• Tidak ada hasil yang ditemukan

II.1. ASPEK GEOGRAFI DAN DEMOGRAFI

II.2.1. FOKUS KESEJAHTERAAN DAN PEMERATAAN EKONOMI

Analisis kinerja atas fokus kesejahteraan dan pemerataan ekonomi dilakukan terhadap indikator:

II.2.1.1. PERTUMBUHAN PDRB

Kondisi perekonomian Kota Bogor dapat dikatakan membaik, hal ini dapat dilihat dari laju pertumbuhan PDRB konstan dalam empat tahun terakhir yang mengalami pertumbuhan positif. PDRB atas dasar harga berlaku (Hb) mengalami peningkatan yang signifikan dari 11.904,60 miliar rupiah pada tahun 2009 menjadi 13.908,90 miliar rupiah pada tahun 2010. Selama tahun

50

2009-2010, sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran memberikan kontribusi terbesar dalam pembentukan PDRB atas dasar harga berlaku dengan perkembangan nilai dari 4.526,58 miliar rupiah pada tahun 2009 meningkat menjadi 6.276,21 miliar rupiah pada tahun 2012, kemudian diikuti oleh sektor Industri Pengolahan dengan nilai 3.044,08 miliar rupiah pada tahun 2009 menjadi 4.765,77 miliar rupiah pada tahun 2012. Pada sektor Pengangkutan dan Komunikasi tumbuh dari nilai 1.719,77 miliar rupiah pada tahun 2009 menjadi 2.607,34 miliar rupiaih pada tahun 2012. Sektor Keuangan, Sewa dan Jasa Perusahaan pada tahun 2009 memiliki nilai 1.216,46 miliar rupiah kemudian meningkat menjadi 1.789,16 miliar rupiah pada tahun 2012.

Perkembangan nilai PDRB atas dasar harga konstan dan kontribusi sektor dalam PDRB Kota Bogor selama lima tahun terakhir dapat dilihat pada Tabel II.25 berikut.

Tabel II.25 Nilai dan Kontribusi Sektor dalam PDRB Kota Bogor Atas Dasar Harga Berlaku Tahun 2009 s.d 2012

NO SEKTOR 2009 2010 2011 2012

(RP) % (RP) % (RP) % (RP) %

1 Pertanian 24.008,43 0,20 25,916.73 0,19 28,118.04 0,18 30,275.03 0,17 2 Pertambang

an dan

Penggalian 207,34 0,001 223.97 0,001 219.49 0,0014 213.85 0,0012 3 Industri

Pengolahan 3,044,078.40 25,57 3,644,311.09 26,20 4,158,989.50 26,85 4,765,773.70 27,51 4 Listrik,Gas

dan Air bersih

245,221.37 2,06 281,368.13 2,02 310,200.08 2,00 348,135.59 2,01 5 Konstruksi 653,511.28 5,49 744,153.29 5,35 799,592.71 5,16 872,995.32 5,04 6 Perdagangan

, Hotel dan

Restoran 4,528,576.95 38,04 5,147,429.56 37,01 5,675,587.90 36,65 6,276,208.33 36,23 7 Pengangkuta

n dan

Komunikasi 1,719,767.35 14,45 2,159,576.94 15,53 2,368,197.56 15,29 2,607,342.60 15,05 8 Keuangan,

sewa, dan Jasa.

Perusahaan

1,216,482.77 10,22 1,381,808.71 9,93 1,570,307.14 10,14 1,789,161.87 10,33

9 Jasa-jasa 472,745.77 3,97 524,111.15 3,77 576,014.54 3,72 633,229.69 3,66 PDRB Atas

Dasar Harga

Konstan 11,904,599.66 100 13,908,899.57 100 15,487,253.96 100 17,323,335.99 100

Sumber: Diolah dari PDRB Kota Bogor, 2013

Pertumbuhan PDRB atas dasar harga berlaku pada tahun 2012 mengalami pertumbuhan sebesar 16,84 persen. Sektor-sektor yang berkontribusi cukup besar terhadap pertumbuhan PDRB ini antara lain sektor Industri Pengolahan yang berkontribusi sebesar 14,59 persen. Sektor lainnya adalah sektor Keuangan, sewa dan jasa perusahaan berkontribusi sebesar 13,94 persen, sedangkan sektor Listrik, Gas dan Air bersih serta Pengangkutan dan Komunikasi berkontribusi sebesar 10,58 persen terhadap pertumbuhan PDRB atas dasar harga berlaku.

Pada Tabel II.26 berikut juga dapat dilihat ada sektor yang mengalami pertumbuhan negatif yaitu sektor Pertambangan dan Penggalian pada PDRB atas dasar harga berlaku, nilai pertumbuhannya minus 2,57 persen per tahun sedangkan atas dasar harga konstan tahun 2000 nilai pertumbuhannya mencapai minus 9,20 persen per tahun. Hal ini disebabkan oleh penurunan kuantitas sektor yang bergerak di sektor ini pada tahun 2012.

Dengan melihat perkembangan PDRB atas dasar harga berlaku dan harga konstan tahun 2000 dapat menjelaskan bahwa dalam kurun waktu tiga tahun terakhir ini telah terjadi peningkatan yang cukup signifikan. Peningkatan ini

51

bukan hanya terjadi karena kenaikan harga atau inflasi tetapi juga terjadi karena adanya peningkatan kapasitas produksi sektoral.

Tabel II.26 Perkembangan Kontribusi Sektor dalam PDRB Tahun 2009 s.d 2012 Atas Dasar Harga Berlaku (Hb) dan harga Konstan (Hk) Kota Bogor

NO SEKTOR 2010 2011 2012

HB HK HB HK HB HK

% % % % % %

1 Pertanian 7,95 3,22 8,49 2,84 7,67 2,22

2 Pertambangan dan Penggalian 8,02 1,53 -2 -9,47 -2,57 -9,2 3 Industri Pengolahan 19,72 6,38 14,12 6,2 14,59 6,14 4 Listrik,Gas dan Air bersih 14,74 6,95 10,25 6,99 12,23 7,02

5 Konstruksi 13,87 4,12 7,45 4,15 9,18 4,02

6 Perdagangan, Hotel dan Restoran 13,67 4,98 10,26 5,28 10,58 5,31 7 Pengangkutan dan Komunikasi 25,57 6,55 9,66 8,09 10,1 7,03 8 Keuangan, sewa, dan Js. Perusahaan 13,59 8,36 13,64 8,47 13,94 8,48

9 Jasa-jasa 10,87 5,36 9,9 5,42 9,93 5,22

PDRB 16,84 6,14 11,35 6,19 11,86 6,15

Sumber: Diolah dari PDRB Kota Bogor, 2013 II.2.1.2. LAJU INFLASI KOTA BOGOR

Laju inflasi merupakan ukuran untuk menggambarkan kenaikan atau penurunan harga dari sekelompok barang dan jasa yang berpengaruh terhadap kemampuan daya beli masyarakat. Laju inflasi tahun kalender di Kota Bogor pada tahun 2013 berada pada angka 8,55 persen. Angka ini meningkat dari tahun sebelumnya yang tercatat hanya 4,06 persen. Rata-rata pertumbuhan inflasi di Kota Bogor hanya sebesar 0,41 persen. Laju inflasi Kota Bogor ini jauh lebih tinggi bila dibandingkan dengan laju inflasi Provinsi Jawa Barat yang pada tahun 2012, laju inflasi Provinsi Jawa Barat hanya sebesar 3,53 persen dengan rata-rata pertumbuhannya mencapai 0,14 persen per tahun.

Selama empat tahun terakhir penyumbang terbesar bagi inflasi adalah kelompok bahan makanan dan makanan jadi. Pada tahun 2010 saja besarannya mencapai 17,10 persen yang dipicu oleh kenaikan beberapa harga komoditi bumbu-bumbuan naik tajam pada saat itu. Penyumbang inflasi selanjutnya diikuti oleh kelompok pengeluaran makanan jadi, rokok dan tembakau sebesar 2,49 persen, sedangkan penyumbang inflasi yang terkecil masih pada kelompok pengeluaran transportasi, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 0,42 persen.

Berdasarkan pengalaman tingginya inflasi pada tahun 2010, pemerintah kemudian melakukan upaya penekanan laju inflasi menjadi 2,85 persen pada tahun 2011. Laju inflasi kemudian meningkat kembali pada tahun 2012 yang lajunya mencapai 4,06 persen. Kelompok pengeluaran yang paling banyak masih di kelompok bahan makanan dan kelompok makanan jadi masih memberikan andil yang cukup besar terhadap besaran angka inflasi Kota Bogor, masing-masing sebesar 9,96 persen dan 4,13 persen.

Tabel II.27. Nilai Inflasi Rata-rata Tahun 2009 s.d 2013 Kota Bogor

INFLASI 2009 2010 2011 2012 2013 RATA-RATA PERTUMBUHAN

Kota Bogor 2,16 6,57 2,85 4,06 8,55 0,41

Sumber: BPS Kota Bogor, 2013

II.2.1.3. PDRB PER KAPITA DAN INDEKS GINI

PDRB per Kapita merupakan salah satu indikator produktivitas penduduk dihitung dengan cara membagi PDRB dengan jumlah penduduk. PDRB per Kapita dapat dihitung atas dasar harga berlaku dan harga konstan. PDRB per

52

Kapita Kota Bogor selama empat tahun terakhir menunjukkan peningkatan baik atas dasar harga berlaku maupun atas dasar konstan.

Pada tahun 2008 jumlah PDRB per Kapita atas dasar harga berlaku hingga tahun 2012 Kota Bogor mengalami pertumbuhan yang cukup baik yaitu dari 11,08 juta rupiah pada tahun 2008 kemudian meningkat menjadi 17,34 juta rupiah pada tahun 2012. PDRB per Kapita atas dasar harga konstan mengalami peningkatan yang cukup pesat selama periode 2008-2012 yaitu sebesar 4,67 juta rupiah pada tahun 2008 menjadi 5,37 juta rupiah pada tahun 2012. Rata-rata pertumbuhan PDRB per Kapita 3,38 persen per tahun.

Tabel II.28 PDRB Perkapita Atas Dasar harga konstanTahun 2000Tahun 2008 s.d 2012Kota Bogor

URAIAN 2008 2009 2010 2011 2012

PDRB Per kapita Atas Dasar Harga Berlaku

(Rp.juta/jiwa) 11,08 12,58 14,64 16,01 17,24

PDRB per kapita Atas dasar Harga Konstan

Tahun 2000 (Rp.juta /jiwa) 4,67 4,77 5,04 5,25 5,37 Sumber: Diolah dari PDRB Kota Bogor, 2013

PDRB per kapita Kota Bogor mengalami peningkatan dari tahun ke tahun sejalan dengan pertumbuhan PDRB, hanya saja pertumbuhan tersebut tidak diikuti dengan pemerataan. Hal tersebut ditunjukkan dari nilai Indeks Gini Kota Bogor.

Indeks Gini merupakan gambaran tingkat pemerataan distribusi pendapatan masyarakat. Indeks Gini Kota Bogor sebesar 0,3403 ini artinya pemerataan pendapatan di Kota Bogor mencapai level rendah. Indeks Gini adalah ukuran ketimpangan ekonomi dalam distribusi pendapatan yang ditentukan dengan Koefisien Gini Rasio antara 0-1 (>0 dan <1), semakin rendah Koefisien Gini maka pendapatan suatu wilayah/ daerah semakin merata. Kategori ketimpangan tinggi apabila Indeks Gini lebih besar dari 0,5 dan kategori rendah dengan Indeks Gini dibawah 0,5 (tinggi > 0,5 dan rendah <0,5).

II.2.1.4. PERSENTASE PENDUDUK DIATAS GARIS KEMISKINAN

Berdasarkan data dari Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) rumah tangga miskin dikelompokkan menjadi tiga, antara lain:

1. Kelompok 1 adalah rumah tangga/individu dengan kondisi kesejahteraan sampai dengan 10 persen terendah di Indonesia/paling Miskin.

2. Kelompok 2 adalah rumah tangga/individu dengan kondisi kesejahteraan antara 11 persen-20 persen terendah di Indonesia/hampir miskin.

3. Kelompok 3 adalah rumah tangga/ individu dengan kondisi kesejahteraan antara 21 persen-30 persen terendah di Indonesia/rentas miskin.

Di Kota Bogor jumlah rumah tangga miskin mencapai 49.522 rumah tangga yang tersebar di seluruh kecamatan. Jumlah rumah tangga miskin pada kelompok 1/paling miskin di Kota Bogor mencapai 17.188 rumah tangga.

Pada kelompok 2/hampir miskin, jumlah rumah tangga miskin mencapai 16.167 rumah tangga, sedangkan penduduk yang masuk kelompok 3/rentan miskin sebanyak 16.167 rumah tangga.

Kecamatan dengan jumlah rumah tangga miskin terbanyak adalah Kecamatan Bogor Selatan dengan jumlah mencapai 12.922 rumah tangga dengan 4.958 adalah rumah tangga miskin kelompok 1, 4.266 rumah tangga miskin kelompok 2 dan 3.679 kelompok 3.

53

Tabel II. 29 Jumlah Rumah Tangga Miskin Kota Bogor NAMA KECAMATAN JUMLAH RUMAH TANGGA

TOTAL KEL 1 *) KEL 2 *) KEL 3 *)

Bogor Selatan 4.958 4.285 3.679 12.922

Bogor Timur 1.537 1.395 1.446 4.378

Bogor Utara 2.638 2.595 2.743 7.976

Bogor Tengah 1.924 1.644 1.678 5.246

Bogor Barat 3.256 3.373 3.862 10.491

Tanah Sereal 2.875 2.875 2.759 8.509

Kota Bogor 17.188 16.167 16.167 49.522

Sumber: Data Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K), 2011.

Jumlah kepala keluarga miskin berdasarkan jenis kelamin 86,76 persen dari total rumah tangga miskin di Kota Bogor atau 42.967 KK didominasi oleh kepala keluarga laki-laki, sedangkan kepala keluarga perempuan dengan status miskin hanya sebanyak 6.555 KK atau sebesar 13,43 persen dari jumlah rumah tangga miskin di Kota Bogor. Bila dilihat dari latar belakang pendidikan kepala keluarga penyandang kemiskinan, kepala keluarga dengan latar belakang pendidikan Sekolah dasar (SD) memiliki jumlah terbanyak yang mencapai 21.494 KK atau sebesar 43,40 persen dari jumlah rumah tangga miskin, sedangkan kepala keluarga yang tidak memiliki ijazah ada sebanyak 11.091 KK penyandang kemiskinan.

Tabel II. 30 Kepala Keluarga Miskin berdasarkan Jenis Kelamin

JENIS KELAMIN KK KK %

Laki-laki 42.967 86,76%

Perempuan 6.555 13,24%

Total KK 49.522 100,00%

LATAR BELAKANG PENDIDIKAN KK KK %

Tidak punya ijazah 11.091 22,40%

SD 21.494 43,40%

SMP 8.603 17,37%

SMA 5.535 11,18%

Perguruan Tinggi 130 0,26%

Tidak sekolah 2.669 5,39%

Total 49.522 100,00%

Sumber: Data Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K), 2011.

Persentase penduduk di atas garis kemiskinan di Kota Bogor mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Di banding tahun 2008 yaitu dari 9,72 persen atau dari 97.710 jiwa penduduk miskin menjadi 9,16 persen atau 88.900 jiwa penduduk miskin pada tahun 2011.

Pada tahun 2010 persentase penduduk miskin Kota Bogor mencapai 9,24 persen ini artinya ada sebanyak 90.200 jiwa penduduk miskin yang ada di Kota Bogor. Persentase ini jauh lebih rendah daripada persentase penduduk miskin Provinsi Jawa Barat yang mencapai 10,31 persen.

Garis kemiskinan adalah nilai rupiah pengeluaran per kapita setiap bulan untuk memenuhi standar minimum kebutuhan-kebutuhan konsumsi pangan dan non pangan yang dibutuhkan oleh individu untuk hidup layak. Garis Kemiskinan di Kota Bogor pada tahun 2011 tercatat 305.870 rupiah per bulan.

Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 2010 yang hanya mencapai 278.530 rupiah per bulan. Garis kemiskinan Kota Bogor ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan Garis Kemiskinan Provinsi Jawa Barat yang hanya sebesar 230.445 rupiah per bulan.

54

Tabel II. 31 Persentase Penduduk Miskin dan Garis Kemiskinan di Kota Bogor NO TAHU

N JUMLAH PENDUDUK MISKIN

(JIWA)

PERSENTASE PENDUDUK MISKIN

(%)

GARIS KEMISKIN

(RUPIAH/AN BULAN)

1 2008 97,710 9,72 223.218

2 2009 91,710 8,82 256.414

3 2010 90,200 9,24 278.530

4 2011 88,900 9,16 305.870

Sumber: Bogor Dalam Angka, 2013

II.2.1.5. ANGKA KRIMINALITAS YANG TERTANGANI

Dinamika perkembangan Kota Bogor yang pesat dengan kemajemukan masyarakat akan berdampak pada perubahan sosial di masyarakat. Disisi lain peningkatan jumlah penduduk yang tidak seimbang dengan ketersediaan fasilitas akan berdampak negatif seperti semakin bertambahnya tingkat pengangguran, bertambahnya angka kemiskinan dan akan memicu meningkatnya angka kriminalitas. Sampai dengan tahun 2012 rasio kriminalitas di Kota Bogor tercatat sebesar 4,66 persen. Angka ini mengalami penurunan dibandingkan pada tahun 2011 yang tercatat sebesar 4,20 persen.

Jika angka kriminalitas pada suatu daerah semakin rendah ini menggambarkan tingginya rasa aman masyarakat. Begitu juga sebaliknya jika angka kriminalitas tinggi maka rasa aman masyarakat semakin rendah.

Tingkat kriminalitas di Kota Bogor selama empat tahun terakhir termasuk dalam kategori rendah, hal tersebut ditunjukan oleh kondisi di kalangan masyarakat yang aman, nyaman dan tentram dan tidak adanya gejolak di masyarakat.

Tabel II. 32 Angka Kriminalitas Yang Tertangani di Kota Bogor

NO TAHUN ANGKA KRIMINALITAS YANG TERTANGANI

1 2009 4,96

2 2010 4,71

3 2011 4,20

4 2012 4,66

Sumber: Bogor Dalam Angka, 2013