di sektor sumber daya air
TABEL 1. DAFTAR PRASARANA DAN SARANA SDA DI DAERAH IRIGASI JATILUHUR
155
Bendung Walahar, Bendung Bekasi, Bendung Cikarang, Bendung Cibeet, bendung Salamdharma dan lainnya.
c. Pemantauan Kualitas Air Sungai-sungai baik dalam bentuk kegiatan Prokasih maupun Non Prokasih secara periodik dilakukan oleh Perum Jasa Tirta II di 75 titik pantau perbulan atau 900 sample pertahun.
d. Operasi dan Pemeliharaan (OP) Sarana Prasarana SDA yang tersebar di seluruh wilayah kerja Perum Jasa Tirta II diantaranya seperti tabel 1.
3) Pembiayaan Kegiatan dalam pengelolaan Sektor SDA
Pemerintah menugaskan kepada Perum Jasa Tirta II untuk mengoperasikan dan melakukan pemeliharaan terhadap aset Pemerintah yang dioperasikan oleh Perusahaan dalam rangka menjalankan pelayanan umum yang menjadi tugas Pemerintah pada Daerah Aliran Sungai di Wilayah Sungai Citarum. Dalam rangka pembiayaan pengelolaan SDA yang meliputi pengoperasian dan pemeliharaan asset tersebut, maka Perum Jasa TIrta II diberi kewenangan untuk menarik manfaat atas aset Pemerintah tersebut. Kewenangan Perum Jasa Tirta II untuk pemanfaatan sumber daya air permukaan untuk memenuhi kebutuhan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) dan pemenuhan kebutuhan pengusahaan lainnya (PP No. 7 Tahun 2010).Sesuai dengan ketentuan tersebut diatas Perum Jasa Tirta II melakukan kegiatan pengusahaan antara lain:
a. Pembangkitan tenaga listrik PLTA Ir. H. Djuanda;
b. Penyaluran air baku untuk domestik, perko-taan, dan industri;
c. Penyediaan jasa pariwisata, analisa labo-ra torium, persewaan alat-alat berat dan lainnya.
d. Pembiayaan pengelolaan sektor SDA di wilayah kerja Perum Jasa Tirta II dituangkan dalam penetapan Biaya Jasa Pengelolaan SDA (BJP-SDA) yang kemudian menjadi dasar pengenaan tarif pemanfaatan pengambilan air permukaan oleh swasta untuk kebutuhan domestik, perkotaan dan industri.Tarif BJPSDA bagi PDAM Provinsi DKI Jakarta, PDAM Provinsi Jawa Barat dan industri ditetapkan melalui Keputusan Menteri Pekerjaan Umum yang sebagian masuk kontribusi pendapatan daerah bagi
Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat. Sumber lainnya dalam pengelolaan sektor SDA berasal dari pengenaan tarif jual tenaga listrik PLTA Ir. H. Djuanda berdasarkan perjanjian jual beli Perum Jasa Tirta II dengan PT PLN (Persero) relatif sangat rendah yaitu rata-rata sebesar Rp 196,69 per kWh.
Harapan dalam Pembiayaan Infrastruktur Berkelanjutan di Sektor SDA (Jatiluhur)
Peningkatan pelayanan dalam pengelolaan SDA oleh Perum Jasa Tirta II di wilayah sungai Citarum saat ini baru mencapai 30% dari kebutuhan ideal yang diharapkan. Hal ini terjadi karena keterbatasan pendanaan yang dapat dipenuhi oleh Perum Jasa Tirta II. Kondisi ideal dalam pembiayaan pengelolaan sektor SDA akan dapat tercapat apabila evaluasi dan penyesuaian tariff baik untuk tenaga listrik PLTA Ir. H. DJuanda maupun tarif BJPSDA untuk air baku dilakukan analisa berdasarkan prinsip business
to business (B to B) antara Perum Jasa Tirta II
sebagai pengelolaan sektor SDA di wilayah sungai Citarum dengan para pihak (stakeholder) pemanfaat tenaga listrik dan air permukaan di wilayah kerja Perum Jasa Tirta II.
Pengelolaan sektor SDA di wilayah sungai Citarum tersebut sangat mungkin ditingkatkan dimasa mendatang dengan meningkatkan pembiayaan dari sektor swasta antara lain: a. Peningkatan partisipasi melalui evaluasi dan
penyesuaian tarif jual tenaga listrik PLTA Ir. H. Djuanda;
b. Partisipasi swasta dalam Pengelolaan SDA melalui peningkatan tarif air baku (BJP-SDA); c. Pembayaran royalti terhadap pemanfaatan
tekanan air (pressure head) air permukaan untuk pembangkitan listrik di wilayah kerja Perum Jasa Tirta II;
d. Partisipasi swasta dalam penyusunan pembangunan baru (investasi) infrastruktur Bidang Pengelolaan SDA;
Selain itu diperlukan koordinasi antara para pengelola SDA dalam satu wilayah sungai Citarum dalam meningkatkan efisiensi, efektifitas, dan optimalisasi kegiatan dalam pengelolaan SDA khususnya di wilayah Sungai Citarum.
156
Pola Kelembagaan dan Investasi yang Diharapkan dapat Diterapkan dalam Pembangunan SDA (Jatiluhur)
1) Kerjasama Investasi Bidang Infrastruktur Pengelolaan SDA antara Pemerintah – BUMN/ BUMD – Pihak Swasta
Pola ini merupakan implementasi dari Perpres No. 13 Tahun 2010 tentang Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha dalam penyediaan infrastruktur. Misi implementasi pola ini adalah upaya dalam menekan/mengurangi beban pemerintah melalui APBN/APBD.
Mekanisme pelayanan Investasi Energy
Procurement & Construction (EPC), menjadi
mekanisme yang banyak digunakan dalam pola investasi ini, dimana kemitraan Badan Usaha dimaksud dibentuk melalui mekanisme Special
Purpose Vehicle (SPV) yang selanjutnya dapat
mengikuti proses Beauty Contest (pemilihan) dalam rangka pemilihan penyelenggara investasi dimaksud. SPV dimaksud nantinya yang diberi mandat dalam pengelolaan infrastruktur yang telah di investasikan dalam rangka implementasi
Bussiness Plan SPV dimaksud.
2) Kerjasama Operasi
Kerjsama operasi dalam hal ini adalah kerjasama dengan prinsip bagi hasil yang saling menguntungkan antara Perum Jasa Tirta II dengan Mitra kerjasama, dimana Perum Jasa Tirta II menyediakan aset yang akan dikerjasamakan dan Mitra kerjasama menanamkan modal dalam salah satu usaha, selanjutnya kedua belah pihak secara bersama-sama atau bergantian mengelola manajemen dan proses operasionalnya dimana keuntungan dibagi sesuai dengan penyertaan modal dan investasi.
Mekanisme kerjasama operasi yang lazim digunakan antara lain:
1. Bangun Guna Serah (BOT); 2. Bangun Milik Serah (BWT); 3. Bangun Serah Guna (BTO);
158
K
ebijakan tersebut didasarkan pada Undang-undang Nomor 30 Tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan, serta didukung oleh Undang- Undang Nomor 33 Tahun 2004 ten tang Pemerintah Daerah dan Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2004 tentang Per im-bang an Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah. Mengingat bahwa pengembangan ketenagalistrikan merupakan bagian yang ter pa-du dari pembangunan nasional, sehingga perlu diusahakan secara serasi, selaras dan serempak dengan tahapan pembangunan nasional. Dalam melakukan usaha penyediaan tenaga listrik, baik untuk kepentingan umum maupun untuk kepentingan sendiri diatur berdasarkan Undang-undang Nomor 30 Tahun 2009, pelaku Usaha Penyediaan Tenaga Listrik Untuk Kepentingan Umum (UKU) yaitu:• Pemerintah dan Pemda melalui BUMN dan BUMD melaksanakan UKU.
• Badan usaha swasta, koperasi, dan swadaya masyarakat dapat berpartisipasi dalam UKU. • BUMN diberi prioritas pertama.
• UKU dilakukan berdasarkan Izin Usaha Penyediaan Tenaga Listrik yang dikeluarkan oleh Pemerintah atau Pemda.
Sedangkan jenis Usaha Penyediaan Tenaga Listrik Untuk Kepentingan Umum (UKU) adalah: 1. Pembangkitan tenaga listrik;
2. Transmisi tenaga listrik;
3. Distribusi tenaga listrik; dan/atau 4. Penjualan tenaga listrik.
Selain jenis usaha seperti tersebut diatas terdapat usaha penunjang yang terdiri dari usaha penunjang itu sendiri dan usaha industri penunjang.
Usaha penunjang terdiri dari:
1. Konsultansi dalam bidang instalasi penyediaan tenaga listrik;
2. Pembangunan dan pemasangan instalasi penyediaan tenaga listrik;
3. Pemeriksaan dan pengujian instalasi tenaga listrik;
4. Pengoperasian instalasi tenaga listrik; 5. Pemeliharaan instalasi tenaga listrik; 6. Penelitian dan pengembangan; 7. Pendidikan dan pelatihan;
8. Laboratorium pengujian peralatan dan pemanfaat tenaga listrik;
9. Sertifikasi peralatan dan pemanfaat tenaga listrik;
10. Sertifikasi kompetensi tenaga teknik ketenagalistrikan; atau
11. Usaha jasa lain yang secara langsung berkaitan dengan penyediaan tenaga listrik.