V. HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1 Gambaran Umum
Kecamatan Sukun merupakan bagian dari salah satu kecamatan di kota malang dengan luas wilayah 20,97 KM2 yang memiliki tinggi daerah 435-460m dari permukaan laut. Kecamatan Sukun memiliki sebelas kelurahan. Berikut tabel kelurahan yang ada di Kecamatan Sukun berdasarakan letak geografis (BPS Kota Malang, 2017).
Tabel 8. Luas Wilayah Kelurahan di Kecamatan Sukun
No. Kelurahan Luas wilayah
Km2 % Luas terhadap Luas Kecamatan 1 Kebonsari 1,57 7,49 2 Gadang 1,95 9,30 3 Cipto Mulyo 0,83 3,96 4 Sukun 1,29 6,15 5 Bandungrejosari 2,75 13,11 6 Bakalan Krajan 1,78 8,49 7 Mulyorejo 2,75 13,11 8 Bandulan 2,24 10,68 9 Tanjungrejo 0,93 4,43 10 Pisang Candi 1,84 8,77 11 Karang Besuki 3,04 14,50 Kecamatan Sukun 20,97 100,00
Sumber: Kecamatan Sukun dalam Angka 2017
Tabel 8. Menunjukkan luas wilayah kelurahan dalam Kecamatan Sukun. Pada tabel Kelurahan Sukun memiliki luas wilayah 1,29 km2 yang terdiri dari Sembilan Rukun Warga dan 113 Rukun Tetangga. Data tersebut dapat menggambarkan kepadatan yang terjadi di Kawasan Kelurahan Sukun yang hanya memiliki presentasi 6,15% dari total luas wilayah Kecamatan Sukun.
Pada tabel 9 akan dibahas proyeksi jumlah dan perkembangan penduduk di Kecamatan.perkembangan penduduk digunakan untuk mengetahui perubahan jumlah penduduk antara 2 tahun yaitu antara tahun ini dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Maka dari itu jumlah penduduk tahun ini dibandingkan dengan tahun lalu pada daerah tertentu apakah mengalami kenaikan atau penurunan, dan seberapa banyak atau seberapa persen kenaikan atau penurunan tersebut. Perkembangan penduduk berbeda dengan pertumbuhan penduduk (BPS Kota Malang, 2017). Berikut adalah tabel perkembangan dan pertumbuhan penduduk Kecamatan Sukun. Tabel 9. Jumlah Penduduk dan Perkembangan Penduduk Menurut Kelurahan di Kecamatan Sukun, 2015 dan 2016.
No. Kelurahan Jumlah Penduduk
Perkembangan penduduk 2015-2016 (%) 2015 2016 1. Kebonsari 10 854 11 031 1,63 2. Gadang 18 411 18 508 0,53 3. Ciptomulyo 12 687 12 712 0,20 4. Sukun 17 590 17 616 0,15 5. Bandungrejosari 31 436 31 875 1,40 6. Bakalan Krajan 7 784 7 881 1,25 7. Mulyorejo 14 216 14 453 1,67 8. Bandulan 16 184 16 351 1,03 9. Tanjungrejo 26 568 26 658 0,34 10. Pisang Candi 15 678 15 700 0,14 11. Karang Besuki 18 645 18 728 0,45 Kelurahan Sukun 190 053 191 513 0,77
Sumber: Kecamatan Sukun dalam Angka 2017
Pada tabel jumlah dan perkembangan penduduk pada tabel 9. Dapat ditarik kesimpulan bahawa Kelurahan Sukun mengalamipeningkatan jumlah penduduk sebesar 0,15% dari tahun 2015 sampai 2016. Hal tersebut juga merupakan faktor kepadatan penduduk yang terjadi di Kelurahan Sukun.
Gambaran umum RW 03 Kecamaan Sukun Kelurahan Sukun, merupakan kampung tematik pertama di Kota Malang. Awal berdirinya kampung tematik ini merupakan usulan dari ketua RW 03 sebelumnya yang bernama Bapak Mukrom. Ide untuk mengembangkan kampung tematik sadar lingkungan ini muncul pada tahun 2009. Pada awal pembentukan kampung tematik sadar lingkungan yang sekarang disebut sebagai kampung terapi dulunya hanya berjalan di Kawasan RT 05 saat itu ketua RT bernama Pak Zainul yang sekarang menjabat sebagai ketua RW dari tahun 2011 hingga saat ini.
Gerkan kampung Go Green dimulai ketika Pak Zainul menjabat sebagai RW pada tahun 2011. Pada saat itu mulai dicanangkan adanya kader lingkungan. Kader lingkungan merupakan perwakilan tiga orang dari setiap RT yang bergerak dalam bidang pengolahan dan penataan lingkungan di RW 03. Tahun 2011 kader lingkungan beserta jajaran staf RW melakukan kunjungan studi banding ke kampung Green and Clean Surabaya. Berangkat dari ilmu yang didapat dari studi banding mulailah pembagian tugas untukkader lingkungan diaktifkan.
Kader lingkungan mengkordinir warga dalam menanam tanaman toga dan tanaman sayur-sayuran di sekitar rumah warga. Mengingat kondisi RW 03 Kecamatan Sukun Kelurahan Sukun yang padat penduduk dan sempit akan lahan terbuka, maka penanaman dilakukan secara vertikultur dengan menggunakan rak dari besi. Tugas kader lingkungan juga mengedukasi warga tentang tata cara memilah sampah kering dan sampah basah untuk di pisahkan dan diolah lebih lanjut. Pengolahan kering dan sampah basah dilakukan di setiap RT yang di kordinir oleh kader lingkungan dan ketua RT. Sampah basah dijadikan kompos dengan menggunakan komposter, lalu untuk sampah kering di kumpulkan dan di pilah kembali oleh. Sebagian sampah kering di jual dan sebagian lainnya dijadikan kerajinana tangan untuk dijual di BSM Malang.
Pada tahun 2012 kampung terapi memenangkan lomba tingkat nasional untuk yang pertama kalinya dengan tema kampung Clean and Green. Hal tersebut memotivasi ketua RW dan masyarakat untuk terus melakukan gerakan penghijauan di kampung terapi. Pada gamabar berikat adalah gambar dimana ketua RW menerima hadiah lomba kampung Clean and Green kota Malang.Pada tahun yang sama RW 03 kembali mengukir prestasi dengan memenangkan lomba yang
diselenggarakan oleh PHBS dengan tema yang sama, yaitu kampung hijau. Setelah memenangkan beberapa lomba kampung terapi mulai dikenal banyak orang. Tercatat World Bank telah tujuh kali melakukan peninjauan di kampung terapi. Banyak juga aktivis-aktivisi lingkungan yang belajar dari pak Zainul selaku ketua RW 03 yang mampu merubah citra kampung padat penduduk menjadi kampung clean and green se kota malang.
5.1.1. Karakteristik Responden Berdasarkan Umur
Faktor usia berkaitan dengan mudahnya atau cepatnya masyarakat dalam menerima informasi atau mengadopsi inovasi, serta dalam melakukan serangkaian kegiatan program Urban Farming. Selain itu usia juga menjadi faktor yang sangat dipertimbangkan. Menurut Soekanto (2013) semakin muda seseorang biasanya mempunyai semangat untuk ingin tahu apa yang belum mereka ketahui. Adapun distribusi responden berdasarkan umur pada tabel sebagai berikut.
Tabel 10. Presentase Umur Responden
Umur Responden Presentase
40-50 tahun 27,5
50-60 tahun 62,5
60-70 tahun 10
Total 100%
Sumber: Data Primer yang diolah 2018
Persentase terbesar usia responden berada pada kisaran umur 50 - 60 tahun dan terendah pada kisaran umur 60-65 tahun. Umur responden mulai dari umur 40 - 65 tahun. Hal tersebut menunjukkan bahwa pada umur tersebut respondeni masih aktif dalam mengembangkan serangkaian keiatan program Urban Farming.
5.1.2. Karaketeristik Responden Berdasarkan Pendidikan
Program pengembangan pertanian perkotaan atau Urban Farming ini merupakan salah satu program baru di masyarakat. Sehingga berhasil tidaknya program ini didukung oleh masyarakat itu sendiri melalui persepsi masyarakat mengenai program. Persepsi timbul karena adanya proses kognitif yang dialami oleh seseorang dalam memahami informasi tentang suatu program melalui penglihatan, pandangan, serta perasaan masing-masing masyarakat. Persepsi itu
sendiri tidak lepas dari faktor-faktor yang mempengaruhi yaitu pendidikan formal, pendidikan non formal, dan akses informasi.
Tingkat pendidikan yang dimiliki masyarakat dapat mempengaruhi kualitas pengembangan sumber daya manusia yang menjadi modal peningkatan dan memperlancar pembangunan. Untuk mengetahui karakteristik responden menurut pendidikan di RW 03 RT 06 dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 11. Presentase Tingkat Pendidikan Responden
Pendidikan Terakhir Jumlah Presentase
SD 8 20,0
SMP 10 25,0
SMA 19 47,5
S1 3 7,5
Total 40 100,0
Sumber: Data primer yang diolah 2018
Pada tabel 11 dapat diketahui bahwa responden dengan tingkat Pendidikan tamat SD sebanyak 8 orang, responden dengan tingkat Pendidikan tamat SMP 10 orang, responden dengan tingkat Pendidikan tamat SMA sebanyak 19 orang, dan responden dengan tingkat Pendidikan S1 sebanayak 3 orang. Tingkat Pendidikan dapat mempengaruhi individu dalam menggambil suatu keputusan, yang nantinya akan berdampak pada keberlangsunagn program Urban Farming di RW 03. 5.1.3. Karakteristik Responden Berdasarkan Pekerjaan
Mata pencaharian masyarakat dapat mencerminkan besarnya sumbangan pendapatan yang diperoleh penduduk suatu daerah dari kegiatan ekonomi yang dilakukan dan besarnya distribusi terhadap pendapatan daerah. Berikut adalah gambar persebaran mata pencaharian responden RT 06 RW 03 Kelurahan Sukun Kecamatan Sukun,.
Tabel 12. Presentase Jenis Pekerjaan Responden
Jenis Pekerjaan Jumlah Presentase
Ibu rumah tangga 17 42,5
Buruh 3 7,5
Swasta 13 32,5
Pedagang 5 12,5
PNS 2 5,0
Total 40 100
Dari tabel 12 diatas menunjukkan bahwa sebagaian besar responden yang diwawancarai berprofesi sebagai ibu rumah tangga. Hal tersebut dapat berdampak dengan kegiatan warga dalam melaksanakan program olah sampah dan menanam toga, dapat berkembang secara intensif karena banyak ibu-ibu yang bekerja di rumah dan fokus merawat tanaman toga serta aktif mengikuti kegiatan pilah sampah.
5.2 Peran Modal Sosial Pada Masyarakat RW 03 Kecamatan Sukun Kota