• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perancangan Makro

Dalam dokumen HEALTHY LIVING APARTMENT DI MAKASSAR (Halaman 138-147)

BAB IV KESIMPULAN DAN ACUAN PERANCANGAN

B. Acuan Perancangan

1. Perancangan Makro

Lokasi a.

Perencanaan apartemen pada dasarnya adalah pembentukan suatu pemukiman di dalam kota di mana terdapat fasilitas-fasilitas di dalamnya yang mendukung kegiatan penghuni apartemen.

Dengan mengacu pada pendekatan bangunan sehat, maka pemilihan lokasi merupakan salah satu hal spesifik pada bangunan apartemen ini.

Dengan pertimbangan dalam penentuan lokasi untuk pembangunan apartemen adalah:

1) Sesuai dengan Rencana Umum Tata Ruang Kota (RUTRK) Kota Makassar, yaitu berada pada pusat bisnis (pelayanan dan perdagangan). Di mana kebutuhan akan fasilitas pendukung terhadap kegiatan yang sering terjadi dalam lokasi tersebut masih dibutuhkan.

2) Kondisi tanah yang sudah matang dan tersedianya infrastruktur kota, misalnya air bersih, jaringan listrik, jaringan telepon dan lain-lain.

3) Lokasi dapat dicapai dengan mudah dari segala arah baik dengan menggunakan kendaraan pribadi maupun angkutan kota.

4) Lingkungan yang baik, teratur, aman dan bebas dari banjir.

127 5) Di daerah yang memberikan keseimbangan sosial serta keserasian dan keterpaduan antar kawasan yang menjadi lingkungannya

Atas analisis tautan lingkungan berdasarkan beberapa kriteria yang telah disebutkan di atas, maka lokasi yang dianggap memenuhi seperti dibahas pada bab sebelumnya adalah kecamatan Rappocini Dasar pertimbangan terhadap penentuan lokasi dalam kawasan Rappocini adalah sebagai berikut :

1. Proyeksi kebutuhan pasar pada lingkungan yang bersangkutan

2. Nilai investasi lahan yang menguntungkan dan bermanfaat bagi publik sebagai penggunaan terhadap fungsi-fungsi yang ada

3. Saling menguatkan, memberi dukungan antara eksisting lingkungan dan pasar yang telah ada dengan fungsi-fungsi yang akan dikembangkan.

Berdasarkan analisis pengembangan lahan campuran dikawasan Rappocini, dimana pusat pengembangan perdagangan dan padat penduduk ditetapkan pada kawasan Rappocini, dengan tujuan menghidupkan kembali serta menata ulang kondisi fisik dan peruntukan lahan mengingat potensi pasar dalam mempertinggi nilai pasar pada wilayah tersebut cukup besar, serta menciptakan sebuah hunian dalam kawasan padat penduduk tersebut dengan mengefisienkan penggunaan lahan.

128

Gambar 43 Peta Kecamatan Rappocini

Tapak b.

Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menentukan tapak/Site pada satu lokasi bangunan dengan konsep Healthy Building:

1. Luasan tapak, kepadatan tapak yang diizinkan dan biaya lahan.

Pada prisnipnya luasan tapak bangunan dengan konsep Healthy Building tidak harus dibatasi, dengan luasan tapak biasanya mulai dari 0,5 are sampai dengan 100 are. Terhadap kepadatan bangunan yang diizinkan yang berbanding lurus dengan harga tanah yang cukup besar sehingga bangunan dengan konsep Healthy Building tersebut dapat dibuat sampai lantai 100 ke atas, dengan lahan seminimal mungkin.

129 2. Topografi dan kondisi existing fisik lahan.

Perencanaan satu dengan konsep Healthy Building dipengaruhi topografi lahan, seperti kondisi tanah yang ada, apakah mampu mendukung lapisan lantai atasnya.

Perencanannya juga sangat dipengaruhi exsisting lokasi sekitarnya sehingga terjadi interaksi antara bangunan baru dengan bangunan yang telah ada.

3. Tautan Lingkungan

Pengembangan dengan konsep Healthy Building seharusnya di desain untuk menciptakan sense of Place yang baik bagi pengguna maupun bagi lingkungannya.

Dengan berfungsi sebagai jembatan antara pengguna dan lingkungannya maka akan diharapkan tercapai satu pengembangan aktivitas yang pada akhirnya dapat memberi nilai tambah bagi keduanya.

4. Utilitas

Memperlihatkan tipe-tipe utilitas yang terdapat disekitar tapak yang direncanakan, seperti jaringan listrik, telepon, gas, air bersih, dan air kotor.

Adapun dasar pertimbangan yang diambil adalah : f) Sesuai bagi peruntukan lahan yang direncanakan.

g) Terletak di tepi jalan arteri untuk memudahkan pencapaian (aksebilitas).

h) Kondisi Site yang tidak mempunyai kontur yang tinggi.

i) Tersedia lahan yang cukup luas sesuai dengan tuntutan kebutuhan ruang.

j) Dekat dengan fasilitas pusat perdagangan dan jasa/objek wisata.

130

Tabel 25 Analisa Penentuan Tapak Berdasarkan Sistem Pembobotan

Kriteria Bobot (B)

Alternatif 1 Alternatif 2 Alternatif 3 Nilai

(N)

B x N Nilai (N)

B x N Nilai (N)

B x N

1 3 8 24 10 30 10 30

2 3 8 24 10 30 8 24

3 3 8 24 10 30 8 24

4 2 8 16 8 16 10 20

5 2 10 20 10 20 10 16

Total Nilai 108 126 114

Berdasarkan pembobotan atas kriteria diatas, maka dapat ditentukan tapak yang memiliki bobot tertinggi atas kriteria yang telah di tentukan sebelumnya yaitu Tapak Alternatif 2, yang terletak di sudut jalan A.P.Pettarani dan jalan Hertasning. Tapak ini dipilih karena lokasinya yang strategis, sarana dan prasarana yang lengkap diharapkan mampu menunjang keberadaan apartemen ini nantinya

Gambar 44 Tapak Terpilih

131 Sumber: Google Earth,2014

Zoning c.

Fungsi-fungsi dari bangunan Healthy Building ini menentukan penempatan tata letak sesuai privasi masing-masing kegiatan.

Penzoningan didasarkan pada:

1) Perletakan dan desain Fungsi Hunian (Apaartemen) 2) Perletakan dan desain Fasilitas Penunjang

View sering kali merupakan hal yang sangat penting, terutama untuk apartemen. Sedangkan untuk menjaga Privacy pada bangunan High Rise fungsi hunian diletakkan pada lantai atas bangunan. Selain privacy terjaga, juga memberikan view yang cukup baik, karena view yang cukup baik dapat memiliki nilai jual yang tinggi, terutama untuk kawasan pusat kota.

Gambar 45 Zoning Tapak

Entrance dan Sirkulaassi d.

Perletakkan main entrance dipertimbangkan agar :

132 1) Entrance utama mudah dilihat, dengan cara

membuat ruang penerimaan pada entrance.

2) Entrance utama dekat dengan arah datangangnya penyewa.

3) Entrance utama tidak mengganggu kelancaran lalu lintas.

Side entrance dalam perencanaan, pencapaian keluar dan masuk dijadikan dua arah dengan pertimbangan :

1) Memudahkan pengawasan

2) Keamanan lebih terjamin dan terkontrol.

3) Pencapaian kedalam bangunan lebih besar.

4) Fleksibilitas ruang cukup baik.

Pencapaian ke tapak menggunakan satu jalan masuk yang berada di jalan A.P.Pettarani, dan jalan keluar yang berada di jalan Sultan Alauddin. Jalan masuk dan jalan keluar dibuat terpisah untuk menghindari penumpukan kendaraan di satu titik. Selain itu, di dalam tapak juga dapat dihindari crossing antara kendaraan dan pejalan kaki.

1) Sirkulasi kendaraan

Sirkulasi kendaraan di dalam tapak dapat dibagi atas:

a) Kendaraan pengunjung, b) Kendaraan penghuni c) Kendaraan pengelola, dan d) Kendaraan servis.

2) Sirkulasi pejalan kaki

Jalur pejalan kaki berupa pedestrian di sekeliling bangunan dan juga sepanjang jalan masuk dan keluar. Pedestrian dibuat jelas dan terarah, aman bagi pejalan kaki dan juga tetap memperhatikan kenyamanannya.

133

Gambar 46 Sirkulasi, Entrance Tapak

Bentuk dan Penampilan Bangunan e.

1) Bentuk Dasar Bangunan

Bentuk dasar bangunan dipertimbangkan terhadap kriteria-kriteria :

 Kesan penampilan bangunan yang diinginkan.

 Penyesuaian terhadap bentuk tapak.

 Efektifitas ruang yang dihasilkan.

Pembentukan massa bangunan didasari atas pertimbangan :

• Pengelompokan kegiatan

• Faktor sirkulasi dan pencapaian, orientasi angina dan matahari

• Sosok bangunan dan konsep ruang yang hendak dibuat

• Bentuk tapak, karakter lingkunan bangunan.

134

Gambar 47 Konsep Bentuk Bangunan

2) Penampilan Bangunan

Penampilan bangunan merupakan satu hal yang penting menyangkut karakteristik bangunan yang ada dengan berdasarkan atas pertimbangan:

• Fungsi bangunan

• Arah pandangan bangunan

• Sifat fisik bangunan

• Menampilkan suatu “point of interest”

• Memperhatikan eksisting bangunan dalam tapak sehingga ada keserasian dengan lingkungannya.

• Penggunaan unsur-unsur estetika, bahan, warna dan karakter sebagai unsur penentu akhir (finishing)

• Perspektif Kawasan kota Makassar

Dari beberapa pertimbangan tersebut, filosofi bentuk bangunan apartemen yang hendak dibuat ialah dengan menciptakan penampilan bangunan yang menimbulkan kesan bersih, aman, dan nyaman, untuk mencerminkan fungsi bangunan sebagai tempat hunian yang sehat.

135

Gambar 48 Konsep Penampilan Bangunan

2. Perancangan Mikro

Dalam dokumen HEALTHY LIVING APARTMENT DI MAKASSAR (Halaman 138-147)

Dokumen terkait