• Tidak ada hasil yang ditemukan

HEALTHY LIVING APARTMENT DI MAKASSAR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "HEALTHY LIVING APARTMENT DI MAKASSAR"

Copied!
160
0
0

Teks penuh

(1)

i

HEALTHY LIVING APARTMENT DI MAKASSAR

ACUAN PERANCANGAN

Sebagai Persyaratan Untuk Ujian Sarjana Arssitektur

Oleh :

Achmad Rifky Hanif D511 09 293

JURUSAN ARSITEKTUR FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR

2015

(2)

ii

(3)

iii

KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat berupa waktu, kesehatan serta kesempatan sehingga penulisan skripsi ini akhirnya dapat diselesaikan dengan baik.

Skripsi ini disusun dengan maksud untuk memenuhi salah satu syarat guna memperoleh gelar Sarjana Teknik pada Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin.

Dalam penulisan skripsi ini, penulis menyadari bahwa masih terdapat banyak kekurangan. Sehubungan dengan itu maka penulis mengharapkan saran dan kritikan yang membangun dari para pembaca, sehingga dapat digunakan sebagai bekal pada penulisan selanjutnya di waktu mendatang.

Dalam penyelesaian skripsi ini tidak terlepas dari adanya bantuan dan kerja sama dari semua pihak baik secara langsung maupun tidak langsung. Mulai dari proses persiapan, pelaksanaan studi dan penelitian sampai pada penyelesaian skripsi ini. Untuk itu, dengan segala ketulusan dan kerendahan hati perkenankanlah penulis menghaturkan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Bapak Prof. Dr. Ir. H. M. Ramli Rahim, M.Eng., dan Ibu Dr. Ir.

Triyatni Martosenjoyo, M.Si., selaku dosen pembimbing yang telah meluangkan waktunya untuk membimbing dan mengarahkan penulis dalam penyusunan penulisan ini.

2. Bapak Dr. Abdul Mufti Radja, ST. MT., selaku Kepala Laboratorium Studio Akhir Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin.

3. Bapak Dr. Mohammad Mochsen Sir, ST. MT., selaku Penasehat Akademik yang telah membimbing dan memberi arahan selama masa kuliah penulis.

4. Bapak Prof. Baharuddin Hamzah, ST, M.Arch, Ph.D selaku Ketua Jurusan Teknik Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin.

(4)

iv 5. Seluruh dosen dan staff Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik

Universitas Hasanuddin.

6. Keluarga Tercinta, Ayahanda (Alm.) Ir. H. Hasnawi Bachtiar MM, dan Ibunda Sitti Darmawasita ST, M.Si, dan Saudara- saudariku Muhammad Fathu Alim SH. dan Hastri Adhe Ramdhany atas segenap doa, kasih sayang, nasehat dan dukungannya baik moril maupun materil. Semoga Tuhan senantiasa melindunginya.

7. Yang terkasih, Novia, ST. yang selalu ada memberikan motivasi, inspirasi, dan dukungan.

8. Seluruh rekan-rekan Makasiswa Arsitektur FT-UH Angkatan 2009 (HighVoltage09), terima kasih atas dukungan, perjuangan dan kenangannya.

9. Rekan-rekan seperjuanganku, Mahasiswa Studio Akhir periode II Tahun 2015/2016, terima kasih atas kebersamaannya selama dalam masa proses Studio Akhir.

10. Serta seluruh pihak yang membantu baik secara langsung maupun tidak langsung dalam penyusunan penulisan ini.

Akhirnya semoga acuan perancangan ini dapat bermanfaat untuk semua pihak dan semoga Allah SWT melimpahkan rahmat-Nya kepada kita semua. Amiin.

Makassar, 12 November 2015 Penulis

Achmad Rifky Hanif

(5)
(6)

v

DAFTAR ISI

HEALTHY LIVING APARTMENT DI MAKASSAR ... i

HALAMAN PENGESAHAN ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

DAFTAR ISI... v

DAFTAR GAMBAR ... viii

DAFTAR TABEL ... xi

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A.Latar Belakang ... 1

B.Pengertian Judul ... 4

1. Healthy Living ... 4

2. Apartemen ... 5

C.Rumusan Masalah ... 6

1. Masalah Arsitektural ... 6

2. Masalah Non-Arsitektural ... 6

D.Tujuan dan Sasaran Pembahasan ... 7

1. Tujuan Pembahasan ... 7

2. Sasaran Pembahasan ... 7

3. Lingkup dan Batasan Pembahasan ... 7

E.Metode dan Sistematika Pembahasan ... 8

1. Metode Pembahasan ... 8

2. Sistematika Pembahasan ... 8

F.Kerangka Berpikir ... 9

BAB II TINJAUAN PUSTAKA APARTEMEN DENGAN KONSEP HIDUP SEHAT ... 10

A.Tinjauan Umum Apartemen ... 10

(7)

vi

1. Pengertian Apartemen ... 10

2. Tipe-Tipe Apartemen ... 11

3. Pengertian Apartemen ... 17

4. Panduan Tinggal di Apartemen ... 18

B.Tinjauan Terhadap Konsep Hidup Sehat ... 21

1. Gambaran Umum Konsep Hidup Sehat ... 21

2. Pengertian Kesehatan dan Bangunan Sehat ... 22

3. Gambaran Umum Perancangan Healthy Building ... 25

4. Kriteria Perancangan Healthy Building pada daerah Tropis ... 30

5. Penerapan Desain Healthy Building Pada Bangunan Tinggi ... 35

C.Studi Banding Terhadap Bangunan Apartemen ... 38

1. Apartemen Senayan... 38

2. Garden Tower di Surabaya ... 40

BAB III ANALISIS PERENCANAAN BANGUNAN HEALTHY LIVING APARTMENT DI MAKASSAR ... 42

A.Tinjauan Umum Kota Makassar... 42

1. Kondisi Fisik Kota Makassar ... 42

2. Keadaan Perekenomian dan Sosial Budaya Penduduk ... 43

3. Arah pengembangan Kawasan ... 45

4. Lahan Untuk Pembangunan Kawasan ... 46

B.Tinjauan Apartemen sebagai unit Hunian di Makassar ... 46

1. Tujuan Pengadaan Apartemen di Makassar ... 46

2. Kebutuhan pengadaan Apartemen di Makassar ... 47

C.Analisis Luasan dan Fungsi Healthy Living Apartemen di Makassar 52 1. Perkiraan Luas Apartemen ... 52

2. Penentuan Jumlah Unit Hunian ... 53

3. Sistem Pengelolaan Bangunan Apartemen ... 55

D.Karakteristik Kegiatan ... 55

1. Pelaku Kegiatan Pada Apartemen ... 55

2. Sistem Pelayanan dan Aktifitas ... 56

(8)

vii

E.Analisis Aktifitas Pelaku dan Struktur Orgasnisasi ... 57

1. Aktifitas Pelaku ... 57

2. Pengelompokkan Aktifitas ... 60

3. Struktur Organisasi ... 64

F.Analisis Perancangan Apartemen ... 65

1. Pendekatan Makro ... 65

2. Pendekatan Mikro ... 84

BAB IV KESIMPULAN DAN ACUAN PERANCANGAN ... 124

A.Kesimpulan Umum ... 124

1. Aspek Pengadaan Apartemen di Kota Makassar. ... 124

2. Aspek Arsitektural Perancangan Apartemen Di Makassar Dengan Pendekatan Arsitektur Tropis. ... 125

B.Acuan Perancangan ... 126

1. Perancangan Makro ... 126

2. Perancangan Mikro ... 135

DAFTAR PUSTAKA ... 147

(9)

viii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 Bentuk Tower Form ... 12

Gambar 2 Bentuk Slab Form ... 12

Gambar 3 Bentuk Varian Form ... 12

Gambar 4 Koridor Satu Sisi di Tepi Bangunan ... 13

Gambar 5 Koridor di Tengah Bangunan ... 13

Gambar 6 Koridor Pada Dua Sisi Tepi Banguanan ... 13

Gambar 7 Koridor Terpusat di Tengah Bangunan ... 14

Gambar 8 Potongan 1 Unit Simplex ... 14

Gambar 9 Potongan 1 Unit duplex... 14

Gambar 10 Potongan 1 Unit Triplex ... 15

Gambar 11 Skema Struktur Organisasi Pengelola Apartemen... 18

Gambar 12 Gambaran Konsep Perancangan Healthy Building ... 27

Gambar 13 Arah Lintasan Matahari... 35

Gambar 14 Vegetasi ... 37

Gambar 15 Struktur Organisasi Apartemen ... 65

Gambar 16 Struktur Organisasi Fasilitas dan Penunjang ... 65

Gambar 17 Peta Administratif Kota Makassar ... 67

Gambar 18 Peta Kecamatan Rappocini ... 70

Gambar 19 Alternatif Tapak ... 72

Gambar 20 Alternatif Tapak 1... 73

Gambar 21 Alternatif Tapak ... 74

Gambar 22 Alternatif Tapak ... 75

Gambar 23 Tapak Terpilih... 77

Gambar 24 Zoning Tapak ... 78

Gambar 25 Sirkulasi, Entrance Tapak ... 80

Gambar 26 Lay-out elemen soft material ... 83

Gambar 27 Lay-out elemen hard material dan elemen dekorasi. ... 83

Gambar 28 Light shelves mendistribusikan cahaya di dalam ruangan ... 107

Gambar 29 Penggunaan pembayangan pada jendela untuk memotong sinar matahari langsung ... 108

Gambar 30 Posisi bukaan yang ideal ... 109

(10)

ix

Gambar 31 Efek posisi jendela terhadap pencahayaan dan ventilasi ... 111

Gambar 32 Macam konfigurasi bukaan dan efeknya terhadap aliran udara ... 111

Gambar 33 Pengaruh vegetasi terhadap jalannya udara ... 113

Gambar 34. Menara Boustead, Mesiniaga, IBM Plaza (vertical landscape)... 114

Gambar 35 Penggunan vegetasi pada bangunan (vertical landscape) (Kean Yeang, 1994) ... 114

Gambar 36 Escalator ... 115

Gambar 37 Tangga Darurat ... 117

Gambar 38 Spinkler Pemadam Kebakaran ... 118

Gambar 39 Hidrant Box ... 119

Gambar 40 Tabung Portable ... 119

Gambar 41 Skema CCTV ... 121

Gambar 42 Sistem tongkat faraday ... 121

Gambar 43 Peta Kecamatan Rappocini ... 128

(11)

x

(12)

xi

DAFTAR TABEL

Tabel 1 Data Penduduk Kota Makassar ... 49

Tabel 2 Standar Luas Tiap Tipe Unit Apartemen ... 52

Tabel 3 Perbandingan Luas Tiap Tipe Unit Apartemen di Indonesia ... 53

Tabel 4 Jumlah Masyarakat golongan menengah ke atas ... 53

Tabel 5 Persentase Unit Apartemen ... 55

Tabel 6 Jenis Kegiatan/Aktifitas dan Kebutuhan Ruang ... 58

Tabel 7 Jenis Kegiatan/Aktifitas dan Kebutuhan Ruang ... 59

Tabel 8 Jenis Kegiatan/Aktifitas dan Kebutuhan Ruang ... 59

Tabel 9 Jenis Kegiatan/Aktifitas dan Kebutuhan Ruang ... 60

Tabel 10. Jenis Ruang dan Kebutuhan Perabot Untuk Daerah Privasi ... 63

Tabel 11 Analisa Penentuan Tapak Berdasarkan Sistem Pembobotan ... 76

Tabel 12 Kebutuhan ruang berdasarkan aktivitas penghuni ... 91

Tabel 13 Kebutuhan ruang berdasarkan aktivitas pengunjung ... 92

Tabel 14 Kebutuhan ruang berdasarkan aktivitas pengelola ... 92

Tabel 15 Kebutuhan ruang berdasarkan aktivitas servis ... 93

Tabel 16 Kebutuhan Ruang dan Luasan tipe studio ... 96

Tabel 17 Kebutuhan Ruang dan Luasan tipe 2 kamar ... 97

Tabel 18 Kebutuhan Ruang dan Luasan tipe 3 kamar ... 98

Tabel 19 Kebutuhan Ruang dan Luasan tipe 4 kamar ... 99

Tabel 20 Kebutuhan dan Besaran Ruang Kegiatan Non Hunian ... 100

Tabel 21 Skema penanggulan kebakaran ... 120

Tabel 22 Sistem distribusi air bersih ... 122

Tabel 23 Skema Pembuangan air kotor ... 123

Tabel 24 Sistem Pembuangan Sampah ... 123

Tabel 25 Analisa Penentuan Tapak Berdasarkan Sistem Pembobotan ... 130

(13)

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kesadaran sebagian masyarakat tentang pentingnya pola hidup sehat semakin meningkat, berolahraga dan menerapkan pola hidup sehat sepatutnya diterapkan untuk menjaga kebugaran tubuh agar dapat melakukan setiap aktifitas dan pekerjaan dengan baik.

Namun di eraini banyak hal yang bertentangan dengan penerapan pola hidup sehat, mulai dari faktor lingkungan, hingga permasalahan gaya hidup masyarakat moderen.

Untuk menciptakan pola hidup sehat, harus didukung dengan lingkungan hidup yang sehat. Lingkungan yang bersih, dapatmenjauhkan masyarakat dari virus dan bakteri penyebab penyakit. Tumbuhan hijau di lingkungan misalnya, menghasilkan O2 yang dibutuhkan untuk bernafas, menyerap polusi udara yang tercemar di perkotaan baik itu dari asap kendaraan, maupun emisi CO2 yang dihasilkan dari gedung-gedung besar perkotaan.Lingkungan adalah tempat dimana setiap orang melakukan aktifitasnya sehari-hari, salah satu hal yang paling berpengaruh terhadap kesehatan manusia. Jika lingkungannya tercemar dan tidak sehat,virus dan bakteri akan berkembang lebih pesat, setiap orang yang berada di lingkungan tercemar tersebut akan rentan terserang berbagai penyakit.

Belakangan ini, muncul isu-isu seperti isu pemanasan global (global warming) yang dapat menimbulkan masalah besar terhadap lingkungan apabila tidak ditanggulangi dengan cermat. Rusaknya ekologi bumi yang diakibatkan dari pemanasan global dapat memberi dampak yang besar bagi kesehatan manusia.Salah satu penyumbang terbesar bagi pemanasan global dan bentuk lain

(14)

2 perusakan lingkungan adalah industri bangunan gedung. Menurut Green Building Council, gedung-gedung di seluruh dunia menyumbang 33% emisi CO2, menghabiskan30%-40% konsumsi energy dunia dan menggunakan 40%-50% bahan baku yang tidakramahlingkungan. Siklus hidup sebuah bangunan merupakan penyebab signifikan dari penyakit yang diderita oleh manusia dan degradasi yang terjadi pada lingkungannya. Menurut US Environmental Protection Agency (EPA) dan Science Advisory Board (SAB), polusi udara dalam ruangan adalah salah satu penyebab terbesar masyarakat moderenen terserang penyakit.

Dimana pada masa moderen sekarang ini, rata-rata masyarakat dunia menghabiskan 90% waktu mereka dalam ruangan. Banyak bahan bangunan yang umum beredar dapat memancarkan senyawa berbahaya dan zat cetakan penular jamur dan bakteri.

Untuk mengurangi dampak pemanasan global adalah dengan menggalakkan berbagi konsep bertema ramah lingkungan. Healthy Building adalah sebuah konsep dengan perspektif baru yang mengacu pada pengaturan dan meminimalisir limbah, polusi, dan bahan beracun yang terkait dengan konstruksi dan pengoperasian bangunan dan mengejar setiap kesempatan untuk mengoptimalkan kualitas lingkungan dalam ruangan dengan tujuan kinerja yang terukur.

Pertambahan penduduk mengakibatkan semakin meningkatnya kebutuhan hunian yang tidak hanya sekedar untuk tempat tinggal, tetapi juga terhadap tersedianyakelengkapan fasilitas untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan fasilitas penunjang gaya hidup.

Selama kurang lebih 20 tahun permukiman sub-urban menjadi pilihan favorit bagi penduduk kota besar. Namun sekarang ini bermukim di kawasan sub-urban ini mulai terasa banyak kelemahannya. Jarak antara tempat tinggal dan tempat kerja

(15)

3 menjadi faktor utama. Kenyamanan, kebersihan, dan kesehatan lingkungan yang tidak terjaga dengan baik menjadi faktor lain yang tidak kalah pentingnya. Penduduk sub-urban yang sudah mengalami kejenuhan, ingin kembali tinggal di tengah kota.

Membayangkan berbagai macam kemudahan yang dapat dicapai seperti jarak dan jarak tempuh yang relatif lebih cepat, kualitas hidup yang lebih baik, dan kebutuhan atas hiburan dan gaya hidup yang terpenuhi. Kondisi ini memunculkan sebuah fenomena yang disebut dengan fenomena back to the city atau fenomena kembali ke kotapadamasyarakatmoderen. Hal ini dimanfaatkan kembali oleh para pengempang dengan membangun di pusat kota berbentuk hunian vertikal atau Apartemen guna menyikapi keterbatasan lahan di perkotaan. Tren back to the city adalah pertemuan antara penduduk sub-urban yang sudah jenuh tinggal didaerah sub-urban dan pengembang bangunan Apartemen.

Kesadaran masyarakat yang tinggi tentang arti pola hidup sehat dan pentingnya lingkungan yang sehat demi keberlangsungan bumi tercinta dan kesehatan masyarakatnya.

Serta meningkatnya kebutuhan masyarakat untuk setiap hal yang dapat memudahkan pekerjaan dan aktivitas sehari-hari maka lahirlah konsep hunian Apartemenyang menyediakan berbagai kebutuhan masyarakat mulai dari kebutuhan sehari-hari hingga kebutuhan gaya hidup, dan pola hidup sehat.

Healthy Living Apartment adalah hunian yang terdiri dari beberapa unit-unit kamar yang dalam proses perancangan bangunan dan keberlangsungannya berusaha untuk meminimalisir berbagai pengaruh yang dapat membahayakan kesehatan manusia dan lingkungan, menjaga kesehatan, dan memudahkan segala kebutuhan penghuni.

(16)

4 Healthy Living Apartment diharapkan dapat memenuhi kenyamanan dan menjaga kesehatan penghuninya di tinjau dari segi kesesuaian desain bangunan Apartemen dengan memperhatikan kondisi iklim, dan efisiensi energi. Di samping itu, Healthy Living Apartment diharapkan dapat memenuhi kebutuhan masyarakat moderen, dimana Apartemenmenyediakan berbagai macam fasilitas untuk memenuhi kebutuhan, baik itu kebutuhan sehari-hari, gaya hidup, dan pola hidup yang sehat.

B. Pengertian Judul 1. Healthy Living

Healthy Living, atau dalam bahasa Indonesia disebut Hidup Sehat.Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis.

Pemeliharaan kesehatan adalah upaya penanggulangan dan pencegahan gangguan kesehatan yang memerlukan pemeriksaan, pengobatan dan/atau perawatan termasuk kehamilan dan persalinan.

Kesehatan menurut Undang-Undang (Undang No.23 Tahun 1992 Tentang Kesehatan & Undang-undang no.29 Tahun 2004 Tentang Praktik Kedokteran) :

 Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis.

 Upaya kesehatan adalah setiap kegiatan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan yang dilakukan oleh pemerintah dan atau masyarakat.

 Tenaga kesehatan adalah setiap orang yang mengabadikan diri dalam bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan atau keterampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan yang untuk jenis tertentu

(17)

5 memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan.

 Sarana kesehatan adalah tempat yang digunakan untuk menyelenggarakan upaya kesehatan.

 Kesehatan adalah sesuatu yang sangat berguna.

Pengertian hidup sehat dapat didefinisikan sebagai hidup tanpa gangguan masalah yang bersifat fisik maupun non fisik. Gangguan fisik berupa penyakit-penyakit yang menyerah tubuh dan fisik seseorang. Sementara non fisik menyangkut kesehatan kondisi jiwa, hati dan pikiran seseorang. Artinya, kesehatan meliputi unsur jasmani dan rohani.

Pengertian hidup sehat mencakup aturan dan pola seseorang untuk menjalankan hidup ini dengan cara proporsional dan terkontrol. Pola tersebutlah yang akan membuat orang menjadi sehat.

2. Apartemen

Apartemen adalah kamar atau beberapa kamar atau ruangan yang diperuntukkan sebagai tempat tinggal, terdapat didalamnya suatu bangunan yang biasanya mempunyai kamar atau ruang- ruang lain semacam itu. (Broiler, The American People Encyclopedia, Glorier Incorporated, 1969).

Apartemen adalah bangunan yang terdiri dari tiga unit lebih rumah tinggal di dalamnya dan merupakan suatu kehidupan bersama pada lingkungan tanah terbatas, dan masing-masing unit hunian dapat memiliki atau dibangun terpisah. (Cytil M. Haris, Kamus Arsitektur dan Konstruksi, 1996).

Apartemen adalah ruang atau suatu kelompok ruang kamar yang dimaksudkan sebagai pemukiman (tempat tinggal); biasanya salah satu dari banyak kelompok yang sama di dalam gedung yang sama. (WJS. Poerwadharminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, 1996).

(18)

6 Dapat disimpulkan, bahwa Apartemen adalah suatu bangunan yang didalamnya terdapat kamar atau ruang yang berfungsi sebagai tempat tinggal, yang didalamnya tedapat tiga unit atau lebih, dan merupakan suatu kehidupan bersama pada lingkungan masing-masing.

Healthy Living Apartemen atau dalam bahasa Indonesia berarti Apartemen dengan konsep Hidup Sehat, adalah sebuah bangunan dengan beberapa unit hunian dengan fasilitas penunjang untuk memenuhi kebutuhan gaya hidup jaminan kesehatan bagi penghuni Apartemen.

C. Rumusan Masalah 1. Masalah Arsitektural

 Bagaimana menghadirkan suatu bangunan arsitektrual di Kota Makassar yang konseptual dengan lingkungannya.

 Dimana lokasi Apartemen yang sesuai untuk peruntukannya dan sesuai dengan perancangan Apartemen, sehingga dapat menunjang fungsi utama Apartemen sebagai hunian komersial.

 Bagaimana pola perancangan Green Achitecture dan Green Building untuk Apartemen yang cocok di Makassar, yang memperhatikan kebutuhan utama penghuni, seperti kenyamanan, privasi, keselamatan serta kesehatan penghuni.

 Bagaimana menciptakan suatu bangunan yang dapat memenuhi semua kebutuhan lifestyle dari masyarakat moderen di Makassar serta kebutuhan kesehatan para penghuni Apartemen.

 Penentuan kapasitas perwadahan/jumlah unit hunian.

2. Masalah Non-Arsitektural

 Bagaimana potensi pengadaan Apartemen ditinjau dari segi sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat kota Makassar.

(19)

7

 Bagaimana sistem pengelolaan, pelayanan dan aktivitas pada Apartemen.

 Manfaat pembangunan Apartemen pada lingkungan sekitar, dansebaliknyadampaksosial

lingkungansekitarterhadapApartemen.

D. Tujuan dan Sasaran Pembahasan 1. Tujuan Pembahasan

Menyusun suatu acuan perancangan Healthy Living Apartment di Makassar dengan pendekatan Green Building dan Green Architecture yang kemudian diterapkan dalam desain fisik bangunan.

2. Sasaran Pembahasan

Mengemukakan faktor-faktor permasalahan dan penunjang bagi pengadaan hunian Apartemen sebagai tahap untuk pencapaian tujuan yang sesuai dengan pendekatan program dan mendapatkan landasan perencanaan sebagai konsepsi dasar perencanaan sesuai dengan tuntutan dan kondisi kota Makassar.

3. Lingkup dan Batasan Pembahasan

Pembahasan yang dilakukan ditinjau dari disiplin ilmu arsitektur pada bangunan Apartemen yang berkaitan dengan konsep Green Building dan Green Architecture yang menyangkut konsep dasar perencanaan dan ditunjang oleh disiplin ilmu lainnya yang dianggap perlu dan dapat menunjang kelancaran perencanaan.

Disamping itu, pembahasan yang meliputi penentuan fasilitas yang terdapat dalam lokasi apartemen yang dapat menunjang kelancaran perencanaan, serta kematangan judul dan konsep perancangan.

(20)

8 E. Metode dan Sistematika Pembahasan

1. Metode Pembahasan Studi Literatur a.

Studi ini merupakan penelitian kepustakaan baik lewat buku, artikel ilmiah maupun media elektronik (website) sebagai panduan dan contoh untuk mengetahui dan memperluas wawasan mengenai Apartemen dan aspek lain megenai pengembangan konsep Healthy Leaving Apartment.

Analisa b.

Pada tahap ini data dianalisa dan disampulkan untuk mengatur konsep perancangan selanjutnya, permasalahan dari berbagai sudut pandang, dalam tahap analisa juga diperlukan referensi lain baik yang berkaitan dengan konsepbangunan maupun dari hal-hal lain yang berhubungan, guna menunjang hasil analisis dari beberapa sumber data.

2. Sistematika Pembahasan

Tahap I Menguraikan latar belakang, pengertian judul, rumusan masalah, tujuan dan sasaran pembahasan, lingkup dan batasan pembahasan, metode dan sistematika pembahasan.

Tahap II Tinjauan Apartemen secara umum serta konsep.

Tahap III Merupakan tinjauan umum kotamadya Makassar dan potensinya dalam pengadaan Rancangan.

Tahap IV Memuat konsep makro dan mikro berupa program tapak dan bangunan, dan sistem bangunan yang digunakan, analisa dari bab sebelumnya dan merupakan transformasi dari pembahasan sebelumnya yang akan digunakan dalam menyelesaikan permasalahan dalam rancangan.

(21)

9 F. Kerangka Berpikir

Latar Belakang

Jumlah penduduk yang bermukim di Kota Makassar mencapai 1,5 juta jiwa. Jumlah tersebut mengalami lonjakan sekitar 200.000 orang dalam kurun waktu satu tahun. Penyebab utamanya adalah pendatang dari kawasan sub-urban, yang pindah dan menetap di Kota Makassar.

Sebagian besar masyarakat menyadari akan pentingnya penerapan pola hidup sehat untuk menjaga kebugaran tubuh mereka demi kelancaran aktivitas dan pekerjaan, namun di sisi lain, lingkungan mereka tidak mendukung untuk penerapan pola hidup sehat

Pengumpulan Data

Studi Literatur.

Pengumpulan Data Statistik Penduduk Kota Makassar.

Studi Banding.

Studi Sosial mengenai kebutuhan hunian penduduk kota Makassar dan kebutuhan

sarana penunjang kesehatan

Rumusan Masalah

Bagaimana menyiasati penggunaan Lahan untuk memenuhi kebutuhan hunian yang meningkat seiring meningkatnya Pertumbuhan Penduduk.

Dimana lokasi yang tepat untuk memenuhi kebutuhan hunian masyarakat

Bagaimana memenuhi kebutuhan kesehatan dan menciptakan lingkungan yang baik untuk masyarakat.

Analisis

FISIK :

Lokasi Tapak dan Lingkungan Utilitas penunjang Bangunan

Tampilan Bangunan NON FISIK:

Aktivitas, Sosial, dan Kebutuhan Ruang Program Ruang

Penataan Unit Hunian

Tema

Healthy Living Concept Atau

Konsep Hidup Sehat

Konsep Perancangan Tampilan Bangungan

Tapak Utilitas Fasilitas Struktur Interior Eksterior

Desain Perancangan

(22)

10

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA APARTEMEN DENGAN KONSEP HIDUP SEHAT

A. Tinjauan Umum Apartemen 1. Pengertian Apartemen

a. Menurut Poerwadarminta, W.J.S, 1987, hal 53:

Apartemen adalah (ruangan) yang diperuntukkan sebagai tempat tinggal, terdapat dalam suatu bangunan yang biasanya mempunyai kamar atau ruangan-ruangan lain semacam itu.

b. Menurut Cytil M. Harris, 1995:

Apartemen adalah ruang atau sekolompok ruang kamar yang dimaksudkan sebagai permukiman (tempat tinggal); biasanya salah satu dari banyak kelompok yang sama di dalam gedung yang sama.

c. Menurut Jogn Hancock Callender, Time Saver Standard for Building Type New York 1973, hal 7:

Apartemen adalah semua jenis unit tempat tinggal keluarga (Multiple Family Dweling Units), kecuali sebuah rumah tinggal yang berdiri sendiri bagi satu keluarga (single dweling units).

d. Menurut New International Dictionary of the English Language, USA:

Suatu ruang atau kumpulan ruang yang digunakan sebagai unit rumah tinggal yang sifatnya dapat digunakan untuk milik pribadi atau disewakan.

e. Kamus Besar Indonesia, Dep. P &K:

(23)

11 Suatu ruang atau rangkaian ruang-ruang yang dilengkapi dengan fasilitas-faslitias serta perlengkapan rumah tangga dan digunakan sebagai tempat tinggal.

Apartemen sering diartikan sama dengan condominium dan flat.

Flat adalah Apartemen yang semua ruang-ruangnya terletar pada lantai tingkat yang sama, atau sering disebut sebagai simplex Apartemen.

2. Tipe-Tipe Apartemen

Bangunan Apartemen dapat digolongkan pada:

a. Berdasarkan Ketinggian Bangunan (Paul, Samuel, 1967, hal 46).

1) Bertingkat Rendah (Low Rise)

Ketinggian bangunan sampai 6 lantai.

2) Bertingkat Sedang (Medium Rise)

Ketinggian bangun 6 – 9 Lantai 3) Bertingkat Banyak (High Rise)

Ketinggian bangunan sampai dengan 40 lantai.

b. Berdasarkan Pencapaian Vertikal 1) Elevated Apartement

Pencapaian melalui elevator atau lift dengan ketinggian lebih dari 4 lantai.

2) Walk-up Apartment

Pencapaian melalui tangga, dengan ketinggian tidak lebih dari 4 lantai.

c. Berdasarkan Bentuk Massa 1) Tower Form

(24)

12 Massa bangunan memanjang dengan bentuk sirkulasi berupa koridor, biasanya menggunakan lebih dari satu system sirkulas vertikal.

Gambar 1 Bentuk Tower Form

2) Slab Form

Massa bangunan memusat dengan bentuk sirkulasi berupa hall atau ruang perantara.

Gambar 2 Bentuk Slab Form

3) Variant Form

Penggabungan antara bentuk slab dan tower.

Gambar 3 Bentuk Varian Form

(25)

13 d. Berdasarkan Sistem Pelayanan Koridor (Joseph De Chaira,

1975,hal 332) 1) Sistem Slab Blok

Koridor satu sisi di tepi bangunan (Single Loaded Corridor) pada sitem slab Blok.

Koridor

Denah Potongan

Gambar 4 Koridor Satu Sisi di Tepi Bangunan

Koridor di tengah bangunan (Double Loaded Corridor) pada sistem slab blok.

Denah Potongan

Koridor

Gambar 5 Koridor di Tengah Bangunan

Koridor pada dua sisi di tepi bangunan pada sistem slab blok.

Denah Potongan

Koridor Koridor

Gambar 6 Koridor Pada Dua Sisi Tepi Banguanan

2) Sistem Tower

Koridor terpusat di tengah-tengah bangunan pada sistem tower.

(26)

14

Denah Potongan

Unit 1

Unit 2

Unit 3

Unit 4 Selasar

Core

Gambar 7 Koridor Terpusat di Tengah Bangunan

e. Berdasarkan Sistem Penggabungan Lantai (Ernest Neufert, 1990).

1) Apartemen Simplex, satu unit hunian menempati satu lantai.

Gambar 8 Potongan 1 Unit Simplex

2) Apartemen Triplex, satu unit hunian menempati dua lantai.

Gambar 9 Potongan 1 Unit duplex

3) Apartemen Triplex, satu unit hunian menempati dua lantai.

(27)

15

Gambar 10 Potongan 1 Unit Triplex

f. Berdasarkan Sistem Kepemilikan Apartemen (Josep De Chaira, 1975)

1) Sistem Sewa (Rental Project)

Apartemen yang disewakan dengan harga yang tetap setiap bulan kepada penghuni yang menempatinya, maintenance menjadi tanggung jawab pemilik Apartemen.

Berdasarkan sistem sewa, berlakunya Undang- Undang pemerintah tahun 1963 yang mengatur batasan memiliki rumah di Indonesia. Maka untuk mengatasi masalah tersebut dilakukan usaha-usaha:

a) Sistem beli/sewa kontrak bagi masyarakat Indonesia atau badan usaha yang berhak.

b) Untuk orang asing mereka hanya dapat

menyewa, mengontrak dari

pemiliknya/developer atau sebagai rumah dinas dari perusahaan tempat mereka bekerja.

Ada beberapa sistem sewa yang dikenal antara lain:

a) Sewa Biasa

(28)

16 Penghuni membayar uang sewa kepada pemilik/pengelola bangunan, sesuai dengan perjanjian.

b) Sewa Beli

Uang sewa berfungsi sebagai angsuran pembelian, bila angsuran telah memenuhi harga yang ditetapkan, maka bangunan menjadi milik penghuni.

c) Sistem Kontrak

Penghuni membayar uang sewa secara periodic sesuai dengan persetujuan, bila masa kontrak telah berakhir, dapat dilakukan perjanjian baru sesuai dengan kesepakatan bersama.

2) Sistem Koperasi (Cooperative)

Apartemen dimiliki penghuni yang menjadi anggota Koperasi serta mempunyai saham dalam koperasi.

3) Sistem Kondominium

Sistem ini memungkinkan penghuni memiliki unit Apartemen yang ditempatinya di bawah hipotika yang terpiisah. Sedangkan ruang-ruang umum seperti lobby, koridor, taman dimiliki secara bersama. Selanjutnya menjual atau menyewakan kepada pihak lain.

g. Berdasarkan Peruntukan 1) Apartemen untuk Buruh

Apartemen ini diperuntukkan bagi para buruh-buruh industry swasta dengan standar perencanaan ekonomi dan privasi yang sangat minim.

2) Apartemen untuk Instansi Pemerintah

(29)

17 Apartemen ini diperuntukkan untuk para pegawai pemerintah dengan standar perencanaan tergantung pada social ekonomi pegawai tersebut.

3) Apartemen untuk Disewakan atau Dijual

Apartemen ini dibangun oleh pemerintah atau swasta (real estate) dengan tujuan membantu pemerintah dalam pengadaan perumahan bagi penduduk juga untuk tujuan komersial.

3. Pengertian Apartemen

Pengelolaan Apartemen dilakukan oleh manajemen property meliputi pemasaran, persyaratan sewa kontrak, penagihan harga sewa, perawatan gedung dan pelayanan kepada penghuni serta kegiatan administrasi. Untuk mendapatkan pemeliharaan dan pelayanan yang optimal, maka dibentuk satu pengelola yang terdiri dari :

a. Pimpinan dan Pengurus Administrasi b. Bagian Mekanikal dan Elektrikal c. Bagian Kebersihan dan Keamanan Dengan fungsi-fungsi sebagai berikut:

a. Manajer dan administrasi mengkoordinasi berlangsungnya seluruh kegiatan, kepegawaian dan tata usaha.

b. Penerima Tamu (reception) menerima pesan pengaduan dan memberian informasi kepada pemakai Apartemen tersebut.

c. Bagian mekanikal dan elektrikal bertanggung jawab memelihara dan memperbaiki segala masalah bangunan dan utilitasnya.

d. Pelayanan (Cleaning and Service) membantu dalam bidang kerumah tanggaan.

(30)

18 e. Keamanan menjaga keamanan baik terhadap lingkungan dan ruang tapak dan ruang dalam bangunan dan antar unit Apartemen.

Gambar 11 Skema Struktur Organisasi Pengelola Apartemen

4. Panduan Tinggal di Apartemen

Tinggal di Apartemen amat berbeda dengan tinggal di rumah horizontal, yaitu:

a. Karena masing-masing penghuni tinggal dalam satuan/unit yang dibatasi oleh langit-langit, dinding dan lantai struktur.

b. Tanah tempat bangunan berdiri merupakan tanah milik bersama, kalaupun ada, itu terbatas pada lahan yang telah ditentukan peruntukannya dan luasannya sesuai

PIMPINAN

MANAGER + SEKRETARIS

WAKIL MANAGER

ADMINISTRASI

PENERANGAN KEAMANAN

PELAYANAN SERVICE MEKANIKAL

ELEKTRIKAL

(31)

19 dengan yang telah diputuskan oleh perhimpunan penghuni.

c. Berbagai benda, fasilitas, dan ruangan di luar satuan adalah area bersama dan tidak boleh seenaknya memperlakukannya.

a. Hak milik Satuan Apartemen

Adapun hak-hak yang dimiliki setiap penghuni Apartemen, yaitu;

1) Hak untuk mendiami sendiri atau menyewakan

2) Memperoleh fasilitas kredit pemilikan satuan Apartemen atau kredit lain.

3) Memindahkan HMSRS kepada pihak laindalam bentuk jual beli, tukar menukar, hibah, dll

4) Mewariskan HMSRS kepada ahli waris

5) Memanfaatkan Apartemen dan lingkungannya, termasuk bagian bersama, benda bersama, dan tanah bersama secara aman dan tertib

6) Mendapatkan perlindungan sesuai dengan AD/ART Perhimpunan Penghuni.

b. Kewajiban Pemilik Apartemen

1) Membayar biaya pemeliharaan (service charge)

Service Charge adalah tanggung jawab pemilik, kecuali bila pemilik mengalihkan tanggung jawab kepada penghuni. Dalam biaya pemeliharaan ini biasanya termasuk biaya karyawan dan biaya administratif badan pengelola, biaya pemakaian, biaya perawatan, dan perbaikan hak bersama (common property, pajak-pajak, asuransi, fee auditor, fee konsultan, dll).

(32)

20 2) Membayar biaya utilitas umum (utilitas charge)

Utility charge ditanggung bersama oleh seluruh pemilik/penghuni berdasarkan NIP satuan Apartemen masing-masing, dan dibayar setiap bulan.

Utility charge biasanya disimpan dalam bentuk tabungan atas nama perhimpunan penghuni.

Pengeluaran dananya dilakukan berdasarkan anggaran yang telah ditetapkan.

3) Mengasuransikan satuan Apartemen

Biasanya seluruh bangunan Apartemen beserta benda yang melekat padanya telah diasuransikan all risk oleh Pengembang/Perhimpunan Penghuni. Jadi yang dianjurkan untuk diasuransikan adalah harta benda/milik pribadi.

4) Melaksanakan tata tertib dalam Apartemen

Konsentrasi manusia yang demikian tinggi diatas lahan, bangunan, dan fasilitas bersama yang serba terbatas, menyebabkan pergesekan antar penghuni lebih besar kemungkinan terjadi. Mulai dari bagaimana memasukkan dan mengeluarkan barang, menggunakan tangga/lift, membuang sampah, menjemur pakaian, menggunakan fasilitas yang tersedia, menerima tamum mengadakan pesta, menghadapi kematian, sampai hal darurat. Jadi untuk memaksimalkan keamanan, kenyamanan dan gaya hidup penghuni, sangat dianjurkan untuk mempelajari dan melaksanakan sebaik-baiknya semua tata tertib.

c. Larangan Bagi Pemilik/Penghuni satuan Apartemen

(33)

21 1) Melakukan perbuatan yang membahayakan kenyamanan, ketertiban dan keselamatan penghuni lain, bangunan, dan lingkungannya

2) Mengubah bentuk dan/atau menambah bangunan di luar satuan Apartemen yang dimiliki tanpa persetujuan Perhimpunan Penghuni

d. Sangsi dan Denda

Setiap penyalahgunaan hak, atau tidak memenuhi kewajiban, atau melanggar larangan dapat dikenakan sangsi sesuai ketentuan yang berlaku. Perhimpunan penghuni akan menetapkan sanksi/denda terhadap penghuni sesuai UU no.16/1985 dan PP No.4/1998 berupa sanksi atau denda berupa hukuman pidana selama- lamanya 1 tahun atau denda setinggi-tingginya Rp.

1.000.000,-

B. Tinjauan Terhadap Konsep Hidup Sehat 1. Gambaran Umum Konsep Hidup Sehat

Sama seperti profesional kesehataan yang mendiagnosa penyakit pasien dan meresepkan pengobatan yang tepat, demikian juga seorang profesional bangunan yang mendiagnosis bagaimana bangunan mempengaruhi kesehatan manusia dan lingkungannya, dan resep atau strategi seperti apa yang tepat untuk meminimalkan dampak tersebut. Konsep Hidup Sehat lahir sebagai tanggapan terhadap bukti bahwa siklus hidup sebuah bangunan merupakan penyebab signifikan dari penyakit yang diderita oleh manusia dan degradasi yang terjadi pada lingkungannya. Menurut US Environmental Protection Agency (EPA) dan Science Advisory Board (SAB), polusi udara dalam ruangan adalah salah satu penyebab terbesar masyarakat moderenen terserang penyakit.

(34)

22 Dimana pada masa moderen sekarang ini, rata-rata masyarakat dunia menghabiskan 90% waktu mereka dalam ruangan. Banyak bahan bangunan yang umum beredar dapat memancarkan senyawa berbahaya dan zat cetakan penular jamur dan bakteri.

Konsep Hidup Sehat adalah ide atau gagasan tentang pengaturan Pola hidup masyarakat yang proporsional dan terkontrol dengan menciptakan ruang dan lingkungan yang sehat.

Dimana lingkungan yang dimaksud pada hal ini adalah hunian, sebagai tempat dimana masyarakat sebagian besar menghabiskan waktunya dan beraktifitas sehari-hari.

2. Pengertian Kesehatan dan Bangunan Sehat

a. Pengertian Kesehatan Lingkungan

Menurut Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan, Kesehatan lingkungan adalah suatu kondisi lingkungan yang mampu menopang keseimbangan ekologis yang dinamis antara manusia dan lingkungan untuk mendukung tercapainya realitas hidup manusia yang sehat, sejahtera dan bahagia. Menurut Sumengen Sutomo 1991, Kesehatan lingkungan adalah upaya untuk melindungi kesehatan manusia melalui pengelolaan, pengawasan dan pencegahan factor-faktor lingkunganyang dapat mengganggu kesehatan manusia.

Sedangkan menurut Sudjono Soenhadji, 1994, Kesehatan lingkungan adalah ilmu & senidalam mencapai keseimbangan,keselarasan dan keserasian lingkungan hidup melalui upaya pengembangan budaya perilaku sehat dan pengelolaan lingkungan sehingga dicapai kondisi yang bersih, aman, nyaman, sehat dan sejahtera terhindar darigangguan penyakit, pencemaran dan kecelakaan, sesuai dengan harkat dan martabat manusia. Jadi, Kesehatan lingkungan adalah suatu

(35)

23 keseimbangan ekologis yang harus adaantara manusia dengan lingkungannya agar dapat menjamin keadaan sehat dari manusia.

Pengertian hidup sehat dapat didefinisikan sebagai hidup tanpa gangguan masalah yang bersifat fisik maupun non fisik. Gangguan fisik berupa penyakit-penyakit yang menyerah tubuh dan fisik seseorang. Sementara non fisik menyangkut kesehatan kondisi jiwa, hati dan pikiran seseorang. Artinya, kesehatan meliputi unsur jasmani dan rohani.

b. Persyaratan Kesehatan pada Bangunan Apartemen

Persyaratan kesehatan dan bangunan Apartemen menurut Peraturan Pemerintah no.4 Tahun 1988 dan Undang-undang no.16 Tahun 1985 meliputi parameter sebagai berikut :

1) Bangunan kuat, terpelihara, bersih dan tidak memungkinkan terjadinya gangguan kesehatan dan kecelakaan.

2) Lantai terbuat dari bahan yang kuat, kedap air, permukaan rata, tidak licin dan bersih.

3) Setiap karyawan mendapatkan ruang udara minimal 10 m/

karyawan.

4) Dinding bersih dan berwarna terang, permukaan dinding yang selalu terkena percikan air terbuat dari bahan yang kedap air.

5) Langit-langit kuat, bersih, berwarna terang, ketinggian minimal 2.5 m dari lantai.

6) Atap kuat dan tidak bocor.

7) Luas jendela, kisi-kisi atau dinding gelas kaca untuk masuknya cahaya minimal 1/6 kali luas lantai.

c. Ketentuan Kesehatan Kamar/Hunian

(36)

24 Adapun ketentuan persyaratan kesehatan rumah tinggal menurut Peraturan Pemerintah no.4 Tahun 1988 dan Undang- undang no.16 Tahun 1985 adalah sebagai berikut :

Secara Umum:

1) Setiap kamar/ruang di Apartemen harus selalu dalam keadaan bersih.

2) Tersedia tempat sampah yang cukup.

3) Bebas dari serangga dan tikus.

4) Udara dalam kamar/ruang memenuhi persyaratan sebagai berikut:

a. Tidak berbau (terutama untuk H2S dan amoniak).

b. Tidak berdebu atau berasap (Kadar debu kurang dari 0.26 mg/m3).

c. Mempunyai suhu 18-28 derajat C.

d. Mempunyai kelembaban 40 ± 70 %.

e. Tidak terdapat kuman alpha stretococus haemoliticus dan kuman pathogen.

f. Kadar gas beracun tidak melebihi ambang batas.

Secara Khusus:

1) Kamar mandi, dinding, pintu dan jendela kamar tidur yang tembus pandang harus dilengkapi dengan tirai yang tidak tembus sinar dari luar. Perbandingan dengan jumlah tempat tidur single (untuk satu orang) dengan luas lantai kamar tidur.

2) Ruang istirahat karyawan.

a. Ruang karyawan wanita harus terpisah dengan ruang karyawan pria.

(37)

25 b. Tersedia locker (lemari) yang aman untuk penyimpanan pakaian karyawan sesuai kebutuhan.

c. Dilengkapi dengan kamar mandi, jamban dan peturasan yangterpisah antara pria dan wanita.

3) Ruang pengelolaan makanan dan minuman harus memenuhi persyaratan kesehatan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

4) Kamar harus tersedia lemari tertutup untuk penyimpanan.

5) Ruang cuci tidak memungkinkan tercampurnya barang bersih dan kotor.

6) Gudang

a. Gudang untuk penyimpanan bahan makanan dan bahan berbahaya, alat Kantor, alat rumah tangga dan lain-lain harus terpisah.

b. Gudang untuk penyimpanan bahan makanan dan bahan berbahayaharus memenuhi persyaratan kesehatan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

c. Dilengkapi rak-rak dengan tinggi minimal 20 cm dari lantai dan tangga serta peralatan lain sesuai kebutuhan.

3. Gambaran Umum Perancangan Healthy Building

a. Perkembangan Konsep Healthy Building

Healthy Building adalah penemuan perspektif baru yang utamanya diaplikasikan pada managemen dari kesehatan Bangunan (termasuk lingkungan hidup hunian). Konsep ini muncul

(38)

26 pada tahun 1989, seiring dengan munculnya tren yang berbasis LEED (Leadership in Environmental Design) yang mengacu pada pengaturan dan meminimalisir limbah, polusi, dan bahan beracun yang terkait dengan konstruksi dan pengoperasian bangunan dan mengejar setiap kesempatan untuk mengoptimalkan kualitas lingkungan dalam ruangan dengan tujuan kinerja yang terukur.

Menurut Chiang, seorang pakar Bangunan Sehat dan desain LEED, pengelolaan konsep dari Healthy Building mengacu pada bentuk pengaturan pada kesehatan manusia dan kesehatan bangunan yang mirip pada susunan strukturnya, fungsinya, siklus hidup dan servis tahunan. Teori, metode, mekanisme atau aturan membuat pengobatan biologis dapat diaplikasikan secara analogi kepada pengelolaan bangunan sehat. Analogi diaplikasikan menurut teori dan praktek dari konstruksi bangunan, maintenance, evaluasi bertahap dan mengevaluasi kendala dan keterbatasan dalam menerapkan pendekatan medis manusia untuk pengelolaan gedung kesehatan.

Bangunan yang sehat atau Healthy Building adalah konsep yang menggabungkan ilmu kedokteran, kesehatan masyarakat, teknik sipil, teknik arsitektur, teknik lingkungan, dan menekankan pada maintaing atau pemeliharaan kesehatan fisik bangunan, termasuk kesehatan lingkungan dalam ruangan mereka, karena bangunan yang sehat merupakan prasyarat untuk maintaing keselamatan pengguna dan kesehatan. Selanjutnya, dari sudut pandang keberlanjutan, dampak terhadap negatif lingkungan harus dikurangi sebanyak mungkin dengan teknologi saat ini.

(39)

27

Gambar 12 Gambaran Konsep Perancangan Healthy Building

b. Kondisi Lingkungan Fisik pada Konsep Healthy Building Salah satu aspek yang harus dipenuhi dalam konsep Healthy Building adalah pencapaian kenyamanan fisik serta kesehatan pengguna bangunan. Tidak cukup ada artinya jika suatu bangunan hemat dalam penggunaan sumber daya alam, hemat energi, hemat air, menggunakan material terbarukan atau material yang rendah konsumsi energinya ketika diproduksi, namun pengguna bangunan tidak merasa nyaman secara fisik ketika berada di dalamnya.

Pengguna merasakan ruang yang secara spasial kurang nyaman, terlalu panas, atau terlalu dingin, pencahayaan ruang terlalu lemah atau bahkan berlebihan menimbulkan efek silau, level suara yang masuk ke dalam bangunan terlalu tinggi, menimbulkan gangguan bunyi, dan sebagainya. Demikian pula, kualitas udara di dalam bangunan bisa jadi tidak cukup baik. Kandungan oksigen rendah sementara kandungan gas lain, seperti karbon dioksida atau karbon monoksida terlalu tinggi di atas ambang batas yang direkomendasikan.

c. Kenyamanan Fisik Ruang

Kenyamanan fisik manusia terkait dengan lima aspek, yaitu spasial (ruang), termal (suhu ruang), visual (pencahayaan),

(40)

28 auditorial (suara atau bunyi), serta olfactual (penciuman). Dalam konsep Healthy Building, kelima kenyamanan yang terkait dengan indera manusia ini harus mampu dipenuhi oleh bangunan (ISO, Moderate Thermal Environments, 1994)

Secara spasial atau keruangan, pengguna bangunan harus dapat melakukan aktivitas melakukan gerakan yang diperlukan bagi penyelenggaran aktifitas tersebut secara baik. Dimensi ruang memenuhi tuntutan antropometri (dimensi tubuh) dan ergonomi (ruang gerak), pengguna ruang, sehingga penyelengaraan aktifitas manusia terwadahi didalamnya. Untuk ruang tidur, aktifitas tidur bagi seseorang, dengan ukuran tubuh pada umumnya dapat terselenggara. Untuk dapur, aktifitas memasak, mencuci bahan makanan, mencuci peralatan masak, dan lainnya harus dapat terselenggara secara mudah, efektif dan tidak menyulitkan gerak yang dapat membuat aktifitas memasak melelahkan. Sejumlah aktifitas lain memerlukan dimensi serta pengaturan tata letak perabot tertentu yang secara spasial mendukung penyelenggaran aktivitas tersebut dengan mudah dan nyaman.

Dalam pengukuran tingkat hijau diperlukan data tentang tingkat level kenyamanan pengguna bangunan secara rata-rata. Tingkat kenyamanan dapat dilakukan dengan menyebarkan kuesioner yang berisi pertanyaan terkait dengan respons termis pengguna bangunan. Ada metode baku pengukuran respons termis yang diatur melalui Standar Kenyamanan Termis ISO 7730. Pengukuran tingkat kenyamanan visual pengguna bangunan juga diukur untuk melihat seberapa besar pengguna bangunan merasa nyaman atau terpuaskan dengan kondisi penerangan atau pencahayaan di dalam bangunan. Pengukuran ini dilkakukan secara langsung dengan menggunakan kuesioner terhadap pengguna bangunan, atau secara tidak langsung menggunakan alat lux meter untuk mengukur level penerangan ruang, uang kemudian akan

(41)

29 dibandingkan dengan standar-standar level penerangan yang ada.

Demikian pula untuk kenyamanan bunyi (auditorial), perlu dilakukan survei terhadap pengguna bangunan mengenai tingkat kenyamanan mereke ketika berada di dalam bangunan.

Level kenyamann fisik pengguna bangunan memberikan gambaran tentang derajat keberhasilan bangunan dalam memfasilitasi pengguna bangunan menyelenggarakan aktifitas mereka. Konsep Healthy Building menjadikan aspek ini sebagai salah satu ukuran dalam sebuah bangunan.

d. Kualitas Udara Ruang

Udara normal yang dianggap bersih dan sehat yang dihisap manusia sehari-hari dalam lapisan troposfir (hingga 17 km di atas muka laut) mengandung gas nitrogen 78% dan oksigen 21%, sisanya gas argon kurang dari 1% dan karbon dioksida sektar 0,035%. Selain itu, udara mengandung uap air sekitar 5% di wilayah tropis lembap dan 0,01% di wilayah subtropis

Kualitas udara dianggap jika kadar oksige tinggi serta kadar gas lain seperti CO2, SO2, CO dan lainnya rendah. Oksigen sebagian dihasilkan oleh tumbuhan dalam proses fotosintesis penggabungan CO2 dengan H2O. Kawasan yang dipenuhi banyak tumbuhan cenderung memiliki udara yang segar karena kandungan oksigen cukup tinggi.

Healthy Building menggarisbawahi pentingnya udara dengan kualitas yang baik untuk menunjang kehidupan manusia yang lebih baik. Sejumlah aktifitas manusia secara langsung atau tidak langsung mencemari udara. Butuh keseimbangan agar kualitas udara dalam ruangan tetap terjaga. Bagaimana lingkungan binaan yang dibangun dari suatu area terbuka penuh dengan hamparan tumbuhan dapat meminimalkan penurunan kualitas udara di kawasan tersebut. Di dalam bangunan penurunan kualitas udara

(42)

30 umumnya disebabkan oleh ruang yang tertutup tanpa banyak mendapat ventilasi atau pertukaran udara dari luar.

4. Kriteria Perancangan Healthy Building pada daerah Tropis

a. Pemilihan Tapak

Dalam memilih lokasi tapak bangunan, faktor – faktor yang perlu diperhatikan adalah :

1) Lokasi

Pengaruh lingkungan terhadap perilaku manusia harus benar-benar diperhatikan pada pemilihan lokasi. Sebaiknya dipilih lokasi yang memiliki lingkungan yang (juga bangunan disekitarnya jika ada) memungkinkan adanya pengudaraan silang yang diperlukan untuk kenyamanan ruangan.

2) Kondisi Tanah

Pada umumnya kondisi tanah dan batuan di daerah tropis Sama dengan di daerah lainnya di belahan dunia, tetapi di daerah tropis kualitas tanah yang baik dapat berubah sebaliknya, misalnya erosi yang ditimbulkan oleh naiknya air permukaan akibat hujan lebat. Hal ini tergantung pada jenis tanah dan dapat diatasi dengan pemilihan pondasi yang tepat.

3) Pengembangan dan Pelayanan

Untuk pengembangan hal-hal yang perlu diperhatikan adalah:

a) Pencapaian lokasi bangunan

b) Pencapaian bangunan setelah digunakan

Sistem instalasi pelayanan juga harus diperhatikan, seperti penyediaan air minum, jaringan listrik dan

(43)

31 pembuangan air limbah karena amat berpengurah pada biaya pengembangan.

4) Vegetasi

Vegetasi atau tanaman selain dapat memberi efek psikologis positif oleh pandangan hidup, juga memberi perlindangan terhadap:

a) Kesilauan (glare) b) Debu

c) Erosi d) Panas e) Angin

Persayaratan khusus untuk lokasi tapak bangunan terutama untuk menghindari bahaya angin badai dan gempa bumi, sebab di daerah tropis bahaya angin ribut sering bersamaan dengan gempa bumi.

Tindakan pencehgan terhadap angin badai pada lokasi tapak bangunan sebaiknya memperhatikan topografi atau bentuk permukaan tanah yang tidak menimbulkan efek saluran, sehingga menambah kecepatan angin dan site sebaiknya di daerah yang tinggi sehingga terhindar dari banjir jika angin disertai hujan badai serta bahaya kebakaran, terutama pada arah angin utama.

Sedangkan untuk pencegahan terhadap bahaya gempa bumi sebaiknya memilih lokasi dengan resiko gempa kecil berdasarkan daerah gempa (kemungkinannya kecil, karena lokasi bangunan pada umumnya telah dinteukan, tetapi pada prospek besar merupakan aspek ekonomis yang penting) dan hindari:

1) Bahaya longsor pada tanah miring

2) Bahaya rubuh terhadap bangunan di dekatnya dengan jarak yang cukup

(44)

32 3) Bahaya bendungan pecah (daerah hilir bendungan)

4) Bahaya runtuh pada daerah yang memungkinakna runtuhnya jembatan.

b. Material

Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam memilih material adalah:

1) Pengaruh iklim terhadap material

2) Jenis pemakaian yang umum dari bahan yang dipilih untuk komponen bangunan tertentu

3) Persediaan material di lokasi bangunan, lokasi produksi dan kemungkinan transportas termasuk

4) Kemungkinan impor kemungkinan penggantian material dengan bahan lain bila diperlukan

5) Pengerjaan di lapangan oleh tenaga setempat 6) Kethanan terhadap tumbuhan dan hewan perusak

7) Warna, sifat dan density (kerapatan) bahan serta penggunaanya dalam bangunan

c. Sistem Struktur

Konstruksi yang digunakan untuk daerah Makassar yang beriklim tropis – lembab mempunyai ciri khas, yaitu :

1) Ringan

Di daerah tropis lembab, penurunan suhu pada malam hari hanya sedikit sehingga pendinginan oleh emisi panas-dingin hampir tidak mungkin terjadi, oleh sebab itu diutamakan pemakaian bahan-bahan bangunan dan konstruksi yang ringan.

2) Terbuka

Radiasi panas yang masuk melalui lobang-lobang atau panas yang ditimbulkan oleh penghuni dan

(45)

33 peralatan dalam ruangan perlu diatur sirkulasinya dengan ventilasi silang secara alamiah, artinya diperlukan bukaan yang besar. Bahkan pada bangunan skala besar harus mempunyai celah permainan setiap 25 m, bila mungkin sebagai pemisah bagian-bagian bangunan akibat besarnya gerakan panas dan kelembaban.

Ciri khas tersebut dapat dijelaskan pada tiap bagian struktur sebagai berikut:

a) Dinding

Dinding biasanya hanya berfungsi sebagai pencegah hujan dan angin (selain fungsi-fungsi lain di luar iklim). Konstruksi rangka ringan, dengan dinding tipis dan dilengkapi dengan bukaan yang diperlukan pada dinding luar dan dalam bukaan yang dapat diberi pelindung seperti tritisan, daun jendela, jalusi dan lain-lain dan diberi isolasi panas untuk ruangan yang memakai penyejuk udara

b) Atap

Pada umumnya atap bangunan di daerah tropis- lembab menggunakan atap miring berbentuk pelana, limasan dengan sistem balok, kaso dan pengikat atau sistem rangka ruang mengingat curah hujan yang cukup tinggi yang dapat menyebabkan kerusakan dinding (jamur dan lumut) dan silau atau glare pada interior akibat radias matahari.

(46)

34 Akan tetatpi jika dilihat dari contoh bangunan- bangunan tropis yang ada dan untuk membuat olahan bentuk bagian atas bangunan tinggi yang lebih variatif,a atap bangunan cenderung datar dengan pemecehan yang masing-masing berbeda pada setiap bangunan.

c) Lantai

Pada dasarnya struktur lantai pada bangunan tinggi tropis sama dengan bangunan bertingkat umumnya, hanya saja untuk bentuk denah pada bangunan tropis mingikuti sirkulasi penghawaan alami yang memanfaatkan tenaga angin sehingga lantai-lantai tipikal membentuk atrium mengarah vertikal dalam bangunan.

d. Konsep Hunian Sehat c.

Hunian Sehat menurut WHO (World Health Organization):

a) Harus dapat melindungi dari hujan, panas, dingin dan berfungsi sebagai tempat istirahat.

b) Mempunyai tempat untuk tidur, masak, mandi, mencuci, kakus dan kamar mandi.

c) Dapat melindungi dari bahaya kebisingan dan bebas dari pencemaran.

d) Bebas dari bahan bangunan yang berbahaya.

e) Terbuat dari bahan bangunan yang kokoh dan dapat melindungi penghuninya dari gempa, keruntuhan dan penyakit menular.

f) Memberi rasa aman dan lingkungan tetangga yang serasi

(47)

35 5. Penerapan Desain Healthy Building Pada Bangunan Tinggi

Bentuk pada bangunan tinggi sebaiknya mengacu pada prinsip interaksi antar bangunan (termasuk penghuni) dengan kondisi di luar bangunan, sehingga dapat memberikan kenyamanan pemakai bangunan.

Interaksi antar bangunan dengan lingkungan merupakan prinsip yang digunakan dlam perencanaan bangunan ekologis.

Khusus untuk daerah Makassar yang beriklim tropis-lembab, faktor- faktor yang berpengaruh yaitu:

a. Lintasan Matahari

Gambar 13 Arah Lintasan Matahari

Arah lintasan matahari berpengaruh besar terhadap orientasi bangunan terutama peletakan core dan bukaan jendela. Core pada daerha tropis sebaiknya diletakkan pada bagian panas yaitu posisi Timur-Barat sesuai dengan arah lintasan matahari. Penggunaan core pada sisi terpanas memberikan banyak keuntungan, selain sebagai penyangga yang dapat menghadang masuknya sinar, juga dapaat menginsulatif ruang bagian dalam dari peningkatan suhu dan mengurangi muatan AC yang harus digunakan.

(48)

36 Pada core biasa terdiri dari lift, tangga dan toilet, diberikan ventilasi alamiah untuk memasukkan cahaya dan udara. Bukaan ventilasi diarahkan pada sisi Utara dan selatan untuk mencegah pemanasan matahari terhadap fasade yang lebih lebar.

b. Radiasi matahari

Panas matahari berpengaruh terhadap suhu permukaan bangunan, suhu dalam ruangan dan penglihatan. Beberapa cara yang dapat digunakan untuk mengantisipasi hal tersebut adalah dengan menggunakan ruang transisional maupun mereses beberapa bagian permukaan.

Penonjolan bangunan bagian dalam (reses) dapat memberikan perlindungan dari sinar dan radiasi panas. Suatu jendela yang dapat direses secara total untuk membentuk suatu balkon yang dapat memberikan penyinaran terhadap semua tempat untuk menjadi panel reflektor yang terang. Sedangkan balkon sendiri dapat dimanfaaatkan sebagai area evakuasi, vegetasi dan zona pengembangan di masa yang akan datang.

Menjadikan dinding luar lebih bersifat permeabel, sebagai insulatif yang bersifat interaktif dengan lingkungan dan pembukaan yang dapat diatur.

Pengadaan ruang transisional yang berlantai banyak dapat digunakan sebagai atrium dan tempat pergerakan udara masuk ke dalam bangunan di mana atrium tidak harus tertutup, tetapi dapat ditempatkan pada ruang transisi ini yang bertindak sebagai skoop angin untuk mengontrol ventilasi alami dalam ruangan. Pembukaan bagian bawah bangunan juga ditujukan untuk memasukkan udara ke dalam bangunan (atrium), selain itu penggunaan bahan dan teknologi baru ditujukan untuk mengalirkan udara lewat insulatif bagian luar ke dalam bangunan.

(49)

37 c. Vegetasi

Gambar 14 Vegetasi

Vegetasi berperan menyejukkan ruang, mengurangi radiasi yang masuk serta berperan sebagai unsur estetika bangunan.

Penanaman digunakan juga sebagai lansekap vertikan terhadap bagian muka bangunan, dapat menyerap karbondioksida (CO2) dan melepaskan oksigen (O2) sehingga menguntungkan bangunan dan daerah sekitarnya.

d. Kelembaban

Kelembaban yang tinggi pada daerh tropis disebabkan oleh curah hujan yang tinggi. Faktor lain ikut berpengaruh yaitu keleembaban udara, kelembaban tanah dari dlam bangunan (kondensasi dan difusi)

Untuk mencegah hal tersebut dapat dilakukan dengan pemakaian material lapisan dinding yang berfungsi sebagai perisai air, pemakaian overstek atau teritis atap. Untuk dinding perisai harus harus memungkinkan adanya pergerakan udara pada dinding belakang lapisan kedap air.

Pemakaian material logam seperti aluminium yang mulai lazim digunakan sekarang ini sebagai pembungkus bangunan, merupakan salah satu cara mencegah merembesnya air ke dalam

(50)

38 struktur bangunan yang dapat menaikkan kelembaban udara dalam ruangan.

Untuk bangunan bertingkat seperti Apartemen, usaha untuk mengurangi kelembaban yaitu dengan dari matahari dan jika tidak memungkinkan dapat digunakan hembusan udara yang mengalir.

Pemasukan udara yang terus menerus dapat mencegah kelembaban hawa agar tidak terlalu merusak.

Kelembaban udara dan usaha mengurangi kelembaban dipengaruhi oleh pergerakan udara dalam ruangan. Udara mengalir dari tempat yang bertekanan tinggi ke tempat bertekanan rendah.

Oleh karena itu dalam perancangan bangunan perlu memperhatikan arah aliran udara, perletakan bukaan ventilasi udara, musim dan teknik peenataan sistem udara vertikal dalam bangunan terhadap perubahan iklim.

e. Suhu

Suhu atau kalor yang datang dari matahari mengenai permukaan bangunan yang terdiri dari beberapa jenis material dengan gaya absorbsi dan pemantulan dapat mempengaruhi suhu dalam ruangan. Usaha yang dilakukan untuk menyeimbangkan suhu dalam ruangan telah dikemukakan sebelumnya, diantaranya yaitu dengan mengadakan bukaan bukaan untuk balkon dan vegetasi, perletakan orientasi bangunan terhadap lintasan matahari, pemakaian material yang dapat mereduksi panas, penggunaan warna bahan yang dapat mereduksi sebagian kalor, perlindungan bagian atap dari terpaan sinar dan pemakaian bahan langit-langit yang tidak mudah menyerap panas.

C. Studi Banding Terhadap Bangunan Apartemen 1. Apartemen Senayan

Lokasi : Senayan, Jakarta Pusat

(51)

39 Apartemen ini berdekatan dengan Central Business Distric (CBD) maupun berbagai Perguruan Tinggi.

Apartemen Senayan dibangun diatas area seluas ±2 Ha. Terdiri dari 2 menara yang masing-masing memiliki ketinggian 28 lantai dan 1 lapis semi basement dengan luas total lantai bangunan kurang lebih 70.000m2 .

Desain Apartemen Senayan dibuat sesuai dengan iklim Indonesia yang tropis dan didominasi unsur hijau. Yang umumnya suasana hijau itu, hanya dapat dirasakan sampai ketinggian 2 atau 3 lantai dari groundfloor. Tetapi disini bisa dirasakan hingga lantai atas (penthouse) dengan adanya multi-level gardens, yakni dengan banyaknya balkon yang sekaligus berfungsi sebagai penghalan cahaya matahari langsung masuk ke dalam bangunan. Balkon- balkon ini juga berfungsi sebagai taman yang dapat dinikmati oleh penghuni, walau berada di tingkat atas. Desain 2 menara yang menjadi gubahan massa persegi yang saling berhadapan pada sudutnya. Dua massa ini membentuk sudut 45° dari jalan. Gubahan ini berkesan dinamis dan efisien yang menghasilkan ruang luar luas dan nyaman. Selain itu penghuni dapat saling melihat tanpa penghalang karena pertemuan kedua menara pada sudut bangunan.

Pada semibasement antara kedua menaara tersebut dihubungkan menjadi satu dan dimangaatkan untuk fasilitas parkir dengan daya tampung 364 mobil, serta beberapa faktor lainnya.

Pada lantai dasar, difungsikan untuk daerah publik dan hunian ditempatkan dari lantai 1 hingga atas.

Jumlah total hunian terdapat 358 unit. Dengan rincian pada menara 1 (kondominium) ada 150 unit, termasuk 4 unit penthouse.

Sedangkan pada menara 2 (service apartments) terdapat 204 unit hunian dan 4 unit penthouse. Luas hunian menara 1, berkisar antara 126 m2 – 208 m2 yang terdiri dari tipe 2, 3, dan 4 kamar tidur,

(52)

40 sedangkan pada menara 2, berkisar 45 m2 -208 m2, terdiri dari tipe studio hingga 4 kamar tidur. Tiap lantai rata-rata terdapat 8 unit hunian.

Sarana transportasi vertikal pada masing-masing tower akan dilayani dengan 3 unit lift penumpang. Tiap liftnya berkapasitas 17 orang dengan kecepatan 115 mpm. Selain itu, pada tiap menara, juga dilengkapi 1 unit lift servis, bisa berfungsi sebagai lift pengumpang dan kebakaran yang memiliki kapasitas 1500 kg/115 mpm.

2. Garden Tower di Surabaya

Bangunan Apartemen dan entertainment Garden Tower berada di jantung kota Surabaya di jalan Embong. Garden tower direncanakan 27 lantai, yang terdiri dari dua blok bangunan dalam satu massa. Blok podium terdiri dari 6 lantai, yang difungsikan sebagai entertainment centre, dan tower terdiri dari 21 lantai yang akan difungsikan sebagai Apartemen.

Bangunan menghadap kearah utara di sisi jalan Embong Malang, dengan bentuk massa secara umum berbentuk trafesium mengikut bentuk site. Entrance terpisah antara pusat hiburan pada sisi utara, menghadap kejalan Embong Malang dan entrance untuk Apartemen disisi timur.

Block podium bangunan Garden Tower, dengan luas lantai seluruhnya kurang lebih 20.520 m2, yang terbagi dalam 6 lantai, dimana 5 lantai efektif yang berfungsi sebagai pusat hiburan seperti shoping centre, fashion show, ruang pameran, dan tiga buah studio cinepleks, pada lantai 3 dibuat area ice skating. Pada lantai 1 terdapat mezzanine level yang difungsikan sebagai diskotik.

Tower 21 lantai diatas blok podium dengan luas lantai sekitar 22.950 m2 direncanakan sebagai Apartemen. Basement difungsikan sebagai tempat parkir dengan kapasitas kurang lebih 100

(53)

41 kendaraan roda 4. Sirukulasi dalam bangunan terpisah antara unit hiburan dan Apartemen dengan main entrance yang berbeda, tetapi keduanya berhubungan erat sehingga dapat saling menunjang.

Sirkulasi horizontal terjadi pada concourse yang mengelilingi atrium, sedangkan sirkulasi vertikal menggunakan sarana tangga menghubungkan lantai 1 sampai 6 podium, bersama dengan 10 buah escalator dan sebuah tangga menghubungkan lantai 1 dengan mezzanine dari arah entrance Apartemen.

Transportasi vertikal pada tower dilayani oleh 4 lift penumpang, 1 lift service dan 2 buah tangga yang masing-masing melayani basement lantai 23 dan lantai 1 sampai lantai 26. Semua alat transportasi vertikal tersebut berada dalam sebuah core bersama sarana utilitas lainnya.

(54)

42

BAB III

ANALISIS PERENCANAAN BANGUNAN HEALTHY LIVING APARTMENT DI MAKASSAR

A. Tinjauan Umum Kota Makassar 1. Kondisi Fisik Kota Makassar

Kota Makassar adalah ibu kota propinsi Sulawesi Selatan yan terletak di daerah pesisir. Kota Makassar mempunyai prospek dan potensi yang cukup besar untuk dikembangkan dimasa sekarang maupun dimasa yang akan datang.

Luas area kota Makassar adalah 175.77 km2 dengan 14 wilayah kecamatan sebagai wilayah administrasi yang dibagi dalam 62 kelurahan definitif dan 80 kelurahan persiapan. Keadaan topografi wilayah Kota Makassar umumnya datar, dengan kemiringan rata-rata hiungga 50 ke arah timur.

Kota Makassar berada pada daerah dataran yang ekosistemnya dipengaruhi oleh sungai, rawa, dan laut. Terletak di tepi Selat Makassar pada posisi 119018’28” – 119032’03” bujur timur dan 05003’18”-050186’05” lintang selatan.

Batas-batas wilayah kota Makassar adalah :

a. Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Pangkajene Kepulauan

b. Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Maros c. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Gowa.

d. Sebelah Barat demgam Selat Makassar.

Dengan letak yang strategis, kota Makassar berperan sebagai pusat pengembangan Kawasan Indonesia Timur pada khususnya.

Fungsi dan kududukan Kotamadya Makassar saat ini, adalah : a. Secara administratif merupakan ibukota propinsi

Sulawesi Selatan.

b. Sebagai pusat pemerintahan Propinsi Sulawesi Selatan.

Referensi

Dokumen terkait

a) Syariah samawiyyah terdahulu meraikan keperluan dan masalahah umat pada zaman tersebut. Syariah-syariah yang datang selepas itu diturunkan dan mengalami beberapa

[r]

Dari ketiga pola komunikasi yang dijelaskan diatas dapat disimpulkan bahwa pola komunikasi pesantren tradisional dalam penyebaran agama Islam adalah pola komuniaksi aksi,

Setelah kondisi logam cair mulai fase padat pada 415.88 detik setelah penuangan, pada bagian dalam produk cor didaerah yang ditunjukkan seperti pada gambar diatas masih terdapat

Ruang Wilayah Kabupaten/K ota (RTRWK) Kawasan Strategis Kabupaten/Kota - - Indikasi Program Bidang Cipta Karya AM/PLP/ Bangkim/PB L *) AM/PLP/ Bangkim/PB L *) Rencana Induk

Hal ini berarti bahwa secara simultan (bersama-sama) variabel fokus terhadap pelanggan, obsesi pada kualitas, dan kerjasama tim mempunyai pengaruh yang signifikan

Lalu untuk mama ku tersayang, terima kasih banyak buat waktunya yang selalu nemenin aku ngerjain skripsi sampe malem, makasih buat masakan mama yang selalu siap di waktu aku

Ratio Solvabilitas di dalam penelitian ini diukur dengan menggunakan total debt to total assets, semakin besar rasio ini maka menunjukkan semakin besar porsi