BAB IV. USULAN PROGRAM PERSIAPAN KATEKSE YANG
A. Gambaran Umum Katekese
1. Pengertian Katekese
Menurut Anjuran Paus Yohanes Peulus II tentang katekese masa kini
(Catechesi Tradendae):
Katekese adalah pembinaan anak-anak, kaum muda, dan orang dewasa dalam iman yang khususnya mencakup penyampaian ajaran Kristen, yang pada umumnya diberikan secara organis dan sistematis, dengan maksud mengantar para pendengar memasuki kepenuhan hidup Kristen” (CT, art. 18).
Dari pengertian di atas katekese merupakan suatu sarana
menumbuhkembangkan iman bagi masing-masing orang sesuai dengan
keadaannya. Katekese dimaksudkan untuk mengantar para pendengarnya
memasuki kepenuhan hidup dalam Kristus. Mengalami kepenuhan dalam Kristus
berarti orang hidup seperti Kristus, bersikap, dan berbuat seperti Kristus serta
berpikir seperti Kristus. Kristus yang hidup menampakkan dan mewartakan Kabar
Gembira Kerajaan Allah bagi setiap orang. kiranya orang Kristen pun berbuat
demikian bila telah mengalami kepenuhan hidup dalam Kristus.
Dalam terang Konsili Vatikan II juga, yang disesuaikan dengan situasi
konkret umat Indonesia, pertemuan Kateketik antarKeuskupan se-Indonesia thn.
1980 di Klender (Jawa Barat) menyepakati suatu rumusan katekese yakni
“Katekese Umat” yang diartikan sebagai Komunikasi Iman. Rumusan tersebut
Katekese Umat diartikan sebagai komunikasi atau tukar-menukar pengalaman iman (penghayatan iman) antara anggota jemaat atau kelompok. Melalui kesaksian peserta saling membantu sedemikian rupa, sehingga iman masing-masing diteguhkan dan dihayati secara semakin sempurna. Dalam ketekese umat tekanan terutama diletakan pada penghayatan iman, meskipun pengetahuan tidak dilupakan. Katekese Umat mengandaikan ada perencanaan (Huber, 1981).
Semakin jelas bahwa orang yang mengalami kepenuhan dalam Kristus
mampu berbagi pengalaman iman, memberi kesaksian iman yang hidup serta
mampu membawa kabar gembira bagi setiap orang. Melalui berbagai pengalaman
iman, saling membantu, dan meneguhkan satu-sama lain, mereka menunjukan
bahwa mereka bisa secara bersama-sama menghayati iman dan akhirnya
berkembang dalam iman. Dalam proses itu pula diharapkan mereka semakin
beriman pada Kristus dan sekaligus mendatangkan berkat bagi sesamanya.
2. Tujuan Katekese
Dalam kehidupan beriman, setiap orang dimungkinkan untuk berkembang
dan semakin dewasa dalam imannya. Orang yang berkembang dalam iman adalah
orang yang mampu memberi kesaksian tentang imannya akan Kristus dalam hidup
di tengah masyarakat. Seperti dikemukakan oleh Paus Yohanes Paulus II dalam
Anjuran Apostolik Catechesi Tradendae tujuan khas katekese adalah,
“Mengembangkan iman yang baru mulai tumbuh, dan dari hari ke hari
memekarkan menuju kepenuhannya serta semakin memantapkan perihidup
Kristen Umat beriman, muda maupun tua” (CT, art. 20). Jelaslah bahwa katekese
bertujuan untuk mendewasakan iman, memelihara, merawat, dan
dengan Kristus, sanggup membina hubungan secara personal dengan pribadi
Yesus, dengan kata lain hidup dala Yesus. Hubungan personal itu akan
menumbuhkan dan mendorong orang beriman untuk mengambil bagian dalam
tugas perutusan Yesus, yakni mewujudkan nilai-nilai Kerajaan Allah. Yang berani
ambil bagian dalam tugas perutusan Yesus adalah orang yang tahu persis tugas
perutusan Yesus tersebut. Hanya orang yang dewasa dalam ilmanlah yang mampu
mengenal dan mewujudkannya. Orang menjadi dewasa dalam iman juga tidak
terjadi secara tiba-tiba, melainkan melalui suatu proses yang bertahap. Bagian dari
proses itu adalah adanya pembinaan dan latihan yang terus-menerus. Katekese
sebagai salah satu usaha dalam pendewasaan iman tersebut, tidak cukup bila
dilakukan hanya sekali saja. Akan tetapi bermanfaatlah bila pertemuan katekese
dilakukan terus-menerus sehaingga dari hari ke hari semakin mengalami
kepenuhan dalam Kristus. Demikian juga semakin jelas tujuan katekese sebagai
komunikasi iman dalam konteks situasi Indonesia dirumuskan oleh PKKI II
(1980) seperti di bawah ini:
- Dalam terang injil kita semakin meresapi arti pengalaman-pengalaman kita sehari-hari.
- Kita bertobat kepada Allah dan semakin menyadari kehadiran-Nya dalam kenyataan sehari-hari.
- Kita semakin sempurna beriman, berharap, mengamalkan cinta kasih dan makin dikukuhkan hidup kristiani kita.
- Kita makin bersatu dengan Kristus, makin mengumat, dan makin tegas mewujudkan tugas Gereja.
- Akhirnya kita sanggup memberi kesaksian tentang Kristus dalam hidup kita di tengah masyarakat (Setyakarjana, 1997: 67).
Ternyata pengalaman hidup sehari-hari umat mempunyai arti dan makna.
Dengan diterangi oleh sabda Allah dalam pertemuan katekese kita dapat semakin
kehadiran Allah dan kita dapat bertemu dengan Allah yang terus-menerus hadir
dan menyapa kita. Menyadari hal itu kita pun berani dan mampu memberi
kesaksian hidup dan bahkan berani membantu saudara-saudara yang lain sehingga
bersama-sama dapat berkembang dalam iman akan Yesus Kristus. Di sini
katekese hendak mengembangkan pemahaman orang beriman terhadap misteri
Kristus, menumbuhkan kebanggaan dalam diri orang beriman sebagai orang
Kristen, dan sekaligus meneguhkan mereka untuk menghayati iman mereka dalam
hidup sehari-hari.
Tujuan katekese ini membantu seluruh umat untuk secara bersama-sama
menghayati iman dan berkembang bersama-sama pula meski dalam
pelaksanannya disesuaikan dengan situasi dan keadaan setempat di Keuskupan
masing-masing. Tetapi bahwa arah yang hendak ditempuh oleh katekese sudah
jelas.
3. Bentuk-Bentuk Katekese
Menurut Direktorium Katekese Umum, bentuk katekese beragam
tergantung kebutuhan. Ada katekese untuk anak, katekese untuk orang dewasa,
dan juga katekese bagi para katekumen yang mempersiapkan diri menerima
baptisan. Dengan demikian pelaksanaan katekese pun sangat bervariasi. Dengan
kata lain, katekese dapat dalam bentuk: “sistematik, vokasional, untuk perorangan
4. Sumber Katekese
Yang merupakan sumber katekese adalah Kitab Suci dan Tradisi Gereja.
Kedua sumber ini dipahami sebagai wahyu ilahi. Menurut Anjuran Apostolik
Catechesi Tradendae Paus Yohanes Paulus II mengatakan, “Katekese selalu akan
menggali isinya dari sumber hidup, yakni sabda Allah, yang disalurkan dalam
Tradisi dan Kitab Suci” (CT, art. 27). Kitab Suci dan Tradisi Gereja merupakan
harta kekayaan iman Gereja yang harus dipelihara dan diteruskan kepada generasi
yang akan datang. Harta kekayaan iman Gereja (Sabda Allah) ini perlu
didialogkan terus-menerus agar hidup jemaat diresapi dan dibentuk oleh-Nya dari
dalam. Kedua sumber ini juga dipercaya sebagai pembimbing yang mampu
mengarahkan jemaat dan membawa jemaat sampai kepada kedewasaan iman. Di
samping itu pengalaman hidup jemaat juga merupakan sumber katekese, karena
dalam pengalaman nyata sehari-hari Allah mewujudkan kehadiran-Nya. Hal ini
perlu disadari sehingga dapat menghayatinya. Dalam penghayatan itu diharapkan
jemaat dapat menemukan makna tradisi dalam hidup konkret.