• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perancangan Mikro

Dalam dokumen HEALTHY LIVING APARTMENT DI MAKASSAR (Halaman 147-160)

BAB IV KESIMPULAN DAN ACUAN PERANCANGAN

B. Acuan Perancangan

2. Perancangan Mikro

135

Gambar 48 Konsep Penampilan Bangunan

2. Perancangan Mikro

136 c. Daylight factor.

d. Sirkulasi

Di bawah ini terdapat beberapa pengelompokan modul perancangan pada bangunan Apartemen:

1) Hunian

Berdasarkan modul fungsi horizontal (20 cm), luas unit ruang standar ruang tidur berdasarkan kelipatannya sebesar 6m x 6m (36 m2), serta sirkulasi dalam ruang, maka modul perancangan yang diambil adalah kelipatan 30 cm / 0,30 m.

Penentuan modul perancangan vertikal dapat mengacu pada persyaratan tinggi langit-langit minimal 2,70 m.

2) Retail dan kantor sewa (tenant)

Berdasarkan modul fungsi horizontal (30 cm), luas unit ruang berdasarkan kelipatannya sebesar 3,6 m x 7,2 m (25,92 m2), serta daylight factor 7,2 < 9,00 Penentuan modul perancangan vertikal (20 cm) didsarakan pada modul fungsi bertikal dan persyaratan tinggi langit-langit, minimal 2,70 m serta batas ketinggian maksimal penyewa.

Sistem Struktur c.

1) Upper Structure

Untuk struktur atap bangunan, menggunakan struktur dengan criteria sebagai berikut:

a) Kuat dan tahan terhadap gaya lateral b) Mendukung penampilan bangunan c) Mudah dalam pelaksanaannya

137 Adapun alternative yang digunakan untuk upper structure yaitu struktur rangka, space frame, struktur tenda, struktur kabel, dan struktur shell.

2) Super Structure

Adapun kriteria yang digunakan adalah

a) Dapat menyalurkan beban /gaya dengan merata b) Tahan terhadap beban yang diterimanya

c) Fleksibilitas ruang

d) Mudah dalam pelaksanaanya

Adapun alternative yang digunakan pada super structure adalah sistem shear wall (dinding geser) yang bersifat sebagai pemikul beban, sistem rigid frame, penggunaan struktur rangka beton bertulang dan dinding batu bata.

3) Sub Structure

Adapun kriteria yang diguinakan adalah:

a) Tahan terhadap beban materi tanah b) Tahan terhadap kondisi iklim dan cuaca c) Sesuai dengan kondisi tanah setempat d) Mendukung super dan upper structure e) Mudah dalam pelaksanaan

Adapun alternative yang digunakan dalam sub structure adalah:

a) Sistem pondasi rakit. Keuntungannya adalah dapat mengurangi pengaruh gempa, bagian bawah dapat digunakan sebagai basement b) Sistem pondasi tiang pancang. Pondasi ini

dapat menyalurkan beban sampai ke tanah

138 paling keras. Tetapi dalam pengerjaannya dapat menghasulkan getaran dan bising yang cukup tinggi yang dapat mengganggu lingkungan sekitar.

c) Sistem pondasi poer plat. Pondasi ini memerlukan waktu yang cukup lama dan kurang praktis.

Bahan/Material d.

1) Material struktur

Material yang digunakan adalah material yang tahan terhadap pengaruh alam, tahan lama, tidak cepat rusak, efisien dan efektif, dan memiliki nilai estetika.

Adapun alternative penggunaan bahan struktur yaitu:

a) Beton bertulang pada kolom, sloef, dan balok.

b) Baja digunakan pada rangka

c) Material lantai digunakan plat beton atau menggunakan rangka baja

2) Material pengisi

a) Material finishing bukaan cahaya pada pintu dan jendela, yaitu alumunium, kayu, kaca dan fiberglass.

b) Material dinding terbuat dari batu bata, partisi terbuat dari kayu, acoustic board dan gypsum board.

c) Material penutup dinding menggunakan cat, batu alam, kaca dan keramik

139 d) Material penutup lantai yaitu batu alam, granit

dan keramik kasar maupun keramik halus

e) Material lansekap, seperti sculpture, paving block, grass block, aspal rumput, dan batu alam.

Sistem Pengkondisian Bangunan e.

1) Pencahayaan Faktor penentu :

 Tata letak bangunan terhadap orientasi matahari.

 Karakter kegiatan yang terjadi.

 Pengaturan dan hubungan ruang.

Pencahayaan alami

Pemanfaatan pencahayaan alami semaksimal mungkin pada siang hari tetapi sumber cahaya tersebut menimbulkan efek panas dan silau sehingga diperlukan :

a) Over stek yang lebar.

b) Pemakaian material kaca yang memiliki daya serap radiasi yang tinggi.

Pencahayaan buatan

Dengan menggunakan lampu pada daerah yang membutuhkan penerangan konstan. Pencahayaan buatan terdiri dari :

a) Pencahayaan langsung; yang digunakan pada daerah-daerah umum (sirkulasi), dan servis (tangga dan lavatory).

b) Pencahayaan tak langsung; digunakan pada ruang ruang kerja dan pertokoan yang membutuhkan pencahayaan merata (kantor,

140 toko, display room). Standar pencahayaan efektif dalam bentuk pencahayaan buatan dengan jarak mata lampu ±2,5 m.

2) Penghawaan

Dari segi udara dapat dibedakan atas : Pengkondisian alami :

a) Pengkondisian pada luar tapak (parkir kendaraan).

b) Pengkondisian pada ruang-ruang terbuka.

Pengkondisian buatan, dengan menggunakan AC sentral yang didasarkan atas :

a) Iklim kota Makassar yang relatif panas dengan temperatur udara berkisar antara 22° - 34° C dengan kelembaban udara berkisar antara 73 – 86%.

b) AC sentral memiliki kapasitas pelayanan yang luas serta mudah dalam pengontrolan sehingga cocok untuk bangunan kantor sewa dengan fasilitas perbelanjaan.

c) Dipilih system Water Cool karena lebih hemat dalam penggunaan energy listrik.

d) Perbandingan antara berbagai system AC :

141

Gambar 49 Macam Air Conditioning

3) Kebisingan

Untuk mencegah terjadinya kegaduhan khususnya pada daerah yang membutuhkan tingkat ketenangan tinggi seperti ruang kerja, maka sistem pencegahannya dilakukan dengan cara :

 Sumber bunyi dari luar bangunan dieliminir dengan cara menggunakan pohon-pohon pelindung dan mengatur jarak bangunan sesuai tingkat privasi antar bangunan.

 Sumber bunyi yang berasal dari dari dalam bagunan dieliminir dengan cara menggunakan material yang dapat menyerap bunyi dan memisahkan ruang serta jarak antar ruang yang menjadi sumber bising.

Konsep Utilitas dan Perlengkapan Bangunan f.

1) Pemipaan (Plumbing) Air bersih

Sumber air bersih berasal dari PDAM dan air hujan yang didistribusikan melalui pompa (water pump) yang berada di basement ke water reservoir tank yang berada pada top floor

142 bangunan untuk didistribusikan keseluruh bangunan. Air hasil buangan yang masih bisa diolah, digunakan kembali untuk keperluan irigasi lansekap, air pendingin AC setelah di saring menggunakan water threatment plan.

Gambar 50 Sistem Air Bersih

2) Pembuangan sampah

Sistem pembuangan sampah dengan cara distribusi vertikal melalui shaft-shaft sampah yang ada pada tiap lantai sampai ke bak penampungan sementara yang ada di basement. Sedangkan distribusi horisontal adalah melalui penampungan sementara pada tempat-tempat tertentu sebelum diteruskan ke bak penampungan di basement.

3) Jaringan Listrik

Sumber utama tenaga listrik pada bangunan yang direncanakan berasal dari jaringan PLN dengan tenaga cadangan

143 dari generator set untuk keadaan darurat. Tambahan tenaga listrik dari system panel surya sebagai sumber energy listrik terbarukan.

Tenaga listrik ini dibutuhkan untuk :

a) Lampu-lampu penerangan b) Outlet-outlet

c) Alat pengkondisian udara d) Elevator

e) Peralatan maintenance f) Paralatan komunikasi 4) Komunikasi

Sistem komunikasi dalam bangunan yang menghubungkan ruang-ruang menggunakan intercom dan sound system call, sedangkan untuk komunikasi keluar bangunan menggunakan fasilitas telephone, teleks, faksimile, PABX (Private Automatic Branch Exchage) dan modem, dimana fasilitas tersebut dapat memudahkan hubungan antar pelaku kegiatan baik didalam maupun diluar bangunan.

5) Tranportasi Vertikal

Sistem transportasi vertikal yang digunakan yaitu :

 Tangga, dengan radius pelayanan maksimal 30 m dan lebar minimum 110 cm.

 Elevator/lift yang dibedakan atas lift penumpang dan lift barang. Sedangkan untuk jenis, kecepatan, kapasitas dan jumlah lift digunakan data standar.

 Escalator yang digunakan untuk melayani daerah podium.

6) Pemadam kebakaran

Pencegahan dan pemadaman api pada bangunan terbagi atas :

144 Pencegahan pasif, terdiri atas ;

Tangga kebakaran :

 Jarak tangga dari setiap titik efektif tanpa ruang sirkulasi maksimal 25 m.

 Lebar tangga minimal 120 cm.

 Pintu kebakaran dengan lebar minimal 90 cm dan indeks tahan api 2 – 3 jam.

Koridor :

 Koridor dengan lebar minimal 180 cm.

Penerangan darurat :

 Menggunakan sumber daya baterai.

 Adanya lampu indikator dan penerangan pada pintu keluar tangga kebakaran dan koridor sebagai alat bantu evakuasi.

Pencegahan aktif

 Pilar hydrant,

Dengan jarak antara 90 – 150 m

 Alat pemadam kimia portable,

Daya layanan 200 m – 250 m dengan jarak antara alat 20 m – 25 m.

 Hydrant

Daya layanan 200 m/ 1 unit untuk hydrant di dalam bangunan mendapat air dari reservoir bawah dengan tekanan tinggi.

 Sprinkler

Untuk menanggulangan kebakaran pada tingkat awal yang bekerja secara otomatis.

Daya pelayanan 1 sprinkler 2,5 meter Media pemadam dapat ruang khasanah dan komputer menggunakan media gas.

145

 Fire alarm

Untuk mendeteksi sedini mungkin adanya bahan bahaya kebakaran secara otomatis terdiri dari Fire detector dan smoke detector dengan area pelayanan 9,2 m/unit

 Tangga darurat/kebakaran

Jarak ruang sirkulasi max 25 meter dan dilengkapi blower, lebar tangga minimal 1,2 meter, dilengkapi pintu kebakaran lebar minimal 90 cm dan tahan api selama 2 jam, koridor dengan lebar minimal 1,8 meter.

7) Keamanan

 Menempatkan kamera CCTV pada daerah-daerah tertentu dan pada ruang-ruang yang memerlukan pengawasan pada bangunan.

 Menempatkan kaca cembung pada sirkulasi ruang luar.

8) Penangkal petir

Sistem penangkal petir yang digunakan adalah sangkar faraday dan tongkat franklin.

Konsep Penigkatan Kualitas Hidup dan Lingkungan dalam g.

Ruang

Adapun langkah-langkah yang dapat ditempuh menurut tolok ukur greenship NB versi 1.1 yaitu:

a) Memantau konsentrasi karbondioksida (CO2) dalam mengatur masukan udara segar dengan pemasangan instalasi sensor gas karbon dioksida (CO2).

146 b) Memasang tanda “Dilarang Merokok di seluruh Area Gedung” dan tidak menyediakan bangunan/area khusus untuk merokok di dalam gedung.

c) Mengurangi polusi udara ruang dari emisi material bangunan yang dapat mengganggu kenyamanan dan kesehatan pekerja konstruksi dan pengguna gedung.

d) Mencegah terjadinya gangguan visual akibat tingkat pencahyaan yang tidak sesuai dengan daya akomodasi mata.

e) Menetapkan perencanaan kondisi termal ruangan secara umum pada suhu 250C dan kelembapan relatif 60%.

f) Menjaga tingkat kebisingan di dalam ruangan pada tingkat yang optimal.

147

DAFTAR PUSTAKA

Badan Pusat Statistik Kota Makassaar. Kota Makassar Dalam Angka Tahun 2009. BPS. Kota Makassar

Barton H and Tsourou C. 2000. Healthy Urban Planning. London: Spon Press.

Barton H and Hills S. 2005. A planning perspective and research review of health and urban planning. Paper for the WHO Healthy Cities conference, Taipei.

Barton H, Grant M and Guise R. 2003. Shaping Neighbourhoods:

Health, Sustainability, Vitality. London: Routledge.

Bronswijk, van. 2008. Buillding Services as Medicine. Greve Offset BV, Eindhoven.

Cavill N, Kahlmeier S and Racioppi F (eds). 2006. Physical Activity and Health in Europe: Evidence for Action. Copenhagen: World Health Organization.

Churchill, Ken. 2002. “A guide for asbestos, Lead-based Paint and Indoor Air Qualityy Risk Management and Regulations” The Healthy Buildings Workbook. ACC Environmental Consultans.

Chiara, Joseph de and Callender, John Hancock. 1980. Time Saver Standars For Building Types. Mc Grow-Hill Book Company.

USA.

Edwards P and Tsouros A. 2006. Promoting Physical Activity and Active Living in Urban Environments. The Role of Local Governments. The Solid Facts. Copenhagen: World Health Organization.

Handy S. 2005. Does the built environment influence physical activity? Examining the evidence. Paper prepared for the Transportation Research Board, Washington DC. Accessed from: www.trb.org

Dalam dokumen HEALTHY LIVING APARTMENT DI MAKASSAR (Halaman 147-160)

Dokumen terkait