PERKEMBANGAN EKONOMI, KETENAGAKERJAAN, DAN KEMISKINAN
BAB 4 PEMBANGUNAN MANUSIA
4.10 Pengarustamaan Gender Capaian Utama Pembangunan
Pengarusutamaan gender (PUG) adalah strategi untuk mengintegrasikan perspektif gender ke dalam proses perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, serta pemantauan dan evaluasi seluruh kebijakan, program dan kegiatan pembangunan. Tujuan yang ingin dicapai adalah untuk meningkatkan kesetaraan gender dalam pembangunan, yaitu pembangunan yang lebih adil dan merata bagi seluruh penduduk Indonesia, baik perempuan maupun laki-laki. Capaian penting dalam upaya peningkatan kesetaraan gender ditunjukkan dengan meningkatnya Indeks Pembangunan Gender (IPG) dan Indeks Pemberdayaan Gender (IDG) selama tahun 2010-2014, serta menurunnya Indeks Ketimpangan Gender (IKG).
4-68 PEMBANGUNANMANUSIADANMASYARAKAT
Gambar 4.16
Perkembangan Indeks Pembangunan Gender (IPG) dan Indeks Pemberdayaan Gender (IDG) Indonesia
Tahun 2010-2014
Sumber: BPS
Gambar 4.17
Indeks Ketimpangan Gender (IKG) Indonesia Tahun 2010-2014
Sumber: HDR, UNDP
Peningkatan IPG antara lain didukung oleh peningkatan capaian di bidang pendidikan dan ekonomi perempuan yang
PEMBANGUNANMANUSIADANMASYARAKAT 4-69 lebih cepat dibandingkan laki-laki. Di bidang pendidikan, hal ini ditunjukkan dengan meningkatnya rata-rata lama sekolah penduduk perempuan usia 25 tahun ke atas yang lebih cepat dibandingkan penduduk laki-laki. Pada tahun 2010 rata-rata lama sekolah perempuan sebesar 6,89 tahun meningkat menjadi 7,23 tahun di 2014, sementara itu, rata-rata lama sekolah laki-laki meningkat dari sebesar 7,91 tahun pada tahun 2010 menjadi 8,24 tahun di 2014. Di bidang ekonomi, pengeluaran perkapita perempuan meningkat dari sebesar 8,19 juta perkapita pertahun pada tahun 2013 menjadi 8,32 juta perkapita pertahun pada tahun 2014. Sedangkan pengeluaran perkapita laki-laki pada tahun 2013 sebesar 14,13 juta perkapita pertahun, naik menjadi 14,15 juta perkapita pertahun di 2014.
Sementara itu, peningkatan IDG didukung oleh meningkatnya perempuan sebagai pengambil keputusan di lembaga eksekutif. Jumlah perempuan yang menduduki jabatan Menteri pada Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II (Tahun 2010- 2014) sebanyak 4 orang dan meningkat menjadi 8 orang pada Kabinet Kerja (Tahun 2014-2019). Persentase perempuan yang menduduki jabatan eselon I pada tahun 2014 dibandingkan kondisi 2010 meningkat dari 8,70 persen menjadi 20,66 persen, eselon II meningkat dari 7,55 persen menjadi 16,39 persen, Eselon III meningkat dari 15,70 persen menjadi 21,19 persen, Eselon IV meningkat dari 24,90 persen menjadi 34,39 persen, dan Eselon V meningkat dari 25,34 persen menjadi 30,47 persen.
Permasalahan dan Kendala
Walaupun IPG dan IDG Indonesia terus meningkat serta ketimpangan gender dalam pembangunan terus menurun seperti diuraikan di atas, namun peningkatan tersebut terlihat kurang signifikan dan disparitas antar propinsi masih tinggi (Gambar 4.19). Oleh sebab itu, Indonesia masih termasuk dalam satu dari tiga negara ASEAN dengan Indeks
4-70 PEMBANGUNANMANUSIADANMASYARAKAT
Ketimpangan Gender (IKG) yang tinggi (Human Development Report, UNDP) (Gambar 4.20)
Gambar 4.18
Disparitas Indeks Pembangunan Gender (IPG) antar Provinsi Tahun 2014
Sumber: BPS
Permasalahan yang dihadapi antara lain masih tingginya kesenjangan gender di bidang ekonomi, antara lain ditunjukkan oleh menurunnya Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) perempuan dari 51,76 persen pada tahun 2010 menjadi 50,22 persen pada tahun 2014 (Sakernas, BPS).
78.57 81.95 84.72 84.75 85.09 85.67 87.62 87.74 87.88 88.35 88.46 88.79 89.18 89.33 89.56 89.62 90.02 90.26 90.34 90.83 90.99 91.02 91.5 91.64 91.89 92.55 92.6 92.69 92.76 93.2 93.32 94.04 94.31 94.58 94.6 Papua Papua Barat Kalimantan Barat Kalimantan Timur Gorontalo Kalimantan Utara Riau Bangka Belitung Jambi Jawa Barat Kalimantan Selatan Maluku Utara Sulawesi Barat Kalimantan Tengah Sulawesi Tenggara Lampung NTB Sumatera Utara Indonesia Jawa Timur Banten Bengkulu Aceh Sumatera Selatan Jawa Tengah Maluku Sulawesi Selatan Sulawesi Tengah NTT Kepulauan Riau Bali Sumatera Barat DI Yogyakarta Sulawesi Utara DKI Jakarta
PEMBANGUNANMANUSIADANMASYARAKAT 4-71 Gambar 4.19
Indeks Ketimpangan Gender (IKG) Negara ASEAN Tahun 2008-2014
Sumber : HDR, UNDP
Keterwakilan perempuan di lembaga legislatif (DPR) juga mengalami penurunan dari 18,04 persen pada periode 2009- 2014 menjadi 17,32 persen pada periode 2014-2019 (KPU). Selain itu, kasus kekerasan terhadap perempuan juga semakin meningkat baik jumlah maupun kualitas kekerasannya.
Kendala yang dihadapi terkait pelaksanaan PUG adalah: (1) masih kurangnya komitmen para pembuat kebijakan tentang pentingnya pengintegrasian perspektif gender dalam pembangunan; (2) masih kurangnya pemahaman dan keterampilan para pelaku pembangunan di kementerian/lembaga dan pemerintah daerah tentang pelaksanaan PUG; dan (3) masih kurangnya penyediaan, analisis, dan pemanfaatan data terpilah berdasarkan jenis kelamin di semua bidang pembangunan. Sedangkan, permasalahan yang masih dihadapi terkait perlindungan
0,680 0,505 0,494 0,500 0,494 0.0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6 0.7 0.8 2008 2011 2012 2013 2014
Singapura Malaysia Vietnam
Thailand Filipina Myanmar
4-72 PEMBANGUNANMANUSIADANMASYARAKAT
perempuan dari berbagai tindak kekerasan yaitu: (1) belum tersedianya data yang memberikan gambaran tentang besaran masalah kekerasan terhadap perempuan; (2) masih kurangnya komitmen dan koordinasi antara pemangku kepentingan terkait dalam pencegahan dan penanganan kasus kekerasan terhadap perempuan; (3) masih kurangnya pemahaman masyarakat terkait bentuk dan dampak kekerasan, serta KIE kepada masyarakat dalam pencegahan dan penanganan kekerasan terhadap perempuan; dan (4) masih kurang efektifnya layanan penanganan korban kekerasan terhadap perempuan.
Arah Kebijakan dan Strategi
Arah kebijakan dan strategi yang diperlukan dalam penerapan PUG ke depan yaitu: pertama, meningkatkan kualitas hidup dan peran perempuan di berbagai bidang pembangunan, yang dilakukan melalui strategi: (i) peningkatan pemahaman dan komitmen K/L/Pemda tentang PUG; (ii) peningkatan ketersediaan data terpilah dan percepatan pelaksanaan PUG melalui perencanaan dan penganggaran yang responsif gender (PPRG) di K/L/Pemda; dan (iii) peningkatan keterlibatan organisasi masyarakat dan dunia usaha dalam menangani berbagai isu gender.
Kedua, meningkatkan perlindungan bagi perempuan dari berbagai tindak kekerasan, termasuk Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO), yang dilakukan melalui strategi: (i) peningkatan upaya pencegahan kekerasan terhadap perempuan (KtP); (ii) peningkatan akses dan kualitas layanan bagi korban KtP; (iii) penegakan hukum dan pengawasan pelaksanaan penegakan hukum bagi korban KtP; (iv) peningkatan ketersediaan data KtP; (v) peningkatan keterlibatan organisasi masyarakat dan dunia usaha dalam mencegah dan menangani KtP; dan (vi) peningkatan perlindungan bagi tenaga kerja perempuan.
PEMBANGUNANMANUSIADANMASYARAKAT 4-73
Ketiga, meningkatkan kapasitas kelembagaan PUG dan kelembagaan perlindungan perempuan dari KtP, yang akan dilakukan melalui strategi: (i) peningkatan komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) tentang PUG dan KtP; (ii) penyusunan peraturan perundang-undangan dan kebijakan yang responsif gender di K/L/Pemda; (iii) pelaksanaan reviu, harmonisasi, dan penyusunan peraturan perundang- undangan, kebijakan, dan aturan pelaksanaan terkait KtP; (iv) peningkatan kapasitas SDM lembaga penggerak PUG/PPRG dan lembaga layanan bagi korban KtP; (v) penguatan mekanisme koordinasi antara pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha dalam penerapan PUG/PPRG serta pencegahan dan penanganan KtP; (vi) penguatan jejaring PUG di pusat dan daerah; (vii) penguatan sistem penyediaan, pemutakhiran, dan pemanfaatan data terpilah dan data KtP; (viii) penguatan kelembagaan PUG dan perlindungan perempuan di K/L/Pemda; dan (ix) pemantauan dan evaluasi terhadap pelaksanaan dan hasil PUG/PPRG dan pelaksanaan kebijakan pencegahan dan penanganan KtP.