• Tidak ada hasil yang ditemukan

Gambaran Umum Budidaya Tanaman Paludikultur

Dalam dokumen LAPORAN TIM PELAKSANA (Halaman 125-131)

V. Analisis Profitabilitas dan Keekonomian Tanaman Paludikultur

5.2. Analisis Profitabilitas dan Keekonomian Komoditas Paludikultur

5.2.4. Hasil Analisis

5.2.4.1. Gambaran Umum Budidaya Tanaman Paludikultur

Jelutung rawa dapat dikembangkan dengan pola Perhutanan Sosial (hutan rakyat, hutan kemasyarakatan), HTI, campuran dengan kelapa sawit, atau tumpangsari dengan tanaman pertanian dan kolam (Agrosilvofishery) untuk memperoleh hasil getah, kayu dan pemulihan fungsi lingkungan suatu wilayah (Bastoni, 2014). Budidaya tanaman jelutung di lahan gambut mulai dari pembibitan, persiapan lahan, penanaman dan pemeliharaan serta perlindungan. Jelutung Rawa (Dyera lowii) sesuai ditanam pada lahan rawa gambut dan lahan rawa bergambut, seperti di :

- Kawasan hutan produksi bekas tebangan & kebakaran - Zona penyanggah kawasan konservasi

- Areal konservasi, pohon kehidupandanpohon unggulan pada HTI rawa

- Lahan usaha transmigrasi daerah rawa yang kurang sesuai untuk tanaman pangan dan lahan rawa tidak produktif milik masyarakat.

a. Pembibitan Jelutung

Penyapihan bibit dilakukan pada persemaian permanen atau semi permanen yang dinaungi paranet dengan intensitas naungan 50 –75 persen. Polibag yang dapat digunakan untuk penyapihan bibit berukuran 15 cm x 10cm atau lebih besar tergantung lama waktu pindah tanam (transplanting) ke lapangan. Kriteria bibit siap tanam: tinggi minimal 25 cm, diameter minimal 0,5 cm, jumlah daun minimal 8 helai, batang lurus, perakaran sudah menyatu dengan media. Umur bibit siap tanam tergantung dari cara pembibitannya. Pada pembibitan manual (tanpa genangan) bibit siap tanam 8 –10 bulan setelah sapih. Pembibitan dengan teknik genangan buatan setinggi 30% dari tinggi polibag, bibit siap tanam 4 –6 bulan setelah sapih dan konsumsi air 28 kali lebih hemat daripada pembibitan manual.

b. Penyiapan Lahan Jelutung

Jelutung rawa termasuk jenis pohon yang membutuhkan cahaya penuh untuk pertumbuhannya dan jenis ini cocok ditanam pada hutan rawa gambut yang terbuka, seperti areal bekas tebangan dan kebakaran. Pada areal terbuka bekas kebakaran,

Kajian Profitabilitas dan Keekonomian Komoditi Ramah Gambut Kab. OKI 112

penyiapan lahan dilakukan dengan sistem jalur, lebar jalur 1,0–2,0 m dan jarak antar jalur 5 m, jarak tanam yang dapat digunakan 5mx 5 m, 5 m x 4 m, atau 5 m x 3 m. Setelah pembuatan jalur dilakukan pemasangan ajir dan pembuatan gundukan gambut, khusus untuk lahan gambut yang belum didrainase. Tujuannya untuk mengumpulkan massa tanah sebagaitempat berjangkarnya perakaran tanaman dan meninggikan bagian tanah agar bibit tidak terendam air. Tinggi gundukan minimal 50% dari tinggi genangan air pada puncak musim hujan.Pembuatan gundukan pada lahan rawa gambut disajikan pada Gambar 9. Pada areal terbuka bekas tebangan, untuk tanaman pengayaan, penyiapan lahan dilakukan dengan sistem jalur, lebar jalur 1-2m dan jarak antar jalur 10 m, jarak tanam 10m x 5m.

c. Penanaman dan Pemeliharaan

Sebelum penanaman, bibit diadaptasikan di tempat terbuka selama 1 bulan dengan cara pembukaan paranet di persemaian.Penanaman dilakukan pada awal musim hujan (Oktober-November) sebelum genangan air rawa tinggi, dan tinggi bibit perlu disesuaikan dengan tinggi genangan air. Tinggi bibit minimal sepertiga lebih tinggi dari genangan air pada puncak musim hujan. Pemeliharaan tanaman dilakukan minimal sampai umur 3 tahun, berupa pembebasan tumbuhan bawah dan pemupukan.Pada tahun pertama pembebasan tumbuhan bawah dilakukan minimal 3 kali. Pada tahun kedua dan ketiga pembebasan tumbuhan bawah dilakukan masing-masing 2 kali. Pemupukan dilakukan sebanyak 2 kali pada awal dan akhir musim hujan sampai tanaman berumur 3 tahun. Pupuk yang digunakan NPK tablet dengan dosis 20 -30 gram (2 –3 tablet) per tanaman setiap periode pemupukan.

d. Penyadapan Getah Jelutung

Pohon jelutung rawa dapat mulai disadap getahnya jika diameter pohon berukuran > 15 cm. Dengan riap diameter 2,0 –2,5 cm/tahun maka pada umur pohon 6 –7 tahun, pohon jelutung dapat mulai disadap. Makin besar ukuran diameter pohon akan makin baik karena getah yang dihasilkan akan lebih banyak dan kerusakan pohon akan dapat diminimalkan.

e. Pemanenan Kayu Jelutung

Kayu Jelutung dapat dipanen pada saat usia tanaman 30 tahun. Kayu jelutung dapat digunakan untuk kayu pertukangan.

2) Gambaran Budidaya Tanaman Meranti

Meranti merupakan salah satu kayu komersial yang sudah banyak dikenal oleh berbagai negara Asia Tenggara dengan berbagai nama perdagangan, terutama jenis meranti merah (Shorea spp). Meranti merah termasuk jenis endemik di Indonesia di antaranya yang terancam punah yaitu S. Leprosula (Kalimantan), S. Ovalis

Kajian Profitabilitas dan Keekonomian Komoditi Ramah Gambut Kab. OKI 113

(Kalimantan) dan S. selanica (Maluku) yang masuk ke dalam daftar merah IUCN (Ashton 2011).

a. Penyapihan dan Pembibitan

Apabila benih meranti yang disemai telah berkecambah dan memiliki dua pasang daun, maka siap disapih. Penyapihan bibit dapat dilakukan dengan memindahkan bibit dari bedeng semai atau bak semai ke kantong plastik. Bibit dipelihara di persemaian hingga mencapai tinggi 30-50 cm, atau kurang lebih 2-3 bulan. Setelah itu, bibit siap ditanam di lapangan.

b. Penanaman

Bibit meranti ditanam pada musim hujan. Tahap-tahap penanamannya adalah sebagai berikut: Buat lubang tanam berukuran 30cm x 30cm x 20cm, mengikuti ajir. Lepaskan kantong plastik dengan hati-hati agar tidak merusak perakaran. Tanam bibit ke dalam lubang tanam, dan timbun dengan tanah kembali. Setiap lubang ditanami dengan satu bibit meranti.

c. Pemeliharaan

Pemeliharaan meranti dilakukan sampai sebelum tanaman akan dipanen kayunya yaitu minimal 10 tahun. Pada tahun pertama pembebasan tumbuhan bawah dilakukan minimal 3 kali. Pada tahun kedua hingga tahun sebelum panen kayu, pembebasan tumbuhan bawah dilakukan masing-masing 2 kali. Pemupukan dilakukan sebanyak 2 kali pada awal dan akhir musim hujan sampai tanaman berumur 3 tahun. Pupuk yang digunakan NPK, Urea dan Dolomit.

d. Panen Kayu

Pemanenan kayu atau penebangan kayu meranti dapat dilakukan ketika umur tanaman sudah 10 tahun, ada juga yang menebang kayunya ketika umur 15 tahun. Penjarangan kayu meranti dilakukan ketika umur 8 tahun. Dengan perkiraan diameter tumbuh 2,82 cm per tahun dan tinggi 131cm per tahun.

3) Gambaran Budidaya Tanaman Nanas

Prospek pengembangan nanas cukup besar, terutama setelah Hawaii yang selama ini dikenal sebagai produsen nanas kalengan mulai mengalihkan perhatiannya keindustri pariwisata. Peluang ini mulai ditangkap oleh negara-negara di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Permintaan pasar dalam negeri terhadap buah nanas cenderung terus meningkat sejalan dengan pertumbuhan penduduk, makin baiknya pendapatan masyarakat. Tanaman nanas dapat tumbuh dan beradaptasi baik didaerah tropis yang terletak antara 25° Lintang Utara sampai 25° Lintang Selatan dengan

Kajian Profitabilitas dan Keekonomian Komoditi Ramah Gambut Kab. OKI 114

ketinggian tempat100 m–800 m dari permukaan laut dan temperatur antara 21°C – 27°C. Tanaman akan berhenti tumbuh bila temperatur terletak antara 10° C –16°C. Bila temperatur di atas 37°C, maka tanaman akan mengalami luka-luka karena transpirasi dan respirasi yang berlebihan (Hadiati dan Indriyani, 2008 ).

Tanaman nanas membutuhkan tanah yang gembur dan kaya akan bahan organik, sehingga sesuai ditanam di lahan gambut. Disamping itu, tanaman nanas juga membutuhkan curah hujan yang merata sepanjang tahun dengan suhu optimum 32°C (Rukmana, 1996; Nurhayati, 2014). Tanaman nanas sangat toleran terhadap tingkat keasaman tanah yang cukup tinggi dibandingkan dengan tanaman hortikultura lain. Pada tanah pH 3,0 nanas tumbuh dan berproduksi dengan baik, padahal tanaman lain pasti mendapat gangguan pertumbuhan dan hasil(Litbangtan).Kondisi tersebut menjadikan nanas sebagai salah satu tanaman hortikultura yang sangat cocok dibudidayakan pada areal lahan gambut yang umumnya bersifat sangat asam atau ph rendah. Bahkan beberapa pihak berpendapat bahwa nanas yang dibudidayakan pada lahan gambut relatif lebih manis rasa buahnya dibandingkan nanas yang dibudidayakan pada lahan non gambut.

a. Pembibitan

Keberhasilan penanaman nanas sangat ditentukan oleh kualitas bibit. Nanas dapat dikembangbiakan dengan cara vegetatif dan generatif. Cara vegetatif digunakan adalah tunas akar, tunas batang, tunas buah, mahkota buah dan stek batang. Cara generatif dengan biji yang ditumbuhkan dengan persemaian, (jarang digunakan). Kualitas bibit yang baik harus berasal dari tanaman yang pertumbuhannya normal, sehat serta bebas dari hama dan penyakit. Pemeliharaan pembibitan/persemaian penyiraman dilakukan secara berkala dijaga agar kondisi media tanam selalu lembab dan tidak kering supaya bibit tidak mati. Pemupukan dilakukan dengan pemberian pupuk kandang dengan perbandingan kadar yang sudah ditentukan. Penjarangan dan pemberian pestisida dapat dilakukan jika diperlukan. Pemindahan bibit dapat dilakukan jika ukuran tinggi bibit mencapai 25-30 cm atau berumur 3-5 bulan.

b. Persiapan Lahan

Penanaman nanas dapat dilakukan pada lahan tegalan atau ladang. Waktu persiapan dan pembukaan lahan yangpaling baik adalah disaat waktu musim kemarau, dengan membuang pepohonan yang tidak diperlukan. Pengolahan tanah dapat dilakukan pada awal musim hujan. Derajat keasaman tanah perlu diperhatikan karena tanaman nanas dapat tumbuh dengan baik pada pH sekitar 5,5. Jumlah bibit yang diperlukan untuk suatu lahan tergantung dari jenis nanas, tingkat kesuburan tanah dan ekologi pertumbuhannya.

Kajian Profitabilitas dan Keekonomian Komoditi Ramah Gambut Kab. OKI 115

Penanaman yang baik dilakukan pada awal musim hujan. Langkah-langkah yang dilakukan: (1) membuat lubang tanam sesuai dengan jarak dan sistem tanam yang dipilih; (2) mengambil bibit nanas sehat dan baik dan menanam bibit pada lubang tanam yang tersedia masing-masing satu bibit per lubang tanam; (3) tanah ditekan/dipadatkan di sekitar pangkal batang bibit nanas agar tidak mudahroboh dan akar tanaman dapat kontak langsung dengan air tanah; (4) dilakukan penyiraman hingga tanah lembab dan basah; (5) penanaman bibit nanas jangan terlalu dalam, 3-5 cm bagian pangkal batang tertimbun tanah agar bibit mudah busuk.

d. Pemeliharaan

Pemupukan dilakukan setelah tanaman berumur 2-3 bulan dengan pupuk buatan. Pemupukan susulan berikutnya diulang tiap 3-4 bulan sekali sampai tanaman berbunga dan berbuah. Sekalipun tanaman nanas tahan terhadap iklim kering, namun untuk pertumbuhan tanaman yang optimal diperlukan air yan cukup. Pengairan /penyiraman dilakukan 1-2 kali dalam seminggu atau tergantung keadaan cuaca. Tanaman nanas dewasa masih perlu pengairan untuk merangsang pembungaan dan pembuahan secara optimal. Pengairan dilakukan 2 minggu sekali. Tanah yang terlalu kering dapat menyebabkan pertumbuhan nanas kerdil dan buahnya kecil-kecil. Waktu pengairan yang paling baik adalah sore dan pagi hari dengan menggunakan mesin penyemprot atau embrat.

e. Panen

Panen buah nanas dilakukan setelah nanas berumur 12-24 bulan, tergantung dari jenis bibit yang digunakan. Bibit yang berasal dari mahkota bunga berbuah pada umur 24 bulan, hingga panen buah setelah berumur 24 bulan. Tanaman yang berasal dari tunas batang dipanen setelah umur 18 bulan, sedangkan tunas akar setelah berumur 12 bulan. Ciri-ciri buah nanas yang siap dipanen:

- Mahkota buah terbuka. - Tangkai ubah mengkerut.

- Mata buah lebih mendatar, besar dan bentuknya bulat. - Warna bagian dasar buah kuning.

- Timbul aroma nanas yang harum dan khas. 4) Gambaran Budidaya Cabe

Tanaman cabai merupakan salah satu sayuran buah yang memiliki peluang bisnis yang baik. Besarnya kebutuhan dalam negeri maupun luar negeri menjadikan cabai sebagai komoditas menjanjikan. Permintaan cabai yang tinggi untuk kebutuhan bumbu masakan, industri makanan, dan obat-obatan merupakan potensi untuk meraup keuntungan. Tidak heran jika cabai merupakan komoditas hortikultura yang mengalami fluktuasi harga paling tinggi di Indonesia. Harga cabaiyang tinggi

Kajian Profitabilitas dan Keekonomian Komoditi Ramah Gambut Kab. OKI 116

memberikan keuntungan yang tinggi pula bagi petani. Keuntungan yang diperoleh dari budidaya cabai umumnya lebih tinggi dibandingkan dengan budidaya sayuran lain. Cabai pun kini mnejadi komoditas ekspor yang menjanjikan. Namun, banyak kendala yang dihadapi petani dalam berbudidaya cabai. Salah satunya adalah hama dan penyakit seperti kutu kebul, antraknosa, dan busuk buah yang menyebabkan gagal panen. Selain itu, produktivitas buah yang rendah dan waktu panen yang lama tentunya akan memperkecil rasio keuntungan petani cabai. Menurut Rizqi (2010), teknik budidaya cabe terdiri dari :

a. Pengadaan Benih

Pengadaan benih dapat dilakukan dengan cara membuat sendiri atau membeli benih yang telah siap tanam. Pengadaan benih dengan cara menbeli akan lebih praktis, petani tinggal menggunakan tanpa jerih payah. Sedangkan pengadaan benih dengan cara membuat sendiri cukup rumit. Di samping itu, mutunya belum tentu terjamin baik. Keberhasilan produksi cabai merah sangat dipengaruhi oleh kualitas benih yang dapat dicerminkan oleh tingginya produksi, ketahanan terhadap hama dan penyakit serta tingkat adaptasi iklim. Biji benih lebih baik membeli dari distributor atau kios yang sudah dipercaya dan dapat dipertanggungjawabkan kemurnian dan daya kecambahnya.

b. Persiapan Lahan

Sebelum menanam cabai, hendaknya tanah digaap terebuh dahulu, agar tanah-tanah yang padat bisa menjadi longgar sehingga pertukaran udara dalam tanah membaik oksigen dapat masuk kedalam tanah, gas yang dapat meracuni akar tanaman akan teroksidasi dan asam-asam dapat keluar dari tanah. Melonggarkan tanah akan memberikan ruang bagi akar untuk bebas menyerap zat-zat makanan di dalamnya. c. Penanaman

Bibit cabai dipersemaian yang telah berumur 15–17 hari atau telah memiliki 3 atau 4 daun, siap dipindah tanam pada lahan. Semprot bibit dengan fungisida dan insektisida 1–3 hari sebelum dipindahtanamkan untuk mencegah serangan penyakit jamur dan hama sesaat setelah pindah tanam. Penanaman sebaiknya dilakukan pada sore hari atau pada saat cuaca tidak terlalu panas, dengan cara merobek kantong semai dan diusahakan media tidak pecah dan langsung dimasukkan pada lubang tanam (Dermawan, 2010).

d. Pemeliharaan

Bibit atau tanaman yang mati harus disulam atau diganti dengan sisa bibit yang ada. Penyulaman dilakukan pagi atau sore hari, sebaiknya minggu pertama dan minggu kedua setelah tanam. Semua jenis tumbuhan pengganggu (gulma)

Kajian Profitabilitas dan Keekonomian Komoditi Ramah Gambut Kab. OKI 117

disingkirkan dari lahan bedengan tanah yang tidak tertutup mulsa. Tanah yang terkikis air atau longsor dari bedeng dinaikkan kembali, dilakukan pembubunan (penimbunan kembali). Pemupukan diberikan 10-14 hari sekali. Pupuk daun yang sesuai misalnya Complesal special tonic. Untuk bunga dan buah dapat diberikan pupuk kemiral red pada umur 35 HST. Kegiatan pengairan atau penyiraman dilakukan pada saat musim kering. Penyiraman dengan kocoran diterapakn jika tanaman sudah kuat. Sistem terbaik dengan melakukan penggenangan dua minggu sekali sehingga air dapat meresap ke perakaran.

e. Panen dan Pasca Panen

Pemanenan tanaman cabai menurut adalah pada saat tanaman cabai berumur 75

– 85 hst yang ditandai dengan buahnya yang padat dan warna merah menyala, buah

cabai siap dilakukan pemanenan pertama. Umur panen cabai tergantung varietas yang digunakan, lokasi penanaman dan kombinasi pemupukan yang digunakan serta kesehatan tanaman. Tanaman cabai dapat dipanen setiap 2 – 5 hari sekali tergantung dari luas penanaman dan kondisi pasar.

Pemanenan dilakukan dengan cara memetik buah beserta tangkainya yang bertujuan agar cabai dapat disimpan lebih lama. Buah cabai yang rusak akibat hama atau penyakit harus tetap di panen agar tidak menjadi sumber penyakit bagi tanaman cabai sehat. Pisahkan buah cabai yang rusak dari buah cabai yang sehat. Waktu panen sebaiknya dilakukan pada pagi hari karena bobot buah dalam keadaan optimal akibat penimbunan zat pada malam hari dan belum terjadi penguapan.

Penanganan pasca panen tanaman cabai adalah hasil panen yang telah dipisahkan antara cabai yang sehat dan yang rusak, selanjutnya dikumpulkan di tempat yang sejuk atau teduh sehingga cabai tetap segar .Untuk mendapatkan harga yang lebih baik, hasil panen dikelompokkan berdasarkan standar kualitas permintaan pasar seperti untuk supermarket, pasar lokal maupun pasar eksport. Setelah buah cabai dikelompokkan berdasarkan kelasnya, maka pengemasan perlu dilakukan untuk melindungi buah cabai dari kerusakan selama dalam pengangkutan. Kemasan dapat dibuat dari berbagai bahan dengan memberikan ventilasi. Cabai siap didistribusikan ke konsumen yang membutuhkan cabai segar.

5.2.4.2. Pengembangan Model Paludikultur di Lahan Gambut Provinsi

Dalam dokumen LAPORAN TIM PELAKSANA (Halaman 125-131)