• Tidak ada hasil yang ditemukan

KAJIAN PUSTAKA

Dalam dokumen Komunikasi Pariwisata Budaya dan Pengemb (Halaman 33-37)

PRODUK UNGGULAN KABUPATEN LEBAK

KAJIAN PUSTAKA

Kebijakan Pengembangan Usaha Mikro Kecil dan Menengah.

Berdasarkan Undang Undang Republik Indonesia No 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah, ada perbedaan deinisi antara usaha mikro, kecil dan menengah. Usaha Mikro adalah usaha produktif milik orang perorangan dan/atau badan usaha perorangan yang memenuhi kriteria tertentu.

Sementara, Usaha Kecil adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dari Usaha Menengah atau Usaha Besar yang memenuhi kriteria tertentu.

Adapun, Usaha Menengah adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dengan Usaha Kecil atau Usaha Besar dengan jumlah kekayaan bersih tertentu.

Tabel 2. Kategori Ukuran Usaha Berdasarkan Aset dan Omset Ukuran Usaha Kriteria Aset Omset Usaha mikro

Maksimal Rp. 50 Juta Maksimal Rp. 300 Juta Usaha

kecil

> Rp. 50 Juta – Rp 500 Juta > Rp. 300 Juta – Rp 2,5 Miliar Usaha

menengah

> Rp. 500 juta – Rp 10 Miliar > Rp. 2,5 Miliar – Rp. 50 Miliar

Sumber: Undang Undang Republik Indonesia No 20 Tahun 2008

Namun demikian dengan segala keterbatasan yang dimiliki oleh UMKM sektor ini merupakan penyumbang product domestic bruto (PDB) terbesar bagi Indonesia. Berdasarkan data dari Departemen Koperasi

dan UMKM sektor ini mampu menghasilkan PDB sebesar 60,34% (Rp 5.440 Triliun), dengan laju pertumbuhan sebesar 11,71% pertahun (Data Kementerian Koperasi dan UMKM tahun 2013). Selain itu UMKM secara geograis tersebar di seluruh tanah air, di semua sektor. Memberikan layanan kebutuhan pokok yang dibutuhkan masyarakat. Multiplier efect-nya tinggi. Merupakan instrumen pemerataan pendapatan dan mengurangi ketimpangan kesejahteraan masyarakat.

Dari data yang telah diuraikan dapat terlihat dengan jelas tingkat signiikansi UMKM bagi perekonomian Indonesia. Namun demikian masih banyak tantangan dan hambatan yang harus diatasi oleh sektor UMKM agar tetap menjadi garda terdepan perekonomian Indonesia.

Keunggulan Lokal dan Tantangan Masyarakat Ekonomi ASEAN

Keunggulan lokal suatu daerah dapat dipahami sebagai segala sesuatu menjadi ciri khas kedaerahan baik itu aspek ekonomi, budaya, komunikasi, ekologi, dan teknologi. Beberapa referensi juga menyebutkan bahwa keunggulan lokal daerah dapat diartikan sebagai hasil bumi, kreasi seni, tradisi budaya, pelayanan, jasa, sumber daya alam, sumber daya manusia atau hal lain yang menjadikan daerah memiliki keunggulan (Asmani, 2012:54).

Indonesia tengah bersiap menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015. Dampak terciptanya MEA adalah pasar bebas di bidang permodalan, barang dan jasa, serta tenaga kerja. Adapun tujuan dibentuknya MEA adalah untuk meningkatkan stabilitas perekonomian dikawasan ASEAN, serta diharapkan mampu mengatasi masalah-masalah di bidang ekonomi antar negara ASEAN. Hal ini dikarenakan ASEAN merupakan kekuatan ekonomi ketiga terbesar setelah Jepang dan Tiongkok, di mana terdiri dari 10 Negara yaitu Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Vietnam, Laos, Myanmar, Filipina, hailand, dan Kamboja.

Pembentukan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) berawal dari kesepakatan para pemimpin ASEAN dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) pada Desember 1997 di Kuala Lumpur, Malaysia. Kesepakatan ini bertujuan meningkatkan daya saing ASEAN serta bisa menyaingi Tiongkok dan India untuk menarik investasi asing. Modal asing dibutuhkan untuk meningkatkan lapangan pekerjaan dan kesejahteraan warga ASEAN. Dan pada KTT selanjutnya yang berlangsung di Bali Oktober 2003, petinggi ASEAN mendeklarasikan bahwa pembentukan MEA pada tahun 2015.

Ada beberapa dampak dari konsekuensi MEA, yakni dampak aliran bebas barang bagi negara-negara ASEAN, dampak arus bebas jasa, dampak arus bebas investasi, dampak arus tenaga kerja terampil, dan dampak arus bebas modal.

Kemampuan UMKM untuk bersaing di era perdagangan bebas, menurut Susila dan Lestari (2014) sangat ditentukan dua faktor, pertama, lingkungan internal UMKM yang mencakup aspek kualitas SDM, penguasaan teknologi dan informasi, struktur organisasi, sistem manajemen, kultur/budaya bisnis, kekuatan modal, jaringan bisnis dengan pihak luar, dan tingkat kewirausahaan (entrepreneurship).

Adapun faktor kedua, berkaitan dengan lingkungan eksternal yaitu kebijakan pemerintah, aspek hukum, kondisi persaingan pasar, kondisi ekonomi-sosial kemasyarakatan, kondisi infrastruktur, tingkat pendidikan masyarakat, dan perubahan ekonomi global. Selain kedua kondisi tersebut, strategi pemberdayaan UMKM untuk dapat memasuki pasar global menjadi sangat penting bagi terjaminnya kelangsungan hidup UMKM, termasuk pilihan strategi komunikasi pemasaran.

Komunikasi Pemasaran Pariwisata Berbasis Budaya Lokal.

Secara umum, komunikasi pemasaran merupakan kegiatan untuk menyebarkan informasi, mempengaruhi, dan atau meningkatkan pasar sasaran atas perusahaan maupun produk agar bersedia menerima, membeli, dan setia kepada produk yang ditawarkan produsen (Lamb, Hair, McDaniel, 2001: 145-146.)

Lebih spesiik menurut Belch & Belch (2004) merupakan proses yang dilakukan oleh perusahaan dalam mengkoordinasikan beberapa elemen promosi dan kegiatan pemasaran lain dengan tujuan menjalin komunikasi dengan konsumen perusahaan. Komunikasi pemasaran word of mouth

biasa dilakukan pelaku UMKM karena tidak memerlukan biaya besar seperti halnya iklan. Biasanya cerita dan pengalaman seorang konsumen akan diceritakan kepada calon konsumen lain sebagai kekuatan komunikasi

word of mouth (Isnaini, 2010).

Faktor budaya merupakan aspek yang memiliki pengaruh signiikan dalam komunikasi pemasaran. Budaya lokal dapat dipahami sebagai kumpulan pengetahuan dan cara berpikir sekelompok manusia, sebagai hasil pengamatan dan adaptasi dalam kurun waktu yang relatif lama

mengenai struktur, fungsi, dan reaksi alam serta hubungan antara manusia dengan lingkungan alam (Zakaria, 1994).

Menurut Garrod (2001:4), membagi dua pendekatan berkaitan dengan penerapan prinsip prinsipperencanaan dalam konteks pariwisata. Pendekatan pertama yang cenderung dikaitkan dengansistem perencanaan formal sangat menekankan pada keuntungan potensial dari ekowisata.

Pendekatan ke dua, cenderung dikaitkan dengan istilah perencanaan yang partisipatif yang lebihberkonsentrasi pada ketentuan dan pengaturan yang lebih seimbang antara pembangunanan dan perencanaan terkendali. Pendekatan ini lebih menekankan padakepekaan terhadap lingkunganalam dalam dampak pembangunan ekowisata.

Salah satu bentuk perencanaan yang partisipatif dalam pembangunan pariwisata adalah denganmenerapkan Community Based Tourism (CBT) sebagai pendekatan pembangunan ( Garrod dalam Sri Endah, 2012) Deinisi CBTyaitu: 1) bentuk pariwisata yang memberikan kesempatan kepada masyarakat lokal untuk mengontrol dan terlibat dalam manajemen dan pembangunan pariwisata, 2) masyarakat yang tidak terlibat langsung dalam usaha -usaha pariwisata juga mendapat keuntungan, 3) menuntut pemberdayaan secara politis dan demokra -tisasi dan distribusi keuntungan kepada communitas yang kurang beruntung di pedesaan.

METODOLOGI

Paradigma penelitian ini adalah post-positivisme dengan tipe penelitian deskriptif karena mengumpulkan informasi mengenai status suatu gejala yang ada,yaitu keadaan gejala menurut apa adanya pada saat penelitian dilakukan.

Penelitian ini melakukan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif dimana penelitian deskriptif adalah kutipan-kutipan data untuk memberikan gambaran penyajian laporan tersebut.

Riset ini difokuskan untuk mengungkap karakteristik budaya lokal yang dikemas dalam produk UMKM unggulan di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Riset ini dirancang sebagai rangkaian penelitian di bidang

marketing communication khususnya tentang pengemasan produk berbasis budaya lokal dan penerapan pendekatan marketing communication dalam meningkatkan daya saing produk UMKM. Riset eksploratif mengenai karakteristik budaya lokal menarik dilakukan berkaitan dengan upaya

perguruan tinggi untuk membantu pengemasan produk bukan saja dalam aspek bahan produk, melainkan juga menonjolkan karakteristik budaya lokal dalam kemasan dan strategi komunikasi pemasaran produk UMKM.

Penelitian ini akan lebih banyak menggali dan menginterpretasikan data berupa pernyataan-pernyataan atau data deskriptif mengenai subjek yang diteliti, yaitu berupa kata-kata baik tertulis maupun lisan (Moleong 2002: 5). Berdasarkan kerangka kajian yang belum pernah dilakukan, riset ini juga akan menggunakan pendekatan eksploratif karena dalam perspektif komunikasi pemasaran dalam kajian Marketing Communication

belum ditemukan hasil penelitian yang spesiik dalam kerangka riset yang digunakan.

Kerangka eksploratif berupaya mengidentiikasi dan mencari informasi faktual yang detil mengenai gejala yang ada, mengidentiikasi masalah- masalah yang terjadi dan praktek-praktek yang sedang berlangsung (Kriyantono, 2006:58).

Data primer riset ini diperoleh dengan mengidentiikasi produk UMKM dan melakukan analisis isi kualitatif dengan memperbandingkan produk tersebut dengan karakteristik budaya lokal Lebak, Banten. Secara khusus analisis dilakukan dengan mengeksplorasi kesesuaian budaya dan potensi budaya yang belum terdapat dalam kemasan produk UMKM.

Key informan dalam penelitian ini antara lain:

1. Bapak Iman Selaku Kabid Ekonomi Bapeda Kab Lebak.

2. Bapak Ibnu Wahidin selaku Kabid Kependidikan

3. Bapak Ubaidillah Selaku Kasi cagar budaya dan museum

4. Bapak Idat Hadiat selaku Ka bid Destinasi Pariwisata

5. Paryono, selaku ka bidang PPM (Pemerintahan dan pembangunan Manusia).

6. Pak Lili Ketua Pokdarwis Lebak

Dalam dokumen Komunikasi Pariwisata Budaya dan Pengemb (Halaman 33-37)