Pekembangan Kunjungan Rawat Inap
II.3.1.3. Lingkungan Hidup
II.3.1.3.1. Pemenuhan baku mutu air
Pemantauan kualitas air limbah dilakukan terhadap semua kegiatan yang berpotensi menimbulkan dampak negatif terhadap kualitas lingkungan. Potensi dampak yang ditimbulkan berupa limbah cair tersebut dilakukan pengujian kualitasnya setelah dilakukan pengolahan di Instalasi Pengolah Air Limbah (IPAL). Indikator Pemenuhan baku mutu air dibedakan menjadi 3, yaitu pemenuhan baku mutu air limbah rumah sakit, air sungai dan air limbah industri besar.
II.3.1.3.1.1. Pemenuhan baku mutu air limbah rumah sakit
Pemenuhan baku mutu air limbah rumah sakit ini diuji pada satu rumah sakit yaitu Rumah Sakit Tulangan dengan TT diatas 50. Pengujian dilakukan terhadap 10 parameter yaitu: pH, BOD, COD, TSS, NH3, PO4, deterjen, Phenol, Cl bebas dan Coli tinja. Pemenuhan baku mutu air limbah rumah sakit ini didasarkan pada SK. Gubernur Jawa Timur No. 61/1999 tentang standar baku mutu limbah cair bagi kegiatan rumah sakit di Provinsi Jawa Timur. Standar baku mutu air untuk pH sebesar 6-9, Cl bebas sebesar 0,5, NH3 sebesar 0,1, BOD sebesar 30mg/lt, COD sebesar 80 mg/lt, deterjen sebesar 0,5, Phenol sebesar 0,01, PO4 sebesar 2, TSS sebesar 30 mg/lt dan coli tinja sebesar 4.000. Realisasi pemenuhan baku mutu air limbah rumah sakit yang dicapai pada tahun 2005-2009 dapat dilihat pada table berikut ini:
Tabel II.12
Perkembangan Pemenuhan Baku Mutu Air Limbah Rumah Sakit
Sumber data: Badan Lingkungan Hidup
Parameter Satuan Standar 2005 2006 2007 2008 2009
- pH - 6-9 7,2 7 7 7 7 - BOD (mg/lt) mg/lt 30 1905 905 879 657 545 - COD (mg/lt) mg/lt 80 3887 2887 2575 1287 1087 - TSS (mg/lt) mg/lt 30 1730 1540 1230 787 687 - NH3 mg/lt 0,1 0,3 0,1 0,1 0,1 0,1 - PO4 mg/lt 2 1,0662 1,0002 0,9662 0,6420 0,5662 - Detergen mg/lt 0,5 0,3226 0,0226 0,0126 0,0226 0,0326 - Phenol mg/lt 0,01 <0.0029 <0.0029 <0.0029 <0.0029 <0.0029 - Cl bebas mg/lt 0,5 0,1 0,1 0,1 0,1 0,1 - Coli tinja 4000 100000 70000 65000 45000 40000
Berdasarkan tabel II.12 menunjukkan bahwa hampir secara keseluruhan baku mutu air limbah RS selama lima tahun terakhir melebihi standar baku mutu yang telah ditetapkan. Hanya sebagian parameter yang memenuhi standar baku mutu yang ditetapkan yaitu pH, NH3, PO4, detergen, phenol dan CI bebas. Tidak terpenuhinya standar baku mutu tersebut disebabkan karena masih banyak rumah sakit yang belum memiliki Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang memenuhi kaidah teknis yaitu masih mengunakan teknologi septic tank.
II.3.1.3.1.2. Pemenuhan baku mutu air sungai
Standar pemenuhan kualitas air sungai berdasarkan PP No. 82/2001 tentang pengendalian pencemaran air. Dalam peraturan tersebut diatur tentang kualitas air sungai yang dibagi menjadi 4 kelas berdasarkan peruntukannya. Realisasi pemenuhan baku mutu air sungai yang dicapai pada tahun 2005-2009 tampak pada table 2 berikut:
Tabel II.13
Perkembangan Pemenuhan baku mutu air sungai
Parameter Satuan 2005 2006 2007 2008 2009 - pH - 7,2 7,0 7,0 7 7 - BOD (mg/lt) mg/lt 5,8 6,5 7 6 98 - COD (mg/lt) mg/lt 12 13 5 13 274 - TSS (mg/lt) mg/lt 260 376 454 576 495 - Detergen 112 115 118 110 105
Sumber Data : Badan Lingkungan Hidup
Masih dibutuhkan informasi mengenai kelas sungai yang ada di Kabupaten untuk menyimpulkan mengenai pemenuhan baku mutu air sungai dengan standarnya.
II.3.1.3.1.3. Pemenuhan baku mutu air limbah industri besar
Sebagai salah satu upaya pelestarian kualitas lingkungan hidup, maka bagi kegiatan industri yang menghasilkan limbah diwajibkan untuk melakukan pengelolaan limbah sebelum dibuang ke perairan umum. Syarat tersebut dicantumkan dalam Undang-undang Pengelolaan Lingkungan Hidup No. 23/1997 Bab V pasal 16. Untuk wilayah Jawa Timur, kualitas air limbah industri harus sesuai dengan baku mutu air limbah industri dan kegiatan lainnya yang ditetapkan dalam SK Gubernur No. 45/2002.
Kualitas air limbah untuk industri besar rata-rata sudah memenuhi baku mutu limbah cair yang dipersyaratkan. Hal ini dikarenakan pada industri besar telah memiliki kesadaran internal yang cukup tinggi.
II.3.1.3.2. Pemenuhan baku mutu udara
Pemantauan kualitas udara di Kabupaten dilakukan pada lokasi padat lalu lintas dan lokasi industri berpotensi pencemaran.
II.3.1.3.2.1.Pemenuhan baku mutu udara di lokasi yang padat lalu lintas
Pemenuhan baku mutu udara dilokasi yang padat lalu lintas ini diuji pada 5 lokasi, masing-masing pengujian terhadap 7 parameter yaitu: CO, NO2, SO2, O3, NH3, debu dan Pb. Target pemenuhan baku mutu udara di lokasi yang padat lalu lintas ini didasarkan pada SK. Gubernur Jawa Timur No. 129/1999.
Target pemenuhan baku mutu udara di lokasi yang padat lalu lintas ditetapkan untuk CO sebesar 2260µm/m³, NO2 sebesar 92,5 µm/m³, SO2 sebesar 220 µm/m³, O3 sebesar 200 µm/m³, NH3 sebesar 1360 µm/m³, debu sebesar 260 µm/m³, dan Pb sebesar 9,26 µm/m³.
Realisasi pemenuhan baku mutu udara dilokasi padat lalu lintas yang dicapai pada tahun 2005-2009 dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel II.14
Perkembangan Pemenuhan Baku Mutu Udara di Lokasi yang Padat Lalu Lintas
Parameter Satuan Standar 2005 2006 2007 2008 2009
- CO ( g/m3) g/m3 4,3 4,5 5,1 5,3 0,02 - NO2 ( g/m3) g/m3 0,0205 0,021 0,0215 0,0221 0,05 - SO2 ( g/m3) g/m3 0,001 0,0015 0,002 0,004 0,001 - O3 ( g/m3) g/m3 - - - - - - NH3 ( g/m3) g/m3 - - - - - - Debu ( g/m3) g/m3 0,1853 0,1945 0,2153 0,2653 0,08 - Pb ( g/m3) g/m3 - - - - -
II.3.1.3.2.2. Pemenuhan baku mutu udara di lokasi industri berpotensi pencemaran
Pengujian pemenuhan baku mutu udara di lokasi industri berpotensi pencemaran dilakukan terhadap 5 parameter yaitu: CO, NO2, SO2, debu dan H2S. Realisasi pemenuhan baku mutu udara dilokasi industri berpotensi pencemaran yang dicapai pada tahun 2005-2009 dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel II.15
Perkembangan Pemenuhan Baku Mutu Udara Di Lokasi Industri Berpotensi Pencemaran
Parameter Satuan Standar 2005 2006 2007 2008 2009
- CO ( g/m3) g/m3 1,01 1,015 1,02 1,03 1,05
- NO2 ( g/m3) g/m3 0,005 0,0065 0,0075 0,009 0,0092 - SO2 ( g/m3) g/m3 0,0021 0,00215 0,00218 0,0022 0,00225 - Debu ( g/m3) g/m3 0,31 0,311 0,312 0,3136 0,3135 - H2S ( g/m3) g/m3 0,01 0,011 0,0115 0,0117 0,0119
Sumber Data : Badan Lingkungan Hidup
II.3.1.3.2.3. Tonase sampah yang terangkut ke TPA
Indikator ini menggambarkan jumlah sampah yang berhasil ditangani Pemerintah Kabupaten melalui SKPD terkait. Dengan semakin banyaknya jumlah sampah yang tertangani berarti polusi yang diakibatkan oleh sampah semakin berkurang yaitu sampah yang dibuang ke sembarang tempat oleh masyarakat semakin berkurang sehingga akan mengurangi kemungkinan terjadinya banjir khususnya di wilayah padat penduduk.
Realisasi tonase sampah yang terangkut ke TPA yang dicapai pada tahun 2009 sebesar 827 ton, meningkat 243 ton (41,61%) dibanding tahun 2005 yang sebesar 584 ton. Perkembangan sampah yang tertangani selama tahun 2005 hingga tahun 2009 dapat dilihat dalam grafik berikut ini:
Grafik II.39
Perkembangan Tonase Sampah yang Terangkut ke TPA
0 200 400 600 800 1000 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Ton 584 636 788 887 827 802
Pada grafik II.41 terlihat bahwa pada tahun 2009 tonase sampah yang berhasil diangkut ke TPA mengalami penurunan. Hal ini terjadi karena adanya beberapa faktor yaitu:
Pengelolaan sampah mandiri oleh masyarakat Komposting oleh masyarakat
Pembakaran sampah di incinerator
Hambatan kemacetan lalu lintas jalan raya Porong
Upaya yang dilakukan untuk meningkatkan jumlah sampah yang terangkut ke TPA adalah dengan menambah jumlah sarana dan prasarana pengelolaan sampah seperti truk, gerobak sampah, TPS dan penambahan TPA. Sedangkan untuk meningkatkan peran serta masyarakat diadakan program 3R yaitu reduce, reuse dan recycle
Guna mengurangi beban timbunan sampah di TPA Jabon Pemerintah Kabupaten dalam hal ini Dinas Kebersihan dan Pertamanan bekerjasama dengan Pemerintah Provinsi akan membangun lagi tempat pengelolaan sampah mandiri di Desa Prasung Kecamatan Buduran dan Desa Tanggulangin Kecamatan Tanggulangin serta melanjutkan upaya peningkatan pembuatan pupuk kompos oleh masyarakat baik secara kelompok maupun individu rumah tangga.