• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kerjasama Ekonomi Internasional 1 Capaian Utama Pembangunan

PERKEMBANGAN EKONOMI, KETENAGAKERJAAN, DAN KEMISKINAN

BAB 3 PERKEMBANGAN EKONOMI,

3.3 Investasi dan Kerjasama Ekonomi Internasional 1 Investas

3.3.2 Kerjasama Ekonomi Internasional 1 Capaian Utama Pembangunan

a. Kerjasama ekonomi internasional dalam lingkup multilateral

Dalam forum World Trade Organization (WTO), Indonesia menyepakati Deklarasi Menteri sebagai hasil Konferensi Tingkat Menteri Ke-10, di Kenya, Nairobi, di mana pada prinsipnya telah sesuai dengan posisi Indonesia dengan menempatkan dimensi pembangunan dan fasilitas Special and Differential Treatment (SDT) sebagai sentral dalam perundingan Doha Development Agenda (DDA) dalam rangka melakukan reformasi sistem perdagangan multilateral sesuai mandat KTM Doha.

b. Kerjasama ekonomi internasional dalam lingkup regional Dalam rangka pencapaian scorecard Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) hingga akhir Desember 2015, untuk Focused

3-28 PERKEMBANGAN EKONOMI, KETENAGAKERJAAN DAN KEMISKINAN

Base menunjukkan bahwa dari 506 measures, Indonesia telah mengimplementasikan 480 measures sehingga capaian Indonesia adalah sebesar 94,9 persen dan menyisakan 26

High Priority Measures; sedangkan untuk Full ASEAN Economic Community Scorecard menunjukkan bahwa dari 611 measures, Indonesia telah mengimplementasikan sebanyak 519 measures (capaian sebesar 84,9 persen) dan masih menyisakan sebanyak 92 measures, termasuk di dalamnya sebanyak 26 High Priority Measures.

Dalam perundingan Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP), Indonesia bersama-sama dengan negara anggota ASEAN lainnya berkomitmen untuk menuntaskan perundingan RCEP pada tahun 2016. Negara-negara ASEAN juga tetap mengharapkan kepemimpinan Indonesia sebagai

coordinating country dalam perundingan RCEP.

Dalam forum Asia Pacific Economic Cooperation (APEC), terutama terkait dengan daftar produk ramah lingkungan

(Environmental Goods List/EGs List),posisi Indonesia sampai dengan bulan Oktober 2015 adalah akan mengimplementasikan penurunan tarif sampai dengan 5 persen untuk sisa 8 produk dari 54 produk HS6 secara bertahap dalam kurun waktu 5 tahun hingga tahun 2020. Dalam forum Indian Ocean Rim Association (IORA), di mana Indonesia menjadi pemimpin untuk periode tahun 2015- 2017, Indonesia terus berupaya untuk meletakkan dasar penguatan regionalisme di kawasan, antara lain dengan memaksimalkan kerja sama pada isu prioritas seperti keamanan dan keselamatan maritim, fasilitasi perdagangan dan investasi, manajemen bencana, hingga kerja sama lintas sektoral mengenai pemberdayaan perempuan khususnya di wilayah pesisir. Indonesia juga terus berupaya untuk dapat memformulasikan sebuah mekanisme kerjasama dengan mendorong peran lebih besar dari tujuh negara mitra wicara

PERKEMBANGANEKONOMI,KETENAGAKERJAANDANKEMISKINAN 3-29 IORA yaitu Amerika Serikat, Inggris, Jepang, Jerman, Mesir, Perancis, dan Tiongkok.

c. Kerjasama ekonomi internasional dalam lingkup bilateral Dalam kerjasama bilateral Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement (IJEPA), pada pertemuan bulan September 2014 kedua negara bersepakat untuk melakukan

review terhadap implementasi dan operasionalisasi perjanjian IJEPA selama lima tahun sejak diberlakukannya perjanjian IJEPA dengan menyepakati arah baru kerjasama bilateral dengan fokus pada hal-hal yang terkait dengan peningkatan kerjasama ekonomi, perdagangan, industri, dan investasi.

Dalam kerjasama bilateral antara Indonesia dan Australia, kedua Kepala Negara dan Menteri Perdagangan pada tahun 2015 bersepakat untuk memperkuat kerjasama bilateral di bidang ekonomi melalui reaktivasi perundingan Indonesia-

Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement

(IACEPA) yang sempat terhenti sejak tahun 2013 karena situasi dan kondisi politik kedua negara yang tidak kondusif pada saat itu. Sejauh ini kedua negara telah menyepakati beberapa Early Outcomes pada bulan Mei 2016, khususnya untuk kepentingan Indonesia. Kedua Kepala Negara juga telah bersepakat untuk menyelesaikan perundingan IACEPA pada akhir tahun 2017.

Saat ini Indonesia juga sedang melakukan perundingan bilateral dengan Uni Eropa dalam kerangka Indonesia - European Union CEPA (IEU-CEPA). Sejauh ini, IEU-CEPA telah berhasil menyepakati Scoping Paper IEU-CEPA pada saat kunjungan Presiden RI ke Brussels pada bulan April 2016.

Scoping Paper ini akan digunakan sebagai dasar untuk melangkah ke tahapan perundingan IEU-CEPA pada Bulan Oktober atau November 2016.

3-30 PERKEMBANGAN EKONOMI, KETENAGAKERJAAN DAN KEMISKINAN

Indonesia juga tengah berupaya untuk melanjutkan kembali perundingan dengan European Free Trade Association (EFTA) yang terdiri dari empat negara yaitu Iceland, Liechtenstein, Norwegia dan Switzerland, dalam kerangka Indonesia – EFTA CEPA (IEFTA-CEPA).

3.3.2.2 Permasalahan dan Kendala

Beberapa permasalahan dan kendala yang perlu diperhatikan dan diatasi oleh Indonesia berkaitan dengan partisipasi di dalam berbagai forum-forum internasional.

Pertama, di tingkat multilateral Indonesia harus dapat mengawal proses reformasi sistem perdagangan multilateral sesuai mandat KTM Doha, yang akan dilakukan pasca KTM Nairobi. Di tingkat multilateral Indonesia juga harus dapat menggalang posisi negara berkembang dalam memperjuangkan kepentingan negara berkembang, khususnya di sektor pertanian, dalam rangka ketahanan pangan, pengentasan kemiskinan, termasuk upaya untuk mendesak negara maju menghapus subsidi ekspor dan subsidi lainnya di sektor pertanian sesuai mandat dari KTM Hongkong 2015 agar tercipta kondisi pasar pertanian yang sehat di tingkat global.

Kedua, di tingkat regional rendahnya tingkat capaian Indonesia dibandingkan negara-negara anggota ASEAN lainnya dalam Full ASEAN Economic Community Scorecard

perlu mendapat perhatian khusus dari para pemangku kepentingan untuk memastikan terpenuhinya AEC Scorecard, terlebih lagi dengan mulai diberlakukannya Masyarakat Ekonomi ASEAN 2025 (pasca 2015).

Ketiga, di tingkat bilateral Indonesia perlu mengidentifikasi secara jelas isu-isu prioritas yang akan diperjuangkan dalam kerjasama bilateral sesuai dengan kepentingan nasional dan menguntungkan Indonesia, baik dalam IJEPA, IACEPA, IEU-

PERKEMBANGANEKONOMI,KETENAGAKERJAANDANKEMISKINAN 3-31 CEPA, maupun IEFTA-CEPA. Sebagai catatan, dalam perundingan terakhir dengan Australia dalam kerangka IACEPA, masih terjadi perbedaan pendapat, di mana Australia mengajukan pentingnya pembahasan isu-isu mengenai skills exchange, sementara kepentingan Indonesia lebih besar pada isu-isu mengenai pertanian.

3.3.2.3 Arah Kebijakan dan Strategi

Dalam rangka memperkuat peran Indonesia dalam kerjasama global dan regional, arah kebijakan bidang kerjasama ekonomi internasional pada tahun 2016 akan tetap difokuskan pada peningkatan kualitas diplomasi ekonomi dengan penguatan kebijakan yang dititikberatkan pada perkuatan diplomasi ekonomi untuk mendukung tercapainya peningkatan ekspor, pariwisata, dan investasi.

Arah kebijakan tersebut di atas akan dicapai melalui beberapa strategi sebagai berikut: (1) Pemanfaatan kerjasama Indian Ocean Rim Association (IORA), terutama pada saat keketuaan Indonesia selama periode 2015-2017, untuk memperjuangkan kepentingan ekonomi nasional yang antara lain dititikberatkan untuk mendorong: (a) Pengembangan pusat-pusat baru pertumbuhan ekonomi di kawasan pantai barat Pulau Sumatera, (b) Peningkatan pemanfaatan potensi ekonomi dan sumber daya hayati laut di kawasan Samudera Hindia wilayah barat Pulau Sumatera, terutama sektor perdagangan, pariwisata, dan perikanan, serta (c) Pengembangan jalur maritim untuk mendorong konektivitas ekonomi antara Indonesia dengan negara- negara di jalur Sabuk Samudera Hindia; (2) Peningkatan kerjasama ekonomi internasional yang lebih luas dan menguntungkan bagi Indonesia, terutama dalam forum kerjasama bilateral, dalam rangka: (a) Penurunan hambatan non tarif di pasar tradisional, terutama pada pasar Uni Eropa, Jepang, dan China, serta (b) Peningkatan akses ke pasar ekspor prospektif yang sedang tumbuh tinggi seperti

3-32 PERKEMBANGAN EKONOMI, KETENAGAKERJAAN DAN KEMISKINAN

kawasan Afrika dan Amerika Latin; (3) Peningkatan kemampuan identifikasi kepentingan nasional untuk diperjuangkan dalam forum kerjasama ekonomi internasional, baik dalam forum bilateral, regional, maupun multilateral sehingga tercipta koherensi efektif antara diplomasi politik dan diplomasi ekonomi dan salah satu upaya yang akan ditempuh adalah melalui peningkatan kapasitas para negosiator Indonesia untuk memperkuat posisi runding Indonesia dalam perundingan kerjasama ekonomi internasional; (4) Peningkatan peran aktif Indonesia dalam perumusan Masyarakat Ekonomi ASEAN Pasca 2015 yang merupakan kelanjutan dan pendalaman integrasi ekonomi ASEAN pasca penerapan Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015, dengan tetap menjaga dan mengedepankan aspek arah kebijakan dan kepentingan nasional.

Kemudian dalam rangka meminimalisasi dampak globalisasi, arah kebijakan bidang kerjasama ekonomi internasional pada tahun 2016 akan tetap difokuskan untuk mengoptimalkan pemanfaatan skema kesepakatan kerjasama ekonomi internasional bagi pembangunan ekonomi Indonesia, dengan perkuatan kebijakan yang dititikberatkan pada: (1) Perkuatan diplomasi ekonomi untuk mendukung tercapainya peningkatan ekspor, pariwisata, dan investasi; serta (2) Pemanfaatan hasil kerjasama ekonomi internasional bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat Indonesia.

Arah kebijakan tersebut di atas akan dicapai melalui beberapa strategi sebagai berikut: (1) Peningkatan daya saing perekonomian nasional dalam rangka mengimplementasikan dan memanfaatkan Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015, melalui: (a) Peningkatan peran aktif berbagai pemangku kepentingan, baik dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, maupun kalangan dunia usaha dalam mengoptimalkan manfaat dari implementasi Masyarakat Ekonomi ASEAN, (b) Peningkatan peran dan fungsi Sekretariat Nasional ASEAN, Komite Nasional ASEAN, Pusat

PERKEMBANGANEKONOMI,KETENAGAKERJAANDANKEMISKINAN 3-33 Studi ASEAN, dan ASEAN Economic Community Center (AEC Center), (c) Peningkatan efektivitas sosialiasi, komunikasi, serta layanan edukasi terhadap masyarakat dan para pelaku bisnis mengenai pemahaman dan pemanfaatan Masyarakat Ekonomi ASEAN, (d) Peningkatan iklim usaha dan investasi yang kondusif, (e) Peningkatan daya saing produk unggulan Indonesia, (f) Peningkatan insfrastrutkur, (g) Peningkatan daya saing sumber daya manusia, serta (h) Peningkatan kapasitas UKM; (2) Pemantauan dan pengkajian ulang terhadap perjanjian kerjasama ekonomi internasional yang telah berjalan maupun yang tengah dalam proses negosiasi (salah satunya adalah Indonesia- Japan Economic Partnership Agreement/IJEPA, dengan tidak menutup kemungkinan perjanjian kerjasama ekonomi internasional lainnya), untuk menjaga kepentingan nasional dalam perjanjian kerjasama ekonomi internasional serta meminimalkan dampak negatif globalisasi terhadap perekonomian nasional; (3) Menciptakan keselarasan dan sinergitas antara kebijakan kerjasama ekonomi internasional dengan kebijakan pembangunan nasional dan daerah; serta (4) Peningkatan koordinasi antar lembaga pemerintah, antara lembaga pemerintah dengan kalangan dunia usaha, akademisi, LSM, dan masyarakat dalam proses perumusan strategi diplomasi ekonomi, serta implementasi dan pemanfaatan kerjasama ekonomi internasional yang telah disepakati.

3.4 Fiskal dan Moneter