BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.2 Pembahasan
4.2.1 Struktur Penyajian Feature Sosok
4.2.1.2.4 Gabungan
Feature sosok dalam Surat Kabar Kompas menunjukkan adanya penggunaan
jenis teras yang lain dalam penulisannya. Jenis teras yang digunakan penulis adalah
teras gabungan (G). Teras gabungan berarti mengombinasikan atau menggabungkan
beberapa jenis teras (dua-tiga jenis) menjadi satu, seperti Ts3 dan Ts4 yang termasuk
feature sosok dalam bidang ekonomi.
Ts3 pada E3 merupakan teras gabungan dari dua jenis teras, yaitu teras
penggoda dan teras deskripsi. Teras penggoda dapat dilihat pada kalimat pertama,
yakni, Pengalaman adalah guru terbaik dan alam adalah sekolah yang baik.
diyakini dan dijalankan Suyitno (38). Dia menjadikan sawah dan kolam ikannya di
Desa Kedungwangi, Kecamatan Sambeng, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, sebagai laboratorium alam. Kalimat tersebut menunjukkan bahwa ada tujuan
penulisan oleh penulis di balik kalimat itu.
Penulis ingin menimbulkan pertanyaan di benak pembaca dengan cara
menggoda dengan kata yang seakan-akan hidup padahal sebenarnya kata itu adalah
kata benda. Kata-kata yang dimaksud adalah kata pengalaman dan alam. Kata
pengalaman diibaratkan seorang manusia (makhluk hidup) seperti guru. Sedangkan,
kata alam diibaratkan sebuah tempat menuntut ilmu, yakni seperti sekolah. Kata-kata
tersebut dapat menggoda keingintahuan pembaca tentang pengalaman seperti apa
yang disebut sebagai guru terbaik dan alam yang bagaimana yang disebut sebagai
sekolah yang baik.
Ts3 juga menggunakan jenis teras deskripsi. Teras deskripsi yakni
mendeskripsikan sosok pribadi Suyitno yang berusia 38 tahun yang menjadikan
sawah dan kolam ikannya sebagai laboratorium alam dengan menyakini prinsip yang
terdapat pada teras penggoda di atas.
Selain itu, Ts4 pada E4 diawali dengan teras penggoda pada kalimat pertama
dan kalimat berikutnya menggunakan teras deskripsi. Teras penggoda yang dimaksud
terlihat pada kalimat Orang dapat berkembang ke arah yang tidak direncanakan dan
meraih sukses. Sedangkan, teras deskripsi terlihat pada kalimat selanjutnya, yaitu
Salah satunya adalah Wignyo Rahadi (53). Latar belakang pendidikan akunting tak mengahalangi dia menekuni tenun dan masuk dalam industri busana berbasis tenun.
Pembaca dapat tergoda dengan teras penggoda dalam bentuk kalimat yang penuh
dengan teka-teki.
Penulis ingin menimbulkan rasa ingin tahu pembaca dengan memancing
pembaca supaya melanjutkan membaca cerita setelah membaca kalimat pertama,
yakni kalimat yang menggoda keingintahuannya. Apa yang dimaksud dengan orang
dapat berkembang ke arah yang tidak direncanakan dan meraih sukses? Apakah
orang yang tidak memiliki cita-cita, tetapi dapat meraih kesuksesan? Apakah orang
yang malas, tetapi dapat meraih kesuksesan? Pembaca dapat bertanya dalam hati dan
segera ingin menemukan jawabannya dengan melanjutkan membaca kalimat
berikutnya.
Kalimat selanjutnya adalah bentuk teras deskripsi. kalimat tersebut berisi
tentang sosok Wignyo Rahadi yang berusia 53 tahun yang menekuni tenun dan
masuk dalam industri busana berbasis tenun. Padahal, latar belakang pendidikannya
adalah akunting. Latar belakang pendidikan yang sama sekali tidak sejalur dengan
apa yang ia tekuni sekarang tidak menjadi penghambat baginya untuk masuk dalam
industri busana berbasis tenun. Pembaca dapat membayangkan sosok Wignyo Rahadi
yang menekuni tenun tanpa berpikir latar belakang pendidikannya akan
menghalanginya.
Feature sosok dalam bidang sosial (SO) juga menggunakan teras gabungan
(G), seperti Ts5 pada SO5. Pada kalimat pertama menunjukkan teras penggoda dan
kalimat berikutnya menunjukkan teras deskripsi. Kalimat pertama tersebut adalah
Kemudian, kalimat selanjutnya adalah Namun, hal itu tidak berlaku pada Yulius
Yuwana (55). Selama enam tahun terakhir, dia terus bertahan, konsisten memberikan layanan pendidikan gratis bagi anak-anak pedesaan di Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Kini 400 anak merasakan sentuhan tangannya.
Kalimat pertama pada Ts5 merupakan teras penggoda. Kalimat tersebut dapat
menggoda pembaca. Pembaca dapat merenungkan arti atau maksud dari kalimat itu.
Beban hidup dan tekanan ekonomi yang seperti apa yang bisa membuat orang
berorientasi pada materi? Apakah yang dimaksud adalah orang tidak merasa
berkecukupan, padahal mempunyai harta yang melimpah? Pembaca dapat
melanjutkan membaca kalimat selanjutnya untuk menjawab rasa keingintahuannya.
Kalimat selanjutnya berisi tentang teras deskripsi yang mendeskripsikan
sosok Yulius Yuwana. Pembaca dapat membayangkan kondisi fisik sosok Yulius
Yuwana yang sudah berusia 55 tahun. Teras deskripsi ini menentang pernyataan pada
kalimat pertama (teras penggoda). Beban hidup dan tekanan ekonomi tidak membuat
Yulius Yuwana berorientasi pada teori. Sudah enam tahun ia konsisten memberikan
layanan pendidikan gratis bagi anak-anak pedesaan di Kabupaten Purworejo, Jawa
Tengah. Yulius yuwana sudah memberikan pendidikan gratis kepada 400 anak.
Pembaca dapat membayangkan betapa banyak anak-anak yang sudah mendapatkan
layanan pendidikan tanpa membayar. Bisa diperhitungkan hasilnya, apabila
anak-anak tersebut dipungut biaya sekian rupiah. Akan tetapi, Yulius Yuwana tidak
demikian. Teras deskripsi ini dapat memberi gambaran tentang sosok yang
Secara keseluruhan, dapat dilihat bahwa jenis teras yang digunakan dalam
feature sosok dalam Surat Kabar Kompas edisi 2 Januari-29 Maret 2014 adalah
deskripsi, kutipan, penggoda, dan gabungan. Akan tetapi, jenis teras yang sering
digunakan dalam penulisan teras feature sosok adalah jenis teras deskripsi. Hal ini
sesuai dengan pendapat Mappatoto (1999), bahwa teras deskripsi merupakan teras
yang digunakan untuk menulis feature sosok. Lima dari sepuluh feature sosok
tersebut menggunakan jenis teras deskripsi, satu jenis teras kutipan, satu jenis teras
penggoda, dan tiga jenis teras gabungan. Jenis teras deskripsi digunakan pada feature
sosok dalam bidang seni dan budaya, sosial, pendidikan, dan sejarah. Jenis teras
kutipan hanya digunakan pada feature sosok dalam bidang pendidikan. Jenis teras
penggoda juga hanya digunakan pada feature sosok bidang seni dan budaya.
Sedangkan, jenis teras gabungan digunakan pada feature sosok dalam bidang
ekonomi dan sosial.
4.2.1.3Peralihan
Peralihan merupakan bagian yang memberi aba-aba akan munculnya bahan
baru atau pergantian bahan baru, tetapi masih berkaitan dengan tema karangan yang
dapat berbentuk kata, frasa, kalimat, atau paragraf. Syarat peralihan adalah
singkat-padat dan samar-samar (Mappatoto, 1999:53:54). Peralihan ini terletak dalam tubuh
tulisan feature sosok. Feature sosok dalam Surat Kabar Kompas edisi 2 Januari-29
berisi pemilahan peralihan feature sosok dalam bidang seni dan budaya, ekonomi,
sosial, pendidikan, dan sejarah.
Tabel 11
Peralihan F eature Sosok Karakteristik
Peralihan
F eature
Peralihan F eature Sosok
PN1 PN2 PN3 PN4 PN5 PN6 PN7 PN8 PN9 PN10 Bentuk Kata √ Frasa √ Kalimat √ √ √ √ √ √ √ Paragraf √ Syarat Singkat-padat √ √ √ √ √ √ √ Samar-samar √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
PN1 ditandai dengan frasa selain “Ya Saman”. Frasa tersebut menunjukkan adanya peralihan atau pergantian bahan baru dari paragraf sebelumnya yang berisi
tentang lagu “Ya Saman” ciptaan Kamsul. Kemudian, beralih ke bahan baru yakni
penciptaan lagu-lagu yang lain karya Kamsul sebagai bentuk melestarikan budaya
Palembang. Selain menciptakan lagu “Ya Saman”, Kamsul juga menulis naskah
teater dan puisi. Kalimat-kalimat selanjutnya berisi tentang rincian lagu-lagu yang
lain ciptaan Kamsul, seperti lagu “Tembang Tepian Musi”, “Cindonyo Dunia”,
“Sunrise on Musi River”, dan “Bari”. Bentuk peralihan tersebut memenuhi syarat,
PN2 juga ditandai dengan kalimat dalam paragraf 8. Cuplikan kalimat
penanda peralihan tersebut terletak pada kalimat pertama, yaitu Selain memberikan
pelayanan kesehatan. Kemudian, dilanjutkan dengan kalimat langsung yang berisi
penjelasan Mardiana mengenai latar belakang dia memberikan pendampingan kepada
masyarakat dalam memperjuangkan kembali hutan adat. Bentuk kalimat penanda
tersebut singkat-padat dan samar-samar, tetapi menandakan bahwa cerita sudah
berganti bahan baru. Pada paragraf-paragraf sebelumnya membahas keprihatinan
Mardiana mengenai hutan adat di Desa Sarapat, Kecamatan Dusun Timur, Barito
Timur, Kalimantan Tengah. Kemudian, beralih ke bahan baru yakni pendampingan
kepada masyarakat yang dilakukan Mardiana dalam memperjuangkan kembali hutan
adat.
PN3 menunjukkan adanya peralihan yang terlihat pada kata awalnya yang
terdapat pada kalimat pertama paragraf 12. Kemudian, dilanjutkan dengan
kalimat-kalimat penjelasan yang masih berhubungan dengan kalimat-kalimat pertama sebagai penanda
adanya peralihan dari paragraf-paragraf sebelumnya. Pada paragraf-paragraf
sebelumnya membahas sosok Suyitno yang membuat formulasi pupuk cair organik
dan sebagai pelopor budidaya lele di Desa Kedungwangi, Kecamatan Sambeng,
Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Kemudian, beralih ke bahan baru yakni usahanya
yang pantang menyerah dalam membudidayakan lele dengan membuat formulasi
sendiri (flash back).
PN4 berbeda dengan peralihan PN3. PN3 terlihat pada kalimat pertama
menunjukkan adanya penulisan peralihan yang singkat-padat, karena bentuk
peralihan terlalu panjang. Akan tetapi, peralihan tersebut sudah samar-samar. Artinya,
secara tidak langsung menunjukkan adanya bahan bahasan yang baru. Pada
paragraf-paragraf sebelumnya membahas sosok Wignyo yang meraih sukses dalam usaha
tenun. Kemudian, beralih ke bahan baru yakni latar belakang Wignyo mewujudkan
mimpi menjadi pengusaha tenun sukses. Orang tua Wignyo tidak mendukungnya
dalam mendalami seni rupa. Akan tetapi, Wignyo bisa membuktikan bahwa ia bisa
hidup dari keahlian di bidang seni rupa melalui hasil corak tenun yang ia gambar atau
desain.
PN5 terletak pada paragraf 13. Kalimat pertama dalam paragraf 13 sebagai
penanda peralihan dapat dilihat pada kalimat Metode belajar Yulius itu diberi nama
Opo 2mon. Paragraf-paragraf sebelumnya membahas sosok Yulius yang memberikan
layanan pendidikan gratis di lima desa tiga kecamatan, wilayah selatan Kabupaten
Purworejo. Kemudian, beralih ke bahan baru yakni metode belajar “Opo tumon” yang
digunakannya dalam layanan pendidikan gratis seperti yang terdapat pada kalimat
pertama dalam paragraf di atas. Kalimat-kalimat selanjutnya berisi tentang penjelasan
mengenai nama Opo 2mon itu sendiri.
PN6 terletak pada kalimat pertama dalam paragraf 9, yaitu Semangat
penendak digabung tradisi gotong royong digunakan Marsam membangun kesadaran kolektif warga mengubah kondisi desa mereka. Peralihan tersebut terlihat panjang
dan tidak singkat-padat. Paragraf-paragraf sebelumnya membahas sosok Marsam
beralih ke bahan baru yakni alat yang digunakan Marsam dalam membangun
kesadaran kolektif warga mengubah kondisi desa, yaitu semangat penendak
digabung tradisi gotong royong. Setelah kalimat pertama, dilanjutkan dengan kalimat
penjelas mengenai kesadaran kolektif yang dimaksud. Kesadaran kolektif yang
dimaksud adalah cara Marsam menggerakkan warga dengan pendekatan persuasif
dengan hati nurani.
PN7 terdapat pada paragraf 11 yang berisi mantra MPC WJB yang dipercayai
siswa dalam membuat penelitian. Paragraf-paragraf sebelumnya berisi sosok Rudy
dengan “mantra” Mbuh Piye Carane, Wajib (MPC WJB) dalam penelitian.
Kemudian, beralih ke bahan baru yakni wujud atau aksi nyata Rudy memberikan
contoh membuat penelitian, sehingga para siswa mempercayai mantra MPC WJB
tersebut berkat Rudy yang memberi teladan.
PN8 terdapat pada paragraf 12. Peralihan tersebut terlihat dalam kalimat
pertama, yakni Bagi warga dan anak-anak Singajaya. Paragraf-paragraf sebelumnya
membahas sosok Opik yang menawarkan pendidikan literasi, membaca, menulis,
hingga pelatihan multimedia kepada masyarakat di Garut. Kemudian, beralih ke
bahan baru yakni Opik dapat menjadi pemikat masyarakat untuk belajar karena latar
belakang yang sama.
PN9 merupakan peralihan antarparagraf. Peralihan tersebut terletak pada
kalimat pertama paragraf 10. Kalimat yang dimaksud dalam paragraf 10 tersebut
adalah Peristiwa pembunuhan di Blora itu diperkirakan terjadi pada masa Agresi
dalam paragraf 10 berisi tentang penjelasan lanjut mengenai kalimat pertama sebagai
penanda adanya peralihan dari paragraf-paragraf sebelumnya, yakni penjelasan
mengenai peristiwa atau kejadian yang terjadi pada masa itu. Pada paragraf-paragraf
sebelumnya membahas sosok Ramelan yang mengenyam pendidikan dasar
Vervolgschool pada masa Hindia Belanda dan pada masa itu terjadi peristiwa
pembunuhan warga di Blora oleh tentara Belanda. Kemudian, beralih ke bahan baru
yakni agresi militer.
Selain itu, PN10 terdapat pada kalimat pertama paragraf 9. Kalimat yang
dimaksud adalah Peneliti, sejarahwan, dosen, mahasiswa, pelajar, dan ilmuwan dari
sejumlah negara mengunjungi perpustakaan dan museum kerajaan yang dikelola Nisnoni tersebut. Kalimat tersebut berisi orang-orang (pengunjung) atau siapa saja
yang mengunjungi museum. Kemudian, kalimat-kalimat selanjutnya berisi tentang
penjelasan mengenai kegiatan-kegiatan yang dilakukan para pengujung tersebut
ketika mengunjungi museum. Peralihan tersebut dapat terlihat apabila melihat
paragraf-pargraf sebelumnya, yakni membahas sosok Nisnoni yang merupakan
penjaga dan ahli waris Kerajaan Koepang. Kemudian, beralih ke bahan baru yakni
mengenai informasi lisan yang dapat diperoleh langsung dari Nisnoni mengenai
Kerajaan Koepang. Kalimat penanda peralihan tersebut terlihat panjang, tidak
singkat-padat. Bentuk kalimat peralihan itu bisa seperti ini, Banyak yang datang
mengunjungi perpustakaan dan museum. Kemudian, dilanjutkan dengan kalimat yang
Secara keseluruhan, peralihan feature sosok dalam Surat Kabar Kompas edisi
2 Januari-29 Maret 2014 menunjukkan karakteristik atau ciri-ciri peralihan feature.
Karakteristik atau ciri-ciri peralihan feature tersebut, yaitu berbentuk kata, frasa,
kalimat, atau paragraf. Feature sosok dalam Surat Kabar Kompas banyak
menggunakan peralihan berupa kalimat. Tujuh dari sepuluh bentuk peralihan berupa
kalimat. Peralihan tersebut terdapat pada feature dalam bidang seni dan budaya,
sosial, pendidikan, dan sejarah. Sedangkan, peralihan berupa kata, frasa, dan paragraf
hanya terlihat pada satu feature sosok saja, yaitu feature sosok dalam bidang seni dan
budaya (frasa) dan ekonomi (kata dan paragraf). Selain itu, memenuhi syarat
peralihan, yaitu singkat-padat dan samar-samar. Tujuh dari sepuluh bentuk peralihan
memenuhi syarat singkat-padat, kecuali E4, SO6, dan SE10.
4.2.1.4Tubuh
Arti kata tubuh dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah (1) keseluruhan
jasad manusia atau binatang yang kelihatan dari ujung kaki sampai ujung rambut, (2)
bagian badan yang terutama (tidak dengan anggota dan kepala), dan (3) bagian yang
terpenting. Kata tubuh merupakan kata benda. Kata benda ialah kata-kata yang
menyatakan benda (Tardjan Hadidjaja dalam Buku Tata Bahasa Indonesia
Penggolongan Kata, 1985). Kata tubuh digolongkan ke dalam kata benda nama jenis.
Tidak hanya makhluk hidup (manusia dan binatang) saja yang memiliki
tubuh, tetapi sebuah tulisan juga memiliki tubuh. Tubuh tulisan berfungsi sebagai
judul dan teras tulisan, khususnya tulisan feature. Tubuh feature memiliki
karakteristik, yakni bersifat unity (saling menyatu), koheren (saling berhubungan, dan
mengandung emphasis (penekanan tertentu pada tiap paragrafnya (Santana, 2005:47).
Karakteristik tubuh tersebut terlihat pada bentuk-bentuk atau pola paragraf tubuh
feature. Tubuh feature menurut Mappatoto memperhatikan pola paragraf dalam
penulisannya. Pola paragraf yang dimaksud adalah pola paragraf tematik, spiral, dan
blok. Pola paragraf ini membuat tubuh tulisan terstruktur sehingga tulisan feature
dapat dikemas dengan menarik. Karakteristik tubuh yang terlihat pada paragraf dapat
dilihat dalam tabel berikut
Tabel 12
Karakteristik Tubuh Feature Sosok
Karakteristik Tubuh
F eature
Pola Paragraf Tubuh Feature
Tematik Spiral Blok
Unity (saling menyatu) √
Koheren (saling
berhubungan) √
Mengandung emphasis
(penekanan tertentu) √
Setiap pola paragraf tubuh feature mengandung karakteristik yang berbeda.
Paragraf tematik menunjukkan karakteristik tubuh feature, yaitu mengandung
emphasis atau penekanan tertentu. Paragraf spiral menunjukkan karakteristik koheren
atau saling berhubungan. Sedangkan, paragraf blok menunjukkan karakteristik unity
Paragraf tematik merupakan paragraf yang memberi penegasan kembali
kepada apa yang telah diuraikan dalam teras. Penegasan kembali ini menunjukkan
bahwa terdapat penekanan tertentu terhadap objek atau subyek yang terdapat pada
teras atau paragraf pertama. Begitu juga dengan paragraf spiral menunjukkan adanya
pertalian pikiran antara paragraf sebelumnya dengan paragraf selanjutnya. Pertalian
ini sebagai bentuk karakteristik koheren, yakni paragraf satu dengan yang lain saling
berhubungan. Sedangkan, paragraf blok menunjukkan karakteristik unity.
Karakteristik unity terlihat pada paragraf-paragraf mandiri yang berdiri sendiri, tetapi
masih dalam cerita yang sama. Hal ini menunjukkan bahwa paragraf-paragraf yang
mandiri tersebut saling menyatu sehingga merajut cerita menjadi utuh. Tubuh feature
sosok dalam Surat Kabar Kompas edisi 2 Januari-29 Maret 2014 dapat dicermati
seperti di bawah ini sesuai dengan pola paragraf tematik, spiral, dan blok.