Pekembangan Jumlah sentra industri/ klaster
II.4. Aspek Daya Saing Daerah
II.4.1. Fokus Kemampuan Ekonomi Daerah 1. Kondisi Ekonomi
Lokasi Kabupaten Sidoarjo yang strategis di kawasan GERBANG-KERTASUSILA merupakan satu kesatuan wilayah perencanaan di Jawa Timur mempunyai beberapa faktor pendukung diantaranya infrastruktur dan utilitas yang baik (jalan, bandara, terminal, telekomunikasi, dan sebagainya), serta sebagai kota industri, perdagangan dan jasa yang didukung dengan kegiatan perikanan dan pertanian yang maju.
Adanya bencana lumpur panas di Kecamatan Porong telah menimbulkan kerugian ekonomi, terutama dengan tidak berfungsinya jalan tol pada ruas jalan Porong–Gempol yang merupakan urat nadi perekonomian dan jalur transportasi orang maupun barang dari dan ke Surabaya, telah mengakibatkan dampak yang luar biasa antara lain : peningkatan pembiayaan distribusi hasil produksi industri atau eksportir, tidak dapat berproduksi dan atau menurunnya produktivitas usaha di sektor industri, perdagangan, jasa, hotel dan jasa konstruksi.
Menurunnya daya saing Sidoarjo sebagai salah satu tujuan investasi di Jawa Timur akibat investor takut lokasi usahanya menjadi sasaran luapan lumpur, juga menurunnya produktivitas usaha dan masyarakat. Hal ini akan berdampak terhadap sulitnya upaya peningkatan pertumbuhan dan pemerataan ekonomi Sidoarjo, perluasan kesempatan kerja serta peluang berusaha.
Salah satu upaya menaikkan kembali daya saing Kabupaten Sidoarjo adalah dengan menggali potensi yang dimiliki. Potensi unggulan Kabupaten Sidoarjo merupakan potensi yang dapat dikembangkan dan mempunyai daya saing di pasaran, baik karena ciri-cirinya yang khas, kualitasnya maupun harganya yang kompetitif. Disamping itu juga, potensi unggulan tersebut berasal dari pemanfaatan potensi yang berasal dari sumber daya alam dan kekayaan budaya lokal yang potensial untuk ditumbuhkembangkan. Bentuk nyata usaha Pemerintah Kabupaten Sidoarjo dalam menggali potensi unggulan adalah dengan dicanangkannya beberapa sentra usaha antara lain: Kampoeng Batik di Desa Jetis Kecamatan Sidoarjo, Kampoeng Sepatu di Desa Mojosantren Kecamatan Krian, Kampoeng Jajanan di Desa Kedungsumur Kecamatan Krembung dan Kampoeng Krupuk di Desa Kedungrejo Kecamatan Jabon, olahan ikan Kalanganyar Sedati, Sentra tas, koper Kedensari, Kludan Kecamatan Tanggulangin, Kerajinan bordir di Ketegan, Boro, Kalidawir Kecamatan Tanggulangin, Kerajinan logam di Ngingas Waru.Potensi unggulan Kabupaten Sidoarjo mencakup berbagai sektor antara lain:
II.4.1.1.1. Sektor Industri Pengolahan
Kabupaten Sidoarjo sebagai wilayah penyangga kota Surabaya memiliki potensi industri pengolahan yang cukup besar. Industri yang ada bukan saja untuk skala UMKM tetapi juga termasuk industri besar.
Kontribusi sektor industri pengolahan cukup besar terhadap PDRB Kabupaten Sidoarjo, yaitu sebesar 46,04% pada tahun 2008 dan untuk tahun 2009 sebesar 45,18% atau mengalami penurunan sebesar sebesar 0,86%, hal ini diakibatkan oleh adanya krisis global yang salah satunya melanda sektor industri.
Pada sektor industri pengolahan, potensi terbesar adalah pada sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah. Sektor ini terbukti tahan dari terpaan krisis. Berdasarkan update Sensus Ekonomi 2006 pada tahun 2008 jumlah usaha di Kabupaten Sidoarjo sebagai berikut :
Tabel II.35
Jumlah Usaha di Kabupaten Sidoarjo
No Skala Usaha Jumlah Unit Usaha Jumlah Tenaga Kerja
1. 2. 3. 4. Mikro Kecil Menengah Besar 154.940 12.311 1.858 654 214.970 40.610 39.739 70.363 Jumlah 169.763 365.682
Apabila dikelompokkan jumlah usaha berskala UMK di Sidoarjo sebanyak 167.251 unit, sedangkan UMB sebanyak 2.512 unit. Ini berarti Usaha Mikro, dan Kecil jumlahnya mencapai 98,52% dari total usaha yang ada di Kabupaten Sidoarjo.
II.4.1.1.2. Pertanian
Kabupaten Sidoarjo walaupun merupakan daerah kabupaten dengan luas terkecil namun seluruh wilayah pertaniannya merupakan irigasi teknis dan setengah teknis. Walaupun daerah pertanian semakin menurun karena tuntutan industr dan permukiman namun masih mampu memberikan kontribusi terhadap pendapatan masyarakat yang cukup baik. Komoditas pertanian yang diproduksi di Kabupaten Sidoarjo adalah padi, jagung, kedelai, kacang hijau, sayuran serta tebu. Khusus untuk tanaman tebu, dibudidayakan untuk memenuhi kebutuhan 5 pabrik gula yang ada.
II.4.1.1.3. Perikanan
Pada sektor perikanan di Kabupaten Sidoarjo mengandalkan udang dan bandeng sebagai komoditas unggulan yang dijadikan lambang Kabupaten Sidoarjo. Dengan luas tambak 18.672,795 Ha memberikan kesejahteraan bagi 3.227 petani tambak dan 3.281 pendega yaitu orang yang berusaha secara bagi hasil dengan pemilik tambak. Wilayah tambak di Sidoarjo membentang dari utara ke selatan sepanjang pantai timur, dimulai dari Kecamatan Waru sampai Kecamatan Jabon.
II.4.1.2. Pertumbuhan Ekonomi
Pertumbuhan ekonomi daerah diukur berdasarkan pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga konstan. PDRB diukur berdasarkan perhitungan sembilan sektor usaha yang dominan di masyarakat, yaitu sektor pertanian, sektor pertambangan dan penggalian, sektor industri pengolahan, sektor listrik, gas dan air bersih, sektor bangunan, sektor perdagangan, hotel dan restoran, sektor angkutan dan komunikasi, sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan, dan sektor jasa – jasa.
Perkembangan pertumbuhan ekonomi Kabupaten Sidoarjog mulai tahun 2005 sampai dengan tahun 2010 menunjukkan sedikit penurunan sebelum pada tahun 2009 mulai terjadi rebound.
Grafik II.125
Perkembangan Pertumbuhan Ekonomi Tahun 2005-2010
Sumber data : Bappeda Sidoarjo, BPS Sidoarjo
Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Sidoarjo selama lima tahun walaupun mengalami penurunan tetapi tetap tumbuh positif, tingkat pertumbuhan rata – rata setiap tahun tumbuh sebesar 5,17%. Pertumbuhan yang tertinggi berasal dari sektor tersier yang tumbuh sebesar 39,83%, sektor sekunder tumbuh sebesar 11,56%, sektor primer tingkat pertumbuhannya menurun sebesar 12,51%. Sedangkan pertumbuhan ekonomi ADHK (Atas Dasar Harga Konstan) pada tahun 2010 sebesar 5,17%. Target tersebut optimis tercapai karena 5 tahun kedepan diperkirarakan ekonomi akan tumbuh 2%-5% per tahun.
Sumbangan terbesar sektor tersier berasal dari pertumbuhan sektor perdagangan, hotel dan restoran yang tumbuh sebesar 52,79%. Sedangkan untuk sektor sekunder tingkat pertumbuhan tertinggi berasal dari sektor listrik, gas dan air bersih yang tumbuh sebesar 43,47%, sedangkan sektor primer pertumbuhan tertingginya berasal dari sektor pertanian yang tumbuh sebesar 4,39% sedangkan satu-satunya sektor yang mengalami penurunan akibat dampak bencana lumpur porong adalah sektor Pertambangan dan Penggalian yang pertumbuhannya minus 56,85%. Pertumbuhan ini mengindikasikan bahwa kebijakan Pemerintah Daerah di sektor perekonomian telah mampu mengantisipasi adanya dampak negatif dari bencana lumpur porong dengan menggerakkan sektor sekunder dan tersier yang ada khususnya perdagangan, industri pengolahan dan jasa. Peningkatan perekonomian ini akan memberikan dampak positif terhadap upaya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Tabel II.36
Pertumbuhan Perekonomian menurut Sektor Tahun 2009 dan 2010
Sektor 2009 2010 Tumbuh Sektor Primer
Pertanian 875.143,75 903.908,96 3,29% Pertambangan dan Penggalian 95.672,64 82.182,80 -14,10%
Sektor Sekunder
Industri Pengolahan 11.019.992,30 11.381.981,90 3,28% Listrik,Gas dan Air Bersih 482.531,11 510.433,53 5,78% Bangunan 494.659,90 517.265,86 4,57%
Sektor Tersier
Perdagangan, Hotel dan Restoran
7.133.941,03 7.598.832,36 6,52% Angkutan dan Komunikasi 2.887.230,38 3.165.410,49 9,63% Keuangan, Persewaan dan Jasa
Perusahaan 319.993,19 335.805,63 4,94% Jasa - Jasa 1.271.666,23 1.342.257,61 5,55%
Jumlah 24.580.830,53 25.838.079,14 5,17%
Sumber data : Bappeda Sidoarjo, BPS Sidoarjo
Apabila dilihat dari proporsi volume ekonomi maka ekonomi Kabupaten Sidoarjo pada tahun 2010 masih didominasi oleh sektor Industri pengolahan yang menyumbangkan porsi 3,28%, kemudian diikuti dari sektor perdagangan, hotel dan restoran dengan porsi 6,52%dan sektor angkutan dan komunikasi sebesar 9,63%. Hal ini menunjukkan bahwa Kabupaten Sidoarjo merupakan daerah industri yang cukup maju di wilayah Provinsi Jawa Timur ini, dimana pertumbuhan sektor industri diikuti oleh pertumbuhan perdagangan dan tranportasi yang cukup maju. Indikasi lain adalah bahwa Sidoarjo juga merupakan daerah urban dimana sebagai daerah penyangga kota Surabaya maka banyak penduduk yang tinggal di kota ini. Banyaknya penduduk yang tinggal ini selain memenuhi kebutuhan tinggal pekerja di kota Surabaya juga karena tuntutan kebutuhan tenaga kerja pada industri yang ada di daerah ini.
Grafik II.126
Proporsi Struktur Ekonomi Masyarakat Sidoarjo Tahun 2010
Sumber data : Bappeda Sidoarjo, BPS Sidoarjo
II.4.2. Fokus Fasilitas Wilayah/Infrastruktur