BAB III. PANGGILAN DAN TANTANGAN MENJADI GURU AGAMA
B. Guru Agama Katolik yang Profesional
1. Guru
untuk meneliti. Banyak guru yang malas untuk meneliti di kelasnya sendiri
dan terjebak dalam rutinitas kerja sehingga potensi ilmiahnya tak muncul
kepermukaan. Banyak guru menganggap kalau meneliti itu sulit. Sehingga
karya tulis mereka dalam bidang penelitian tidak terlihat sama sekali.
2) Guru sekarang masih banyak yang belum sejahtera. Terlihat jelas dikotomi
antara guru berplat merah (Baca PNS) dan guru berplat hitam (baca Non
PNS). Banyak guru yang tak bertambah pengetahuannya karena tak
sanggup membeli buku. Boro-boro buat membeli buku, untuk biaya
hidupnya saja mereka sudah kembang kempis. Kenyataan di masyarakat
banyak pula guru yang tak sanggup menyekolahkan anaknya hingga ke
perguruan tinggi, karena kecilnya penghasilan yang didapatnya setiap
bulan. Dengan adanya sertifikasi guru dalam jabatan, semoga
kesejahteraan guru ini dapat terwujud. Biar bagaimanapun juga profesi
guru adalah pilar terpenting untuk kemajuan bangsa. Oleh karena itu sudah
sepantasnya apabila profesi ini lebih diperhatikan, terlebih
kesejahteraannya. Tetapi, jangan karena kesejahteraan kurang kemudian
yang meskipun kesejahteraannya kurang, tapi komitmen terhadap
pendidikan tetap tinggi. Sebaliknya berapa banyak guru yang gajinya
sudah tinggi tapi tetap ogah-ogahan mengajar. Semua ini berpulang
kembali pada mentalitas kita.
3) Ketakutan dan keminderan seorang guru dalam melakukan ekpresi
merupakan salah satu tumor pendidikan yang urgen untuk disembuhkan.
Seorang guru sudah seyogyanya yakin bahwa setiap guru tanpa terkecuali
dapat berinovasi dalam pembelajarannya; seorang guru seyogyanya yakin
bahwa perbuatan-perbuatan kecilnya yang teliti, semisal mencatat
perubahan tentang cara dan gaya mengajar setiap hari akan melahirkan
hasil yang besar; serta seorang guru seyogyanya untuk terbuka menerima
saran dan kritik dari guru lain, bila pola pembelajaran yang
disampaikannya sama seperti yang kemarin.
4) Tantangan bagi guru profresional dalam menghadapi globalisasi adalah
bagaimana guru yang mampu memberi bekal kepada peserta didik, selain
ilmu pengetahuan dan teknologi, juga menanamkan sikap disiplin, kreatif,
inovatif, dan kompetitif. Dengan demikian para siswa mempunyai bekal
yang memadai, tidak hanya dalam hal ilmu pengetahuan dan keterampilan
yang relevan tetapi juga memiliki karakter dan kepribadian yang kuat
sebagai bangsa Indonesia.
5) Guru belum mampu menguasai kurikulum yang lama, namun muncullah
kurikulum yang baru; dengan berkembangnya teknologi yang semakin
B. Guru Agama Katolik yang Profesional
Setiap orang yang ada di bumi ini yang ingin berkembang pastilah
membutuhkan bantuan guru. Mereka yang ingin berkembang itu mungkin tidak
sadar bahwa mereka membutuhkan jasa guru, baik yang melalui pendidikan
formal maupun yang tidak melalui pendidikan formal. Sejak manusia bergaul
telah ada usaha-usaha dari orang-orang yang lebih mampu dalam hal-hal tertentu
untuk mempengaruhi orang-orang lain dalam pergaulan mereka, untuk
kepentingan kemajuan orang yang bersangkutan (Sumadi, 1990: 1). Usaha untuk
mempengaruhi juga berlaku dan terjadi di dalam Gereja dalam menyampaikan
nilai-nilai Kerajaan Allah seperti yang dilakukan oleh Yesus, para rasul juga para
pengganti rasul dan orang lain yang mengemban tugas menyampaikan nilai-nilai
Kerajaan Allah. Tugas menyampaikan nilai Kerajaan Allah dilakukan oleh banyak
orang. Pewartaan tentang Kerajaan Allah merupakan suatu tugas yang dipandang
sangat penting oleh Gereja (CT, art. 1). Salah satu pihak yang melakukan hal itu
adalah para guru agama yang sebenarnya mempunyai tugas di sekolah namun
juga sering diminta terlibat di paroki.
1. Guru
Guru menurut penulis adalah seorang pengajar suatu ilmu. Dalam bahasa
Indonesia, guru umumnya merujuk pendidik professional dengan tugas utama
mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan
mengevaluasi peserta didik. Guru adalah pendidik dan pengajar
dasar, dan pendidikan menengah. Guru-guru seperti ini harus mempunyai
semacam kualifikasi formal. Dalam definisi yang lebih luas, setiap orang yang
mengajarkan suatu hal yang baru dapat juga dianggap seorang guru. Secara
formal, guru adalah seorang pengajar di sekolah negeri atau pun swasta yang
memiliki kemampuan berdasarkan latar belakang pendidikan formal minimal
berstatus sarjana, dan telah memiliki ketetapan hukum yang sah sebagai guru
berdasarkan undang-undang guru dan dosen yang berlaku di Indonesia.
Dalam pandangan masyarakat, guru kita berubah dari waktu ke waktu.
Perubahan itu dipengaruhi oleh perubahan aspirasi masyarakat terhadap jabatan
guru, karena adanya perubahan persyaratan jabatan guru sebagai dampak
berkembangnya ilmu dan teknologi dan juga pengalaman terhadap kerja para guru
yang telah berkarya.
Pandangan klasik tentang guru adalah guru itu perlu “digugu” dan “ditiru”.
Hal ini mengandaikan bahwa pribadi guru tidak mempunyai cela atau kelemahan.
Pandangan ini tidak sesuai dengan kenyataan, sebab setiap guru adalah juga
manusia yang tidak terbebas dari adanya kelemahan dan kekurangan. Memang
seorang guru tetap dituntut menjadi teladan bagi siswa dan orang-orang
disekitarnya, namun kita perlu realistis untuk menyikapi.
Dalam perkembangan zaman seperti sekarang ini, tuntutan terhadap guru
lebih banyak lagi. Masyarakat sudah semakin maju, dalam berkarya lebih
menonjolkan rasionalitas, sehingga menuntut dalam segala hal
mempertimbangkan keefisiensian, menuntut disiplin sosial, dan juga berorientasi
besarlah sumbangannya bagi perkembangan diri siswa dan perkembangan
masyarakat pada umumnya. Karena itu pulalah berkaitan dengan peningkatan
mutu pendidikan, masyarakat mununtut pula peningkatan kualitas guru. Guru
tidak bisa berhenti pada apa yang sudah ia miliki, akan tetapi guru harus terus
belajar mengembangkan dirinya sehingga dapat mengimbangi kemajuan zaman
dan dapat menjawab kebutuhan siswa sesuai dengan zamannya.
Guru merupakan salah satu unsur dalam proses belajar mengajar
(Riduwan, 2004: 19). Guru memiliki multi peran, yakni mendorong,
membimbing, dan memberi fasilitas belajar bagi siswa-siswi untuk mencapi
tujuan. Guru sebagai orang yang siap dicaci maki dan dibenci, namun tidak
pernah membalasnya. Guru adalah orang yang rela berkorban untuk anak didik
dan masyarakat lingkungannya. Guru adalah pelopor perubahan masyarakat
dengan tanpa membawa implikasi negatif. Guru merupakan sosok orang yang
ingin tahu pada semua hal untuk disampaikan pada siswanya. Guru adalah bentuk
manusia yang tidak bangga ketika disanjung dan tidak sedih ketika dicaci. Guru
adalah pribadi insan moderat, tidak ambisius, tanpa pamrih, tidak cepat
tersinggung, tidak suka marah, tidal lekas benci, tidak pernah putus asa, dan tidak
sulit memaafkan anak didiknya. Guru adalah sosok orang yang mempunyai ilmu
pengetahuan lebih bila dibanding orang lain (Thoifuri, 2008:145-146) .
Guru adalah unsur manusiawi dalam pendidikan. Guru adalah figur
manusia sumber yang menempati posisi dan memegang peranan penting dalam
pendidikan. Dalam pengertian yang sederhana guru adalah orang yang
adalah orang yang melaksanakan pendidikan di tempat-tempat tertentu, tidak
mesti di lembaga pendidikan formal. Guru adalah orang yang bertanggung jawab
mencerdaskan kehidupan siswa dan mitra siswa dalam kebaikan. guru yang ideal
adalah sosok yang mengabdikan diri berdasarkan panggilan jiwa, panggilan hati
nurani.
Berdasarkan uraian-uraian di atas, yang dimaksud dengan guru adalah
seorang pendidik yang memiliki aneka kemampuan dalam bidang pendidikan baik
menyangkut kompetensi profesional, sosial dan kompetensi kepribadian. Seorang
guru membuat persiapan sebelum mengajar, menerangkan dengan jelas, riang,
gembira, humoris, disiplin, bersahabat, perhatian, tegas, menguasai kelas, hormat
pada siswa, sabar, tidak membeda-bedakan siswa, dan mampu membangkitkan
semanga belajar pada siswa.