• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kelompok Tani Ternak Sapi Perah (KTTSP) Kania merupakan salah satu sentra usaha peternakan sapi perah yang ada di Kabupaten Bogor yang terletak di Desa Tajurhalang, Kecamatan Cijeruk. Kondisi geografis Desa Tajurhalang yang terletak di dataran tinggi dan memiliki rumput hijauan yang banyak tersedia menjadikan Desa Tajurhalang sebagai lokasi yang kondusif untuk pengembangan usaha peternakan sapi perah. Secara administratif, Desa Tajurhalang berbatasan dengan Desa Palasari di sebelah utara, Desa Tanjungsari di sebelah timur, Desa Cipelang di sebelah selatan, dan Desa Sukaharja di sebelah barat. Mata pencaharian penduduk Desa Tajurhalang adalah petani yang terdiri dari peternak sapi perah, petani ladang (talas, ubi kayu, nenas, dan lain-lain), buruh tani, peternak ayam, petani ikan, dan pembudidaya tanaman hias, buruh kasar, pedagang, pegawai negeri, dan pengrajin.

KTTSP Kania didirikan 10 Oktober 1991 di Desa Tajurhalang. Nama KANIA merupakan singkatan dari “Kesatuan Antara Niat, Ilmu, dan Amal”. KTTSP Kania merupakan anggota Koperasi Produksi Susu dan Usaha Peternakan (KPS) Bogor. KTTSP Kania memiliki beberapa peranan, antara lain menumbuhkan jiwa kewirausahaan kelompok ternak dalam pengembangan usaha ekonomi produktif yang berbasis sapi perah, meningkatkan kemampuan kelembagaan peternak dalam mengakses berbagai potensi sumber daya peternakan dan sumber permodalan, serta peluang yang ada, meningkatkan pemanfaatan teknologi tepat guna dalam usaha sapi perah, menciptakan lapangan kerja, serta memberi motivasi dan aktivitas produktif kepada generasi muda di Desa Tajurhalang. Misi dari KTTSP Kania, yaitu peningkatan kapasitas usaha yang diselenggarakan oleh setiap anggota, peningkatan populasi ternak dan usaha pendukung secara keseluruhan, dan pembangunan fisik dan non fisik serta pengembangan ekonomi pedesaan secara dinamis.

Sebagian besar usaha ternak sapi perah di KTTSP Kania merupakan usaha keluarga yang dilakukan secara turun-temurun yang pengelolaan usahanya masih tradisional. Usaha peternakan sapi perah di Desa Tajurhalang sejauh ini telah mampu menghidupkan perekonomian desa melalui perluasan lapangan kerja. Perjalanan panjang KTTSP Kania telah mampu mengangkat perekonomian masyarakat di Desa Tajurhalang, serta menempa keahlian para peternak dalam hal teknis usaha dan organisasi kelompok. Pada tahun 2007, KTTSP Kania mencapai prestasi sebagai juara pertama kelompok peternak se-Jawa Barat. Saat ini anggota KTTSP Kania mencapai 62 orang. Jumlah anggota KTTSP Kania yang saat ini memiliki ternak yang aktif berproduksi susu hanya 39.

Kegiatan wirausaha anggota KTTSP Kania saat ini meliputi kegiatan pemeliharaan ternak sapi perah, pendistribusian susu, dan produksi produk olahan susu. Kegiatan pemeliharaan ternak meliputi pembersihan kandang, pembersihan hewan ternak, pemberian pakan, pemerahan ternak, dan pencegahan penyakit. Kegiatan pembersihan kandang, pembersihan hewan ternak, pemberian pakan rutin, dan pemerahan ternak dilakukan setiap hari. Kegiatan pembersihan kandang dan kegiatan pembersihan hewan dalam sehari dilakukan dua kali saat sebelum

pemerahan susu, yaitu sekitar pukul lima pagi sampai dengan pukul enam pagi dan sore hari sekitar pukul empat sampai dengan pukul lima sore.

Pemberian pakan ternak dilakukan sebanyak dua kali dalam sehari, yaitu pagi dan sore. Pakan yang digunakan oleh para peternak di KTTSP Kania antara lain konsentrat, hijauan (rumput gajah), dan ampas tahu. Takaran pemberian pakan sesuai dengan panduan penyuluh dimana takaran pakan disesuaikan dengan umur sapi perah. Untuk sapi pedet, konsentrat yang diberikan adalah satu kilogram dan rumput hijauan sebanyak sepuluh kilogram per hari. Untuk sapi dara, pakan konsentrat diberikan sebanyak empat kilogram, rumput hijauan sebanyak 27 kilogram, dan ampas tahu sebanyak dua kilogram. Untuk sapi laktasi, diberikan pakan konsentrat sebanyak tujuh kilogram, rumput hijauan sebanyak 30 kilogram, dan ampas tahu sebanyak empat kilogram. Harga pakan konsentrat sebesar Rp 2 000/kg, harga rumput hijauan sebesar Rp 200/kg, dan harga ampas tahu sebesar Rp 300/kg. Sedangkan pencegahan penyakit seperti vaksinasi (setiap enam bulan sekali) dan pemberian antibiotika (setiap tiga bulan sekali) dilakukan secara berkala. Pemberian vitamin, pemberian obat, dan pengawasan medis juga dilakukan secara berkala sesuai dengan kondisi kesehatan hewan ternak.

Kegiatan pendistribusian susu dilakukan oleh para peternak di KTTSP Kania terdapat empat macam, yaitu disetor ke KPS Bogor dalam bentuk susu segar, dijual langsung ke flopper dalam bentuk susu segar, dijual ke langsung ke konsumen (di Pasar Bogor, beberapa SD di sekitar Desa Tajurhalang, dan beberapa konsumen rumah tangga) dalam bentuk susu murni, dan dijual langsung ke konsumen dalam bentuk produk olahan susu lainnya berdasarkan pesanan konsumen (kerupuk susu, karamel susu, dodol susu, stick susu, dan pangsit susu).

Untuk kegiatan pendistribusian susu untuk disetor ke KPS, kegiatan ini berlangsung dua kali dalam sehari, yaitu pagi dan sore. Harga jual susu KTTSP Kania yang dijual ke KPS rata-rata berkisar sekitar Rp 3 000 per liter sampai dengan Rp. 3 800 per liter. Untuk kegiatan pendistribusian susu ke flopper (pengusaha yoghurt dan pengusaha sabun mandi susu), pihak flopper mengambil susu langsung ke rumah peternak. Pemesanan yang dilakukan flopper masih belum kontinyu, yaitu hanya pada saat flopper akan melakukan kegiatan produksi. Harga susu yang dijual ke peternak ke pihak flopper berkisar antara Rp 4 000 sampai dengan Rp 5 000 per liter.

Untuk kegiatan pengolahan, para peternak mengolah susu menjadi produk susu murni, kerupuk susu, karamel susu, dodol susu, stick susu, dan pangsit susu. Kegiatan produksi produk susu murni cukup kontinyu sebab harganya relatif terjangkau oleh semua kalangan konsumen dan susu segar sudah menjadi kebutuhan konsumsi sehari-hari bagi konsumen. Kegiatan produksi kerupuk susu, karamel susu, dodol susu, stick susu, dan pangsit susu dilakukan hanya jika ada pesanan. Hal ini disebabkan karena para peternak mengalami kesulitan memasarkan produknya. Produk kerupuk susu, karamel susu, dodol susu, stick susu, dan pangsit susu memiliki harga yang cukup tinggi, sehingga tidak semua kalangan memiliki daya beli terhadap produk-produk tersebut. Produk susu murni

dijual oleh para peternak dengan harga sekitar Rp 10 000 sampai dengan Rp 13 000 per liter, dikemas dalam kantong plastik dan dipasarkan ke Pasar

Bogor. Kerupuk, pangsit, dan stick susu dijual dengan harga Rp 45 000 per kilogram. Dodol dan karamel susu dijual dengan harga Rp 60 000 per kilogram.