Kewirausahaan
Drucker (1985) menyatakan bahwa konsep kewiraswastaan atau kewirausahaan pertama kali diungkapkan oleh ahli ekonomi Perancis J. B. Say sekitar tahun 1800, yaitu dengan pengertian memindahkan sumber daya ekonomi dari kawasan produktivitas rendah ke kawasan produktivitas yang lebih tinggi dan hasil yang lebih tinggi. Casson et al. (2006) memaparkan bahwa pemikiran kewirausahaan yang popular adalah pengertian wirausaha yang didasarkan atas pemikiran Joseph A. Schumpeter (1934), yaitu bahwa wirausaha merupakan gambaran dari seorang inovator yang menciptakan industri baru dan dengan cara tersebut mempercepat perubahan struktural utama dalam ekonomi. Robbins dan Coulter (2005) mendefinisikan kewirausahaan sebagai proses yang dialami seseorang atau sekelompok orang yang berani mengambil risiko waktu dan finansial secara terorganisir dalam mengejar peluang untuk menciptakan nilai dan pertumbuhan melalui inovasi dan keunikan, tanpa memandang sumberdaya yang sekarang dikendalikannya. Kao (1989) mendefinisikan kewirausahaan sebagai upaya untuk menciptakan nilai melalui pengenalan peluang bisnis, manajemen pengambilan risiko yang sesuai dengan peluang, dan melalui keterampilan komunikasi dan manajemen untuk memobilisasi sumber daya manusia, keuangan, dan materi yang diperlukan untuk membawa sebuah proyek menuju suatu hasil.
Hisrich dan Peter (1992) mendefinisikan bahwa kewirausahaan adalah sebuah proses menciptakan sesuatu yang berbeda dengan nilai melalui penyediaan kebutuhan waktu dan usaha, menanggung risiko finansial, fisik, dan sosial dan menerima hasil dalam bentuk nilai uang dan kepuasan pribadi. Seorang yang berwirausaha harus mampu menemukan, mengevaluasi, dan mengembangkan sebuah peluang dengan mengatasi kekuatan yang menghalangi terciptanya sesuatu yang baru melalui tahapan identifikasi dan evaluasi peluang, pengembangan
rencana bisnis, penetapan sumberdaya yang dibutuhkan, dan manajemen perusahaan yang dihasilkan. Hisrich dan Peter (1992) juga mengemukakan bahwa kewirausahaan dalam perkembangan ekonomi memberikan dampak tidak hanya pada peningkatan output per kapita dan pendapatan, namun juga menginisiasi perubahan pasa struktur bisnis dan masyarakat.
Casson dalam Birkinshaw (2000) menyatakan bahwa pendekatan utama wirausaha dalam teori ekonomi dibedakan menjadi empat, yaitu wirausaha sebagai pengambil risiko (Cantillon 1755; Knight 1921), wirausaha sebagai sebuah perantara pada proses pasar (Kirzner 1973), wirausaha sebagai inovator (Schumpeter 1934), dan wirausaha sebagai seorang yang ahli dalam membuat suatu keputusan (Casson 1990). Suharyadi et al. (2007) mendefinisikan bahwa wirausaha merupakan seseorang yang menciptakan sebuah usaha atau bisnis yang dihadapkan dengan risiko dan ketidakpastian untuk memperoleh keuntungan dan mengembangkan bisnis dengan cara mengenali kesempatan dan memanfaatkan sumber daya yang diperlukan. Wirausaha adalah seseorang yang menciptakan sebuah usaha baru dengan menghadapi risiko dan ketidakpastian melalui pengidentifikasian peluang-peluang melalui kombinasi sumberdaya yang dibutuhkan untuk mendapatkan manfaatnya (Zimmerer 2004). Longenecker et al. (1994), mendefinisikan wirausaha sebagai seseorang yang memulai atau mengeoperasikan suatu usaha.
Wickham (2004) mendefinisikan bahwa wirausaha sebagai seorang pengelola yang menjalankan aktivitas seperti bagian dari tugas-tugas khusus yang merupakan pekerjaannya dan caranya dalam menjalankan tugas-tugas tersebut, seorang agen perubahan ekonomi seperti dampak-dampak yang ditimbulkan pada sistem ekonomi dan perubahan yang dijalankannya, dan sebagai seorang individu seperti bagian dari psikologi, kepribadian, dan karakteristik-karakteristik pribadi. Wickham (2004) juga menyatakan bahwa wirausaha memiliki beberapa tugas atau aktivitas, antara lain memiliki organisasi-organisasi, mendirikan organisasi- organisasi baru, membawa inovasi-inovasi kepada pasar, melakukan identifikasi peluang pasar, mengaplikasikan keahlian, menyediakan atau menyajikan kepemimpinan, dan melakukan tugas sebagai pengelola. Selain itu wirausaha juga memiliki peranan, antara lain menggabungkan faktor-faktor ekonomi, menyediakan efisiensi pasar, menerima risiko, memaksimumkan pengembalian investor, dan melakukan proses informasi pasar.
Karakteristik Wirausaha
Karakteristik individu wirausaha merupakan salah satu hal yang melekat pada diri seorang wirausaha. Karakteristik individu merupakan ciri-ciri yang dimiliki individu sepanjang hidupnya, meliputi faktor kognitif dan karakteristik lain yang dimiliki individu yang menentukan dalam proses belajar (Woolfolk 2004). Menurut Hisrich dan Peter (1992), latar belakang dan karakteristik individu dari seorang wirausaha meliputi latar belakang lingkungan keluarga (pekerjaan orang tua), pendidikan, nilai pribadi, usia, dan pengalaman bekerja.
Wickham (2004) menyatakan bahwa untuk mencapai keberhasilan dalam menjalankan usaha dan meningkatkan kinerja usaha, wirausaha membutuhkan karakteristik kewirausahaan yang baik. Karakteristik-karakteristik kewirausahaan tersebut, antara lain (1) bekerja keras, (2) inisiatif, (3) penentuan tujuan atau
sasaran, (4) keuletan, (5) kepercayaandiri, (6) kemauan untuk menerima ide baru, (7) ketegasan, (8) pencarian informasi, (9) kemauan untuk belajar, (10) kemauan untuk mencari peluang, (11) kemauan untuk berubah, dan (12) ketegasan. Menurut Longenecker et al. (1994), karakteristik dari seorang wirausaha, antara lain kebutuhan yang tinggi akan penghargaan, keinginan yang tinggi untuk mengambil risiko, dan kepercayaan diri yang tinggi. Meredith (1984) menyebutkan bahwa karakteristik seorang wirausaha meliputi (1) fleksibel dan supel dalam bergaul, (2) mampu dan dapat memanfaatkan peluang usaha yang ada, (3) memiliki pandangan ke depan, cerdik, dan lihai, (4) tanggap terhadap situasi yang berubah-ubah dan tidak menentu, (5) mempunyai kepercayaan diri dan mampu bekerja mandiri, (6) mempunyai pandangan yang optimis dan dinamis, (7) mempunyai motivasi yang kuat dan teguh pendiriannya, (8) sangat mengutamakan prestasi dan memperhitungkan faktor-faktor yang menghambat dan penunjang, (9) memiliki disiplin diri yang tinggi, dan (10) berani mengambil risiko dengan memperhitungkan tingkat kegagalannya.
Karakteristik kewirausahaan yang dimiliki oleh wirausaha menurut Zimmerer (2004), antara lain (1) tanggung jawab, (2) pemilihan risiko, (3) kepercayaandiri terhadap kemampuan diri untuk sukses, (4) keinginan terhadap umpan balik, (5) tingkat energi yang tinggi, (6) orientasi masa depan, (7) keterampilan pengorganisasian, (8) nilai penghargaan, (9) komitmen yang tinggi, (10) toleransi terhadap ambiguitas, (11) fleksibilitas. Kao (1989) menyatakan bahwa wirausaha memiliki beberapa karakteristik, antara lain memiliki (1) komitmen, tekad, ketekunan, (2) dorongan untuk mencapai dan tumbuh, (3) berorientasi tujuan dan peluang, (4) mengambil inisiatif dan tanggung jawab personal, (5) realisme dan rasa humor, (6) mencari dan menggunakan umpan balik, (7) internal locus of control, (8) mengambil risiko dan mencari risiko yang sudah diperhitungkan, (9) kebutuhan status dan kekuasaan yang rendah, (10) integritas dan keandalan. Longenecker et al. (1994) menyatakan bahwa stereotip umum karakteristik wirausaha adalah membutuhkan pencapaian prestasi, kemauan untuk mengambil risiko, dan kepercayaan diri yang tinggi.
Dalam penelitian ini, karakteristik kewirausahaan peternak sapi perah KTTSP Kania yang diteliti meliputi karakteristik individu dan karakteristik kewirausahaan. Karakteristik individu peternak sapi perah meliputi (1) pendidikan formal, (2) pendapatan rumah tangga, (3) pendidikan informal, (4) motivasi usaha, (5) pemanfaatan media informasi, (6) modal usaha, (7) usia, (8) lama pengalaman berusaha, dan (9) jumlah tanggungan keluarga. Karakteristik kewirausahaan peternak sapi perah yang diteliti meliputi (1) kemauan bekerja keras, (2) inisiatif, (3) memiliki tujuan atau sasaran, (4) keuletan, (5) kepercayaan diri, (6) kemauan untuk menerima ide baru, (7) keinginan mengambil risiko (8) keinginan untuk mencari informasi, (9) kemauan untuk belajar, (10) kebiasaan mencari peluang, (11) kemauan untuk berubah, dan (12) ketegasan.
Pendidikan Formal
Hisrich dan Peter (1992) berpendapat bahwa pendidikan merupakan hal penting dalam mendidik wirausaha yang tercermin tidak hanya pada tingkat pendidikan yang diperoleh, namun hal tersebut juga memiliki peranan utama dalam membantu menangani permasalahan yang dihadapi dan mengoreksi
kekurangan dalam usaha. Meskipun pendidikan bukan merupakan sesuatu yang penting untuk memulai usaha, namun pendidikan memberikan latar belakang, terutama jika latar belakang pendidikan tersebut berkaitan dengan usahanya. Dalam penelitian ini, yang dimaksud dengan pendidikan formal merupakan pendidikan formal terakhir yang pernah dijalani oleh peternak sapi perah. Penggolongkan tingkat pendidikan formal peternak ada empat tingkat. Golongan tingkat pendidikan tersebut, antara lain SD, SMP, SMA, dan perguruan tinggi. Pendapatan Rumah Tangga
Pendapatan rumah tangga merupakan salah satu karakteristik individu wirausaha yang memiliki hubungan dengan kompetensi wirausaha (Syafiuddin dan Jahi 2007). Dalam penelitian ini, yang dimaksud pendapatan rumah tangga merupakan pendapatan yang diterima oleh peternak, baik dari hasil pendapatan beternak sapi perah maupun pendapatan dari sumber lainnya. Salah satu penyebab ketidakmampuan peternak dalam mengembangkan usaha sapi perah adalah karena rendahnya pendapatan rumah tangga. Pendapatan yang diperoleh oleh peternak dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan tidak ada yang dialokasikan sebagai investasi untuk pengembangan usahanya.
Pendidikan Informal
Hisrich dan Peter (1992) menyatakan bahwa saat menjalani pendidikan formal tidak semua wirausaha menyadari bahwa wirausaha akan menjadi pilihan karirnya. Untuk memenuhi kebutuhan pendidikan kewirausahaan, wirausaha dapat mencari pengetahuan melalui seminar dan kursus. Keterampilan yang dapat diperoleh melalui seminar dan kursus meliputi kreativitas, keuangan, pengendalian atau pengawasan, identifikasi peluang, evaluasi usaha, dan pembuatan perjanjian. Dalam penelitian ini, yang disebut pendidikan informal adalah pendidikan selain pendidikan formal terakhir yang dijalani peternak sapi perah, yang berkaitan dengan peningkatan pengetahuan dan keahlian dalam berusaha sapi perah. Yang termasuk dalam pendidikan informal peternak, antara lain pelatihan dari pihak-pihak terkait baik pelatihan, seminar, atau workshop yang berkaitan dengan pengetahuan budidaya, manajerial, dan pengolahan hasil usaha ternak sapi perah. Pendidikan informal memiliki peranan penting dalam proses adopsi dan pengembangan ilmu pengetahuan bagi peternak.
Modal Usaha
Yang dimaksud dengan modal usaha dalam penelitian ini adalah jumlah modal yang digunakan peternak untuk memulai usaha sapi perah dan penambahan modal yang dilakukan selama menjalankan usahanya. Modal peternak dapat diperoleh dari modal pribadi, pinjaman dari keluarga atau rekan, atau pinjaman dari lembaga keuangan. Modal usaha berkaitan dengan skala usaha yang dibangun oleh peternak yang akan berimplikasi pada besarnya pendapatan peternak. Motivasi Usaha
Motivasi merupakan hal yang membuat wirausaha berani untuk mengambil risiko dan membuka suatu usaha. Hisrich dan Peter (1992) menyatakan bahwa banyak orang yang tertarik untuk memulai suatu usaha dan meskipun memiliki latar belakang dan sumber keuangan, namun hanya sedikit yang akhirnya
memutuskan untuk memulai usaha. Motivasi untuk berusaha, antara lain kebebasan untuk tidak bekerja pada orang lain, kepuasaan pekerjaan, penghargaan, peluang, dan uang. Motivasi usaha peternak dalam penelitian ini menunjukkan seberapa besar dorongan diri peternak untuk membuka usaha serta menjalankan dan mengembangkan usaha peternakan sapi perah.
Pemanfaatan Media Informasi
Pemanfaatan media informasi adalah salah satu karakteristik individu wirausaha yang memiliki hubungan dengan kompetensi wirausaha (Syafiuddin dan Jahi 2007). Kemampuan mengakses informasi merupakan salah satu karakteristik wirausaha yang mempengaruhi kompetensi kewirausahaan (Muatip 2008). Pengertian pemanfaatan media informasi dalam penelitian ini adalah seberapa sering peternak mampu memanfaatkan media informasi untuk kegiatan usaha sapi perah. Media informasi dapat berupa buku, majalah, tabloid, dan internet. Pemanfaatan media ini merupakan salah satu sarana untuk mencari ilmu pengetahuan dan informasi mengenai yang berkaitan dengan usaha sapi perah atau untuk mempromosikan produknya sebagai upaya untuk mengembangkan usahanya.
Usia
Menurut Hurlock dalam Riyanti (2003), perkembangan karir berjalan seiring dengan proses perkembangan manusia. Perkembangan karir manusia dikelompokkan menjadi tiga kelompok usia, yaitu usia dewasa (18 tahun-40 tahun), dewasa madya (usia 40-60 tahun), dan dewasa akhir (usia di atas 60 tahun). Setiap kelompok usia memiliki ciri khas apabila dikaitkan dengan perkembangan karir. Masa dewasa awal sangat terkait dengan perkembangan dalam hal membentuk pekerjaan. Pada usia dewasa madya, usia dalam kategori ini bercirikan keberhasilan dalam pekerjaan. Pada usia dewasa akhir, orang mulai mengurangi kegiatan karirnya atau berhenti sama sekali.
Lama Pengalaman Berusaha
Hisrich dan Peter (1992) menyatakan bahwa lama pengalaman berusaha merupakan salah satu indikasi yang baik atas suatu kesuksesan, terutama apabila usaha baru tersebut merupakan bidang yang sama sebagai pengalaman usaha. Definisi dari lama pengalaman berusaha dalam penelitian ini adalah seberapa lama peternak menjalankan usaha peternakan sapi perah. Lama pengalaman berusaha ini berkaitan dengan seberapa banyak pengetahuan dan pengalaman wirausaha yang diperoleh peternak selama menjalankan usaha peternakan sapi perah.
Jumlah Tanggungan Keluarga
Jumlah tanggungan keluarga merupakan jumlah anggota keluarga yang diberi nafkah oleh peternak. Jumlah tanggungan keluarga mempengaruhi seberapa besar pendapatan peternak yang dialokasikan untuk membiayai kebutuhan keluarga. Hal ini berkaitan dengan seberapa besar pendapatan yang tersisa setelah digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan dapat diinvestasikan kembali untuk usaha peternakan sapi perah. Semakin banyak jumlah tanggungan keluarga,
maka semakin tinggi pula pengeluaran yang dikeluarkan oleh peternak untuk mencukupi kebutuhan keluarganya.
Kemauan Bekerja Keras
Wirausaha banyak bekerja keras mengalokasikan usaha fisik dan mental dalam mengembangkan usahanya karena menjadi wirausaha merupakan aset pribadi yang paling berharga. Menyeimbangkan kebutuhan akan usahanya dengan komitmen kehidupan lainnya seperti keluarga dan teman merupakan salah satu tantangan besar yang dihadapi wirausaha (Wickham 2004). Yang dimaksud kemauan bekerja keras merupakan seberapa besar kemauan, konsistensi, serta kerja usaha yang dicurahkan peternak untuk menjalankan dan mengembangkan usaha sapi perah dengan sungguh-sungguh.
Inisiatif
Wirausaha tidak perlu diberitahu apa yang harus dilakukan dalam menjalankan usahanya. Wirausaha mengidentifikasi tugas untuk diri sendiri dan kemudian melanjutkannya tanpa mencari dorongan atau arahan dari orang lain (Wickham 2004). Dalam penelitian ini, inisiatif merupakan karakter peternak dalam keinginan dan kemauan peternak dalam memulai sesuatu hal dalam menjalankan usahanya. Inisiatif peternak dalam penelitian ini berkaitan dengan kemauan peternak untuk mencoba memulai sesuatu atau mencoba mengambil suatu langkah untuk mengatasi suatu permasalahan atau kendala yang dihadapi atau untuk membuat keadaan usaha menjadi lebih baik, tanpa mendapat suruhan atau dorongan dari orang lain.
Memiliki Tujuan atau Sasaran
Wirausaha cenderung untuk mengatur dirinya sendiri dengan jelas dan menuntut sasaran. Wirausaha mematok prestasi-prestasinya terhadap mereka terhadap sasaran-sasaran personalnya. Sehingga, wirausaha cenderung bekerja dengan standar internalnya daripada melihat ke orang lain untuk menilai kinerjanya (Wickham 2004). Dalam penelitian ini, yang dimaksud dengan variabel memiliki tujuan atau sasaran adalah bahwa peternak memiliki tujuan atau sasaran yang ingin dicapai atas usahanya dalam periode waktu tertentu, seperti sasaran jumlah produksi susu, jumlah kepemilikan ternak, produksi hasil olahan susu, atau profit yang ingin dicapai dalam menjalankan usahanya.
Keuletan
Tidak semua usaha yang dilakukan wirausaha berjalan lancar sepanjang waktu, bahkan kegagalan mungkin dialami lebih sering daripada keberhasilan. Wirausaha tidak hanya harus tidak mundur setelah kegagalan usaha terjadi, namun juga harus belajar mengambil hal positif dari pengalaman dan menggunakannya belajar untuk meningkatkan peluang keberhasilan pada masa yang akan datang (Wickham 2004). Dalam penelitian ini, keuletan adalah sejauh mana peternak gigih dalam menjalankan usahanya. Jika peternak memiliki keuletan yang baik, maka peternak tidak akan mudah menyerah apabila menghadapi kendala dalam perjalanan usahanya.
Kepercayaandiri
Individu yang memiliki rasa percaya diri merasa dapat memenuhi tantangan yang dihadapinya (Longenecker et al. 1994). Individu tersebut memiliki rasa penguasaan atas berbagai jenis masalah yang mungkin akan dihadapi. Wickham (2004) menyatakan bahwa wirausaha harus menunjukkan kepercayaan terhadap dirinya sendiri dan juga terhadap usaha yang dijalankannya. Dalam penelitian ini, yang dimaksud dengan kepercayaan diri adalah rasa percaya diri yang dimiliki oleh peternak dalam menjalankan usaha dan menghadapi tantangan yang dihadapi, serta yakin dalam mengambil keputusan yang diambil dalam usahanya. Kemauan Menerima Ide Baru
Wichkam (2004) menyatakan bahwa wirausaha harus menyadari keterbatasannya dan menyadari kemungkinan untuk harus meningkatkan keterampilannya. Wirausaha harus bersedia untuk memperbaiki ide-idenya dari pengalaman baru yang didapatkan. Dalam penelitian ini, yang dimaksud dengan kemauan menerima ide baru adalah kemauan peternak untuk menerima ide-ide baru untuk diaplikasikan dalam usahanya.
Keinginan Mengambil Risiko
Longenecker et al. (1994) menyatakan bahwa risiko yang dihadapi oleh seorang wirausaha bervariasi. Risiko keuangan dihadapi wirausaha saat menginvestasikan uangnya untuk usaha. Meninggalkan pekerjaan yang aman juga merupakan risiko yang dihadapi wirausaha dalam kehidupan karirnya. Yang dimaksud dengan keinginan mengambil risiko dalam penelitian ini adalah keinginan peternak untuk mengambil risiko dari suatu hal yang ditempuhnya, dengan tujuan untuk memajukan usaha peternakan sapi perahnya.
Keinginan Mencari Informasi
Wirausaha tidak pernah puas dengan informasi yang dimiliki pada suatu waktu dan secara kontinyu ingin mencari informasi baru lagi. Wirausaha yang handal cenderung untuk bertanya banyak daripada memberikan pernyataan ketika berkomunikasi (Wickham 2004). Dalam penelitian ini, keinginan mencari informasi yang dimaksud adalah keinginan peternak untuk mencari informasi- informasi yang bermanfaat untuk mengembangkan usaha peternakan sapi perah. Kemauan untuk Belajar
Wirausaha yang baik selalu menyadari apa yang dapat dilakukannya dengan baik. Wirausaha yang baik menyadari keterampilan dan keterbatasan yang dimiliki dan memahami sebuah kesempatan untuk meningkatkan keterampilan dan untuk mengembangkan kemampuan baru (Wickham 2004). Yang dimaksud dengan kemauan untuk belajar dalam penelitian ini adalah keinginan peternak untuk mempelajari pengetahuan-pengetahuan baru untuk meningkatkan keterampilannya yang berkaitan dengan usaha peternakan sapi perah.
Kebiasaan untuk Mencari Peluang
Wirausaha tidak pernah puas dengan hal-hal pada waktu tertentu. Wirausaha memanfaatkan ketidakpuasan ini untuk menjadi tidak pernah puas hal hal yang
telah dicapai (Wickham 2004). Dalam penelitian ini, kemauan untuk mencari peluang adalah keinginan peternak untuk terus mencari peluang dari usaha yang dijalankannya untuk membuat usahanya berkembang dan lebih maju.
Kemauan untuk Berubah
Seorang wirausaha selalu memiliki keinginan untuk mengikuti perubahan yang positif dan secara aktif mengikuti kemungkinan yang dihasilkan oleh adanya suatu perubahan daripada melawan perubahan (Wickham 2004). Maksud dari kemauan mengikuti perubahan dalam penelitian ini adalah keinginan peternak untuk mengikuti perubahan-perubahan positif yang terjadi dalam menjalankan usahanya dan menangkap perubahan-perubahan positif tersebut sebagai peluang usaha.
Ketegasan
Wirausaha biasanya mengetahui apa yang ingin didapatkannya dari suatu situasi dan tidak takut untuk mengekspresikan keinginannya. Menjadi tegas berarti memiliki komitmen untuk hasil. Ketegasan didasarkan pada pemahaman dan kemampuan komunikasi yang baik (Wickham 2004). Dalam penelitian ini, ketegasan berarti sejauh mana peternak mampu tegas dalam memutuskan sesuatu dalam menjalankan usaha peternakan sapi perah.
Kompetensi Kewirausahaan Peternak
Spenser dan Spencer (1993) menyatakan bahwa kompetensi merupakan karakteristik mendasar seseorang yang menentukan hasil kerja yang terbaik dan efektif sesuai dengan kriteria yang ditentukan dalam suatu pekerjaan atau situasi tertentu. Kompetensi menentukan perilaku dan kinerja atau hasil kerja seseorang dalam situasi dan peran yang beragam. Tingkat kompetensi seseorang akan menentukan seseorang akan mampu menyelesaikan pekerjaannya dengan baik atau tidak, serta menentukan cara-cara seseorang dalam berperilaku atau berpikir, menyesuaikan dalam berbagai situasi dan bertahan lama dalam jangka panjang.
Kompetensi juga dapat diartikan sebagai kecakapan yang memadai untuk melakukan suatu tugas atau memiliki keterampilan dan kecakapan yang disyaratkan (Suparno 2001). Kompetensi merupakan sebuah kontinum antara pengetahuan, kemampuan, keterampilan, dan keahlian dengan karakteristik dasar seseorang, seperti motif, nilai, sikap, dan konsep diri yang akan mendorong kinerja (Maman 2008). Harijati (2007) menyatakan bahwa kompetensi agribisnis adalah kemampuan petani dalam berusahatani yang merupakan integrasi atau keselarasan pengetahuan, sikap, mental, dan keterampilan agribisnis petani yang melahirkan perilaku untuk menyelesaikan masalah berusahatani.
Wickham (2004) menyatakan bahwa kompetensi kewirausahaan yang dibutuhkan oleh seorang wirausaha meliputi (1) kemampuan strategi, (2) kemampuan perencanaan, (3) kemampuan pemasaran, (4) kemampuan keuangan, (5) kemampuan manajemen rancangan, (6) kemampuan pengelolaan waktu, (7) kemampuan kepemimpinan, (8) kemampuan memotivasi, (9) kemampuan mendelegasi, (10) kemampuan komunikasi, (11) kemampuan negosiasi. Tyler dan Ensminger (2006) menyatakan bahwa beberapa konsep keahlian beternak yang harus dipahami oleh seorang peternak sapi perah, antara lain mengenai (1) pengembangan bibit ternak, (2) nutrisi ternak, (3) pakan ternak, (4) reproduksi
ternak, (5) laktasi, (6) keamanan ternak, dan (7) kenyamanan ternak. Selain itu, hal-hal lain harus dipahami oleh peternak sapi perah, antara lain proses pengolahan hasil ternak, pemasaran, dan pengelolaan tenaga kerja. Menurut Etgen et al. (1987), beberapa prinsip yang harus dipahami oleh seorang peternak dalam mengelola usaha peternakan sapi perah, antara lain pencatatan ternak, manajemen keuangan, nutrisi dan pakan ternak, perkawinan ternak, manajemen pemerahan, kesehatan ternak, manajemen tenaga kerja, dan pemasaran hasil ternak.
Berdasarkan kondisi usaha peternakan sapi perah perah KTTSP Kania di Desa Tajurhalang, kompetensi yang diteliti dalam penelitian ini terdiri menjadi dua bagian, yaitu kompetensi teknis dan kompetensi manajerial. Kompetensi teknis terdiri dari delapan indikator, yaitu (1) pengembangan bibit ternak, (2) nutrisi dan pakan ternak, (3) reproduksi, (4) laktasi, (5) keamanan ternak, (6) kenyamanan ternak, (7) pencatatan, dan (8) pengolahan hasil ternak. Kompetensi manajerial terdiri dari sepuluh indikator, yaitu (1) perencanaan usaha, (2) pengelolaan tenaga kerja, (3) pemasaran, (4) pengelolaan keuangan, (5) evaluasi usaha, (6) kemampuan berkomunikasi, (7) kemampuan negosiasi, (8) kepemimpinan, (9) kemampuan mencari peluang, (10) kemampuan menjalin kerjasama dengan mitra.
Pengembangan Bibit Ternak
Tyler dan Ensminger (2006) menyatakan bahwa yang dimaksud dengan keahlian dalam hal bibit ternak meliputi pengetahuan dasar-dasar genetika ternak, pemilihan indukan ternak, serta strategi untuk perbaikan genetik bibit ternak. Bibit ternak merupakan semua hasil pemuliaan ternak yang memenuhi persyaratan tertentu untuk dikembangbiakkan (Firman 2010). Untuk menghasilkan bibit sapi perah yang memenuhi persyaratan tertentu atau berkualitas harus melalui berbagai tahapan agar menghasilkan bibit sapi perah yang berkualitas. Dalam penelitian ini, kemampuan pengembangan bibit ternak diukur dari kemampuan mengetahui jenis genetik bibit sapi perah yang baik, dan memilih bibit sapi perah yang unggul, melalukan perbaikan genetik bibit ternak.
Nutrisi dan Pakan Ternak
Tyler dan Ensminger (2006) menyebutkan bahwa konsep pengetahuan dalam pakan ternak meliputi dasar-dasar kualitas pakan, sistem ketersediaan hijauan, sistem penggembalaan dan manajemen hijauan, pembuatan pakan, kualitas silase, sistem penyimpanan silase, bahan pakan untuk konsentrat, dan pengetahuan produk pakan. Pakan merupakan salah satu faktor yang menentukan kemampuan berproduksi sapi perah. Dalam penelitian ini, kemampuan dalam hal nutrisi dan pakan ternak dilihat dari kemampuan peternak dalam memahami kebutuhan nutrisi dan pakan ternak, memahami takaran pakan yang sesuai, menjaga ketersediaan pakan, dan cara pemberian pakan yang baik.
Reproduksi
Tyler dan Ensminger (2006) menyatakan bahwa keahlian konsep reproduksi dalam peternakan sapi perah meliputi dasar-dasar reproduksi sapi betina, fisiologi reproduksi dan pengelolaan sapi jantan, pemahaman siklus estrus (masa birahi), bantuan teknologi reproduksi, dan pemahaman masa kehamilan dan nifas.
Pengelolaan reproduksi sapi perah merupakan bagian yang penting dalam pengelolaan sapi perah karena produksi susu merupakan turunan dari karakteristik seks atau produksi susu sangat tergantung dari reproduksi. Beberapa hal yang penting diketahui oleh peternak mengenai reproduksi ternak, antara lain siklus estrus, lama bunting, waktu kosong, frekuensi sapi perah dikawinkan sampai