II.4. ASPEK DAYA SAING DAERAH
II.4.3. FOKUS IKLIM BERINVESTASI
II.4.4.2. TINGKAT KETERGANTUNGAN (RASIO KETERGANTUNGAN)
Rasio Ketergantungan (Defendency Ratio) adalah perbandingan antara jumlah penduduk belum produktif (umur 0-14 tahun) ditambah dengan jumlah penduduk nonproduktif (umur 65 tahun ke atas) dibandingkan dengan jumlah pendduk produktif (umur 15-64 tahun). Rasio Ketergantungan dapat dilihat berdasarkan usia, yaitu Rasio Ketergantungan Muda dan Rasio Ketergantungan Tua.
Tingkat ketergantungan penduduk digunakan untuk melihat gambaran besarnya beban yang harus ditanggung oleh setiap penduduk berusia produktif terhadap penduduk yang tidak produktif. Penduduk muda berusia di bawah 15 tahun umumnya dianggap sebagai penduduk yang belum produktif karena secara ekonomis masih tergantung pada orang tua atau orang lain yang menanggungnya. Selain itu, penduduk berusia di atas 65 tahun juga dianggap tidak produktif lagi sesudah melewati masa pensiun. Penduduk usia 15-64 tahun, adalah penduduk usia kerja yang dianggap sudah produktif. Atas dasar konsep ini dapat digambarkan berapa besar jumlah penduduk yang tergantung pada penduduk usia kerja. Meskipun tidak terlalu akurat, rasio ketergantungan semacam ini memberikan gambaran ekonomis penduduk dari sisi demografi.
99
Rasio ketergantungan (dependency ratio) dapat digunakan sebagai indikator yang secara kasar dapat menunjukkan keadaan ekonomi suatu daerah. Semakin tingginya rasio ketergantungan menunjukkan semakin tingginya beban yang harus ditanggung penduduk yang produktif untuk membiayai hidup penduduk yang belum produktif dan tidak produktif lagi, sedangkan rasio ketergantungan yang semakin rendah menunjukkan semakin rendahnya beban yang ditanggung penduduk yang produktif untuk membiayai penduduk yang belum produktif dan tidak produktif lagi.
Rasio Ketergantungan Muda merupakan perbandingan jumlah penduduk usia belum produktif (usia 0-14 tahun) dengan jumlah penduduk usia produktif (usia 15 - 64 tahun). Seperti yang tersaji pada Tabel II. 103 Rasio Ketergantungan Muda mengalami penurunan pada selang waktu antara tahun 2009 sampai tahun 2013. Pada tahun 2009 rasio ketergantungan muda sebesar 40,39; mengalami penurunan menjadi 39,32; mengalami penurunan di tahun 2012 menjadi 36,69; pada tahun 2013 mengalami penurunan kembali menjadi 31,58 ini berarti bahwa setiap 100 orang yang berusia produktif harus menanggung kurang lebih 35 orang usia belum produktif (usia 0-14 tahun).
Tabel II. 103 Rasio Ketergantungan Muda Kota Bogor Tahun 2011-2013
NO URAIAN 2009 2010 2011 2012 2013
1 Jumlah Penduduk Usia
< 15 tahun 262.690 Na 261.985 261.692 236.412 2 Jumlah Penduduk Usia
15 – 64 tahun 650.381 Na 666.252 713.224 748.688 3 Rasio Ketergantungan
muda 40,39 Na 39,32 36,69 31,58
Sumber: Diolah dari berbagai sumber (Kota Bogor Dalam Angka 2011, 2012, Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil)
Rasio Ketergantungan Tua merupakan perbandingan jumlah penduduk usia tidak produktif (usia 65 tahun keatas) dengan jumlah penduduk usia produktif (usia 15-64 tahun). Rasio ketergantungan tua mengalami kenaikan dalam selang waktu antara tahun 2009 hingga tahun 2013. Seperti tersaji pada Tabel II. 104, pada tahun 2009 rasio ketergantungan tua sebesar 5,09;
mengalami kenaikan pada tahun 2011 menjadi 5,88; mengalami penurunan di tahun 2012 menjadi 4,19; akan tetapi naik kembali di tahun 2013 menjadi 5,19 ini berarti setiap 100 orang berusia produktif harus menanggung kurang lebih 5 orang usia tidak produktif. Tidak ditemukannya data tahun 2010 menyebabkan rasio ketergantungan tua di tahun tersebut tidak dapat diketahui angkanya.
Tabel II. 104 Rasio Ketergantungan Tua Kota Bogor Tahun 2011-2013
NO URAIAN 2009 2010 2011 2012 2013
1 Jumlah Penduduk
Usia > 65 tahun 33.133 Na 39.165 29.915 38.823 2 Jumlah Penduduk
Usia 15 – 64 tahun 650.381 Na 666.252 713.224 748.688 3 Rasio Ketergantungan
tua 5,09 Na 5,88 4,19 5,19
Sumber : Kota Bogor Dalam Angka Tahun 2010, 2011 dan Tahun 2012, Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil
Rasio Ketergantungan merupakan rasio ketergantungan dengan membandingkan jumlah penduduk usia belum produktif (usia < 15 tahun) dan jumlah penduduk usia tidak produktif (usia > 64 tahun) dengan jumlah penduduk produktif (usia 15-64 tahun). Berdasarkan data yang tersaji pada Tabel II. 105, rasio ketergantungan Kota Bogor mengalami penurunan pada selang waktu antara tahun 2009 hingga tahun 2013. Dimana pada tahun 2009 rasio ketergantungan mencapai 45,48; mengalami penurunan di tahun 2011 menjadi 45,20; dan mengalami penurunan di tahun 2012 menjadi 26,32; dan
100
kembali naik di tahun 2013 menjadi 40,93; angka ini berarti setiap 100 orang berusia produktif harus menanggung kurang lebih 41 usia belum produktif dan usia tidak produktif. Salah satu ciri keberhasilan pembangunan dalam bidang kependudukan adalah terjadinya perubahan komposisi penduduk menurut umur, yaitu semakin rendahnya jumlah penduduk tidak produktif, terutama kelompok penduduk usia 0 hingga 14 tahun, yang tercermin pada menurunnya rasio ketergantungan Kota Bogor pada selang waktu tahun 2011 hingga tahun 2013.
Tabel II. 105 Rasio Ketergantungan Kota Bogor Total Tahun 2011-2013
NO URAIAN 2009 2010 2011 2012 2013
1 Jumlah Penduduk Usia
0-14 tahun 262.690 Na 261.985 261.692 236.412
2 Jumlah Penduduk Usia
> 65 tahun 33.133 Na 39.165 29.915 38.823
3 Jumlah Penduduk Usia
Tidak Produktif 295.823 Na 301.150 291.607 275.235 4 Jumlah Penduduk Usia
15 – 64 tahun 650.381 Na 666.252 713.224 748.688
5 Rasio Ketergantungan 45,48 Na 45,20 40,89 36,76
Sumber : Kota Bogor Dalam Angka Tahun 2010, 2011 dan Tahun 2012, Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil
Seperti tersaji pada Tabel 106, rasio ketergantungan tertinggi terdapat di Kecamatan Bogor Selatan dengan rasio ketergantungan sebesar 50,33; ini artinya setiap 100 orang berusia produktif harus menanggung kurang lebih 50 usia belum produktif dan usia tidak produktif. Kecamatan dengan rasio ketergantungan muda tertinggi terdapat pada Kecamatan Bogor Selatan dengan rasio sebesar 44,32, ini artinya angka ini berarti setiap 100 orang berusia produktif harus menanggung kurang lebih 44 usia belum produktif, sedangkan untuk ketergantungan tua tertinggi terdapat di Kecamatan Bogor Tengah dengan rasio sebesar 7,74, ini artinya angka ini berarti setiap 100 orang berusia produktif harus menanggung kurang lebih delapan usia tidak produktif.
Tabel 106 Jumlah Penduduk Menurut Rasio Ketergantungan Tahun 2011 NO KECAMATA
N RASIO
KETERGANTUNGAN
RASIO KETERGANTUNGA
N MUDA
RASIO
KETERGANTUNGA N TUA
1 Bogor
Selatan 50,33 44,32 6,00
2 Bogor
Timur 45,68 39,93 5,75
3 Bogor Utara 44,91 40,50 4,41
4 Bogor
Tengah 40,30 32,56 7,74
5 Bogor Barat 45,07 39,34 5,72
6 Tanah
Sareal 47,15 42,23 4,92
7 Kota Bogor 45,20 39,32 5,88
Sumber : IPM Kota Bogor Tahun 2012
Rasio Ketergantungan Kota Bogor pada selang waktu tahun 2011 hingga tahun 2013 memperlihatkan bahwa beban beban yang ditanggung penduduk usia produktif untuk membiayai penduduk usia belum produktif dan tidak produktif lagi relatif rendah, hal ini terlihat dari Rasio Ketergantungan di tahun 2013 yang mencapai angka sebesar 40,93 yang artinya setiap 100 orang berusia produktif harus menanggung kurang lebih 41 usia belum produktif dan usia tidak produktif.
101 BAB III
GAMBARAN PENGELOLAANKEUANGAN DAERAH DAN KERANGKA PENDANAAN
Keuangan daerah merupakan komponen paling penting dalam perencanaan pembangunan, sehingga analisis mengenai kondisi dan proyeksi keuangan daerah perlu dilakukan untuk memperoleh proyeksi yang tepat mengenai kemampuan daerah dalam mendanai rencana pembangunan dan pemecahan permasalahan strategis secara tepat. Dengan melakukan analisis keuangan daerah yang tepat akan melahirkan kebijakan yang efektif dalam pengelolaan keuangan daerah.
Pengelolaan keuangan daerah Kota Bogor dilaksanakan dalam suatu sistem terintegrasi dalam APBD yang setiap tahun ditetapkan dengan Peraturan Daerah. APBD merupakan instrumen yang menjamin terciptanya disiplin dalam proses pengambilan keputusan terkait dengan kebijakan pendapatan maupun belanja daerah.
Struktur APBD Kota Bogor terdiri dari:
1. Penerimaan Daerah yang di dalamnya terdapat Pendapatan Daerah dan Penerimaan Pembiayaan Daerah.
2. Pengeluaran Daerah yang di dalamnya terdapat Belanja Daerah serta Pengeluaran Pembiayaan Daerah.