RESPONDEN
Pada bab ini dijelaskan mengenai gambaran umum dari lokasi penelitian yang terbagi dalam beberapa subbab, pertama terkait kondisi geografis Desa, kedua mengenai kondisi sosial ekonomi, dan kondisi ekologis yang ada di Desa Muara. Selanjutnya bab ini juga akan mendeskripsikan program Rehabilitasi mangrove yang dilaksanakan oleh PT Pertamina di Desa Muara dan karakteristik responden secara umum.
Deskripsi Lokasi Penelitian Kondisi Geografis
Desa Muara terletak di bagian utara Kecamatan Teluk Naga dengan jarak tempuh kurang lebih 10 km dari kantor Kecamatan. Terdiri dari 8 Dusun yang tersusun atas 8 Rukun Warga (RW) dan 22 rukun Tetangga (RT). Memiliki luas daerah sebesar 505 Ha dengan ketinggian 40 m dari permukaan laut dan termasuk daerah daratan rendah. Suhu udara mencapai 27oC–33oC. Desa Muara berada di pesisir laut Jawa dan bersebrangan dengan Kepulauan Seribu.
Batas wilayah Desa Muara berbatasan dengan:
Sebelah utara berbatasan dengan Laut Jawa
Sebelah timur berbatasan dengan Laut Jawa/Desa lemo
Sebelah selatan berbatasan dengan Desa Lemo
Sebelah barat berbatasan dengan Desa Tanjung Pasir Kondisi Sosial Ekonomi
Jumlah penduduk Desa Muara sampai dengan bulan Maret 2015 tercatat sebanyak 3.494 jiwa, terdiri dari laki-laki sebanyak 1.796 jiwa, perempuan sebanyak 1.698 jiwa, dengan jumlah kepala keluarga sebanyak 979 kepala keluarga.
Dilihat dari berbagai aspek, Desa Muara mempunyai fungsi sebagai penyangga aspek lain, dengan jumlah penduduk 3.494 jiwa, mempunyai potensi wilayah sebagai daerah wisata, Desa Muara mempunyai pantai yang baik untuk kegiatan pariwisata, yang sekarang sudah mulai diminati oleh para pengunjung, meski belum adanya penataan dan pengelolaan yang cukup baik. Untuk kedepannya, tidak menutup kemungkinan bagi Desa Muara untuk menjadi daerah wisata yang diminati wisatawan. Selain pantai yang baik, jaraknya yang dekat dengan Jakarta dan Bandara Internasional Soekarno Hatta. Impian ini tentu harus dibarengi dengan kerja keras berbagai pihak, mulai pemerintah yang lebih memperhatikan pantai, masyarakat yang mulai menjaga lingkungan, juga para wisatawan yang mulai menjadikan kawasan ini sebagai sasaran objek wisata.
Berdasarkan data yang tercatat di Desa Muara, tingkat pendidikan masyarakat paling tinggi adalah lulusan sarjana strata satu, dengan jumlah dua orang saja, dan lulusan Diploma sebanyak 10 orang. Masyarakat yang
mengenyam pendidikan di sekolah menengah atas berjumlah 125 orang, sekolah menengah pertama 149 orang, lulusan sekolah dasar berjumlah 531 orang, dan anak yang belum sekolah berjumlah 336 orang. Sayangnya, warga berusia 7-45 tahun yang sama sekali tidak pernah sekolah cukup tinggi, yakni berjumlah 755 orang, sedangkan buta huruf berjumlah 439 orang. Seperti diterangkan pada tabel dibawah ini.
Tabel 3 Jumlah dan persentase penduduk berdasarkan tingkat pendidikan di Desa Muara tahun 2014
No Tingkat Pendidikan Jumlah Penduduk (orang) Persentase (%)
1 Tidak Sekolah 336 25.49 2 Tidak Tamat SD 160 12.14 3 SD 531 40.29 4 SMP 149 11.31 5 SMA 125 9.48 6 Sarjana/D1-D3 12 0.91 7 Pascasarjana 5 0.38 Jumlah 36 100.00
Mata pencaharian yang dimiliki masyarakat cukup beragam, tidak jarang mereka memiliki pola nafkah ganda dalam keluarga untuk memenuhi kebutuhan kesehariannya. Dominasi pekerjaan sangat terlihat, masyarakat sebanyak 1.280 orang bekerja sebagai buruh, baik buruh tani maupun buruh pabrik. Buruh tani biasanya dilakukan di luar Desa, karna di Desa Muara sendiri tidak memiliki lahan sawah atau kebun. Sistem pembayaran buruh dilakukan sesuai kesepakatan, kebanyakan dengan pembagian hasil panen. Pekerja buruh pabrik mayoritas adalah pemuda desa, sistem pembayaran adalah gaji perminggu. Rata-rata buruh pabrik dibayar Rp.300.000-Rp.500.000/minggu.
Kemudian mata pencaharian lain yang cukup banyak dilakoni mastarakat adalah nelayan, baik nelayan tambak maupun laut lepas. Ada sekitar 500 orang yang bekerja sebagai nelayan, yang sebagian besar adalah orang tua diatas 30 tahun. Hasil tangkapan sangat beragam, seperti ikan, udang, kepiting, kerang, dan rumput laut di sekitaran empang, sungai, maupun laut lepas. Mata pencaharian lainnya sangatlah beragam, seperti petani, pedagang, peternak, pengerajin, tukang kayu, tukang batu, penjahit, PNS, pengusaha, dan TNI.
Kondisi Ekologis
Hutan mangrove di Desa Muara mula menjadi perhatian ketika pada 2002 abrasi melanda 197,3 Ha lahan masyarakat, sehingga mengakibatkan lahan dan rumah nelayan pada area 600 meter hingga 1 kilometer dari bibir pantai, hilang tersapu ombak. Data BPDAS Citarum-Ciliwung menyebutkan kerusakan hutan mangrove di Kabupaten Tangerang mencakup area seluas 371 Ha. Sekitar 118 Ha diantaranya berada di Kecamatan Teluk Naga.
Kondisi ekosistem pantai Teluk Naga sudah mengalami kerusakan, air lautnya keruh sehingga tidak nyaman untuk kegiatan rekreasi, wilayah sekitarnya gersang dipenuhi tambak ikan. Catatan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Tangerang menyebutkan bahwa, kerusakan di kawasan Pantai Utara Tangerang
terjadi dan makin tidak terkendali mulai dari Kecamatan Teluk Naga, Pakuhaji, Sukadiri, Mauk, Kresek, Kronjo, hingga Sepatan.
Kerusakan karena abrasi ini mengakibatkan sejumlah pemukiman nelayan hilang tergerus air laut. Para nelayan terpaksa menggeser rumahnya ke lahan daratan karena setiap tahunnya kerusakan lahan karena abrasi ini mencapai puluhan meter. Dalam tiga tahun ini ada kawasan yang kehilangan daratan hingga mencapai 500 meter. Selain pemukiman, puluhan hektar lahan tambak juga hilang tak berbekas.
Deskripsi Program Rehabilitasi Mangrove
Program CSR rehabilitasi mangrove yang dilaksanakan oleh PT Pertamina di Desa Muara Kecamatan Teluk Naga adalah merupakan bentuk kepedulian dan tanggung jawab perusahaan terhadap lingkungan dan sosial. Program tersebut bernama Tanam-Semai-Pelihara dimana kegiatannya melibatkan masyarakat setempat untuk memberdayakan mangrove secara swadaya.
Kabupaten Tangerang menawarkan jasa wisata alam pantai sepanjang 40 kilometer. Muara merupakan salah satu desa pesisir yang berada di wilayah kecamatan Teluk Naga, berada sekitar 17 kilometer utara Kota Tangerang dan mudah diakses dari Jakarta merupakan potensi dan keunggulan wilayah tersebut sebagai daerah tujuan wisata. Apabila dikelola dengan baik dan serius, di masa yang akan datang dapat menjadi kawasan yang banyak membantu perekonomian warga Desa Muara melalui pengembangan tempat wisata bahari favorit.
Sayangnya, berdasarkan foto udara tahun 2002, kerusakan sudah sangat parah dan tidak mungkin dilakukan perbaikan dalam waktu cepat, karena kerusakan sudah mencapai puluhan ribu hektar dengan kerusakan mencapai antara 600 meter hingga 1 km dari bibir pantai. Sementara hasil penelitian yang dilakukan Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Tangerang beberapa waktu lalu memperkirakan sekitar 197,3 Ha lebih perkampungan nelayan yang sudah tersapu bersih oleh ombak besar. Bahkan, ada beberapa rumah nelayan sudah terendam air laut. Diperkirakan pula intrusi air laut sudah mencapai 5 km dari garis pantai. Kerusakan hutan mangrove di Kabupaten Tangerang mencapai luasan 371 Ha, sebagian besar berada di Kecamatan Teluk Naga yaitu 118 ha (BPDAS Citarum-Ciliwung). Oleh karena itu untuk merehabilitasi mangrove di Kabupaten Tangerang diperlukan 1.113.000 bibit, diantaranya 354.000 bibit untuk Kec. Teluk Naga.
Upaya pelestarian lingkungan di Kecamatan Teluk Naga pada tahun pertama (2012) sudah dilakukan bersama-sama dengan komunitas masyarakat mangrove Desa Muara yang telah terbentuk melalui program CSR Pertamina yang didukung oleh kepedulian pemerintah Tangerang dan Perum Perhutani. Hasil kegiatan yang telah dilakukan sampai Januari 2013 adalah terbentuknya komunitas masyarakat mangrove desa Muara (komunitas semai, tanam dan pelihara mangrove), terbangunnya persemaian dengan 10 000 bibit dan 35 000 bibit, Saung semai dengan ukuran 10 x 15 m2 sebagai cikal bakal mangrove center, dan penanaman sebanyak 75 000 batang tanaman mangrove. Hal ini merupakan modal dasar yang baik bagi Pertamina dalam melaksanakan program CSR lingkungan lanjutan di wilayah Teluk Naga. Bagi Pertamina, Teluk Naga dapat dijadikan sebagai show windows pemberdayaan masyarakat melalui antara
lain program rehabilitasi mangrove, pusat pembibitan mangrove, pengembangan edu-ekowisata, pengembangan konservasi jenis mangrove dan pemanfaatan energi terbarukan. Oleh karena itu, kegiatan ini diberi nama Kampung Mangrove dengan Energi Terbarukan.
a) Tujuan dan Sasaran Tujuan dari kegiatan ini adalah:
1. Membangun kampung pembibitan mangrove dengan energi terbarukan (pusat pembibitan mangrove).
2. Menjadikan kawasan ini sebagai kawasan pendampingan yang dapat memasok kebutuhan donasi tanaman mangrove sebagai program lingkungan PT Pertamina
3. Menjadikan kawasan ini sebagai kawasan percontohan rehabilitasi mangrove; edukasi dan ekowisata mangrove; dan konservasi jenis mangrove.
4. Meningkatkan kesejahteraan ekonomi warga melalui program all about mangrove.
5. Perbaikan lingkungan wilayah pesisir (rehabilitasi ekosistem mangrove dan konservasi jenis mangrove)
6. Memberikan contoh dalam pemanfaatan energi terbarukan, antara lain: pemanfaatan energi matahari, gas bio, dan pemanfaatan energi angin. 7. Meningkatkan kemampuan masyarakat (Local Community Capacity)
dalam melakukan rehabilitasi ekosistem mangrove. Adapun sasaran dari pekerjaan ini adalah:
1. Terlaksananya rehabilitasi ekosistem mangrove sebanyak 300.000 bibit di kawasan pendampingan.
2. Mampu mensuplai kebutuhan bibit mangrove untuk donasi tanaman mangrove sebagai program lingkungan PERTAMINA (Menunjang program 100 juta bibit mangrove)
3. Menjadi kawasan percontohan edukasi dan ekowisata mangrove dengan energi terbarukan
4. Menjadikan kawasan percontohan konservasi jenis mangrove
5. Terlaksananya pengembangan kapasitas kelembagaan masyarakat melalui kegiatan pelatihan dan studi banding.
6. Sasaran tersebut diproyeksikan dalam 3 (tiga) tahun, dan akan dipenuhi secara bertahap.
b) Ruang Lingkup
Ruang lingkup pekerjaan ini adalah sebagai berikut:
Persiapan
Community mapping
Pembentukan struktur kelembagaan/kelompok kerja
Pendampingan masyarakat
Pelatihan mangrove
Pembangunan infrastruktur (pembukaan lahan bibit, pembangunan saung pendidikan, pembangunan gardu pandang, pembangunan sarana sanitasi
air bersih, pembangunan sarana penerangan umum (limar), pembangunan energi tenaga surya
Penyediaan sarana dan prasarana program
Pusat pembibitan
Zona penanaman (sabuk hijau)
Penyusunan disain edu-ekowisata mangrove
Pelaksanaan konservasi jenis mangrove
Penanaman tanaman pelindung jalur pipa pertamina
Penanaman tanaman multiguna di pemukiman
Monitoring dan evaluasi
Penyusunan laporan
Pembahasan laporan dan penggadaan laporan akhir.
Adapun ruang lingkup kegiatan pada tahun 2013 difokuskan di desa Lemo, Muara dan Tanjung Pasir dengan kegiatan pemetaan kepentingan para pihak (community mapping) dan pendataan status lahan, penyiapan pembibitan untuk penyulaman dengan target 60.000 bibit sampai akhir tahun 2013, dan melakukan kegiatan penanaman sebanyak 300.000 pohon di areal tambak masyarakat di lokasi pendampingan sebagai contoh rehabilitasi ekosistem/hutan mangrove.
Disamping itu dibangun “mangrove center”, mengadakan pelatihan dan studi
banding, serta penggunaan/pemanfaatan energi terbarukan sebagai contoh bagi masyarakat sekitar lokasi pendampingan.
c) Rencana Kegiatan
Pelaksana kegiatan adalah Lembaga Bina Lansekap dan Lingkungan (LBLL) Universitas Trisakti Jakarta bekerjasama dengan pihak-pihak lain yang kompeten di bidang rehabilitasi dan budidaya mangrove, energi terbarukan dan pemberdayaan masyarakat. Adapun kegiatan-kegiatan yang akan dilaksanakan pada tahun 2013 antara lain persiapan, disain kawasan edu-ekowisata mangrove, konservasi mangrove, rehabilitasi mangrove, pemberdayaan masyarakat, pembangunan mangrove center dengan energi terbarukan, serta infrastrukturnya.
d) Persiapan
Kegiatan persiapan terdiri atas beberapa sub-kegiatan, antara lain: (1) Koordinasi, (2) Mobilisasi Tenaga Ahli, (3) Stakeholder Mapping (Masyarakat dan Pemda setempat), (4) Kajian/identifikasi kegiatan yang sudah dilakukan, serta (5) Penelitian.
Koordinasi
Koordinasi dalam proyek ini terdiri atas dua bentuk, yaitu (1) Koordinasi dengan pemberi kerja dan (2) Koordinasi tim. Pada dasarnya kegiatan koordinasi dengan pemberi kerja dilakukan secara berkelanjutan, di setiap pelaksanaan pekerjaan. Pada tahap ini koordinasi dan diskusi yang dilakukan meliputi:
Koordinasi dan diskusi awal, untuk membahas tentang berbagai persiapan yang harus dilakukan berkaitan dengan rencana pelaksanaan pekerjaan, termasuk dalam hal ini adalah menyamakan persepsi antara Universitas
Trisakti dan Pertamina mengenai prinsip-prinsip pekerjaan serta lingkup materi/substansi pekerjaan.
Koordinasi dan diskusi untuk menyempurnakan dan menyepakati rencana kerja pelaksanaan pekerjaan.
Pada tahap awal, Koordinasi Tim bertujuan untuk mempersiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan pelaksanaan pekerjaan secara matang dan rinci, berkaitan dengan proses pekerjaan yang akan dilakukan. Koordinasi Tim meliputi penyusunan organisasi kerja, penyusunan rencana kerja, pembagian kerja, serta kebutuhan fasilitas pendukung yang diperlukan bagi kelancaran pelaksanaan pekerjaan. Pada tahap selanjutnya kegiatan Koordinasi dan Diskusi Tim akan dilakukan secara berkelanjutan (selama proses pelaksanaan pekerjaan berlangsung), untuk memperoleh kesepakatan-kesepakatan tertentu yang diperlukan.
Penyiapan Sumberdaya Manusia (SDM)
SDM yang perlu disiapkan dalam kegiatan ini ialah tenaga ahli dan tenaga pendukung. Tenaga ahli yang dilibatkan harus memenuhi kriteria yang sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan pekerjaan (bidang keahlian, kualifikasi personil, dan pengalaman kerja). Penentuan personil yang akan dilibatkan dilakukan dengan mempertimbangkan tingkat efesiensi dan efektifitas kerja yang dapat diberikan, sehingga proses pelaksanaan pekerjaan dapat berlangsung secara efektif dan efisien.
Prakondisi
Prakondisi dimaksudkan untuk memperkenalkan kegiatan (sosialisasi) kepada masyarakat dan pihak-pihak lain diantaranya pemerintah daerah yaitu BLH Kabupaten Tangerang dan pemerintah Kecamatan Teluk Naga, pemerintah pusat (KLH) dan dunia usaha lain yang mempunyai kegiatan di sekitar lokasi proyek. Dalam kegiatan ini termasuk juga pengembangan kelembagaan kampung mangrove dengan energi terbarukan.
Penelitian
Kegiatan penelitian dilaksanakan dalam dua bentuk yaitu (1) Stakeholders Mapping dan (2) Perencanaan rehabilitasi / penataan areal proyek. Stakeholders mapping dilaksanakan untuk mengetahui:
Posisi masyarakat dan Pemda setempat terhadap proyek
Kebutuhan dan keinginan masyarakat terhadap proyek
Perencanaan rehabilitasi lebih menekankan terhadap penelitian perencanaan rehabilitasi mangrove agar tingkat keberhasilan kegiatan rehabilitasi dapat optimal. Penelitian ini terdiri atas:
Penelitian jenis mangrove yang cocok untuk tumbuh baik di kawasan Tanjung Pasir
Penelitian teknik silvikultur (teknik penanaman dan desain penanaman yang mendukung keberhasilan rehabilitasi mangrove).
Kawasan mangrove di Teluk Naga memiliki tanah yang berpasir dan karat hara (miskin unsur hara) sehingga berdasarkan studi literature jenis yang cocok untuk ditanaman di kawasan tersebut adalah Rhizophora stilosa.
e) Konservasi Jenis Mangrove
Program Konservasi Jenis Mangrove sangat perlu dilakukan, karena pada umumnya selama ini kegiatan rehabilitasi mangrove hanya menanam dari jenis bakau (Rhizophora sp.) saja. Hail ini disebabkan karena tidak tersedianya bibit dari jenis mangrove yang lainnya, karena belum banyak diketahui proses regenerasi dari jenis mangrove yang lainnya tersebut. Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya konservasi jenis mangrove yang lainnya agar ekosistem mangrove tetap terjaga dan lestari.
f) Rehabilitasi Mangrove
Luas Area Rehabilitasi dan Kebutuhan Bibit Mangrove
Berdasarkan laporan dari BPDAS Citarum – Ciliwung (2008), kerusakan hutan mangrove di Kab. Tangerang mencapai 371 ha, diantaranya berada di wilayah Kec. Teluk Naga seluas 118 ha. Areal tersebut perlu direhabilitasi agar fungsi dan manfaat hutan mangrove dapat dirasakan masyarakat. Berdasarkan perhitungan kebutuhan bibit 3000 batang per ha, maka total kebutuhan bibit rehabilitasi mangrove di Kab Tangerang sebanyak 1.113.000 bibit. Pada tahun pertama (2012) telah dilaksanakan penanaman sebanyak 75.000 batang mangrove dan pada tahun ke 2 (2013) akan dilaksakan penanaman sebanyak 300.000 batang tanaman mangrove.
Persemaian
Untuk mendukung kegiatan rehabilitasi mangrove, pada Tahun II, telah disiapkan 25.000 bibit mangrove dari kegiatan persemaian tahun pertama. Selanjutnya akan disiapkan bibit sebanyak 275.000 batang untuk kegiatan penanaman dan juga akan dilakukan pembuatan bibit sebanyak 60. 000 bibit di persemaian untuk kegiatan penyulaman.
Bibit tanaman mangrove yang dipilih untuk kegiatan rehabilitasi mangrove dalam kegiatan ini yaitu Rhizophora sp. (bakau) dan Avicennia sp. (api-api), yang tersedia dalam jumlah yang cukup di sekitar lokasi kegiatan. Anakan alam, khususnya untuk jenis bakau dengan daun rata-rata 4-5 helai atau lebih banyak tersedia di sekitar lokasi dan dalam keadaan siap tanam. Dengan demikian untuk kebutuhan bibit diperkirakan tidak akan menemui permasalahan.
Pemilihan kedua jenis mangrove ini didasarkan pada tingkat kesesuaian lahan dan ketersediaan bibit, serta fungsi dan manfaat jenis tersebut. Sesuai dengan ketersediaan bibit di lokasi, pada Tahun I proporsi jenis yang akan ditanam adalah 60% jenis bakau dan 40% jenis api-api. Adapun pada tahun kedua dan ketiga proporsi jenis api-api akan ditingkatkan karena jenis ini buahnya dapat dimanfaatkan/dimakan antara lain untuk bahan kue sehingga disamping manfaat lingkungan juga sebagai alternatif pendapatan khususnya bagi ibu-ibu rumah tangga.
Penanaman
Realisasi penanaman Tahun I difokuskan di sekitar lokasi pembibitan, yaitu di Desa Muara. Lokasi penanaman tersebut berada di areal tambak milik masyarakat, sempa dan sungai, dan lahan terlantar. Penanaman di areal tambak akan difokuskan pada galengan dengan jarak tanam 0,5 m dan diperkirakan rata- rata kebutuhan bibit per ha sebanyak 1200 bibit. Pada tahun 2012, telah dilaksanakan penanaman sebanyak 75.000 batang dan lokasi penanaman dikonsentrasikan pada areal di sekitar pembibitan di desa Muara seperti yang disajikan pada Gambar 4.
(Sumber: Laporan Tahap II Tahun 2013-2014 CSR PT Pertamina) Gambar 2 Penanaman yang telah dilakukan pada tahun 2012
Selanjutnya pada tahun II (2013) dilakukan penanaman sebanyak 300.000 batang mangrove di 3 (tiga) desa, yaitu Desa Muara, Desa Lemo, dan Desa Tanjung Pasir. Lokasi penanaman memiliki kondisi fisik lahan berupa areal tambak dan areal tanah terlantar. Kedalaman tambak 0,5 – 1,5 meter, sedangkan tanah yang masih terlantar pada saat pasang air laut bisa tergenang sampai 1 m dan kering/tidak tergenang pada saat surut. Berbagai faktor seperti tinggi air pasang, kestabilan tanah, salinitas dan kondisi topografi mempengaruhi pertumbuhan spesies mangrove. Untuk itu perlu dilakukan evaluasi terhadap kondisi fisik lahan sebelum kegiatan penanaman sehingga diperoleh jenis tanaman yang cocok dengan kondisi lokasi. Berdasarkan informasi sementara di lapangan tinggi air pasang dapat mencapai 1,5 m, tanah berlumpur dan relatif stabil, serta topografi datar sampai landai.
Pemeliharaan
Kegiatan rehabilitasi hutan mangrove tentunya tidak akan berhasil jika tidak dilakukan pemeliharaan secara teratur dan intensif. Oleh karena itu, pada kegiatan ini direncanakan akan dilakukan pemeliharaan terhadap pohon-pohon mangrove pasca penanaman tahun 2012 dan rencana pemeliharaan tanaman tahun 2013 selama 3 (tiga) tahun.
g) Pemberdayaan Masyarakat/Pelatihan
Kegiatan pemberdayaan masyarakat yang dilaksanakan dalam kegiatan/proyek ini adalah berupa berbagai kegiatan pelatihan. Sesuai dengan tujuan sebagai kampung mangrove, pusat edukasi, ekowisata, dan desa percontohan dalam pemanfaatan energi terbarukan, maka materi pelatihan dalam jangka waktu sampai 3 tahun mendatang akan mencakup semua materi tersebut. Pada Tahun I (Tahun 2012), telah dilaksanakan kegiatan pelatihan dalam rangka pemberdayaan masyarakat, yaitu pelatihan lingkungan; pelatihan teknik silvikultur mangrove; teknik, kerajinan, dan budidaya ikan; pelatihan wirausaha, serta studi banding. Pada tahun 2013 akan dilakukan kegiatan pelatihan yang sama untuk komunitas masyarakat mangrove Desa Lemo.
Selain dari perguruan tinggi, instruktur pelatihan juga akan melibatkan petani tambak sukses (misalnya dari Kabupaten Subang/Blanakan). Adapun target peserta adalah sebagai berikut:
1. Persemaian: ibu-ibu PKK
2. Penanaman: ibu-ibu dan pekerja tambak. h) Event
Kampung mangrove dengan energi terbarukan di Muara, Lemo dan Tanjung Pasir mempunyai posisi lokasi yang strategis, karena dekat dengan pusat kegiatan ekonomi dan pembangunan, sehingga diharapkan menjadi show window
kegiatan CSR Pertamina.
Kegiatan/event yang direncanakan berkaitan dengan program kampung mangrove antara lain peresmian kegiatan tahun ke II di Kampung Mangrove dengan Energi Terbarukan, kerja bakti warga, dan kegiatan advertorial. Acara peresmian direncanakan akan dihadiri oleh SIKIB, Kementerian Lingkungan Hidup, Pemda Tangerang, media masa dan masyarakat Kampung Mangrove Muara, Lemo dan Tanjung Pasir.
i) Kegiatan yang telah Dilaksanakan
Pada Laporan Kemajuan Tahap I, dijelaskan pelaksanaan kegiatan- kegiatan yang dilaksanakan pada periode bulan Desember 2013 sampai dengan Januari 2014, antara lain:
1) Izin dan Koordinasi;
2) Stakeholders Meeting dengan Kepala Desa, Ketua RW & RT serta Tokoh Masyarakat maupun tokoh agama;
3) Pertemuan dan Diskusi Warga;
4) Penelitian dan Pengembangan Ekosistem Mangrove;
5) Program Edukasi berupa pelatihan budidaya mangrove dengan jenis api-api 6) Rehabilitasi Mangrove, yang meliputi kegiatan perencanaan rehabilitasi,
penanaman dan pemeliharaan sebanyak 100.000 pohon, persemaian sebanyak 50.000 pohon, serta pengadaan infrastruktur dan peralatan;
7) Pembayaran Honor Project Team Leader, Tenaga Ahli, Manajer Lapang, Pendamping Lapang, dan Tim Support Lapangan bulan Desember 2013 – Januari 2014;
8) Komunikasi, Akomodasi, Transportasi dan Asuransi bulan Desember 2013 – Januari 2014;
9) Konsultasi Kemitraan dan Pendampingan selama bulan Desember 2013 – Januari 2014;
10) Penyusunan Laporan Kegiatan Tahap I bulan Desember 2013 – Januari 2014. Adapun kegiatan yang dilaksanakan pada Tahap II (Februari – Mei 2014) antara lain:
1) Stakeholder meeting kedua di Desa Lemo, Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang
2) Pertemuan dan Diskusi Warga, berupa:
Focus Group discussion (FGD) dengan masyarakat Desa Muara, Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang
Focus Group discussion (FGD) dengan masyarakat Desa Lemo, Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang
3) Penyelesaian kegiatan Penelitian dan Pengembangan Ekosistem Mangrove, yang terdiri atas:
Kajian Baseline Study Identifikasi Potensi Sumberdaya Alam Pesisir
Kajian Baseline Study Sosial Ekonomi Masyarakat
Desain Kawasan Edu-Ekowisata Mangrove
Penelitian mahasiswa dengan judul: Pertumbuhan Bakau Minyak (Rhizophora apiculata Blume) di Persemaian Mangrove Muara, Teluk Naga, Tangerang
Penelitian mahasiswa dengan judul: Perencanaan Lanskap Kawasan Ekowisata Mangrove di Pesisir Muara Ujung, Desa Muara, Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang
4) Program Edukasi berupa:
Pelatihan Strategi Rehabilitasi Mangrove di Area Sungai dan Tepi Laut kepada masyarakat Desa Muara, Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang
Pelatihan Rehabilitasi Mangrove (Persemaian dan Penanaman Mangrove) kepada masyarakat Desa Lemo, Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang
Pelatihan pengolahan buah mangrove kepada masyarakat Desa Lemo, Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang
Pelatihan Tambak Ramah Lingkungan (PTRL) kepada masyarakat Desa Lemo, Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang
5) Kegiatan rehabilitasi Mangrove yang terdiri dari:
Penanaman dan pemeliharaan sebanyak 30.000 tanaman
Pemeliharaan tanaman lanjutan yang telah ditanam sebanyak 100.000 tanaman
Penghijauan lingkungan dengan tanaman pelindung di sisi jalan pipa pertamina sebanyak 200 pohon dan tanaman multiguna di pemukiman sebanyak 100 pohon
Pengadaan dan pemeliharaan infrastruktur dan peralatan
Pembangunan saung semai
6) Produksi media komunikasi project pendampingan (advetorial, t banner project, t banner kampanye lingkungan, dan papan project pendampingan)
7) Konsultasi Kemitraan dan Pendampingan berupa kegiatan Monitoring dan