BAB II TINJAUAN PUSTAKA APARTEMEN DENGAN KONSEP HIDUP SEHAT
B. Tinjauan Terhadap Konsep Hidup Sehat
3. Gambaran Umum Perancangan Healthy Building
25 b. Tersedia locker (lemari) yang aman untuk penyimpanan pakaian karyawan sesuai kebutuhan.
c. Dilengkapi dengan kamar mandi, jamban dan peturasan yangterpisah antara pria dan wanita.
3) Ruang pengelolaan makanan dan minuman harus memenuhi persyaratan kesehatan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
4) Kamar harus tersedia lemari tertutup untuk penyimpanan.
5) Ruang cuci tidak memungkinkan tercampurnya barang bersih dan kotor.
6) Gudang
a. Gudang untuk penyimpanan bahan makanan dan bahan berbahaya, alat Kantor, alat rumah tangga dan lain-lain harus terpisah.
b. Gudang untuk penyimpanan bahan makanan dan bahan berbahayaharus memenuhi persyaratan kesehatan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
c. Dilengkapi rak-rak dengan tinggi minimal 20 cm dari lantai dan tangga serta peralatan lain sesuai kebutuhan.
26 pada tahun 1989, seiring dengan munculnya tren yang berbasis LEED (Leadership in Environmental Design) yang mengacu pada pengaturan dan meminimalisir limbah, polusi, dan bahan beracun yang terkait dengan konstruksi dan pengoperasian bangunan dan mengejar setiap kesempatan untuk mengoptimalkan kualitas lingkungan dalam ruangan dengan tujuan kinerja yang terukur.
Menurut Chiang, seorang pakar Bangunan Sehat dan desain LEED, pengelolaan konsep dari Healthy Building mengacu pada bentuk pengaturan pada kesehatan manusia dan kesehatan bangunan yang mirip pada susunan strukturnya, fungsinya, siklus hidup dan servis tahunan. Teori, metode, mekanisme atau aturan membuat pengobatan biologis dapat diaplikasikan secara analogi kepada pengelolaan bangunan sehat. Analogi diaplikasikan menurut teori dan praktek dari konstruksi bangunan, maintenance, evaluasi bertahap dan mengevaluasi kendala dan keterbatasan dalam menerapkan pendekatan medis manusia untuk pengelolaan gedung kesehatan.
Bangunan yang sehat atau Healthy Building adalah konsep yang menggabungkan ilmu kedokteran, kesehatan masyarakat, teknik sipil, teknik arsitektur, teknik lingkungan, dan menekankan pada maintaing atau pemeliharaan kesehatan fisik bangunan, termasuk kesehatan lingkungan dalam ruangan mereka, karena bangunan yang sehat merupakan prasyarat untuk maintaing keselamatan pengguna dan kesehatan. Selanjutnya, dari sudut pandang keberlanjutan, dampak terhadap negatif lingkungan harus dikurangi sebanyak mungkin dengan teknologi saat ini.
27
Gambar 12 Gambaran Konsep Perancangan Healthy Building
b. Kondisi Lingkungan Fisik pada Konsep Healthy Building Salah satu aspek yang harus dipenuhi dalam konsep Healthy Building adalah pencapaian kenyamanan fisik serta kesehatan pengguna bangunan. Tidak cukup ada artinya jika suatu bangunan hemat dalam penggunaan sumber daya alam, hemat energi, hemat air, menggunakan material terbarukan atau material yang rendah konsumsi energinya ketika diproduksi, namun pengguna bangunan tidak merasa nyaman secara fisik ketika berada di dalamnya.
Pengguna merasakan ruang yang secara spasial kurang nyaman, terlalu panas, atau terlalu dingin, pencahayaan ruang terlalu lemah atau bahkan berlebihan menimbulkan efek silau, level suara yang masuk ke dalam bangunan terlalu tinggi, menimbulkan gangguan bunyi, dan sebagainya. Demikian pula, kualitas udara di dalam bangunan bisa jadi tidak cukup baik. Kandungan oksigen rendah sementara kandungan gas lain, seperti karbon dioksida atau karbon monoksida terlalu tinggi di atas ambang batas yang direkomendasikan.
c. Kenyamanan Fisik Ruang
Kenyamanan fisik manusia terkait dengan lima aspek, yaitu spasial (ruang), termal (suhu ruang), visual (pencahayaan),
28 auditorial (suara atau bunyi), serta olfactual (penciuman). Dalam konsep Healthy Building, kelima kenyamanan yang terkait dengan indera manusia ini harus mampu dipenuhi oleh bangunan (ISO, Moderate Thermal Environments, 1994)
Secara spasial atau keruangan, pengguna bangunan harus dapat melakukan aktivitas melakukan gerakan yang diperlukan bagi penyelenggaran aktifitas tersebut secara baik. Dimensi ruang memenuhi tuntutan antropometri (dimensi tubuh) dan ergonomi (ruang gerak), pengguna ruang, sehingga penyelengaraan aktifitas manusia terwadahi didalamnya. Untuk ruang tidur, aktifitas tidur bagi seseorang, dengan ukuran tubuh pada umumnya dapat terselenggara. Untuk dapur, aktifitas memasak, mencuci bahan makanan, mencuci peralatan masak, dan lainnya harus dapat terselenggara secara mudah, efektif dan tidak menyulitkan gerak yang dapat membuat aktifitas memasak melelahkan. Sejumlah aktifitas lain memerlukan dimensi serta pengaturan tata letak perabot tertentu yang secara spasial mendukung penyelenggaran aktivitas tersebut dengan mudah dan nyaman.
Dalam pengukuran tingkat hijau diperlukan data tentang tingkat level kenyamanan pengguna bangunan secara rata-rata. Tingkat kenyamanan dapat dilakukan dengan menyebarkan kuesioner yang berisi pertanyaan terkait dengan respons termis pengguna bangunan. Ada metode baku pengukuran respons termis yang diatur melalui Standar Kenyamanan Termis ISO 7730. Pengukuran tingkat kenyamanan visual pengguna bangunan juga diukur untuk melihat seberapa besar pengguna bangunan merasa nyaman atau terpuaskan dengan kondisi penerangan atau pencahayaan di dalam bangunan. Pengukuran ini dilkakukan secara langsung dengan menggunakan kuesioner terhadap pengguna bangunan, atau secara tidak langsung menggunakan alat lux meter untuk mengukur level penerangan ruang, uang kemudian akan
29 dibandingkan dengan standar-standar level penerangan yang ada.
Demikian pula untuk kenyamanan bunyi (auditorial), perlu dilakukan survei terhadap pengguna bangunan mengenai tingkat kenyamanan mereke ketika berada di dalam bangunan.
Level kenyamann fisik pengguna bangunan memberikan gambaran tentang derajat keberhasilan bangunan dalam memfasilitasi pengguna bangunan menyelenggarakan aktifitas mereka. Konsep Healthy Building menjadikan aspek ini sebagai salah satu ukuran dalam sebuah bangunan.
d. Kualitas Udara Ruang
Udara normal yang dianggap bersih dan sehat yang dihisap manusia sehari-hari dalam lapisan troposfir (hingga 17 km di atas muka laut) mengandung gas nitrogen 78% dan oksigen 21%, sisanya gas argon kurang dari 1% dan karbon dioksida sektar 0,035%. Selain itu, udara mengandung uap air sekitar 5% di wilayah tropis lembap dan 0,01% di wilayah subtropis
Kualitas udara dianggap jika kadar oksige tinggi serta kadar gas lain seperti CO2, SO2, CO dan lainnya rendah. Oksigen sebagian dihasilkan oleh tumbuhan dalam proses fotosintesis penggabungan CO2 dengan H2O. Kawasan yang dipenuhi banyak tumbuhan cenderung memiliki udara yang segar karena kandungan oksigen cukup tinggi.
Healthy Building menggarisbawahi pentingnya udara dengan kualitas yang baik untuk menunjang kehidupan manusia yang lebih baik. Sejumlah aktifitas manusia secara langsung atau tidak langsung mencemari udara. Butuh keseimbangan agar kualitas udara dalam ruangan tetap terjaga. Bagaimana lingkungan binaan yang dibangun dari suatu area terbuka penuh dengan hamparan tumbuhan dapat meminimalkan penurunan kualitas udara di kawasan tersebut. Di dalam bangunan penurunan kualitas udara
30 umumnya disebabkan oleh ruang yang tertutup tanpa banyak mendapat ventilasi atau pertukaran udara dari luar.