2.1 Partisipasi ke Lembaga Keuangan Pedesaan
Le Thi Minh (2014) mengurai tumpang tindih dalam tiga istilah di atas "kredit pedesaan", "kredit pertanian", dan "kredit mikro" di sektor keuangan. Kredit pedesaan mengacu pada layanan kredit di daerah pedesaan yang bertujuan untuk orang-orang di semua tingkat pendapatan, sementara kredit pertanian cenderung untuk membiayai kegiatan terkait pertanian.
Lembaga keuangan mikro adalah penyediaan layanan keuangan un-tuk orang miskin dan berpenghasilan rendah, di mana mereka memiliki akses ke dana yang terjangkau untuk membiayai kegiatan mereka untuk menghasilkan pendapatan, membangun aset, memperlancar konsumsi, dan mengelola risiko. Layanan keuangan meliputi produk kredit (kredit mikro), juga tabungan, transfer uang, dan asuransi (CGAP, 2012).
69 2. GAMBARAN UMUM PARTISIPASI PETANI KE LEMBAGA
KEUANGAN PEDESAAN
2.1 Partisipasi ke Lembaga Keuangan Pedesaan
Le Thi Minh (2014) mengurai tumpang tindih dalam tiga istilah di atas "kredit pedesaan", "kredit pertanian", dan "kredit mikro" di sektor keuangan. Kredit pedesaan mengacu pada layanan kredit di daerah pedesaan yang bertujuan untuk orang-orang di semua tingkat pendapatan, sementara kredit pertanian cenderung untuk membiayai kegiatan terkait pertanian.
Lembaga keuangan mikro adalah penyediaan layanan keuangan untuk orang miskin dan berpenghasilan rendah, di mana mereka memiliki akses ke dana yang terjangkau untuk membiayai kegiatan mereka untuk menghasilkan pendapatan, membangun aset, memperlancar konsumsi, dan mengelola risiko. Layanan keuangan meliputi produk kredit (kredit mikro), juga tabungan, transfer uang, dan asuransi (CGAP, 2012).
Gambar 2.1 Keterkaitan Antara Sektor Keuangan
Partisipasi ke lembaga keuangan pedesaan dalam beberapa makalah didefinisikan sebagai kesulitan mengakses modal oleh petani miskin (Hinson, 2011). Perbedaan antara dua konsep "partisipasi ke lembaga keuangan formal" dan "partisipasi dalam program kredit formal" telah ditunjukkan dalam beberapa penelitian. Dalam beberapa kasus, kedua konsep ini digunakan secara bergantian. Namun, perbedaan antara keduanya adalah: partisipasi dalam program kredit adalah
Pasar Kredit Pasar Pedesaan
Pasar Pertanian Kredit Mikro
Gambar 2.1 Keterkaitan Antara Sektor Keuangan
Partisipasi ke lembaga keuangan pedesaan dalam beberapa makalah didefinisikan sebagai kesulitan mengakses modal oleh petani miskin (Hinson, 2011). Perbedaan antara dua konsep "partisipasi ke lembaga keuangan formal" dan "partisipasi dalam program kredit formal" telah ditunjukkan dalam beberapa penelitian. Dalam beberapa kasus, kedua konsep ini digunakan secara bergantian. Namun, perbedaan antara keduanya adalah: partisipasi dalam program kredit adalah masalah yang dapat dipilih petani untuk berpartisipasi, sementara partisipasi ke lembaga keuangan sering kali menyiratkan hambatan ketika memasuki pasar. 2.2 Penentu Partisipasi Kredit Pedesaan
Diagne dan Zeller (2001) mengelompokkan sumber kredit ke dalam tiga kategori: kredit formal, semi formal, dan informal. Yang formal adalah sumber kredit dari bank komersial atau sejumlah dana kredit. Kredit informal berasal dari kerabat, pemberi pinjaman perorangan, dan asosiasi. Sektor semi formal termasuk LKM, program pinjaman yang didukung pemerintah yang ditujukan untuk bagian-bagian tertentu dari populasi, dan proyek-proyek non-pemerintah lainnya.
Wulandari, Meuwissen, Karmana, Oude Lansink (2017) menemukan persyaratan penting untuk memperoleh keuangan di antara jenis penyedia keuangan. Bank dan LKM sama-sama memberikan kredit, mereka
fokus pada persyaratan yang berbeda. LKM fokus pada karakter dan
pengetahuan pasangan tentang aplikasi keuangan. Untuk berpartisipasi
ke lembaga keuangan non-tunai, asosiasi petani mengharuskan petani untuk memiliki keanggotaan asosiasi petani terdaftar.
Faktor-faktor yang mempengaruhi partisipasi ke lembaga keuangan formal rumah tangga pertanian dalam studi Diagne dan Zeller (2001) dianggap di bawah dua aktor utama seperti dalam kerangka Gambar 2.2 peminjam–rumah tangga petani/permintaan kredit dan pemberi pinjaman– penyalur kredit yang disajikan pada bagian di atas sebagai permintaan terpisah dan faktor persediaan. Faktor permintaan cenderung memberikan informasi apakah suatu rumah tangga terkendala atau tidak, sementara faktor penawaran menyajikan jumlah yang dapat diperoleh peminjam dari sumber kredit yang diberikan.
Gambar 2.2 Penentu Partisipasi Kredit
Penentu partisipasi kredit juga dapat dibagi menjadi faktor-faktor yang dapat diobservasi dan tidak dapat diobservasi. Pada Gambar 2.2, yang dapat diobservasi dapat berupa karakteristik sosial-ekonomi rumah tangga serta faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan pemberi pinjaman, sementara faktor yang tidak dapat diobservasi adalah modal/ jaringan sosial yang berinteraksi kedua aktor dalam kerangka tersebut. Di sisi lain, pasar kredit semi formal yang ditunjukkan pada Gambar 2.2 yang didominasi oleh LSM dan program kredit yang didukung pemerintah sering menargetkan bagian-bagian tertentu dari nasabah (terutama berpenghasilan rendah atau populasi miskin). Dengan demikian,
pemrosesan pinjaman dan jumlah pinjaman pasar semi formal akan jauh berbeda dari lembaga keuangan normal. Prosedur pinjaman semi formal seringkali merupakan kriteria tetap. Oleh karena itu, penelitian tentang perilaku pemberi pinjaman semi formal sangat sulit dilakukan.
Kajian Hananu, Abdul-Hanan, dan Zakaria (2015) mendapati umur, jumlah anggota keluarga, dan pendapatan mempengaruhi partisipasi ke lembaga keuangan pedesaan. Demikian pula dengan Kosgey (2013) menyebutkan faktor utama yang mempengaruhi partisipasi kredit adalah pendapatan rumah tangga, ukuran keluarga, jarak bank, durasi pinjaman, pemrosesan pinjaman dan besaran pinjaman. Kosgey (2013) serta Chandio dan Jiang (2017) menemukan suku bunga sebagai faktor positif yang signifikan. Fokus kajian Hananu, Abdul-Hanan, dan Zakaria (2015), Kosgey (2013) juga Okurut, Schoombee, dan Van der Berg (2005) mengungkapkan pendidikan petani di beberapa negara berkembang menjadi salah satu faktor utama penentu partispasi ke lembaga keuangan.
Kepala keluarga yang berpendidikan menyiratkan memiliki pengetahuan yang lebih baik, keterampilan bertani, serta informasi tentang lembaga keuangan pedesaan. Faktor lain yang terkait erat dengan ukuran keluarga dan pendapatan keluarga adalah rasio ketergantungan. Semakin banyak anggota keluarga yang memiliki ketergantungan, semakin tinggi kemungkinan untuk menjadi miskin atau semakin sedikit anggota yang memiliki pendapatan teratur, oleh karena itu rumah tangga sangat mungkin untuk mengalami hambatan ke lembaga keuangan formal (Okurut, Schoombee, & Van der Berg, 2005) dan (Li, Gan, & Hu, 2011).
Keanggotaan kelompok, seperti temuan Evans, Adams, Mohammed dan Norris (1999), tampaknya meningkatkan kemungkinan rumah tangga berpartisipasi ke kredit pertanian, terutama dalam akses ke program kredit mikro. Keanggotaan asosiasi, seperti dijelaskan oleh Hananu, Abdul-Hanan dan Zakaria (2015), menjadi jaminan pinjaman rumah tangga. Selain itu, ada hal yang mengejutkan di mana sumber pinjaman juga menjadi faktor yang mempengaruhi signifikan terhadap partisipasi petani ke lembaga keuangan pedesaan. Hasil temuan Li, Gan, dan Hu (2011) menyatakan bahwa rumah tangga lebih suka berpartisipasi dalam lembaga keuangan informal daripada yang formal. Berikutnya Boucher, Guirkinger dan Trivelli (2007) mendapati pasar pinjaman informal cenderung lebih disukai karena risiko. Namun dalam penelitian Pham dan Lensink (2007), aksesibilitas pinjaman formal dan informal tersirat sepenuhnya independen dan tidak terkait.
Gender memiliki dampak signifikan pada partisipasi rumah tangga seperti dalam kajian Hananu, Abdul-Hanan, dan Zakaria (2015), Kosgey (2013) juga Sebatta, Wamulume, dan Mwansakilwa (2014). Perempuan cenderung memiliki partisipasi yang lebih tinggi ke lembaga keuangan pedesaan dibanding laki-laki, terutama kredit mikro yang disediakan oleh LSM atau disubsidi oleh pemerintah yang ditargetkan untuk perempuan.
Namun temuan Kosgey (2013) justru petani laki-laki memiliki peluang lebih tinggi untuk berpartisipasi ke lembaga keuangan pedesaan daripada perempuan. Nguyen dan Le (2015) juga Yehuala (2008) menyoroti pengalaman sebagai faktor yang berpengaruh.
Dalam studi Saleem, Jan, Khattak dan Quraishi (2011), jangkauan wilayah merupakan penentu terpenting dari partisipasi ke lembaga keuangan pertanian. Mohamed (2003) dalam studinya di Zanzibar, seperti halnya Okurut, Schoombee, dan Van der Berg (2005), menjelaskan bahwa akses rumah tangga ke informasi/pengetahuan sumber pinjaman memainkan peran penting dalam mencapai lembaga keuangan formal. Status kekayaan rumah tangga (pengeluaran per kapita) juga terbukti memiliki hubungan positif yang signifikan dengan partisipasi rumah tangga. Penelitian Chandio dan Jiang (2017) menemukan tempat tinggal atau jarak antara pemberi pinjaman / jarak ke lembaga keuangan secara signifikan mempengaruhi partisipasi kredit.
Chandio dan Jiang (2017) menunjukkan bahwa holding operasi berperan penting dalam partisipasi petani dari lembaga keuangan formal. Ini mencerminkan menurunnya hambatan partisipasi pasar. Banyak bank komersial hanya bersedia untuk memberi pinjaman berdasarkan agunan, karena ukuran kepemilikan tanah lebih dapat diterima sebagai manajemen risiko dan pengamanan pinjaman untuk pemberi pinjaman kelembagaan. Husssain dan Thapa (2012) juga Saqib, Kuwornu, Panezia dan Ali (2018) melihat jaminan meningkatkan keyakinan kemungkinan rumah tangga membayar kredit. Ini menjadi alasan sebagian besar rumah tangga miskin/kecil tidak mampu meminjam (Khoi, Gan, Nartea, & Cohen, 2013). Temuan Ahmad (2011) juga Rahman, Hussain dan Taqi (2014) di Pakistan, kurangnya jaminan menjadi alasan utama ketidakmampuan petani untuk mencapai lembaga keuangan pedesaan. Menurut Xinkai dan Gang (2009) di negara-negara berkembang, kurangnya keamanan agunan dan pasar kredit yang tidak sempurna menjadi kendala partisipasi ke lembaga keuangan yang ada. Penyaluran pinjaman yang tidak tepat sasaran kadang menyebabkan tidak lancarnya pengembalian kredit (Tampubolon & Basri, 2008).
2.3 Dampak Sosial dan Ekonomi dari Partisipasi Petani ke Lembaga Keuangan Pedesaan
Ahmad (2011) menyatakan bahwa kredit hanya memiliki peran tidak langsung dalam meningkatkan hasil pertanian melalui pembelian berbagai input. Di Nigeria, hasil kajian Ugwumba dan Omojola (2013) mendapati akses ke lembaga kredit dan pertumbuhan produktivitas memiliki hubungan positif di antara petani tanaman pangan subsisten Kelembagaan, penyuluhan dan kredit memberi dampak signifikan pada efisiensi (Djoumessi, Afari-Sefa, Kamdem, & Bidogeza, 2018). Das (2018)
telah mempelajari dampak kredit terhadap pengurangan kemiskinan dalam hal akses kredit formal, semi formal, dan informal
LKM melalui pasar semi formal memiliki dampak signifikan pada pengurangan kemiskinan ketika menerapkan garis kemiskinan India. Rahman, Hussain dan Taqi (2014) menggunakan model regresi logistik untuk menganalisis dampak lembaga keuangan pertanian terhadap produktivitas pertanian. Dalam hal garis kemiskinan multidimensi, hubungan antara akses sumber formal dan pengentasan kemiskinan adalah negatif dan hubungan antara yang semi formal dan informal adalah positif.