BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.2 Pembahasan
4.2.2 Karakteristik Feature Sosok
4.2.2.1 Ditulis dengan Teknik Mengisahkan (To Story)
Karakteristik pertama (K1), yaitu feature ditulis dengan teknik mengisahkan (to story) suatu situasi, peristiwa, atau keadaan secara faktual (nyata atau benar-benar terjadi). Situasi berarti suatu keadaan, seperti mencekam, tegang, ramai, dan sebagainya; peristiwa berarti suatu kejadian yang luar biasa (menarik perhatian, dsb.); dan keadaan berarti sifat, perihal suatu benda. Berbeda dengan cerita pendek yang bersifat rekaan. Teknik mengisahkan tersebut dapat dicermati pada feature sosok dalam Surat Kabar Kompas edisi 2 Januari-29 Maret 2014. Feature-feature sosok itu dikategorikan ke dalam lima bidang, yaitu bidang seni dan budaya (SB), ekonomi (E), sosial (SO), pendidikan (P), dan sejarah (SE).
Penulis feature sosok dalam bidang seni dan budaya edisi 28 Februari 2014 (SB1) menggunakan teknik mengisahkan dalam penulisan ceritanya. SB1
mengisahkan Kamsul Arifudin Harla seorang penjaga budaya Palembang dengan melestarikan bahasa Melayu melalui syair. Teknik mengisahkan ini terlihat pada beberapa paragraf yang berisi situasi, peristiwa, dan keadaan. Paragraf 11 pada SO1 menunjukkan sebuah keadaan yang memprihatinkan, dimana nama Kamsul tidak dicantumkan sebagai pencipta lagu Ya Saman. Selain keadaan yang nampak pada cerita tersebut, sebuah peristiwa juga terlihat dalam cerita feature sosok. Misalnya, suatu peristiwa ketika lagu Ya Saman mengalun di hadapan ribuan orang pada penutupan SEA Games 2011 di Palembang (paragraf 1). Sebuah peristiwa berisi mengenai apa yang terjadi, kapan, dan dimana peristiwa itu terjadi. Isi paragraf tersebut menunjukkan situasi yang ramai.
SB2 mengisahkan Mardiana D. Dana (54) seorang perawat, pelestari budaya, dan hutan adat melalui pendampingan kepada masyarakat dan melestarikan kearifan lokal. SB2 juga menunjukkan suatu keadaan yang memprihatinkan, dimana sebagian besar masyarakat di Desa Sarapat bekerja menjadi buruh perkebunan dengan jaminan kesehatan yang minim dan pendapatan yang terbatas (paragraf 6). Pada cerita juga terlihat ada peristiwa. Sosok dalam cerita mendapat teror dan intimidasi, baik berupa SMS maupun telepon ancaman ketika memperjuangkan hutan adat (paragraf 10). Peristiwa tersebut diungkapkan langsung oleh tokoh cerita. Situasi yang terlihat pada paragraf 10 menegangkan. Sosok Mardiana merasa was-was dengan adanya teror dan intimidasi itu.
Kemudian, E3 mengisahkan Suyitno (38) yang sukses karena usaha budidaya lele dari Desa Kedungwangi, Kecamatan Sambeng, Kabupaten Lamongan, Jawa
Timur. Pada paragraf 19 berisi sebuah peristiwa dimana sosok Suyitno mendapatkan sertifikat hasil riset analisis secara laboratorium pada 8-25 April 2011. Peristiwa tersebut sudah terjadi beberapa tahun yang lalu. Peristiwa itu menunjukkan situasi yang membahagiakan keadaan Suyitno benar-benar layak mendapatkan sertifikat tersebut karena temuannya yang luar biasa mengenai ilmu budidaya lele.
E4 mengisahkan Wignyo Rahadi (53) seorang pengusaha tenun yang sukses dari Solo, Jawa Tengah. Paragraf 3 pada E4 menunjukkan sebuah peristiwa dimana Wignyo mendapatkan sejumlah penghargaan dari dalam maupun luar negeri pada tahun 2012, setelah 10 tahun ia bekerja keras dalam menekuni usaha tenunnya. Peristiwa tersebut menunjukkan situasi yang menyenangkan atau membahagiakan bagi Wignyo pribadi. Keadaan Suyitno waktu itu memprihatinkan, karena ia banyak berkorban untuk mengembangkan usaha tenunnya (paragraf 4).
SO5 mengisahkan Yulius Yuwana (55) orang yang berkiprah dalam bidang sosial, yakni memberikan pelayanan dalam bidang pendidikan. Paragraf 11 pada feature sosok edisi tersebut menunjukkan sebuah peristiwa yang tidak terduga dimana siswa SMA yang biasanya meraih nilai 6-7 pada pelajaran Matematika, sekarang mereka bisa meraih nilai 8-9,9. Peristiwa tersebut menunjukkan situasi yang menyenangkan atau membahagiakan. Pemerolehan nilai yang bagus membuat semua pihak yang bersangkutan merasa senang atau bahagia. Tentu saja keadaan siswanya memang berusaha keras dalam belajar dan para pembimbing belajarnya juga demikian, memberikan yang terbaik untuk siswanya. Keadaan siswa terlihat pandai dan gurunya berkualitas.
Kemudian, SO6 mengisahkan Marsam Suma sebagai pekerja sosial masyarakat. Paragraf 6 berisi mengenai keadaan yang memprihatinkan, yakni dari 150 keluarga, hanya dua keluarga yang memilki jamban keluarga. Sedangkan, Paragraf 18 pada SO6 menunjukkan sebuah peristiwa ditemukannya sebuah penemuan 22 sumber mata air dari 35 sumber pada tahun 1997. Peristiwa tersebut menunjukkan situasi yang mengejutkan, karena tidak disangka di sekitar Gunung Sasak yang dulunya gundul menjadi hijau kembali ternyata ada sumber mata airnya.
Selanjutnya, P7 mengisahkan Rudy Prakanto, provokator SMAN 6 Yogyakarta menjadi sekolah riset. Ia menginspirasi siswa SMAN 6 Yogyakarta
mencintai penelitian dengan mantra “Mbuh Piye Carane, Wajib” (MPC WJB). Pada
paragraf 2 terlihat sebuah peristiwa yang menarik, yakni sejak tahun 2003, sebanyak 37 siswa yang dibimbing Rudy selalu menjadi juara di tingkat nasional maupun internasional. Peristiwa tersebut menunjukkan situasi yang membahagiakan bagi pihak yang bersangkutan, khususnya Rudy selaku guru pembimbing siswa dalam penelitian. Hal ini terlihat keadaan Rudy yang pandai dalam menginspirasi siswanya untuk mencintai penelitian. Begitu juga dengan siswanya yang merespon Rudy dengan baik. Keadaan siswa yang siap dan mau menerima bimbingan dari Rudy akhirnya membuahkan hasil juga, sungguh membanggakan.
P8 mengisahkan Opik (31) yang memberikan pendidikan literasi, membaca, menulis, dan pelatihan multimedia kepada anak-anak di Kampung Sukawangi, Desa Sukawangi. Pada paragraf 5 terlihat adanya peristiwa penting dimana sosok Opik memulai dan menamakan komunitasnya pada tahun 2010. Peristiwa ini menunjukkan
suatu situasi yang membahagiakan karena akhirnya Opik dapat mendirikan sebuah komunitas. Keadaan Rudy memang sudah siap ketika memulai dan menamakan komunitas tersebut karena ia memiliki keyakinan, ada banyak ilmu yang bisa didapat di luar bangku sekolah bagi anak-anak.
SE9 mengisahkan Ramelan (80) sebagai sumber sejarah Stasiun Samarang, Jawa Tengah yang merupakan stasiun pertama kali di Indonesia. Pada paragraf 10 terlihat sebuah peristiwa yang sudah lama terjadi, yakni peristiwa pembunuhan di Blora pada masa Agresi Militer Belanda I (21 Juli 1947-5 Agustus 1947). Selain itu, menunjukkan sebuah situasi yang mencekam, yakni pasukan Belanda menyerang sejumlah daerah di Pulau Jawa. Pembaca dapat membayangkan situasi pada saat itu. Situasi tersebut menunjukkan sebuah keadaan dimana rakyat di Pulau Jawa merasa ketakutan dan tertekan.
SE10 mengisahkan Leopold Nisnoni (78), penjaga sejarah Kerajaan Koepang. Pada paragraf 14 berisi mengenai peristiwa dimana bangsa Portugis dan Belanda merusak seluruh tanaman kerajaan di Timor. Peristiwa tersebut menunjukkan situasi yang mencekam. Hal ini memperlihatkan keadaan orang-orang (masyarakat) di sana pada waktu itu. Masyarakat di Timor terlihat pasrah dan tidak melakukan perlawanan. Keadaan ini memprihatinkan.
Secara keseluruhan, feature sosok dalam Surat Kabar Kompas edisi 2 Januari-29 Maret 2014 menggunakan teknik mengisahkan suatu situasi, peristiwa, dan keadaan. Situasi yang terlihat pada feature sosok dalam Surat Kabar Kompas edisi 2 Januari-29 Maret 2014 adalah menyenangkan atau membahagiakan, seperti E3, E4,
SO5, P7, dan P8. Situasi yang ramai juga terlihat pada SB1. Tidak hanya situasi menyenangkan atau membahagiakan dan ramai, situasi menegangkan juga terlihat pada SB2. Selain itu, ada juga situasi mengejutkan, seperti SO6. Situasi mencekam terlihat pada feature sosok dalam bidang sejarah, yakni SE9 dan SE10.
Sepuluh feature sosok tersebut berisi peristiwa yang menarik. Peristiwa tersebut benar-benar terjadi. Hal ini ditunjukkan dengan waktu peristiwa itu terjadi, seperti SB1 dan E3 pada tahun 2011, dan E4 pada tahun 2012. Ada peristiwa yang kejadiannya tidak terduga, seperti SO5. Tidak hanya itu, SE9 dan SE10 menunjukkan peristiwa yang sudah terjadi lama dan tidak bisa terjadi lagi, seperti peristiwa pembunuhan di Blora pada masa Agresi Militer Belanda I (21 Juli 1947-5 Agustus 1947) (SE9); bangsa Portugis dan Belanda merusak seluruh tanaman kerajaan di Timor (SE10).
Suatu keadaan juga terlihat pada feature sosok dalam Surat Kabar Kompas edisi 2 Januari-29 Maret 2014. Feature sosok ini mengisahkan suatu keadaan yang memprihatinkan, seperti SB1, SB2, E4, SO6, dan SE10. SE10 juga menunjukkan keadaan pasrah. E3 menunjukkan keadaan yang layak. Kemudian, SO5 dan P7 menunjukkan keadaan seseorang yang pandai. Keadaan yang siap juga terlihat pada P8. Selain itu, keadaan ketakutan dan tertekan terlihat pada SE9.
Jadi, teknik mengisahkan (to story) suatu situasi, peristiwa, atau keadaan secara faktual (nyata atau benar-benar terjadi) digunakan dalam penulisan feature sosok. Ketiga teknik pengisahan yang terdapat pada feature sosok dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 14
Karakteristik Feature Sosok Menggunakan Teknik Mengisahkan
No. Feature Sosok Teknik Mengisahkan
Situasi Peristiwa Keadaan
1. SB1 √ √ √ 2. SB2 √ √ √ 3. E3 √ √ √ 4. E4 √ √ √ 5. SO5 √ √ √ 6. SO6 √ √ √ 7. P7 √ √ √ 8. P8 √ √ √ 9. SE9 √ √ √ 10. SE10 √ √ √