II.3. ASPEK PELAYANAN UMUM
II.3.2. FOKUS LAYANAN URUSAN PILIHAN
II.3.2.10. PARIWISATA
Jumlah wisatawan yang berkunjung ke Kota Bogor pada tahun 2013 sebanyak 3.953.594 orang wisatawan. Kota Bogor yang dalam sejarahnya pernah menjadi kota penting di mata dunia memiliki banyak sekali peninggalan sejarah dan kebudayaan, namun demikian berbagai potensi ini belum dikembangkan secara maksimal sebagai destinasi wisata di Kota Bogor.
86
Data sekunder yang tersedia, hanya menyebutkan 14 objek wisata di Kota Bogor termasuk Kebun Raya Bogor yang merupakan ikon legendaris.
Sebagai kota yang memiliki identitas serta karakter yang kuat, Kota Bogor seyogyanya dapat memanfaatkan potensi tersebut untuk mengembangkan pariwisata. Pengembangan destinasi wisata baru tidak harus dilakukan dengan membuat wahana wisata baru, melainkan mengembangkan potensi yang telah dimiliki agar memiliki nilai tambah. Hal ini sekaligus dapat disinambungkan dengan upaya pelestarian dan pengembalian ruh dari peninggalan sejarah.
Tabel II. 86 Daftar Obyek Wisata, Alamat dan Daya Tarik Wisata di Kota Bogor
OBYEK WISATA ALAMAT JENIS OBYEK LUAS
WILAYAH Kebun Raya Bogor Jl. Ir. H. Juanda Alam, Ilmiah, dan
Budaya 87 Ha
Istana Kepresidenan
Bogor Jl. Ir. H. Juanda No. 1 Sejarah dan
Budaya 28,8 Ha
Prasasti Batu Tulis Jl. Batutulis No. 54 Sejarah 21,34 m2 Plaza Kapten Muslihat Jl. Kapten Muslihat No. 51 Taman Rekreasi 17.690 m2 Museum Zoologi Bogor Jl. Ir. H. Juanda No. 9 Ilmiah dan Budaya 1500 m2 Museum Etnobotani Jl. Ir. H. Juanda No, 22-24 Ilmiah 1600 m2 Museum Perjuangan
Bogor Jl. Merdeka No 56 Sejarah dan
Budaya 650 m2
Rancamaya Country
Golf Jl. Rancamaya Utama
Ciawi Bogor Taman Rekreasi 400 Ha
Museum danMonumen
PETA Jl. Jend Sudirman No. 35 Sejarah dan
Budaya 9.400 m2
Tanaman Obat Jl. Tentara Pelajar No. 3 Ilmiah 1 Ha
Museum Tanah Jl. Ir. H Juanda Ilmiah 30 m2
Danau Wisata Situ
Gede Jl. Tambakan No. 1 Taman Rekreasi
dan Alam 6 Ha
Country Club
Cimanggu Jl. KH. Sholeh Iskandar
No. 1 Rekreasi 3,7 Ha
The Jungle Bogor Nirwana Residence Rekreasi 3 Ha
Sumber: Kota Bogor Dalam Angka, 2013
Potensi yang telah dimiliki dan salah satu warisan budaya yang paling dikenal adalah Kebun Raya Bogor. Sebagai salah satu kebun raya yang mengoleksi tumbuhan tropis terbesar di dunia, Kebun Raya Bogor menjadi semakin disadari pentingnya baik ditinjau dari kepentingan ekologi maupun ekonomi. Namun demikian, lokasi ini tidak luput dari ancaman pencemaran udara dari lingkungan sekitamya. Sebagai jalur lalu lintas yang semakin padat, ruas-ruas jalan di sekitar Kebun Raya Bogor menjadi tempat emisi pembakaran bahan bakar kendaraan bermotor baik berupa gas maupun partikel. Kepadatan kendaraan di sekitar Kebun Raya Bogor sangat berpengaruh terhadap kondisi pohon. Menurut Sukarsono (Sukarsono. 1998.
[THESIS] ) Dampak Pencemaran Udara Terhadap Tumbuhan di Kebun Raya Bogor. Bogor: Institut Pertanian Bogor) kandungan gas pencemar udara dari kendaraan yaitu gas NO2 dan partikel Pb (timbal) di hampir semua lokasi sudah melampaui nilai ambang batas dan kandungan tertinggi terdapat di pinggir kebun raya. Persentase kerusakan (rata-rata) struktur anatomi daun yang diduga disebabkan oleh pencemaran udara berkisar antara 0‒64,88 persen.
Dari hasil penelitian Endes N Dahlan (Dahlan, Endes N. 2007. [DISERTASI]
Analisis Kebutuhan Luasan Hutan Kota Sebagai Sink Gas CO2 Antropogenik dari Bahan Bakar Minyak dan Gas di Kota Bogor dengan Pendekatan Sistem Dinamik. Bogor: Ilmu Pengetahuan Kehutanan Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor), penggunaan bahan bakar menghasilkan emisi gas CO2 antropogenik di kota Bogor pada tahun 2010 sebanyak 600.216 ton dan diprediksi pada tahun 2100 menjadi 848.175 ton. Sedangkan menurut Sri Purwaningsih (sumber:
87
Purwaningsih, Sri. 2007. [SKRIPSI] Kemampuan Serapan Karbondioksida pada Tanaman Hutan Kota di Kebun Raya Bogor. Bogor: Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor)1, daya serap karbondioksida Kebun Raya Bogor menggunakan pendekatan median adalah 0,11 ton/jam sedangkan menggunakan pendekatan taksonomi adalah 0,54 ton/jam. Kondisi ini memantapkan Kebun Raya untuk menjalankan fungsinya sebagai penyerap karbondioksida. Dengan begitu, emisi gas CO2 di kota Bogor dapat diserap oleh Kebun Raya Bogor selama 277 hari.
Selain kepadatan kendaraan, pemanfaatan ruang di sekitar Kebun Raya Bogor semakin mengalami perubahan seiring dengan meningkatnya lahan terbangun. Hal ini ditunjukkan dengan banyaknya bangunan-bangunan yaitu pusat pemerintahan, pusat pendidikan, pusat perdagangan dan berbagai sentra lainnya. Bahkan untuk Kecamatan Bogor Tengah dimana Kebun Raya Bogor berada, terdapat 11 hotel berbintang dari jumlah total 13 hotel berbintang di Kota Bogor (sumber: Kota Bogor Dalam Angka Tahun 2013)2.
Menurut Retno Mustikaweni (sumber: Mustikaweni, Retno. 2008. [SKRIPSI]
Pengaruh Perubahan Pemanfaatan Ruang Kawasan Lingkar Luar Kebun Raya Bogor Terhadap Iklim Mikro. Bogor: Program Studi Arsitektur Landskap Fakultas Pertanian IPB)3, pola perubahan lahan terbangun serta penurunan jumlah ruang terbuka hijau dan badan air berdampak pada peningkatan suhu udara perkotaan. Suhu udara kota yang tinggi dapat menimbulkan ketidaknyamanan kota itu sendiri. THI (Temperature Humidity Index) Kota Bogor mengalami peningkatan sebesar 0,53 (semakin tinggi THI, semakin tidak nyaman). Suatu tempat termasuk kategori nyaman jika memiliki nilai THI antara 21-27.
Penghitungan tingkat kenyamanan di daerah sekitar Kebun Raya Bogor menunjukkan ketidaknyamanan di siang hari (THI berkisar antara 28 sampai 32) dan peningkatan suhu yang tajam. Indeks THI ini dapat meningkat apabila pemanfaatan ruang di sekitar KRB tidak dikendalikan dengan baik.
Meningkatnya lahan terbangun tersebut juga berdampak pada beberapa jenis hewan di dalam Kebun Raya Bogor khususnya burung. Keberadaan burung-burung semakin mengalami tekanan akibat dari perubahan kondisi lingkungan baik di dalam maupun di sekitar Kebun Raya Bogor. Dari hasil penelitian Wawan Hermawan (sumber: Hermawan, Wawan. 2001. [SKRIPSI]
Keragaman Jenis Burung di Kebun Raya Bogor. Bogor: Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam) pada tahun 2001, beberapa jenis burung yang sebelumnya terdapat di Kebun Raya Bogor kini jumlahnya semakin menurun bahkan beberapa jenis diduga sudah hilang. Hal ini disebabkan Kebun Raya Bogor sudah terisolasi dari hutan di sekitarnya.
Jumlah jenis burung yang berhasil ditemukan sebanyak 46 jenis setelah sebelumnya ditemukan 56 jenis pada tahun 1986.
Kawasan di sekitar Kebun Raya Bogor memiliki nilai kesejarahan yang tinggi. Hal tersebut dikarenakan kawasan di sekitarnya merupakan kawasan hasil pembangunan masa kependudukan bangsa kolonial. Elemen-elemen dan area-area bersejarah hasil pembangunan dan perkembangan periode kolonial pun masih ada hingga saat ini dan memberikan karakteristik yang khas pada Kota Bogor, terutama di kawasan sekitar Kebun Raya Bogor. Elemen dan area tersebut memiliki karakteristiknya masing-masing, yaitu kawasan dengan karakter lanskap kolonial di beberapa kelurahan di sekeliling Kebun Raya Bogor, Pecinan di Suryakencana, dan Kampung Arab di Empang.
88
Menurut Mayang H.W , rencana tata ruang Kota Bogor menetapkan bahwa kawasan Kebun Raya Bogor dan sekitarnya merupakan wilayah pusat kota sebagai kota lama (kawasan bersejarah) yang diarahkan untuk mempertahankan kegiatan perdagangan dan jasa yang ada, pusat perkantoran, dan RTH skala kota. Penetapan ini dapat menjadi tekanan terhadap keberadaan Kebun Raya Bogor.