• Tidak ada hasil yang ditemukan

Fokus Layanan Urusan Pemerintahan Wajib Non Pelayanan Dasar a.Tenaga Kerja

Dalam dokumen BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH (Halaman 75-90)

Kabupaten Pekalongan Tahun 2011 s.d 2015 (%)

C. ASPEK PELAYANAN UMUM

2. Fokus Layanan Urusan Pemerintahan Wajib Non Pelayanan Dasar a.Tenaga Kerja

Dalam penyelenggaraan pembangunan urusan tenaga kerja salah satu indikator makro yang digunakan adalah Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT). Tahun 2015 TPT di kabupaten Pekalongan menunjukkan angka 5,10 %. Artinya bahwa dari 10.000 penduduk angkatan kerja 510 jiwa adalah penduduk yang mencari pekerjaan. Angka ini berkurang 0,93 % dibanding tahun 2014 yang mencapai 6,03 %.

Tingkat penganggguran terbuka dari tahun 2011-2015 bersifat fluktuatif. Pada tahun 2011 6,12%, turun pada tahun 2012 menjadi 5,07%, turun lagi pada tahun 2013 menjadi 4,75%. Namun angka ini naik pada tahun 2014 menjadi 6,03% dan pada tahun 2015 turun menjadi 5,10. Jika dilihat menurut jenis kelamin pada tahun 2015 proporsi penduduk perempuan yang mencari pekerjaan lebih banyak dibanding laki-laki dengan angka 7,26 berbanding 5,14. Tingkat pengangguran laki-laki maupun perempuan mengalami penurunan jika dibandingkan dengan tahun 2014.

Selain TPT, indikator makro urusan tenaga kerja adalah Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK). TPAK Kabupaten Pekalongan pada tahun 2015 adalah 64,60%. Hal ini berarti bahwa dari 100 orang penduduk usia kerja, sekitar 64 orang termasuk angkatan kerja. Angka ini mengalami penurunan bila dibandingkan tahun 2014 yang sebesar 69,52%.

Pada tahun 2015 TPAK laki-laki lebih besar dari pada TPAK perempuan, yaitu 82,17% berbanding 56,30%. TPAK perempuan pada tahun 2015 mengalami kenaikan jika dibandingkan tahun 2014 yaitu dari 56,76% naik menjadi 57,30%. Namun TPAK laki-laki mengalami penurunan sebesar 1,16% dari 83,01% pada tahun 2014 menjadi 82,17% di tahun 2015.

Adapun perkembangan pelayanan urusan tenaga kerja dapat dilihat tabel 2.75 di bawah ini :

Tabel 2.75

Perkembangan Pelayanan Urusan Tenaga Kerja Kabupaten Pekalongan Tahun 2011-2015

No Uraian 2011 2012 2013 2014 2015

1. Jumah bursa tenaga kerja (unit) 24 24 20 32 26 2. Jumlah pencari kerja (orang) 33.324 31.903 38.597 47.343 48.378 3. Pencari Kerja yang ditempatkan (%) 5,18 18,02 39,90 22,33 8,19 4. Tingkat Kesempatan Kerja (TKK) (%) 93,88 94,93 95,25 93,97 94,90 5. Tingkat Partisipasi Angkatan 71,08 71,64 69,66 69,52 64,60

No Uraian 2011 2012 2013 2014 2015 Kerja (TPAK) (%)

6. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) (%) 6,12 5,07 4,75 6,03 5,10 7. Keselamatan dan perlindungan tenaga kerja (%) 19,15 20,04 20,51 26,56 31,73 8. Persentase tenaga kerja yang memperoleh Jaminan Sosia

Tenaga Kerja (Jamsostek) (%) 38,98 40,59 40,00 38,48 43,15 9. Persentase peserta pelatihan ketrampilan bagi pencari kerja

yang diterima kerja (%) 3,13 24,58 28,75 35,81 25 10. Angka sengketa pengusaha-pekerja per tahun (%) 0,01 0,012 0,012 0,01 0,01 11. Persentase kasus perselisihan tenaga kerja yang terselesaikan

(%) 100 100 100 100 100

12. Rasio penduduk (angkatan kerja) yang bekerja (%) 76,65 77,58 68,23 68,15 - 13. Tingkat Upah Minimum Kabupaten (UMK) (Rp) 760.000 873.000 962.000 1.145.000 1.271.000 14. Kebutuhan Hidup Layak (KHL) minimum (Rp) 836.511 888.978 967.669 1.135.938 1.258.488 15. Rasio UMK terhadap KHL (%) 96,33 98,20 99,40 100,80 100,99 Sumber : Dinsosnakertrans dan BPS Kab. Pekalongan, 2016 (diolah)

b. Pemberdayaan Perempuan dan Pelindungan Anak

Urusan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak yang harus ditangani sesuai kewenangan Kabupaten Pekalongan meliputi Kualitas Hidup Perempuan, Perlindungan Perempuan, Kualitas Keluarga, Sistem Data Gender dan Anak, Pemenuhan Hak Anak (PHA), Perlindungan Khusus Anak.

Perkembangan pelayanan urusan pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak dapat dilihat tabel 2.76.

Tabel 2.76

Perkembangan Pelayanan Urusan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Pekalongan Tahun 2011-2015

No Uraian 2011 2012 2013 2014 2015

1. Persentase partisipasi perempuan di lembaga pemerintah (%) 43,81 44,66 45,12 45,43 44,80 2. Persentase partisipasi perempuan di lembaga legislatif (%) 13,33 13,33 13,33 22,22 22,22 3.

Jumlah kebijakan yang mendukung

pelaksanaan PUG di bidang ekonomi, sosial, politik dan hukum dalam bentuk Perda dan Perbup Perda 0 Perbup 0 Perda 0 Perbup 0 Perda 0 Perbup 2 Perda 1 Perbup 3 Perda 1 Perbup 3 4. Penyelesaian pengaduan korban tindak kekerasan dan diskriminasi (%) 100 100 100 100 100 5. Jumlah P2TP2A di tingkat kabupaten dan kecamatan 20 20 20 20 20 6. Rasio KDRT dalam setiap rumah tangga 0,003 0,0020 0,0025 0,0019 0,0010 7. Partisipasi Angkatan Kerja Perempuan (%) 54,64 53,20 54,24 54,24 41,44 8. Penyelesaian pengaduan perlindungan perempuan dan anak dari tindakan

kekerasan 100 100 100 100 100

9. Jumlah focal point yang terbentuk (Unit) 35 35 35 35 35 10.

Jumlah pusat pelayanan terpadu pemberdayaan perempuan dan anak (P2TP2A) di tingkat kecamatan dan kabupaten (Unit)

1 1 1 1 1

11. Angka melek huruf perempuan usia 15 tahun ke atas (%) 93,91 99,52 99,85 99,72 105,78 Sumber : BPMPKB Kab. Pekalongan, 2016

Dari data tabel 2.76 di atas, ada beberapa indikator strategis yang menggambarkan masih adanya permasalahan pada bidang pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak.

c. Pangan

Berdasarkan Undang-undang nomor 23 tahun 2014 tentang pemerintahan daerah, urusan pangan dikategorikan pada urusan pemerintahan wajib non pelayanan dasar yang dilaksanakan oleh pemerintah pusat/Provinsi/Kabupaten. Penyelenggaraan pangan mulai aspek ketersediaan, keterjangkauan pemenuhan konsumsi pangan yang cukup, aman, bermutu dan bergizi seimbang dilakukan berdasarkan azas kedaulatan, kemandirian, ketahanan, keamanan, manfaat pemerataan berkelanjutan dan berkeadilan. Hal ini berdasarkan Undang-undang nomor 18 tahun 2012 tentang pangan.

Undang-undang Nomor 18 tahun 2012 tentang Pangan mengamanatkan bahwa Pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang paling utama dan pemenuhannya merupakan bagian dari hak asasi manusia yang dijamin di dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 sebagai komponen dasar untuk mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas. Yang dimaksud dengan Pangan menurut UU No 18 Tahun 2012 tersebut adalah segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati produk Pertanian perkebunan, kehutanan, perikanan, peternakan, perairan, dan air, baik yang diolah maupun tidak diolah yang diperuntukkan sebagai makanan atau minuman bagi konsumsi manusia, termasuk bahan tambahan Pangan, bahan baku Pangan, dan bahan lainnya yang digunakan dalam proses penyiapan, pengolahan, dan/atau pembuatan makanan atau minuman

NAWA CITA atau agenda prioritas Kabinet Kerja mengarahkan pembangunan pertanian ke depan untuk mewujudkan kedaulatan pangan, agar Indonesia sebagai bangsa dapat mengatur dan memenuhi kebutuhan pangan rakyatnya secara berdaulat. Dalam agenda ketujuh nawacita yaitu “Mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor-sektor strategis ekonomi domestik” salah satu poin yang hendak dicapai oleh pemerintah adalah peningkatan kedaulatan pangan yang dicerminkan pada kekuatan untuk mengatur masalah pangan secara mandiri yang didukung oleh :

1) Ketahanan pangan terutama kemampuan mencukupi pangan dari produksi dalam negeri

2) Pengaturan kebijakan pangan yang dirumuskan dan ditentukan oleh bangsa sendiri

3) Mampu melindungi dan menyejahterakan pelaku utama pangan terutama petani dan nelayan

Untuk pencapaian ketahanan pangan dan kedaulatan pangan tersebut perlu adanya dukungan dari semua pihak baik masyarakat, pelaku usaha

Sasaran yang ingin dicapai dalam pembangunan ketahanan pangan adalah untuk peningkatan ketersediaan pangan, pemantapan distribusi dan aksebilitas pangan, peningkatan kualitas konsumsi pangan dan percepatan penganekaragaman pangan sesuai dengan karakteristik daerah, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat petani melalui upaya pemberdayaan kelompok pelaku usaha dan pelaku utama pada bidang agribisnis khususnya komoditas-komoditas unggulan.

Pemerintah Kabupaten Pekalongan memiliki komitmen untuk mendukung kebijakan Pemerintah Pusat dan Provinsi Jawa Tengah dalam mewujudkan ketahanan pangan, melalui program yang diarahkan pada fasilitasi ketersediaan dan cadangan pangan, pengendalian dan pengawasan fluktuasi harga pangan, pengembangan

penganekaragaman serta pola konsumsi pangan masyarakat, peningkatan mutu dan keamanan pangan.

Angka ketersediaan bahan pangan terutama padi (beras), jagung dan kedelai didekati hanya dengan capaian produksi dalam daerah karena komoditas tersebut bukan komoditas yang diatur tata niaganya sehingga arus distribusi barang masuk maupun keluar dari wilayah Kabupaten Pekalongan tidak dapat dideteksi.

Capaian yang diperoleh dari pelaksanaan program dan kegiatan pada urusan Pangan Kabupaten Pekalongan selama tahun 2011-2015 adalah sebagaimana tabel 2.77 sebagai berikut:

Tabel 2.77.

Perkembangan Pelayanan Urusan Pangan Kabupaten Pekalongan Tahun 2011-2015

No. ASPEK 2011 2012 Capaian Tahun 2013 2014 2015 1. Ketersediaan Pangan Produksi GKG (ton) 213.120 221.861 224.420 235.496 222.271 Beras (ton) 133.690 139.173 140.779 147.727 139.431 Jagung (ton) 13.034 9.484 13.536 8.591 6.879 Kedelai (ton) 70 39 40 38,2 70 2. Kebutuhan Pangan Beras (ton) 71.232 72.294 72.271 72.815 76.867 Jagung (ton) 2.784 2.825 2.824 2.846 2.846 Kedelai (ton) 8.996 8.528 9.041 9.110 17.143 3. Surplus/Defisit Beras (ton) 62.458 66.879 68.508 74.911 62.564 Jagung (ton) 10.250 6.659 10.712 5.745 4.033 Kedelai (ton) -8,926 -8.489 -9.001 -9.071 -17.073 Sumber : BKPP Kab. Pekalongan, 2016

Untuk menjamin pemenuhan kebutuhan konsumsi penduduk secara fisik maupun ekonomi, diperlukan pengelolaan cadangan pangan di seluruh komponen masyarakat. Salah satu caranya ialah dengan menumbuh-kembangkan sekaligus memelihara tradisi masyarakat secara perorangan maupun kelompok untuk menyisihkan sebagian hasil panen sebagai cadangan pangan dengan membangun dan mengembangkan cadangan pangan masyarakat melalui lumbung pangan masyarakat.

Perkembangan lumbung pangan masyarakat di Kabupaten Pekalongan belum mengalami perkembangan yang signifikan bila dibandingkan dengan jumlah desa, yaitu dari 285 desa/kelurahan di Kabupaten Pekalongan baru terbentuk 30 kelompok lumbung pangan masyarakat yang tersebar di 24 desa di 10 kecamatan, untuk itu diperlukan adanya komitmen dari semua pihak untuk dapat menumbuhkembangkan kegiatan lumbung pangan masyarakat. Sesuai dengan amanat Undang Undang nomor 18 tahun 2012, pemerintah daerah juga perlu untuk mengembangkan pengelolaan cadangan pangan pemerintah daerah sebagai cadangan pangan yang dapat digunakan sewaktu-waktu diperlukan adanya intervensi pemerintah untuk membantu masyarakat yang kesulitan mendapatkan pangan.

Adapun jumlah kecamatan rawan pangan di Kabupaten Pekalongan Tahun 2011 – 2015 ( Berdasar Peta Ketahanan dan Kerentanan Pangan) dapat dilihat pada Tabel 2.78.

Tabel 2.78.

Jumlah Kecamatan Rawan Pangan di Kabupaten Pekalongan Tahun 2011 – 2015 ( Berdasar Peta Ketahanan dan Kerentanan Pangan)

No Tingkat Kerentanan (kecamatan) 2011 2012 2013 2014 2015

1 Kerentanan sangat tinggi - - - - -

2 Kerentanan tinggi - - - - -

3 Kerentanan cukup tinggi - - - - -

4 Kerentanan cukup rendah 2 3 2 2 1 5 Kerentanan rendah 15 10 11 12 10 6 Kerentanan sangat rendah 2 6 6 5 8

Sumber : BKPP Kab. Pekalongan, 2016

Penanganan daerah rawan pangan dilaksanakan dengan pembinaan pada Desa Mandiri Pangan melalui kelompok-kelompok afinitas yang ada di 6 (enam) Desa Mandiri Pangan di Kabupaten Pekalongan yaitu masing-masing 1 (satu) desa di Kecamatan Paninggaran, Wonokerto, Lebakbarang, Siwalan, Tirto, dan Wonopringgo. Disamping itu, penanganan daerah rawan pangan juga dilaksanakan melalui kegiatan Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) dengan sasaran Kelompok Wanita Tani, yang diharapkan dapat memenuhi kebutuhan gizi masyarakat dan meningkatkan perekonomian keluarga.

Capaian indikator SPM di Kabupaten Pekalongan telah memenuhi target yang ditetapkan dalam RPJMD namun ada beberapa indikator yang mengalami penurunan yaitu Indikator Ketersediaan Energi dan Protein dan Indikator Penguatan Cadangan Pangan. Capaian kedua indikator tersebut di atas, tahun 2015 lebih rendah dibandingkan capaian tahun 2014. Hal tersebut disebabkan oleh capaian produksi komoditas pertanian (dalam arti luas) tahun 2015 yang secara umum lebih rendah dibandingkan tahun 2014. Hal ini dapat dijelaskan dalam tabel 2.79 di bawah ini.

Tabel 2.79.

Capaian Indikator SPM Ketahanan Pangan Kabupaten Pekalongan Tahun 2011-2015

No Bidang Urusan / Indikator Realisasi Capaian

2011 2012 2013 2014 2015

1 Regulasi Ketahanan Pangan 1 1 1 1 1

2 Ketersediaan energi dan protein per Kapita

106,25 114,13 116,53 120,96 115,45 a. Energi (%) b. Protein (%) 3 Penguatan cadangan pangan (%) 59 69,85 74,35 91,04 68,00 4 Ketersediaan informasi

pasokan, harga dan akses pangan di daerah

70 97 98,29 98,7 98,93

5 Stabilitas harga dan

pasokan pangan (fluktuasi harga) (%)

87 89 100 100 100

6 Skor Pola Pangan Harapan

No Bidang Urusan / Indikator Realisasi Capaian 2011 2012 2013 2014 2015 7 Pengawasan dan pembinaan keamanan pangan (%) 40 100 100 100 100

8 Penanganan daerah rawan pangan (%)

35 46 55 56,25 60

9 Konsumsi energi dan

protein per kapita

40 58,2 60,2 60,7 60,9

Sumber : BKPP Kab. Pekalongan, 2016

d. Pertanahan

Penyelenggaraan Urusan Pertanahan ditujukan untuk peningkatan tertib administrasi pertanahan di Kabupaten Pekalongan, baik menyangkut fasilitasi penyelesaian pengadaan tanah untuk kepentingan umum dan pemerintah, penanganan permohonan alih fungsi lahan, penetapan lokasi, tukar menukar tanah Pemda dan penyelesaian permasalahan tanah lainnya.

Perkembangan pelayanan urusan pertanahan di Kabupaten Pekalongan selama Tahun 2011–2015, dapat dilihat pada Tabel 2.80.

Tabel 2.80

Perkembangan Pelayanan Urusan Pertanahan Kabupaten Pekalongan Tahun 2011-2014

No Uraian 2011 2012 2013 2014 2015

1. Penerbitan sertifikat Hak Atas TanahKantor

Pertanahan 8.450 8.538 6.280 10.863 - 2. Persentase (%) luas

lahan bersertifikat 28,01 28,20 29,71 30,37 32,29 3. Sewa tanah milik

Pemerintah Kabupaten

Pekalongan 24,591,857 14,558,936 261,456,250 276,789,600 312,710,233 Sumber : BPN dan Bag. Asset Setda Kab. Pekalongan, 2016

e. Lingkungan Hidup

Kabupaten Pekalongan merupakan daerah sentra industri terutama industri batik. Kegiatan industri berpotensi menghasilkan limbah cair, padat dan udara yang apabila tidak dikelola dengan baik akan menimbulkan permasalahan pencemaran yang dapat berkembang menjadi potensi keresahan masyarakat.

Jumlah kegiatan industri tekstil di Kabupaten Pekalongan yang potensial menghasilkan air limbah adalah 30 untuk industri menengah dan 12.400 Home Industri kecil (meliputi Industri Pembatikan, Printing/Sablon, Jeans Wash, Pertenunan dan Pewarnaan benang). Sebagian industri di Kabupaten Pekalongan mulai beralih menggunakan bahan bakar batubara (terdapat + 25 industri pemakai batubara di Kabupaten Pekalongan).

Selain itu di Kabupaten Pekalongan terdapat 6 (enam) sungai yang berpotensi tercemar oleh limbah industri, yaitu : Sungai Sragi Lama (Rembun), Sungai Kapidodo (Kangkung), Sungai Slempeng, Sungai Mrican, Sungai Meduri, Sungai Sengkarang (Pencongan) dengan kondisi kualitas air di atas rata-rata baku mutu yang ditentukan

Berbagai pihak terutama pelaku ekonomi berusaha menciptakan kondisi memaksimalkan untuk mengurangi biaya pengelolaan limbah dan pengendalian pencemaran. Meskipun demikian semua pihak tetap berharap pengelolaan lingkungan harus tetap terjaga dengan baik. Dengan terbatasnya kemampuan pembiayaan

yang ada pada Pemerintah, maka partisipasi dan peran serta semua pihak sangat diperlukan.

Selanjutnya apabila exploitasi sumber daya alam tidak diikuti penerapan teknologi yang ramah lingkungan, penegakan aturan-aturan yang ada dan tanggungjawab semua pihak, maka akan terjadi berbagai masalah bila tidak segera diatasi akan menimbulkan kerusakan lingkungan.

Perkembangan Pelayanan urusan lingkungan hidup di Kabupaten Pekalongan tahun 2011-2015 dapat dilihat pada tabel 2.81 berikut :

Tabel 2.81

Perkembangan Pelayanan Urusan Lingkungan Hidup Kabupaten Pekalongan Tahun 2011-2015

No Uraian 2011 2012 2013 2014 2015

1. Pencemaran status mutu air (ttk) 30 30 36 36 39 2. Cakupan pengawasan terhadap pelaksanaan AMDAL. 100 100 100 100 100 3. Penegakan hukum lingkungan (%) 100 100 100 100 100 4. Pelayanan pencegahan pencemaran air (%) 95,07 93,7 92,62 85,00 70,83 5. Pelayanan pencegahan pencemaran udara dari sumber tidak bergerak (%) 0 0 0 100 100 6. Pelayanan informasi status kerusakan lahan dan/atau tanah untuk produksi

biomassa (%) 0 0 0 0 100

7.

Pelayanan tindak lanjut pengaduan masyarakat akibat adanya dugaan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup (%)

100 100 100 100 100 Sumber : KLH Kab. Pekalongan, 2016

f. Administrasi Kependudukan dan Pencatatan Sipil

Urusan Administrasi Kependudukan dan Pencatatan Sipil yang harus ditangani sesuai kewenangan Kabupaten Pekalongan meliputi Pendaftaran Penduduk, Pencatatan Sipil, Pengelolaan Informasi Administrasi Kependudukan serta Profile Kependudukan.

Perkembangan pelayanan urusan Administrasi Kependudukan dan Pencatatan Sipil di Kabupaten Pekalongan selama Tahun 2011– 2015, dapat dilihat pada Tabel 2.82

Tabel 2.82

Perkembangan Pelayanan Urusan Administrasi Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Pekalongan Tahun 2011-2015

NO URAIAN 2011 2012 2013 2014 2015

1 Penduduk ber KTP per satuan Penduduk (Kp) 450.001 483.057 535.354 543.541 565.994 2 Bayi berakte kelahiran (lbr) 14.300 14.467 14.191 15.261 15.536 3

Kepemilikan KTP/e-KTP bagi wajib KTP/e-KTP

(lbr) 98.268 40.879 54.484 56.786 58.058

4 Kepemilikan Akta kelahiran (lbr) 49.694 14.585 39.039 29.962 25.384 5 Kepemilikan KK bagi setiap Keluarga (lbr) 45.267 66.643 52.474 64.012 66.997

Dari tabel 2.82 di atas beberapa data menunjukkan masih adanya permasalahan dalam urusan ini. Rasio penduduk ber-KTP per satuan penduduk walaupun setiap tahunnya ada peningkatan namun jika dibandingkan dengan jumlah penduduk yang wajib KTP masih terjadi kesenjangan. Kondisi yang sama juga pada indikator Rasio bayi ber-akte kelahiran dan Rasio pasangan ber-akte nikah.

g. Pemberdayaan Masyarakat dan Desa

Pemberdayaan masyarakat dan desa pada dasarnya adalah mengembangkan kemampuan, kemandirian dan peran aktif masyarakat dalam pembangunan, agar secara bertahap masyarakat dapat membangun diri dan lingkungannya secara mandiri dengan menciptakan demokratisasi, transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan pembangunan. Untuk mewujudkan kemandirian masyarakat dalam pembangunan, pemberdayaan masyarakat dilakukan dengan memberikan kewenangan secara proporsional kepada masyarakat untuk mengambil keputusan secara mandiri tentang program – program yang sesuai dengan kebutuhan dan prioritas permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat. Dengan demikian pemerintah berperan sebagai fasilitator melalui pemberian bantuan, pembinaan/arahan, monitoring dan evaluasi pelaksanaan pembangunan.

Dalam pembangunan kemandirian masyarakat, Pemerintah Kabupaten Pekalongan menggunakan pendekatan terhadap pentingnya partisipasi masyarakat karena masyarakat bukan hanya sebagai obyek tetapi juga harus mampu berperan sebagai subyek yang memberikan kontribusi positif bagi pembangunan bangsa. Kebijakan dalam pelaksanaan pembangunan sekarang ini dititik beratkan pada upaya – upaya konkrit dan pendekatan yang tepat, sehingga mampu memotivasi masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalam pelaksanaan pembangunan menuju kemandirian masyarakat.

Adapun capaian pelayanan dalam urusan pemberdayaan masyarakat dan desa di Kabupaten Pekalongan dapat dilihat pada Tabel 2.83.

Tabel 2.83

Capaian Pelayanan Urusan Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Pekalongan Tahun 2011 – 2015

No. Uraian Tahun

2011 2012 2013 2014 2015 1. Jumlah kelembagaan masyarakat /

organisasi masyarakat pedesaan

yang dibina (Unit) 55 71 91 96 855 2. Persentase PKK aktif (%) 75 80 89 100 100 3. Jumlah LSM aktif (Unit) 26 26 26 26 26 4. Swadaya masyarakat terhadap

program pemberdayaan

masyarakat (%) - - 95,03 95,03 17,29 5. Jumlah peserta pendidikan dan

pelatihan pengurus lembaga-lembaga desa/kelurahan bagi peningkatan partisipasi dan penguatan kelembagaan di tingkat desa/kelurahan (Orang)

4.767 4.848 4.810 4.780 33

6. Jumlah lembaga ekonomi di desa / kelurahan (LKM, simpan pinjam, BUMDes dan lain-lain) dan kesejahteraan rakyat yang telah mendapatkan bantuan pembinaan (Kelompok)

- 3 2.339 2.441 9

Sumber : Badan Pemberdayaan Masyarakat, Perempuan dan Keluarga Berencana (BPMPKB) Kab. Pekalongan, 2016

Penurunan capaian di Tahun 2015 secara signifikan pada beberapa indikator dipengaruhi oleh berakhirnya program PNPM Perdesaan di Kabupaten Pekalongan, sementara APBD Kabupaten Pekalongan belum mampu mendukung kegiatan-kegiatan yang semula dibiayai oleh PNPM Perdesaan.

h. Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana

Urusan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana yang harus ditangani sesuai kewenangan Kabupaten Pekalongan meliputi Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana (KB) dan Keluarga Sejahtera.

Adapun Perkembangan pelayanan urusan pengendalian penduduk dan keluarga berencana dapat dilihat tabel 2.84 di bawah ini.

Tabel 2.84

Perkembangan Pelayanan Urusan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Pekalongan Tahun 2011-2015

No Uraian 2011 2012 2013 2014 2015

1. Rata-rata jumlah anak per keluarga (anak) 2,5 2,4 2,4 2,3 2,3 2. Cakupan peserta KB aktif (%) 82,00 82,96 83,02 80,15 80,22 3. Unmet Need 8,10 8,14 8,07 9,99 10,14 4. Persentase peserta KB mandiri yang tergabung dalam UPPKS (%) 85,5 86,00 81,95 82,87 82,87 5. Rasio PLKB dengan desa / kelurahan (%) 1 : 4 1 : 5 1 : 5 1 : 5 1 : 6 6. Persentase keluarga Pra Sejahtera / Sejahtera I (%) 46,35 46,16 45,03 45,57 45,57 7. Cakupan PUS dengan istri usia di bawah 20 tahun (%) 2,00 2,10 2,20 2,38 2,38 8. Cakupan anggota BKB yang ber KB (%) 50 79,55 77,34 77,17 76,84 Sumber : BPMPKB Kab. Pekalongan, 2016

Jumlah peserta KB aktif dari tahun ke tahun cenderung turun, yaitu dari 82,00% pada Tahun 2011 menjadi 80,22% pada tahun 2015. Sedangkan persentase Unmet Need KB masih cukup tinggi hal terlihat dari capaian dari tahun ke tahun mengalami peningkatan, yaitu sebesar 8,10% pada tahun 2011 menjadi 10,14% pada tahun 2015.

i. Perhubungan

Pelayanan umum pada urusan perhubungan di Kabupaten Pekalongan meliputi perhubungan darat (angkutan darat) Pelayanan urusan perhubungan dapat dilihat dari jumlah penumpang dan barang yang dapat terangkut oleh angkutan darat yang ada di Kabupaten Pekalongan.

Pelayanan angkutan darat di Kabupaten Pekalongan relatif tidak mengalami peningkatan selama kurun waktu Tahun 2011 – 2015 karena karena lesunya bisnis angkutan umum dan banyaknya masyarakat yang lebih menggunakan kendaraan pribadi. Hal ini terlihat dari rasio izin trayek relatif sama dari Tahun 2014 dan 2015 sebesar 0,048 walaupun ada peningkatan jumlah arus penumpang angkutan umum sebanyak 1.031.220 orang di Tahun 2015 naik dari Tahun 2014 sebesar 1.009.678 orang. Perkembangan pelayanan angkutan darat di Kabupaten Pekalongan selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 2.85.

Tabel 2.85

Perkembangan Pelayanan Angkutan Darat Kabupaten Pekalongan Tahun 2011-2015

No Uraian 2011 2012 2013 2014 2015

1. Jumlah arus penumpang

angkutan umum 1.264.841 1.254.891 1.246.658 1.009.678 1.031.220 2.

Rasio ijin trayek (jumlah ijin trayek/jumlah penduduk)

0,0473109 0,0501122 0,048892 0,0485262 0,0480000 3. Jumlah uji kir angkutan umum 890 1.039 1.240 1.512 1.542 4. Jumlah Terminal Bis Tipe A - - - - - 5. Jumlah Terminal Tipe C 6 6 6 6 6

6. Jumlah angkutan darat dibandingkan dengan jumlah penumpang (%) 3,16 3,43 3,38 4,17 4,07

Sumber : Dinhubkominfo Kab. Pekalongan, 2016

Guna mendukung keselamatan lalu lintas, maka dilakukan pemasangan fasilitas perlengkapan jalan di Kabupaten Pekalongan, yang terdiri dari Rambu Jalan, Guard rail, Unit Pengujian, Traffic Light, Warning Light dan Halte. Perkembangan pemasangan fasilitas perlengkapan jalan selama kurun waktu Tahun 2011-2015 dapat dilihat pada Tabel 2.86.

Tabel 2.86

Perkembangan Pemasangan Fasilitas Perlengkapan Jalan Kabupaten Pekalongan Tahun 2011-2015

No Uraian 2011 2012 2013 2014 2015

1. Rambu Jalan (buah) 851 1001 1101 1251 1251 2. Guard rail (meter) - - 224 416 544 3. Unit Pengujian (unit) 11 11 11 11 12 4. Traffic Light (buah) 4 5 6 6 6 5. Warning Light (buah) 42 50 56 56 56

6. Halte 6 6 6 6 6

Sumber : Dinhubkominfo Kab. Pekalongan, 2016

j. Komunikasi dan Informatika

Teknologi Komunikasi dan Informasi merupakan suatu kebutuhan bagi suatu organisasi, dalam mendukung kegiatan-kegiatan pemerintahan dalam pencapaian tujuannya. Selain untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas, penyelenggaraan pemerintahan yang berbasis teknologi informasi dan komunikasi juga merupakan suatu langkah penting untuk meningkatkan transparansi dan akuntabilitas organisasi pemerintah.

Peningkatan kualitas layanan publik salah satunya ditempuh melalui pemanfaatan government. Optimalisasi pemanfaatan e-government dilaksanakan dalam bentuk pembangunan Jaringan LAN (Local Area Network), penyediaan material jaringan komputer dan internet, pemasangan jaringan intranet di semua SKPD Kabupaten Pekalongan, pembuatan software aplikasi data terintegrasi berbasis desa dan peningkatan SDM pengelola jaringan TIK di semua SKPD Kabupaten Pekalongan.

Adapun indikator capaian pelayanan urusan komunikasi dan informatika dapat dilihat tabel 2.87 di bawah ini :

Tabel 2.87

Capaian Pelayanan Urusan Komunikasi dan Informatika Kabupaten Pekalongan Tahun 2011-2015

No Uraian 2011 2012 2013 2014 2015

1. Jumlah pem-publish-an data dan informasi pemerintahan dan

pembangunan yang akurat dan terbaru 199 559 596 646 502

2. Jumlah Sistem Informasi yang dimiliki oleh pemerintah daerah berbasis TI 2 5 6 8 12

3. Prosentase SKPD yang memiliki jaringan berbasis LAN (%) 36 45 60 70 80

4. Jumlah Menara telekomunikasi - 101 119 123 133

5. Jumlah jaringan komunikasi (Wi Fi aktif) - - 31 42 49

6. Rasio wartel/warnet terhadap penduduk 0,01 0,01 0,01 0,01 0,1

7. Jumlah surat kabar nasional/lokal (media) 7 7 7 7 7

8. Jumlah penyiaran radio/TV lokal 7 7 7 7 6

9. Web site milik pemerintah daerah 1 1 1 1 1

10. Pameran/expo - - 1 1 1

11. Kegiatan diseminasi Informasi Nasional melalui media massa seperti majalah,

radio, dan televisi 375 373 374 375 376

12. Kegiatan Diseminasi Informasi Nasional melalui media baru seperti website (media online)

setiap

hari setiap hari setiap hari setiap hari setiap hari

13. Kegiatan Diseminasi Informasi Nasional melalui media tradisional seperti

pertunjukan rakyat (pertahun) 0 0 12 13 13

14.

Kegiatan Diseminasi Informasi Nasional melalui media interpersonal seperti sarasehan, ceramah/ diskusi, dan lokakarya

15.

Kegiatan Diseminasi Informasi Nasional melalui media luar ruang seperti media buletin, leaflet, booklet, brosur,

spanduk, dan baliho (pertahun)

- - - 12 12

16. Kelompok Informasi Masyarakat di tingkat kecamatan (%) - 12,5 31,58 31,58 31,58 Sumber : Dinhubkominfo Kab. Pekalongan, 2016

k. Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah

Usaha pengembangan ekonomi di Kabupaten Pekalongan meliputi koperasi dan KUD. Hal ini mengingat posisi dan manfaat koperasi maupun KUD yang menyentuh sampai lapisan bawah, dan dapat dijadikan sebagai wahana paguyuban maupun kelompok usaha masyarakat.

Perkembangan pelayanan urusan koperasi, usaha kecil dan menengah dapat dilihat tabel 2.88 di bawah ini :

Tabel 2.88

Perkembangan Pelayanan Urusan Koperasi dan

Usaha Kecil Menengah Kabupaten Pekalongan Tahun 2011-2015

No Uraian 2011 2012 2013 2014 2015

Koperasi/KUD

1. Jumlah Koperasi/KUD 377 377 387 394 396 2. Penyelenggaraan RAT 165 167 177 193 167

No Uraian 2011 2012 2013 2014 2015 -Cukup Sehat 87 99 136 145 124 -Manajerisasi 22 93 94 122 122 3. Pelaksanaan Audit - Audit Internal 130 130 140 150 150 - Audit Eksternal 20 23 25 27 27 - Jumlah karyawan 745 745 755 1.123 1.128 - Jumlah Anggota 120.335 120.453 120.683 113.514 113.711 4. Persentase Koperasi Aktif (%) 43,77 44,3 43,77 49 49,25

5. Persentase Koperasi Sehat

- Kategori Sehat (%) 9,28 13,26 23 25 26 - Kategori Cukup Sehat (%) 23,08 31,04 77 75 74 Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM)

1. Jml UMKM 43.052 44.679 45.199 44.680 44.680

- Mikro 24.884 25.393 26.133 37.216 37.216

- Kecil 12.693 13.665 13.445 7.012 7.012

- Menengah 5.475 5.621 5.621 452 452

2. Jumlah UMKM Binaan 380 400 441 441 488 3.

Persentase Usaha Mikro Kecil terhadap jumlah UKM (%)

87.27 86.80 87.56 87.56 87.56 Sumber : Dinperindagkop UMKM Kab. Pekalongan 2016

Dari tabel 2.88 jumlah koperasi dari tahun ke tahun mengalami peningkatan, dimana pada tahun 2011 berjumlah 377 dan meningkat menjadi 396 pada tahun 2015. Demikian juga dengan koperasi yang aktif, mengalami peningkatan dari tahun 2011 sejumlah 165 koperasi menjadi 193 koperasi di tahun 2014, Hal ini dikarenakan semakin banyaknya koperasi yang menyelenggarakan RAT tepat waktu yang berarti semakin meningkat pula koperasi yang aktif dalam menjalankan usahanya.

Persentase koperasi sehat mengalami peningkatan dari tahun 2014 sebesar 25 % menjadi 26 % pada tahun 2015. Hal ini dapat menunjukkan bahwa koperasi semakin bagus dalam melaksanakan tata kelola keuangan dan usahanya, sehingga mendapatkan penilaian sebagai koperasi sehat.

Jumlah Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) dalam kurun waktu 5 tahun mengalami fluktuasi, dimana tahun 2011 sampai

Dalam dokumen BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH (Halaman 75-90)