Kebijakan Program Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan Pengembangan Usaha Agribisnis di Perdesaan yang selanjutnya di sebut PUAP adalah bagian pelaksanaan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri (PNPM-Mandiri) melalui bantuan modal usaha dalam menumbuhkembangkan usaha agribisnis sesuai potensi pertanian desa sasaran. Peluncuran PUAP merupakan perwujudan perhatian pemerintah untuk mengurangi kemiskinan dan pengangguran yang jumlahnya relatif masih tinggi di
50
Indonesia. Secara struktural Dana BLM PUAP merupakan bagian dari PNPM-Mandiri, yakni program pemberdayaan masyakarat yang ditujukan untuk mengurangi kemiskinan dan meningkatkan kesempatan kerja (Kementerian Pertanian 2010a).
Skala agribisnis yang dikembangkan berbasis perdesaan, yakni kawasan yang secara komparatif memiliki keunggulan sumberdaya alam dan kearifan lokal (endogeneous knowledge) khususnya pertanian dan keanekaragaman hayati. Pelaku agribisnis adalah petani. Petani dimaksud adalah perorangan, warga negara Indonesia beserta keluarganya atau korporasi yang mengelola usaha di bidang pertanian meliputi usaha hulu, usahatani, agroindustri, pemasaran dan jasa penunjang (Kementerian Pertanian 2010a).
PUAP, intinya bertujuan untuk mendorong pemberdayaan masyarakat pertanian. Pemberdayaan Masyarakat Pertanian adalah upaya-upaya yang dilakukan untuk meningkatkan kemampuan masyarakat agribisnis sehingga secara mandiri mampu mengembangkan diri dan dalam melakukan usaha secara berkelanjutan. Karena pembinaan ditujukan pada organisasi petani, maka orientasinya adalah kelompok tani yang bergabung ke dalam wadah Gapoktan. Kelompok Tani (Poktan) diartikan sebagai kumpulan petani/peternak yang dibentuk atas dasar kesamaan kepentingan, kesamaan kondisi lingkungan (sosial, ekonomi, sumber daya) dan keakraban untuk meningkatkan dan mengembangkan usaha anggota (Kementerian Pertanian 2013).
Adapun Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) PUAP merujuk pada kumpulan beberapa Kelompok Tani yang bergabung dan bekerja sama untuk meningkatkan skala ekonomi dan efisiensi usaha dalam menjalankan usaha produktifnya. Usaha Produktif adalah segala jenis usaha ekonomi yang dilakukan oleh petani/kelompok tani di perdesaan dalam bidang agribisnis yang mempunyai transaksi hasil usaha harian, mingguan, bulanan, musiman maupun tahunan (Kementerian Pertanian 2010a).
Fasilitasi Dana PUAP bagi masyarakat sifatnya adalah bantuan langsung masyarakat atau dikenal dengan istilah BLM. Dalam konteks PUAP, bantuan langsung masyarakat (BLM) yaitu dana bantuan sosial untuk petani/kelompok tani guna pengembangan usaha agribisnis di perdesaan yang disalurkan melalui Gapoktan dalam bentuk modal usaha (Kementerian Pertanian 2010a, Ashari 2009, Hendayana 2011).
Perencanaan kegiatannya dilakukan melalui mekanisme pengajuan Rencana Usaha Bersama (RUB), yakni rencana usaha untuk pengembangan agribisnis yang disusun oleh Gapoktan berdasarkan kelayakan usaha dan potensi desa. Peluncuran Program PUAP oleh Kementerian Pertanian, memiliki tujuan sebagai berikut (Kementerian Pertanian 2010a):
(a) Mengurangi kemiskinan dan pengangguran melalui penumbuhan dan pengembangan kegiatan usaha agribisnis di perdesaan sesuai dengan potensi wilayah,
(b) Meningkatkan kemampuan pelaku usaha agribisnis, Pengurus Gapoktan, Penyuluh dan Penyelia Mitra Tani,
(c) Memberdayakan kelembagaan petani dan ekonomi perdesaan untuk pengembangan kegiatan usaha agribisnis,
(d) Meningkatkan fungsi kelembagaan ekonomi petani menjadi jejaring atau mitra lembaga keuangan dalam rangka akses ke permodalan.
51 Sasaran Program PUAP ini adalah mendorong berkembangnya usaha agribisnis di desa-desa miskin yang lokasinya terjangkau, sesuai dengan potensi pertanian desa; Mendorong berkembangnya 10.000 Gapoktan/Poktan yang dimiliki dan dikelola oleh petani; Meningkatnya kesejahteraan rumah tangga tani miskin, petani/peternak (pemilik dan/atau penggarap) skala kecil, buruh tani; dan Berkembangnya usaha agribisnis petani yang mempunyai siklus usaha harian, mingguan, maupun musiman.
Pola dasar PUAP dirancang untuk meningkatkan keberhasilan penyaluran dana BLM PUAP kepada Gapoktan dalam mengembangkan usaha produktif petani dalam mendukung 4 (empat) sukses Kementerian Pertanian yaitu: (1) swasembada dan swasembada berkelanjutan, (2) diversifikasi pangan, (3) nilai tambah, daya saing dan ekspor, dan (4) peningkatan kesejahteraan petani (Kementerian Pertanian 2013).
Untuk pencapaian tujuan tersebut di atas, komponen utama pola dasar pengembangan PUAP adalah (1) keberadaan Gapoktan, (2) keberadaan Penyuluh Pendamping dan Penyelia Mitra Tani sebagai pendamping, (3) pelatihan bagi petani, pengurus Gapoktan, dll, dan (4) penyaluran dana BLM kepada petani (pemilik dan atau penggarap), buruh tani dan rumah tangga tani. Adapun strategi dasar yang dikembangkan dalam PUAP, adalah: (1) pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan PUAP, (2) optimalisasi potensi agribisnis di desa miskin yang terjangkau, (3) fasilitasi modal usaha bagi petani kecil, buruh tani dan rumah tangga tani miskin, dan (4) penguatan kelembagaan Gapoktan (Kementerian Pertanian 2013).
Strategi operasional yang menyertai peluncuran PUAP, pada intinya memuat beberapa kegiatan, yaitu: Pertama, pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan PUAP dilaksanakan melalui: pelatihan bagi petugas pembina dan pendamping PUAP, rekrutmen dan pelatihan bagi Penyuluh dan PMT, pelatihan bagi pengurus Gapoktan, dan pendampingan bagi petani oleh penyuluh dan PMT. Kedua, mengoptimalkan potensi agribisnis di desa miskin yang terjangkau dilaksanakan melalui: identifikasi potensi desa, penentuan usaha agribisnis (hulu, budidaya dan hilir) unggulan, dan penyusunan serta pelaksanaan RUB berdasarkan usaha agribisnis unggulan.
Ketiga, fasilitasi modal usaha bagi petani kecil, buruh tani dan rumah tangga tani miskin kepada sumber permodalan dilaksanakan melalui: (1) Penyaluran BLM PUAP kepada pelaku agribisnis melalui Gapoktan, (2) Pembinaan teknis usaha agribisnis dan alih teknologi, dan (3) fasilitasi pengembangan kemitraan dengan sumber permodalan lainnya.
Keempat, penguatan kelembagaan Gapoktan dilaksanakan melalui: (1) Pendampingan Gapoktan oleh Penyuluh Pendamping, (2) Pendampingan oleh PMT di setiap Kabupaten/Kota, dan (3) Fasilitasi peningkatan kapasitas Gapoktan menjadi lembaga ekonomi yang dimilki dan dikelola petani.
Secara operasional, terdapat sembilan tahapan yang dilalui dalam penyelenggaraan PUAP. Kesembilan tahapan itu memiliki ruang lingkup sebagai berikut (Kementerian Pertanian 2013):
(1) Identifikasi dan verifikasi Desa calon lokasi serta Gapoktan penerima BLM PUAP,
(2) Identifikasi, verifikasi dan penetapan Desa dan Gapoktan penerima BLM PUAP,
52
(3) Pelatihan bagi fasilitator, penyuluh pendamping, pengurus Gapoktan,
(4) Rekrutmen dan pelatihan bagi PMT,
(5) Sosialisasi dan Koordinasi Kegiatan PUAP,
(6) Pendampingan,
(7) Penyaluran Bantuan Langsung Masyarakat (BLM),
(8) Pembinaan dan Pengendalian,
(9) Pemantauan, evaluasi dan pelaporan.
Pelaksanaan PUAP di Kabupaten Subang Provinsi Jawa Barat Dinamika Penyebaran dan Pemanfaatan BLM per Sub Sektor
Provinsi Jawa Barat menjadi sasaran nasional penyebaran dana BLM PUAP. Sampai tahun 2013, Provinsi ini menerima dana BLM PUAP untuk periode yang keenam kalinya sejak 2008. Total Gapoktan yang sudah menerima dana PUAP sebanyak 3.613 dari 131 kabupaten/kota, dengan dana yang sudah tersalur sebanyak Rp. 361,3 milyar. Distribusi Gapoktan penerima dana BLM PUAP disajikan pada Tabel 9.
Tabel 9. Distribusi Gapoktan penerima dana bantuan langsung masyarakat PUAP, Provinsi Jawa Barat
No. Kabupaten/Kota 2008 Jumlah Gapoktan Penerima Dana BLM PUAP 2009 2010 2011 2012 2013 Total
1. Bandung 17 28 53 41 48 22 209 2. Bandung Barat 56 31 34 22 12 7 162 3. Bekasi 20 15 21 13 15 8 92 4. Bogor 25 23 26 25 47 21 167 5. Ciamis 29 23 18 53 74 7 204 6. Cianjur 42 101 91 70 14 10 328 7. Cirebon 35 34 58 72 62 15 276 8. Garut 35 28 58 26 52 23 222 9. Indramayu 35 28 22 29 60 35 209 10. Karawang 35 23 25 36 36 14 169 11. Kota Banjar 6 6 7 6 - - 25 12. Kota Bogor - - 10 11 8 3 32 13. Kota Cimahi - 6 6 2 - - 14 14. Kota Cirebon - - 1 7 7 7 22 15. Kota Depok 5 8 2 1 - - 16 16. Kota Sukabumi 8 2 6 1 7 - 24 17. Kota Tasikmalaya 1 11 13 17 16 - 58 18. Kuningan 33 29 19 38 65 12 196 19. Majalengka 81 79 33 36 25 9 264 20. Purwakarta 20 15 35 22 29 35 156 21. Subang 35 57 44 72 6 3 217 22. Sukabumi 49 37 14 28 29 16 172 23. Sumedang 35 60 50 24 13 5 187 24. Tasikmalaya 19 58 40 42 16 17 192 Jumlah 621 702 686 694 641 269 3.613
Sumber: BPTP Jawa Barat (2013)
Dana BLM-PUAP digunakan untuk anggota Gapoktan yang sudah mempunyai usaha, sehingga pengembalian dan kesinambungan program ini akan lebih terjamin. Berikut dikemukakan keragaan dana BLM PUAP yang terjadi pada setiap tahun di Provinsi Jawa Barat, sejak 2008 – 2013 (Tabel 10 – 15).
53 Penggunaan dana BLM-PUAP untuk Gapoktan penerima tahun 2008 di Jawa Barat, sebagian besar digunakan untuk usaha on-farm tanaman pangan seperti padi, kedelei, jagung, kacang tanah, sebesar 30,29%, diikuti dengan usaha Peternakan 12,21% (domba, ayam, bebek dan sapi), komoditas hortikultura 8,74% (cabe, tomat, buah-buahan), Perkebunan 1,97% (kakao, karet, lada), dan usaha di bidang off-farm (pemasaran, kerajinan, industri rumah tangga) 46,793%.
Pada tahun 2008, jumlah Gapoktan yang menerima BLM PUAP tercatat 621 desa di 21 kabupaten/kota. Setiap desa mendapat dana BLM 100 juta rupiah, sehingga untuk tahun 2008 provinsi ini memperoleh dana BLM sebesar 62,1 milyar rupiah. Kabupaten paling banyak menerima dana BLM PUAP adalah Kabupaten Bandung Barat dan paling sedikit yaitu Kota Tasikmalaya.
Jumlah Gapoktan yang menerima dana BLM PUAP tahun 2009 jumlahnya lebih banyak dibandingkan tahun 2008, yakni 702 Gapoktan berbanding 621 Gapoktan. Dana yang tersalurkan pada tahun 2009 sebesar Rp. 70,2 milyar. Distribusinya tiap wilayah kabupaten berkisar antara Rp. 200 juta hingga Rp. 10,1 milyar. Bedanya dengan tahun 2008 adalah ada penambahan satu wilayah penerima dana BLM PUAP pada tahun 2009, yakni masuknya Kota Cimahi (6 Gapoktan). Penyebaran dana penerima BLM PUAP per sub sektor tahun 2008 di Provinsi Jawa Barat disajikan pada Tabel 10.
Tabel 10. Penyebaran penerima dana bantuan langsung masyarakat PUAP tahun 2008 per sub sektor
No. Kabupaten/ Kota Jumlah Desa/ Gapoktan
Realisasi BLM PUAP
(RP.- 000)
Realisasi Dana PUAP (%) Tan.
Pangan Horti Kebun Ternak
Off Farm 1 Bandung 17 1.700.000 7,74 14,35 0,00 17,44 60,47 2 Bandung Barat 56 5.600.000 12,90 12,46 0,87 0,45 73,32 3 Bekasi 20 2.000.000 78,61 1,50 3,04 7,79 9,06 4 Bogor 25 2.500.000 43,46 23,31 9,33 9,46 14,44 5 Ciamis 29 2.900.000 3,46 2,06 2,41 20,37 71,70 6 Cianjur 42 4.200.000 13,96 10,35 2,36 11,74 61,59 7 Cirebon 35 3.500.000 72,62 3,06 0,00 14,06 10,26 8 Garut 35 3.500.000 10,32 8,14 3,06 14,71 63,77 9 Indramayu 35 3.500.000 10,87 14,19 0,43 7,23 67,28 10 Karawang 35 3.500.000 63,36 3,99 0,17 6,69 25,79 11 Kuningan 33 3.300.000 34,23 4,51 0,98 38,11 22,17 12 Majalengka 81 8.100.000 32,79 8,98 0,94 5,70 51,59 13 Purwakarta 20 2.000.000 16,49 4,33 1,41 7,80 69,97 14 Subang 35 3.500.000 46,16 6,15 13,16 0,97 33,56 15 Sukabumi 49 4.900.000 41,79 13,19 0,77 10,17 34,08 16 Sumedang 35 3.500.000 53,53 8,34 2,06 17,90 18,17 17 Tasikmalaya 19 1.900.000 16,47 9,25 0,21 38,48 35,59 18 Kota Banjar 6 600.000 9,59 8,86 0,17 7,02 74,36 19 Kota Depok 5 500.000 60,68 26,49 0,00 4,35 8,48 20 Kota Tasikmalaya 1 100.000 7,00 0,00 0,00 16,00 77,00 21 Kota Sukabumi 8 800.000 0,00 0,00 0,00 0,00 100 Jumlah 621 62.100.000 636,03 183,51 41,37 256,44 − Rata-rata 30 2.957.143 30,29 8,74 1,97 12,21 46,79
Sumber: BPTP Jawa Barat (2013)
Untuk alokasi dana BLM PUAP, hampir sama dengan Gapoktan penerima PUAP tahun 2008, usaha yang dilakukan dari dana BLM-PUAP tersebut masih
54
didominasi oleh usaha on-farm tanaman pangan yaitu sebesar 35,381%, hortikultura 7,884%, Perkebunan 6,523%, dan peternakan 7,403%, sedangkan kegiatan off-farm nya 42,809 % (Tabel 11).
Tabel 11. Penyebaran penerima dana bantuan langsung masyarakat puap tahun 2009 per sub sektor
No. Kabupaten/Kota Jumlah Desa/ Gap.
Realisasi BLM PUAP
(RP.- 000)
Realisasi Dana PUAP Tan.
Pangan Horti Kebun Ternak Farm Off
1 Bandung 28 2.800.000 7,40 13,75 1,71 24,84 52,30 2 Bandung Barat 31 3.100.000 20,08 11,47 0,00 5,61 62,84 3 Bekasi 15 1.500.000 46,99 2,71 0,21 9,06 41,03 4 Bogor 23 2.300.000 49,23 7,95 0,00 17,71 25,11 5 Cianjur 101 10.100.000 20,40 5,61 2,46 2,67 68,86 6 Ciamis 23 2.300.000 22,07 5,33 24,68 1,63 46,29 7 Cirebon 34 3.400.000 73,69 2,99 11,03 0,59 11,70 8 Garut 28 2.800.000 15,01 5,90 11,06 2,25 65,78 9 Indramayu 28 2.800.000 45,98 1,07 0,36 4,68 47,91 10 Karawang 23 2.300.000 76,43 0,87 0,00 7,04 15,66 11 Kuningan 29 2.900.000 36,23 6,77 0,05 23,60 33,35 12 Majalengka 79 7.900.000 15,89 0,95 0,25 3,16 79,75 13 Purwakarta 15 1.500.000 20,08 5,75 1,22 11,63 61,32 14 Subang 57 5.700.000 48,27 6,29 9,92 1,52 34,00 15 Sukabumi 37 3.700.000 45,03 15,15 5,00 2,28 32,54 16 Sumedang 60 6.000.000 34,24 8,61 18,73 2,02 36,40 17 Tasikmalaya 58 5.800.000 17,92 16,38 1,38 41,36 22,96 18 Kota Banjar 6 600.000 42,59 8,44 11,45 1,21 36,31 19 Kota Cimahi 6 600.000 14,15 5,71 15,38 0,00 64,76 20 Kota Depok 8 800.000 25,27 25,49 7,88 0,00 41,36 21 Kota Sukabumi 2 200.000 27,15 11,38 13,93 0,00 47,54 22 Kota Tasikmalaya 11 1.100.000 74,28 4,88 6,81 0,00 14,03 Jumlah 702 70.200.000 778,38 173,45 143,51 162,86 − Rata-rata 32 3.213.636 35,38 7,88 6,52 7,40 42,81
Sumber: BPTP Jawa Barat (2013)
Untuk penyaluran dana BLM PUAP tahun 2010, jumlah Gapoktan yang menerima dana tersebut relatif lebih sedikit dari tahun 2009, yakni 686 Gapoktan berbanding 702 Gapoktan. Jumlah dana yang tersalur sebesar Rp. 68,6 milyar. Namun sebaran kabupatennya mencapai seluruh wilayah kabupaten di Provinsi Jawa Barat, yakni 24 Kabupaten. Pada tahun 2010, ada penambahan Gapoktan penerima dana BLM PUAP yakni di Kota Bogor (10 Gapoktan) dan Kota Cirebon (1 Gapoktan). Kabupaten paling banyak menerima dana BLM PUAP adalah Kabupaten Cianjur (Rp. 9,1 milyar) dan paling sedikit yaitu Kota Cirebon (Rp. 100 juta).
Alokasi penggunaan dana BLM PUAP, polanya hampir sama dengan tahun 2008 dan 2009 yaitu masih didominasi oleh sub sektor tanaman pangan sebesar 30,452%, diikuti oleh usaha hortikultura 9,507, Perkebunan 1,311%, sub sektor Peternakan 16,078% dan off-farm 41,612%. Penyebaran dana BLM PUAP per sub sektor pada Gapoktan tahun 2010 disajikan pada Tabel 12.
Jumlah Gapoktan yang menerima dana BLM PUAP tahun 2011, bertambah delapan Gapoktan, relatif lebih banyak dari tahun 2010 Penambahan penerima dana ini terjadi pada Kota Bogor dan Kota Cirebon. Distribusi dana BLM PUAP terbesar yakni Kabupaten Cirebon dan Kabupaten Subang,
masing-55 masing berjumlah Rp. 72 milyar, sedangkan distribusi dana terkecil yakni Kota Depok sebesar Rp. 100 juta.
Tabel 12. Penyebaran penerima dana bantuan langsung masyarakat puap tahun 2010 per sub sektor
No. Kabupaten/ Kota
Jumlah Desa/ Gap. Realisasi BLM PUAP (RP.- 000)
Realisasi Dana PUAP (%) Tan.
Pangan Horti Kebun Ternak
Off Farm 1 Bandung 53 5.300.000 21,27 11,41 1,56 26,06 39,70 2 Bandung Barat 34 3.400.000 21,14 15,06 0,46 10,38 52,97 3 Bekasi 21 2.100.000 55,90 4,49 1,11 9,21 29,29 4 Bogor 26 2.600.000 38,80 15,11 0,50 27,38 18,22 5 Cianjur 91 9.100.000 17,70 6,88 0,77 6,50 68,16 6 Ciamis 18 1.800.000 38,16 4,09 0,64 32,04 25,07 7 Cirebon 58 5.800.000 45,34 6,89 1,67 24,31 21,79 8 Garut 58 5.800.000 18,41 10,59 2,88 13,33 54,80 9 Indramayu 22 2.200.000 55,05 4,73 0,00 9,75 30,48 10 Karawang 25 2.500.000 56,67 12,22 0,00 1,83 29,28 11 Kuningan 19 1.900.000 37,22 3,34 1,03 38,19 20,22 12 Majalengka 33 3.300.000 45,00 17,00 10,00 20,00 8,00 13 Purwakarta 35 3.500.000 27,73 7,07 0,54 19,11 45,55 14 Subang 44 4.400.000 27,73 7,07 0,54 19,11 45,55 15 Sukabumi 14 1.400.000 29,69 9,76 2,58 3,41 54,56 16 Sumedang 50 5.000.000 38,19 10,74 3,96 20,70 26,41 17 Tasikmalaya 40 4.000.000 30,00 12,00 10,00 10,00 38,00 18 Kota Banjar 7 700.000 41,83 2,55 8,32 14,47 32,82 19 Kota Bogor 10 1.000.000 19,28 9,78 1,00 25,81 44,14 20 Kota Cirebon 1 100.000 0,00 0,00 0,00 0,00 100 21 Kota Cimahi 6 600.000 5,33 4,00 0,00 12,46 78,21 22 Kota Depok 2 200.000 5,00 48,00 0,00 7,50 39,50 23 Kota Sukabumi 6 600.000 39,07 5,86 0,00 16,10 38,97 24 Kota Tasikmalaya 13 1.300.000 30,00 14,00 2,00 5,00 49,00 Jumlah 686 68.600.000 739,49 240,64 49,54 377,64 − Rata-rata 29 2.862.500 30,81 10,03 2,06 15,74 41,36
Sumber: BPTP Jawa Barat (2013)
Alokasi penggunaan dana BLM PUAP tahun 2011, masih didominasi oleh sub sektor tanaman pangan sebesar 31,35%, diikuti oleh usaha hortikultura 10,15%, Perkebunan 2,07%, sub sektor Peternakan 15,32%., dan off-farm 41,11%. Sebaran penggunaan dana PUAP Tahun 2011 disajikan pada Tabel 13.
Pada tahun 2012, jumlah Gapoktan yang menerima BLM PUAP tercatat 641 desa di 21 wilayah kabupaten/kota. Jumlah penerima dana BLM tahun 2012 relatif lebih sedikit dibanding tiga tahun sebelumnya, yakni 641 Gapoktan berbanding 702 Gapoktan di tahun 2009, 686 Gapoktan di tahun 2010, dan 694 Gapoktan di tahun 2011. Namun masih lebih banyak jika dibanding tahun 2008 (621 Gapoktan) dan tahun 2013 (269 Gapoktan).
Dana yang disalurkan pada tahun 2012 sebesar Rp. 64,1 milyar. Distribusi tiap wilayah kabupaten berkisar antara Rp. 700 juta hingga Rp. 74 milyar. Tiga wilayah yang paling banyak menerima dana BLM PUAP adalah Kabupaten Ciamis (Rp. 74 milyar), diikuti Kabupaten Kuningan (Rp. 65 milyar) dan Kabupaten Cirebon (Rp. 62 milyar). Sedangkan wilayah yang paling sedikit menerima dana BLM PUAP adalah Kota Cirebon dan Kota Sukabumi, masing-masing menerima dana sebesar Rp. 700 juta rupiah.
56
Tabel 13. Penyebaran penerima dana bantuan langsung masyarakat puap tahun 2011 per sub sektor
No, Kabupaten/ Kota Jumlah Desa/ Gap.
Realisasi BLM PUAP
(RP,- 000)
Realisasi Dana PUAP (%) Tan,
Pangan Horti Kebun Ternak Farm Off
1 Bandung 41 4.100.000 23,27 11,41 1,56 26,06 37,7 2 Bandung Barat 22 2.200.000 21,14 15,06 0,46 10,38 52,97 3 Bekasi 13 1.300.000 55,9 4,49 1,11 9,21 29,29 4 Bogor 25 2.500.000 40,8 15,11 0,5 25,38 18,22 5 Cianjur 70 7.000.000 17,7 6,88 0,77 6,5 68,16 6 Ciamis 53 5.300.000 40,16 4,09 0,64 30,04 25,07 7 Cirebon 72 7.200.000 46,34 6,89 1,67 23,31 21,79 8 Garut 26 2.600.000 18,41 10,59 2,88 13,33 54,8 9 Indramayu 29 2.900.000 55,05 4,73 0 9,75 30,48 10 Karawang 36 3.600.000 58,67 10,22 0 1,83 29,28 11 Kuningan 38 3.800.000 37,22 3,34 1,03 38,19 20,22 12 Majalengka 36 3.600.000 40,00 15,00 10,00 25,00 10,00 13 Purwakarta 22 2.200.000 27,73 7,07 0,54 19,11 45,55 14 Subang 72 7.200.000 27,73 7,07 0,54 19,11 45,55 15 Sukabumi 28 2.800.000 29,69 9,76 2,58 3,41 54,56 16 Sumedang 24 2.400.000 38,19 12,74 3,96 20,7 24,41 17 Tasikmalaya 42 4.200.000 30,00 12,00 10,00 10,00 38,00 18 Kota Banjar 6 600.000 41,83 2,55 8,32 14,47 32,82 19 Kota Bogor 11 1.100.000 23,28 12,78 1 20,81 42,14 20 Kota Cirebon 7 700.000 0 0 0 0 100 21 Kota Cimahi 2 200.000 5,33 4 0 12,46 78,21 22 Kota Depok 1 100.000 5,00 48,00 0 7,50 39,50 23 Kota Sukabumi 1 100.000 39,07 5,86 0 16,1 38,97 24 Kota Tasikmalaya 17 1.700.000 30,00 14,00 2,00 5,00 49,00 Jumlah 694 69.400.000 752,51 243,64 49,56 367,65 - Rata-rata 54,5 5,383,238 31,35 10,15 2,07 15,32 41,11 Sumber: BPTP Jawa Barat (2013)
Seperti halnya terjadi pada empat tahun sebelumnya, dana BLM PUAP yang didistribusikan tahun 2012, pemanfaatannya masih didominasi oleh sub sektor tanaman pangan yakni sebesar 29,43%, diikuti oleh usaha hortikultura 8,05%, Perkebunan 1,84%, dan Peternakan 13,97%. Sementara untuk sub sektor off-farm semebsar 34,22%. Sebaran penggunaan dana PUAP Tahun 2012 disajikan pada Tabel 14.
Jumlah Gapoktan yang menerima dana BLM PUAP tahun 2013 jumlahnya paling sedikit dibanding tahun-tahun sebelumnya, yakni hanya berjumlah 269 Gapoktan. Hal ini mengindikasi bahwa desa yang masuk dalam kategori desa miskin di Provinsi Jawa Barat, sudah mulai habis dengan kata lain sudah terbagi semua. Terlihat dari lima wilayah yakni Kota Banjar, Kota Cimahi, Kota Depok, Kota Sukabumi, dan Kota Tasikmalaya sudah tidak mendapatkan alokasi dana BLM PUAP tahun 2013, artinya di lima kabupaten tersebut, desa miskin sudah tidak ada. Sehingga dari 24 kabupaten lingkup Jawa Barat, pada tahun 2013, wilayah yang mendapatkan dana BLM PUAP berjumlah 19 kabupaten/kota.
Distribusi tiap wilayah kabupaten berkisar antara Rp. 300 juta hingga Rp. 35 milyar. Kabupaten paling banyak menerima dana BLM PUAP adalah Kabupaten Indramayu dan Purwakarta, masing-masing menerima Rp. 35 milyar. Sedangkan yang paling sedikit yaitu Kabupaten Subang dan Kota Bogor, masing-masing menerima Rp. 300 juta.
57 Tabel 14. Penyebaran penerima dana bantuan langsung masyarakat puap tahun
2012 per sub sektor
No. Kabupaten/ Kota Jumlah Desa/ Gap.
Realisasi BLM PUAP
(RP.- 000)
Realisasi Dana PUAP (%) Tan.
Pangan Horti Kebun Ternak Farm Off
1 Bandung 48 4.800.000 26,27 14,41 1,56 23,06 34,70 2 Bandung Barat 12 1.200.000 28,14 17,06 0,46 8,38 45,97 3 Bekasi 15 1.500.000 59,90 6,49 2,11 8,21 23,29 4 Bogor 47 4.700.000 41,80 15,11 2,50 25,38 15,22 5 Cianjur 14 1.400.000 17,70 6,88 0,77 6,50 68,16 6 Ciamis 74 7.400.000 38,16 4,09 0,64 32,04 25,07 7 Cirebon 62 6.200.000 45,34 6,89 1,67 24,31 21,79 8 Garut 52 5.200.000 18,41 10,59 2,88 13,33 54,80 9 Indramayu 60 6.000.000 55,05 4,73 0,00 9,75 30,48 10 Karawang 36 3.600.000 56,67 12,22 0,00 1,83 29,28 11 Kuningan 65 6.500.000 37,22 3,34 1,03 38,19 20,22 12 Majalengka 25 2.500.000 40,00 15,00 10,00 25,00 10,00 13 Purwakarta 29 2.900.000 27,73 7,07 0,54 19,11 45,55 14 Subang 6 600.000 27,73 7,07 0,54 19,11 45,55 15 Sukabumi 29 2.900.000 29,69 9,76 2,58 3,41 54,56 16 Sumedang 13 1.300.000 38,19 10,74 3,96 20,70 26,41 17 Tasikmalaya 16 1.600.000 30,00 12,00 10,00 10,00 38,00 18 Kota Bogor 8 800.000 19,28 9,78 1,00 25,81 44,14 19 Kota Cirebon 7 700.000 0,00 0,00 0,00 0,00 100 20 Kota Sukabumi 7 700.000 39,07 5,86 0,00 16,10 38,97 21 Kota Tasikmalaya 16 1.600.000 30,00 14,00 2,00 5,00 49,00 Jumlah 641 64,100,000 706,35 193,09 44,24 335,22 - Rata-rata 30,52 2.670.833 29,43 8,05 1,84 13,97 34,22 Sumber: BPTP Jawa Barat (2013)
Untuk Alokasi dana BLM PUAP tahun 2013, sebaran penggunaan dana terbesar masih untuk pembiayaan sub sektor tanaman pangan, yakni sebesar 28,60%, diikuti oleh usaha hortikultura 8,09%, Perkebunan 2,09%, Peternakan 13,01%., dan off-farm 27,38%. Sebaran penggunaan dana PUAP Tahun 2013 disajikan pada Tabel 15.
Tidak semua Gapoktan mengalami peningkatan dana, tergantung permasalahan yang timbul dan cara mengatasinya. Gapoktan mendapatkan dana BLM PUAP dalam pelaksanaannya menghadapi banyak permasalahan, baik berasal dari internal maupun eksternal Gapoktan; diantaranya sebagai berikut: (a) masih banyak anggota Gapoktan beranggapan, bahwa BLM PUAP identik dengan Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang tidak dikembalikan, (b) beberapa SDM Gapoktan kurang memadai dalam pengelolaan BLM PUAP, (c) aksesbilitas wilayah kerja PMT dan Penyuluh pendamping (PP) relatif rendah, tidak seimbang dengan luas wilayah dan jumlah Gapoktan binaannya, (d) terbatasnya dana untuk mendukung pelaksanaan rapat Koordinasi PUAP secara berkala, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota. Untuk melihat kinerja Gapoktan dalam mengelola dana BLM PUAP, perkembangan jumlah petani yang menerima, dan adopsi teknologi perlu dibandingkan antara Gapoktan berhasil dan kurang berhasil.
58
Tabel 15. Penyebaran penerima dana bantuan langsung masyarakat puap tahun 2013 per sub sektor
No. Kabupaten/ Kota Jumlah Desa/ Gap.
Realisasi BLM PUAP
(RP.- 000)
Realisasi Dana PUAP (%) Tan.
Pangan Horti Kebun Ternak Farm Off
1 Bandung 22 2.200.000 29,27 18,41 1,56 20,06 30,70 2 Bandung Barat 7 700.000 33,14 20,06 0,46 8,38 37,97 3 Bekasi 8 800.000 59,90 7,49 3,11 7,21 22,29 4 Bogor 21 2.100.000 44,80 16,11 2,50 22,38 14,22 5 Cianjur 10 1.000.000 22,70 8,88 2,77 9,50 56,16 6 Ciamis 7 700.000 40,16 6,09 1,64 32,04 20,07 7 Cirebon 15 1.500.000 45,34 6,89 1,67 24,31 21,79 8 Garut 23 2.300.000 21,41 12,59 2,88 16,33 46,80 9 Indramayu 35 3.500.000 57,05 6,73 0,00 9,75 26,48 10 Karawang 14 1.400.000 56,67 12,22 0,00 1,83 29,28 11 Kuningan 12 1.200.000 39,22 3,34 4,03 36,19 17,22 12 Majalengka 9 900.000 45,00 12,00 8,00 27,00 8,00 13 Purwakarta 35 3.500.000 32,73 7,07 2,54 19,11 38,55 14 Subang 3 300.000 35,73 10,07 1,54 18,11 34,55 15 Sukabumi 16 1.600.000 35,69 13,76 2,58 3,41 44,56 16 Sumedang 5 500.000 38,19 10,74 3,96 20,70 26,41 17 Tasikmalaya 17 1.700.000 30,00 12,00 10,00 10,00 38,00 18 Kota Bogor 3 300.000 19,28 9,78 1,00 25,81 44,14 19 Kota Cirebon 7 700.000 0,00 0,00 0,00 0,00 100 Jumlah 269 26.900.000 686,28 194,23 50,24 312,12 - Rata-rata 11.21 1.120.833 28,60 8,09 2,09 13,01 27,38 Sumber: BPTP Jawa Barat (2013)
Perspektif Pemanfaatan Dana BLM PUAP