• Tidak ada hasil yang ditemukan

Teori Komunikasi Nonverbal (Samovar dan Porter)

Dalam dokumen Komunikasi Pariwisata Budaya dan Pengemb (Halaman 139-143)

TIGA KECAMATAN BLAHBATUH KABUPATEN GIANYAR BALI)

KERANGKA TEORI DAN METODE PENELITIAN

1. Teori Komunikasi Nonverbal (Samovar dan Porter)

Komunikasi nonverbal adalah komunikasi yang menggunakan pesan- pesan nonverbal. Istilah nonverbal juga digunakan untuk melukiskan semua peristiwa komunikasi di luar kata-kata dan tulisan yang biasa disampaikan dalam komunikasi verbal. Aktivitas komunikasi nonverbal yang terjadi dalam pertunjukan tari sakral di Bali, salah satu satunya adalah pada Tari

Nampyog Nganten di Pura Samuan Tiga Desa Adat Bedulu Kecamatan Blahbatuh Kabupaten Gianyar.

Dengan sebuah makna pesan komunikasi nonverbal, Larry A. Samovar dan Richard E. Porter mengklasiikasikan pesan-pesan nonverbal ke dalam 2 (dua) kategori utama, yaitu: 1) Perilaku yang terdiri dari penampilan dan pakaian, gerakan dan postur tubuh, ekspresi wajah, kontak mata, sentuhan, bau-bauan, dan parabahasa; 2) Ruang, waktu, dan diam (Riwandi, 2009:71). Dalam penelitian ini peneliti akan mengkaji secara holistik makna pesan komunikasi nonverbal dari suatu ekpresi wajah, sentuhan, pakaian, gerakan, ruang/tempat dan waktu dalam Tari Nampyog Nganten.

Pada teori komunikasi nonverbal, dikenal adanya kode nonverbal adalah kumpulan perilaku yang digunakan untuk menyampaikan arti. Judee Burgoon, menggolongkan sistem kode nonverbal seperti halnya

memiliki beberapa struktur sifat. Pertama, kode nonverbal cenderung analog daripada digital. Sinyal digital mempunyai ciri tersendiri seperti huruf dan angka, sedangkan sinyal analog berkesinambungan, membentuk sebuah tingkatan atau spektrum, seperti volume suara dan intensitas cahaya. Oleh karena itu, sinyal nonverbal, seperti ekspresi wajah dan intonasi suara tidak dapat dengan sederhana digolongkan menjadi kategori yang memiliki ciri-ciri tersebut, tetapi lebih dilihat sebagai perbedaan. Kedua, yang banyak ditemukan, tetap tidak semua, dalam kode nonverbal adalah kemiripan (iconicity). Kode ikonis menyerupai benda yang telah disimbolkan (seperti ketika Anda mengggambarkan bentuk sesuatu dengan tangan anda. Ketiga,

kode nonverbal tertentu kelihatannya memunculkan makna universal. Terutama dalam kasus yang berhubungan dengan tanda-tanda, seperti ancaman dan penunjukan emosi yang mungkin saja dapat ditentukan secara biologis. Keempat, kode nonverbal memungkinkan adanya transmisi berkesinambungan dalam beberapa pesan. Dengan wajah, tubuh, suara dan tanda-tanda lainnya, beberapa pesan yang berbeda dapat terkirim sekaligus. Kelima, sinyal nonverbal sering menimbulkan sebuah respons otomatis menerobos lampu merah. Pada akhirnya, tanda-tanda nonverbal sering terpancar secara spontan, seperti ketika Anda melepaskan rasa gugup dengan memainkan rambut atau menggoyangkan kaki anda. Sistem kode nonverbal sering digolongkan menurut jenis aktivitas yang digunakan dalam kode. Burgoon mengusulkan tujuh jenis: kinesik (aktivitas tubuh); vokalis atau paralanguage (suara); penampilan isik, haptics (touch);

proxemics (ruang); chronemics (waktu); dan artefact (objek).

2. Teori Interaksionisme Simbolik (Mead dan Blumer)

Perspektif Interaksionisme Simbolik berusaha menjelaskan bahwa manusia hidup di tengah lingkungan simbolik, menciptakan, menggunakan, memanipulasi dan menyalahgunakan simbol untuk kepentingan interaksi. Esensi dari teori Interaksi simbolik adalah suatu aktivitas yang merupakan ciri khas manusia, yakni komunikasi atau pertukaran simbol yang diberi makna Blumer mengkonseptualisasikan manusia sebagai pencipta atau pembentuk kembali lingkungannya, sebagai perancang dunia obyeknya dalam aliran tindakannya, alih-alih sekedar merespons pengharapan kelompok (Mulyana, 2001:68).

Menurut Blumer, Interaksionisme simbolik menunjuk pada sifat khas manusia dari interaksi antara manusia. Kekhasan adalah dimana

manusia saling menerjemahkan dan saling mendeinisikan tindakannya (Ritzer, 1992:61). Dalam proses pemaknaan terjadi kegiatan mental yang membedakan makna tindakan manusia dengan gerakan binatang. Kegiatan interpretasi menjadi jembatan antara stimulus dan respons. Artinya stimulus dan respons yang bermaknalah yang menjadi inti teori interaksi simbolik. Dalam pandangan interaksi simbolik, sebagaimana ditegaskan Blumer proses sosial dalam kehidupan kelompoklah yang menciptakan dan menegakkan kehidupan kelompok, dalam konteks ini, maka makna dikontruksikan dalam proses interaksi dan proses tersebut bukanlah suatu medium netral yang memungkinkan kekuatan-kekuatan sosial memainkan peranannya, melainkan justru merupakan substansi sebenarnya dari organisasi sosial dan kekuatan sosial. Adapun Asumsi Interaksionisme Simbolik sebagai berikut: (1) Pentingnya makna bagi perilaku manusia; (2) Pentingnya konsep diri; (3) Hubungan antara individu dan masyarakat. Sedangkan tiga konsep inti dalam pandangan Mead yang melandasi Interaksionisme Simbolik yakni; pikiran (mind), diri (self), dan masyarakat (society) Mead (Littlejohn, 1996). Menurut Mead ketiga aspek tersebut saling berbeda namun memberikan kontribusi yang sama terhadap tindakan sosial. Menurut Mead, tindakan sosial merupakan konsep dasar dari hampir seluruh proses psikologis dan proses sosial lainnya. Pada intinya dasar perspektif Interaksionisme simbolik adalah self, other (diri, orang lain), simbol, makna, penafsiran dan tindakan. Aliran ini memiliki pandangan bahwa peserta komunikasi dalam berkomunikasi aktif, relektif dan kreatif dalam menafsirkan, menampilkan perilaku yang rumit dan dan sulit diramalkan. Blumer mengemukakan tiga premis yang menjadi dasar model ini. Pertama, manusia bertindak berdasarkan makna yang diberikan individu terhadap lingkungan sosialnya (simbol verbal, simbol nonverbal, lingkungan isik). Kedua, makna itu berhubungan langsung dengan interaksi sosial yang dilakukan individu dengan lingkungan sosialnya. Ketiga, makna diciptakan, dipertahakan, dan diubah lewat proses penafsiran yang dilakukan individu dalam hubungan dengan lingkungan sosialnya (Fisher, 1986:241; Mulyana, 2007).

Mead menekankan pentingnya gesture atau isyarat dalam berkomunikasi manusia. Menurut Mead manusia berkomunikasi dengan isyarat. Selanjutnya, sebuah isyarat yang menghasilkan respon yang sama pada orang yang sedang melakukan seperti pada orang yang ditujukan isyarat iru merupakan isyarat yang bermakna. Respon yang sama ini

merupakan makna isyarat, dan munculnya makna-makna bersama tersebut memungkinkan terjadi komunikasi simbolik (Johnson, 1990-12). Seperti yang dikatakan Mead, gerak atau isyarat adalah mekanisme dasar dalam tindakan sosial dan dalam proses sosial yang lebih umum. Menurut deinisi Mead, gesture adalah gerakan organisme pertama yang bertindak sebagai rangsangan khusus yang menimbulkan tanggapan secara sosial yang tepat dari organisme kedua (Littlejohn, 1997; Johnson, 1990; Mulyana, 2002; Ritzer dan Gofman, 2004).

Kekhasan dalam interaksionisme simbolik bahwa manusia tidak hanya terbatas pada isyarat vokal tetapi juga pada isyarat gestural selama gerakan tersebut berpotensi untuk diinterpretasi. Mead sendiri mengakui, isyarat vokal dari perilaku yang terkait dengannya dalam masyarakat manusia menyediakan landasan bagi interaksi simbolik (Mulyana, 2002:79). Dalam abstraksi Gofman disebut expression given dan expression given of, yang pertama merupakan komunikasi yang disengaja (biasanya merujuk pada isyarat verbal), sedangkan yang kedua merujuk pada komunikasi yang tidak disengaja (nonverbal) yang bisa saja memberi makna yang berlainan sekali dengan isyarat verbal (Littlejohn, 1996; Mulyana, 2002:79). Dalam perintisan teori Interaksionisme Simbolik, ada beberapa orang ilmuwan memiliki andil, seperti; Mark Baldwin, William James, Cooly, John Dewey, William I. homas dan Mead, akan tetapi dari semua itua, Mead-lah yang paling populer sebagai peletak dasar Teori Interaksionisme Simbolik, namun dalam perkembangan salah seorang mahasiswa Mead yakni; Herbert Blumer yang menciptakan nama “Interaksi Simbolik” dan mempopulerkan dikalangan akademik setelah Mead sendiri sudah meninggal (Mulyana, 2001:68).

Secara ringkas Teori Interaksionisme simbolik didasarkan pada premis-premis berikut; (1) individu merespons suatu situasi simbolik, mereka merespon lingkungan termasuk obyek isik (benda) dan Obyek sosial (perilaku manusia) berdasarkan media yang dikandung komponen- komponen lingkungan tersebut bagi mereka; (2) makna adalah produk interaksi sosial, karena itu makna tidak melihat pada obyek, melainkan dinegosiasikan melalui penggunaan bahasa, negosiasi itu dimungkinkan karena manusia mampu mewarnai segala sesuatu bukan hanya obyek isik, tindakan atau peristiwa (bahkan tanpa kehadiran obyek isik, tindakan atau peristiwa itu) namun juga gagasan yang abstrak; (3) makna yang interpretasikan individu dapat berubah dari waktu ke waktu, sejalan dengan

perubahan situasi yang ditemukan dalam interaksi sosial, perubahan interpretasi dimungkinkan karena individu dapat melakukan proses mental, yakni berkomunikasi dengan dirinya sendiri (Spradley, 2006:8).

Lebih lanjut, esensi Interaksionisme simbolik adalah suatu aktivitas yang merupakan ciri khas manusia, yakni komunikasi atau pertukaran simbol yang diberi makna. Dalam pandangan Interaksionisme simbolik, proses sosial dalam kehidupan kelompoklah yang menciptakan dan menegakkan aturan-aturan, bukan aturan-aturan yang menciptakan dan menegakkan kehidupan kelompok. Dalam konteks ini makna dikonstruksikan dalam proses interaksi (Mulyana, 2001:68-70). Sedangkan George Ritzer, memformulasikan tujuh prinsip yang menjadi inti dari teori interaksionisme simbolik, yaitu: (1) manusia tidak seperti hewan karena manusia diberkahi dengan kemampuan berpikir; (2) kemampuan berpikir manusia dibentuk oleh interaksi sosial; (3) dalam interaksi sosial manusia belajar makna dan simbol yang memungkinkan mereka menerapkan kemampuan berpikirnya yang menjadi ciri dari kemampuan manusia; (4) makna dan simbol memungkinkan orang melanjutkan tindakan dan interaksinya yang khas; (5) manusia mampu memodiikasi atau mengubah makna dan simbol yang mereka gunakan dalam tindakan dan interaksi berdasarkan interaksi mereka atas situasi; (6) kemampuan melakukan modiikasi dan perubahan itu disebabkan oleh kemampuan individu berinteraksi dengan diri sendiri lewat berbagai selektivitas hingga proses pemilihan skap; (7) pola-pola tindakan dan interaksi yang jalin-menjalin ini membentuk kelompok dalam masyarakat (Mulyana, 2007:73).

Dalam dokumen Komunikasi Pariwisata Budaya dan Pengemb (Halaman 139-143)