untuk mendukung
pro-gram KPs dalam
penye-diaan infrastruktur”.
39
pihak Penanggung Jawab Proyek Kerjasama yang dituangkan di dalam suatu Perjanjian Penjaminan (Guarantee Agreement).
Penyediaan Dukungan Pemerintah dan Jaminan Pemerintah untuk Proyek KPS
Di dalam Perpres 13/2010 disebutkan bahwa Pemerintah dapat memberikan Dukungan Pemerintah maupun Jaminan Pemerintah. Dukungan Pemerintah adalah kontribusi fiskal maupun non-fiskal yang diberikan oleh Menteri/ Kepala Lembaga/Kepala Daerah dan/atau Menteri Keuangan sesuai kewenangan masing-masing berdasarkan peraturan perundang-undangan dalam rangka meningkatkan kelayakan finansial proyek KPS. Disamping itu, dalam Perpres 56/2011 disebutkan bahwa Menteri Keuangan dapat menyetujui pemberian Dukungan Pemerintah dalam bentuk insentif perpajakan dan/atau kontribusi fiskal dalam bentuk finansial berdasarkan usulan Menteri/ Kepala Lembaga/Kepala Daerah.
Dukungan Pemerintah diberikan kepada proyek KPS yang memiliki tingkat kelayakan ekonomi memadai namun tingkat kelayakan finansialnya marjinal sehingga Dukungan Pemerintah diberikan untuk meningkatkan kelayakan finansial dari proyek Kerjasama tersebut. Selain itu, Dukungan Pemerintah juga dimaksudkan untuk menjadikan tarif layanan dari proyek Kerjasama menjadi terjangkau bagi masyarakat. Sebagai contoh, pada tahun 2010, Pemerintah melalui Kementerian Keuangan telah mengalokasikan dana Dukungan Pemerintah untuk pembebasan tanah bagi empat ruas jalan tol, yaitu jalan tol Pasir Koja-Soreang, Pandaan-Malang, Serangan-Tanjung Benoa, dan Pekan Baru-Kandis Dumai. Disamping itu, Pemerintah pada tahun 2010 juga telah mengalokasikan dana Dukungan Pemerintah untuk pembebasan tanah bagi proyek Kereta Api Bandara Soekarno Hatta-Manggarai.
Sementara itu, Jaminan Pemerintah adalah kompensasi finansial dan/atau kompensasi dalam bentuk lain yang diberikan oleh Menteri Keuangan kepada swasta melalui skema pembagian risiko untuk proyek kerjasama. Perpres 13/2010 menyebutkan bahwa Jaminan Pemerintah dalam bentuk kompensasi finansial dapat diberikan oleh Menteri Keuangan melalui badan usaha yang khusus didirikan oleh Pemerintah untuk
tujuan penjaminan infratsruktur/ Badan Usaha Penjaminan Infrastruktur (BUPI). Untuk itu, sebagaimana telah dijelaskan di atas, PT PII dibentuk pada akhir tahun 2009 yang bertindak sebagai BUPI diharapkan dapat mendorong masuknya pendanaan dari swasta untuk sektor infrastruktur di Indonesia melalui penyediaan Jaminan Pemerintah atas berbagai risiko infrastruktur yang mungkin timbul.
Salah satu contoh proyek Kerjasama yang telah memperoleh penjaminan Pemerintah adalah proyek PLTU Jawa Tengah 2x1000 MW atau
Central Java Power Plant (CJPP) yang berlokasi di
Kabupaten Batang, Jawa Tengah dengan PT PLN (Persero) bertindak selaku Penanggung Jawab Proyek Kerjasama (PJKP). Proyek CJPP merupakan proyek KPS skala besar pertama dengan nilai investasi lebih dari Rp 30 Triliun dan merupakan proyek KPS pertama yang dilaksanakan berdasarkan Perpres 67/2005. Proyek ini mendapatkan Penjaminan Pemerintah dengan mengunakan skema penjaminan bersama antara Pemerintah dan PT PII. Penjaminan untuk proyek CJPP mencakup kewajiban-kewajiban finansial PLN tertentu di dalam Power Purchase Agreement (PPA), yang diantaranya termasuk kewajiban finansial PLN terkait pembelian listrik bulanan dari Independent Power Producer (IPP).
Komitmen Pemerintah terkait Penjaminan Infrastruktur untuk Proyek KPS
Penyediaan Jaminan Pemerintah untuk proyek-proyek KPS menimbulkan adanya kewajiban kontinjensi terhadap APBN. Oleh karena itu, dalam rangka menjaga kesinambungan fiskal (fiscal
sustainability) terkait adanya kewajiban kontinjensi
tersebut dan upaya Pemerintah melakukan
ring fencing kewajiban kontinjensi Pemerintah
serta meminimalkan “sudden shock” terhadap APBN sebagai akibat dari penyediaan Jaminan Pemerintah terhadap proyek-proyek kerjasama, maka Pemerintah menekankan optimalisasi peran dari PT PII selaku BUMN yang didirikan Pemerintah untuk menyediakan penjaminan infrastruktur. Upaya optimalisasi peran PT PII dilakukan melalui komitmen Pemerintah untuk mencukupi permodalan PT PII melalui Penyertaan Modal Negara (PMN). Dengan demikian, kapasitas penjaminan PT PII akan meningkat.
Pemerintah telah menanamkan modal awal sebesar Rp1,0 Trilliun pada tahun 2009 dan telah
40
melakukan penambahan modal melalui APBN-P 2010 sebesar Rp 1 Trilliun kepada PT PII. Seiring kebutuhan pembangunan proyek infrastruktur dan sebagai upaya meningkatkan kepercayaan pihak swasta melalui peningkatan kapasitas penjaminan PT PII, Pemerintah telah menambah dana sebesar Rp1,5 Trilliun kepada PT PII sebagai tambahan Penyertaan Modal Negara dalam APBN 2011.
Selain melalui PMN, optimalisasi peran PT PII dalam penyediaan penjaminan diharapkan dapat dicapai melalui kerjasama PT PII dengan lembaga keuangan multilateral atau pihak lain dengan fungsi dan tujuan yang serupa.
Percepatan Realisasi Proyek Kerjasama Pemerintah dan Swasta
Pada tahun 2010, dalam rangka percepatan implementasi penyediaan infrastruktur de-ngan skema KPS telah ditandatade-ngani Nota Kesepahaman antara Menteri Keuangan, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/ Kepala Bappenas, dan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal tentang Koordinasi Fasilitasi dan Pemberian Dukungan Pelaksanaan Per-cepatan Realisasi Proyek Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha dalam Penyediaan Infrastruktur.
Sehubungan dengan pelaksanaan Nota Kesepahaman tersebut, Kementerian Keuangan memiliki tugas untuk memfasilitasi pelaksanaan proyek KPS terkait dukungan dan jaminan Pemerintah melalui kegiatan: 1) penyediaan dana talangan untuk dukungan Pemerintah dalam proyek KPS melalui Pusat Investasi Pemerintah; 2) penjaminan risiko infrastruktur melalui PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia; 3) penyiapan proyek KPS melalui Lembaga Pembiayaan Infrastruktur (PT Sarana Multi Infrastruktur). Disamping ketiga fasilitas yang telah disediakan oleh Pemerintah sebagaimana telah dijelaskan di atas, saat ini Kementerian Keuangan tengah menyiapkan beberapa fasilitas lain guna mempercepat realisasi proyek-proyek KPS. Beberapa fasilitas dimaksud meliputi: Project
Development Services, Viability Gap Funding, dan
Dana Bergulir (Land Revolving Fund) untuk Proyek Pembangkit Listrik Panas Bumi (Geothermal). A. Project Development Services
Sesuai penugasan di dalam Nota Kesepahaman antara Menteri Keuangan, Menteri PPN/Kepala Bappenas, dan Kepala BKPM terkait penyiapan proyek (project development services) dilakukan oleh PT Sarana Multi Infrastruktur. Penyediaan fasilitas penyiapan proyek ini bertujuan untuk membantu Penanggung Jawab Proyek Kerjasama di dalam penyiapan proyek-proyek KPS. Dengan demikian, penyiapan proyek akan dilakukan berdasarkan praktik-praktik terbaik pada masing-masing sektor. Penyiapan proyek harus mampu membuat proyek layak mendapatkan pendanaan dan menghasilkan praktik lelang yang kompetitif.
Menteri Keuangan telah menugaskan PT SMI untuk melakukan penyiapan dua proyek KPS prioritas, yaitu Proyek Kereta Api Bandara Soekarno Hatta – Manggarai dan Proyek Sistem Penyediaan Air Minum Umbulan. Penugasan kepada PT SMI tersebut dituangkan dalam Keputusan Menteri Keuangan Nomor 126/ KMK.01/2011 tentang Penugasan Kepada Perusahaan Perseroan PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) untuk Fasilitasi Penyiapan Proyek Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha Kereta Api Bandara Soekarno Hatta – Manggarai dan Proyek Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha Sistem Penyediaan Air Minum Umbulan.
41
B. Viability Gap Fund (VGF)
Proyek infrastruktur yang akan dilaksanakan dengan skema KPS harus memenuhi kelayakan baik secara finansial maupun secara ekonomi. Pada kenyataannya, banyak proyek KPS di Indonesia yang tidak layak secara finansial sehingga memerlukan Dukungan Pemerintah untuk meningkatkan kelayakan finansial proyek KPS tersebut.
Kementerian Keuangan saat ini sedang menyiapkan suatu kerangka pendanaan kelayakan finansial (viability gap fund). Skema ini akan memungkinkan penyediaan dukungan finansial Pemerintah untuk proyek-proyek KPS yang layak secara ekonomi, namun tidak layak secara finansial atau memiliki kelayakan finansial yang marjinal. Diharapkan melalui skema VGF ini penyediaan dukungan finansial dimaksud dilakukan melalui prosedur yang konsisten dan transparan.
C. Dana Bergulir untuk Proyek Pembangkit Listrik Panas Bumi (Geothermal)
Terkait proyek Pembangkit Listrik Panas Bumi perlu dipersiapkan suatu struktur transaksi yang lebih tepat sehingga dapat membangun lebih banyak infrastruktur ramah lingkungan di kemudian hari. Oleh karenanya, Pemerintah telah mengalokasikan Dana Bergulir Geothermal sebesar Rp1,1265 Triliun dalam APBN TA 2011 yang akan digunakan untuk membiayai kegiatan ekplorasi pembangunan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi. Untuk TA 2012, telah diusulkan dalam RAPBN 2012 tambahan Dana Bergulir Geothermal sebesar Rp1,1265 Triliun. Saat ini, sedang diproses penugasan Menteri Keuangan kepada Pusat Investasi Pemerintah sebagai institusi pengelola Dana Bergulir
Geothermal. Diharapkan dengan adanya Dana
Bergulir Geothermal ini akan mampu mengatasi isu risiko ekplorasi untuk proyek Pembangkit Listrik Geothermal.