BAB IV ANALISA DATA DAN INTERPRETASI
A.3. Analisa Data
A.3.3. Gambaran kehidupan partisipan setelah
pasca-operasi. Setelah itu, partisipan memberi kabar kepada keluarga dan menyatakan bahwa ia telah menjadi wanita yang seutuhnya. Saat itu, ia juga menanyakan apakah keluarga dapat menerima dirinya yang telah berubah identitas, jika keluarga tidak menerima ia bertekad untuk menetap dan menjadi warga negara Singapura saja.
“3 hari setelah operasi bunda udah enakan badannya, bunda langsung balik ke singapur dan nelfon keluarga”
(P.W1.b.553-559.h.19)
“abis itu ada waktu bunda telfon keluarga, terutama sama mama, bilangkan bahwasanya bunda gini-gini..
(P.W2.b.163-168.h.6)
“disitu bunda bilang, kalo mama gak terima, awak gausah pulang ke medan, mama nangis disitu..”
(P.W2.b.175-179.h.7)
Menanggapi perubahan yang terjadi pada anak bungsunya sempat membuat ibu pertisipan kaget dan sedih. Namun dengan berat hati ia menerima keputusan anaknya karena ibu partisipan telah memahami dan menyadari bahwa hal tersebut merupakan ideal-self yang didambakan partisipan sejak ia kecil. Bentuk penerimaan yang diberikan ibunya saat itu adalah dengan berpesan jika partisipan sudah berubah menjadi wanita, maka berperilakulah sebagaimana seorang wanita berperilaku, bukan seperti kebanyakan transgender lainnya. Dan ibu partisipan memintanya untuk kembali pulang ke Medan.
“memang disitu mama kaget dia bilang ya semua berpulang kepadamulah nak, untungnya keluarga bunda open minded , mereka terima dengan tangan terbuka dan berpesan ingat Tuhan dan jadilah wanita seutuhnya.” (P.W1.b.559-570.h.19)
“Namanya orangtua perempuan, sedih itu ada..tapikan mereka bisa menerima, karena menganggap mungkin inilah takdirnya”
(P.W2.b.169-174.h.7)
Begitu pula penerimaan dari anggota keluarga yang lain. Tidak ada yang menunjukkan reaksi penolakan atas identitas baru partisipan. Terutama saudara kandung partisipan, mereka dapat menerima kondisi adik bungsunya yang baru dengan tangan terbuka dan tanpa rasa malu.
“respon tidak menerima itu gak ada yah, karena sebelum operasi kan udah sempat kasi kabar duluan, untungnya mereka juga open-minded, kakak dan abang bunda juga terbuka, barangkali mereka pun punya teman-teman yang seperti bunda, apalagi yang abang-abang, mereka bahkan gak malu mengakui inilah apa adanya adekku, jadi begitu bunda jadi wanita yang seutuhnya mereka menerima dengan terbuka..”
(P.W2.b.545-565.h.19)
Selang beberapa waktu, partisipan berkenalan dengan seorang lelaki berinisial M. Perkenalan tersebut bermula dari pertemuan yang diatur oleh rekan kerjanya sesama hairstylish di Singapura.
“ga berapa lama itula bunda kenal ma mantan suami bunda itu di Singapur..”
(P.W3.b.1131-1134.h.38)
“dikenalin temen yang sama-sama kerja di salon di singapur, yah bunda rasa dia orangnya baik, pengertian dan sopan walopun umurnya lebih muda daripada bunda, tapi bunda rasa nyaman dan nyambung ngobrol dengan dia”
(P.W3.b.1143-1153.h.39)
Setelah bertemu beberapa kali, partisipan akhirnya berani terbuka mengenai identitas dirinya kepada M, dan M ternyata tidak mempermasalahkan hal tersebut dan keduanya mulai menjalin hubungan romantis.
“akhirnya ga lama jalin hubungan serius kami..” (P.W3.b.1154-1156.h.39)
“iya tau, tapi setelah beberapa kali ketemu sih bunda kasi taunya, pas udah mulai ngarah-ngarah ke serius.. orang sana kan lebih terbuka ris jadi mereka ga permasalahin kali lah masalah kaya begitu.. buktinya dia malah melamar bunda..”
(P.W3.b.1161-1171.h.39)
Karena permintaan keluarga yang meminta partisipan untuk kembali ke Medan, partisipan kembali pulang ke Indonesia bersama M. Sesampainya di Indonesia, partisipan segera mengurus perubahan identitas dirinya di kelurahan setempat dengan menunjukkan woman letter (surat keterangan yang menyatakan partisipan telah melakuan operasi pergantian kelamin), yang menjadi bukti atas identitas barunya. Dalam mengurus proses perubahan identitasnya, partisipan tidak mengalami hambatan apapun, tetapi ia merasa simpati terhadap kesulitan yang dialami transeksual lain dalam mengurus perubahan identitasnya.
“sebenernya di Indonesia sih gak ada susahnya karena yang penting misalnya kita dah operasi, terus ada pernyataan tertulis semacam woman letter itu mudah aja sih, tapi sedihnya yang temen senasib bunda di Surabaya itu ampe ribut ya dia perjuangkan dirinya.. tapi syukurnya bunda mudah aja, ke lurah ke mana-mana berjalan lancar.”
(P.W1.b.758-774.h.26)
Dimulailah kehidupan baru partisipan yang semula bernama Rendi, menjadi Reni.
“diganti dari mister Rendi jadi miss Reni Adelia, itu bahagianya ga bisa diucapkan dengan kata-kata.. Cuma itula yang bisa bunda bilang..”
(P.W3.b.520-526.h.18)
Kehidupan pernikahan partisipan dan M berjalan kurang lebih 12 tahun layaknya pasangan suami istri kebanyakan.
“kan bunda ma suami bunda tu 12 tahun nikah, bunda juga udah coba tutup ris karena udah bunda ikhlaskan semuanya..”
“12 taun, dari masa di Singapur pacaran dan meridnya di sini..” (P.W3.b.1283-1286.h.43)
“memang dia perna nikah sama orang sana, dan hidup normal kaya pasangan berumah tangga yang seperti biasa juga”
(SO.W1.b.172-177.h.7)
Pernikahan tersebut berakhir beberapa tahun yang lalu dikarenakan mantan suami partisipan menghendaki partisipan untuk dapat mengandung. Saat itu partisipan merasa kecewa dengan permintaan M untuk memberinya anak kandung, sebab sejak awal perkenalan, M seharusnya sudah tahu bahwa hal tersebut adalah mustahil bagi partisipan untuk dapat mengandung. Bahkan partisipan sempat memberikan alternatif untuk mengambil anak angkat sebagai solusi permintaan suaminya.
“dia nuntut yang tidak mungkin terjadi, mau anak kandung ya mana bisa, dia mengharapkan yang enggak-enggak, daripada dia ga bisa terima yaudah mendingan kita pisah aja.. kan dari awal dia dah tau siapa bunda, kalo udah nuntut gitu berartikan udah laen”
(P.W3.b.1294-1305.h.44)
“cumakan dari awal dia udah tau siapa bunda, harusnya bisa terima segala konsekuensi yang bakal kita hadapi bersama, walaupun bunda ga bisa mengandung, kan ada alternatif lain, sempat juga bunda angkat anak, tau kan risma anak gadis bunda”
(P.W3.b.1319-1130.h.44)
Dengan berbesar hati, akhirnya partisipan menerima keputusan M untuk berpisah darinya dan itu merupakan akhir dari pernikahan mereka berdua. Partisipan dapat menerima situasi tersebut karena ia menyadari adanya kekurangan pada dirinya yang tidak bisa membuatnya menjadi seorang sosok istri yang sempurna. Setelah M kembali ke Singapur, keduanya tidak pernah behubungan lagi.
“awalnya sedihlah pasti, kecewa pun juga, kenapa dia begitu, tapi bunda terima kok karena pikir aja pake logika, hal itu memang udah diluar kuasa bunda, gak akan bisa bunda hamil, selama itu bisa dipikirkan dengan logika ya bunda ikhlas, solusinya itu tadi bunda angkat anak dan perlakukan seperti anak sendiri..”
(P.W3.b.1352-1366.h.46)
Sejak saat itu hingga sekarang, partisipan tidak pernah menjalin hubungan romantis kembali dengan pria lainnya. Dan untuk saat ini pula partisipan sudah tidak memiliki keinginan untuk kembali berumah tangga karena merasa sudah tidak lagi memiliki hasrat seksual terhadap lelaki lagi.
“kayanya sekarang bunda enggak mikir kesitu,dan bunda juga merasa libido seks bunda udah menopause, hasrat untuk itu kembali ke nol”
(P.W3.b.1182-1188.h.40)
“kalo yang saya tau dalam pergaulannya, dia sama lelaki lain ga ada jalin hubungan yang spesial lagi, tapi kalo bergaul dengan yang lain ya sama ajala seperti macemana yang sewajarnya.. kalo yang spesial sampe sekarang belum ada pernah cerita lagi..”
(SO.W1.b.234-246.h.9)
Di dunia pekerjaannya, partisipan mengalami pasang-surut dalam kehidupan berkarirnya sebagai hair stylish. Sempat beberapa kali mengalami pindah-pindah salon. Dan akhirnya sekarang ini sedang menganggur.
“dalam berbisnis pun bunda perna ngerasakan pasang-surut, suatu kali booming nama tiba-tiba turun, jadi semua sudah perna bunda rasakan.. kaya sekarang lagi nganggur”
(P.W2.b.693-701.h.24)
“naik turunlah, tapi kalo dalam karir dia pun oke, termasuk maju dan pesatlah dia, dalam setiap pekerjaannya dia banyak menonjolkan skill, kekmana kita bilang ya... nampakla dia punya keahlian yang luar biasa, itula kelebihannya, selain mudah bergaul, dia selalu menunjukkan skill yang dipunya”
(SO.W1.b.311-325.h.11)
Keluarga, khususnya ibu dan saudara kembar partisipan senantiasa memberikan dukungan sosial. Salah satu bentuk dukungan yang diberikan adalah
mereka memiliki kesepakatan untuk menutup rapat cerita masa lalu tentang kehidupan partisipan sebelum operasi.
“terutama mama dan abang kembar bunda yang memberi pengertian.. dan bunda juga tunjukkan prestasi bunda dan berperilaku sebagaimana wanita yang sebenarnya tidak kaya yang lain-lain..”
(P.W3.b.709-719.h.24)
“hati seorang ibu akan tetap menerima anaknya, apalagi bunda sangat dekat sama mama, jadi dia pun peka dan diala yang beritau ke keluarga yang lain, kaya om-om bunda itu dulu kan manggilnya lain, sekarang lain, semua sangat mendukung dan setuju untuk tinggalkan memori lama itu..” (P.W3.b.740-753.h.25)
“kita udah ga melihatnya dengan negatif lagi, kita anggap aja itu memang adek perempuan kita, kita udah ga pandang dia macemana-macemana lagi, mulai dari dia berubah seperti itu sampe sekarang ya memang kami anggap dia itu wanita, tidak dibedakan dan ga perna lagi kita ungkit masa lalunya lagi..”
(SO.W1.b.509-524.h.18)
Keluarga besar partisipan benar-benar menutup cerita lama mengenai identitas partisipan yang sebenarnya sehingga bagi anggota keluarga yang masih muda, seperti keponakan-keponakan partisipan tidak mengetahui identitas asli partisipan. Ada kemungkinan mereka akan mengetahuinya saat mereka sudah dewasa, namun sejauh ini mereka belum mengetahui hal itu.
“kaya ponakan yang kecil, tidak tahu bunda itu siapa.. hanya tau bunda itu ibunya yang wanita seutuhnya, mungkin suatu saat kalo dah besar baru tahulah ya..”
(P.W1.b.1172-1179.h.39)
“karena keponakan semua pun gatau status asli bunda, jadi foto-foto dulu yang masi apa itu udah bunda koyak semuanya, karena takut jadi pertanyaan buat anak-anak yang tidak tau ini, yang mereka taunya bunda ini ibunya.. dan untungnya keluarga besar juga sangat sangat mendukung keputusan bunda ini..”
(P.W3.b.575-589.h.20)
“memang mereka gatau karena kita juga ga perna mengkaji ulang lagi siapa bunda, anak-anak ini semua taunya itu ibunya, masa lalunya ga
perlu kami ceritakan karena ga penting, nanti kalo dah besar mungkin lama-lama bakalan tau sendiri, yang penting keluarga kita mensupport dan menerima bunda”
(SO.W1.b.540-555.h.19)
Dukungan sosial dari keluarga besar tersebut membuat partisipan menjadi sosok yang “self-acceptant”.Dimana bentuk penerimaan ini tidak dimiliki oleh kebanyakan teman partisipan, baik yang masih transgender maupun yang sudah menjadi transeksual. Partisipan berpendapat bahwa adanya penolakan dari keluarga menuntun para transeksual lain untuk menyesali keputusan mereka yang telah melakukan operasi pergantian kelamin. Untuk itu partisipan sangat mensyukuri ia mendapatkan penerimaan dan dukungan dari keluarganya.
“namanya Lia, lebih tua dan senior dari bunda, dia belum sampe operasi kelamin, dia pinter, sekolah tinggi sekali ampe kedokteran, tapi itulah umurnya pendek, walopun gitu yang bisa buat bunda ikhlas dia pergi itu karena pas dia sakit parah sebelum meninggal itu bunda yang urusin dia karena itulah kasian dia ga didukung keluarga, dia kan orang cina, dikeluarkan dari keluarga karena dianggap buat malu..”
(P.W1.b.914-934.h.31)
“temen lain ada juga yang diusir dari keluarga, tidak diakui lagi jadi anak, dianggap sampah, dan syukurnya bunda diterima..”
(P.W1.b.1008-1014.h.34)
“.. kaya yang udah bunda bilang sebelumnya, mereka ga diakui keluarga, setelah operasi minta balik kelamin sampe gila itu teman komunitas bunda di singapur, dan ada yang parah sampe bunuh diri..”
(P.W2.b.879-888.h.30)
Sesekali partisipan dijadikan tempat konsultasi bagi para transgender lainnya yang ingin mengikuti jejaknya untuk melakukan operasi pergantian kelamin. Tiap kali ada junior yang berkonsultasi dengannya, partisipan berusaha terbuka akan pengalamannya karena ia tidak ingin ada transeksual lain yang menyesali keputusannya kelak. Ia juga senantiasa menekankan untuk
memperhatikan alasan apa yang mendasari seseorang menginginkan operasi pergantian kelamin. Berdasarkan pengalamannya, ia menemukan beberapa alasan yang salah yang mendasari seseorang melakukan hal tersebut, seperti karena adanya tuntutan dari pasangan, belum mengenal siapa dirinya sehingga terlalu cepat mengambil keputusan untuk operasi, karena ingin bekerja sebagai pekerja seks komersial, dan karena ada materi yang mendukung.
“kadang kalo ada junior yang tanya bunda dia kepingin operasi bunda nasehatin betul-betul jangan sampe kejadian begitu terulang..”
(P.W2.b.899-904.h.30)
“ada anak bunda tu namanya si Lora, sebelum operasi dia datang ke bunda, bunda nasehatin la menurut pengalaman yang telah bunda lewati, kaya apa yang dulu psikiater itu tanyakan ke bunda, bunda tanya balek ke dia, dan yang bunda tekankan itu yakinkan dirimu karena kau masi muda, belom ada ketetapan dalam hatimu, kalo memang yakin bukan karena materi atau pacar lebih baik gausah..”
(P.W2.b.922-941)
“ada yang mudaa kali umur 18taun datang ke bunda kemaren, namanya si Wen-wen.. tapi akhirnya apa menyesal dia minta kembali, padahal udah bunda ingatkan, dan udah terjadi sekarang macammana lagi kita bilang, ya bunda kasitau aja udah terima ajalah kembalila menurut agamamu gimana, kamukan budha, berdoa banyak banyak..”
(P.W3.b.235-251.h.9)
Partisipan merasa senang sekaligus terharu dijadikan tempat konsultasi bagi para juniornya yang ingin operasi karena merasa ia bukanlah orang yang kompeten dalam bidang tersebut namun tetap dipercaya untuk dimintai pendapat. Dengan senang hati ia akan selalu memberi nasihat dan berbagi pengalaman terkait dengan transeksualitasnya agar tidak ada transeksual lain yang menyesali keputusannya merubah identitas.
“terharu sekaligus bahagia, karena ada orang yang menghargai bunda walopun awak ni bukan dokter, kita berbagi pengalaman, supaya jangan terjadi penyesalan di akhir nanti..”
(P.W3.b.274-282.h.10)
Belakangan ini, semenjak menganggur partisipan jarang bergaul dengan teman-teman transgendernya. Yang dilakukan partisipan untuk mengisi waktu luangnya adalah dengan mengurus kucing peliharaannya, mengurus ibunya yang sedang sakit, berkumpul dengan keluarga, mengaji, dan banyak mendekatkan diri dengan Allah. Status penganggurannya ini dimaknai partisipan sebagai sebuah titik balik dalam kehidupannya sehingga ia menjadi lebih dekat dengan Allah. Dengan demikian, ia dapat merasakan ketenangan dan kebahagiaan.
“sekarang bunda kurang bergaul dengan mereka-mereka itu.. bunda mulai mengikuti ajaran agama kita, kalo bergaul dengan yang solat, kita pun ikut solat, bergaul ma yang baek, jadila yang baek.. makanya sekarang udah kurangla ma mereka lagi..”
(P.W3.b.462-473.h.16)
“banyakan dirumah ajalah ris, kan mama papa juga dah tua ya nemenin mereka ajalah, kalo lagi ada pengen kesini bunda anterin.. banyak untuk keluarga ajalah dulu untuk sementara..”
(P.W2.b.1070-1078.h.36)
“jadi untuk sekarang bunda lebih banyak berkumpul dengan keluarga dan ibadah aja, karena dengan begitu ketenangan batin yang bunda rasakan lebih tentram gitu, daripada yang masa dulu belum istiqomah ibadahnya, bunda nganggur ini bunda anggap sebagai pembelajaran untuk bunda lebih dekat dengan Allah..
(P.W3.b.118-1203.h.41)
“agak lebih banyak mendekatkan diri, ya mungkin sifat manusia kan kadang mengingat dan bersyukur sama Yang Menciptakan kita, saya rasa adalah tersentuh hatinya untuk itu, jadi satu kebagusan dan kebanggaan juga bahwasanya dia masi ingat Pencipta dan ingat norma-norma agama, saya bersyukur jugala dengan dia begitu kan artinya dia ga salah bergaul”
Refleksi masa depan yang dimiliki oleh partisipan adalah ingin mempunyai salon sendiri. Namun hal tersebut sulit untuk dicapai dalam waktu dekat karena keterbatasan dana yang ia miliki.
“kepinginnya buka salon sendiri, tapi terbentur dana, Cuma yakin ajala selama Allah emang berkehendak pasti ada aja jalannya..”
(P.W3.b.1497-1503.h.50)
A.3.4 Tahapan Penerimaan Diri (1) Penghindaran - Aversion
Saat pastisipan masih kecil, ia mengalami perasaan kecewa akan identitas gendernya. Ia selalu berharap seandainya saja ia terlahir sebagai anak perempuan. Partisipan benar-benar merasa terperangkap dalam tubuh yang salah, walaupun secara fisik ia adalah lelaki yang normal, namun secara psikologis ia sangat menyakini dirinya adalah wanita. Tak ada keraguan sedikit pun mengenai hal tersebut karena ia berpendapat bahwa menjadi anak perempuan adalah sesuatu yang menyenangkan, dimana seandainya ia adalah anak perempuan maka ia dapat berpakaian dengan cantik, tidak seperti pakaian anak lelaki yang modelnya hanya sebatas celana dan kaus atau kemeja saja, selain itu ia bisa berdandan dengan riasan make-up dan tatanan gaya rambut yang juga cantik, dan memiliki bentuk tubuh yang indah.
“waktu kecil awal awal dulu bunda ada rasa kecewa juga, pertama terhadap diri bunda sendiri, kayanya kenapalah aku nasibnya begini, kenapa sih aku ga lahir langsung jadi perempuan aja, kan pernah ya bunda bilang ma risma, seandainya bisa request itula request bunda..” (P.W1.b.347-361.h.13)
“masa-masa itu bunda selalu merasa kecewa apalagi punya papa yang streng gitu buat makin kecewa, Cuma karena masih anak-anak ya dibiarkan berlalu gitu aja”
(P.W1.b.361-369.h.13)
“sempat juga bunda stress karena itu Cuma yah mama bunda selalunya kasi support jadi bunda anggap angin lalu aja..”
(P.W2.b.240-245.h.9)
“ada, tapi itu masa belum operasi bunda pikir kenapala aku begini.. yang bunda masi kecil itu”
(P.W3.b.1371-1375.h.46)
“kekecewaan akan jati diri itu hanya semasa sebelom operasi ya muncul pertanyaan mengapa aku begini karena sangking kepinginnnya jadi wanita..”
(P.W3.b.1397-1404.h.47)
Karena keyakinan dirinya yang kuat mengenai identitas gendernya membuat partisipan merasa jijik akan kelaminnya sendiri (penis), ia mengumpamakan perasaan seorang anak perempuan kecil yang akan merasa jijik jika melihat alat kelamin anak lelaki sebayanya, namun karena penis itu ada ditubuhnya sendiri, partisipan semakin merasa jijik akan tubuhnya dan berharap seandainya ia bisa menghilangkan penis itu dari tubuhnya. Namun pada saat itu terjadi tidak banyak yang dapat ia perbuat dikarenakan keterbatasan sumber daya yang ia miliki, sehingga ia selalu meminta kepada ibunya untuk memberinya uang agar dapat menjalani operasi pergantian kelamin.
“tapi sempat juga la bunda rasa bunda jijik sama burung itu.. rasanya mau bunda potongkan aja sendiri gitu”
(P.W3.b.847-852.h.29)
“iya.. geli ma jijik macamana kalo anak perempuan liat burung gitulah.. risma dulu waktu kecil kalo ada kawan cowo yang nunjuk-nunjukkan burung cemana? Jijik kan?”
(P. W3.b.861-869.h.29)
“gitu jugala bunda, tapi ni ada ditubuh bunda sendiri.. jadi makin berlipat jijiknya.. Cuma ya macemana mau kita buat.. jadi dulu bunda terus ngerengek aja minta dioperasikan”
(P. W3.b.871-878.h.30)
Selama masa kecilnya partisipan jarang menunjukkan adanya reaksi penghindaran mengenai permasalahan yang dihadapinya ini, bahkan ia selalu
berperilaku layaknya anak perempuan hingga ia dewasa. Hal tersebut dilandasi oleh keyakinan dirinya berada pada tubuh yang salah. Sehingga ia semakin mengejar ideal-self yang didambakannya. Namun setelah bertransisi menjadi wanita transeksual, ia membatasi ruang geraknya hanya berpusat pada lingkungan salon dan keluarganya saja. Ia merasa bahwa hanya 2 tempat itu sajalah yang dapat menerima dirinya sehingga ia tidak pernah keluar untuk mengekspolasi comfort zone yang ia miliki.
“setelah kawan karib bunda almarhum Lia itu meninggal gak ada sih, kalo sekarang malah jadi lebih betah di rumah, kalo dulu enggak pernah betah, rumah itu Cuma untuk ganti baju dan tidur..”
(P.W3.b.985-993.h.33)
(2) Keingintahuan – Curiosity
Karena keinginannya untuk operasi kelamin saat ia masih kecil ditentang oleh ibunya, partisipan mulai mencari tahu sendiri mengenai identitas gendernya seorang diri. Diawali dengan mencari teman yang ia rasa mampu memahami dan mengerti perasaannya, yaitu sesama transgender. Hal ini dilakukannya sebagai upaya pencarian dukungan sosial diluar lingkungan rumah.
“hati bunda itu menjerit, jadi bunda mencari jati diri dengan sendirian sehingga tamat SMA gak sambung kuliah, langsung ambil kursus mengikuti kata hati”
(P.W1.b.72-81.h.4)
“sendiri, tanpa campur tangan siapapun. Mulai dari simpan uang, apa-apa sendiri, Cuma pas mau pergi operasi bunda minta temenin temen bunda”
(P.W1.b.576-580.h.20)
“bunda udah mengarah mencari kawan yang mirip dengan bunda karena bunda rasa mereka mungkin bisa jadi orang yang mengerti kita, jadi waktu itu bunda udah ada kenal 2 orang waria orang salon”
“karena emang bunda merasa diri bunda tu wanita, jadi teman yang bunda cari pun teman sesama waria juga gitu”
(P.W1.b.1150-1155.h.39)
“pas di bandung tu pun bunda juga tetap mencari kawan yang seperti bunda, pas pula di dekat sekolah smp bunda itu tempat mangkalnya para waria, jadi makin mudah sebenarnya akses bunda ke mereka..”
(P.W2.b.325-335.h.12)
Selain mencari teman sesama transgender, partisipan juga mencari tahu informasi mengenai apa saja yang dapat dilakukannya untuk mencapai ideal-selfnya, yaitu menjadi wanita yang seutuhnya. Informasi tersebut didapatnya dengan bertanya kepada transgender yang lebih senior maupun dari buku-buku mengenai ilmu kedokteran yang ia baca di perpustakaan di sekolahnya. Proses pengumpulan informasi ini juga merupakan salah satu indikator perilaku yang menyatakan bahwa partisipan mempelajari lebih lanjut mengenai situasi transeksualitas yang dimilikinya.
“bunda tanya-tanya juga ke teman-teman itu cemana seandainya mau operasi, cari tau berapa biaya yang dibutuhkan, apa aja yang perlu dilakuin sampe ke tahap operasi..”
(P.W2.b.432-440.h.15)
“iya, tanya dari kawanlah ris, ada juga yang baca-baca buku kedokteran gitu di sekolah.. tapi banyakan tanya kawan.. terutama pas di bandung karena disitu langsung pusat mangkalnya yang dekat sekolah..”
(P.W2.b.444-453.h.16)
(3) Toleransi – Tolerance
Setelah mencari tahu informasi mengenai masalah yang dihadapinya