PERKEMBANGAN EKONOMI, KETENAGAKERJAAN, DAN KEMISKINAN
BAB 3 PERKEMBANGAN EKONOMI,
3.4 Fiskal dan Moneter 1 Fiskal
3.4.1.1 Capaian Utama Pembangunan
Secara umum, perkembangan realisasi APBN selama 2014- 2016 menunjukkan kinerja yang belum cukup optimal. Dari sisi penerimaan, realisasi pendapatan negara dan hibah tahun 2015 mencapai Rp1.508,0 triliun, turun 2,7 persen dibandingkan tahun 2014 yang besarnya Rp1.550,5 triliun
3-34 PERKEMBANGAN EKONOMI, KETENAGAKERJAAN DAN KEMISKINAN
(Gambar 3.2). Penurunan tersebut disebabkan oleh menurunnya Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar Rp143,0 triliun (35,9 persen) dari Rp398,6 triliun menjadi Rp255,6 triliun. Sedangkan penerimaan perpajakan tahun 2015 mencapai Rp1.240,4 triliun atau meningkat 8,2 persen dari tahun 2014 yang sebesar Rp1.146,9 triliun.
Pada APBN-P 2016, pendapatan negara dan hibah ditargetkan sebesar Rp1.786,2 triliun, meningkat 18,4 persen dari realisasi tahun 2015 (Gambar 3.2). Realisasi sampai dengan Semester I tahun 2016 adalah Rp634,7 triliun atau mencapai 35,5 persen dari target APBN-P 2016.
Gambar 3.2
Perkembangan Realisasi Pendapatan Negara dan Hibah (Rp Triliun) Tahun 2014 – Semester I 2016
Sumber: Kementerian Keuangan Catatan: *) APBN-P
**) realisasi semester I tahun 2016
Dari sisi belanja, realisasi belanja negara mengalami perbaikan. Belanja negara tahun 2015 mencapai Rp1.806,4 triliun, meningkat 1,6 persen dibandingkan tahun 2014 (Gambar 3.3). Peningkatan tersebut terutama disumbang oleh belanja Pemerintah Pusat yang besarnya 65,5 persen terhadap total belanja negara. Dari keseluruhan belanja Pemerintah Pusat tersebut, belanja modal mengalami
PERKEMBANGANEKONOMI,KETENAGAKERJAANDANKEMISKINAN 3-35 peningkatan sebesar 46,2 persen dari tahun 2014 menjadi Rp215,4 triliun, sedangkan belanja subsidi mengalami penurunan sebesar 52,6 persen dari tahun 2014 menjadi Rp186 triliun. Penurunan subsidi terjadi pada sektor migas (subsidi BBM) yaitu sebesar 74,7 persen dibandingkan tahun 2014 dengan dihapuskannya subsidi BBM kecuali untuk solar. Perbaikan kebijakan subsidi ini memberikan dampak yang signifikan pada postur APBN (Tabel 3.8).
Dengan memperhitungkan perkembangan kondisi ekonomi yang cukup berat hingga Semester I tahun 2016 namun kualitas pembangunan perlu tetap terjaga, maka belanja negara pada APBN-P 2016, ditetapkan sebesar Rp2.082,9 triliun. Nilai tersebut meningkat 15,3 persen dari realisasi tahun 2015 (Gambar 3.3). Selanjutnya, belanja Pemerintah Pusat ditetapkan meningkat 10,4 persen menjadi Rp1.306,7 triliun. Realisasi belanja negara hingga Semester I tahun 2016 mencapai Rp865,4 triliun atau sekitar 41,5 persen dari target APBN-P 2016.
Transfer ke daerah dan dana desa terus mengalami peningkatan. Realisasi transfer ke daerah dan dana desa tahun 2015 mencapai Rp623,1 triliun, meningkat 8,6 persen dari tahun 2014 (Gambar 3.3). Peningkatan tersebut disebabkan oleh peningkatan Dana Alokasi Khusus (DAK) sebesar 72,1 persen menjadi Rp54,9 triliun. Selain itu, tahun 2015 yang merupakan tahun pertama penyaluran Dana Desa, peningkatan juga terjadi dengan adanya penyaluran Dana Desa sebesar Rp20,8 triliun.
Pada APBN-P 2016, transfer ke daerah dan dana desa direncanakan meningkat sebesar 24,6 persen menjadi Rp776,3 triliun (Gambar 3.3). Dana Transfer Khusus merupakan komponen yang mengalami peningkatan terbesar (yaitu 284,5 persen) diakibatkan adanya reklasifikasi pos anggaran dari postur transfer ke daerah tahun sebelumnya. Selain reklasifikasi tersebut, terdapat
3-36 PERKEMBANGAN EKONOMI, KETENAGAKERJAAN DAN KEMISKINAN
peningkatan DAK fisik sebesar 63,6 persen dari tahun 2015 menjadi Rp89,8 triliun. Peningkatan tersebut memberikan manfaat secara langsung kepada masyarakat antara lain melalui pembangunan pasar tradisional, pembangunan infrastruktur, serta perbaikan bangunan sekolah dan puskesmas. Realisasi transfer ke daerah dan dana desa hingga Semester I tahun 2016 mencapai Rp384,0 triliun atau 49,5 persen dari APBN-P 2016.
Gambar 3.3
Perkembangan Realisasi Belanja Negara (Rp Triliun) Tahun 2014 – Semester I 2016
Sumber: Kementerian Keuangan, Catatan: *) APBN-P
**) realisasi semester I tahun 2016
Dengan perkembangan pendapatan dan belanja negara tersebut, defisit anggaran selama tahun 2014-2016 masih terjaga. Realisasi defisit anggaran pada tahun 2015 adalah sebesar 2,6 persen dari PDB, lebih tinggi dibandingkan tahun 2014 (2,2 persen dari PDB). Peningkatan defisit tersebut dilakukan untuk menjaga target pertumbuhan ekonomi (Tabel 3.8).
Dalam APBN-P 2016, defisit anggaran ditargetkan Rp296,7 triliun atau sebesar 2,35 persen terhadap PDB, menurun dari realisasi 2015 yang mencapai 2,6 persen PDB. Hingga
PERKEMBANGANEKONOMI,KETENAGAKERJAANDANKEMISKINAN 3-37 Semester I tahun 2016, defisit anggaran mencapai Rp230,7 triliun. Defisit tersebut dibiayai melalui pembiayaan dalam negeri dan luar negeri. Realisasi pembiayaan neto hingga semester I tahun 2016 sebesar Rp276,6 triliun atau sekitar 93,2 persen dari target APBN-P 2016 (Tabel 3.8).
Tabel 3.8
Perkembangan Realisasi APBN (Rp Triliun) Tahun 2014 – Semester I 2016
Uraian 2014 2015 2016
APBN-P Semester I Pendapatan Negara dan
Hibah 1.550,5 1.508,0 1.786,2 634,7 Penerimaan Perpajakan 1.146,9 1.240,4 1.539,2 522,0 Penerimaan Bukan Pajak 398,6 255,6 245,1 112,1 Hibah 5,0 12,0 2,0 0,6 Belanja Negara 1.777,3 1.806,5 2.082,9 865,4 Belanja Pemerintah Pusat 1.203,6 1.183,3 1.306,7 481,3 *) Belanja Subsidi Energi 341,8 119,1 94,4 51,0
Transfer Ke Daerah dan Dana Desa 573,7 623,1 776,3 384,0 *) DAK Fisik 31,9 54,9 89,8 24,9 Keseimbangan Primer (93,3) (142,5) (105,5) (143,4) Surplus/Defisit Anggaran (226,8) (298,5) (296,7) (230,7) Persentase thd PDB (2,2) (2,6) (2,35) (1,83) Pembiayaan 248,9 323,1 296,7 276,6 Pembiayaan Dalam Negeri 261,2 307,9 299,3 300,9 Pembiayaan Luar Negeri (netto) (12,3) 15,2 (2,5) (24,3)
Sumber: Kementerian Keuangan
3-38 PERKEMBANGAN EKONOMI, KETENAGAKERJAAN DAN KEMISKINAN
Dengan defisit sebesar 2,35 persen pada tahun 2016, rasio utang Pemerintah Pusat tahun 2016 tetap terjaga dibawah 30,0 persen PDB.
3.4.1.2 Permasalahan dan Kendala
Permasalahan dalam keuangan negara saat ini, khususnya pada penerimaan negara, diakibatkan antara lain: (1) Masih melemahnya perekonomian global; (2) Penurunan harga komoditas SDA; (3) Penurunan harga minyak; (4) Rendahnya kepatuhan pajak; dan (5) Rendahnya cakupan basis pajak. Tidak tercapainya target pendapatan negara mengakibatkan terbatasnya ruang fiskal. Kondisi tersebut diperkirakan masih akan terjadi pada Semester II tahun 2016. Keterbatasan penerimaan negara membuat Pemerintah sulit untuk membiayai pembangunan sekaligus menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.
Dari sisi belanja, permasalahan yang dihadapi adalah masih rendahnya kualitas belanja. Hal tersebut disebabkan oleh tingginya belanja yang bersifat mandatory sehingga ruang gerak fiskal dari sisi belanja menjadi terbatas. Selain itu, sulitnya pencapaian penerimaan negara membuat pemerintah harus melakukan langkah-langkah antisipasi berupa penyesuaian belanja tanpa mengurangi komitmen pemerintah untuk menunjang belanja prioritas serta untuk menjaga defisit dalam batas yang aman.
Dari sisi transfer ke daerah dan dana desa, permasalahan yang dihadapi antara lain adalah pengelolaan dana transfer ke daerah, formulasi DAU, dan pengelolaan dana desa. Selanjutnya, pemahaman proses administrasi pada tingkat aparatur pengelola masih rendah. Selain itu, diperlukan revisi aturan dan regulasi yang mengatur hubungan keuangan pusat dan daerah. Di samping itu, dalam kondisi keuangan negara yang cukup ketat, pemerintah perlu melakukan penyesuaian dana transfer ke daerah dan dana desa tersebut.
PERKEMBANGANEKONOMI,KETENAGAKERJAANDANKEMISKINAN 3-39 Dari sisi pembiayaan, permasalahan yang dihadapi antara lain adalah tingginya proporsi kepemilikan asing dalam Surat Berharga Negara (SBN). Kondisi tersebut berpotensi berisiko tinggi manakala terjadi capital outflow. Selain itu, dominasi pembiayaan yang bersumber dari SBN dapat berpotensi tingginya imbal hasil (yield) yang memberatkan keuangan negara dan menyulitkan upaya penurunan suku bunga perbankan.
3.4.1.3 Arah Kebijakan dan Strategi
Dalam rangka menjaga pencapaian target dan sasaran pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkeadilan serta mendorong reindustrialisasi, diperlukan kapasitas fiskal negara yang kuat. Untuk mencapai sasaran penguatan kapasitas fiskal negara, maka kebijakan fiskal tahun 2016 diarahkan pada upaya-upaya sebagai berikut: (1) Penerapan kebijakan pengampunan pajak (tax amnesty) mulai Juli 2016; (2) Mobilisasi pendapatan negara melalui peningkatan penerimaan perpajakan dan optimalisasi Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP); (3) Peningkatan kualitas belanja negara melalui peningkatan efisiensi belanja Pemerintah Pusat, berupa realokasi kepada belanja yang produktif; (4) Sinkronisasi antara perencanaan dan penganggaran untuk memastikan terlaksananya berbagai agenda prioritas nasional; (5) Reformulasi dan penguatan kebijakan alokasi transfer ke daerah dan dana desa khususnya kebijakan Dana Alokasi Khusus (DAK) Fisik yang sebelumnya menggunakan mekanisme lebih bersifat top-down menjadi mekanisme
bottom-up yang didasarkan atas usulan daerah (proposal based activity); (6) Pengelolaan utang pemerintah yang diarahkan untuk membiayai pengeluaran yang produktif dengan mempertimbangkan tingkat biaya dan risiko yang terkendali; dan (7) Penerapan aturan fiskal yang ketat dengan menjaga defisit anggaran di bawah tiga persen PDB.
3-40 PERKEMBANGAN EKONOMI, KETENAGAKERJAAN DAN KEMISKINAN
Boks 3.2