Perdagangan Sektor Elektronika Indonesia Produksi dan Pasar
Sektor elektronika merupakan sektor industri yang potensial dan merupakan salah satu industri prioritas yang dikembangkan oleh pemerintah Indonesia. Sektor ini merupakan penyumbang ekspor paling tinggi dibandingkan dengan sektor industri manufaktur lainnya yang mencapai 15 persen dari total ekspor Indonesia pada tahun 2011. Industri elektronika memegang peranan penting dalam menggerakkan perubahan industri secara global karena sangat berkaitan dengan teknologi dan inovasi. Perubahan konsumsi masyarakat Indonesia dalam menghadapi era globalisasi juga menyebabkan pasar elektronika di Indonesia semakin berkembang. Tahun 2007 pasar elektronika Indonesia hanya sebesar 6.670 juta US$, sedangkan pada tahun 2011 pasar elektronika menunjukkan nilai 13.164 juta US$. Pasar elektronika Indonesia mengalami peningkatan sebesar 97,36 persen sejak tahun 2007. Nilai produksi komoditi elektronika Indonesia menunjukkan nilai yang fluktuatif selama tahun 2007 sampai dengan 2011. Pada tahun 2009 produksi mengalami penurunan kemudian meningkat lagi pada tahun 2011. Pada tahun 2007 dan 2009, produksi elektronika masih berada pada diatas nilai pasar elektronika Indonesia. Namun, tahun 2011, ketika terjadi peningkatan pasar yang cukup signifikan sebesar 42 persen, produksi komoditi elektronika hanya mampu tumbuh sebesar 14 persen. Produksi elektronika Indonesia hanya mampu berperan 6 persen terhadap produksi elektronika ASEAN dan 1 persen terhadap produksi dunia.
Tabel 4. Produksi dan pasar elektronika Indonesia tahun 2007, 2009, dan 2011 (juta US$) Tahun Produksi Pasar IDN ASEAN share of ASEAN (%) World Share of World (%) IDN ASEAN share of ASEAN (%) World Share of World (%) 2007 9775 164084 5.96 858192 1.14 6670 83884 5.96 850643 1.14 2009 9510 143644 6.62 771659 1.23 9269 80217 6.62 802983 1.23 2011 10862 178045 6.1 882483 1.23 13164 103602 6.1 957803 1.23 Sumber: Reed Electronics Research (2009, 2012, 2013)
Besarnya pasar elektronika di Indonesia tahun 2011 disebabkan oleh meningkatnya permintaan masyarakat terhadap barang elektronika. Perubahan teknologi yang sangat cepat mengubah gaya hidup masyarakat Indonesia ke arah yang lebih modern dengan menggunakan produk-produk canggih. Masuknya produk elektronika dari negara lain seperti Cina dengan harga yang lebih murah juga merupakan salah satu penyebab meningkatnya permintaan. Keadaan ini merupakan tantangan bagi Indonesia agar dapat meningkatkan produktifitas industri elektronika untuk menghasilkan produk-produk yang memiliki daya saing tinggi. Sehingga mampu bersaing dengan produk elektronika negara lain.
Rendahnya produksi sektor elektronika merupakan masalah yang sudah dihadapi Indonesia sejak tahun 1980-an. Meskipun Indonesia sudah menerapkan industri berorientasi ekspor, namun industri elektronika masih didominasi oleh perusahaan asal Jepang dan Korea (Santiago 2007). Samadikun (1985) mengemukakan bahwa produksi yang rendah tersebut disebabkan dua hal. Pertama, kurangnya signifikannya program pemerintah yang mendukung ekspor dan kedua, adalah rendahnya daya beli konsumen. Seiring dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang terus meningkat pada sepuluh tahun terakhir, permasalahan daya beli konsumen mulai dapat diatasi. Konsumsi masyarakat Indonesia terhadap produk elektronika semakin meningkat. Namun permasalahan penting yang pertama yaitu kurang signifikannya program yang berorientasi ekspor masih terjadi. Rendahnya produksi menyebabkan kurangnya insentif bagi perusahaan untuk melakukan pengembangan teknologi dan produk sehingga pada akhirnya berdampak pada pertumbuhan industri yang stagnan.
Produksi Komoditi Potensial
Sektor elektronika dapat dibagi menjadi delapan kelompok komoditi sesuai dengan klasifikasi yang diterbitkan oleh Reed Elektronics Research. Delapan kelompok komoditi tersebut meliputi Electronic Data Processing (EDP), Office Equipment, Control and Instrumentation, Medical and Industrial Equipment, Radar Communications and Radar, Telecommunications, Consumer Products, dan Components. Produksi elektronika Indonesia paling besar pada komoditi consumer product, component, dan elektronic data processing. Consumer Product Indonesia dapat memberikan share yang cukup tinggi di ASEAN yaitu sebesar 23.88 persen dan share terhadap produksi dunia sebesar 8,07 persen. Produksi consumer product didorong oleh peningkatan permintaan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri seiring dengan meningkatnya pendapatan nasional. Namun industri elektronika yang memproduksi barang konsumen ini masih banyak menggunakan bahan baku yang berasal dari impor (KADIN 2010).
Produksi komoditi consumer product tahun 2011 menunjukkan peningkatan yang signifikan mencapai 56 persen sejak tahun 2007. Jumlah produksi elektronika pada komoditi ini mampu melampaui produksi komoditi component yang sebelumnya menjadi unggulan elektronika Indonesia seperti terlihat pada Tabel 5. Peningkatan produksi produk elektronika Indonesia didorong oleh peningkatan permintaan domestik terhadap produk produk elektronika seperti televisi layar datar, AC, mesin cuci, dan lemari pendingin. Pada tahun 2010 terjadi kenaikan signifikan pada penjualan TV (5 persen), AC (33 persen), Lemari pendingin (22 persen), cuci (21 persen) dari tahun sebelumnya (Keet 2011). Peningkatan pendapatan nasional menyebabkan peningkatan peningkatan daya beli masyarakat pada produk non makanan termasuk elektronika.
Adanya pembatalan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 39 Tahun 2010 tentang Ketentuan Impor Barang Jadi oleh Produsen oleh Mahkamah Agung yang menyebabkan dilarangnya impor produk elektronik oleh produsen juga mempengaruhi kinerja industri consumenr product. Selama ini produsen barang elektronik multinasional banyak mengimpor barang jadi dari
pabriknya di negara lain untuk di pasarkan di Indonesia (ICN 2011). Kondisi ini seharusnya dijadikan momentum untuk berkembangnya perusahaan lokal.
Tabel 5. Nilai produksi, persentase produksi, kontribusi produksi terhadap produksi ASEAN, dan kontribusi produksi Indonesia terhadap produksi dunia berdasarkan jenis komoditi tahun 2011 (juta US $)
Jenis Komoditi IDN Share
of total ASEAN share of ASEAN (%) WORLD share of World (%) Consumer Product 4143 38.14 17347 23.88 51347 8.07 Components 3693 34 92006 4.01 352036 1.05
Electronic Data Processing 1650 15.19 47895 3.45 166397 0.99 Radar Comunications and
Radar 630 5.8 7969 7.91 163515 0.39
Telecommunication 290 2.67 3900 7.44 25025 1.16 Medical and Industrial
Equipment 240 2.21 1615 14.86 50245 0.48
Control and Instrumentation 150 1.38 6753 2.22 68778 0.22 Office Equipment 66 0.61 560 11.79 5139 1.28
Total 10862 100 178045 6.1 882483 1.23
Sumber: Electronic yearbook 2013
Perkembangan yang baik pada industri consumer product perlu menjadi perhatian. Jumlah penduduk Indonesia yang besar merupakan pasar potensial untuk consumer product. Hal ini harus dimanfaatkan oleh Indonesia untuk terus meningkatkan produksi barang elektronika yang memiliki daya saing tinggi. Penyediaan input bahan baku yang murah menjadi hal yang penting untuk meningkatkan daya saing. Masih banyaknya input yang diperoleh dari impor harus diwaspadai karena sangat tergantung oleh kestabilan nilai tukar mata uang Indonesia.
Sumber: Reed Electronics Research (2009, 2012, 2013)
Gambar 9. Nilai produksi berdasarkan jenis produk tahun 2007, 2009, dan 2011 (juta US$) 0 500 1000 1500 2000 2500 3000 3500 4000 4500 N il ai p ro d u k si (ju ta US $) Jenis komoditi 2007 2009 2011
Pasar Komoditi Potensial
Perdagangan komoditi elektronika paling besar di Indonesia adalah component yang ditunjukkan dengan nilai pasar sebesar 3900 juta US$. Tingginya perdagangan pada komoditi ini karena component merupakan input untuk produksi barang elektronika lainnya. Peningkatan pasar domestik pada komoditi consumer product menyebabkan peningkatan investasi di perusahaan-perusahaan penghasil komoditi ini. Pada beberapa tahun terakhir beberapa perusahaan multinasional yang berasal dari Korea dan Jepang meningkatkan investasi di perusahaannya.
Di Indonesia, pasar component mencapai 29.63 persen dari total pasar elektronika namun hanya mampu berkontribusi sebesar 7.67 persen pasar ASEAN lebih kecil dibandingkan komoditi lainnya seperti yang terlihat pada Tabel 6. Hal ini mengindikasikan bahwa penggunaan component untuk produksi dalam negeri masih lebih kecil dibandingkan dengan negara lain di ASEAN. Terbukti bahwa produksi elektronika Indonesia merupakan yang paling kecil dibandingkan empat negara ASEAN lainnya yaitu Singapura, Malaysia, Thailand dan Filipina.
Tabel 6. Nilai pasar, persentase pasar, kontribusi pasar terhadap pasar ASEAN, dan kontribusi pasar Indonesia terhadap pasar dunia berdasarkan jenis komoditi tahun 2011 (juta US $)
Jenis Komoditi Nilai Share
of total ASEAN share of ASEAN (%) world share of world (%) Components 3900 29.63 50834 7.67 261221 1.49 Radar Comunications and Radar 3724 28.29 12742 29.23 194337 1.92 Electronic Data Processing 2469 18.76 22513 10.97 252282 0.98 Consumer Product 1391 10.57 5590 24.88 83194 1.67 Control and Instrumentation 766 5.82 6739 11.37 68122 1.12 Medical and Industrial Equipment 425 3.23 1968 21.6 45094 0.94 Telecommunication 394 2.99 2679 14.71 46761 0.84 Office Equipment 95 0.72 574 16.55 6792 1.4
Total 13164 100 103602 12.71 957803 1.37
Sumber : Electronic yearbook 2012
Perkembangan pasar elektronika tahun 2007 sampai dengan 2011 berdasarkan jenis komoditi dapat dilihat pada Gambar 10 Seluruh komoditi menunjukkan tren yang meningkat. Peningkatan pasar elektronik tertinggi pada tiga komoditi yaitu EDP, Radar Comunication, dan Component. Peningkatan pasar elektronika yang cukup signifikan ini tidak hanya memberikan potensi yang besar namun juga membawa kekhawatiran terhadap penguasaan pasar dalam negeri. Keet (2011) melihat bahwa pangsa pasar produk lokal masih lebih kecil dibandingkan produk impor, terutama produk selundupan dan non-standar. Pada 2010 pangsa pasar produk lokal hanya berkisar 40% dengan nilai Rp 12,7 triliun dari total omset domestik yang menembus Rp 31,8 triliun. Sisanya dikuasai produk impor dan selundupan serta produk non-standar dari Cina dengan harga lebih murah.
Sumber: Reed Electronics Research (2013)
Gambar 10. Nilai pasar elektronika berdasarkan jenis produk tahun 2007, 2009, dan 2011 (juta US$)
Peta Perdagangan Elektronika Indonesia di ASEAN
Pada perdagangan regional di ASEAN, sektor elektronika juga merupakan sektor prioritas perdagangan dan dibentuk untuk menjadi singgle market and production diantara negara-negara anggota ASEAN (Parson et al. 2007). Perdagangan komoditi elektronika di ASEAN terutama pada lima negara anggota ASEAN yaitu Indonesia, Malaysia, Singapura, Filipina, dan Thailand semakin meningkat dari tahun ke tahun. Tahun 2007 pasar elektronika ASEAN sebesar 83.884 juta US$ dan meningkat menjadi 103.602 juta US$ pada tahun 2011. Indonesia mampu menciptakan pasar 13 persen dari total pasar elektronika di lima negara tersebut pada tahun 2011, namun kontribusinya masih rendah dibandingkan negara Malaysia (29 persen), Singapura (30 persen), dan Thailand (20 persen). Produksi elektronika Indonesia pada tahun 2011 paling kecil diantara negara ASEAN lainnya. Bandingkan dengan Malaysia yang memiliki pasar sebesar 29 persen namun negara tersebut dapat memproduksi dengan kontribusi yang lebih tinggi.
Sumber : Reed Electronics Research (2013)
Gambar 11. Persentase produksi dan pasar elektronika negara-negara ASEAN tahun 2011
Indonesia perlu menyadari bahwa jika produksi elektronikanya tidak ditingkatkan maka Indonesia hanya akan menjadi pasar komoditi perdagangan
0 500 1000 1500 2000 2500 3000 3500 4000 4500 N il ai Pas ar ( ju ta US $) Jenis Komoditi 2007 2009 2011 IDN 6% MAL 35% PHI 8% SIN 34% THA 17% Produksi IDN 13% MAL 29% PHI 7% SIN 30% THA 21% Market
elektronika tanpa dapat mengambil keuntungan dari perdagangan tersebut. Meskipun berbagai strategi untuk memperluas pangsa pasar elektronika sudah dilakukan oleh pemerintah namun masih banyak kendala yang dihadapi terutama dalam hal daya saing yang rendah dan kualitas yang masih kalah dari negara lain seperti Singapura dan Malaysia. Rendahnya daya saing produk elektronika Indonesia disebabkan oleh ketergantungan yang tinggi terhadap bahan baku impor. Kurangnya supplier input dalam negeri menyebabkan biaya input impor tinggi (KADIN 2010).
Produksi elektronika Indonesia jauh tertinggal dari negara-negara lain di ASEAN pada hampir semua komoditi. Singapura dan Malaysia menduduki peringkat paling atas diantara negara-negara ASEAN, sedangkan Indonesia berada di urutan terakhir. Indonesia mampu melebihi produksi Singapura pada komoditi consumer product namun masih kalah dibandingkan produksi Malaysia pada komoditi yang sama. Berdasarkan data pada Tabel 7, single market and product yang akan dibentuk di kawasan ASEAN akan memberikan keuntungan yang besar kepada Singapura dan Malaysia. Indonesia memiliki potensi pada produksi consumer product untuk memenuhi pasar dalam negeri. Pengembangan industri yang terarah dan pemanfaatan kawasan-kawasan industri secara optimal dapat mendorong produktifitas industri elektronika.
Tabel 7. Produksi elektronika negara-negara ASEAN tahun 2011
Kelompok Komoditi IDN MAL PHI SIN THAI Total Electronic Data Processing 1650 13954 5800 12778 13713 47895
Office Equipment 66 203 25 198 68 560
Control and Instrumentation 150 2778 180 3254 391 6753 Medical and Industrial Equipment 240 495 65 587 228 1615 Radar Comunications and Radar 630 1699 630 3968 1042 7969 Telecommunication 290 1675 65 583 1287 3900 Consumer Product 4143 8088 283 430 4403 17347 Components 3693 32792 6671 39190 9660 92006
Total 10862 61684 13719 60987 30793 178045
Sumber: Reed Electronics Research (2013)
Perdagangan sektor elektronika Indonesia pada tahun 2011 hanya mampu berada pada peringkat keempat (lihat Tabel 8). Singapura, Malaysia dan Thailand memiliki skala perdagangan yang jauh lebih besar terutama pada komoditi component. Pasar consumer product di Indonesia cukup besar setelah Singapura dan Thailand. Hal ini disebabkan permintaan produk elektronika dalam bentuk televisi dan komputer meningkat. Jumlah penduduk Indonesia yang paling besar dibandingkan negara lainnya di ASEAN merupakan sasaran pasar komoditi consumer product. Malaysia mampu berproduksi sebesar 8088 juta US $ untuk memenuhi pasar negara lain termasuk Indonesia.
Permintaan component di Indonesia relatif sedikit dibandingkan dengan negara lainnya. Hal ini mengindikasikan penggunaan component product untuk industri elektronika masih sedikit akibat kurang berkembangnya indutri elektronika di Indonesia. Perusahaan elektronika multinasional lebih banyak mengimpor barang jadi dari perusahaan mereka di negara lain untuk dipasarkan di Indonesia dibandingkan dengan memproduksi barang di dalam negeri.
Tabel 8. Pasar elektronika negara-negara ASEAN tahun 2011
Kelompok Komoditi IDN MAL PHI SIN THAI Total Electronic Data Processing 2469 3230 1389 10629 4795 22513
Office Equipment 95 80 38 258 101 574
Control and Instrumentation 766 1547 357 1777 2289 6739 Medical and Industrial Equipment 425 425 117 406 591 1968 Radar Comunications and Radar 3724 1997 843 3075 3098 12742 Telecommunication 394 389 470 582 838 2679 Consumer Product 1391 895 444 1407 1446 5590 Components 3900 21544 3678 13173 8531 50834
Total 13164 30106 7336 31306 21690 103602
Sumber: Reed Electronics Research (2013)
Kinerja Perdagangan Indonesia terhadap ASEAN
Kinerja perdagangan Indonesia pada sektor komoditi elektronika menunjukkan perkembangan yang cukup baik berdasarkan data ekspor impor tahun 2009 dan 2011. Pada tahun 2009 neraca perdagangan Indonesia ke ASEAN tercatat negatif pada sebagian besar kelompok komoditi meskipun secara keseluruhan perdagangan elektronika menunjukkan surplus sebesar 216 juta US$. Neraca perdagangan Indonesia terhadap negara-negara di ASEAN pada tahun 2011 menunjukkan surplus perdagangan sebesar 505 juta US$. Terjadi peningkatan yang cukup besar antara tahun 2009 dan 2011. Kondisi neraca perdagangan membaik pada komoditi EDP, office equipment, radar comunication, telecomunication, dan consumers product. Neraca perdagangan Indonesia memburuk pada komoditi control and instrumentation serta medical and industrial equipment.
Ekspor dan impor produk elektronika Indonesia terbesar adalah component sebesar 2.226 juta US $ dan 2.218 juta US $. Namun jika dilihat dari kinerja ekspor dan impornya. Ekspor component meningkat sebesar 33 persen, sedangkan impornya meningkat sebesar 80 persen dari tahun 2009 sampai dengan 2011. Meskipun neraca perdagangan component masih menunjukkan nilai yang positif namun hal ini harus menjadi perhatian serius bagi pemerintah. Component merupakan input bahan baku bagi industri elektronika tidak terkecuali industri consumer product. Penggunaan input bahan baku ini memberikan porsi terbesar dibandingkan input yang lainnya. Produksi consumer product di Indonesia masih banyak menggunakan bahan baku component yang diimpor dari negara lain. Pemerintah perlu mendorong perusahaan dalam negeri untuk meningkatkan kapasitas produksi component yang berdaya saing sehingga perusahaan industri pengguna bahan baku component tidak perlu mengimpor dari negara lain. Namun demikian, kinerja perdagangan Indonesia yang masih positif pada komoditi ini dapat menjadi peluang bagi Indonesia agar dapat berkontribusi besar dalam integrasi ASEAN dan memperoleh keuntungan dalam perdagangan.
Ekspor komoditi radar comunication, telecomunication, dan consumer product menunjukkan peningkatan yang cukup tajam melebihi 50 persen antara tahun 2009 sampai dengan 2011. Kinerja ekspor yang baik pada komoditi ini menunjukkan peluang Indonesia untuk melakukan penetrasi pasar internasional.
Selama ini produksi elektronika terutama telekomunication dan consumer product masih berorientasi pada pemenuhan kebutuhan pasar domestik. Jika supply input bahan baku salah satunya component berasal dari perusahaan lokal dan berdaya saing tinggi, maka Indonesia memiliki peluang yang besar untuk memperoleh keuntungan dengan adanya ASEAN Economic Comunity pada tahun 2015. Indonesia bisa berperan serta dalam interasi perdagangan elektronika.
Tabel 9. Kinerja perdagangan Indonesia terhadap ASEAN (juta US $)
Jenis Komoditi 2009 2011 Ekspor Impor Neraca Perda- gangan Ekspor Impor Neraca Perda- gangan Electronic Data Processing 655 801 -146 655 578 78
Office Equipment 114 172 -58 124 85 39
Control and Instrumentation 143 84 59 100 182 -82
Medical and Industrial Equipment 219 202 17 212 370 -159
Radar Comunications and Radar 354 361 -8 635 378 257
Telecommunication 336 380 -44 526 349 177
Consumer Product 215 293 -78 472 283 189
Components 1667 1193 474 2226 2219 8
Total 3703 3486 217 4950 4444 506
Sumber : UN COMTRADE, diolah
Indonesia perlu menekankan pengembangan industri pada komoditi component karena komoditi ini adalah komoditi yang penting dalam rantai supply (supply chain) industri elektronika. Arus perdagangan component di kawasan ASEAN termasuk Indonesia memang cukup besar dan mampu berkontribusi terhadap perdagangan elektronik dunia. Produksi component di ASEAN dapat diintegrasikan menjadi single market dibandingkan dengan jenis produk lainnya (Parson et al. 2007).
Tabel 10. Nilai ekspor tertinggi Indonesia terhadap ASEAN tahun 2011
Peringkat SITC Kelompok komoditi Komoditi Nilai 1 7649 Components Telecomms parts/access. 450524 2 7764 Components Electron integ circuits 428133 3 7599 Electronic Data Processing Office equip parts nes 263973
4 7611 Components Colour tv receivers 249750
5 7725 Components Elec swithing etc <1000v 217969 6 7786 Components Electrical capacitors 200266 7 7526 Electronic Data Processing Adp peripheral units 180650
8 7722 Components Printed circuits 167013
9 7712 Components Elect power eq nes/parts 157201 10 7529 Electronic Data Processing Adp equipment nes 130613 Sumber: WITS
Ekpor elektronika Indonesia sebagian besar berupa component product dengan ekspor tertinggi untuk komponen alat telekomunikasi dan electronic integrity circuits dengan nilai perdagangan sebesar 450524 juta US $ dan 428133
US $ pada tahun 2011. Ekspor lainnya berasal dari komponen elektronika untuk alat-alat listrik, televisi, dan komputer seperti terlihat pada Tabel 11
Tabel 11. Nilai impor terbesar Indonesia terhadap ASEAN tahun 2011
Peringkat SITC Kelompok komoditi Komoditi Nilai
1 7764 Components Electron integ circuits 656725 2 7649 Components Telecomms parts/access. 309625 3 7725 Components Elec swithing etc <1000v 276518 4 7788
Medical and Industrial
Equipment Electrical equipment nes 265460
5 7722 Components Printed circuits 217667
6 7523 Electronic Data Processing Digital processing units 212782
7 7786 Components Electrical capacitors 168539
9 7611 Components Colour tv receivers 143643
10 7763 Components Diodes/transistors/etc 134144 Sumber: WITS
Impor elektronika Indonesia terbesar adalah electronic integrity circuit sebesar 656725 juta US $ yang merupakan komponen untuk pembuatan produk elektronika seperti telekomunikasi, komputer, dan lain lain. Komponen lainnya berupa komponen untuk telekomunikasi sebesar 309625 juta US $. Alat-alat medis, komponen printer, listrik, dan televisi juga banyak diimpor dari negara ASEAN.
Berdasarkan negara tujuan ekspor, perdagangan sektor elektronika Indonesia paling banyak ke negara Singapura. Ekspor Indonesia ke Singapura paling besar pada kelompok komoditi component dan elektronic data processsing. Indonesia juga banyak mengekspor komoditi radar communication, telecomunications, dan component ke Malaysia dan Filipina meskipun nilainya masih lebih kecil dibandingkan Singapura. Komoditi component merupakan produk elektronika yang penting untuk menunjang produksi elektronika lainnya. Kapasitas produksi Indonesia pada komoditi ini masih dapat ditingkatkan mengingat besarnya potensi ekspor yang dimiliki Indonesia. Ekspor terbesar produk elektronika disumbang oleh perusahaan-perusahaan multinasional dari Jepang dan Korea seperti Panasonic, Sanyo, LG, Samsung, Toshiba, Sharp, dan JVC (Kemenperin 2011).
Perdagangan elektronika Indonesia sangat tergantung pada Singapura. Adanya kerjasama antara Singapura dan wilayah perbatasan Indonesia dalam bentuk kawasan Free Trade Zone Batam Bintan Karimun (FTZ BBK) berdampak pada peningkatan arus ekspor komoditi elektronik ke Singapura. Tercatat ada sebanyak 1817 perusahaan yang bergerak di sektor elektronika di kawasan FTZ BBK pada tahun 2009 dan merupakan sektor paling banyak di kawasan FTZ BBK dibandingkan sektor lainnya (Kam et al. 2009)
Sumber: UN COMTRADE, diolah
Gambar 12. Ekspor delapan komoditi elektronika Indonesia tahun 2011
Kerjasama FTZ dituangkan dalam Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2007 tentang Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Pulau Batam, sebagian Pulau Bintan, dan sebagian Pulau Karimun (Zulkifli 2012). Kerjasama FTZ memberikan fasilitas khusus dengan dilonggarkannya pemeriksaan bea cukai, pajak, dan imigrasi terhadap produk yang keluar dan masuk dari pelabuhan tertentu di kawasan tersebut diantaranya pelabuhan Batu Ampar, Kijang, dan Tanjung pinang.
Pada tahun 2009, status Batam dialihkan dari FTZ menjadi Special Economic Zone (SEZ) sebagai strategi untuk menarik investasi dan meningkatkan daya saing seperti yang telah berhasil dilakukan oleh Cina-Singapura. Berdasarkan kesepakatan diplomasi antara Indonesia dan Singapura maka perubahan status tersebut ditandai dengan dikeluarkannya Undang-undang No 39 tahun 2009 mengenai pembentukan SEZ (Arafat 2010). Daya saing Batam dapat diperoleh melalui beberapa insentif yang ditawarkan, yaitu tidak ada pajak ekspor/impor untuk mesin, peralatan, suku cadang, dan bahan baku; tidak ada PPN untuk semua industri pengolahan untuk tujuan ekspor; fasilitas GSP (generalized system of preferences) dengan 33 negara donor, dan juga tarif preperensial yang efektif berlaku untuk negara-negara ASEAN; dan Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda dengan 56 negara (Diplomasi 2012).
Tanggal 9 Jenuari 2012, pemerintah mengeluarkan PP No 10 tahun 2012 tentang FTZ BBK yang mengatur tentang perizinan. Peraturan ini mencakup penghapusan "masterlist", tidak ada lagi pengajuan izin impor ke Badan Pengusahaan (BP) Batam untuk barang-barang industri, dan tidak ada pemeriksaan fisik Bea dan Cukai (BC). Sehingga pembangunan wilayah Bintan dan Karimun dapat dioptimalkan.
Tahun 2013, BP Batam sudah membuat terobosan baru di bidang perizinan dengan akan membuat "Batam Single Window Permit" atau yang disingkat dengan BSWP. BSWP merupakan suatu portal perizinan yang akan mengintegrasikan semua perizinan yang ada di Batam, baik perizinan dari BP
0 200000 400000 600000 800000 1000000 1200000 1400000 1600000 1800000 Ni lai E kspo r (US $) Jenis Komoditi
Batam, Pemko Batam, Instansi pusat seperti Bea Cukai, Kantor Pajak dan Emigrasi serta perizinan yang dikeluarkan oleh Provinsi KEPRI. Wilayah provinsi Kepulauan Riau juga mendorong peningkatan investasi industri elektronika. Pabrik elektronika sudah beroperasi di kawasan industri Batam dan kawasan industri Lobam di Bintan khususnya pada komoditi component.
Letak Batam yang dekat dengan Singapura dan Iskandar Development Region (IDR) di Malaysia memungkinkan bagi investor untuk menjadi bagian dari Growth Triangle (Diplomasi 2012). Indonesia-Malaysia-Singapore Growth Triangle (IMS-GT) terbentuk untuk meningkatkan pertumbuhan di tiga kawasan yaitu Singapura, Johor, dan Riau (SIJORI). Kerjasama ini didasari oleh semakin terbatasnya tenaga kerja dan lahan yang tersedia di Singapura sementara kapasitas ekonomi negara tersebut semakin besar. Investor dari Singapura diharapkan dapat menanamkan modalnya untuk membangun industri di kawasan Johor maupun Riau khususnya Batam.
Sumber: BPS, diolah
Gambar 13. Jumlah perusahaan industri besar sedang (IBS) component di Provinsi Kep. Riau tahun 2004 – 2010
Kerjasama dalam bentuk FTZ BBK akan mendukung terciptanya integrasi produksi dan perdagangan sektor elektronika. Namun pada pelaksanaannya, FTZ BBK belum mampu mengembangkan kawasan ini menjadi kawasan andalan industri. Lobam yang merupakan kawasan industri di Pulau Bintan pernah mengalami posisi puncak pada tahun 2003 dengan 34 inverstor dan 15.000 tenaga kerja. Namun, pada tahun 2008 hanya ada 22 perusahaan yang mampu bertahan (BPS Kab. Bintan 2008). Perkembangan jumlah perusahaan industri besar sedang (IBS) yang bergerak pada komoditi component di Provinsi Kep. Riau menunjukkan penurunan sejak diberlakukannya FTZ sampai dengan saat ini seperti terlihat pada Gambar 13 Jumlah perusahaan pada tahun 2007 mencapai 67