V. HASIL DAN PEMBAHASAN
5.2 Peran Modal Sosial Pada Masyarakat RW 03 Kecamatan Sukun Kota Malang Malang
5.2.1 Kepercayaan Masyarakat RW 03 dalam Program Urban Farming
Kepercayaan dalam pelaksanaan program Urban Farming di yang dibahas dalam penelitian ini meliputi kepercayaanmasyarakat terhadap sesama warga kampung RW 03, kepercayaan masyarakat terhadap kader lingkungan, serta kepercayaan masyarakat terhadap ketua RW 03. Pada tabel di bawah ini akan disajikan data membahas tentang tinggi rendahnya suatu subindikator yang terjadi di RW 03 Kelurahan Sukun Kecamatan Sukun sebagai berikut.
Tabel 13. Deskripsi Tingkat Kepercayaan Masyarakat Dalam Program Urban Farming
No. Sub Indikator Skor
Maks. Skor yang dicapai Present ase Kategori 1 Percaya terhadap informasi
yang diberikan oleh tetangga mengenai program Urban Farming
5 2,98 59,6 Tinggi
2 Bersedia memberikan pupuk atau kompos kepada RT lain di RW 03
5 2,9 58 Tinggi
3 Bersedia membantu menanam toga di RT lain tanpa dibayar
5 2,64 52,8 Tinggi
4 Pernah mendapat bantuan dari RT lain ketika mengalami kesulitan menanam Toga
5 2,5 50 Sedang
5 Percaya jika penjualan kompos di kordinir oleh ketua RW
5 3,82 76,4 Tinggi
6 Meminta bantuan RT lain dalam melaksanakan penanaman Toga
Tabel 13. (Lanjutan)
No. Sub Indikator Skor
Maks. Skor yang dicapai Present ase Kategori 7 Percaya jika membagi hasil
program RW 03 terhadap orang yang membutuhkan dapat membawakan keuntungan untuk hasil program selanjutnya
5 3,64 72,8 Tinggi
8 Percaya dengan adanya Kader lingkungan dapat membantu warga dalam penghijaun
5 3,64 72.8 Tinggi
9 Berkomitmen untuk menjaga nama baik dan reputasi Kampung terapi RW 03
5 3,6 72 Tinggi
10 Percaya kader lingkungan dan jajaran staf RW berperan dalam meningkatkan kesejahteraan warga RW 03
5 3,36 67,2 Tinggi
Jumah 50 31,58 63,16 Tinggi
Sumber: Data primer yang diolah 2018
Perhitungan pengukuran tigkat keprcayaan pada subindikator dalam program Urban Farming:
K=5 I=R/K R= Xt-Xr I=40/5 R=50-10 I= 8 R=40 Tinggi = 26,2 (>52,21) Sedang = 18,1-26,1 (36,01-52,20) Rendah = <18 (< 36,00)
Indikator modal sosial yang menjadi pusat kajian Fukuyama adalah kepercayaan karena menurutnya sangat erat kaitannya antara modal sosial dengan kepercayaan. Menurut Fukuyama bahwa kepercayaan adalah pengharapan yang muncul dalam sebuah komunitas yang berperilaku normal, jujur dan kooperatif
berdasarkan norma-norma yang dimiliki bersama, demi kepentingan anggota yang lain dari komunitas tersebut. Unsur kepercayaan tersebut di tumbuhkan dari awal pembentukan masyarakat kampung go green. Kepercayaan itu dimunculkan agar masing-masing individu mempunyai rasa tanggung jawab sosial dan juga menumbuhkan ikatan kekeluargaan yang tinggi diantara mereka. Hal ini bisa dilihat dari kedekatan anggota dimana bisa saling membangun kerjasama secara lebih efektif terutama dalam keberlanjutan kegiatan Urban Farming di RW 03 Kelurahan Sukun Kecamatan Sukun. Setelah tumbuhnya kepercayaan maka kerjasama untuk saling membantu satu-sama lain akan mudah terbangun.
Berdasarkan hasil perhitungan setiap subindikator diatas dapat kita jabarkan bahwa terdapat dua subindikator yang memiliki nilai atau taraf sedang, dan delapan subindikator yang memiliki nilai tinggi. Subindikator yang memiliki nilai atau taraf sedang adalah poin empat dan poin enam yang memiliki nilai presentase 50,00. Poin empat menjelaskan tentang bantuan dari RT lain ketika mengalami kesulitan dalam melaksanakan program, bantuan tersebut dapat berupa kompos, botol bekas, maupun tenaga. Sedangkan poin ke enam menjelaskan tentang warga yang meminta bantuin RT lain dalam proses penanaman toga. Subindikator yang memiliki nilai atau taraf yang tinggi adalah poin ke 1,2,3,5,7,8,9, dan 10 yang masing masing memiliki presentasi nilai di atas 52,21.
Kegiatan penanaman toga secra vertikultur dan pembuatan kompos telah dilakukan dan dibagi secara rata per RT. Setiap RT memiliki komposter dan taman toga. Pembagian tersebut bertujuan untuk penyebaran tanggung jawab pada semua warga di RW 03 Kelurahan Sukun agar warga dapat merasakan kepemilikan taman dan komposter tersebut. Hal tersebut juga diungkapkan Pak Djainul selaku ketua RW 03 di Kelurahan Sukun. Berikut penjelasan yang diberikan Pak Djainul:
“Setiap RT memiliki Gudang sampah masing-masing yang berukuran 2x3 meter untuk dipilah dari sampah kering dan sampah basah, nanti sampah basahnya jadikan kompos, karena disini punya 70 komposter yang tersebar rata disetiap RT untuk membuat kompos. Lalu untuk sampah keringnya dikumpulkan jadi satu dan di pilah mana yang buat daur ulang , mana yang dijual, dan mana yang digunakan untuk pot vertikultur. Jadi setiap RT memiliki tanggung jawab masing-masing untuk penyediaan kompos dan laporan keuangan sampah.”
Berdasarkan pernyataan dari Pak Djainul, dapat diketahui mengapa nilai pada poin ke empat dan ke enam memiliki taraf yang sedang. Hal tersebut dikarenakan setiap RT telah dibagi tanggu jawab masing-masing dalam menjalankan program Urban Farming. Sejalan dengan apayang telah dijelaskan pak Djainul hal yang sama juga dikemukakan oleh informan lainnya yaitu ibu Yuana selaku istri ketua RT 06. Berikut pernyataan Ibu Yuana:
“kalua disini itu sudah dibagi-bagi mbak. Setiap RT punya tong komposter sendiri-sendiri, punya Gudang dan taman toga sendiri-sendir. Tapi biasanya kalua ada RT yang kehabisan kompos itu ya minta ke RT lainnya, kalau di RT 06 kalau ada RT yang minta kompos saya kasih satu kresek besar yang ukuran 5 kilo itu RP.3000 rupiah, nanti uangnya masuk kas RT. Tapi jarang sih mbak kalua kehabisan kompos itu”
Lewat program Urban Farming di RW 03 Kelurahan Sukun, Kecamatan Sukun Kota Malang dapat menciptakan interaksi antar warga. Meskipun terkadang interaksi terjadi karena berbagai alasan. Masyarakat berinteraksi, berkomunikasi dan kemudian menjalin kerjasama pada dasarnya dipengaruhi oleh keinginan untuk berbagi cara mencapai tujuan bersama. Interaksi semacam ini melahirkan modal sosial, yaitu ikatan-ikatan emosional yang menyatukan orang untuk mencapai tujuan bersama, yang kemudian menumbuhkan kepercayaan dan keamanan yang tercipta dari adanya relasi yang relatif panjang. Perolehan angka-angka diatas, mengisyaratkan bahwa terdapat dimensi kepercayaan yang tinggi dari masyarakat RW 03 dapat memberikan harapan secara umum tentang suatu keadaan yang seimbang yang di dalamnya sudah terjalin sebuah relasi kerja-sama yang saling-percaya. Hal ini juga mengikuti pendapat (Fukuyama, 2010) yang mengatakan unsur terpenting dalam modal sosial adalah kepercayaan yang merupakan perekat (social glue) bagi langgengnya kerjasama dalam kelompok masyarakat.
Keadaan seperti ini tidak akan menimbulkan prasangka, kecurigaan atau sikap negatif lainnya yang dapat mengganggu kualitas interaksi anggota masyarakat kampung go green di RT 06 RW 03 Kelurahan Sukun Kecamatan Sukun Kota Malang karena kepercayaan yang dibangun oleh masyarakat semakin menguat seiring dengan penghargaan terhadap rukun tetangga mereka.
5.2.2 Partisipasi Masyarakat RW 03 dalam Program Urban Farming
Partisipasi dalam pelaksanaan yang dibahas pada penelitian ini meliputi keikutsertaan masyarakat dalam pengelolaan sampah dan taman toga, pengolahan kompos, dan kehadiran di setiap kegiatan yang diadakan oleh kader lingkungan, serta mengetahui keaktifan dalam forum rapat atau keaktifan dalam menyampaikan ide. Pada tabel dibawah ini akan ditampilkan pula subindikator dan nilai nilai presentase persubindikator.
Tabel 14. Deskripsi Tingkat Partisipasi Masyarakat dalam Program Urban Farming
No Sub Indikator Skor
Maks. Skor yang dicapai Present ase Kategori 1 Kehadiran dalam kegiatan
yang diadakan oleh kader lingkungan
5 3,57 71,5 Tinggi
2 Hadir dalam mengolah taman toga RT maupun taman toga RW
5 3,7 74 Tinggi
3 Hadir dalam kegiatan gotong royong RW 03
5 3,75 75 Tinggi
4 Diskusi dengan warga sekitar terkait program Urban Farming
5 3,77 75,5 Tinggi
5 Mencatat hal-hal yang penting dalam setiap pertemuan dengan kader lingkungan
5 3,55 71 Tinggi
6 Selalu diadakan pertemuan rutin yang dibuat oleh Kader lingkungan
5 3,37 67,5 Tinggi
7 Bekerjasama dengan RT lain dalam RW yang sama terkait program Toga
5 3,65 73 Tinggi
8 Mengemukakan pendapat pada forum yang diadakan oleh kader lingkungan maupun staf RW
5 3,55 71 Tinggi
Jumlah 40 28,91 72,31 Tinggi
Perhitungan pengukuran tigkat partisipasi pada subindikator dalam program Urban Farming: K=5 I=R/K R= Xt-Xr I=32/5 R=40-8 I= 6,4 R=32 Tinggi = > 20,9 ( > 52,01) Sedang = 14,4 – 20,8 ( 36,01-52,01) Rendah = < 14,4 ( < 36,00)
Merujuk pada perhitungan tabel 14 dapat disimpulkan bahwa nilai setiap subindikator partisipiasi memiliki nilai atau taraf yang tinggi dengan presentase lebih dari 52,01. Hal ini sejalan dengan faktor utama dalam merekatkan hubungan sosial dalam sebuah komunitas adalah kerjasama, artinya bahwa selain unsur solidatitas sosial, juga terdapat unsur lainnya dalam jaringan sosial adalah kerjasama. Penjabaran modal sosial adalah penampilan organisasi sosial, seperti kepercayaan, norma-norma (atau hal timbal balik), dan jaringan (dari ikatan-ikatan masyarakat), yang dapat memperbaiki efisiensi masyarakat dengan memfasilitasi adanya koordinasi dan kerjasama bagi keuntungan bersama.
Fukuyama (2010) menyatakan bahwa modal sosial yang tumbuh pada suatu komunitas yang didasarkan atas norma-norma bersama akan sangat membantu dalam memperkuat entitas masyarakat tersebut. Modal sosial berbeda dengan bentuk modal-modal yang lain, salah satunya adalah kemampuan untuk menciptakan dan mentransfer ide, pemikiran, dan sejenisnya. Legh-Jones dan Moore (2012) menyatakan bahwa modal sosial yang tinggi akan membawa dampak pada tingginya partisipasi masyarakat sipil dalam berbagai bentuk.
Pernyataan dari responden juga searah dengan hasil dari penilaian setiap subindikator partisipasi pada tabel dua belas dan pernyataan yang diungkapkan Fukuyama maupun Putnam. Berikut pernyataan Bu Dwi yang menjelaskan pola partisipasi di RW 03 Kelurahan Sukun Kecamatan Sukun sebagai berikut.
“Alhamdulillah kalau di sini (RW 03) itu orang-orangnya pada ngerti semua mbak, dari awal program di adakan tahun 2009 pas rapat semua setuju untuk bikin kampung tematik dan berkomitmen sama sama. Makanya kalau ada kegiatan apapun yang di perintah dari Pak RW kita langsung kordinir tiap kader ke RT masing-masing. Enak enak kok orangnya disini ga ada yang rewel. Kalau yg satu gak bisa tetangga satunya yang bantu. Alhamdulillah setiap ada kegiatan apapun mesti rame bareng-bareng ngerjainnya.”.
Sejalan dengan pernyataan yang diberikan oleh Bu Dwi, responden selanjutnya juga berpendapat bahwa kerja sama atau partisipasi di RW 03 ini sudah cukup bagus dilihat dari pembagian job desk ketika kampung Go Green kedatangan tamu. Berikut penjelasan dari Bu Erna.
“kalau kerjasama itu kan biar rukun mbak. Alhamdulillah di sini guyup dan rukun. Kalau ada tamu dari luar ya saling bantuin. Contohnya kalau ada rombongan tamu yang berkunjung nanti warganya dibagi ada yang ngerjain kerajinan dari barang bekas, ada yang masak, ada yg ngurus untuk pertunjukan biasanya ada reog sama ibu PKK tampil. Kadang ya ada yang nampilin baju dari barang bekas, ada juga yang nampilin produk daru taman toga RT masing-masing. Pokoknya semua kebagian.”
Berdasarkan data dan dua pernyataan responden tersebut dapat dikatakan bahwa partisipasi yang tinggi dapat bermanfaat bagi perkembangan dan berlangsungnya program di RW 03 Kelurahan Sukun, Kecamatan Sukun. Sejalan dari hasil temuan pada indikator partisipasi (Rich, Rich, & Dizyee, 2018) menyatakan bahwa, partisipasi merupakan suatu faktor penting di dalam modal sosial yang sangat berpengaruh terhadap kelompok. Hal ini dikarenakan di dalam partisipasi semua anggota kelompok memiliki kewajiban untuk memberikan kontribusi kepada kesejahteraan kelompoknya.
5.2.3 Jaringan Masyarakat RW 03 dalam Program Urban Farming
Ide sentral dari modal sosial adalah bahwa jaringan-jaringan sosial merupakan suatu aset yang bernilai (Bulu et al., 2015) jaringan jaringan menyediakan suatu basis bagi kohesi sosial karena menyanggupkan orang untuk bekerjasama satu sama lain dan bukan hanya dengan orang yang mereka kenal
secara langsung agar saling menguntungkan. Dalam hal ini jaringan yang terjadi adalah antara individu di daerah tersebut. Jaringan yang dibahas dalam penelitian ini meliputi jaringan kerjasama yang dilakukan warga RW 03 dengan kampung tematik lainnya, interaksi antar warga dalam pelaksanaan program, dan kesedian warga apabila ditunjuksebagai pengganti ketua kader lingkungan. Pada tabel tiga belas akan dibahas sebaran nilai disetiap subindikator jaringan sosial. Berikut tabel tentang deskripsi jaringan sosial pada program Urban Farming di RW 03 Kelurahan Sukun, Kecamatan Sukun.
Tabel 15. Deskripsi Jaringan Sosial Warga Dalam Pelaksanaan Program Urban Farming
No. Sub Indikator Skor
Maks.
Skor yang Dicapai
Present
ase Kategori 1. Kebutuh untuk bergabung
dengan kader lingkungan
5 2,48 49,66 Sedang
2.
Bekerjasama dengan pihak lainuntuk mendapat bantuan untuk penguatan program
5 1,55 31 Rendah
3. mengikuti organisasi/ perkumpulan di RW 03
5 2,6 52 Tinggi
4.
Berinteraksi dengan warga terkait masalah dalam program
5 2,9 58 Tinggi
5.
Menjalin kemitraan dengan pihak lain agar mendapat bantuan bibit untuk pengembangan program
5 1,46 29,33 Rendah
6.
Mendapat informasi terkait pengadaan program Urban Farming
5 2,73 54,66 Tinggi
7.
Bertukar informasi dengan warga kampung go green lainnya yang lain terkait cara pengembangan program
5 2,01 40,33 Sedang
8.
Mencari tahu akan metode/ teknik menanam yang lebih baik untuk program toga ini
5 2,26 45,33 Sedang
9. Bergotongroyong dalam mengatasi masalah bersama
5 2,5 50 Sedang
10.
Mendapat pengalaman dan pengetahuan dari kader lingkungan
Tabel 15. (Lanjutan)
No. Sub Indikator Skor
Maks. Skor yang Dicapai Present ase Kategori 11.
Bersedia apabila ditunjuk sebagai pengurus dari kader lingkungan
5 1,91 38,33 Sedang
12.
Meluangkan waktu untuk berinteraksi dengan kader lingkungan atau perkumpulan RW
5 2,75 55 Tinggi
Jumlah 60 28,1 56,2 Tinggi
Sumber: Data primer yang diolah 2018
Perhitungan pengukuran tigkat partisipasi pada subindikator dalam program Urban Farming: K=5 I=R/K R= Xt-Xr I=48/5 R=60-12 I= 9,6 R=48 Tinggi = > 31,2 ( > 52,00 ) Sedang = 21,6 – 31,2 ( 36,00 – 52,00 ) Rendah = < 21,6 ( < 36,00 )
Berdasarkan penjabaran subindikator diatas dapat terlihat bahwa hasil setiap subindikator beragam. Terdapat nilai atau taraf yang rendah, sedang hingga tinggi. Taraf rendah terdapat pada subindikator poin ke dua dan lima yang memiliki nilai presentase 31,00 dan 29,33 . Taraf sedang terdapat pada subindikator pada poin ke 1,7,8,9, dan 11 yang memiliki presentase diantara 21,60 hingga 31,20. Sedangkan untuk taraf tinggi ada pada poin ke 3,4,5,10, dan 12 yang memiliki nilai presentase di atas 31,20.
Poin ke dua dan ke lima adalah subindikator jaringan sosial tentang menjalin kerjasama dan kemitraan dengan kelompok atau suatu instansi lain terkait pengembangan program Urban Farming di RW 03 Kelurahan Sukun, Kecamatan
Sukun, Kota Malang. Penyebab rendahnya nilai subindikator dari kedua poin tersebut karena mayoritas warga RW 03 tidak pernah melakukan kerjasama ataupun kemitraan dengan komunitas lain atau instansi-instansi lainnya. Hal ini juga dikemukakan oleh Ibu Sumini salah satu responden yang menjelaskan bahwa tidak adanya kerjasama dengan pihak luar terkait dengan pengembangan program. Berikut ulasan Bu Sumini.
“Kalau kerjasama sama kampung lain gak ada mbak, kan disini kita swadaya. Apa-apa ya iuran beli, kalau ndak gitu uang dari hasil menang lomba dibelikan keperluan program. Kalau setau saya sih gak ada mbak, dan saya juga gak pernah kerjasama atau bermitra dengan kampung tematik lainnya.”
Merujuk pada data yang ada dan ulasan yang diberikan responden tentang subindikator jaringan sosial pada poin ke dua dan lima, maka dapat diketahui penyebab dari rendahnya nilai presentase poin kedua poin tersebut karena sebagian besar responden tidak melakukan kerjasama ataupun bermitra dengan komunitas luar. Namun beberapa stakeholders melakukan kerjasama atau bermitra dengan komunitas luar untuk pengembangan program.
5.2.4 Norma Sosial Masyarakat RW 03 dalam Program Urban Farming
Manusia sebagai sumber daya sosial yang terakhir, dipahami sebagai atauran main bersama yang menuntun perilaku seseorang (Soekanto, 2013). Norma lahir karena adanya interaksi sosial dalam sesuatu kelompok individu. Kelompok individu, atau masyarakat ini membutuhkan atauran main tata pergaulan yang mengatur mereka untuk mencapai suasana yang diharapkan. Untuk mencapainya maka dibentuklah norma sebagai pedoman yang dapat digunakan.
Norma sosial yang dibahas dalam penelitian ini mencakup kegiatan kegiatan yang biasa dilakukan di Kampung Go Green. Kegiatan tersebut dapat berupa perayaan HUT RI, Perayaan tahun baru Islam atau Suroan, dan kegiatan membagi hasil program kepada warga yang kurang mampu. Pada tabel empat belas akan dijelaskan nilai subindikator dari norma sosial. Berikut tabel deskripsi norma sosial warga pada program Urban Farming di RW 03 Kelurahan Sukun, Kecamatan Sukun.
Tabel 16. Deskripsi Norma Sosial Masyarakat Dalam Program Urban Farming
No Sub Indikator Skor
Maks.
Skor yang dicapai
Present
ase Kategori 1. Melaksanakan acara HUT RI
dan acara prosesi tasyakuran. 5 4,6 92 Tinggi 2. Memberikan sebagian hasil
program kepada yang
membutuhkan sebagai wujud rasa syukur.
5 4,3 86 Tinggi
3. Melakukan kebiasaan
merayakan malam satu suro. 5 3,75 75 Tinggi 4. Melaksanakan saran yang
disampaikan oleh seluruh anggota kader lingkungan di dalam forum.
5 3,55 71 Tinggi
5. Menanam toga dengan cara yang baik dan benar menurut
pedoman vertikultur. 5 3,85 77 Tinggi
6. Menegur warga lain apabila tidak pernah hadir dalam
perawatan taman toga. 5 3,57 71,5 Tinggi
7. Mengembalikan alat tanam milik RT lain dengan tepat
waktu. 5 4,3 86 Tinggi
8. Membayar uang iuran untuk
keperluan RW secara teratur. 5 4,85 97 Tinggi
Jumlah 40 32,77 65,55 Tinggi
Sumber: Data primer yang diolah 2018
Perhitungan norma sosial pada subindikator dalam program Urban Farming:
K=5 I=R/K R= Xt-Xr I=32/5 R=40-8 I= 6,4 R=32 Tinggi = > 20,08 ( > 50,20) Sedang = 14,4 – 20,08 ( 36,00 – 50,20) Rendah = < 14,4 ( < 36,00)
Berdasarkan tabel 16 dapat diketahui bahwa nilai setiap subindikator norma sosial memiliki nilai atau taraf yang tinggi dengan presentase lebih dari 50,20. Norma sosial akan sangat berperan dalam mengontrol bentuk-bentuk perilaku yang tumbuh dalam masyarakat. Peran norma sosial adalah kepatuhan warga di dalam memenuhi aturan norma atau adat yang berlaku.
Hasil dari tabel deskripsi norma sosial dapat menjadi cerminan bahwa warga RW 03 sudah sangat patuh terhadap kebiasaan atau adat yang berlaku di kampung go green dan telah melakukan semua kegiatan yang dihimbau kepada warga oleh ketua RW. Masyarakat telah menyadari pentingnya sebuah tatanan nilai dan norma untuk mengatur pola perilaku mereka, sehingga dimensi modal sosial ini akan tumbuh dan menguat dengan sendirinya.
Berikut ini merupakan hasil wawancara responden mengenai indikator norma sosial yang berlaku di RW 03 Kelurahan Sukun Kecamatan Sukun Kota Malang dalam program Urban Farming. Berikut pernyataan dari Pak Agus.
“.kalau disini sih gak ada ya mbak aturan tertulis gitu, Cuma ya orangnya harus peka saja. Mengandalkan kepekaan masing-masing lah. Waktunya ngerawat toga ya dirawat, waktunya kumpul suroan ya ikut kumpul. Gak ada disini sanki ataupun aturan yang ditulis secara langsung. Tapi alhamdulillahnya semua guyup rukun dan selalu mentaati kegiatan yang ada.”
Uraian data numerik diatas, menunjukkan presentase angka yang cukup tinggi dan apabila angka ini terus meningkat di kemudian hari, bukan tidak mungkin seluruh perangkat kerja-sama yang telah terbangun sedemikan rupa akan hilang dengan sendirinya dan bisa saja berpotensi terjadi kerusakan modal sosial yang ada di dalam masyarakat RW 03 Kelurahan Sukun Kecamatan Sukun. Kerusakan modal sosial dipengaruhi oleh norma (aturan) dan nilai yang terkadang tidak mampu mngintervensi keputusan berperilaku para anggotanya karena secara individual juga bisa menentukan keberadaan modal sosial.
5.3 Keberhasilan Program Urban Farming dalam Meningkatkan Kesadaran