• Tidak ada hasil yang ditemukan

perah sebagai sumber pendapatan utama.

7 HUBUNGAN KARAKTERISTIK WIRAUSAHA,

KOMPETENSI KEWIRAUSAHAAN, DAN KINERJA USAHA

PETERNAK SAPI PERAH

Hubungan Karakteristik Wirausaha dengan Kompetensi Kewirausahaan Peternak Sapi Perah

Karakteristik wirausaha memiliki hubungan nyata positif yang cukup dengan kompetensi kewirausahaan peternak sapi perah. Hal ini ditunjukkan dengan koefisien Kendall Tau (τ)=0.608 dan nilai signifikansi 0.000, pada taraf

nyata α=0.05. Karakteristik wirausaha dengan kompetensi teknis memiliki hubungan nyata positif yang cukup, dengan τ=0.601 dan nilai signifikansi 0.000, pada taraf nyata α=0.05. Karakteristik wirausaha dengan kompetensi manajerial memiliki hubungan nyata positif yang kuat, dengan τ=0.598 dan nilai signifikansi 0.000, pada taraf nyata α=0.05 (Lampiran 6). Hal ini menunjukkan bahwa karakteristik wirausaha secara umum berhubungan nyata positif dengan kompetensi teknis dan kompetensi manajerial peternak sapi perah di KTTSP Kania.

Karakteristik wirausaha dari peternak memiliki hubungan nyata positif dengan kompetensi kewirausahaan sebab semakin tinggi tingkat karakteristik wirausaha, maka tingkat keterampilan peternak pun semakin tinggi. Semua indikator dari karakteristik individu maupun karakteristik kewirausahaan memiliki hubungan dengan kompetensi kewirausahaan. Hal ini menunjukkan bahwa indikator-indikator tersebut mendukung keterampilan atau kompetensi peternak. Apabila karakteristik wirausaha tinggi, semakin tinggi keinginan peternak untuk meningkatkan keterampilannya untuk memajukan usahanya. Hal ini menyebabkan kompetensi yang dimiliki oleh peternak juga akan tinggi.

Karakteristik individu dan karakteristik kewirausahaan masing-masing memiliki hubungan nyata positif yang cukup dengan kompetensi kewirausahaan peternak sapi perah. Indikator dari karakteristik individu yang memiliki hubungan nyata positif paling kuat dengan kompetensi kewirausahaan peternak sapi perah adalah modal usaha (τ=0.571). Hal ini menunjukkan bahwa semakin besra modal usaha yang dimiliki peternak, maka peternak dapat menginvestasikannya untuk meningkatkan keahlian atau keterampilan kewirausahaannya melalui kegiatan- kegiatan pelatihan, kursus, atau seminar sehingga peternak dapat meningkatkan kompetensi kewirausahaannya. Demikian juga sebaliknya, semakin tinggi kompetensi kewirausahaan peternak, maka semakin besar keinginan peternak untuk menambah modal usaha untuk mengembangkan dan memajukan usahanya.

Pendidikan formal dan pendidikan informal juga berhubungan positif nyata terhadap kompetensi kewirausahaan. Semakin tinggi tingkat pendidikan formal dan informal seorang peternak, maka semakin banyak ilmu pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki oleh seorang peternak. Semakin tinggi kompetensi kewirausahaan peternak, maka keinginan peternak untuk meningkatkan tingkat pendidikannya juga semakin baik.

Pendapatan rumah tangga berhubungan positif nyata dengan kompetensi kewirausahaan. Hal ini disebabkan karena semakin tinggi pendapatan rumah tangga yang dimiliki oleh seorang peternak, maka peternak tersebut dapat mengalokasikan pendapatannya tersebut untuk meningkatkan keahlian atau kompetensi kewirausahaan. Demikian juga sebaliknya, semakin tinggi kompetensi kewirausahaan seorang peternak, maka semakin baik keahlian atau kemampuan seorang peternak dalam melakukan pekerjaannya sehingga pendapatannya pun semakin meningkat.

Motivasi usaha memiliki hubungan nyata positif dengan kompetensi kewirausahaan peternak. Semakin tinggi motivasi yang dimiliki seorang peternak, semakin tinggi dorongan diri peternak untuk meningkatkan keterampilan atau kompetensinya. Semakin tinggi kompetensi kewirausahaan yang dimiliki peternak, maka semakin meningkat juga motivasi usaha peternak untuk

menjalankan dan mengembangkan usahanya menjadi lebih baik lagi. Demikian juga dengan indikator pemanfaatan media informasi. Pemanfaatan media informasi memiliki hubungan nyata positif dengan kompetensi kewirausahaan peternak. Semakin tinggi pemanfaatan media informasi, semakin tinggi juga pengetahuan dan kompetensi yang dapat dimiliki seorang peternak. Semakin tinggi kompetensi kewirausahaan seorang peternak, maka semakin tinggi juga pemanfaatan media informasi yang dilakukan oleh peternak untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya usahanya.

Tabel 58 Hubungan karakteristik wirausaha dengan kompetensi kewirausahaan peternak sapi perah

No. Karakteristik wirausaha Koefisien Kendall Tau Signifikansi 1 Karakteristik Individu: Pendidikan formal 0.630 0.325 0.000 0.011

2 Pendapatan rumah tangga 0.490 0.000

3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 Pendidikan informal Motivasi usaha

Pemanfaatan media informasi Modal usaha

Karakteristik Kewirausahaan: Kemauan bekerja keras Inisiatif

Memiliki tujuan atau sasaran Keuletan

Kepercayaandiri

Kemauan menerima ide baru Keinginan mengambil risiko

Keinginan untuk mencari informasi Kemauan untuk belajar

Kebiasaan untuk mencari peluang Kemauan untuk berubah

Ketegasan Karakteristik Wirausaha 0.566 0.558 0.488 0.571 0.571 0.361 0.579 0.522 0.350 0.344 0.468 0.541 0.585 0.634 0.608 0.303 0.542 0.608 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.005 0.000 0.000 0.007 0.007 0.000 0.001 0.000 0.000 0.000 0.018 0.000 0.000

Indikator dari karakteristik kewirausahaan yang memiliki hubungan nyata positif paling kuat dengan kompetensi kewirausahaan peternak sapi perah adalah kemauan untuk belajar (τ=0.634). Kemauan untuk belajar dari peternak sebagai wirausaha sangat dibutuhkan dan menentukan seberapa besar kemauan, konsistensi, serta kerja usaha yang dicurahkan peternak untuk menjalankan dan mengembangan usaha peternakan sapi perah. Semakin tinggi keinginan peternak untuk belajar, maka semakin usaha peternak untuk mendapatkan pengetahuan dan keterampilan, sehingga semakin tinggi juga keterampilan yang akan dimiliki peternak tersebut.

Seluruh karakteristik kewirausahaan peternak memiliki hubungan nyata positif terhadap kompetensi kewirausahaan peternak. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi karakteristik kewirausahaan yang melekat pada diri peternak, semakin mendorong peternak untuk memiliki keahlian atau kompetensi kewirausahaan yang tinggi juga. Demikian juga sebaliknya, semakin tinggi tingkat kompetensi kewirausahaan peternak, maka semakin tinggi semangat peternak dan meningkat pula karakteristik kewirausahaan peternak tersebut.

Kemauan bekerja keras memiliki hubungan nyata positif dengan kompetensi kewirausahaan. Semakin tinggi tingkat karakteristik kemauan peternak untuk bekerja keras, maka akan semakin tinggi juga tingkat kompetensi atau kemampuan kewirausahaan peternak. Semakin besar kemauan bekerja keras peternak, semakin terasah kemampuan atau keahlian kewirausahaan seorang peternak sehingga kompetensi kewirausahaannya pun semakin tinggi. Demikian juga sebaliknya, semakin tinggi kompetensi kewirausahaan peternak, semakin seorang peternak terpacu untuk bekerja lebih keras lagi.

Karakteristik inisiatif memiliki hubungan nyata positif dengan kompetensi kewirausahaan. Semakin tinggi tingkat inisiatif seorang peternak, semakin banyak hal-hal yang dapat dimulai dan dilakukan oleh peternak untuk memajukan usahanya, sehingga kompetensi kewirausahaan yang dimiliki oleh peternak tersebut akan semakin tinggi. Demikian juga sebaliknya, semakin tinggi kompetensi kewirausahaan seorang peternak maka kesadaran seorang peternak untuk berinisiatif semakin tinggi juga.

Keuletan memiliki hubungan nyata positif dengan kompetensi kewirausahaan. Semakin ulet seorang peternak dalam menjalankan kegiatan usaha peternakan sapi perah, maka semakin terasah kemampuannya dalam berwirausaha. Demikian juga sebaliknya, semakin tinggi kompetensi kewirausahaan seorang peternak, kesadaran seorang peternak untuk ulet dalam menjalankan usahanya agar mencapai kesuksesan semakin tinggi.

Kepercayaandiri memiliki hubungan nyata positif dengan kompetensi kewirausahaan. Semakin tinggi tingkat kepercayaandiri seorang peternak, peternak tersebut cenderung lebih percaya diri untuk meningkatkan kompetensi atau kemampuan kewirausahaannya sehingga kompetensi kewirausahaan peternak tersebut akan meningkat. Demikian juga sebaliknya, semakin tinggi tingkat kompetensi kewirausahaan peternak, semakin tinggi juga kepercayaandiri peternak tersebut dalam menjalankan usahanya dengan kemampuan yang dimiliki. Karakteristik kemauan menerima ide baru memiliki hubungan nyata positif dengan kompetensi kewirausahaan. Semakin tinggi tingkat kemauan menerima ide baru seorang peternak, semakin tinggi hal-hal baru yang dapat dilakukan atau diimplementasikan dari ide-ide tersebut. Hal ini tentu akan meningkatkan kemahiran kewirausahaan peternak dimana pengimplementasian ide baru dapat memperbaiki cara kerja atau meningkatkan kegiatan dan hasil usaha seorang peternak. Demikian juga sebaliknya, semakin tinggi tingkat kompetensi kewirausahaan peternak, maka semakin tinggi juga kemauan peternak untu menerima ide baru yang dapat meningkatkan atau memperbaiki usahanya.

Keinginan mengambil risiko memiliki memiliki hubungan nyata positif dengan kompetensi kewirausahaan. Tingkat keinginan mengambil risiko yang semakin tinggi, dapat meningkatkan kompetensi kewirausahaan melalui

pengambilan risiko penambahan modal usaha, memperluas usaha, atau mengubah cara kerja usaha. Demikian juga sebaliknya, semakin tinggi tingkat kompetensi kewirausahaan seorang peternak, peternak tersebut cenderung lebih berani dalam mengambil risiko karena memiliki kemampuan perhitungan risiko usaha yang lebih baik.

Karakteristik keinginan untuk mencari informasi memiliki memiliki hubungan nyata positif dengan kompetensi kewirausahaan. Semakin tinggi tingkat keinginan untuk mencari informasi, semakin tinggi pengetahuan dan kemampuan kewirausahaan peternak. Dari informasi yang didapat tersebut, peternak dapat meningkatkan keahlian atau kompetensinya. Demikian juga sebaliknya, semakin tinggi tingkat kompetensi kewirausahaan peternak, maka semakin tinggi juga keinginan peternak untuk mencari informasi lebih jauh lagi untuk pengembangan usahanya.

Kemauan belajar peternak memiliki memiliki hubungan nyata positif dengan kompetensi kewirausahaan. Semakin tinggi kemauan belajar peternak, tentu semakin tinggi juga kompetensi kewirausahaan yang dimilikinya dari hasil proses mempelajari pengetahuan atau ilmu untuk mengembangkan usahanya. Demikian juga sebaliknya, semakin tinggi tingkat kompetensi kewirausahaan peternak, semakin tinggi juga kesadaran seorang peternak untuk mau belajar lebih jauh.

Karakteristik kebiasaan untuk mencari peluang berhubungan nyata positif dengan kompetensi kewirausahaan. Semakin baik kebiasaan untuk mencari peluang, semakin tinggi juga kompetensi kewirausahaan peternak melalui pemanfaatan peluang dalam usahanya. Demikian juga sebaliknya, semakin tinggi tingkat kompetensi kewirausahaan peternak, semakin tinggi juga kebiasaan untuk mencari peluang, sebab kemampuan peternak dalam menganalisis peluang dari suatu keadaan atau situasi usaha semakin terasah.

Kemauan untuk berubah memiliki hubungan nyata positif dengan kompetensi kewirausahaan. Semakin tinggi kemauan untuk berubah, semakin tinggi kompetensi kewirausahaan peternak, sebab peternak lebih dapat mengikuti tren dan siap dalam menghadapi perubahan situasi usaha. Demikian juga sebaliknya, semakin tinggi komptensi kewirausahaan peternak, semakin tinggi juga kemauan untuk berubah, sebab peternak memiliki kesadaran bahwa agar usahanya tetap berjalan dan berkembang, seorang wirausaha harus mampu beradaptasi dengan perubahan.

Karakteristik ketegasan berhubungan nyata positif dengan kompetensi kewirausahaan. Semakin tinggi tingkat ketegasan seorang peternak, maka semakin tinggi kompetensi kewirausahaan peternak. Hal ini disebabkan karena semakin tinggi ketegasan peternak, peternak mampu tegas dalam memutuskan untuk melalukan hal-hal yang berkenaan dengan pengembangan usahanya. Demikian juga sebaliknya, semakin tinggi kompetensi kewirausahaan peternak, semakin tinggi juga ketegasan peternak karena peternak memahami bahwa sikap tegas dibutuhkan dalam mengambil keputusan dalam hal pengembangan usahanya.

Karakteristik individu dengan kompetensi teknis memiliki hubungan nyata positif yang cukup, dengan τ=0.654 dan nilai signifikansi 0.000, pada taraf nyata α=0.05. Karakteristik individu dengan kompetensi manajerial memiliki hubungan nyata positif yang cukup, dengan τ=0.601 dan nilai signifikansi 0.000, pada taraf

nyata α=0.05. Karakteristik kewirausahaan berkorelasi nyata positif yang cukup dengan kompetensi teknis, dengan τ=0.529 dan nilai signifikansi 0.000, pada taraf nyata α=0.05. Karakteristik kewirausahaan berhubungan nyata positif yang cukup dengan kompetensi manajerial, dengan τ=0.577 dan nilai signifikansi 0.000, pada taraf nyata α=0.05 (Lampiran 7). Hal ini menunjukkan bahwa karakteristik individu maupun karakteristik kewirausahaan peternak sapi perah berhubungan nyata positif dengan kompetensi teknis dan kompetensi manajerial peternak sapi perah di KTTSP Kania. Karakteristik individu dan kewirausahaan yang dimiliki peternak masing-masing mendukung tingkat kompetensi teknis maupun manajerial peternak.

Hubungan Karakteristik Wirausaha dengan Kinerja Usaha Peternak Sapi Perah

Karakteristik wirausaha dengan kinerja usaha tidak memiliki hubungan nyata, dengan τ=0.221 dan nilai signifikansi 0.063, pada taraf nyata α=0.05. Hal ini menunjukkan bahwa karakteristik wirausaha secara umum tidak berkorelasi dengan kinerja usaha peternak sapi perah di KTTSP Kania. Karakeristik wirausaha tidak berkorelasi nyata positif dengan kinerja usaha sebab apabila tingkat karakteristik wirausaha tinggi berdiri sendiri namun tidak didukung dengan insentif berupa harga jual susu yang baik, maka peternak tidak ada insentif untuk menghasilkan kinerja usaha yang baik. Karakteristik individu dengan kinerja usaha memiliki hubungan nyata positif yang lemah, dengan τ=0.252 dan nilai signifikansi 0.037, pada taraf nyata α=0.05. Karakteristik kewirausahaan dengan kinerja usaha memiliki hubungan nyata positif yang lemah dengan τ=0.238 dan nilai signifikansi 0.048, pada taraf nyata α=0.05.

Indikator dari karakteristik wirausaha yang memiliki hubungan nyata positif dengan kinerja usaha ada 2, yaitu pendapatan rumah tangga dan pendidikan informal. Indikator dari karakteristik wirausaha yang memiliki hubungan nyata positif paling tinggi dengan kinerja usaha, yaitu pendapatan rumah tangga. Semakin tinggi pendapatan rumah tangga yang dimiliki peternak, maka peternak tersebut memiliki kinerja usaha yang semakin tinggi juga. Hal ini disebabkan karena semakin tinggi pendapatan rumah tangga peternak, maka semakin tinggi juga uang yang dapat dialokasikan untuk tambahan modal usaha. Tambahan modal usaha dapat digunakan untuk perbaikan kualitas pakan dan penambahan jumlah ternak sapi perah sehingga sapat berimplikasi pada peningkatan produktivitas sapi perah laktasi dan kepemilikan sapi perah laktasi. Demikian juga sebaliknya, tingkat kinerja usaha yang tinggi akan berimplikasi pada peningkatan pendapatan rumah tangga.

Pendidikan informal juga memiliki hubungan nyata positif dengan kinerja usaha. Semakin tinggi tingkat pendidikan informal seorang peternak, maka semakin baik keterampilan dan kemampuan seorang peternak dalam berusaha sehingga peternak tersebut dapat melakukan pekerjaannya dengan lebih baik. Dengan demikian, kinerja usahanya pun akan meningkat. Demikian juga sebaliknya, semakin tinggi kinerja usaha peternak, semakin tinggi juga keinginan peternak untuk meningkatkan kemampuannya melalui kegiatan pendidikan informal.

Tabel 59 Hubungan karakteristik wirausaha dengan kinerja usaha peternak sapi perah

No. Karakteristik wirausaha Koefisien Kendall Tau Signifikansi 1 Karakteristik Individu: Pendidikan formal 0.252 0.030 0.037 0.825

2 Pendapatan rumah tangga 0.472 0.000

3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 Pendidikan informal Motivasi usaha

Pemanfaatan media informasi Modal usaha

Karakteristik Kewirausahaan: Kemauan bekerja keras Inisiatif

Memiliki tujuan atau sasaran Keuletan

Kepercayaandiri

Kemauan menerima ide baru Keinginan mengambil risiko

Keinginan untuk mencari informasi

Kemauan untuk belajar

Kebiasaan untuk mencari peluang Kemauan untuk berubah

Ketegasan Karakteristik Wirausaha 0.353 0.207 0.135 0.059 0.121 0.139 0.140 0.302 0.139 0.297 0.182 0.164 0.286 0.268 0.224 0.120 0.240 0.221 0.010 0.115 0.310 0.658 0.400 0.302 0.310 0.027 0.243 0.026 0.177 0.221 0.036 0.045 0.093 0.379 0.082 0.063 Indikator dari karakteristik kewirausahaan yang memiliki hubungan nyata positif dengan kinerja usaha peternakan sapi perah, antara lain memiliki tujuan atau sasaran, kepercayaandiri, keinginan untuk mencari informasi, dan kemauan untuk belajar. Indikator karakteristik kewirausahaan yang memiliki hubungan nyata positif yang paling kuat dengan kinerja usaha adalah memiliki tujuan atau sasaran. Semakin tinggi kepemilikan peternak atas tujuan atau sasaran, peternak cenderung bekerja semakin giat dan tekun untuk mengejar target atau sasaran usaha yang ingin dicapainya. Hal ini menyebabkan peternak menghasilkan kinerja usaha yang semakin tinggi juga. Demikian juga sebaliknya, semakin tinggi kinerja usaha peternak, maka semakin optimis dan memiliki semangat yang tinggi untuk menciptakan tujuan dan sasaran usaha yang lebih tinggi dari sebelumnya.

Kepercayaan diri memiliki hubungan nyata positif dengan kinerja usaha peternak. Semakin percaya diri seorang peternak dalam menjalankan usahanya, maka semakin baik juga kinerja usaha yang dihasilkan. Semakin tinggi kinerja usaha seorang peternak, maka semakin percaya diri pula seorang peternak dalam menjalankan usahanya.

Karakteristik keinginan untuk mencari informasi memiliki hubungan nyata positif dengan kinerja usaha. Semakin tinggi keinginan untuk menari informasi untuk pengembangan usahanya, semakin tinggi pula informasi yang diperoleh peternak untuk mengembangkan usahanya. Dengan demikian, kinerja usahanya pun dapat makin meningkat. Demikian juga sebaliknya, semakin tinggi kinerja usaha peternak, maka semakin tinggi juga keinginan mencari informasi untuk meningkatkan kinerja usahanya lebih baik lagi.

Kemauan untuk belajar berhubungan nyata positif dengan kinerja usaha. Semakin tinggi kemauan untuk belajar, semakin baik kinerja usaha karena pengetahuan yang dimiliki oleh peternak dalam menjalankan usahanya juga semakin baik. Demikian juga sebaliknya, semakin tinggi kinerja usaha peternak, maka semakin tinggi juga kemauan peternak untu belajar lebih banyak lagi untuk meningkatkan kinerja usahanya.

Hubungan Kompetensi Kewirausahaan dengan Kinerja Usaha

Kompetensi kewirausahaan secara umum tidak memiliki hubungan nyata dengan kinerja usaha, dengan τ=0.062 dan nilai signifikansi 0.665, pada taraf nyata α=0.05. Hal ini disebabkan karena apabila seorang peternak sapi perah memiliki keterampilan atau keahlian yang tinggi namun tidak menerima insentif yang seimbang berupa harga jual susu yang baik dari koperasi susu, maka peternak motivasi peternak untuk menghasilkan kinerja usaha yang baik juga akan rendah. Apabila kompetensi peternak diikuti dengan kebijakan harga jual susu ke koperasi susu yang baik, maka peternak akan termotivasi untuk berupaya lebih untuk meningkatkan produktivitas sapi perah laktasi sehingga berimplikasi pada peningkatan pendapatan usaha ternak, sehingga kinerja usaha secara keseluruhan juga meningkat.

Kompetensi teknis dan kompetensi manajerial tidak memiliki hubungan nyata positif dengan kinerja usaha. Indikator kompetensi teknis yang berhubungan nyata positif dengan kinerja usaha adalah nutrisi dan pakan ternak. Hal ini menunjukkan bahwa semakin baik kemampuan dalam hal nutrisi dan pakan ternak, semakin baik juga kinerja usaha dalam hal produktivitas sapi perah laktasi yang akan berimplikasi juga terhadap besarnya pendapatan usaha ternak seorang peternak. Demikian juga sebaliknya, semakin tinggi kinerja usahanya, maka peternak semakin berusaha untuk meningkatkan kemampuan dalam hal nutrisi dan pakan ternak untuk meningkatkan lagi kinerja usahanya.

Indikator kompetensi manajerial yang memiliki hubungan nyata positif dengan kinerja usaha, antara lain perencanaan usaha, kemampuan berkomunikasi, kemampuan negosiasi, dan kemampuan menjalin kerjasama dengan mitra. Semakin tinggi kemampuan perencanaan usaha peternak, maka semakin tinggi kinerja usaha yang didapat. Hal ini disebabkan karena dengan adanya perencanaan usaha yang baik, peternak dapat menetapkan target usaha agar usahanya dapat berkembang. Selain itu, dengan perencanaan usaha yang baik, risiko usaha dapat diminimalis. Demikian juga sebaliknya, semakin tinggi kinerja usaha, peternak semakin cenderung meningkatkan kemampuannya untuk merencanakan usahanya sehingga kinerja usahanya dapat meningkat lebih baik lagi.

Kemampuan berkomunikasi memiliki hubungan nyata positif terhadap kinerja usaha. Semakin tinggi tingkat kemampuan berkomunikasi peternak dengan

pihak-pihak lain yang berkaitan dengan usahanya, maka semakin baik informasi yang dapat diperoleh peternak, serta semakin mudah peternak untuk menganani permasalahan-permasalahan yang dihadapi dalam menjalankan usahanya dengan berkomunikasi kepada pihak-pihak terkait untuk mencari solusi. Demikian juga sebaliknya, semakin tinggi kinerja usaha peternak, semakin tinggi tingkat kemampuan berkomunikasi peternak.

Kemampuan menjalin kerjasama dengan mitra berhubungan nyata positif terhadap kinerja usaha. Semakin tinggi kemampuan menjalin kerjasama dengan mitra, semakin tinggi kinerja usaha karena semakin meningkat kerjasama usaha yang juga dapat meningkatkan pendapatan atau laba usaha. Demikian juga sebaliknya, semakin tinggi kinerja usaha peternak, semakin terasah juga kemampuan dalam menjalin kerjasama dengan mitra dari pengalaman berusaha.

Tabel 60 Hubungan kompetensi kewirausahaan dengan kinerja usaha

No. Kinerja usaha Koefisien

Kendall Tau

Signifikansi

1

Kompetensi Teknis: Pengembangan bibit ternak

0.105 0.165

0.376 0.185

2 Nutrisi dan pakan ternak 0.274 0.030

3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 Reproduksi Laktasi Kemanan ternak Kenyamanan ternak Pencatatan

Pengolahan hasil ternak Kompetensi Manajerial: Perencanaan usaha Pengelolaan tenaga kerja Pemasaran Pengelolaan keuangan Evaluasi usaha Kemampuan berkomunikasi Kemampuan negosiasi Kepemimpinan

Kemampuan mencari peluang

Kemampuan menjalin kerjasama dengan mitra Kompetensi Kewirausahaan 0.094 0.063 0.091 0.084 0.082 0.006 0.211 0.254 0.212 0.177 0.205 0.228 0.254 0.264 0.236 0.156 0.262 0.062 0.452 0.611 0.467 0.506 0.509 0.960 0.074 0.039 0.087 0.149 0.096 0.062 0.042 0.035 0.056 0.209 0.034 0.665

Hubungan Karakteristik Wirausaha dan Kompetensi Kewirausahaan dengan Kinerja Usaha Peternak Sapi Perah

Hubungan karakteristik wirausaha dan kompetensi kewirausahaan secara bersama-sama dengan kinerja usaha peternak sapi perah diukur menggunakan korelasi Kendall W. Hasil perhitungan korelasi Kendall W diperoleh koefisien korelasi sebesar 0.975, dengan ρ-value=0.000 pada taraf nyata α=0.05. Hal ini menunjukkan bahwa karakteristik wirausaha dan kompetensi kewirausahaan secara bersama-sama memiliki hubungan nyata positif yang sangat kuat dengan kinerja usaha dan sebaliknya.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa variabel karakteristik wirausaha dan kompetensi kewirausahaan secara terpisah, masing-masing tidak memiliki hubungan nyata positif dengan kinerja usaha. Sedangkan pada saat karakteristik wirausaha dan tingkat kompetensi kewirausahaan secara bersama-sama dihubungkan dengan kinerja usaha, maka kedua variabel tersebut memiliki hubungan nyata yang positif dengan kinerja usaha. Semakin tinggi karakteristik wirausaha dan kompetensi kewirausahaan, maka semakin tinggi juga kinerja usaha yang dihasilkan oleh peternak sapi perah di KTTSP Kania. Hal ini menunjukkan bahwa karakteristik wirausaha dan kompetensi kewirausahaan menjadi satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan untuk mendukung tingkat kinerja usaha peternak. Untuk dapat meningkatkan kinerja usahanya, peternak harus meningkatkan karakteristik wirausaha dan kompetensi kewirausahaannya secara bersinergi.

8 SIMPULAN

Tingkat karakteristik wirausaha, kompetensi kewirausahaan, dan kinerja usaha peternak sapi perah berada pada tingkat rendah. Karakteristik wirausaha memiliki hubungan nyata positif yang cukup dengan kompetensi kewirausahaan peternak sapi perah. Sedangkan karakteristik wirausaha dengan kinerja usaha tidak memiliki hubungan nyata positif. Demikian juga kompetensi kewirausahaan tidak memiliki hubungan nyata positif dengan kinerja usaha. Karakteristik wirausaha dan kompetensi kewirausahaan secara bersama-sama dengan kinerja usaha peternak sapi perah memiliki hubungan nyata positif yang kuat. Hal ini menunjukkan bahwa untuk meningkatkan kinerja usaha peternak, peningkatan karakteristik wirausaha dan kompetensi kewirausahaan harus dilakukan secara bersama-sama.

9 SARAN

Tingkat karakteristik wirausaha, kompetensi kewirausahaan, dan kinerja usaha peternakan usaha sapi perah di KTTSP Kania dapat ditingkatkan melalui pembinaan dari kelompok ternak. Kelompok ternak memiliki peranan penting dalam upaya penguatan kewirausahaan para peternak dan pengembangan peternakan sapi perah di Desa Tajurhalang. Para peternak harus kuat secara kelompok untuk dapat menghadapi tantangan dalam menjalankan usaha

peternakan sapi perah. Oleh karena itu, penguatan KTTSP Kania sebagai kelompok ternak yang menaungi para peternak juga harus dilakukan.

Kementerian Pertanian selaku lembaga pemerintah memiliki peranan dalam pemberian penyuluhan untuk meningkatkan kompetensi para peternak dan sebagai pembuat kebijakan peternakan diharapkan membuat kebijakan-kebijakan yang berpihak kepada pengembangan usaha peternakan rakyat. Selain itu, Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah juga diharapkan memberikan kebijakan penentuan harga susu yang lebih baik kepada peternak sehingga para peternak