• Tidak ada hasil yang ditemukan

FRONT UMAT ISLAM KLATEN TAHUN 2002-2007

A. Gerakan Islam di Surakarta tahun 1905 - 1972

Agama Islam merupakan agama yang terbuka untuk siapa saja dan agama yang menerima pemeluk dari golongan dan lapisan sosial masyarakat apapun tanpa dibedakan ras maupun golongannya. Ajarannya cukup sederhana dan mudah untuk difahami. Dalam agama Islam tidak pernah ada tempat bagi keberhalaan dan keyakinan tidak rasional. Islam mengajarkan para pemeluknya agar mau mempergunakan akal, serta mendorong pemakaian intelek. Islam bukan agama dalam pengertian biasa, yang membatasi masalahnya hanya pada hal-hal pribadi saja. Tetapi merupakan pandangan hidup yang lengkap, yang melingkupi seluruh aspek kehidupan, baik pribadi dan sosial, materi dan moral, ekonomi dan politik, legal dan cultural, serta nasional dan internasional.

Kehidupan manusia dengan komunitas-komunitas kelompok masyarakat yang ada dan lingkungan kehidupan mereka akan mengalami perubahan secara terus menerus. Perubahan ini menurut ajaran Islam sering disebut sebagai sunatullah15 sesuatu yang merupakan realitas sosial dan pasti dialami dalam kehidupan. Dengan demikian Islam yang diyakini sebagai trensenden dan bersifat universal, pada tingkat realitas sosial tidak dapat menghindarkan diri dari

15

Azyumardi Azra, Pergolakan Politik Islam. ( Jakarta : Paramadina, 1996 ) halaman 76.

kenyataan kehidupan yaitu perubahan. Kenyataan sejarah menunjukkan bahwa Islam yang telah diyakini kebenarannya telah membantu para pemeluknya memahami realitas kehidupan dan terwujud dalam pola pandangan hidup yang Islami sehingga Islam dalam realitas sosial dapat sebagai subyek yang memberikan perubahan dalam dinamika kehidupan. Namun seberapa jauh peran tersebut tergantung pada kekuatan dan kemampuan yang dikembangkan oleh penganutnya, Umat Islam itu sendiri.

Kemunduran peradaban Islam, akibat penjajahan oleh negara-negara Barat, dan persinggungan Islam dengan Barat telah banyak menggoyahkan rasa percayadiri kaum muslimin. Melihat kemunduran yang dialami kaum muslimin melahirkan berbagai analisis untuk menanggulangi kemunduran itu. Lahirlah tokoh-tokoh Islam dengan berbagai analisis dan pemikiran-pemikirannya, menghiasi khasanah dunia pergerakan dan pemikiran Islam. Perlu ditekankan bahwa gerakan Islam adalah sebagai pencarian bentuk kehidupan muslim yang sesuai dengan ajaran Rasulullah SAW. Gerakan ini meyakini kemunduran yang dialami umat Islam karena meninggalkan ajaran Rasulullah.

Hal ini sejalan dengan analisa Akbar S. Ahmed yang mengatakan, bahwa sambutan yang luas terhadap gerakan-gerakan ini, sesungguhnya disebabkan oleh, antara lain : faktor perlawanan terhadap Barat yang hegemonik, dan terlalu dalam ikut campur di negara-negara Islam, seperti yang terjadi di Irak, Libya, Afganistan, Bosnia, dan Palestina. Umat Islam sudah lama diperlakukan tidak adil oleh Barat secara politik, ekonomi dan budaya, sehingga mereka harus mendeklarasikan perlawanannya terhadap Barat. Dominasi Barat terhadap

negara-xxi

negara Islam tidak dalam kapasitasnya yang saling bekerja sama, tetapi malah memojokkan dan memusuhi. Pada gilirannya ketidak adilan Barat dilawan dengan aksi-aksi kekerasan, seperti yang terjadi di Irak, Afganistan, Palestina dan Libya.

Secara intelektual kaum muslim sangat lemah, oleh karena itu mereka tidak mampu melakukan dialog yang seimbang dengan Barat. Impotensi intelektual ini secara langsung atau tidak disebabkan juga oleh hubungan kekuasaan yang senjang antara Barat dan Dunia Islam. Kesenjangan ini berdampak buruk negatif terhadap perkembangan atau pertumbuhan intelektual masyarakat Islam. Pada giliranya masyarakat Islam hanya menjadi konsumen-konsumen ideologi Barat, dan tidak dapat melihat lagi perbendaharaan Islam sendiri yang kaya-raya.16

Di masa sekarang ini nampaknya kaum muslim mulai merasakan mutlak perlunya untuk kembali kepada identitas dan khasanah Islam sendiri, setelah terbukti bahwa imitasi atas segala yang bercorak Barat, termasuk konsep kenegaraan dan sistem sosial, tidak memberikan kebahagiaan kepada mereka baik lahir maupun batin. Para pemimpin dan cendekiawan muslim kian menyadari bahwa Islam sebagai agama wahyu Allah, sesungguhnya sangatlah tepat dijadikan referensi atau bahan rujukan besar, yang tidak habis-habisnya ditimba bagi pembinaan kehidupan manusia yang lebih damai, adil, tenteram dan sejahtera. Dengan demikian tidak berlebihan jika kita katakan bahwa dewasa ini kaum muslimin sedang memasuki revolusi tahap ketiga, yaitu revolusi mental dan intelektual, untuk menemukan kembali ajaran-ajaran Islam secara menyeluruh.

16

Setelah berakhirnya sistem kekhalifahan tahun 1924, dunia Islam mulai ramai membicarakan konsep negara Islam. Selama masa penjajahan Barat atas dunia Islam, kaum muslimin tidak sempat dan juga tidak mampu berpikir tentang ajaran agama mereka secara jelas, komprehensif dan tuntas mengenai pelbagai masalah. Untuk kurun yang cukup lama kaum muslimin secara sengaja dipisahkan dari ajaran-ajaran Islam oleh penjajah Barat, dan dalam proses alienasi masyarakat Islam dari agamanya itu, kolonialisme dan imperialisme Barat melakukan proses peracunan-Barat (westoxication) atas dunia Islam. Sebagai masyarakat Islam kemudian dihinggapi penyakit yang oleh Abul Hassan Bani Sadr disebut westomania, sejenis penyakit kejiwaan yang menganggap Barat adalah segala-galanya.17 Muncullah berbagai kelompok Islam yang ingin menegakkan agamanya, baik organisasi lokal maupun nasional.

Surakarta merupakan salah-satu kota di Indonesia yang menjadi pusat munculnya organisasi-organisasi Islam di Indonesia, misalnya munculnya Serikat Dagang Islam (SDI) yang didirikan oleh pengusaha batik Solo, pada tahun 1905 Haji Samanhoedi (1868-1956) mendirikan Sarekat Dagang Islam (SDI) di Surakarta. Umat Islam memberikan respon besar terhadap organisasi yang menjadi simbol persatuan umat melawan hegemoni penjajah ini. Dalam waktu singkat SDI telah mempunyai cabang di berbagai pelosok Indonesia.

Pada tahun 1912, organisasi ini mengubah namanya menjadi Sarekat Islam (SI) yang dalam waktu tujuh tahun kemudian telah mampu menghimpun dua

17

xxiii

setengah juta anggota.18 Pada saat kepemimpinan HOS Tjokroaminoto perkembangan SI amat pesat, sambutan umat yang luar biasa telah membuat gentar Gubernur Jenderal Belanda AWF Idenburg. Karena itu, ia berusaha memecah SI menjadi perkumpulan kecil, dengan hanya memberikan pengakuan pada cabang-cabangnya yang mempunyai anggaran dasar sendiri dan tidak memiliki kaitan dengan pusat. Namun, siasat Idenburg ini gagal.19 Selama masa-masa awal kemunculannya, SI selalu mengedepankan semangat nasionalisme Islam Jawa untuk menggalang dukungan dari kalangan rakyat. Maka wajar kemudian SI sering terlibat dalam gerakan protes, baik pada pemerintahan kolonial maupun pada pihak keraton Surakarta Hadiningrat. Setelah kantor pusat SI pindah ke Surabaya, SI Solo lebih cenderung pada gerakan Islam Marxis yang dibawa oleh Haji Misbah. Gerakannya tetap menyuarakan pembelaan pada kaum tertindas. Pada waktu digantinya nama SDI menjadi SI tahun 1912 pada tahun itu juga muncul sebuah organisasi Islam di Yogyakarta yang dinamakan Muhammadiyah.

Muhammadiyah didirikan K.H. Ahmad Dahlan pada tahun 1912 di Yogyakarta, pada saat itu juga di Solo Muhammadiyah berkembang dengan pesat. Sedangkan Muhammadiyah Klaten berdiri pada tahun 1920, yang dirintis Kyai Ibrahim seorang ulama dari Solo. Di awal berdirinya Muhammadiyah masih berbentuk cabang, yakni cabang Klaten Kota, dengan sekretariat di rumah Bapak

18

Turnan Kahin, George Mc, Refleksi Pergumulan Lahirnya Republik Nasionalisme dan Revolusi di Indonesia. ( University Press, Pustaka Sinar Harapan,1995 ), halaman 85.

19

Anwar Haryono, Perjalanan Politik Bangsa: Menoleh ke Belakang Menatap Masa Depan, ( Jakarta : Gema Insani Press ), halaman. 20.

H. Sierad. Muhammadiyah mempunyai peranan yang penting dalam masyarakat, Muhammadiyah memiliki dominasi yang kuat di bidang pendidikan, kesehatan, dan ekonomi. Sekolahan Muhammadiyah di Surakarta mulai dari TK, MI/SD, SMP/MTS, MA/ SMA/SMK sampai perguruan tinggi ada. Bahkan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) merupakan perguruan tinggi swasta paling besar di Surakarta. Di bidang kesehatan Muhammadiyah memiliki PKU Muhammadiyah yang merupakan rumah sakit besar, Muhammadiyah juga memiliki klinik-klinik kesehatan yang tersebar di berbagai tempat di Surakarta. Demikian juga dengan jaringan ekonomi Muhammadiyah sangat bagus dan terbukti telah mampu memberi konstribusi positif bagi peningkatan kesejahteraan anggotanya. Dan dari perkembangannya Muhammadiyah telah berkembang dan berpengaruh di negara-negara Jiran seperti Malaysia dan Singapura. Kemudian organisasi Islam yang berdiri setelah Muhammadiyah adalah Nahdlatul Ulama (NU).

Sejak didirikannya NU pada tahun 1926 oleh K.H. Hasyim Ashari, NU sebagai organisasi sosial-keagamaan, NU memiliki dua aspek penting, yakni aspek doktrin dan aspek tradisi.20 Dua aspek di dalam NU tersebut berjalan sebagaimana doktrin Islam, dan tradisi umumnya masyarakat muslim. NU lebih dominan pada adat, tradisi dan kemasyarakatannya. Hal ini didukung oleh paham

20

Zaki Badawi, A Dictionary of The Social Scienses; English, French,Arabic”, ( Beirut: Librairie du Liban, 1993 ). halaman 56.

xxv

keagamaan NU yang fleksibel dan mampu berakulturasi dengan budaya Jawa khusunya Surakarta.

Munculnya ormas-ormas Islam seperti Muhammadiyah dan Nadhatul Ulama (NU), merupakan contoh yang nyata. Masa-masa ini sering disebut sebagai masa munculnya Islam modern.21 Interaksi umat Islam Indonesia dengan wacana keagamaan dan dinamikanya tidak mungkin dipisahkan dengan dinamika di luar negeri khususnya Timur Tengah. Karena bagaimanapun organisasi Islam yang telah mapan seperti Nahdhlatul Ulama maupun Muhammadiyah pun terinspirasi dan bisa dikatakan mengadopsi perkembangan wacana keagamaan yang berkembang di sana. Dalam tubuh Nahdhlatul Ulama sendiri pengaruh gerakan-gerakan tarekat yang mengadopsi dari luar negeri seperti Naqsabandiyah dan

Tijaniyah yang berpusat dan berkembang di Syiria dan Mesir cukup signifikan, begitu pula pergerakan Islam Al-Haramain dengan tokohnya Syaikh Muhammad Maliki yang berkembang di Nejd menjadi rujukan utama para ulama di

Nahdhliyin. Sedangkan Muhammadiyah pada awal-awal berdirinya tidak terlepas mengadopsi ide-ide pembaharuan Islam moderat yang dipelopori Syaikh Muhammad Abduh, Rasyid Ridha, Muhammad Abdul Wahab, hingga Jamaludin Al-Afghani ataupun Muhammad Iqbal. Dari perbedaan pemahaman tersebut membuat NU dan Muhammadiyah mengalami konflik yang berkepanjangan.

21

Deliar Noer, Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942, ( Jakarta : LP3ES, 1985 ), halaman 110.

Di tahun 1935 kota Solo digunakan sebagai tempat muktamar NU (Nahdlatul Ulama) ke-10 yang sekaligus menandai gesekan konflik baru antara Muhammadiyah dengan NU yang lebih sinkretis.22 Konflik antara organisasi-organisasi Islam tersebut membuat risih masyarakat muslim yang mendambakan persatuan umat, sehingga muncullah organisasi-organisasi yang bertujuan untuk menyatukan umat muslim. Sebagai contohnya adalah MTA yang berdiri pada tahun 1972.

Majelis Tafsir Al-Quran adalah lembaga dakwah dalam bentuk yayasan yang didirikan oleh Ustadz Abdullah Tufail Saputra pada tanggal 19 September 1972. Sebagai seorang pedagang Ustadz Abdullah Tufail Saputra pernah berkeliling ke berbagai wilayah Indonesia. Ia melihat bahwa amalan umat Islam dimana-mana jauh dari tuntunan Islam. Hal inilah yang menyebabkan mereka tidak bisa bersatu. Ia telah menempuh berbagai cara untuk menyatukan kelompok-kelompok Islam namun tidak mendapat tanggapan yang positif dari para tokoh dikalangan umat Islam. Akhirnya beliau memutuskan untuk mendirikan lembaga dakwah yang bertujuan mengajak umat Islam kembali kepada Al Qur'an dan As Sunnah yang kemudian diberi nama Yayasan Majlis Tafsir Al Qur'an (MTA). Sekarang MTA (Majelis Tafsir Al-Quran) dipimpin oleh H. Ahmad Sukina, di

22

Robby Sugara, Islam Radikal di Solo dari Kelompok Muslim Modernis, (www.syirah.com) di akses 27 April 2010. halaman 1.

xxvii

Surakarta mempunyai peranan pada bidang penerbitan dan dakwah lewat radio MTA.23

Pasca kemerdekaan gerakan Islam di Solo lebih terpengaruh pada kondisi dan isu nasional. Hal ini berlangsung sampai pada tahun 1998 ketika terjadi momentum reformasi. Gerakan Islam di Solo terbagi menjadi dua bagian besar. Pertama yang moderat dan kedua yang radikal. Yang moderat diwakili oleh NU, MTA dan Muhammadiyah sedangkan yang radikal diwakili MMI (Majelis Mujahidin Indonesia), HTI (HisbutTahrir Indonesia), FPIS (Front Pemuda Islam Surakarata), LUIS (Laskar Umat Islam Surakarta) dan FKAM (Forum Komunikasi Aktifis Masjid).24