2.2 Aspek Kesejahteraan Masyarakat
B. Jumlah Pengunjung Perpustakaan Per Tahun
2.4 Aspek Daya Saing Daerah
2.4.2. Fokus Fasilitasi Wilayah/Infrastruktur
Berdasarkan data yang dirilis BPS Aceh Selatan, menunjukkan terjadinya peningkatan Nilai Tukar Petani (NTP) selama lima tahun terakhir, yaitu dari 98,64 pada tahun 2008 meningkat menjadi 104,12 tahun 2010 dan 104,14 pada tahun 2012, atau meningkat rata-rata sebesar 1,09 persen per tahun. Artinya, terjadi peningkatan kesejahteraan petani selama periode tersebut.
2.4.2. Fokus Fasilitasi Wilayah/Infrastruktur
Suatu fasilitas wilayah atau infrastruktur menunjang daya saing daerah dalam hubungannya dengan ketersediaannya (availability) guna dalam mendukung aktivitas ekonomi daerah di berbagai sektor di daerah dan antar-wilayah. Pembangunan infrastruktur akan meningkatkan mobilitas manusia dan barang antar daerah dan antar kabupaten/kota, yang meliputi fasilitas transportasi (jalan, jembatan, pelabuhan), fasilitas kelistrikan, fasilitas komunikasi, fasilitas pendidikan dan fasilitas air bersih. Tersedianya infrastruktur yang memadai merupakan nilai tambah bagi perwujudan percepatan pembangunan kabupaten ini.
2.4.2.1 Perhubungan
2.4.2.1.1 Rasio Panjang Jalan Per Jumlah Kendaraan
Rasio panjang jalan per jumlah kendaraan dihitung untuk mengetahui tingkat ketersediaan sarana jalan bagi akses tiap kendaraan. Rasio panjang jalan per jumlah kendaraan adalah perbandingan panjang jalan terhadap jumlah kendaraan. Perkembangan rasio panjang jalan per jumlah kenderaan di kabupaten ini selama 5 tahun terakhir meningkat dari 8,48 kenderaan per kilometernya pada tahun 2008 menjadi 9,55 kenderaan per kilometernya pada tahun 2012 (meningkat rata-rata 2,41 persen per tahun). Kapasitas jalan yang ada relatif masih sangat memadai seiring dengan meningkatnya jumlah kenderaan. Ke depan yang harus menjadi perhatian adalah, tetap menjaga kondisi jalan yang ada serta memperbaiki jalan yang rusak sedang dan rusak berat.
Tabel II-131
Rasio Panjang Jalan Per Jumlah Kendaraan Tahun 2008 s.d 2012 Kabupaten Aceh Selatan
NO Uraian 2008 2009 2010 2011 2012 Pertumbuhan % 1. Panjang Jalan 942,61 942,62 942,62 942,62 942,62 0,00 2. Jumlah Kendaraan 7.994 8.330 8.990 8.994 8.998 2,39 3. Rasio 8,48 8,84 9,54 9,54 9,55 2,41
Sumber : Dishubkominfo Kab.Aceh Selatan (diolah).
2.4.2.1.2 Jumlah Orang/Barang yang Terangkut
Jumlah orang/barang yang terangkut angkutan umum selama 5 tahun terakhir juga menunjukkan peningkatan yaitu dari 3.230 orang pada tahun 2008 menjadi 6.100 orang pada tahun 2012 (meningkat rata-rata 13,56 persen per tahun). Demikian juga jumlah barang yang terangkut, yaitu sebesar 5.560 ton barang pada tahun 2008 menjadi 7.810 ton barang pada tahun 2012 (naik rata-rata 7,03 persen per tahun).
Tabel II-132
Jumlah Orang/Barang yang Terangkut Angkutan Umum Tahun 2008 s.d 2012 Kabupaten Aceh Selatan
NO Uraian Satuan 2008 2009 2010 2011 2012
% Pertumbuhan
1.
Jumlah orang Orang 3.230 4.150 4.250 5.230 6.100 13,56 2.
Jumlah Barang Ton 5.560 6.330 6.450 7.310 7.810 7,03
2.4.2.1.3 Jumlah Orang/Barang melalui Dermaga/Bandara/Terminal
Jumlah orang/barang melalui dermaga/bandara/terminal dalam 5 tahun terakhir meningkat setiap tahunnya. Penggunaan sarana perhubungan darat masih didominasi jasa perhubungan, disusul jasa perhubungan laut dan udara.
Tabel II-133
Jumlah Orang/Barang yang Terangkut Angkutan Umum Tahun 2008 s.d 2012 Kabupaten Aceh Selatan
NO Uraian 2008 2009 2010 2011 2012
Orang Brng Orang Brng Orang Brng Orang Brng Orang Brng 1.
Dermaga 969 1.668 1.245 1.899 1.275 1.935 1.569 2.193 1.830 2.343
2. Bandara 646 1.112 830 1.266 850 1.290 1.290 1.462 1.220 1.562
3. Terminal 1.615 2.780 2.075 3.165 2.125 3.225 3.225 3.655 3.050 3.905
Jumlah 3.230 5.560 4.150 6.330 4.250 6.450 6.450 7.310 6.100 7.810
Sumber :Dishubkominfo Kab.Aceh Selatan.
Kabupaten Aceh Selatan juga merupakan jalur perlintasan dari wilayah barat (Aceh Barat, Nagan Raya dan Abdya) menuju wilayah Selatan Aceh hingga ke Sumatera Utara atau sebaliknya, sehingga Kabupaten Aceh Selatan merupakan penopang jalur distribusi perekonomian Wilayah Pantai Barat Selatan Provinsi Aceh. Kondisi infrastruktur merupakan unsur penting yang perlu mendapatkan perhatian agar dapat berfungsi dengan optimal dalam mendukung aksesibilitas Kabupaten ini. Daya saing lainnya di bidang sarana prasarana perhubungan adalah dimilikinya pelabuhan udara/laut dan terminal bus yang mampu menghubungkan antar kota antar provinsi.
2.4.2.2 Penataan Ruang
2.4.2.2.1 Ketaatan Terhadap RTRW
Sebagaimana Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Aceh Selatan, wilayah Kabupaten Aceh Selatan ditata menjadi kawasan yang berfungsi lindung dan kawasan yang berfungsi budidaya. Kawasan lindung meliputi kawasan yang melindungi kawasan di bawahnya, kawasan lindung setempat dan kawasan rawan bencana. Kawasan yang melindungi kawasan di bawahnya adalah kawasan-kawasan dengan kemiringan >40% yang tersebar di wilayah bagian selatan. Kawasan lindung setempat adalah kawasan sempadan pantai, sempadan sungai dan sempadan mata air. Kawasan lindung rawan bencana merupakan kawasan yang mempunyai kerentanan bencana longsor dan gerakan tanah. Kawasan budidaya merupakan kawasan yang secara karakteristik wilayah dikembangkan sesuai dengan kondisi dan potensi wilayah.
Kawasan yang dikembangkan berdasarkan potensi dan karakteristik wilayah adalah sebagai berikut: Kawasan Perdagangan dan Jasa, Kawasan Permukiman, Kawasan Pendidikan, Kawasan Pemerintahan dan Perkantoran, Kawasan Olah raga, Kawasan
Wisata/Rekreasi, Kawasan Perumahan dan Permukiman, Kawasan Pemakaman Umum, Kawasan Khusus dan Kawasan Terbuka Non Hijau. Namun, seiring dengan pesatnya perkembangan pembangunan terdapat kompensasi yang tak bisa dihindari dalam tata guna lahan, yaitu tingginya rasio perubahan alih fungsi lahan. Hal ini ditandai dengan timbulnya pusat-pusat kegiatan baru seperti kawasan industri, perdagangan/jasa dan tumbuhnya kawasan-kawasan permukiman daerah pinggiran kota.
2.4.2.2.2 Luas Wilayah Produktif
Luas wilayah produktif adalah persentase realisasi luas wilayah produktif terhadap luas rencana kawasan budidaya sesuai dengan RTRW.
Tabel II-134
Rasio Luas Wilayah Produktif
Tahun 2008 s.d 2012 Kabupaten Aceh Selatan
NO Uraian 2008 2009 2010 2011 2012
1. Luas Wilayah produktif 17.678 19.813 18.834 18.834 18.561 2. Luas Seluruh Wilayah Budidaya 18.304 20.475 20.204 21.897 21.897
3. Rasio (1/2) 96,57 96,76 93,03 86,01 84,76
Selama lima tahun terakhir persentase luas wilayah produktif menunjukkan trend yang menurun. Pada tahun 2008 luas wilayah produktif mencapai 96,57 persen dari luas seluruh wilayah budidaya. Kondisi ini menurun menjadi 93,03 persen pada tahun 2010 dan menjadi 84,76 persen pada tahun 2012. Keadaan ini ditengarai karena terjadinya perubahan alih fungsi lahan.
2.4.2.2.3. Luas Wilayah Kebanjiran
Luas wilayah kebanjiran adalah persentase luas wilayah banjir terhadap luas rencana kawasan budidaya sesuai dengan RTRW. Luas wilayah kebanjiran sampai tahun 2012 mencapai 13,9 persen dari luas wilayah budidaya yang ada. Kondisi ini disebabkan beberapa faktor seperti rusaknya hutan di hulu DAS, terjadinya pengalihan fungsi lahan dan berkurangnya daerah serapan air serta kurangnya drainase.
Tabel II-135
Rasio Luas Wilayah Kebanjiran
Tahun 2008 s.d 2012 Kabupaten Aceh Selatan
NO Uraian 2008 2009 2010 2011 2012
1. Luas Wilayah Kebanjiran 0 0 0 0 305,5
2. Luas Seluruh Wilayah Budidaya 18.304 20.475 20.204 21.897 21.897
2.4.2.3 Administrasi Keuangan
2.4.2.3.1 Jenis dan jumlah Bank dan Cabang-cabangnya
Bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak. Menurut fungsinya, bank dibagi menjadi bank umum dan bank perkreditan rakyat. Bank Umum adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional dan atau berdasarkan Prinsip Syariah yang dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran. Bank Perkreditan Rakyat adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional atau berdasarkan Prinsip Syariah yang dalam kegiatannya tidak memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran. Bank umum masih didominasi oleh bank konvensional, yang selama tahun 2008-2012 tumbuh rata-rata 1,40 persen per tahun. Sementara Bank Syariah masih tetap 1 unit.
Tabel II-136
Jenis dan Jumlah Bank Umum dan Cabangnya di Kabupaten Aceh Selatan
NO Sektor Jumlah Pertumbuhan % 2008 2009 2010 2011 2012 1. Konvensional 14 14 14 14 15 1,40 2. Syariah 1 1 1 -Jumlah 14 14 15 15 16 2,71
Sumber : BPS Aceh Selatan.
2.4.2.3.2 Jenis dan Jumlah Perusahaan Asuransi dan Cabang-cabangnya
Asuransi merupakan alat untuk menanggulangi resiko (nasabah) dengan cara menanggung bersama kerugian yang mungkin terjadi dengan pihak lain (perusahaan asuransi). Perusahaan asuransi adalah jenis perusahaan yang menjalankan usaha asuransi, meliputi asuransi kerugian dan asuransi jiwa. Usaha asuransi adalah usaha jasa keuangan yang menghimpun dana masyarakat melalui pengumpulan premi asuransi guna memberikan perlindungan kepada anggota masyarakat pemakai jasa asuransi terhadap kemungkinan timbulnya kerugian karena suatu peristiwa yang tidak pasti terhadap hidup atau meninggalnya seseorang. Penyelenggaraan asuransi dipisahkan menjadi dua yaitu perusahaan asuransi yang beroperasi secara konvensional dan yang menggunakan prinsip-prinsip syariah. Data yang ada menunjukkan tidak ada penambahan jumlah perusahaan asuransi di kabupaten ini selama 5 tahun terakhir.
Tabel II-137
Jenis dan Jumlah Perusahaan Asuransi dan Cabangnya Kabupaten Aceh Selatan
NO Sektor 2008 2009 Jumlah 2010 2011 2012 1. Perusahaan Asuransi
1.1. Konvensional 4 4 4 4 4
1.2. Syariah - - - - -
Jumlah 4 4 4 4 4
Sumber : BPS Aceh Selatan.
2.4.2.3.3 Jenis, Kelas dan Jumlah Restoran
Fasilitas perdagangan dalam analisa aspek daya saing daerah terdiri dari restoran, cafe, warkop dan sejenisnya serta ketersediaan penginapan. Ketersediaan restoran pada suatu daerah menunjukkan tingkat daya tarik investasi suatu daerah. Banyaknya restoran dan rumah makan menunjukkan perkembangan kegiatan ekonomi suatu daerah dan peluang-peluang yang ditimbulkannya. Pengertian restoran adalah tempat menyantap makanan dan minuman yang disediakan dengan dipungut bayaran, tidak termasuk usaha jenis tataboga atau catering. Sedangkan pengusahaan usaha restoran dan rumah makan adalah penyediaan jasa pelayanan makanan dan minuman kepada tamu sebagai usaha pokok.
Tabel II-138
Aspek Daya Saing Ketersediaan Restoran, Rumah Makan, Cafe/ Warkop
No Uraian Tahun Pertumbuhan %
2008 2009 2010 2011 2012
1 Restoran 1 2 2 2 2 14,87
2 Rumah Makan 25 27 45 52 70 22,87
3 Cafe/warkop 180 180 195 204 59 -19,99
Sumber : Disbudpora Kab. Aceh Selatan (diolah).
2.4.2.3.4 Jenis, Kelas dan Jumlah Penginapan/ Hotel
Jenis penginapan/hotel yang tersedia di Kab. Aceh adalah sebagai berikut : a. Hotel Berbintang
Hotel berbintang adalah suatu usaha jasa yang menggunakan suatu bangunan atau sebagian bangunan yang disediakan secara khusus, di mana setiap orang dapat menginap, makan, memperoleh pelayanan dan menggunakan fasilitas lainnya dengan pembayaran dan telah memenuhi persyaratan sebagai hotel berbintang seperti yang telah ditentukan. Ciri khusus dari hotel berbintang adalah mempunyai restoran yang dikelola langsung di bawah manajemen hotel tersebut. Untuk hotel berbintang, kriteria
penggolongannya didasarkan pada persyaratan dasar dan penilaian teknis operasional. Persyaratan Dasar : Perizinan (Persetujuan Prinsip, Izin Usaha). Persyaratan Teknis: Unsur Fisik, Unsur Pengelolaan, Unsur Pelayanan. Penetapan penilaian golongan kelas hotel bintang dilakukan dengan penggabungan dari nilai persyaratan dasar dan persyaratan teknis. Penilaian penggolongan hotel bintang dilaksanakan oleh PHRI.
b. Hotel Melati
Hotel Melati adalah suatu usaha yang menggunakan suatu bangunan atau sebagian bangunan yang disediakan secara khusus, di mana setiap orang dapat menginap, makan, memperoleh pelayanan dan menggunakan fasilitas lainnya dengan pembayaran dan belum memenuhi persyaratan sebagai hotel berbintang. Tersedianya fasilitas hotel dan restoran di Kabupaten Aceh Selatan merupakan capaian kinerja daya saing bidang perdagangan dan jasa. Namun fasilitas hotel yang tersedia masih bertaraf hotel melati. Demikian juga restoran dan rumah makan yang ada masih didominasi oleh warung kopi. Hotel melati bertambah rata-rata 19,42 persen per tahun. Rumah makan bertambah rata-rata 22,8% per tahun dan Restoran bertambah rata-rata 14,87% per tahun. Kondisi ini menunjukkan juga lambatnya perkembangan perekonomian daerah dan rendahnya daya beli masyarakat. Pembangunan hotel dan restoran baru merupakan salah satu pertanda bahwa potensi ekonomi masyarakat masih akan terus meningkat seiring dengan meningkatnya tingkat kesejahteraan masyarakat.
Tabel II-139
Aspek Daya Saing Ketersediaan Jumlah Penginapan/ Hotel
No Uraian Tahun Pertumbuhan %
2008 2009 2010 2011 2012
1 Hotel melati 7 7 8 17 17 19,42
2 Hotel berbintang - - - - - -
Sumber : Disbudpora Kab. Aceh Selatan (diolah).
Dalam rangka meningkatkan daya saing daerah, pemerintah daerah akan terus mendorong dan mencari investor untuk berinvestasi di bidang ini. Hal tersebut dimungkinkan seiring perkembangan ekonomi daerah dan penataan infrastruktur daerah dalam rangka eksplorasi dan peningkatan pemanfaatan potensi daerah, termasuk menata Tapaktuan sebagai Ibu kota Aceh Selatan.
2.4.2.4 Ketersediaan Air Bersih
Air Bersih (clean Water) adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat diminum setelah dimasak. Air Minum (drinking water) adalah air yang melalui proses pengolahan atau tanpa proses pengolahan yang memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung diminum (Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 907 Tahun 2002). Sumber air bersih dapat dibedakan atas: air
hujan, air sungai dan danau, mata air, air sumur dangkal dan air sumur dalam. Persentase Rumah Tangga (RT) yang menggunakan air bersih adalah proporsi jumlah RT menggunakan air bersih sebagai air minum.
Tabel II-140
Persentase Rumah Tangga (RT) yang Menggunakan Air Bersih Kabupaten Aceh Selatan
No Sumber Air Bersih 2008 2009 2010 2011 2012*
1. Leding (Perpipaan) 5.603
2. Sumur Lindung 33.566
3. Sumur Tidak Terlindung -
4. Mata Air Terlindung 5.501
5. Mata Air Tidak Terlindung -
6. Sungai -
7. Danau/Waduk -
8. Air Hujan -
9. Air Kemasan -
10. Lainnya -
11. Total Jumlah Rumah Tangga yang menggunakan air bersih 38.477 43.911 46.005 46.465 43.353 12. Jumlah Rumah Tangga 48.096 51.029 50.574 48.378 47.629 13.
Persentase Rumah Tangga yang menggunakan air bersih (11/12) : Apa data ini sudah benar karena angkanya sudah tinggi
80% 85% 90,97% 96,06% 96,90%
Sumber: BPS * angka sementara
Penyediaan dan pengelolaan air bersih di Kabupaten Aceh Selatan pada saat ini terbagi ke dalam 2 (dua) sistem, yaitu sistem jaringan perpipaan yang dikelola oleh PDAM dan sistem non perpipaan yang dikelola secara mandiri oleh penduduk. Untuk pelayanan dengan sistem perpipaan meliputi hampir seluruh kecamatan di Kabupaten Aceh Selatan. Pengelolaan sistem jaringan perpipaan ini dilakukan oleh PDAM dengan cakupan pelayanan 2.719 RT yang ada di Kabupaten Aceh Selatan.
Tabel II-141 Aspek Daya Saing
Bidang Ketersediaan Air Bersih
No Uraian 2008 2009 Tahun 2010 2011 2012* Persentase RT menggunakan
air bersih 80% 85% 90,97% 96,06% 96,90%
- Pemakaian air bersih RT 38.477 43.911 46.005 46.465 43.353 - RT berlangganan PDAM 2.589 2.719 2.585 2.700 2.800 - Jumlah RT 48.096 51.029 50.574 48.378 47.629
Sumber: BPS * angka sementara
2.4.2.5 Fasilitas Listrik, Komunikasi dan Informatika
2.4.2.5.1 Rasio Ketersediaan Daya Listrik
Rasio ketersediaan daya listrik adalah perbandingan daya listrik terpasang terhadap jumlah kebutuhan.
Tabel II-142
Prakiraan Kebutuhan Beban Tenaga Listrik Kabupaten Aceh Selatan
NO Uraian Satuan 2010 2011 2012 1. Kebutuhan GWH 54.465.974 60.708.136 66.708.618 - rumah tangga GWH 49.019.376 54.637.358 60.037.756 - Komersial GWH 1.906.309 1.912.307 2.178.901 - Public GWH 1.904.887 1,982.444 2.009.999 - Industri GWH 1.635.402 2.136.067 2.481.962 2. Susut & Losses (T&D) % - - -
3. Susut Pemakaian Sendiri % - - -
4. Total Susut & Losses % 11,21 8,7 11,15
5. Faktor Beban % - - -
6. Produksi GWH 54.465.974 60.708.136 66.708.618
7. Beban Puncak MW 13,3 14,2 15,3
8. Kapasitas Terpasang (Existing) MW 8,274 8,274 7,199 9. Cummulated Commited Projects MW 8,058 7,658 9,858 10. TOTAL KAPASITAS SISTEM MW 10,860 10,940 12,190 11. DAYA YANG DIBUTUHKAN* MW 14,5 15,5 16,03 Sumber : PLN Tapaktuan
Tahun 2010 rasio ketersediaan listrik baru mencapai 57,06 persen, menurun menjadi 53,38 pada tahun 2011 dan menurun lagi menjadi 44,91 persen pada tahun 2012. Penurunan ini disebabkan semakin bertambahnya kebutuhan terhadap energi listrik,yang tidak diimbangi dengan kapasitas terpasangnya. Untuk itu, dalam rangka pemenuhan kebutuhan listrik tersebut dan guna meningkatkan daya saing daerah, perlu penambahan kapasitas terpasang litrik melalui pembangunan pembangkit listrik oleh PLN baik dengan membangun PLTU maupun menggunakan energi alternatif seperti tenaga surya, tenaga bayu dan lainnya. Semua ini harus mengacu kepada Rencana Umum Kelistrikan Daerah (RUKD) yang disusun oleh Dinas Pertambangan, Energi dan Sumberdaya Mineral Kabupaten Aceh Selatan ataupun dokumen Rencana Umum Kelistrikan Nasional (RUKN).
2.4.2.5.2 Persentase Rumah Tangga yang Menggunakan Listrik
Penyediaan tenaga listrik bertujuan untuk meningkatkan perekonomian serta memajukan kesejahteraan masyarakat. Bila tenaga listrik telah dicapai pada suatu daerah atau wilayah maka kegiatan ekonomi dan kesejateraan pada daerah tersebut dapat meningkat. Untuk mewujudkan hal tersebut, maka pemerintah daerah berkewajiban untuk melistriki masyarakat tidak mampu dan daerah terpencil. Indikator yang digunakan untuk melihat pencapaian sasaran pemerintah daerah tersebut adalah persentase rumah tangga yang menggunakan listrik.
Persentase rumah tangga yang menggunakan listrik merupakan proporsi jumlah rumah tangga yang menggunakan listrik sebagai daya penerangan terhadap jumlah rumah tangga. Pada tahun 2010 persentasenya adalah 67,71 persen, meningkat menjadi 71,98 persen pada tahun 2011 dan sebesar 75,34 persen tahun 2012. Artinya masih ada sebesar 24,66 persen rumah tangga di Kabupaten Aceh Selatan yang menggunakan energi lain sebagai daya penerangnya.
Tabel II-143
Persentase Rumah Tangga yang Menggunakan Listrik Kabupaten Aceh Selatan
No Uraian 2010 2011 2012
1. RT dengan daya 450 watt 20.333 21.988 22.338
2. RT dengan daya 900 watt 10.421 10.877 11.678
3. RT dengan daya 1.300 watt 1.010 1.111 1.213
4. RT dengan daya 2.200 watt 499 508 578
5. RT dengan daya > 2.200 watt 67 71 78
6. Total Jumlah Rumah Tangga menggunakan listrik 32.330 34.555 35.885
7. Jumlah Rumah Tangga 47.746 48.000 47.629
8. Persentase Rumah Tangga yang menggunakan listrik (6)/(7) 67,71 71,98 75,34
Sumber : PLN Tapaktuan
2.4.2.5.3 Persentase Penduduk yang Menggunakan HP/Telepon
Peningkatan daya saing daerah dapat dilihat dari perkembangan teknologi komunikasi dan informasi yang terjadi pada suatu daerah. Salah satu indikator dalam melihat perkembangan teknologi komunikasi adalah dengan melihat seberapa banyak penduduk suatu daerah telah memiliki perangkat komunikasi berupa hand-phone (HP) dan telepon rumah biasa. Persentase penduduk yang menggunakan HP/telepon adalah proporsi jumlah penduduk menggunakan telepon/HP terhadap jumlah penduduk.
Perkembangan jaringan telekomunikasi dalam beberapa tahun terakhir cukup menggembirakan, terlihat dengan banyaknya penggunaan perangkat tersebut oleh masyarakat baik dalam bentuk telepon seluler (HP) maupun telepon kabel. Sampai dengan tahun 2012 terdapat 1.842 penduduk yang memiliki telepon PSTN. Kondisi ini meningkat dibandingkan tahun 2008 dimana terdapat 1.701 penduduk yang memiliki telepon PSTN. Jika dilihat dari sebaran pada tiap kecamatan yang ada, maka jaringan telepon telah terjangkau di hampir seluruh kecamatan dalam Kabupaten Aceh Selatan.