• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hubungan Modal Sosial dengan Keberhasilan Program Urban Farming Pengujian hubungan antara variabel dilakukan satu persatu dari empat

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

3) Kesadaran kritis

5.4 Hubungan Modal Sosial dengan Keberhasilan Program Urban Farming Pengujian hubungan antara variabel dilakukan satu persatu dari empat

variabel independent dari indicator indikator modal sosial yang mempengaruhi variabel dependen. Variabel independent adalah variabel bebas yang berkaitan dengan modal sosial. Variabel independent yang digunakan dalam penelitian ini adalah kepercayaan, partisipasi, jaringan sosial, dan norma sosial. Sedangkan untuk variabel dependen atau variabel Y adalah keberhasilan program mengacu pada indicator keberhasilan program pemberdayaan UNICEF.

Proses pembuktian adanya hubungan antar variabel di dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan uji statistik korelasi rank spearman melalui penghitungan SPSS. Dari penghitungan tersebut dapat dikatakan bahwa terdapat hubungan antara modal sosial dengan keberhasilan program Urban Farming di RW 03 Kelurahan Sukun Kecamatan Sukun. Berikut adalah hasil uji statistik hubungan

antara modal sosial dan keberhasilan program Urban Farming. Berikut tabel hasil uji analisis antara hubungan modal sosial dan keberhasilan program.

a. Kepercayaan

Hubungan yang familiar dan stabil di kalangan pelaku-pelaku sosial dalam organisasi dapat mengurangi keraguan para pratisipan struktur sosial mengena motivasi orang lain dan meredam kegelisahan akan tindakantindakan orang lain yang tidak sesufai dengan harapan mereka (Soekanto & Dra. Budi Sulistyowati, 2013). Dapat dikemukakan bahwa aspek kepercayaan atau trust menjadi komponen utama pembentuk modal sosial di kampung ini. Aspek lain, seperti kerja sama (cooperation) dan jaringan kerja (net-work), menurut hemat penulis tidak akan terbentuk dengan mantap jika tidak dilandaskan pada terbentuknya hubungan saling percaya (mutual-trust) antaranggota masyarakat. Pada Tabel berikut merupakan hasil uji statistik indikator kepercayaan.

Tabel 18. Hasil Uji Statistik Hubungan Kepercayaan dan Keberhasilan Program Kepercayaan Keberhasilan Spearman’s Rho Kepercayaan Correlation coefficient 1.000 .816* Sig.(2-tailed) . .000 N 40 40 Keberhasilan Correlation coefficient .816* 1.000 Sig.(2-tailed) .000 . N 40 40

**Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed)

Merujuk pada hasil korelasi antara kepercayaan dan keberhasilan program maka interpretasi dari hasil uji statistik tersebut adalah kepercayaan memiliki hubungan dengan keberhasilan program. Hal itu ditunjukkan dengan nilai signifikansi sebesar 0,000 yang berarti memiliki korelasi sempurna. Kepercayaan dan keberhasilan memiliki hubungan kuat dan searah karena memiliki koefisien positif sebesar 0,816. Artinya jika tingkat kepercayaan dapat dikembangkan atau ditingkatkan, maka taraf keberhasilan program juga akan ikut meningkat.

b. Partisipasi

Kemampuan Partisipasi muncul dari kepercayaan umum di dalam sebuah masyarakat atau di bagian - bagian paling kecil dalam masyarakat. Modal sosial

bisa dilembagakan (menjadi kebisaaan) dalam kelompok yang paling kecil ataupun dalam kelompok masyarakat yang besar seperti negara. Berikut adalah tabel uji korelasi indikator partisipasi dengan keberhasilan program.

Tabel 19. Hasil Uji Statistik Hubungan Partisipasi dan Keberhasilan Program Partisipasi Keberhasilan Spearman’s Rho Partisipasi Correlation coefficient 1.000 .913* Sig.(2-tailed) . .000 N 40 40 Keberhasilan Correlation coefficient .913* 1.000 Sig.(2-tailed) .000 . N 40 40

**Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed)

Pada hasil korelasi antara partisipasi dan keberhasilan program maka interpretasi dari hasil uji statistik tersebut adalah partisipasi memiliki hubungan dengan keberhasilan program. Hal itu ditunjukkan dengan nilai signifikansi sebesar 0,000 yang berarti memiliki korelasi sempurna. Partisipasi dan keberhasilan memiliki hubungan kuat dan searah karena memiliki koefisien positif sebesar 0,913. Artinya jika tingkat partisipasi dapat dikembangkan atau ditingkatkan, maka taraf keberhasilan program juga akan ikut meningkat.

c. Jaringan

Modal sosial adalah sekumpulan sumber daya yang aktual atau potensial yang terhubung dengan kepemilikan sebuah jaringan yang tahan lama dalam hubungan pengenalan dan pengakuan timbal balik yang kurang atau lebih terinstitusionalisasikan atau terlembaga. Dalam pemikiran tekonomi tradisional, istilah “modal” berarti sejumlah uang yang dapat diinvestasikan dengan harapan akan memperoleh keuntungan di masa depan (Cornwell & Laumann, 2016). Pada tabel 20 akan disajikan data hasil analisis hubungan korelasi antara jaringan dan keberhasilan program. Berikut tabel hasil analisis hubungan korelase keduanya.

Tabel 20. Hasil Uji Statistik Hubungan Jaringan Sosial dan Keberhasilan Program Jaringan Keberhasilan Spearman’s Rho Jaringan Correlation coefficient 1.000 .908* Sig.(2-tailed) . .000 N 40 40 Keberhasilan Correlation coefficient .908* 1.000 Sig.(2-tailed) .000 . N 40 40

**Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed)

Jaringan sosial terjadi berkat adanya keterkaitan (connectedness) antara individu dan komunitas. Keterkaitan mewujud di dalam beragam tipe kelompok sosial pada tingkat lokal maupun di tingkat lebih tinggi. Jaringan sosial yang kuat antara sesama anggota dalam kelompok mutlak diperlukan dalam menjaga sinergitas dan kekompakan. Apalagi jika kelompok sosial tersebut bentuknya adalah kelompok formal.

Menurut hasil uji statistik antara jaringan dan keberhasilan, dapat diartikan bahwa Jaringan memiliki hubungan dengan keberhasilan program. Hal itu ditunjukkan dengan nilai signifikansi sebesar 0,000 yang berarti memiliki korelasi sempurna. Partisipasi dan keberhasilan memiliki hubungan kuat dan searah karena memiliki koefisien positif sebesar 0,908. Dari perolehan nilai tersebut jika tingkat jaringan dapat dikembangkan atau ditingkatkan, maka taraf keberhasilan program juga akan ikut meningkat.

d. Norma Sosial

Menurut Soekanto Norma ialah sebuah perangkat dimana hal itu dibuat agar hubungan didalam suatu masyarakat dapat berjalan seperti yang diharapkan. Segala norma yang dibuat akan mengalami proses dalam suatu masyarakat sehingga norma-norma tersebut diakui, dihargai, dikenal dan ditaati oleh warga mayarakat dalam kehidupannya sehari-hari. Pada tabel berikut ini merupak hasil dari uji statistik norma sosial dengan keberhasilan program.

Tabel 21. Hasil Uji Statistik Hubungan Norma Sosial dan Keberhasilan

Norma Sosial Keberhasilan Spearman’s

Rho

Norma Sosial Correlation

coefficient 1.000 .809* Sig.(2-tailed) . .000 N 40 40 Keberhasilan Correlation coefficient .809* 1.000 Sig.(2-tailed) .000 . N 40 40

**Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed)

Menurut hasil uji statistik antara norma sosial dan keberhasilan, dapat diartikan bahwa Jaringan memiliki hubungan dengan keberhasilan program. Hal itu ditunjukkan dengan nilai signifikansi sebesar 0,000 yang berarti memiliki korelasi sempurna. Partisipasi dan keberhasilan memiliki hubungan kuat dan searah karena memiliki koefisien positif sebesar 0,809. Artinya jika tingkat norma sosial dapat dikembangkan atau ditingkatkan, maka taraf keberhasilan program juga akan ikut meningkat.

Manusia sebagai sumber daya sosial yang terakhir, dipahami sebagai atauran main bersama yang menuntun perilaku seseorang. Norma lahir karena adanya interaksi sosial dalam sesuatu kelompok individu. Kelompok individu, atau masyarakat ini membutuhkan atauran main tata pergaulan yang mengatur mereka untuk mencapai suasana yang diharapkan. Untuk mencapainya maka dibentuklah norma sebagai pedoman yang dapat digunakan.

Berdasarkan hasil analisis korelasi Rank Spearman maka dapat terlihat bahwa Modal sosial memiliki hubungan dengan keberhasilan program Urban Farming yang dilakukan di RW 03 Kelurahan Sukun Kecamatan Sukun Kota Malang. Setelah melakukan uji korelasi dengan menggunakan rank spearman untuk mengetahui hubungan antara keberhasilan program dan peran modal sosial. Maka dilakukan uji t untuk mengetahui tingkat pengaruh antar variabel dalam keberhasilan program. Sebelum melakukan uji t terlebih dahulu menentukan t tabel. Perhitungan t tabel menggunakan rumus: t (α/2 : n-k-1). Sehingga diperoleh nilai t tabel sebesar 2.028. Hasil dari uji t digunakan untuk menentukan apakah penelitian ini menerima H1 atau menolak H1.

Modal sosial memiliki beberapa indikator di dalamnya. Indikator kepercayaan memiliki nilai korelasi 0.816 yang artinya kepercayaan memiliki hubungan yang positif dengan keberhasilan program Urban Farming. Hal tersebut juga selaras dengan hasil uji t yang memiliki nilai sebesar 8.69 dan nilai t hitung indikator kepercayaan lebih besar dari pada 2.428 yang merupakan nilai dari t tabel. Indikator partisipasi memiliki nilai korelasi yang positif dengan keberhasilan program Urban Farming. Nilai korelasi dari indikator partisipasi adalah 0.913 dan untuk nilai t hitung dari indikator partisipasi sebesar 13.74 yang artinya nilai ini memiliki nilai yang lebih besar dari pada nilai t tabel. jaringan sosial memiliki nilai korelasi 0.908 dan memiliki nilai t hitung sebesar 13.33. Indikator norma sosial memiliki nilai korelasi 0.809 yang artinya indikator ini juga memiliki hubungan yang positif dengan keberhasilan program, dari segi t hitung indikator norma sosial memiliki nilai 8.47 yang mana nilai ini lebih besar dari t tabel.

Berdasarkan hasil uji korelasi dan perhitungan uji t maka dapat disimpulkan bahwa dari ke empat indikator modal sosoal memiliki pengaruh dan peran secara positif dalam keberhasilan program Urban Farming. Sesuai hasil analisa bahwa teori yang dijelaskan oleh ilmuwan sosiologi dapat diimplementasikan pada program ini. aspek yang utama adalah aspek jaringan sosial di masyarakat dan partisipasi. Jaringan sosial dapat memperluas jangkauan informasi untuk terus mengembangkan suatu program. Secara tidak langsung jaringan mempengaruhi berhasil atau tidaknya suatu program di masyarakat. Karena jaringan merupakan salah satu strategi dalam pengembangan program yang berbasis komunitas atau masyarakat.

VI. PENUTUP

6.1 Kesimpulan

1. Peran modal sosial yang paling berkepengaruh dalam program Urban Farming adalah tingkat partisipasi dan kepercayaan. Indikator tersebut masing masing memiliki rentang nilai yang tinggi dan sejalan dengan teori yang disampaikan oleh Fukuyama.

2. Tingkat keberhasilan program Urban Farming yang terjadi di RT 06 RW 03 Kelurahan Sukun Kecamatan Sukun Kota Malang memiliki presentase nilai yang tinggi yaitu 61,80 persen. Sesuai sepuluh indikator terdapat satu indikator yang memiliki nilai rendah yaitu sebesar 48,80 persen pada poin pertama. Poin tersebut membahas tentang pengurangan jumlah pengangguran setelah diadakannya program Urban Farming. Hal tersebut menjadi titik evaluasi karena kurangnya penjadwalan sehingga hasil dari program kurang maksimal. 3. Terdapat hubungan korelasi yang kuat antara keberhasilan program Urban Farming dengan modal sosial yang ada di dalam masyarakat. Hal tersebut ditunjukkan dengan adanya uji statistik Rank Spearman dengan menggunakan SPSS. Hasil dari setiap indikator modal sosial memiliki hubungan yang positif dan searah dengan keberhasilan program. Pada uji t keempat indikator modal sosial memiliki pengaruh terhadap keberhasilan program. Hal tersebut ditunjukkan dari hasil t hitung semua indikator modal sosial lebih besar dari pada nilai t tabel.

6.2 Saran

1. Berkaitan dengan kerumitan yang dihadapi tentang masalah pengolahan sampah, hendaknya ketua RT dan RW melakukan penjadwalan bagi tiap kepala keluarga per RT, agar lebih aktif lagi dalam mengelolah sampah basa dan kering serta tetap aktiv dalam menjaga taman toga di Kawasan RT masing-masing maupun di taman toga milik RW.

2. Berkaitan dengan kegiatan penyuluhan, hendaknya Dinas Pertanian menyelenggarakan penyuluhan tidak hanya mengadakan perlombaan tentang pertanian di Kawasan urban. Akan tetapi juga memberikan penyuluhan dan pemberian bantuan bibit pada kampung-kampung tematik agar tetap terjaga

programnya dan dapat menularkan program ke kampung-kampung lainnya. Sehingga dari penyuluhan dan pemberian bibit tersebut dapat terjadi komunikasi yang aktif antara warga dengan Dinas Pertanian.

3. Berkaitan dengan program, hendaknya Dinas Pertanian bekerjasama dengan masyarakat melakukan koreksi bersama setelah program selesai. Sehingga kendala yang muncul pada saat program dilaksanakan dapat diminimalisasi untuk program selanjutnya.

Dokumen terkait