombang tersebut masih berkait dengan proses erosi selektif sesudah blok faulting pengangkatan pegununungan Meratus akhir miosen. Dibagian barat dari satuan topografi bergelombang berkembang satuan geomorfik dataran berupa dataran yang disusun oleh material endapan alluvial.
Perkembangan relief morfologi satuan topografi bergelombang tersebut dicirikan dengan kemiringan lereng 5-15% miring ke arah selatan dengan beda tinggi 5-20m. Sungai yang berkembang adalah Sungai Tabalong dengan anak-anak sungainya antara lain: S. Mangkusip, S. Jaing. S. Tabalong merupakan sungai utama yang pola alirannya membentuk pola sub dendritik dengan lembah sungai berbentuk U berstadium tua.
Lokasi rencana tapak proyek PLTU beserta saluran air penunjangnya yang menghubungkan PLTU hingga sungai Tabalong menempati daerah yang mempunyai kelerengan umum 5-15%, ketinggian tempat terdapat pada level ketinggian 24 mdpal – 56 mdpal. Sungai dari rencana lokasi PLTU mengalir ke sungai Mangkusip yang merupakan anak sungai Tabalong. Pola aliran yang berkembang pada sungai Mangkusip adalah sub dendritik dengan ciri lembah sungai berbentuk U melebar kesamping serta bermeander. Kondisi sungai tersebut dapat dikelompokkan dalam stadium sungai tua.
3.1.4 Geologi
Dalam tatanan geologi regional, wilayah studi menempati bagian timur laut Sub Cekungan Barito berdekatan dengan Pegunungan Meratus yang menjadi bagian dari Cekungan Kutai. Dalam tatanan stratigrafi regional wilayah studi dan sekitarnya disusun oleh batuan sedimenter tersier dan kuarter meliputi: Formasi Tanjung (Tet) berumur Eosen, Formasi Berai (Tomb) berumur Oligomiosen, Formasi Warukin (Tmw) berumur Miosen, Formasi Dahor (Qtd) dan Endapan Alluvial (Qa).
Daerah studi termasuk tapak proyek pembangunan PLTU terletak diatas Formasi Warukin yang disusun oleh perselingan antara batupasir kuarsa dan batu lempung dengan sisipan batu lempung pasiran dan batubara. Karakteristik
3. RONA LINGKUNGAN AWAL 3- 6
sifat fisik batuan penyusun Formasi Warukin adalah padat, kurang kompak, permeabilitas rendah setempat-setempat tinggi dengan daya dukung batuan sedang - tinggi. Sedang karakteristik tanah lapukan dan rombakan adalah bersifat lepas, tidak padu, permeabilitas tinggi, pada daerah terbuka sangat rentan erosi. Wilayah tapak proyek tidak terdapat sumberdaya mineral batubara, dibuktikan dengan singkapan batubara di bekas tambang Wara yang lokasinya berada disebelah tenggara dari tapak proyek.
Perkembangan struktur geologi dipengaruhi oleh perkembangan proses kegiatan tektonik regional yang terjadi mulai Pra Tersier – Miosen Tengah. Perkembangan struktur geologi pada batuan sedimenter tersier penyusun daerah studi dan sekitarnya dipengaruhi tektonik Akhir Miosen.Pada Akhir Miosen terjadinya pengangkatan pegunungan Meratus sehingga membentuk struktur- struktur geologi antara lain: lipatan (antiklin dan sinklin), patahan (patahan naik, patahan mendatar dan patahan normal) serta retakan/kekar. Didaerah studi struktur geologi yang berkembang adalah struktur lipatan monoklin yang perlapisan batuannya miring kearah tenggara.
3.1.5 Hidrologi
Daerah studi UKL-UPL PLTU berada di dalam kawasan DAS Tabalong, sebelah Timur alur sungai Tabalong. Kondisi topografi lahan semakin tinggi konturnya kearah Tenggara – Timur Laut dan dibatasi oleh cabang anak sungai Tabalong yaitu sungai Jaing, tetapi semakin ke Barat – Barat Laut kontur mulai makin rendah dan terdapat atau dibatasi oleh sungai Mangkusip. Kedua anak sungai Jaing dan Mangkusip sama-sama bermuara ke sungai Tabalong yang
menjadi tampungan dari air permukaan (run off) ataupun aliran bawah
permukaan (base flow) di kawasan DAS Tabalong tersebut. Karekteristik sungai dan anak-anak sungai adalah :
• Sungai Mangkusip, terletak sebelah Barat daerah studi, sungai orde ke 2 dan mendapat pengaliran air dari hulunya yaitu sungai Tepian. Pengukuran sesaat (musim kemarau) profil penampang basah dengan lebar 2 m dengan kedalaman rata-rata Y = 0,15 m (titik pengukuran jembatan Mangkusip). Pengukuran kecepatan hanya dapat dilakukan dengan alat pelampung, dan mendapatkan debit Q = 49 liter/dt ( hitungan pada Lampiran Teks-3).
3. RONA LINGKUNGAN AWAL 3- 7
• Sungai Jaing, sungai ini terletak sebelah Timur daerah studi, merupakan salah satu anak sungai Tabalong. Pengukuran sesaat profil penampang basah dan pengukuran kecepatan, dimana lebar rata-rata b = 8,50 m dengan kedalaman rata-rata Yr = 0,85 m. Pengukuran kecepatan dengan Current Meter dibeberapa titik mendapatkan kecepatan rata-rata Vr = 0,34 m/dt, sehingga debit rata-rata Qr = 2,45 M /dt ( perhitungan pada Lampiran Teks 3-2)
3
• Sungai Tabalong (sungai utama), sungai yang merupakan terkonsentrasinya air permukaan (run off) dan aliran bawah permukaan (base flow) pada DAS Tabalong. Keberadaan air sungai ini akan menjadikan keberlanjutan beroperasinya pembangunan PLTU. Pengukuran sesaat penampang basah sungai (lokasi rencana intake PLTU, Jembatan S. Tabalong) pada kisaran
posisi dan . Lebar atas Tampang Basah b = 38
m dengan kedalaman bervariasi, pada titik tengah Y = 2,50 m, dan tepi kiri/kanan masing-masing Y = 3,10 m dan Y = 2,30 m. Pengukuran sesaat kecepatan ( dengan alat current meter ) mendapatkan Vr = 0,33 m/dt, sehingga debit rata-rata Qr = 33,28 m3/dt ( perhitungan pada Lampiran Teks 3-2). LS '' ' 0 08 . 10 . 02 1150.22''.58''BT
Besaran debit ini merupakan salah satu besaran kapasitas tampung sungan Tabalong, yang tentunya kapasitas ini dapat berubah berfluktuasi terutama pada musim penghujan ataupun musim kemarau (data debit sungai Tabalong ) dan diharapkan keberadaan debit dapat mensuplay kebutuhan PLTU (350 m3/jam) dan masyarakat luas lainnya. Data debit sungai Tabalong didapat dari Proyek Hidrologi Kalimantan Selatan, Pusat Penelitian dan Pengembangan Pengairan Departemen Pemukiman dan Prasarana Wilayah, meliputi data debit selama 21 tahun mulai tahun 1977 sampai dengan tahun 2001 dengan beberapa tahun tidak ada pengukuran sehingga untuk analisa data diperlukan perhitungan data tambahan untuk mengisi kekosongan data tersebut. Data debit sungai Tabalong ditampilkan dalam Lampiran Teks 3-2.
Sebagai perbandingan karakteristik hidrologi wilayah studi UKL-UPL PLTU, digunakan hasil kajian terhadap Sungai Tepian, Sungai Mangkusip dan Sungai Tabalong tahun 2003 sebagai berikut:
3. RONA LINGKUNGAN AWAL 3- 8
a. Sungai Tepian Hulu, Pengukuran sesaat parameter hidraulikanya yaitu lebar b= 70 cm, kedalaman rata-rata y = 10 cm, hasil perhitungan debit Q = 7,7 lt/dt. Semakin kehilirnya terjadi perubahan geometris sungai yaitu luas tampang dan debit sungai.
b. Sungai Tepian Hilir, sungai ini bagian hilirnya dari sungai Tepian hulu, dimana keberadaan air permukaan berakumulasi dengan limpasan air lainnya.
Pengukuran sesaat Sungai Tepian Hilir pada titik jembatan Kampung Tepian dimana lebar b= 6,5 m, kedalaman rata-rata y = 1 m, pengukuran kecepatan dengan alat current meter didapat V = 0,06 m/dt dan mendapatkan debit Q = 0,4 m3/dt.
Sungai tepian ini mengalirkan air kehilirnya mencapai sungai Mangkusip sebagai sungai orde 2.
• Analisa data sedimen dari laboratorium dimana gradasi butiran mendapatkan = 0,1 mm dan = 0,02 mm , yang selanjutnya data ini akan di analisa untuk prakiraan erosi dan sedimentasi di wilayah studi terutama kawasan sungai tepian.
50
d
d
90c. Sungai Mangkusip, sungai ini merupakan orde sungai ke dua yang mendapat aliran dari hulunya yaitu sungai Tepian. Pengukuran sesaat profil lintang sungai dengan lebar penampang basah b = 5 m, kedalaman rata-rata y = 0,36 m. Hasil pengukuran kecepatan dengan current meter mendapatkan kecepatan V = 0,325 m/dt sehingga didapat debit sesaat Q = 0,585 m3/dt. Debit ini mengalir ke hilirnya bermuara pada sungai Tabalong yang merupakan sungai orde 3.
• Analisa data sedimen dari laboratorium , gradasi butiran mendapatkan = 0,1 mm dan = 0,035 mm , yang selanjutnya data ini akan di analisa untuk prakiraan erosi dan sedimentasi di wilayah studi terutama kawasan sungai Mangkusip dan sekitarnya.
50
d
d
90d. Sungai Tabalong, merupakan sungai utama pada DAS Tabalong.
keberadaan air sungai akan menjadikan kelangsungan beroperasinya PLTU tersebut.
3. RONA LINGKUNGAN AWAL 3- 9
Pengukuran sesaat geometris tampang sungai ( titik daerah intake rencana PLTU desa Belimbing Raya ), dimana lebar atas tampang basah b = 75 m dengan kedalaman bervariasi, pada titik tengah sungai kedalaman y = 3,5 m, pada bagian tepi kiri dan kanan masing-masing 1,8 m . Pengukuran kecepatan dengan current meter mendapatkan kecepatan rata-rata V = 0,39 m/dt, sehingga debit rata-rata Q = 69,5 m3/dt. Besaran debit ini merupakan salah satu besaran kapasitas sungai Tabalong yang tentunya berfluktuasi pada musim kemarau dan penghujan (lihat data debit S Tabalong) dan diharapkan akan dapat mensuplay kebutuhan operasional PLTU sebesar
±
350 L/dt.• Analisa data sedimen dari laboratorium , gradasi butiran mendapatkan = 0,2 mm dan = 0,035 mm , yang selanjutnya data ini akan di analisa untuk prakiraan erosi dan sedimentasi di wilayah studi terutama kawasan sungai Tabalong
50
d
d
90Kondisi air tanah yang tersedia cukup memadai, jika mengamati dari keberadaan sumur-sumur di sekitar konsentrasi penduduk pinggiran jalan raya Mabuun, di mana fluktuasi kedalaman air sumur
±
5 – 7 m dari level muka tanah setempat. Pergerakan air tanah di perkirakan bergerak dari arah Utara, daerah kontur tinggi bergerak ke Selatan mengikuti dengan keadaan kontur lebih rendah sampai mencapai alur pengumpul air permukaan dan air tanah yaitu sungai Tabalong dengan laju pergerakan air tanah berkisar k = 5. 10−4 cm/dt.Air hujan yang masuk menjadi air tanah diperkirakan 10 % - 30 % dari curah hujan tahunan di daerah ini yang besarnya sekitar 2000 mm. Infiltrasi air hujan menjadi air tanah dipengaruhi oleh kondisi permukaan daerah recharge. Misalnya 15 % air hujan diperkirakan menjadi air tanah, maka debit input air tanah dalam sistem air tanah Tinggian Tutupan yang terjadi adalah setara dengan 0.246 m3/det atau 246 L/det. Dengan faktor keamanan sebesar 1.5, maka debit input air tanah maksimum sebesar 164 L/det.
Air tanah di wilayah studi terdapat dalam sistem akifer yang disebut dengan strip thin leaky-multiaquifer system. Dalam sistem akifer ini aliran air tanah bersifat anisotropik, padamana drawdown searah strike lebih dominan dibanding drawdown searah dip. Fenomena ini mengindikasikan bahwa transmisi
3. RONA LINGKUNGAN AWAL 3- 10
air lebih banyak terjadi dalam arah horisontal, sehingga terdapat daerah pengaruh yang searah dengan strike.
Keberadaan akuifer/air tanah didaerah lokasi PLTU tidak feasibel atau tidak mencukupi untuk dapat memenuhi kebutuhan operasional PLTU ( 350 L/dt ) tersebut diatas.