SUSUNAN PENGURUS FRONT UMAT ISLAM KLATEN
B. Pola Gerakan Sosial dan Keagamaan FUI dalam Menghadapi Permasalahan Kemasyarakatan yang Timbul di Daerah Klaten
2. Front Umat Islam Sebagai Gerakan Relawan
Istilah “kerelawanan” berasal dari kata Latin “voluntas” yang berarti “kemauan.” Istilah ini didefinisi sebagai “pemberian barang dan jasa melalui kemauan bebas seseorang.”46 Kerelawanan terdiri atas seperangkat nilai (volunteerism) dan sejumlah struktur.47 Hal ini merupakan hasil dari nilai-nilai yang tertanam kuat dan bukan sekadar karena pendidikan, pelatihan, atau motivasi. Organisasi-organisasi sukarela merupakan wahana utama guna mengoperasionalisasi konsep kerelawanan ini. Rakyat yang terlibat dalam organisasi-organisasi ini menyediakan dukungan finansial dan menawarkan jasa yang diperlukan sepenuhnya atas kemauan bebas mereka. Esensi pendekatan organisasi relawan ini ialah tidak mengimbas pembangunan dari sudut finansial tetapi menggerakkan rakyat ke dalam struktur-struktur terorganisasi untuk aksi-aksi kelompok relawan, kemandirian, dan pembangunan diri.48 Kerelawanan secara umum dapat dikemukakan sebagai perwujudan seseorang untuk menyumbangkan; pikiran, tenaga, dan harta dalam rangka membantu sesama untuk memecahkan masalah, dengan tanpa meminta imbalan, hanya satu harapannya adalah pahala dari Tuhan.
Organisasi-organisasi relawan dapat mengambil bentuk yang berbeda-beda. Secara setruktur mungkin terdapat beberapa jenis organisasi relawan yang
46
Barbara D. Miller dan Showkat Hayat Khan, “Incorporating Voluntarism into Rural Development in Bangladesh,” ( Third World Planning Review 8, 1986 ), halaman 52-139.
47
Harold L. Wilensky, Voluntary Agencies in the Welfare State, ( Berkeley: University of California Press, 1981 ), halaman 8.
48
Michael Bratton, “NGO in Africa: Can They Influence Public Policy?” , ( Development and Change 21, 1990 ), halaman 87-118.
lv
dapat dibedakan berdasarkan faktor-faktor semacam ukuran, kelas dan karakter anggota, umur organisasi, lokasi, status personel, dan karakter pemanfaat. Mungkin terdapat organisasi-organisasi relawan yang diorganisasi hanya oleh dan untuk kaum perempuan. Beberapa organisasi relawan mungkin “bersifat abadi,” dengan menyediakan jasa-jasa bermakna pada basis reguler dan memainkan peran vital dalam memastikan partisipasi komunitas. Yang lain mungkin bersifat “ad-hoc,” dengan berfungsi mencapai hanya sebuah tujuan khusus. Walaupun kebanyakan organisasi-organisasi relawan di Dunia Ketiga dibentuk di daerah-daerah pedesaan, sejumlah besar juga dijumpai di daerah-daerah- daerah-daerah perkotaan.
Berdasarkan asal sumber daya, organisasi-organisasi relawan dapat dibagi menjadi tiga jenis yang berbeda. Inilah organisasi-organisasi relawan yang sepenuhnya dikontrol dan dibiayai oleh pemerintah-pemerintah dan/atau organisasi asing (organisasi relawan asing), organisasi-organisasi relawan yang didirikan dan diorganisasi-organisasi secara lokal tetapi menerima uang dari pemerintah dan/atau organisasi asing (organisasi-organisasi relawan campuran), dan organisasi-organisasi relawan yang diorganisasi secara lokal dan secara eksklusif bergantung pada dukungan lokal untuk sumber daya manusia dan finansial.49
Menurut Kramer,50organisasi-organisasi relawan dapat bekerja sebagai para pelopor kegiatan-kegiatan pembangunan. Mereka pun dapat membantu memperbaiki kualitas dan lingkup jasa publik, menjaga nilai-nilai umum, dan
49Ibid., halaman 81.
50
Ralph M. Kramer, “Future of Voluntary Service Organization,” ( Social Work 18, 6, 1973 ), halaman 59-69.
membantu pemerintah dalam penyediaan jasa publik. Motivasi dan nilai-nilai anggota organisasi-organisasi ini, pengetahuan mereka akan situasi lokal, keterlibatan jangka panjang mereka dalam daerah geografi tertentu dan kelompok klien semuanya membantu membangun kompetensi akar rumput untuk organisasi, sampai tingkat mereka menjadi faktor utama dalam keberhasilan program-program perencanaan pembangunan.
Sebagai makhluk sosial manusia memiliki rasa atau perilaku satu dengan yang lainnya untuk bisa saling membantu, bekerja sama, menolong, menyelamatkan, berkorban dan bersahabat, inilah wujud ataupun bentuk respon manusia dalam bentuk perilaku prososial.51 Perilaku berhubungan dengan keyakinan seseorang terhadap suatu obyek atau perilaku, disamping itu perilaku dipengaruhi oleh pengetahuan individu mengenai pandangan orang lain yang penting baginya dalam menilai perilaku tersebut. Besar kecilnya pengaruh pandangan orang lain dalam membentuk norma subyektif individu mengenai suatu perilaku tergantung pada faktor kepribadian individu.52 kaum Stoic memandang bahwa manusia adalah bagian dari dunia keteraturan yang alamiah dan rasional sehingga mempunyai tanggung jawab satu dengan yang lain secara bersama-sama mengejar kebahagiaan, karena itu manusia bersifat kerjasama, etis,
altruis ( suka menolong), dan penuh cinta kasih.53
51
Sarwono, Psikologi Muda-Mudi, ( Jakarta : Rineka Cipta, 1991 ), halaman 59.
52
Wahid Hamdani, Hubungan nilai hidup dengan prilaku Prososial pada anggota Front Umat Islam Klaten, Skripsi (tidak diterbitkan), (Surakarta : Fakultas Psikologi UMS, 2009) halaman 1.
53
lvii Aspek-Aspek Perilaku Sosial.54
a. berbagi, yaitu kesediaan untuk berbagi perasaan dengan orang lain dalam suasana suka dan duka.
b. kerja sama, merupakan kesediaan untuk bekerjasama dengan orang lain demi tercapainya suatu tujuan kerja sama biasanya saling menguntungkan, saling memberi, saling menolong dan menyenangkan.
c. Perilaku menolong, yaitu kesediaan menolong orang lain yang sedang berada dalam kondisi kesulitan. Menolong meliputi membantu orang lain atau menawarkan sesuatu yang menunjang berlangsungnya kegiatan orang lain.
d. kejujuran, yaitu kesediaan untuk berkata yang sebenarnya dan tidak berbuat curang kepada orang lain.
e. kedermawanan, yaitu kesediaan untuk memberikan sebagian barang miliknya dengan kesadaran dan tanpa ada permintaan dari orang lain mempertimbangkan hak dan kesejahteraan orang lain.
Perilaku Sosial dipengaruhi oleh berbagai faktor yaitu :55
a. Faktor situasional meliputi : kehadiran orang lain, faktor lingkungan dan kebisingan, faktor tanggung jawab, faktor kemampuan yang dimiliki, faktor desakan waktu, latar belakang keluarga.
54Ahmadi, Psikologi Sosial, (Surabaya : Bina Ilmu, 1990), halaman 78.
55
Syafriman dan Wirawan, Perbedaan Orientasi Nilai dan Perilaku Prososial Antara Suku Bangsa Melayu dan Suku Bangsa Tionghoa, (Yogyakarta : UGM, 2002), halaman 120.
b. Faktor Internal meliputi : faktor pertimbangan untung rugi, faktor empati, suasana hati, faktor sifat, faktor tanggung jawab, faktor agama, tahapan moral, orientasi seksual, jenis kelamin.
c. Faktor Penerima Bantuan yang meliputi : karakteristik orang yang memerlukan pertolongan, kesamaan penolong dengan yang memerlukan pertolongan, asal daerah, daya tarik fisik.
d. Faktor Budaya Meliputi : norma yang berlaku pada suatu masyarakat khususnya norma tanggung jawab sosial, norma timbal balik dan norma keadilan. Ketika seseorang memberi pertolongan, maka hal itu didahului oleh adanya proses psikologis hingga pada keputusan perilaku sosial. Perilaku sosial dapat berupa menolong dan menyelamatkan seseorang baik berupa psikis maupun fisik. Seseorang memiliki pengalaman positif dalam memberikan pertolongan, akan menyebabkan orang kembali melakukan perilaku sosial dan pengalaman yang pahit cenderung orang akan menghindari perilaku sosial, orang dalam suasana menggembirakan, akan lebih suka menolong. Sebaliknya orang dalam suasana hati yang sedih orang cenderung akan menghindarkan diri dalam memberi pertolongan. Proses psikologi ini biasanya sering terjadi dalam pengambilan keputusan seseorang untuk melakukan perilaku sosial atau tidak.
Bryan dan Test mengatakan sesuai dengan prinsip timbal balik teori norma sosial, adanya seseorang yang sedang menolong orang lain akan memicu kita untuk juga ikut menolong.56 Wrightman dan Deaux berpendapat bahwa sikap
56
lix
sosial merupakan suatu perilaku yang mempunyai akibat sosial yang positif, berupa pemberian pada orang lain baik fisik maupun psikis, selain itu sikap terdiri dari tindakan-tindakan berupa mementingkan kepentingan orang lain, senang membantu, ikut terlibat dengan orang lain, menerima, kerjasama, bersahabat, menolong, menyelamatkan, berkorban, berbagi, memperhatikan orang lain dan bertanggung jawab.57
Sifat-sifat kerelawanan haruslah dipupuk, karena berbagai persoalan/permasalahan kesejahteraan sosial tersebut tidak berdiri sendiri-sendiri. Semua permasalahan tersebut saling terkait, ibarat “lingkaran setan” yang sangat sulit dari mana dan pada bagian mana mata rantai persoalan itu harus diputus. Di masa yang serba mengglobal ini, kita tidak lagi dapat melakukan suatu program. Kita perlu bermitra, bekerja sama, menjalin dan mengambangkan sinergi, daya, dana, pikiran, dan kebersamanan dalam mengatasi berbagai masalah dan persoalan. Karena itulah jiwa kerelawanan sangat diperlukan
Sama halnya apa yang dilakukan olek kelompok yang mengatas namakan kelompok Front Umat Islam Klaten yang dapat disingkat dengan FUI, yang didirikan pada tanggal 15 November Tahun 2002. adalah organisasi dakwah yang berkonsentrasi pada amar ma’ruf nahi munkar dan dakwah sosial. Anggota FUI dalam menjalankan aksi ini dengan ikhlas mengumpulkan dana secara sukarela di internal pengurus dan anggotanya untuk melakukan kegiatannya, para donatur menitipkan amanah untuk disampaikan kepada korban bencana. Anggota FUI tidak boleh mengambil atau menyentuh titipan. Melanggar amanah dari donatur
57
Edhi HP, Hubungan antara Kestabilan Emosi dengan Sikap Prososial, Skripsi (tidak diterbitkan), (Surakarta : Fakultas Psikologi UMS, 1999), halaman 59.
hukumnya berat, dan untuk biaya operasional kurang akan tetapi aksi atau kegiatan membantu korban masih jalan, mereka mengumpulkan dana suka rela anggota untuk menutupi biaya operasional dari kegiatan FUI. Misalnya pada waktu terjadi bencana-bencana alam seperti Tsunami Aceh, merapi, Gempa Ja-Teng dan DIY, banjir di Solo. FUI membagi bantuan menjadi dua, yaitu bantuan untuk korban bencana dan bantuan untuk relawan. Bantuan untuk korban bencana digunakan khusus untuk korban, relawan tidak boleh mengambil sedikitpun. Sedangkan bantuan untuk relawan berfungsi untuk oprasional posko misalnya seperti biaya transportasi (mobil dan motor), biaya makan relawan yang bertugas dan perawatan posko. FUI tidak mengambil sedikitpun bantuan yang diperuntukkan untuk korban, yang dijadikan untuk oprasional atau yang lainnya.
lxi