infrastruktur Berkelanjutan
GAMBAR 2. PRIORITAS PENJAMINAN
+ +
n Prioritas Akhir
GAMBAR 2. PRIORITAS PENJAMINAN
negara berupa Penanaman Modal Negara, optimalisasi penjaminan PII dapat dicapai melalui kerjasama antara PII dengan lembaga keuangan multilateral atau pihak lain dengan tujuan dan fungsi serupa.
Saat ini, sedang difinalkan antara PII dan Bank Dunia dokumentasi terkait dukungan Bank Dunia dalam bentuk fasilitas penjaminan yang ditujukan untuk memungkinan PII melakukan co-guarantee dengan Bank Dunia pada proyek-proyek tertentu yang disepakati kedua belah pihak.
5) Aplikasi Skema Penjaminan PII
Salah satu contoh skema penjaminan yang telah dilakukan PII adalah pada Proyek KPS Pembangkit Listrik Tenaga Uap Jawa Tengah 2x1000 MW atau Central Java Power Plant (CJPP). Profil proyek ini beserta struktur penjaminannya dapat dilihat pada Tabel 1 berikut.
Terkait kapasitas penjaminan PII yang masih terbatas (dengan mempertimbangkan modal PII dibandingkan dengan nilai proyek dan CJPP sebagai proyek pertama PII), Pemerintah RI melalui Menteri Keuangan juga terlibat sebagai co-guarantor bersama-sama dengan PII. Skema penjaminan dapat dilihat pada Gambar 3.
64
Struktur Penjaminan
Lokasi Kabupaten Batang, Provinsi Jawa Tengah 2 x 1000MW ; > Rp 30 Triliun
Akhir 2016 Ultra Super Critical 25 Tahun
Build, Operate , Transfer (BOT)
PT Bhimasena Power Indonesia, merupakan SPV dari konsorsium :
l J-POWER : 34% l ADARO : 34% l ITOCHU : 32% l Perjanjian Penjaminan : Badan Usaha dengan PT PII dan Pemerintah RI l Coverage : risiko politik dan risiko gagal bayar PLN l Tenor : l Equity : 16 tahun l Debt : 16 tahun
Kapasitas & Nilai Proyek Operasi Komersial
Teknologi Tenor PPA Struktur PPP Pengembang
Berbagai dokumen perjanjian terkait yang disiapkan dan dilakukan sinkronisasi dengan difasilitasi oleh PII adalah sebagaimana terdapat pada tabel 2.
Kapasitas Penjaminan PII 5 Tahun Kedepan
Pemerintah telah melakukan penyertaan modal ke PII sebesar Rp 2 Triliun melalui APBN 2009 dan 2010, dan telah merencanakan akan menambah penyertaan sebesar Rp1,5 Triliun dari APBN 2011. Dalam tahap awal, PII akan menggunakan pendekatan yang konservatif dalam pemanfaatan kapasitas penjaminannya. Seiring dengan berjalannya waktu, PII secara bertahap akan mengurangi ketergantungan pada APBN dan akan meningkatkan kapasitas penjaminannya melalui kerjasama dengan institusi penyedia jaminan sejenis, seperti institusi multilateral (Bank Dunia, ADB, dsb.), institusi bilateral (lembaga pembiayaan ekspor), dan institusi sejenis lainnya.
Kapasitas penjaminan PII akan meningkat seiring dengan peningkatan modal yang menjadi sumber dana penjaminan. Jumlah
Tabel 1. Profil Proyek KPS PLTU Jawa Tengah dan Struktur Penjaminannya
proyek yang dapat dijamin akan menjadi lebih banyak lagi, terutama apabila dapat memanfaatkan fasilitas penjaminan yang sedang disiapkan bersama lembaga multilateral, seperti Bank Dunia dan Bank Pembangunan Asia (ADB). Sesuai dengan regulasi, apabila proyek infrastruktur dinyatakan layak untuk dijamin sementara kapasitas penjaminan PII terbatas dan keterlibatan co-guarantor lain (jika ada) juga tidak dapat menutupi kebutuhan nilai penjaminan, maka Menteri Keuangan akan menutupi kekurangannya dengan cara melakukan penambahan modal kepada PII melalui APBN atau bertindak sebagai
co-guarantor dan melakukan Penjaminan bersama
dengan PII.
Dengan kata lain, mengacu kepada regulasi yang ada, kapasitas permodalan PII bukan merupakan suatu kendala dalam memberikan dukungan bagi percepatan pembangunan infrastruktur di Indonesia. Hal terpenting yang perlu disiapkan adalah proyek yang distruktur dengan baik dengan alokasi risiko infrastruktur
65
yang wajar untuk dapat memastikan bankability dan sustainability dari proyek infrastruktur, dimana PII berperan membantu PJPK dalam mengembangkannya.
Pencapaian PII dalam Penjaminan Risiko Proyek KPS di Indonesia
Beberapa peristiwa yang menjadi pencapaian yang dilakukan PII dalam penjaminan infrastruktur terhadap proyek KPS adalah sebagai berikut. 1) Penandatanganan Perjanjian Penjaminan Proyek KPS PLTU Jawa Tengah 2x1000 MW Penandatanganan Perjanjian Penjaminan Proyek KPS PLTU Jawa Tengah 2x1000 MW antara PII dan Pemerintah RI sebagai penjamin (“Penjamin”) dengan PT Bhimasena Power Indonesia (“PT BPI”) sebagai Badan Usaha menandai keberhasilan proyek tersebut sebagai proyek infrastruktur KPS pertama dalam model bisnis penjaminan Pemerintah yang baru, yaitu melalui PII sebagai Badan Usaha Penjaminan Infrastruktur berdasarkan Perpres 78/2010. Peristiwa tersebut dilakukan bersamaan dengan penandatanganan
Perjanjian Kerjasama Pembelian Listrik (Power
Purchase Agreement) antara PT PLN sebagai PJPK
dan PT BPI dan Perjanjian Regres antara Penjamin dan PT PLN.
Penandatanganan dokumen proyek ini telah membuktikan bahwa skema KPS yang didasarkan pada proses yang terbuka, kompetitif, transparan dan akuntabel dapat dilakukan di Indonesia. Selain merupakan proyek Showcase KPS skala besar pertama dengan nilai investasi lebih dari Rp30 Triliun, Proyek KPS PLTU Jawa Tengah ini merupakan proyek KPS pertama yang dilaksanakan berdasarkan Perpres 67/2010 jo. Perpres 13/2010 jo. Perpres 56/2011. Selanjutnya, pencapaian ini akan menjadi acuan dalam penyediaan penjaminan infrastruktur lainnya di masa depan oleh PII.
2) Penerbitan Acuan Alokasi Risiko Proyek KPS Sesuai dengan PMK 260/2010 yang mengamanat-kan PII untuk menerbitmengamanat-kan acuan mengenai Kategori Risiko Infrastruktur yang bisa menjadi rujukan bagi pihak-pihak yang terlibat dalam
66
Proyek infrastruktur Kerjasama Pemerintah Swasta (KPS), PII meluncurkan Panduan Alokasi Risiko (Risk Allocation Guideline) pada tanggal 30 Maret 2011. Dalam proses penyusunannya, Panduan Alokasi Risiko ini telah melalui proses konsultasi publik dengan mengundang berbagai pemangku kepentingan yang relevan, antara lain Kementerian Keuangan, Bappenas, BKPM, PJPK terkait (Kementerian/Lembaga dan Pemerintah Daerah), investor/pengembang, perbankan, lem baga multilateral, dan pihak-pihak lain yang mempunyai kompetensi di bidang Risiko Infrastruktur.
3) Penandatanganan MoU terkait im ple-men tasi proyek Penyediaan Air Bersih kota Bandar Lampung
PII juga telah berhasil memfasilitasi pe nan-datanganan MoU antara Pemkot Bandar Lampung, PDAM Bandar Lampung, BPPSPAM, Bank Dunia, dan Pemerintah Singapura melalui (Singapore Cooperation Enterprise) untuk mendukung implementasi proyek Penyediaan Air Bersih Way Rilau, kota Bandar Lampung, Provinsi Lampung. MoU ini diharapkan akan menjadi dasar komitmen para pihak untuk mensukseskan proyek ini.
TabEl 2. Dokumentasi Perjanjian terkait Penjaminan Proyek CJPP
Jenis Perjanjian dan Para Pihak
Perjanjian KPS:
Power Purchase Agreement (PPA)
Para Pihak : PLN dengan BU
(PT Bhimasena Power Indonesia atau BPI) Perjanjian Penjaminan : Guarantee
Agreement Para Pihak: BU (BPI) dengan PII
dan Pemerintah Indonesia Perjanjian Regres Para Pihak : PLN dengan PII dan PLN dengan Pemerintah Indonesia Isi Perjanjian • Kewajiban IPP/Seller/Badan Usaha • Kewajiban PLN • Jual Beli Listrik • Keadaan Kahar/Force Majeure • Terminasi • Representasi dan Jaminan, BU dan PLN • Arbitrasi : ICC Rules • Hukum yang Berlaku: Indonesia • 1 Perjanjian • Cakupan Penjaminan, berdasarkan pasal-pasal dalam PPA • Tenor Penjaminan • Persyaratan dan tata cara pengajuan klaim • Mekanisme pembayaran klaim • Biaya Penjaminan • Terminasi • Arbitrasi : ICC Rules (sesuai PPA) • Hukum yang Berlaku: Indonesia • 2 Perjanjian • Indemnity PLN kepada PII sebagai Penjamin • Indemnity PLN kepada Pemerintah Indonesia sebagai Penjamin • Bunga terhadap pembayaran klaim • Default interest atas pembayaran regres • Mekanisme pembayaran regres • Arbitrasi : BANI • Hukum yang Berlaku: Indonesia • Bahasa Perjanjian Indonesia
68
G
una merealisasikan haltersebut salah satu prasyarat yang diperlukan adalah dukungan infrastruktur yang baik. Mempertimbangkan kondisi infrastruktur yang ada saat ini, percepatan pembangunan infrastruktur sangat dibutuhkan. Ketersediaan infrastruktur yang baik akan mempercepat gerak pemba-ngunan ekonomi dan meningkatkan daya saing. Saat ini investasi untuk pembangunan infrastruktur sangat besar, yaitu Rp 1.786 Triliun. Alokasi anggaran Pemerintah untuk pembangunan infrastruktur sangatlah terbatas. Selisih yang masih harus diisi sangat signifikan, yaitu sebesar Rp 1.457 Triliun.
Guna mengisi selisih tersebut, Pemerintah mengajak pihak swasta untuk turut berpartisipasi dalam pembangunan infrastruktur di Indonesia dengan mengembangkan skema Kerjasama Pemerintah Swasta (KPS).
Dalam upaya mempercepat pembangunan infrastruktur dengan skema KPS, diperlukan persiapan proyek yang memadai, pendanaan yang sesuai dengan karakteristik investasi proyek infrastruktur, serta dukungan dan jaminan Pemerintah. Saat ini, lembaga pembiayaan yang ada, seperti perbankan maupun lembaga keuangan bukan bank, belum secara optimal memberikan kontribusinya terhadap pendanaan
proyek-proyek infrastruktur. Oleh karena itu diperlukan lembaga keuangan yang bisa memfasilitasi pembiayaan infrastruktur dengan memberikan tenor pembiayaan jangka panjang dan suku bunga tetap. Hal ini sangat diperlukan mengingat proyek-proyek infrastruktur memer-lukan tingkat pengembalian investasi dalam jangka waktu yang cukup panjang.
Hingga saat ini sumber-sumber dana jangka panjang, seperti Dana Pensiun, Asuransi, dan Reksadana masih diinvestasikan pada instrumen pasar modal yang tidak terkait langsung dengan pembiayaan infrastruktur. Dengan kehadiran lembaga pembiayaan yang khusus menangani pembiayaan infrastruktur, diharapkan akan terjadi mobilisasi sumber dana jangka panjang untuk mendorong investasi dalam proyek-proyek infrastruktur di Indonesia. Peran lembaga pembiayaan infrastruktur sangat krusial karena akan menjadi katalis yang menjembatani sumber dana jangka panjang dengan investasi dalam proyek-proyek infrastruktur di Indonesia. Salah satu misi yang ingin dicapai Pemerintah di dalam membentuk lembaga pembiayaan infrastruktur seperti PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) (PT SMI) dan PT Indonesia Infrastructure Finance (IIF) adalah menjadi katalis percepatan pembangunan infrastruktur nasional dengan menarik dana-dana swasta baik dari dalam maupun luar negeri untuk membantu pembangunan infrastruktur Indonesia.