• Tidak ada hasil yang ditemukan

Gambaran Umum Permasalahan dan Kebij akan Energi Saat Ini

Dalam dokumen BPPT Outlook Energi Indonesia 2010 (Halaman 31-41)

GAMBARAN UMUM PERMASALAHAN DAN KEBIJAKAN

ENERGI SAAT INI

Unt uk membahas kondisi kebut uhan maupun penyediaan energi sert a penerapan t eknologi yang dibut uhkan di masa mendat ang, maka perlu dibahas t ent ang kondisi energi saat ini. Pembahasan ini dibagi dalam dua bagian yait u sekt or kebut uhan energi ant ara lain sekt or rumah t angga, komersial, indust ri, t ransport asi, dan sekt or penyediaan energi yang menyangkut penyediaan bahan bakar minyak, gas bumi, bat ubara, dan pembangkit t enaga list rik. Pembahasan dalam bab ini bersif at umum dan pembahasan lebih dalam akan dilaksanakan pada bab t erkait .

2. 1 Gambaran Umum Sekt or Pengguna Energi

Pada gambaran umum sekt or pengguna energi, dibahas kondisi penggunaan energi dan t eknol ogi di sekt or rumah t angga, komersial, indust ri dan t ransport asi.

2. 1. 1 Sekt or Rumah Tangga dan Komersial

Sekt or ini menggunakan energi unt uk memasak, penerangan, sert a keperluan lain. Memasak akan menggunakan minyak t anah, LPG, gas kot a/ bumi, biomasa dan l ist rik. Penerangan menggunakan minyak t anah, gas, dan l ist rik, sedangkan keperluan lain ant ara lain, AC kipas angin, TV, dan sound syst em menggunakan list rik.

Handbook of Ener gy and Economi c St at i st i cs of Indonesi a 2008, Pusdat in, MESDM menunj ukkan bahwa dari t ahun 2000 sampai 2008 t erj adi peningkat an pemanf aat an energi yang meliput i hampir semua j enis energi. Biomasa meningkat dari 208, 6 j ut a SBM menj adi 232, 2 j ut a SBM, gas bumi dari 81 j ut a SBM menj adi 131 j ut a SBM, l ist rik dari 18, 7 j ut a SBM menj adi 30, 7 j ut a SBM, dan LPG dari 5, 9 j ut a SBM menj adi 13, 6 j ut a SBM. Sedangkan minyak t anah menurun dari 63, 2 j ut a SBM t ahun 2000 menj adi 40, 1 j ut a SBM t ahun 2008. Penurunan ini t erut ama disebabkan dil aksanakannya program konversi minyak t anah ke LPG yang dimulai pada t ahun 2007. Hal ini mendorong t erj adi perubahan pola penggunaan energi unt uk memasak yang sebelumnya didominasi oleh minyak t anah menj adi didominasi ol eh LPG dalam beberapa t ahun ini. Pengembangan penggunaan gas kot a, sert a perubahan pola pemukiman kot a dengan makin banyaknya apart emen j uga mengubah pol a penggunaan energi di sekt or rumah t angga.

A. Konversi minyak t anah ke LPG

Program dil aksanakan berdasarkan Perpres No. 104 t ahun 2007 t ent ang penyediaan, dist ribusi dan penet apan harga LPG t abung 3 kg, sert a Keput usan Ment eri ESDM t ent ang penugasan Pert amina dal am pendist ribusian paket LPG t abung 3 kg. Program dimul ai t ahun 2007 dan diharapkan pada akhir t ahun 2010 sel uruh program dapat sel esai dengan t erdist ribusinya 44 j ut a paket LPG t abung 3 kg.

B. Penggunaan kompor listrik sebagai penggant i kompor minyak tanah dan LPG

Tenaga list rik merupakan j enis energi f inal yang bersif at universal art inya dapat dipergunakan sebagai sumber energi unt uk memasak at au pemanasan, penerangan, mekanis maupun keperl uan l ain. Pada beberapa apart emen modern dengan persyarat an keamanan yang ket at , mul ai dit erapkan penggunaan kompor dan oven list rik dan melarang penggunaan LPG at au minyak t anah. Penggunaan kompor list rik j uga didorong dengan kenaikan harga bahan bakar sepert i minyak t anah dan LPG, sert a dist ribusi minyak t anah dan LPG yang sering t erlambat . Diperkirakan pemanf aat an kompor l ist rik akan t erus meningkat di masa depan sehingga meningkat kan kebut uhan l ist rik di sekt or rumah t angga.

C. Penggunaan gas kot a sebagai bahan bakar di sekt or rumah t angga.

Pemanf aat an gas sebagai bahan bakar bersih diperkirakan akan meningkat di masa mendat ang. Hal yang membat asi pengembangan gas kot a adalah inf rast rukt ur gas sepert i pipa t ransmisi dan pipa dist ribusi yang masih sangat t erbat as, hanya mel iput i beberapa kot a dan belum seluruh kot a t ersebut t erhubung dengan j aringan dist ribusi gas kot a. Pengembangan j aringan t ransmisi gas l int as Jawa dan Sumat era sert a j aringan dist ribusinya akan meningkat kan j umlah pengguna gas baik sekt or indust ri, komersial maupun sekt or rumah t angga di wilayah yang dilalui j aringan gas t ersebut .

D. Peningkat an penggunaan lampu hemat energi (compact fluorecent lamp) menggant ikan lampu pij ar (incandescent lamp).

Secara umum penggunaan l ampu j enis ini akan menaikkan ef isiensi penerangan dari 13 l umen/ Wat t menj adi 50 l umen/ Wat t . Hal at au persoal an yang ada di lapangan adalah:

• Kualit as dan harga lampu yang sangat bervariasi.

• Ket idaksesuaian kual it as yang t ert era dengan kondisi yang sebenarnya, sangat merugikan konsumen. Misalnya lampu hemat energi dengan merek t ert ent u j auh lebih t erang dibanding lampu merek lain dengan daya yang sama, demikian j uga umur hidup lampu t ert ent u yang hanya 1–2 bulan (300 j am) padahal dal am brosur t ercant um umurnya 3000 j am.

E. Penggunaan peralat an lain yang hemat energi

Peralat an lain pada sekt or rumah t angga dan komersial ant ara lain adalah penggunaan pendingin ruang at au AC, lemari pendingin (r ef r i ger at or), kipas angin, r i ce cooker dan l ain-l ain. Kondisi yang ada di masyarakat adalah:

• Banyaknya penj ual an produk-produk el ekt ronik yang masih menggunakan t eknologi l ama yang boros energi dengan harga yang murah. Kondisi ini menunj ukkan, di sat u pihak masyarakat memperoleh barang yang dibut uhkan dengan harga murah, di lain pihak Indonesia dapat menj adi t empat pemasaran produk-produk dengan t eknologi lama yang t idak ef isien.

• Belum adanya penet apan st andar mut u produk dan l abel i ng unt uk semua peralat an sehingga masyarakat dapat menget ahui mana produk yang baik dan ef isien dan produk mana yang kurang bagus.

• Harga list rik yang j auh dari nilai keekonomiannya menghambat upaya penghemat an l ist rik. Peningkat an t arif dasar l ist rik pada semua konsumen l ist rik akan dapat mendorong budaya hemat energi.

• Muncul nya kesadaran dan kecenderungan unt uk menggunakan peral at an lain yang hemat energi sepert i AC yang menggunakan t eknol ogi invert er, kipas angin dan peral at an l ain yang menggunakan mot or l ist rik hemat energi, t el evisi dengan t eknol ogi LCD (l i qui d cr i st al di spl ay), plasma dan l ain-l ain.

2. 1. 2 Sekt or Indust ri

Ant ara t ahun 2000 sampai t ahun 2008 t erj adi beberapa perubahan konsumsi energi yang cukup signif ikan di sekt or indust ri, ant ara l ain penggunaan biomasa yang t erus menurun dari 59 j ut a SBM t ahun 2000 t urun menj adi 44 j ut a SBM t ahun 2008, bahan bakar minyak secara kesel uruhan menurun dari 75 j ut a SBM t ahun 2000 menj adi 49 j ut a SBM t ahun 2008, sebaliknya bat ubara meningkat 4 kal i l ipat dari 36 j ut a SBM t ahun 2000 menj adi 160 j ut a SBM t ahun 2008. Kenaikan harga energi yang didorong oleh dicabut nya subsidi minyak pada sekt or indust ri menyebabkan sekt or ini harus membayar harga energi, baik bahan bakar maupun list rik sesuai dengan harga keekonomiannya. Kondisi ini mendorong sekt or indust ri berupaya menerapkan penghemat an energi mel alui demand si de management (pengel ol aan penggunaan energi), penggunaan t eknol ogi ef isiensi t inggi, diversif ikasi energi, sert a pemanf aat an dan pemut akhiran proses produksi dengan yang lebih ef isien. Secara t idak langsung kebij akan pencabut an subsidi ini mendorong sekt or indust ri menurunkan emisi gas rumah kaca. Kondisi ini memungkinkan sekt or indust ri bisa memperoleh bant uan pembiayaan program mel al ui program CDM (Cl ean Devel opment Mechani sm) at au GEF (Gl obal Envi r onment Fund). Penerapan t eknologi hemat energi pada indust ri yang ada dan diperkirakan sedang dan akan berkembang dal am wakt u dekat ant ara lain:

• Peningkat an ef isiensi dalam pemanf aat an t eknologi dengan menerapkan cogener at i on t echnol ogy yang menghasilkan j enis energi list rik dan panas unt uk proses produksi. Penggunaan t eknol ogi yang menggabungkan dua buah proses produksi energi ini secara umum akan meningkat kan ef isiensi

t her mal dari rat a-rat a 50% menj adi 60–80% t ergant ung dari j enis t eknol ogi kogenerasi yang digunakan.

• Perubahan pemanf aat an bahan bakar (f uel swi t chi ng). Perubahan pemanf aat an bahan bakar ini diarahkan unt uk memperoleh harga energi yang lebih murah. Beberapa indust ri sepert i t ekst il , semen, kert as dan lain-lain t elah melaksanakan f uel swi t chi ng dari minyak ke bat ubara, gas bumi dan biomasa. Pengalihan pemanf aat an dari minyak ke bat ubara pada pembangkit uap kecil membut uhkan penerapan t eknologi baru karena karakt erist ik yang sama sekal i berbeda. Pada indust ri semen yang menggunakan f ur nace pengeringan skal a besar, memanf aat kan panas buangnya unt uk pengeringan bahan baku. Pemanf aat an biomasa sebagai campuran bahan bakar akan menurunkan emisi pol ut an dan meningkat kan mut u semen. Pola perubahan yang t erbaru adal ah menggant ikan penggunaan minyak dan gas ke bat ubara at au biomasa dengan menerapkan t eknologi gasif ikasi. Gas yang dihasilkan selain dapat digunakan secara langsung j uga dapat dimanf aat kan sebagai bahan baku pada indust ri kimia at au pupuk.

2. 1. 3 Sekt or Transport asi

Sekt or t ransport asi pada umumnya menggunakan bahan bakar minyak disamping it u j uga menggunakan gas dan energi list rik dalam j umlah yang rel at if kecil . Secara umum konsumsi bahan bakar minyak meningkat dari 139 j ut a SBM pada t ahun 2000 menj adi 191 j ut a SBM pada t ahun 2008, dimana pangsa premium sej uml ah 51% pada t ahun 2000 dan menj adi 57% pada t ahun 2008, sert a konsumsi avt ur meningkat l ebih dari 100% dari 7, 1 j ut a SBM (5%) menj adi 15, 6 j ut a SBM (8%) pada t ahun 2008. Minyak sol ar (ADO) meningkat dari 60, 8 j ut a SBM t ahun 2000 menj adi 65, 3 j ut a SBM pada t ahun 2005, dan kemudian menurun sampai 57, 8 j ut a SBM pada t ahun 2008, yang diikut i peningkat an konsumsi biodiesel dari 1, 4 j ut a SBM t ahun 2006 menj adi 6, 0 j ut a SBM t ahun 2008. Penggunaan gas khususnya dal am bent uk CNG (compr essed nat ur al gas) belum ada perkembangan yang berart i dan umumnya masih dipergunakan ol eh bus Transj akart a sert a sebagian kecil t aksi.

Transport asi masal yang ada ant ara lain, angkut an bus, angkut an kot a (mikrolet , bemo, baj aj ), sert a keret a api (KRL dan keret a diesel). Angkut an kot a diat as sel ain dianggap makan wakt u perj alanan yang lama dan merepot kan karena harus bergant i-gant i, rel at if mahal , kurang nyaman, dan t idak aman. Bel um t ersel enggarakannya t ransport asi masal yang baik dan memadai, khususnya unt uk kot a besar akan menyebabkan masyarakat memil ih menggunakan kendaraan pribadi, baik mobil , maupun sepeda mot or unt uk melaksanakan kegiat an sehari-hari. Hal ini menj adikan peningkat an ef isiensi kendaraan menj adi salah sat u unsur ut ama dal am pengembangan indust ri kendaraan di Indonesia.

Dal am kait an penggunaan kendaraan roda empat ada beberapa l angkah yang diambil yait u penerapan bat as minimum orang dalam sat u kendaraan yang pada prinsipnya meningkat kat ef isiensi pemakaian bahan bakar dalam lit er per orang t et api t idak mengurangi akt if it as yait u j arak t empuh kilomet er per

orang. Kebij akan ini walaupun cukup ef ekt if , dirasakan kurang memadai karena hanya memindahkan arus kendaraan dan kemacet an ke j al an lain. Disamping it u peningkat an ef isiensi j uga dil aksanakan pada kendaraan sendiri sehingga j arak t empuh per l it er bahan bakar j uga meningkat . Peningkat an ef isensi ini mel al ui penerapan berbagai t eknologi sepert i penggunaan kat up pembuangan (out l et) dan pemasukan (i nl et) yang banyak, pemakaian t ur bo char ger, pemakaian sist em pengapian yang pint ar (smar t i gni t i on syst em), sist em inj eksi bahan bakar t ekanan t inggi (hi gh pr essur e common r ai l) dengan ECU (el ect r oni c cont r ol uni t), penggunaan mat erial al l umi num al l oy yang ringan sehingga t enaga mesin per berat mesin meningkat , dan lain-l ain t eknologi.

2. 2 Penyediaan Energi

2. 2. 1 Penyediaan Minyak Bumi

Gambaran t ent ang penyediaan minyak bumi selama 8 t ahun dari 2000 sampai 2008, menunj ukkan adanya penurunan pangsa minyak bumi pada penyediaan energi primer nasional t ermasuk biomasa dari 43, 52% pada t ahun 2000 menj adi 37, 01% pada t ahun 2008. Sedangkan t anpa biomasa maka pangsa minyak bumi dari 59, 64% pada t ahun 2000 menurun menj adi 44, 92% pada t ahun 2008. Dilain pihak, penyediaan minyak bumi dan produk kilang pada t ahun 2000 sej uml ah 433, 36 j ut a SBM yang meningkat hingga t ahun 2004 mencapai 498, 12 j ut a SBM, kemudian menurun hingga pada t ahun 2008 mencapai 455, 61 j ut a SBM.

Mengingat kebut uhan bahan bakar minyak akan t erus meningkat , sedangkan produksi minyak bumi dan hasil kilang minyak t erus menurun maka ada dua al t ernat if yait u membangun kil ang minyak dan menambah impor minyak ment ah at au mengimpor bahan bakar minyak. Alt ernat if yang lain adalah membangun kilang minyak unt uk memenuhi sebagian dari kebut uhan BBM dan mengimpor kekurangannya. Dalam pembangunan kilang minyak yang pent i ng adal ah menent ukan t eknol ogi apa yang digunakan unt uk memast ikan j enis minyak bumi sebagai bahan baku. Berdasarkan pasokan yang mungkin diperoleh kilang yang akan dibangun adal ah mengacu kepada kilang Balongan yang menggunakan bahan baku minyak berat dengan kapasit as ant ara 125 MBCD dan 300 MBCD. Lokasi kil ang baru t erl et ak di wil ayah barat Indonesia ant ara l ain; Bant en, Tuban, Bal ongan Baru, di Jawa, Plaj u Baru di Sumat era dan wil ayah t imur Indonesia ant ara l ain, Makasar di Sul awesi dan l ain-l ain. Kebut uhan minyak bumi Indonesia akan t erus meningkat , sement ara kebut uhan minyak dunia j uga meningkat pula padahal cadangan minyak dunia cenderung menurun, sehingga di masa mendat ang akan t erj adi perebut an dalam pemenuhan kebut uhan minyak.

2. 2. 2 Penyediaan Gas Bumi

Gas bumi mempunyai pot ensi yang cukup baik, dat a pada t ahun 2008 menunj ukkan pot ensi gas bumi sebesar 170 TSCF dan dengan produksi gas bumi sebesar 2, 9 TSCF (193 j ut a SBM) per t ahun gas bumi akan dapat diproduksi sampai 63 t ahun. Pada t ahun 2008 produksi LNG sebanyak 20, 58 j ut a t on yang keseluruhannya diekspor. Pada t ahun it u produksi LPG sebanyak 1, 69 j ut a t on dimana 0, 91 dihasil kan kil ang gas dan 0, 78 dihasilkan oleh kil ang minyak. Konsumsi LPG t ahun 2008 sebesar 15, 7 j ut a SBM at au 2, 108 j ut a t on, yang dipenuhi dari produksi dalam negeri dit ambah impor sej uml ah 0, 418 j ut a t on. Pada t ahun 2007 konsumsi LPG sej uml ah 1, 278 j ut a t on sehingga t erl ihat adanya penambahan sej uml ah 0, 830 j ut a t on at au 65% ant ara 2007 dan 2008. Pada t ahun 2008 gas bumi selain unt uk produksi LNG, produksi LPG dan diekspor dal am bent uk gas bumi sej uml ah 329 BSCF, j uga dimanf aat kan unt uk pembangkit an t enaga l ist rik sebesar 221 BSCF, kil ang minyak sebesar 30 BSCF, indust ri sebesar 506 BSCF dan gas kot a sebesar 211 BSCF, sement ara sekit ar 114 dibakar (f l ar ed).

Ant ara t ahun 2000 sampai 2008 t erl ihat bahwa t erj adi penurunan dal am ekspor LNG sement ara konsumsi gas dal am negeri cenderung meningkat , khususnya konsumsi LPG dan gas unt uk indust ri. Unt uk j angka panj ang konsumsi gas dalam negeri akan t idak mampu dipenuhi bil a ekspor t idak dikurangi. Kondisi ini memberikan suat u gambaran hal yang mungkin t erj adi dimasa mendat ang yait u :

• Ekspor LNG dihent ikan set el ah kont rak berakhir.

• Konsumen dalam negeri akan menggunakan gas baik dit ranspor melalui pipa maupun LNG, yang berart i harus dibangun j aringan pipa ant ara wilayah produksi gas dengan pusat beban/ konsumen at au membangun LNG pl ant dan f asil it as regasif ikasi LNG di l okasi konsumen.

2. 2. 3 Penyediaan Batubara

Pot ensi bat ubara Indonesia cukup besar yait u pada awal t ahun 2009 sumberdayanya mencapai 104, 8 mil yar t on sement ara cadangan t erbukt i bat ubara sebesar 18, 8 mil yar t on yang dapat dimanf aat kan sel ama 83 t ahun produksi. Pada t ahun 2008 diproduksi bat ubara uap sej umlah 226 j ut a t on, dimana sej uml ah 69 j ut a t on dimanf aat kan di dal am negeri dan 160 j ut a t on di ekspor. Dari sej uml ah 69 j ut a t on t ersebut , konsumen t erbesar adal ah pembangkit l ist rik sej uml ah 31 j ut a t on, keramik dan semen sej umlah 6, 8 j ut a t on, indust ri kert as sebesar 1, 3 j ut a t on, besi baj a sebesar 0, 37 j ut a t on dan lain-lain pengguna sej umlah 29 j ut a t on.

Mengingat pot ensi sumberdaya minyak dan gas bumi yang cenderung menurun, maka di masa mendat ang bat ubara akan memegang peranan yang sangat besar, baik unt uk pembangkit an list rik maupun pemanf aat an di indust ri. Dari Out l ook Energi Indonesia 2009, PTPSE-BPPT kasus dasar, diperkirakan pada t ahun 2025 produksi bat ubara mencapai sekit ar 377 j ut a t on bila ekspor dibat asi 150 j ut a t on per t ahun at au konsumsi dalam negeri mencapai sekit ar 227 j ut a t on per t ahun dimana konsumsi t erbesar adal ah pembangkit l ist rik di

pulau Jawa. Kondisi ini akan memerlukan ket ersediaan inf rast rukt ur (sarana dan prasarana bat ubara) yang memadai, mulai al at t ranspor, pelabuhan pengirim dan penerima, lokasi pembangkit sampai area pembuangan abu t erbang, sert a dampak lingkungan yang dit imbulkan oleh pembakaran bat ubara sej uml ah t ersebut diat as. Hal ini akan mendorong dil aksanakannya ef isiensi dal am t ransport asi bahan bakar, mel al ui coal upgr adi ng, coal l i quef act i on maupun mi ne mout h power pl ant.

2. 2. 4. Pemanfaatan Sumberdaya Energi Terbarukan

Pot ensi energi t erbarukan di Indonesia cukup besar. Panas bumi dengan pot ensi sebesar sekit ar 27, 6 GWe dinyat akan sebagai pot ensi yang t erbesar di dunia. Dari pot ensi diat as, pot ensi sumberdaya adal ah sebesar sekit ar 13, 1 GWe dan t ot al cadangan sebesar 14, 5 Gwe. Cadangan t ersebut t erdiri at as cadangan t erduga (pr obabl e) sebesar 11, 2 GWe, cadangan mungkin (possi bl e) sebesar 1 GWe dan cadangan t erbukt i (pr oven) sebesar 2, 3 Gwe. Sement ara it u pemanf aat an unt uk pembangkit an l ist rik mencapai 1. 050 MW. Pot ensi t enaga air sebesar 75, 6 GW dengan pemanf aat an mencapai 4, 2 GW, pot ensi mikrohidro sebesar 450 MW dan t el ah dimanf aat kan sej umlah 84 MW, t enaga angin dan t enaga surya yang cukup besar, sement ara pot ensi biomasa sebesar 49 GWe dan baru dimanf aat kan sebesar 0, 3 GW.

Pengembangan bahan bakar nabat i baik bioet anol maupun biodiesel saat ini t et ap berj alan, khususnya bioet anol dengan bahan baku t et es t ebu (mol l ase) dan biodiesel dengan bahan baku CPO yang sudah mencapai nilai keekonomiannya. Sedangkan biodiesel minyak j arak pagar sampai saat ini bel um mencapai nil ai keekonomiannya. Mengingat BBM di masa mendat ang makin sulit dan mahal, bioet anol maupun biodiesel akan menj adi salah sat u al t ernat if yang menarik karena sel ain t ermasuk bahan bakar yang bersih dapat menyerap t enaga kerj a di daerah yang sangat besar.

Pada saat ini sedang dikembangkan pemanf aat an sampah mel alui t eknol ogi l andf i l l unt uk pembangkit list rik. Sebagai cont oh, proyek l andf i l l yang sudah dimulai adalah TPA Suwung di Gianyar Bali yang meliput i pengumpulan sampah dari wil ayah Denpasar, Badung, Gianyar dan Tabanan yang disingkat dengan SARBAGITA. Proyek yang merupakan proyek mekanisme pembangunan bersih (CDM) ini menghasilkan pupuk kompos, t enaga l ist rik maksimum sebesar 9, 6 MW mel al ui gas engi ne dengan bahan bakar dari gas l andf i l l sert a dari gasif ikasi dengan bahan baku sisa-sisa l andf i l l. Pot ensi t eknol ogi ini di Indonesia cukup baik, mengingat sampai saat ini sampah bel um t ert angani dengan baik. Dalam wakt u dekat proyek serupa akan dilaksanakan di TPA Bant ar Gebang dengan volume sampah yang 5 kali lebih banyak dibanding dengan TPA Suwung.

Biomasa limbah pert anian, maupun hut an selain dari yang digunakan secara

Dalam dokumen BPPT Outlook Energi Indonesia 2010 (Halaman 31-41)