PROVINSI KALIMANTAN BARAT
FOKUS DAN TUJUAN PENELITIAN
Menurut Undang Menurut Undang-Undang No.23 Tahun 1997, Bab 1, pasal 1, dijelaskan, Lingkungan Hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain. Sudah disadari bahwa masalah lingkungan bukan milik negara dan bukan pula milik suatu kawasan regional. Ia sudah bermakna global. Maka tidak mengherankan apabila sikap think globally, act locally sering didengungkan oleh para pecinta lingkungan (LPDS, 1996).
Sebagai wilayah yang tetap menjunjung tinggi nilai budaya dan adat istiadat, keberadaan masyarakat adat cukup dominan dalam perannya sebagai agen komunikasi pembangunan di wilayah Kapuas Hulu. Agen komunikasi pembangunan berbasis lingkungan hidup diasumsikan adalah individu atau kelompok masyarakat yang secara sadar berperan aktif sebagai unsur utama dalam pelestarian lingkungan hidup. Dari itu, penelitian ini difokuskan pada:
a. Bagaimana bentuk kearifan lokal masyarakat Kapuas Hulu dalam menjaga kelestarian lingkungan hidup?
b. Bagaimana peran masyarakat adat sebagai agen komunikasi pembangunan dalam menjaga lingkungan hidup di Kabupaten Kapuas Hulu?
Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bagaimana peran masyarakat adat sebagai agen komunikasi pembangunan dalam menjaga lingkungan hidup di wilayah Kapuas Hulu.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dimana Strauss dan Carbin (dalam Sukidin, 2002:1) menjelaskan bahwa metode ini merupakan jenis penelitian yang menghasilkan penemuan-penemuan yang tidak dapat dicapai dengan menggunakan prosedur-prosedur statistik atau dengan cara kuantiikasi lainnya. Penelitian kualitatif dapat digunakan untuk meneliti kehidupan masyarakat, sejarah, tingkah laku, fungsionalisasi organisasi, pergerakan-pergerakan sosial atau hubungan kekerabatan.
Secara umum, penelitian kualitatif memiliki ciri, diantaranya: intensif,
realitas dan holistik,depth (dalam), prosedur penelitian: empiris rasional dan tidak berstruktur, dan hubungan antara teori, konsep dan data: data memunculkan atau membentuk teori baru.(Kriyantono, 2006:58)
Pendekatan kualitatif digunakan karena pada penelitian ini peneliti tidak bermaksud untuk mengukur secara angka-angka dan statistik sebuah fenomena, melainkan untuk memahami karakter dari fenomena tersebut. Hal ini sesuai dengan yang diungkapkan oleh Miller (2002:69) “Qualitative methods of research are valuable when we wish not to count or measure phenomena but to understand the caracter of experience, particularly how people perceive and make sense of their experience. his involves interpreting meaning and other unobservable dimensions of communication.”
Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara dan kajian literatur. Teknik analisis data menggunakan teknik analisis data interaktif oleh Miles dan Hubermas (1992), meliputi pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan pengambilan kesimpulan
PEMBAHASAN
Kapuas Hulu, meski ditetapkan sebagai salah satu wilayah 3T, pada saat ini kondisi lingkungan hidup di Kabupaten Kapuas Hulu apabila dibandingkan dengan kabupaten – kabupaten lain yang ada di Provinsi Kalimantan Barat masih tergolong relatif cukup baik, termasuk pada daerah perbatasan dangan Malaysia. Namun di sisi lain, keberadaan perkebunan sawit di Nanga Badau dan sekitarnya, persoalan illegal loging yang terjadi pada tahun 2004 berdampak besar bagi lingkungan di daerah ini. Selain itu, adanya komitmen Pemerintah Daerah dan Pemerintah Pusat untuk memberantas illegal lloging sangat berdampak positif bagi pengurangan kerusakan lingkungan di daerah perbatasan. Keberadaan Taman Nasional juga sangat berdampak positif bagi perlindungan lingkungan.
Bumi Uncak Kapuas ini, terkenal dengan adanya Taman Nasional, yakni Taman Nasional Danau Sentarum (TNDS) dan Taman Nasional Betung Kerihun (TNBK). Berdasarkan data dari Bappeda Kabupaten Kapuas Hulu, 56,21% wilayah Kabupaten Kapuas Hulu adalah berfungsi sebagai Kawasan Lindung dan Konservasi. Kawasan Lindung dan Konservasi terdiri dari Taman Nasional Betung Kerihun (TNBK) dan Taman Nasional Danau Sentarum (TNDS) seluas 940.385 Ha (30,17%), Hutan Lindung seluas
803.614 Ha (26,04%), sisanya Hutan Produksi, Hutan Produksi Terbatas, Hutan Produksi Konversi dan Areal Penggunaan Lain (APL).
Kekayaan sumber daya alam ini, selayaknya dilestarikan untuk menjaga keseimbangan alam. Karena itu, Kapuas Hulu juga dikenal dengan nama
he Heart of Borneo, sebagai wilayah konservasi alam yang kaya di wilayah Kalimantan, juga dunia. Hal yang dapat menjadi nilai plus kabupaten ini adalah selain topograi keadaan alam yang indah, kabupaten ini juga masih mempertahankan warisan budaya lokal. Mulai dari adat-istiadat, folklore, berbagai motif pakaian adat, serta masih ditemukannya rumah adat asli penduduk lokal. Banyaknya bangunan rumah panjang atau Rumah Betang yang menjadi rumah asli penduduk lokal yakni Suku Dayak juga menjadikan Kabupaten Kapuas Hulu berbeda dari kabupaten lainnya (Awang, 2014).
Kabupaten Kapuas Hulu salah satu daerah yang didiami banyak Sub Suku khususnya Sub Suku Dayak, diantaranya Sub Suku Daya Iban, Tamambaloh, Taman Kapuas, Punan, Iban, Kantuk, Kayan, Suruk, Pangin Orung Da’an dan masih banyak lainnya, termasuk suku Melayu. Secara karakteristik Sub Suku Daya pada umumnya lebih mendiami daerah – daerah perhuluan sungai, sebagai contoh Suku Dayak Sub Daya Kayan mendiami sungai Mendalam, Sub Daya Pangin Orung Da’an mendiami Sungai Kalis, namun sedikit berbeda dengan Suku Melayu yang pada umumnya lebih terfokus disekitar tepian Sungai Kapuas dan danau – danau. Namun disisi lain, baik Suku Dayak maupun Suku Melayu dalam hidupnya sejak dulu sangat tergantung dengan alam, baik itu hutan dan isinya maupun air. Oleh karenanya masyarakat sangat menjaga keberadaan hutan dan isinya guna keberlangsungan hidup mereka.
Eksistensi Rumah Betang tidak hanya mempertahankan bentuk asli rumah sebagai tempat tinggal masyarakat setempat, melainkan nilai luhur serta spirit yang diejawantahkan dalam Rumah Betang juga masih terus dipertahankan. Pada sisi ini, masyarakat Indonesia secara keseluruhan dapat kembali berkaca pada semangat rumah betang dimana hidup secara kekeluargaan dan kegotong-royongan adalah cara hidup yang dimiliki oleh nenek moyang kita terdahulu (Awang, 2014).
a. Bentuk Kearifan Lokal Masyarakat Kapuas Hulu
Satu produk konferensi PBB tentang Lingkungan dan Pembangunan (UNCED) atau Konferensi Tingkat Tinggi Bumi di Rio de Jeneiro, Brazil, yang berlangsung bulan Juni 1992 ialah “agenda 21”, sebuah dokumen
500 halaman lebih berisi program bertindak di setiap bidang kegiatan manusia yang berdampak terhadap lingkungan untuk kini dan selanjutnya sampai abad ke-21. Menurut agenda-21, masalah lingkungan tersebut terdiri atas dua kelompok besar. Pertama ialah dimensi ekonomi sosial, seperti penanggulangan kemiskinan, dinamika demograi, dan kerjasama internasional. Kedua, ialah pelestarian dan pengelolaan sumber daya. Ini mencakup antara lain udara, tanah, hutan, laut berikut tumbuh-tumbuhan dan binatang dialaminya (LPDS, 1996).
Secara historis, masyarakat Kabupaten Kapuas Hulu, baik itu Suku Dayak maupun Suku Melayu yang ada di kabupaten ini, memiliki hubungan yang sangat erat dengan alam maupun lingkungannya. Sejak dahulu masyarakat hidup berdampingan dengan alam, menjaga dan memanfaatkan alam sebagai sumber penghidupan bagi masyarakat. Bahkan seolah alam/ lingkungan seolah ATM (Anjungan Tunai Mandiri) bagi masyarakat. Apabila masyarakat perlu ikan mereka tinggal turun ke sungai memasang pukat, memasang pancing, bubu dan lain sebagainya. Pulangnya mereka bisa membawa ikan untuk kebutuhan keluarga mereka. Sebaliknya, apabila masyarakat perlu makan daging, tinggal pergi ke hutan berburu dan dapat, sayur – sayuran, obat – obatan juga tersedia di alam. Oleh karena itu, apa bila lingkungan rusak, alam rusak, kehidupan masyarakat pun akan tidak seimbang, mereka akan kesulitan memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari – hari. Masyarakat di Kabupaten Kapuas Hulu menyadari betul akan pentingnya alam maupun lingkungan guna keberlangsungan hidup mereka dan generasi yang akan datang, oleh sebab itu sampai saat ini masyarakat masih menjaga lingkungannya serta memanfaatkan sewajarnya.
Selain kedekatan dan hubungan yang saling terkait antara manusia dan lingkungannya/alam, pada masyarakat adat juga ada mengatur tentang bagaimana menjaga lingkungan. Sebagai contoh, dalam buku Adat Suku Daya Sub Suku Dayak Pangin Orung Da’an ada mencantumkan tentang bagaimana seharusnya warganya membakar ladang, melindungi tempat – tempat keramat, melindungi mata air dan binatang – binatang langka seperti Orang Utan. Apabila ada warga masyarakat yang membunuh Orang Utan, orang tersebut wajib melakukan ritual adat “Buang Pantang” karena menurut masyarakat setempat, membunuh Orang Utan sama halnya dengan membunuh manusia. Bukan hanya pada suku Dayak Sub Suku Daya Pangin Orung Da’an, pada sub – sub suku daya lainnya juga ada mengatur hal yang sama, diantaranya Pada Suku Daya Sub Dayak Tamambaloh, ada aturan adat
yang melarang warga luar dan warganya meracun ikan maupun menyetrum ikan di sungai apabila ketahuan akan dikenakan sangsi adat, sesuai dengan ketentuan adat yang berlaku
Maraknya persoalan bakar ladang yang dilakukan masyarakat, dalam hal ini, masayarakat adat memiliki aturan sendiri. Bila membakar ladang, orang yang punya ladang wajib membawa warga masyarakat yang lain waktu pembakaran, tujuannya ialah membantu mengamankan apabila api menyebar keluar areal ladang. Apabila terjadi kasus api yang bersangkutan menyebar ke kebun orang lain yang bersebelahan dengan ladang tersebut, maka yang punya ladang akan dikenakan sangsi seperti:
1) Untuk kebun karet yang belum produksi dikenakan sangsi 50 ribu/ batang;
2) Karet yang sudah produksi sangsinya 250 ribu/batang.
3) Untuk jenis tanaman buah – buahan seperti durian, tengkawan, rambutan, langsat dan lain sebagainya tergantung nilai ekonomi buah – buahan tersebut.
Sangsi adat ini, sebagai bentuk kearifan lokal yang hingga kini masih diterapkan di Kapuas Hulu dan cukup efektif untuk menekan pembakaran ladang yang sporadis.
b. Peran Masyarakat Adat Sebagai Agen Komunikasi Pembangunan
Masyarakat Kabupaten Kapuas Hulu, khususnya Dayak dan Melayu memiliki hubungan yang erat dengan lingkungan (alam dan isinya). Masyarakat hidup sangat tergantung dengan lingkungannya, mereka hidup, menjaga dan memanfaatkan lingkungan sejak dulu, bahkan ada ritual – ritual adat yang rutin dilakukan oleh masyarakat sebagai bentuk pujian dan doa pada alam dan Sang Pencipta. Masyarakat adat Dayak Sub Dayak Tamambaloh berpendapat bahwa hidup mereka sangat tergantung pada tiga hal, tiga hal tersebut ialah Rumah Panjang, Adat Istiadat dan Lingkungan (Alam dan isinya) apabila satu diantara ketiga hal tersebut hilang maka kehidupan masyarakat Tamambaloh pun diyakini tidak utuh lagi sebagai masyarakat adat.
Sejalan dengan itu pada masyarakat Dayak Sub Daya Iban khususnya Sub Dayak Iban yang ada di Desa Batu Lintang (Sungai Utik), mereka selalu menyampaikan kepada siapa pun yang datang bahwa Hutan adalah nafas Dayak Iban dan Air adalah darah bagi mereka, oleh karenanya apabila satu
diantara dua hal ini rusak sama halnya membunuh mereka dan generasi yang akan datang. Oleh sebab itu masyarakat adat di daerah ini, Kapuas Hulu, pada umumnya sampai saat ini masih menjaga lingkungan mereka dengan baik.
Guna menguatkan peran masyarakat dalam menjaga kelestarian lingkungan hidup, sederhana, diantaranya, ditengah harga karet yang sangat anjlok, sementara sebagian besar masyarakat hidup dari karet, perlu adanya alternatif mata pencaharian bagi masyarakat. Kedua perlu adanya kegiatan peningkatan kapasitas SDM masyarakat lokal dalam mengelola dan mengembangkan sumberdaya alam yang ada, contonya pemanfaatan jasa lingkungan, pariwisata dan lain sebagainnya. Masyarakat harus dilibatkan dalam setiap kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah maupun para NGO, baik dalam hal perencanaan, implementasi maupun dalam tahap evaluasi, khususnya kaitannya dengan lingkungan.
Agen komunikasi pembangunan dapat juga diidentiikasi sebagai agen perubahan, yakni seseorang yang membantu terlaksananya perubahan sosial atau suatu inovasi yang terencana (Haverlock, 1973). Agen-agen perubahan ini, berfungsi sebagai mata rantai komunikasi antardua (atau lebih) sistem sosial, yaitu menghubungkan antara suatu sistem sosial yang smenjadi klien dalam usaha perubahan tersebut (Rogers dan Shoemaker, 1971).
Sejauh ini komunikasi yang dilakukan sudah menujuh ke arah yang positif, dalam artian semua elemen, baik pemerintah, elemen masyarakat maupun NGO mulai menjalin kerjasama baik dalam melakukan pemberdayaan masyarakat, peningkatan kapasitas masyarakat dan melakukan evaluasi bersama. Namun disisi lain, tidak bisa dipungkiri bahwa ada kekecewaan yang dialami oleh masyarakat, khususnya masyarakat yang tinggal dalam kawasan konservasi maupun kawasan lindung. Karena bukan rahasia lagi bahwa untuk wilayah – wilayah yang sudah ditetapkan sebagai kawasan konservasi maupun kawasan lindung akan sulit sulit membangun maupun dibangun dan aksesnya ke hutanpun sangat dibatasi, karena aturannya sangat jelas.
Kekecewaan itu, dari masyarakat merasa mereka selama ini menjaga/ melindungi lingkungan (hutan dan isinya) namun mereka tidak mendapa kompensasi apapun dari itu, bahkan untuk mereka membangun jalan, sawah, mengambil sesuatu dari hutan pun dilarang. Hutan Produksi, Hutan Produksi Terbatas dan Hutan Konvensi, ini kawasan yang biasanya sudah terbebani ijin, baik Hak Penguasaan Hutan (HPH), pertambangan
maupun perkebunan. Sama halnya dengan kawasan hutan lindung dan taman nasional, pada kawasan hutan produksi pun masyarakat tidak boleh memanfaatkannya dan mensertiikatkannya. Sedangkan APL, daerah haknya masyarakat yang boleh di kelola, dan di sertiikatkan oleh masyarakat. Namun kenyataannya hampir semua areal APL yang ada juga sudah terbebani ijin yang dikeluarkan oleh bupati maupun gubernur, khususnya perkebunan dan pertambangan.
Hal ini yang akhir – akhir ini menjadi dilema bagi pemerintah daerah dan Taman Nasional. Padahal pada dasarnya masyarakat tidak anti dengan kawasan konservasi maupun kawasan lindung, karena tidak ditetapkan menjadi kawasan hutanpun masyarakat akan tetap menjaga lingkungannya, hanya yang menjadi persoalan bagi mereka ialah tempat tinggal merekapun masuk dalam kawasan dan untuk membangun diri merekapun tidak boleh karena ini kawasan yang dilindungi.
Karena itu, perlu dibangun komunikasi antara masyarakat dan pemerintah terkait hal ini dan secepatnya perlu ada solusi, sehingga masyarakat tidak merasa dianak tirikan dan mereka bisa dibangun, serta bisa membangun daerahnya tanpa merusak lingkungan. Ditambah lagi pada akhir – akhir ini sering terjadi musibah banjir dan daerah – daerah yang dilandah banjir ialah daerah – daerah yang lingkungannya sudah rusak, baik disebabkan oleh perkebunan sawit, HPH maupun pertambangan dan kejadian ini dirasakan langsung, didengar maupun dibaca dan ditonton masyarakat melalui media. Melihat kejadian tersebut masyarakat semakin sadar akan pentingnya menjaga lingkungan. Selain itu, perlu adanya kejelasan bagi masyarakat yang berada dalam kawasan hutan. Sehingga mereka bisa hidup, bisa dibangun seperti daerah – daerah lainnya. Jangan sampai karena kekecewan mereka terhadap pemerintah, mereka malah membabat hutan sebagai bagian dari aksi protes mereka.
Dalam hal ini, peran media massa diperlukan. Hal yang paling penting dilakukan media massa di Kabupaten Kapuas Hulu, khususnya kaitanya dengan persoalan lingkungan ialah mereka harus memberitakan segala hal dengan seimbang, baik dari sisi masyarakatnya maupun dari sisi lingkungannya. Kedua, media massa seharusnya terus mengkampanyekan tentang persoalan – persoalan lingkungan, diantaranya kasus perkebunan sawit, penambangan emas, HPH dan lain sebagainya yang pada akhirnya hanya menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat. Seperti sering terjadi banjir, longsor, air tidak layak konsumsi dan lain sebagainya.
Sebagai bentuk penguatan peran yang bisa dilakukan oleh masyarakat sebagai agen komunikasi pembangunan, terutama pemuda Kapuas Hulu yang tetap menjunjung tinggi kearifan lokal, untuk menjaga kelestarian lingkungan hidup, diantaranya:
1) Memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang arti penting menjaga lingkungan;
Maksudnya ialah sebagai anak muda harus berperan aktif mensosialisasikan tentang pentingnya menjaga lingkungan, bukan hanya mengekspoloitasinya tanpa bertanggung jawab, juga melihat keberlanjutannya. Sebab apabila lingkungan rusak akan berdampak buruk bagi manusia dan alam. Dengan lingkungan yang tetap terjaga, masyarakat akan tetap bisa mengambil apapun dari alam, baik ikan, daging, rotan, kayu, obat-obatan dan lain sebagainya. Kebutuhan masyarakat akan hal - hal ini akan terus ada selagi kehidupan manusia ada di bumi.
2) Memberikan pendidikan dan pendampingan terkait bagaimana memanfaatkan lingkungan dengan seimbang, lestari dan bertanggungjawab; Akhir - akhir ini orientasi pembangunan di desa - desa mulai cenderung pada eksploitasi sumber daya alam secara berlebihan dan sering melupakan aspek lingkungan. Padahal pembangunan yang tidak seimbang akan menimbulkan dampak negatif bagi manusia itu sendiri, tidak untuk sekarang tapi di masa yang akan datang pasti. Oleh karenanya pendampingan kepada masyarakat terkait bagaimana seharusnya memanfaatkan lingkungan dengan lestari. Tidak hanya melihat sisi ekonomi, sisi budaya dan lingkungan juga penting dalam melakukan pembangunan di desa.
3) Memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa apa yang ada sekarang merupakan titipan dari generasi yang akan datang oleh karenanya perlu dijaga;
Dalam upaya ini, istilah “titipan generasi yang akan datang” akhir- akhir ini sering digunakan oleh para agen komunikasi pembangunan di masyarakat Kapuas Hulu. Karena, kita melihat bahwa sesuatu yang ada sekarang ini (alam dan isinya) merupakan titipan dari anak cucu kita, artinya sesuatu yang dititip harus kita jaga. Mengapa demikian? supaya barang yang dititip ini pada masa yang akan datang (anak/cucu) mereka bisa menikmati apa yang mereka titip dan begitu seterusnya. Akan berbeda apabila kita melihat (alam dan isinya) ini sebagai warisan
untuk kita, yang namanya warisan itu artinya menjadi hak kita dan kita bisa saja menghabiskan/menghancurkannya.
4) Memberikan informasi yang valid terkait kejadian – kejadian atau persoalan – persoalan yang dihadapi orang –orang yang lingkungannya sudah hancur;
Peran agen komunikasi pembangunan di sini lebih pada memberikan infomasi, baik melalui media, maupun berbicara langsung kepada masyarakat tentang kejadian - kejadian di daerah lain, yang hutannya hancur, lingkungan rusak, sehingga sering terjadi musibah alam yang merugikan bahkan menghilangkan nyawa warga.
5) Mendorong pemangku adat supaya dalam aturan/buku adatnya juga perlu mengatur tentang cara melindungi dan memanfaatkan lingkungan (alam dan isinya) secara lestari (bagi yang belum punya).
Maksudnya ialah, bagaimana mendorong para temenggung, kadat
dan pemangkuh adat lainnya di dalam aturan/buku adannya penting menjelaskan tentang tata cara memanfaatkan dan melindungi lingkungan (hutan dan seisinya). Sejauh ini memang sudah ada beberapa masyarakat adat yang telah memasukkan hal itu dalam aturan adatnya, namun masih terlalu umum dan tidak semua sudah mengatur hal itu. Di sisi lain selama ini masyarakat adat selalu berteriak /memperjuangkan hak/wilayah adat mereka. Namin di lain sisi ketika ditanya apakah ada aturan dalam hukum adat yang mengatur tentang wilayah yang diperjuangkan, masyarakat adat kesulitan menjawabnya. Hal lain, yang penting untuk dilakukan adalah aturan ini dimasukkan dalam mata pelajaran formal di sekolah, misalnya dalam mata pelajaran muatan lokal. Sehingga generasi muda bisa tetap mengetahui tentang aturan adat yang ada di daerahnya, serta tidak kehilangan identitasnya sebagai masyarakat adat.
Penutup Simpulan
Menjaga kelestarian lingkungan hidup di Kabupaten Kapuas Hulu tidaklah sulit, karena pada dasarnya masyarakat sangat sadar akan pentingnya menjaga lingkungan. Keberadaan budaya lokal maupun kearifan lokal yang ada sangat berpengaruh besar dalam menjaga lingkungan,
karena tanpa diarahkan, tanpa perlu diperintah pun, masyarakat dengan sendirinya akan menjaga lingkungannya. Hal ini dikarenakan masyarakat Kapuas Hulu merupakan masyarakat yang masih memegang teguh budaya mereka termasuk kearifan lokal yang ada masih sangat dijaga. Peran masyarakat adat yang menjunjung tinggi budaya dan kearifan lokal, layaknya diapresiasi dengan tepat oleh pemerintah setempat. Sebagai agen komunikasi pembangunan, penguatan peran masyarakat adat didampingi oleh NGO lingkungan hidup yang peduli akan konservasi alam. Dari merekalah, kelestarian lingkungan akan dapat dijaga hingga kapanpun.
DAFTAR PUSTAKA
Darsono. Valentinus. 1995. Pengantar Ilmu Lingkungan Edisi Revisi. Penerbitan Universitas Atmajaya, Yogyakarta.
Kriyantono, Rachmat. 2007. Teknik Praktis Riset Komunikasi. Jakarta: Kencana Perdana Media Grup
Lembaga Pers Dr. Soetomo (LPDS). 1996. Mengangkat Masalah Lingkungan Ke Media Massa., LPDS dan Yayasan Obor Indonesia, Jakarta. Miles, Matthew B. & Huberman, A Michael. 1992. Analisis Data Kualitatif.
Terjemahan Tjetjep Rohendi Rohidi. Jakarta : UI Press.
Mulyana, Deddy. 2002. Metodologi Penelitian Kualitatif. PT. Remaja Rosdakarya. Bandung
Nasution, Zulkarimen. 2009. Komunikasi Pembangunan : Pengenalan Teori dan Penerapannya. Rajawali Press. Jakarta.
Oetama, Jakob. 1987. Perspektif Pers Indonesia. LP3ES, Jakarta.
Jurnal:
Jumrana. 2012. Model-Model Disain Komunikasi Pembangunan. Acta Diurna Vol 8 No.2.
Jurnal Ilmu Sosial Transformatif. 2002. Wacana Lingkungan Versus Kapitalisme Global Edisi 12 Tahun III. Insist Press, Yogyakarta Misnawati, Indah Tri. 2013. Strategi Komunikasi pada Kampanye
Perlindungan Orangutan Oleh LSM Centre for Orangutan Protection (COP) di Samarinda, Kalimantan Timur.e-journal.ilkom.isip- unmul.ac.id
Sumber Lain:
http://ditjenpdt.kemendesa.go.id Kapuas Hulu Dalam Angka. 2016. BPS
http://kapuashulukab.go.id/statis-2-geograi.html
https://www.kompasiana.com/iman.saiaw/senja-di-bumi-uncak- kapuas_54f985fda33311106a8b47fc