Mempercepat Penyelenggaraan Infrastruktur Berkelanjutan
GAMBAR 4. NPL KREDIT SEKTOR KONSTRUKSI DAN LISTRIK GAS, AIR (BANK UMUM)
91
Adapun portfolio kredit sektor infrastruktur di Bank Mandiri menunjukkan perkembangan yang cukup baik pasca krisis tahun 2008, dengan pertumbuhan portfolio kredit sebesar rata-rata 19% per tahun.
Share portfolio kredit sektor infrastruktur di Bank
Mandiri relatif kecil yaitu sebesar 1,7% dari total portfolio kredit bank Mandiri. Sedangkan gambar-an komposisi pembiayagambar-an infrastruktur di Bgambar-ank Mandiri adalah sebagai berikut:
Kapasitas pembiayaan Bank Mandiri untuk proyek infrastruktur mencapai 12,5% dari total seluruh portfolio.
3) Pembiayaan Infrastruktur oleh Perbankan Dalam melakukan pembiayaan infrastruktur, perbankan mempertimbangkan berbagai as-pek secara komprehensif antara lain: a. Karakteristik Proyek Infrastruktur
Dalam memberikan pembiayaan, Bank harus memahami karakteristik pem-biayaan proyek infrastruktur antara lain: n Cost of Project yang relatif sangat
be-sar sehingga memerlukan skema sin-dikasi/joint financing;
n Tenor kredit secara umum berjangka panjang sehingga memiliki tingkat risiko yang tinggi;
GAMBAR 5. KOMPOSISI PEMBIAyAAN INFRASTRUKTUR DI BANK MANDIRI
n Kebutuhan self-financing yang be-sar, sehingga hanya investor tertentu yang mampu memenuhi persyaratan tersebut;
n Ketentuan tarif jasa infrastruktur ter-masuk penyesuaiannya harus jelas diatur dalam perjanjian kerjasama/ kontrak;
n Potensi terjadinya risiko overrun cost, sehingga pada umumnya perbankan mensyaratkan adanya jaminan dari pemilik proyek untuk menanggung risiko tersebut;
n Potensi terjadinya risiko inkonsistensi kebijakan di bidang infrastruktur (antara lain kebijakan tarif, kebijakan penjaminan dari Pemerintah).
92
Sesuai karakteristik proyek tersebut di atas, maka diperlukan komitmen Pemer-intah dan/atau pemegang saham dalam hal:
n Pembebasan lahan, diperlukan komit-men Pemerintah untuk komit-menyelesaikan pembebasan lahan sesuai jadwal; n Komitmen/kepastian dari
Pemerin-tah atas implementasi ketentuan/ Undang – undang yang ada (misalnya kepastian kenaikan tarif tol);
n Adanya komitmen/jaminan dari pe-megang saham untuk menyelesaikan proyek (termasuk dalam hal terjadi
cost over run) dan pemenuhan
kewa-jiban/ pengembalian pinjaman kepa-da bank (termasuk kepa-dalam hal terjadi
cash deficiency).
b. Jenis Pembiayaan Proyek n Corporate finance
Corporate finance adalah
pembiay-aan proyek jangka menengah sam-pai panjang dengan agunan proyek yang dibiayai, dan sumber pelunasan
berasal dari cash flow yang dihasil-kan oleh perusahaan baik dari proyek yang dibiayai maupun proyek lainnya. Ukuran feasibility proyek ditentukan oleh seluruh instrumen yang ada dalam korporasi.
n Project finance
Project finance adalah pembiayaan
proyek jangka menengah sampai panjang dengan agunan proyek yang dibiayai, dan sumber pelunasan ber-asal dari cash flow yang dihasilkan oleh proyek yang dibiayai. Ukuran
feasibil-ity proyek ditentukan oleh instrumen
yang terdapat dalam proyek itu sendiri. n Public Private Partnership :
Public–private partnership (PPP)
me-ru pakan government service/private
business venture yang dibiayai dan
di-laksanakan melalui kerjasama an tara Pemerintah dan sektor swas ta. Ukuran
feasibility Proyek di ten tukan oleh
in-strumen yang terdapat dalam Proyek itu sendiri. Prakarsa Proyek dapat be-rasal dari Pemerintah atau Swasta.
93
Proyek dapat dilakukan dengan atau tanpa Jaminan Pemerintah atau Subsidi Pemerintah.
c. Feasibility Proyek
Beberapa metode finansial yang lazim di-gunakan dalam mengevaluasi feasibility proyek adalah:
a) Metode Payback Period
Payback Period menunjukkan berapa
lama waktu yang diperlukan untuk me ngembalikan suatu investasi.
Pay-back Period diperoleh dengan cara
membandingkan initial invesment de-ngan cash inflow.
Berdasarkan Metode Payback period, proyek yang dinilai feasible adalah : n Apabila payback period lebih
pendek dari suatu periode yang telah ditentukan, maka proyek tersebut diterima;
n Apabila payback period lebih pan-jang dari suatu periode yang telah ditentukan, maka proyek tersebut ditolak.
b) Metode Internal Rate of Return
Internal rate of return (IRR) merupakan rate of return yang digunakan untuk
mengevaluasi kelayakan suatu investa-si atau membandingkan profitabilitas suatu investasi dengan investasi lain. Evaluasi kelayakan investasi dilakukan dengan cara membandingkan IRR de-ngan tingkat bunga/pengembalian yang disyaratkan (required rate of
re-turn).
n Apabila IRR lebih besar dari tingkat bunga/pengembalian yang di-syaratkan, maka proyek tersebut diterima;
n Apabila IRR lebih kecil dari tingkat bunga/pengembalian yang di-syaratkan, maka proyek tersebut ditolak.
c) Metode Net Present Value
Net present value (NPV) merupakan
selisih antara nilai sekarang dari arus kas di masa datang (present value of
future cash flow) suatu investasi
de-ngan jumlah investasi awal (initial
investment).
Berdasarkan Metode Net Present
Val-ue, proyek yang dinilai feasible adalah:
n Jika NPV adalah positif, maka proyek diterima;
n Jika NPV adalah negatif, maka proyek ditolak .
d) Cashflow Projection
Cashflow projection memberikan
gambaran atas seluruh rencana penerimaan (cash inflow) dan penge-luaran (cash outflow) uang kas suatu proyek sejak masa pembangunan proyek hingga proyek beroperasi. Dengan menyusun proyeksi
cash-flow, Bank akan dapat
mengevalu-asi profitabilitas proyek dan ke-mampuan proyek dalam memenuhi kewajiban yang berkenaan dengan pembiayaan proyek, seperti pem-bayaran kembali pokok pinjaman maupun bunga, dari pendapatan setelah proyek mulai beroperasi ataupun dari sumber lainnya.
d. Cakupan Pembiayaan Infrastruktur Proyek infrastruktur yang dibiayai oleh perbankan mencakup antara lain sektor-sektor sebagai berikut :
n Sektor Pembangkit Listrik: pemban-gunan pembangkit listrik, transmisi, dan distribusi;
n Sektor energi: pembangunan kilang migas, pipa/jaringan distribusi migas, rig/alat pengeboran migas;
n Sektor Transportasi: pembangunan jalan tol, jembatan, pelabuhan laut, dan bandara udara;
n Sektor Komunikasi: pembangunan ja-ringan komunikasi, Tower BTS;
n Sektor Sosial: pembangunan rumah sakit, perumahan, dan sekolah. e. Jasa Perbankan
Pada umumnya jasa perbankan yang dapat diberikan pada proyek infrastruk-tur antara lain: Bank Garansi/Counter
Guarantee, Standby L/C, Kredit Investasi,
Kredit Modal Kerja, Forex Line, dan untuk pembiayaan kredit sindikasi jasa yang diberikan adalah: Arranger, Agen Fasili-tas (Facility Agent), Agen Jaminan
(Secu-rity Agent), Escrow Agent, Agen Pembayar
94
K
inerja infrastruktur menjadifaktor kunci dalam penentuan daya saing global, selain faktor ekonomi makro, efisiensi pemerintahan dan efisiensi usaha. Dalam “World Competitiveness
Yearbook 2009”, daya saing
Indonesia ditempatkan pada peringkat ke 54 dari 134 negara yang dinilai. Hal ini diantaranya disebabkan oleh ketersediaan infrastruktur yang tidak memadai (daya saing infrastruktur Indonesia pada peringkat 84, yaitu di bawah Brazil, Cina, Thailand, Malaysia, dan Korea).
Dukungan infrastruktur yang memadai juga diperlukan dalam peningkatan pertumbuhan ekonomi. Tanpa dukungan tersebut, maka perekonomian akan menjadi cepat “panas” (overheated), karena respon dari sisi pasokan (supply) terhadap permintaan (demand) menjadi terhambat. Kiranya kondisi tersebut yang saat ini dihadapi oleh Indonesia, dimana ekonomi bertumbuh relatif pesat (6,1% pada Tahun 2010), namun investasi infrastruktur tidak memadai, yaitu sekitar 3,5% dari Produk Domestik Bruto (PDB) dari yang seharusnya minimal 5% (Islamic
Development Bank/IDB - 2010). Hal ini diantaranya
terlihat pada kemacetan di berbagai ruas jaringan transportasi yang semakin parah serta tidak memadainya pasokan daya listrik.
Peran strategis infrastruktur juga ditunjukkan oleh berbagai kajian empirik yang menyatakan,
bahwa ketersediaan infrastruktur yang lebih baik akan memberikan kontribusi terhadap kenaikan pertumbuhan ekonomi. IDB (2010) melaporkan, bahwa kenaikan investasi infrastruktur sebesar 1% di Indonesia, akan memberikan kontribusi sebesar 0,3% terhadap PDB.
Memperhatikan berbagai peran strategis terse-but, Pemerintah Indonesia telah menetapkan pembangunan infrastruktur menjadi salah satu prioritas utama dalam program pembangunan nasional. Untuk mewujudkan kebijakan terse-but, Pemerintah telah menetapkan Master
Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan
Ekonomi Indonesia (MP3EI) yang didasarkan pada pendekatan “Koridor Ekonomi”.
Untuk mendukung program tersebut, Pemerin-tah telah mencanangkan, bahwa kebutuhan dana pembangunan infrastruktur publik antara Tahun 2010-2014 adalah sebesar Rp 1.924 Triliun. Kebutuhan tersebut diperhitungkan berdasarkan asumsi, bahwa untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dari 5,5 – 5,6% pada Tahun 2010 menjadi 7,0 – 7,7% pada Tahun 2014 diperlukan dana pembangunan infrastruktur minimal sebesar 5% dari PDB per tahun. Kebutuhan tersebut diharapkan dapat dipenuhi dari berbagai sumber, yaitu APBN sebesar Rp560 Triliun (29%), APBD sebesar Rp 355 Triliun (18%), BUMN dan BUMD sebesar Rp 341 Triliun (18%), serta dari swasta sebesar Rp 345 Triliun (18%). Dalam hal ini masih terdapat kekurangan (gap) pendanaan sebesar Rp 324 Triliun (17%).