177
langsung juga dilaksanakan oleh pengguna jasa non Pemerintah.
Dari sisi pembinaan jasa konstruksi, substansi PP 30/2000 dirasakan sudah cukup komprehensif, dimana tugas-tugas pembinaan yang terdiri atas aspek pengaturan, pengawasan, dan pemberdayaan telah didistribusikan ke jenjang-jenjang pemerintahan mulai dari Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi, sampai dengan Pemerintah Kabupaten/Kota. Namun ada beberapa faktor yang mempengaruhi keberhasilan implementasi peraturan ini yang antara lain kelembagaan pembina jasa konstruksi, pemahaman pembina akan substansi pembinaan, serta ketersediaan dana pembinaan. Dari aspek kelembagaan pembina jasa konstruksi, Tim Pembina Jasa Konstruksi tingkat provinsi saat ini telah terbentuk di 33 provinsi, sementara ditingkat kabupaten/ kota baru terbentuk sekitar 40% dari seluruh kabupaten kota di Indonesia. Baik ditingkat provinsi maupun kabupaten/kota posisi unit pembina jasa konstruksi (unit kerja pelaksanaan tugas pembinaan) dalam struktur organisasi sangat beragam. Beberapa daerah telah memasukkan unit pembinaan keelemen struktural setingkat eselon III. Namun sebagian besar tupoksi pembinaan
optimal. Ketersediaan dana pembinaan di daerah juga masih menjadi kendala karena pembinaan jasa konstruksi belum ditempatkan sebagai agenda prioritas pembangunan di daerah. Demikian pula dengan pemahaman pembina jasa konstruksi akan substansi pembinaan, dimana sebagian besar masih berfokus pada masalah pengadaan jasa konstruksi.
Pembinaan dan Pengembangan Jasa Konstruksi
Kemampuan dan kompetensi penyedia jasa adalah kunci utama keberhasilan pelaksanaan infrastruktur berkelanjutan. Tentunya masih ter dapat kesenjangan (gap) kemampuan/ kom petensi penyedia jasa antara kondisi yang diharapkan dengan kenyataan yang ada. Terdapat 3 variabel utama yang menentukan besaran gap ini, yaitu: kemampuan/kompetensi penyedia saat ini; standar kompetensi, dan upaya pengembangan kemampuan/kompetensi. Pem
-binaan peningkatan kompetensi dilakukan untuk meningkatkan kemampuan/kompetensi badan usaha agar sesuai dengan standar kompetensi. Bila masih terdapat kesenjangan antar standar kompetensi dengan rata-rata tingkat kompetensi badan usaha, maka pembinaan peningkatan kompetensi badan usaha perlu terus dilakukan
178
178
179
sampai kesenjangan tersebut dapat dikurangi. Terdapat dua elemen yang dapat mempengaruhi besarnya pengaruh pembinaan terhadap peningkatan kompetensi badan usaha, yaitu efektivitas pembinaan, dan rata-rata jumlah pembinaan. Semakin tinggi nilai kedua elemen ini, semakin besar pula pengaruh pembinaan terhadap peningkatan kompetensi badan usaha. Pembinaan dan pengembangan jasa konstruksi bisa menjadi efektif apabila didukung dengan kualitas pembinaan yang baik oleh masyarakat jasa konstruksi, dalam hal ini adalah asosiasi badan usaha, LPJK, dan Pemerintah.
Salah satu tujuan peningkatan peran masyarakat da lam pengembangan jasa konstruksi dapat di-lihat pada gambar 2. Semakin banyak unsur masya rakat jasa konstruksi yang terlibat dalam pembinaan, semakin besar pula rata-rata jumlah pembinaan, yang berarti semakin luas cakupan wilayah pembinaan yang dapat diselenggarakan di Indonesia. Oleh karena itu, peran masyarakat
jasa konstruksi yang saat ini masih berfokus pada ma salah pengukuran kemampuan/kompetensi, per lu dikembangkan kepada upaya-upaya pem bi-naan dan pengembangan yang menyentuh secara langsung kepada penyedia jasa konstruksi.
Terobosan Pemerintah di Bidang Regulasi Usaha dan Peran Masyarakat
Sejak diterbitkannya Undang-Undang Jasa Kons-truksi, pengembangan jasa konstruksi lebih disibukkan dengan permasalahan-permasalahan peran masyarakat jasa kons truk si yang manfaatnya be lum terlalu dirasakan untuk peningkatan kom petensi dan kemampuan badan usa ha jasa konstruksi. Melihat kondisi ini, Pemerintah me-ner bitkan Peraturan Pe merintah Nomor 04 Tahun 2010 tentang Perubahan Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2000 sebagaimana dirubah terakhir kali dengan Per aturan Pemerintah No-mor 92 Tahun 2010. Melalui peraturan ini di ha-rapkan kontribusi atau peran masyarakat dalam pengembangan jasa konstruksi benar-benar dapat memberikan manfaat yang optimal bagi sektor dan industri konstruksi nasional. Peran masyarakat jasa konstruksi ditempatkan secara lebih proporsional sesuai dengan kewenangannya, se hingga diha rap -kan tercipta ke ter aturan dan iklim usaha yang lebih kondusif. Peraturan ini meluruskan/me ne guh-kan kembali bahwa fung si regulator berada pada pemerintah, sedangkan executor-nya melibatkan masyarakat jasa konstruksi yang direpresentasikan oleh LPJK, se hing ga ke depan Lembaga
180
seimbang sebagaimana diamanat kan UUJK. Terdapat empat hal yang menjadi substansi utama PP 04/2010, yaitu kelembagaan, pembidangan usaha, kesekretariatan LPJK, dan sistem sertifikasi. Dari sisi kelembagaan, peraturan ini bertujuan memperkuat fungsi Lembaga dalam pelaksanaan 5 tugas yang diamanatkan UUJK. Pembidangan usaha yang sebelumnya mengacu pada pekerjaan
konstruksi (arsitek, sipil, mekanikal, elektrikal, dan tata lingkungan), dirubah menjadi pembidangan usaha yang berbasis pada produk. Kesekretariatan Lembaga juga ditata kembali dengan harapan dapat mendukung kegiatan lembaga, agar dapat lebih optimal dalam melaksanakan tugas-tugas yang diamanatkan. Sistem sertifikasi juga ditata kembali sehingga diharapkan dapat meningkatkan akuntabilitas proses penilaian kemampuan/ kompetensi penyedia jasa.
Dengan 4 substansi perubahan tersebut, PP 4 Tahun 2010 menjadi modal utama Pemerintah bersama Lembaga untuk mendorong hasil pekerjaan konstruksi yang berkualitas melalui persyaratan usaha. Konsep-konsep infrastruktur yang berkelanjutan dapat dikenalkan kepada penyedia jasa pada saat proses asesment badan usaha kemampuan/kompetensi.
Selain itu, beberapa Peraturan Menteri Pekerjaan Umum yang secara langsung terkait dengan usaha jasa konstruksi juga telah diterbitkan, antara lain Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 10/PRT/M/2010 tentang Tata Cara Pemilihan
Umum Nomor 08/PRT/M/2011 tentang Tentang Pembagian Subklasifikasi Dan Subkualifikasi Usaha Jasa Konstruksi; Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 04/PRT/M/2010 tentang Pedoman Persyaratan Pemberian Izin Usaha Jasa Konstruksi Nasional; dan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 05/PRT/M/2010 tentang Persyaratan Pemberian Izin Perwakilan Badan Usaha Jasa Konstruksi Asing.
Langkah Pembinaan & Pengembangan
Pondasi regulasi usaha, secara bertahap telah diperkuat dengan telah diterbitkannya peraturan-peraturan perundangan tersebut di atas. Langkah selanjutnya, terkait pelaksanaan pembangunan infrastruktur yang berkelanjutan; Pemerintah bersama Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi perlu meyiapkan langkah-langkah pembinaan dan pengembangan jasa konstruksi untuk menyiapkan badan usaha jasa konstruksi: 1. Memastikan proses transisi pelaksanaan
PP 4/2010 berjalan dengan lancar, dan unit sertifikasi dapat terbentuk di seluruh provinsi Indonesia pada tahun 2012;
2. Memanfaatkan momentum implementasi PP 4/2010 untuk melakukan upaya perkuatan pelaksanaan tugas LPJK yang selama ini belum optimal seperti penelitian dan pengembangan, pendidikan dan pelatihan, Pelaksanaan Tugas Meningkatkan Peran Arbitrase, Mediasi, dan Penilai Ahli di Bidang Jasa Konstruksi;
3. Terus mengembangkan Continuous
Professional Development (CPD) dan Continuous Business Development (CBD) untuk
menjamin kemandirian pengembangan usaha jasa konstruksi oleh penyedia jasa. Pemerintah saat ini sedang menyusun CPD dan CBD yang nantinya diharapkan dapat digunakan oleh Lembaga dan asosiasi jasa konstruksi untuk mengembangkan kemampuan dan kompetensi anggotanya; 4. Mengenalkan konsep infrastruktur yang
bekelanjutan kepada penyedia jasa pada saat proses asessment kemampuan/ kompetensi;
5. Mendorong terjadinya kemitraan badan usaha jasa konstruksi antar klasifikasi dan kualifikasi dan usaha spesialis yang antara lain melalui implementasi Peraturan
Gambar 2. Sistem Pengembangan/Pembinaan Penyedia Jasa Konstruksi
181
Menteri Pekerjaan Umum Nomor 08/ PRT/M/2011 tentang Tentang Pembagian Subklasifikasi Dan Subkualifikasi Usaha Jasa Konstruksi;
6. Mensukseskan Gerakan Nasional Pelatihan Konstruksi (GNPK) dengan melibatkan unsur asosiasi jasa konstruksi dan masyarakat sebagai pelaku pelatihan konstruksi;
7. Mendorong kepemilikan sertifikat (ISO 9001, 14001, OHSAS 18001);
8. Memastikan proses pemenuhan persyaratan dapat menjamin pekerjaan konstruksi yang berkualitas. Untuk itu proses pemberian sertifikat badan usaha dan izin usaha jasa konstruksi harus benar-benar dapat dijaga akuntabilitasnya;
9. Mempercepat terbentuknya Tim Pembina Jasa Konstruksi di tingkat kabupaten/kota di seluruh Indonesia;
10. Meningkatkan kompetensi pembina jasa konstruksi mulai dari tingkat pusat sampai tingkat kabupaten kota ;
11. Melaksanakan bimbingan teknis kepada Pemerintah Kabupaten/Kota untuk per-ce patan penerbitan peraturan daerah tentang izin usaha jasa konstruksi yang sesuai dengan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 04/PRT/M/2010 tentang Pedoman Pemberian Izin Usaha Jasa Konstruksi Nasional.
Mengingat langkah-langkah pembinaan dan pengembangan tersebut adalah bersifat stimulan, seluruh stakeholder jasa konstruksi diharapkan dapat mandiri mengembangkan kompetensinya.
182
M
enurut Hillebrandt (2000),konstruksi merupakan ke giatan terintegrasi mulai dari perencanaan, p e m b a n g u n a n , p e n g o p e r a s i a n , p e m e l i h a r a a n s e r t a peng hancuran
(decon-struc tion) yang meliba tkan beberapa pemangku
kepentingan seperti perencana, pengawas, kontraktor, supplier, pengguna serta lembaga keuangan (CIB, 1998). Sementara itu, menurut Badan Pusat Statistik (2006) definisi sektor konstruksi adalah suatu kegiatan yang hasil akhirnya berupa bangunan/ konstruksi yang menyatu dengan lahan tempat kedudukannya, baik digunakan sebagai tempat tinggal atau sarana kegiatan lainnya. Kegiatan konstruksi meliputi perencanaan, persiapan, pembuatan, pemasangan/instalasi, pembongkaran dan per-baikan bangunan. Kegiatan konstruksi dilakukan oleh kontraktor umum (perusahaan konstruksi) maupun oleh kontraktor khusus (unit usaha atau individu yang melakukan kegiatan konstruksi untuk dipakai sendiri).
Berdasarkan beberapa definisi diatas, maka dapat diambil suatu benang merah bahwa penyelenggaraan konstruksi pada hakikatnya merupakan serangkaian kegiatan yang berdasarkan pada sistem rekayasa (engineering
system) dan sistem manajemen (managerial system) dengan suatu proses tertentu yang
melibatkan berbagai pihak dan beragam sumberdaya. Dalam berhadapan dengan suatu sistem sudah barang tentu tidak dapat dipandang dengan memakai pengertian yang terpenggal-penggal atau sepotong demi sepotong, melainkan keseluruhannya merupakan kesatuan konsep sistem yang tidak dapat terpisahkan satu dengan yang lainnya. Sebagaimana diketahui bahwa suatu sistem terdiri atas masukan (input), proses (process) dan keluaran (output). Input konstruksi merupakan beragam sumberdaya konstruksi yang dikenal dengan istilah 6 M, yaitu sumberdaya manusia (man), dana (money), peralatan (machine), material (material), metode (method) dan pasar (market). Adapun proses konstruksi merupakan upaya penyelenggaraan konstruksi dalam arti yang selengkapnya mulai dari dikemukakannya gagasan, kemudian ditindaklanjuti dengan pengadaan untuk survei, penyusunan peren-canaan, perancangan detail, pelaksanaan, sampai dengan bangunan benar-benar berhasil diwujudkan dan berfungsi sesuai dengan tujuan fungsionalnya, hingga ke tahap operasi dan pemeliharaan, modifikasi dan dekonstruksi. Sedangkan output konstruksi adalah berupa obyek/produk konstruksi yang secara umum dapat diklasifikasikan menjadi dua yaitu: